Selasa, 24 Juni 2014

ranjang yg ternoda

Lidya menguap. Wanita cantik itu membolak-balik halaman tabloid wanita yang sedang dipegangnya dengan bosan. Walaupun sudah berusaha membaca dan konsentrasi, tapi susah sekali memahami apa yang ditulis di tabloid itu karena dia tidak bisa fokus. Benaknya masih dibebani perkosaan yang dilakukan Pak Hasan. Dia sangat trauma dan ketakutan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak bisa menceritakan petaka yang menimpanya baik pada suaminya sendiri ataupun pada pihak yang berwajib, dia takut kalau dia membeberkan semuanya, situasinya akan lebih buruk lagi. Semalam suntuk Lidya berusaha tidur tapi tak kunjung bisa memejamkan mata, dia takut sewaktu-waktu Pak Hasan akan datang ke kamar dan menyetubuhinya lagi. S*****kangannya masih terasa sakit setelah mendapatkan perlakuan kasar kemarin.

Dasar panjang umur, pria tua busuk itu tiba-tiba saja muncul dan berdiri di samping Lidya.

“Aku pengen jalan-jalan ke mall, Nduk.”

Lidya meneguk ludah, dia diam saja dan pura-pura tidak mendengar. Biasanya Pak Hasan akan pergi selama berjam-jam dan Lidya terbebas darinya. Pria tua itu biasanya pergi begitu saja tanpa pamit, entah kenapa hari ini dia pamit pada Lidya. Karena perasaannya masih kacau balau, Lidya diam membisu.

Tidak mendapat tanggapan dari Lidya membuat marah Pak Hasan. Dengan geram Pak Hasan mendekati menantunya yang sedang membaca. Tabloid wanita yang sedang dipegang Lidya disambar Pak Hasan dengan kasar sampai jatuh berserakan di lantai.

“Kamu dengar tidak? Aku mau mengajak kamu jalan-jalan ke mall!”

Ajakan Pak Hasan pada Lidya itu bagaikan petir yang menyambar di siang bolong. Ke mall? Apa lagi yang diinginkan kali ini?

“Ke mall?” tanya Lidya sambil merapikan rambutnya yang jatuh ke kening. “Ngapain kita jalan-jalan ke mall? Kebutuhan dapur dan yang lain masih ada. Besok lusa Mas Andi juga sudah pulang… kita tidak perlu…”

Wajah Pak Hasan memerah menandakan kemarahannya makin lama makin memuncak.

Pak Hasan menarik tubuh Lidya dan memeluknya dengan kasar. “Justru karena besok lusa Andi sudah pulang, aku mau menikmati saat-saat terakhir bersamamu, Nduk! Aku tidak ingin menyakitimu lagi, jadi sebaiknya kau turuti semua permintaanku tanpa mengeluh, atau aku akan berubah pikiran! Hari ini kita mulai dengan jalan-jalan ke mall karena aku pengen memamerkan menantuku yang cantik jelita pada orang-orang sekota.”

Pak Hasan mencium bibir Lidya dengan kasar bahkan menggigitnya sampai menantunya itu kesakitan. Akhirnya setelah Lidya meronta-ronta, Pak Hasan melepaskannya. “Aku juga tidak suka kamu bertanya padaku dengan sinis! Lain kali pikir dulu sebelum mengajukan pertanyaan!”

Lidya yang sudah lepas dari pelukan Pak Hasan meringkuk di sofa dan menundukkan kepala, dia sangat ketakutan sampai-sampai tubuhnya bergetar. “Aku minta ma-…”

“Maaf? Sudah seharusnya!” dengan sombong Pak Hasan memalingkan muka dan duduk di sofa. “Ganti pakaianmu, dandan yang cantik! Aku menunggu di sini, jangan lupa bawa uang yang banyak dan kartu kredit. Siapa tahu aku ingin belanja-belanja.”

Lidya m*****kah lemas ke kamar atas, entah apa lagi maksud Pak Hasan.

###

Paidi Sutrisno bukanlah orang yang beruntung. Di usianya yang sudah mencapai angka 55, pria tua ini masih hidup berkekurangan. Masa mudanya yang suram membuatnya sering keluar masuk penjara, dia bahkan sangat terkenal sebagai preman pasar dengan sebutan Paidi Tatto, tentunya karena tatto gambar wanita bugil yang menghias sebagian besar punggungnya. Karena kehidupannya yang keras, Paidi diceraikan oleh istrinya dan bekerja sebagai penjaga pintu sarang PSK. Hanya sebentar bekerja di sana, Paidi terlibat perkelahian dengan seorang p*****gan. Hal ini menyebabkan Paidi kembali masuk penjara.

Saat terakhir di penjara, Paidi berkenalan dengan seorang mantan dosen yang berasal dari keluarga baik-baik dan dipenjara entah karena masalah apa. Pria itu memberikan ilmu pengetahuan dan mengajarkan banyak hal pada Paidi. Berkat orang ini pulalah Paidi berani menghapus semua tatto di tubuhnya walaupun akhirnya meninggalkan bekas luka permanen di kulit punggungnya. Punggung Paidi yang tadinya bergambar seorang wanita cantik berubah menjadi kulit carut marut. Kemahiran Paidi berlipat ganda berkat pengetahuan yang diberikan oleh pria itu.

Setelah keluar bui untuk yang terakhir kalinya di usia 45, Paidi ternyata tak kunjung bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Entah karena sejarahnya yang buruk atau karena pengaruh krisis ekonomi. Di jaman seperti sekarang ini, sangat susah mencari pekerjaan yang halal dengan mudah. Apalagi Paidi tidak memiliki modal besar dan wajahpun tidak menunjang, codet besar bekas luka menghias wajahnya sehingga banyak perusahaan menolak memperkerjakannya.

Akhirnya, Paidi mengerjakan apa yang bisa dia kerjakan. Paidi memperoleh modal kecil dari temannya dan berjualan bakso keliling. Paidi Tatto kini berubah menjadi Paidi tukang bakso.

Tubuh Paidi yang dulu gagah dan tegap kini kurus kering dan hitam legam terbakar matahari. Wajahnya yang dulu bersih kini menjadi kurus dan kasar, kulitnya tipis dan tulangnya terlihat menonjol di seluruh badan. Paidi sadar masa-masa keemasannya sebagai preman sudah sirna dan kini dia berniat melakukan yang terbaik yang dia bisa untuk membalas kebaikan sahabat yang telah memberinya pengetahuan dan modal berjualan bakso. Demi mencari nasi untuk sekedar mengisi perut, Paidi menjalankan pekerjaannya tanpa mengeluh. Tapi, sesungguhnya tidak semudah itu Paidi berubah menjadi orang baik, dia masih seorang pria oportunis yang menghalalkan segala cara, dalam hatinya dia masih seorang penjahat.

Hidup Paidi akan segera berubah.

Beberapa malam yang lalu, Paidi baru saja pulang dari nongkrong di warung kopi yang buka sampai jam dua pagi. Paidi sengaja lewat jalan komplek yang sepi karena ada jalan tikus yang bisa lebih cepat sampai ke pasar di seberang komplek. Paidi memang biasa begadang, jam dua minum kopi, lalu pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan untuk bakso, dan paginya keliling lagi. Pasar di seberang komplek memang sudah buka sejak jam empat pagi dan biasanya pembeli yang datang jam segitu akan mendapatkan potongan harga yang lumayan langsung dari distributor, apalagi barangnya masih segar dan fresh.

Malam itu, entah kenapa Paidi memilih untuk beristirahat sebentar di pojok pengkolan jalan di dekat pos kamling. Kebetulan tempat Paidi beristirahat agak pojok dan terlindung oleh bayangan. Jadi siapapun yang melintas jalan akan terlihat oleh Paidi, namun sebaliknya, orang itu tidak akan melihat si tukang bakso.

Paidi tidak akan pernah melupakan pemandangan indah yang lewat di depannya.

Malam itu, Paidi melihat seorang bidadari berjalan terburu-buru menuju ke pos kamling. Bidadari dalam balutan daster tembus pandang. Rambutnya sebahu, kulitnya putih mulus, hidungnya mancung, dadanya membusung dan pantatnya bulat menggemaskan. Entah kenapa bidadari itu seperti ketakutan dan kebingungan.

Malam itu, Paidi memergoki Alya sedang menemui Pak Bejo.

###

Mall yang dituju taksi yang ditumpangi oleh Lidya dan Pak Hasan berada di tengah kota. Sejak berangkat dari rumah sampai ke lokasi, Pak Hasan lebih banyak diam. Untunglah Pak Hasan tidak turut campur mendikte pakaian yang akan dipakai Lidya sehingga dia bisa pergi menggunakan baju yang lumayan sopan. Lidya mengenakan rok mini selutut dan baju yang tidak terlalu ketat. Walaupun berpenampilan seadanya, Lidya masih tetap terlihat cantik mempesona.

Walaupun mulutnya terdiam, tapi tangan Pak Hasan masih tetap beraksi. Duduk berdampingan dengan Lidya di kursi belakang, Pak Hasan dengan nakal mengelus-elus kaki menantunya itu dengan santai. Berulang kali Lidya merasa tidak enak karena melihat mata sang sopir melirik ke belakang menggunakan kaca.

Bahkan Pak Hasan kadang nekat membelai paha Lidya yang mulus atau sesekali meremas payudaranya. Wanita cantik itu sudah memperingatkan mertuanya agar tidak nekat karena sang sopir bisa melihat mereka. Tapi Pak Hasan hanya tersenyum. Beberapa kali suara sang sopir meneguk ludah bisa terdengar dari belakang.

Akhirnya setelah menempuh jarak cukup jauh, Pak Hasan dan Lidya sampai di pusat pertokoan yang dituju. Ketika Lidya hendak membuka dompet untuk membayar taksi, Pak Hasan menggeleng. Dia melirik ke arah argo dan memberikan uang dari kantong celananya.

Sang sopir melongo melihat uang pemberian Pak Hasan. “Wah, gak salah nih, Pak? Duitnya kurang dong! Argonya aja segitu, masa bayarnya cuma segini? Yang bener aja!” Wajah sang sopir memerah karena merasa dipermainkan.

“Ini, ada kok…” Lidya kembali hendak membuka dompet. Tapi tangannya diremas Pak Hasan yang langsung menggeleng dan melotot galak, Lidyapun mengurungkan niatnya. Kenapa lagi Pak Hasan ini? Mau cari perkara dengan sopir taksi? Keringat mulai menetes di dahi istri Andi itu.

“Menurut mas sopir, menantu saya ini cantik tidak?” tanya Pak Hasan tiba-tiba. Lidya langsung mengernyitkan dahi, perasaannya tidak enak.

Sang sopir meneguk ludah. Pandangannya beralih ke arah Lidya. Bagaikan seekor macan yang siap menerkam mangsa, dia memperhatikan Lidya dari atas ke bawah. “Gila, kirain tadi ini istrinya, soalnya mesra banget, ternyata menantunya ya?”

“Menantu saya ini orangnya sangat pengertian dan baik. Dia senang kalau bisa menghibur orang lain yang kesusahan, contohnya saya ini, saya sudah lama jadi duda. Jadi bagaimana menurut mas, menantu saya cantik tidak?” Pak Hasan mengulang pertanyaannya.

Lidya merasa jengah mendengar percakapan dua orang ini, apalagi sang sopir kemudian memandang ke arahnya dengan remeh dan tersenyum menjijikkan.

“Wah, Pak! Bukan cantik lagi namanya kalau yang seperti ini!” jawab sang sopir taksi, “Cuantikkk!! Kayak bintang sinetron!”

“Bagaimana pendapat mas tentang tubuhnya, bagus tidak?” tanya Pak Hasan lagi. Lidya sudah bersiap keluar dari taksi tapi ditahan oleh Pak Hasan.

“Seksi, Pak!”

“Baiklah, bagaimana kalau untuk membayar kekurangan saya tadi, saya tawarkan bibir menantu saya ini? Masnya boleh mencium dia selama satu menit plus meremas susunya selama itu pula. Bagaimana?” tanya Pak Hasan.

Sopir itu melongo.

Tubuh Lidya langsung lemas. Dia tidak menyangka Pak Hasan akan menggunakan dirinya sebagai alat pembayaran. Geram sekali rasanya Lidya karena diperlakukan seperti pelacur hina oleh mertuanya sendiri. Tapi cengkraman tangan Pak Hasan yang tidak bisa dilepaskannya menyadarkannya akan satu hal, dia harus melakukan apapun perintah sang mertua, separah apapun perintahnya itu.

Sang sopir taksi yang bertubuh kurus dan berkulit gelap terbakar matahari kembali meneguk ludah. Gila, kalau begini caranya orang ini membayar, bisa kurang nanti duit setoran ke bos, tapi kapan lagi dia bisa mencium orang secantik bidadari? Walaupun cuma semenit, tapi bibir Lidya yang ranum itu membuatnya sangat nafsu, belum dekat dengannya saja si otong yang di bawah sudah ngaceng, apalagi kalau boleh mencium, wah, asoy sekali. Bininya di rumah jelas kalah jauh. Hatinya bimbang, tapi nafsu akhirnya mengalahkan akal sehat sang sopir.

Lidya makin merasa tertampar saat melihat sopir berwajah ketus itu mengangguk sambil cengengesan. “Bolehlah, Pak. Sekali ini saja. Kapan lagi saya bisa ngerasain yang begini?”

Pak Hasan tersenyum. “Silahkan mas sopir pindah ke kursi belakang, saya yang akan menghitung waktunya.”

Buru-buru sopir itu pindah ke belakang dan duduk di samping Lidya.

“Pak, aku…” Lidya mencoba memprotes.

Pak Hasan kembali mencengkeram lengan Lidya. Tidak ada gunanya melawan pria tua yang busuk ini, Lidyapun menunduk pasrah.

Sang sopir tidak membuang waktu, begitu Pak Hasan mengangguk memberi ijin sambil memegang erat tubuh Lidya yang sudah siap meronta, dia langsung mencium bibir Lidya. Lidya memejamkan mata karena tidak tahan melihat wajah sopir taksi yang sudah mupeng abis, mulutnya yang terkatup perlahan-lahan dibuka karena ia takut Pak Hasan akan menyakitinya seandainya ia menolak membalas ciuman sang sopir.

Awalnya mereka berciuman dengan lembut, bibir sang sopir yang sudah basah dan bau rokok membelai bibir Lidya yang ranum dan membasahinya pelan-pelan. Lalu pria itu menghisap lembut bibir bawah Lidya sebelum akhirnya benar-benar menangkupkan seluruh bibirnya ke bibir Lidya. Menantu Pak Hasan itu melenguh kesakitan saat kemudian sang sopir meremas buah dadanya dengan kasar dan penuh nafsu. Karena ukuran buah dada Lidya lebih besar dari milik istrinya, sang sopir makin bernafsu, remasan tangan sang sopir makin lama makin cepat.

Lenguhan Lidya membuat mulutnya terbuka, sang sopir menyorongkan lidahnya masuk ke mulut menantu Pak Hasan yang cantik itu. Lidah sang sopir bertemu dengan lidah Lidya dan keduanya bertautan. Perasaan takut mengkhianati suami dan rasa bersalah yang menebal malah membuat Lidya makin pasrah. Dia sudah tidak tahu lagi mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang tidak. Bibirnya selalu menjadi milik Andi sang suami, tapi kini, mertuanya dan bahkan seorang sopir taksi tak dikenal telah mencicipi keranuman bibir Lidya.

Pak Hasan tersenyum kegirangan melihat menantunya kembali melenguh, jelas sekali kalau Lidya lama kelamaan terangsang juga walaupun pada awalnya menolak mati-matian. Dengan sengaja Pak Hasan memberikan kesempatan pada sang sopir untuk menikmati bibir Lidya lebih dari satu menit yang dijanjikan. Dari tonjolan besar di s*****kangan, terlihat jelas sopir itu pasti sudah ngaceng sedari tadi, Pak Hasan terkekeh melihatnya.

Ciuman Lidya dan sang sopir taksi berakhir saat Pak Hasan menepuk pundak sang sopir. “Oke, mas. Sudah satu menit lebih dua puluh detik”. Kata Pak Hasan sambil menunjuk jam digital di dashboard taksi. “Yang dua puluh detik aku hitung bonus.”

Sopir taksi itu mengangguk puas. “Wah, bapak beruntung sekali punya menantu seperti ini, dicium semenit aja udah bikin blingsatan! Apalagi kalau dipake!”

Sambil mengucapkan terima kasih, Pak Hasan dan Lidya keluar dari taksi dan masuk ke dalam mall. Sopir taksi itu tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya, sayangnya, beberapa saat kemudian ada seorang penumpang masuk sehingga dia harus segera pergi Entah kapan lagi dia bisa berjumpa dengan si cantik itu, mungkin inilah yang dinamakan pengalaman sekali seumur hidup. Sopir itu menggelengkan kepala mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi dan membawa penumpangnya meninggalkan mall.

###

Anissa Wibisono merasakan kegembiraan yang meluap-luap seakan meledak di dalam dadanya. Tunangannya, Dodit Darmawan masih berada di belakang setir mobil saat Toyota Avanza hitam yang mereka naiki mulai memasuki jalan menuju komplek perumahan yang cukup terkenal di daerah pinggiran kota. Pepohonan yang rindang dan sejuk menyambut mobil yang menggelinding dengan lembut di jalan yang sepi. Anissa melirik ke arah Dodit dan mencubit paha tunangannya dengan genit. Dodit melirik ke arah Anissa dan tersenyum penuh rasa sayang.

Dodit sebenarnya agak ragu berkunjung ke rumah kakak Anissa, mereka belum terlalu akrab sehingga dia khawatir kunjungannya akan mengganggu kegiatan keluarga Mas Hendra. Tapi karena Mas Hendra ditunjuk sebagai calon wali dari Anissa kelak di pernikahan mereka, Dodit mau tidak mau harus mengakrabkan diri dengan Mas Hendra dan Mbak Alya, dalam hatinya yang paling dalam Dodit berpikir mungkin akan jauh lebih mudah mendekati putri kecil mereka, Opi.

Baru beberapa bulan bertunangan setelah hampir dua tahun pacaran membuat pasangan Anissa dan Dodit kembali hot. Dodit yang juga senior Anissa di kampus sudah lulus tahun lalu dan sekarang m****g di sebuah perusahaan swasta. Tahun ini Anissa juga dipastikan akan lulus dan pernikahan yang sudah mereka nanti-nantikan akan segera menjadi kenyataan.

Anissa sangat mengagumi Dodit dan bisa berkunjung ke rumah Mas Hendra dan Mbak Alya bersama tunangannya tercinta sudah menjadi keinginannya sejak lama. Karena kesibukannya, Mas Hendra sempat menengok rumah lama. Atas perintah ibunya, Anissa dan Dodit diminta berkunjung dan menginap selama akhir pekan di rumah Hendra agar mereka bisa lebih akrab.

Dodit sedikit grogi, walaupun sudah bertunangan dengan Anissa, dia masih grogi kalau disuruh bertemu dengan keluarganya, apalagi weekend ini mereka berdua diminta menginap di rumah Mas Hendra. Berulang kali Dodit melirik ke arah spion untuk memperhatikan penampilannya.

“Kamu ganteng kok, sayang.” Kata Anissa sambil membenahi make-upnya sendiri. “Tampan, seperti biasa.”

Wajah Dodit memang cukup lumayan, dia pantas bersanding dengan Anissa yang cantik dan menggairahkan. Walaupun masih muda dan tidak memiliki perawatan khusus, tapi tubuh Anissa benar-benar indah dan menggiurkan. Didukung wajah cantik melankolis, kulit putih mulus, buah dada menggunung dan rambut panjang sepunggung, penampilan gadis ini sangat sempurna.

Dodit tertawa mendengar sindiran Anissa. “Ah, kamu ini. Aku kan grogi, say. Ini pertama kali aku menginap di tempat Mas Hendra. Aku harus tampil serapi mungkin. Takut tidak direstui nantinya…”

Anissa tersenyum manis dan dengan rasa sayang membelai rambut Dodit. “Jangan khawatir, sayang. Mas Hendra dan Mbak Alya pasti akan menyukaimu. Mudah-mudahan kamu juga bisa menyukai mereka.”

“Ah, sudah jelas aku menyukai mereka. Kakakmu orangnya baik hati walaupun sedikit pendiam. Mbak Alya apalagi, sangat ramah dan baik hati, cantik pula,” Dodit merapikan kemejanya yang berkerut, “tapi menurutku yang paling enak diajak ngobrol sebenarnya si Opi. Aku sudah kangen ingin menemuinya.”

Anissa tertawa. “Opi memang lucu, menggemaskan sekali. Aku juga sudah kangen.”

Mobil mereka melaju melewati sebuah komplek pemakaman.

“Tapi dengar-dengar, lokasi komplek perumahan ini cukup seram lho. Aku dengar dari beberapa orang teman, katanya di tempat ini banyak setannya.” Kata Dodit dengan sengaja menakut-nakuti tunangannya yang jelita, tentunya dia hanya bohong belaka. “Kalau tidak tahan, boleh tidur seranjang denganku nanti malam.”

“Ha ha! Dasar otak mesum! Aku tidak mudah kau takut-takuti seperti itu!” Anissa tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Dodit, dengan manja gadis itu menggelayut di samping Dodit. “Biarpun ada suster ngesot dan hantu jeruk purut, aku punya pahlawan perkasa di sampingku!”

Dodit tersenyum sipu, wajahnya memerah tapi dia meneruskan godaannya, “Kalau tidak salah dengar pula, informasi ini berasal dari sumber yang bisa dipercaya lho, kabarnya ada hantu cabul yang hobi memangsa anak perawan orang!”

Dengan manja Anissa memukuli pundak tunangannya. “Udah ah! Bercandanya nggak asyik! Mas Dodit jahat! Aku nanti nggak bisa tidur!”

“Kamu kan masih perawan, say. Kalau aku jadi kamu… hmmm…” Dodit tersenyum sok ngeri. “aku akan lebih berhati-hati nanti malam… lebih baik aku tidur minta ditemani Mbak Alya atau… atau minta ditemani sama Mas Dodit tersayang! Ha ha ha!”

Anissa mencibir dan menjulurkan lidah, wajahnya yang malu memerah, makin manis saja gadis ini. “Huh, itu kan maunya Mas Dodit! Dasar otak mesum!”

Entah kenapa, ada angin dingin yang bersemilir di udara dan menghembuskan udara dingin di tengkuk Anissa dan Dodit. Perasaan mereka menjadi tidak enak, seakan suatu hal yang buruk akan segera terjadi.

Tiba-tiba saja Dodit menghentikan mobilnya. Dia mengedip ke arah Anissa. “Kau tahu tidak, say. Kau terlihat sangat mempesona.”

###

Lokasi pusat pertokoan yang didatangi oleh Pak Hasan dan Lidya berada di tengah kota dan sangat ramai pengunjung. Hilir mudik orang berjalan keluar masuk toko. Pandangan Lidya masih kabur, entah karena pusing melihat banyaknya pengunjung mall atau perasaan jengahnya yang tidak juga mau hilang setelah mencium seorang sopir taksi yang tak dikenal. Dia merasa seperti seorang pelacur hina dan ini semua karena ulah ayah mertuanya yang bejat.

Pak Hasan menarik tangan Lidya dengan kasar memasuki sebuah toko baju yang cukup terkenal. Pria tua itu berkata, “Ayo, nduk. Kita cari baju yang lebih cocok untuk pelacur seperti kamu.”

Lidya menggeram kesal tapi tak bisa berbuat banyak, mertuanya memang benar-benar tidak tahu malu, berani-beraninya dia mengatainya pelacur, padahal ini semua ulahnya. Lidya hanya diam saja di pojok saat Pak Hasan berkeliling dan menarik beberapa lembar baju wanita, dia bahkan tidak malu saat mengambil beberapa helai pakaian dalam untuk Lidya. Beberapa orang SPG menatap heran pada pasangan aneh ini.

Akhirnya, Pak Hasan menarik lengan Lidya untuk ikut berkeliling bersamanya. “Aku akan memilihkan baju yang terbaik dan bisa membuatmu tampil seksi, nduk. Jangan khawatir, kau pasti akan terlihat sangat mempesona. Baju yang sekarang kamu pakai itu kesannya kuno, aku carikan yang baru.” Kata Pak Hasan.

Lidya melotot galak dan disambut cengiran cabul sang mertua. Setelah mengikuti Pak Hasan berkeliling dan mengambil beberapa baju, akhirnya Lidya digiring ke kamar ganti. Sekilas lihat Lidya langsung tahu jenis baju yang dipilih Pak Hasan, baju-baju yang hanya pantas dikenakan seorang pelacur. Bahkan menurut Lidya, pelacur yang paling menjijikkan sekalipun hanya berani mengenakan pakaian seperti itu saat sedang ‘menawarkan d****gannya’, sementara Lidya akan mengenakannya di dalam mall yang ramai pengunjung.

Lidya dan Pak Hasan masuk ke kamar ganti bersamaan. Lidya melirik ke arah Pak Hasan, dia berbalik ke arah mertuanya dan memandangnya heran, dalam hati Lidya bertanya-tanya kapan mertuanya itu akan keluar dari kamar ganti. Pak Hasan menggelengkan kepala. “Aku tetap di sini. Aku sudah pernah lihat kamu telanjang, apa salahnya melihatmu berganti pakaian? Tidak perlu pura-pura sok suci. Ayo cepat ganti!”

Dengan perlahan Lidya melucuti pakaiannya, walaupun air matanya sudah di ujung pelupuk karena merasakan pahitnya nasib yang ia alami, tapi wanita cantik itu berusaha menahan diri agar tidak menangis. Dia tidak mau Pak Hasan lebih marah lagi. Satu persatu pakaian yang dikenakan dilepasnya, sampai kemudian Lidya hanya mengenakan BH dan celana dalam.

“Kamu memang benar-benar seksi, nduk. Bapak bangga punya menantu seperti kamu.” Celoteh Pak Hasan. “Dilihat saja enak apalagi kalau ditiduri. Lezat sekali.”

Pak Hasan menatap tubuh Lidya untuk beberapa saat. Saat menantunya itu hendak mengambil pakaian, Pak Hasan menggeleng dan melarang. Pria tua itu mengambil sesuatu dari dalam tumpukan baju dan memberikannya pada Lidya, rupanya sebuah celana dalam yang sangat mungil, g-string.

Lidya menatap tak percaya celana dalam yang diberikan Pak Hasan padanya. Dia juga terheran akan dua hal. Satu adalah bagaimana mertuanya itu bisa tahu ukuran celana dalamnya dan yang kedua adalah ukuran celana g-string yang sekarang berada di tangannya. Bagaimana mungkin barang sekecil dan semungil itu bisa dipakai? Terlalu kecil untuk bisa menyembunyikan apa-apa. Celana itu bagaikan tali kecil yang hanya melingkar di s*****kangannya.

“Cepat dipakai.” Desis Pak Hasan galak. Dia mencubit pantat Lidya sampai memerah. Lidya meringis kesakitan dan mengangguk.

Dengan malas Lidya melepaskan celana dalam krem yang dipakainya dan menggantinya dengan g-string. Ternyata celana kecil itu pas sekali, bisa dirasakannya temali celana g-string itu menggaris bibir kemaluannya. Hanya dengan mengenakan celana ini saja sudah bisa membuat Lidya sangat terangsang. Wajah Lidya memerah karena malu saat melihat Pak Hasan tersenyum cabul menatapnya di cermin.

“Masih ada yang kurang…” Pak Hasan memperhatikan tubuh menantunya yang hanya mengenakan BH dan celana dalam. “Lepaskan BHmu,” perintahnya kemudian, “dadamu itu bagus, nduk. Dada seperti itu seharusnya dibanggakan dan dipamerkan, bukannya malah disembunyikan di balik BH yang sesak.”

Belum sempat Lidya memprotes, Pak Hasan sudah m*****kah ke belakang Lidya, pria tua itu dengan cekatan membuka kait di bagian belakang BH. Wajah Lidya memerah ketika BHnya jatuh ke lantai ruang ganti. Tanpa perlindungan BH, payudara Lidya yang ranum bergelantungan dengan erotis di dada wanita cantik itu.

Pak Hasan meraih ke tumpukan baju yang dibawanya dan mengambil sebuah rok mini berwarna hitam, dia memberikannya pada Lidya untuk segera dipakai. Lidyapun segera mengenakannya. Rok yang diberikan Pak Hasan itu adalah rok mini yang paling pendek yang pernah dipakai Lidya sepanjang hidupnya. Rok itu sama sekali tidak cocok dikenakan seorang wanita dengan kaki jenjang seperti Lidya, karena jika dia membungkuk sedikit saja maka orang-orang di belakangnya akan bisa mengintip isi roknya dengan jelas dan gratis padahal dia hanya mengenakan g-string tipis. Sementara bagian atas rok yang rendah akan membuat orang lain bisa menikmati bagian atas celana dalam yang dipakai Lidya dan celah pantatnya yang menggaris. Dia tidak akan bisa berdiri dengan nyaman.

Lidya mendesah. Dia hanya bisa pasrah, dalam situasi normal, dia hanya mau mengenakan pakaian seksi seperti ini di hadapan suaminya seorang. Tapi saat ini Lidya tidak sedang berada dalam situasi yang normal. Mertuanya yang bejat membuatnya tak bisa berbuat apa-apa kecuali menurut padanya.

Lidya menarik baju dari tumpukan pakaian pilihan Pak Hasan. Sebuah kemeja berwarna putih yang tipis. Tubuh Lidya bergetar ketakutan melihat pakaian yang dipilih Pak Hasan itu. Jika dia tidak diperbolehkan mengenakan BH, maka buah dadanya yang kencang dan besar akan terbentuk jelas di kemeja, bagian lehernya juga rendah sehingga akan mempertontonkan belahan dada Lidya, belum lagi puting susunya pasti akan menjulang maju ke depan. Kemeja itu membuat kemontokan dada Lidya bisa dinikmati oleh banyak orang. Dia akan semakin terlihat seperti seorang pelacur murahan. Dengan panik Lidya memilih baju lain dari tumpukan pakaian, ternyata semua sejenis, malah beberapa pakaian ada yang lebih parah lagi.

“Aku tidak bisa mengenakan baju ini.” Protes Lidya dengan keringat mengalir deras di dahinya. “Tidak mungkin aku bisa mengenakan pakaian seperti ini di luar sana. Pak, kumohon… kasihani aku… tolong, Pak! Carikan baju yang lebih pantas! Aku ini masih menantumu, Pak! Kumohon…”

“Itu baju bagus, nduk. Kenapa tidak mau? Kamu akan terlihat sangat mempesona.” Jawab Pak Hasan sambil menggeleng kepala menolak protes Lidya. “Kamu harus memakainya. Kalau tidak mau, aku akan membiarkanmu keliling mall tanpa menggunakan celana dalam. Pilih mana?”

Lidya tidak percaya ini semua terjadi, ini sudah keterlaluan! Mertuanya benar-benar sudah kehilangan akal sehat! Tidak saja dia sudah memperkosa Lidya, memukulinya, menggunakan bibir dan dadanya untuk membayar taksi, masih ditambah sekarang hendak mempermalukannya di depan orang banyak! Emosi wanita cantik itu memuncak dan wajahnya memerah, dia marah pada diri sendiri karena lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa, dia tidak sanggup menjalani ini semua. Bagaimana nanti seandainya ada orang yang dia kenal melihatnya berjalan-jalan dengan pakaian seperti ini? Atau bagaimana nanti seandainya Mbak Dina atau Mbak Alya melihatnya? Atau… atau…

“Aku tidak bisa melakukannya…” Lidya berbisik lirih.

Sayang Pak Hasan tak bergeming dan menatapnya galak. Tangannya mencengkeram lengan Lidya hingga terasa sakit sampai ke tulang. Tubuh Lidya bergetar ketakutan. Tidak mungkin ayah mertuanya itu begitu tega, tapi Pak Hasan tidak main-main. Istri Andi itu akhirnya pasrah dan hanya bisa menganggukkan kepala pertanda setuju. Ia mencoba mengenakan pakaian yang dipilih oleh sang ayah mertua.

Dalam sekejap, pakaian Lidya sudah berganti. Pak Hasan memasukkan pakaian yang tadinya dikenakan oleh Lidya ke dalam tas plastik. Saat sudah menggunakan pakaian ala pelacur ini, barulah Lidya sadar susahnya berjalan tanpa mempertontonkan bagian tubuhnya yang mulus. Dia harus berhati-hati agar tidak mengangkat kaki terlalu tinggi atau membungkuk terlalu dalam karena bagian pantatnya yang hanya mengenakan celana dalam g-string akan terlihat jelas oleh orang di belakangnya.

Kemeja yang dikenakan Lidya juga lebih mengerikan, kemeja itu seharusnya dikenakan dengan kamisol melihat bagian lehernya yang rendah, tapi Pak Hasan tidak mengijinkan Lidya mengenakannya, seakan-akan belum parah, Pak Hasan juga membuka kancing teratas kemeja Lidya sehingga belahan dadanya makin terlihat jelas, sangat menggoda birahi laki-laki yang menatap. Buah dadanya yang montok dan kencang menyeruak ke depan sementara pentilnya makin lama makin menegang karena ac mall yang dingin. Tiap kali berjalan, Lidya khawatir payudaranya suatu saat akan terpantul dan mental keluar tepat di depan pengunjung mall. Jelas hal itu tidak diinginkan olehnya.

Akhirnya, setelah Pak Hasan puas, mereka berdua pergi membayar ke kasir. Entah sial bagi Lidya entah kebetulan, seorang pemuda tanggung sedang bertugas di meja kasir, kemana para pegawai wanita yang biasa berjaga di kasir? Pak Hasan dan Lidya berdiri di depan pemuda itu.

“Saya beli baju yang sudah saya pakai ini…” desah Lidya lirih. “Juga celana dalam yang saya pakai sekarang…”

Saat melihat ke arah Lidya, rahang si pemuda seakan mau copot. Gila, wanita cantik ini berani sekali berpenampilan seksi! Si otong di s*****kangan pemuda penjaga mesin kasir langsung ngaceng melihat penampilan Lidya. Dengan hati-hati pemuda itu melepaskan tag harga dan penjepit anti-maling dari baju dan rok yang dikenakan Lidya, dia melakukannya sambil hati-hati sekali karena takut dianggap tidak sopan, wangi tubuh Lidya membuatnya terbang ke awang-awang. Untung saja Pak Hasan sudah melepaskan tag harga dari celana dalam yang dikenakan Lidya sehingga dia tidak perlu mempertontonkannya pada sang pemuda yang masih terlihat sangat lugu ini.

Beberapa orang customer laki-laki yang kebetulan menemani pasangan mereka belanja juga tidak bisa melepaskan pandangan dari Lidya sambil meneteskan air liur. Penampilan seksi Lidya benar-benar membuat mereka nafsu. Lidya merasa malu dan memperhatikan pentil susunya sendiri perlahan mengeras dan menyodok kemeja yang dikenakannya. Dengan buru-buru Lidya mengeluarkan dompet dan mengambil kartu kredit.

Pemuda yang menjadi kasir menggesek kartu kredit Lidya dengan tangan gemetar. Beberapa kali dia salah memencet tombol karena terganggu oleh pemandangan indah di hadapannya. Penisnya juga makin ngaceng dan menghunjuk ke luar, pemuda itu dengan malu mengempit otongnya sendiri. Keadaan ini makin membuat Lidya khawatir, sayangnya makin khawatir wanita cantik ini, makin besar puting payudaranya mengembang.

Pemuda kasir itu memberikan kesempatan bagi Lidya untuk menandatangani berkas yang keluar dari mesin kartu kredit. Saat tanda tangan, Lidya terpaksa membungkuk karena posisi kasir yang pendek. Saat itulah satu buah dada Lidya tiba-tiba saja melompat keluar dari dalam kemejanya.

“Ya Tuhan!!” desah si pemuda yang langsung terperanjat.

Dengan cekatan Lidya merapikan kemejanya dan memasukkan buah dadanya kembali ke dalam sebelum ada orang yang melihat. Walaupun hanya beberapa detik saja, tapi pemuda kasir itu jelas sangat beruntung. Wajah Lidya memerah karenanya dan secepat mungkin meninggalkan meja kasir setelah urusan pembayaran usai. Pak Hasan terkekeh bahagia saat mereka akhirnya sampai di luar toko.

“Kamu lihat tidak tadi wajah bocah itu?” Pak Hasan tertawa cekakakan sambil menggandeng Lidya yang pucat pasi menuju tempat lain. Seandainya mungkin, Lidya ingin pingsan saat ini juga.

Berjalan-jalan di sebuah mall besar yang ramai oleh pengunjung dengan mengenakan busana minim jelas bukan ide yang baik menurut Lidya. Berkali-kali wanita muda yang cantik itu membenahi rok dan baju yang dikenakannya agar tidak terlalu mencolok. Tapi seperti apapun usaha Lidya untuk membenahi, kemolekannya mengundang birahi. Kepalanya terus menunduk karena Lidya tidak mau dikenali oleh teman atau siapapun yang kebetulan berjumpa dengannya. Seandainya tidak kenalpun, Lidya tetap merasa malu dengan penampilannya yang seronok. Entah mana yang lebih parah, berjalan di tengah mall dengan pakaian seperti pelacur atau sekalian saja telanjang. Yang jelas saat ini Lidya merasa dirinya sangat telanjang.

Seorang satpam garuk-garuk kepala karena indahnya pemandangan yang disajikan oleh Lidya. Walaupun sudah sering melihat seorang wanita cantik berpakaian seksi, baru kali inilah satpam itu melihat cewek yang sepertinya perempuan baik-baik mengenakan baju super minim. Kalau saja RUU Anti Pornografi & Pornoaksi disahkan, Lidya pasti akan langsung ditangkap polisi.

“Pak, sudah saja ya, Pak. Kita pulang saja.” Wajah Lidya memelas memohon ampun pada ayah mertuanya. Wanita cantik itu terus meratap manja. “Aku malu sekali. Kita pulang saja.”

Pak Hasan menggelengkan kepala sambil tersenyum sadis. “Baru masuk kok sudah mau pulang?”

“Aku malu sekali…”

“Sini, mendekat kesini, nduk!”

Satu-satunya cara bagi Lidya untuk menutupi kejengahan dan rasa malunya yang membuncah adalah dengan merapatkan tubuhnya dengan sang ayah mertua. Pak Hasan tertawa saat sang menantu yang seksi itu mendempel erat. Pak Hasan merangkul pundak Lidya sehingga mereka berdua nampak seperti sepasang kekasih. Beberapa orang yang berpapasan atau nongkrong di pinggir koridor menatap heran ke arah sepasang manusia ini. Bagaimana mungkin bidadari secantik dan seseksi Lidya mau bergaul dengan pria gemuk buruk rupa seperti Pak Hasan?

Saat mereka berjalan berdua, Pak Hasan memperhatikan banyak laki-laki tua muda yang sedang berjalan-jalan melirik penuh minat ke arah Lidya. Buah dadanya yang terpantul naik turun bisa dilihat dengan jelas, sementara kaki Lidya yang jenjang terlihat seksi dan sangat mulus dengan rok super mini yang dikenakannya. Beberapa orang meneteskan air liur melihat kemolekan menantu Pak Hasan itu. Makin bangga mertua bejat itu pada menantunya.

###

Dodit menghentikan mobil tidak begitu jauh dari gerbang utama komplek perumahan kakak kandung Anissa. Tunangannya yang lugu itu terheran-heran.

“Lho? Kok berhenti, Mas? Apa ada yang salah?” tanya Anissa.

Dodit tersenyum. “Tidak ada yang salah. Kamu manis sekali, say. Manis dan seksi.”

Dodit menggeser posisinya duduk agar bisa sedikit mendekati Anissa. Gadis itu langsung bisa melihat perubahan ukuran gundukan di s*****kangan Dodit. Tangan Dodit membawa jari-jemari Anissa ke arah gundukan itu. Sembari dibimbing oleh Dodit, tangan Anissa mengelus kemaluan tunangannya yang makin lama makin membesar di balik celana. Tangan Dodit sendiri tidak diam begitu saja. Dia mengelus seluruh tubuh Anissa dari atas sampai ke bawah

Dengan berani Dodit menciumi wajah dan leher sang kekasih

“Mas Dodit! Jangan Mas! Apa yang Mas lakukan?” tanya Anissa sambil merem melek, walaupun sepertinya menolak, tapi gadis cantik itu cukup menikmati serangan tangan dan banjir ciuman dari Dodit. Dengan penuh semangat Dodit meremas-remas buah dada Anissa yang montok dan menggemaskan. Anissa berusaha mendorong Dodit menjauh tapi tunangannya itu jelas lebih kuat.

Anissa melenguh keenakan saat Dodit mengecup dan melesakkan tangannya ke balik baju yang dikenakan Anissa. Tangan Dodit kian merajalela di balik baju yang dikenakan gadis cantik itu. Dengan nekat tanpa takut ketahuan orang yang kebetulan lewat, Dodit menyelipkan tangan ke balik BH Anissa yang masih dikenakannya dan memainkan pentilnya dengan memilin dan meremas gumpalan dagingnya yang indah. Berulang kali Anissa melenguh

Baju Anissa terbuka dan BHnya terangkat naik. Dodit makin leluasa menikmati bagian dada dari Anissa yang memang besar dan indah itu. Makin lama makin tidak kuatlah Dodit menahan gejolak nafsu birahinya, dia menggumuli Anissa dan mencoba melepaskan kancing celana jeans tunangannya. “A-aku ingin bercinta denganmu, say…” bisik Dodit lirih di telinga Anissa. Laki-laki muda yang sudah horny itu memeluk tubuh indah Anissa dan mengulum bibirnya dengan nafsu, kedua tangannya bergerak bebas meremas-remas gundukan indah buah dada Anissa.

Anissa menggelengkan kepala, walaupun merasa panas dan siap bercinta, tapi Anissa tidak mau menyerah pada nafsu birahinya. Dengan sedikit memaksa, Anissa mendorong Dodit menjauh. “Jangan, Mas. Aku mohon… sudah cukup, jangan melakukan sesuatu yang akan kita sesali nantinya… aku tidak bisa… aku mohon, kalau Mas Dodit benar-benar mencintaiku… Mas harus menghargai keputusanku untuk mempertahankan milikku yang berharga sampai pernikahan kita nanti…”

Dodit mundur sambil ngos-ngosan. Nafasnya tersengal dan tidak teratur. Dodit memandang ke arah Anissa dengan kesal

###

Pak Hasan meninggalkan Lidya sendirian duduk seorang diri di sebuah bangku panjang di depan toko yang menyediakan peralatan elektronik. Pria tua itu cekikikan melihat kegelisahan sang menantu dari jarak jauh. Pria busuk ini memang sengaja membiarkan Lidya sendirian, dia ingin melihat menantunya yang cantik itu digoda laki-laki lain. Dengan pakaian yang super seksi seperti itu, pasti mudah bagi Lidya memperoleh perhatian seorang lelaki, apalagi yang hidung b*****. Tanpa mengenakan pakaian seksipun Lidya sudah mampu membuat mata seorang pria terpukau, bagaimana seandainya dia mengenakan baju super seksi?

Keringat dingin mulai membasahi tubuh Lidya. Duduk di depan sebuah toko elektronik yang ramai dikunjungi oleh laki-laki berbagai usia dengan pakaian seperti seorang pelacur murahan membuatnya ingin lari. Tapi Lidya takut dengan ancaman Pak Hasan yang tidak saja bisa menghajar tubuhnya secara fisik tapi juga menghancurkan masa depannya bersama Andi. Dia hanya bisa pasrah dan berharap mertuanya itu segera keluar dan menjemputnya. Saat ini Lidya hanya ingin segera pulang ke rumah

Untungnya Lidya membawa handphone. Walaupun simcard yang tadinya berada di dalam hp sudah dicabut dan disita oleh Pak Hasan sebelum mereka berangkat ke mall, tapi dia masih bisa menggunakannya untuk kamuflase. Tidak peduli berapa jumlah lelaki yang menggoda ataupun nanar menatapnya seperti akan menelan tubuh indah Lidya bulat-bulat, wanita cantik itu berkonsentrasi menatap layar mini di hpnya dan berpura-pura memencet tombol.

Sialnya, bukannya cuek, malah makin banyak pria-pria nakal yang memperhatikan Lidya. Seorang pria yang berusia sekitar 40 tahun keluar dari toko yang dimasuki Pak Hasan dan langsung berdiri di depan Lidya. Pria itu membawa tas jinjing plastik yang berisi mainan anak-anak. Lidya yang melirik diam-diam langsung tahu kalau pria ini pasti sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak yang masih kecil, tapi sepertinya dia pergi sendirian. Lidya makin gelisah, dia berusaha menyilangkan kakinya sesopan mungkin untuk menutup bagian s*****kangannya yang terbuka lebar. Tapi dengan cara itu, kini pahanya yang mulus bisa dinikmati oleh sang lelaki hidung b***** yang sedang memanjakan mata.

Lidya kian jengah, dia terus menanti-nanti Pak Hasan yang tidak kunjung keluar dari toko elektronik. Paha mulus Lidya sudah melambai-lambai seakan minta dielus, walaupun sudah berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya, penampilannya tetap terlihat seronok. Mata wanita cantik itu memerah karena menahan air mata. Lidya melirik lagi ke arah sang pria hidung b*****, ia berharap pria itu sudah pergi. Ternyata dugaan Lidya salah, orang itu malah makin mendekat. Terlihat jelas dari posisi Lidya, sebuah gundukan kian membesar di bagian s*****kangan pria itu. Lidya memalingkan wajahnya yang memerah karena malu.

Pria hidung b***** itu memutari etalase toko seperti seorang anak kecil yang tersesat, berputar tanpa arah yang jelas, tapi satu hal yang pasti, pandangan matanya selalu kembali ke arah paha Lidya yang putih mulus tanpa cacat. Entah harus khawatir atau malah bangga, Lidya sedikit menyunggingkan senyum karena sikap orang itu malu-malu. Tapi Lidya tidak mau bermain api, dia segera membenahi posisi duduknya dan berpura-pura tidak memperhatikan

Orang itu ternyata malah mendekati Lidya dengan berani. Dia mengira senyuman Lidya tadi ditujukan untuknya!

Lidya mengejapkan mata tak percaya dan menahan nafas saat pria itu datang mendekatinya.

“Sedang menunggu teman?” tanyanya, “saya juga. Boleh saya duduk di sebelah anda? Rasanya capek sekali berdiri di sini.

Lidya mengangkat bahu dengan cuek, jantungnya mulai berdetak dengan kencang, matanya bergerak mencoba mencari Pak Hasan. Kemana lagi pria tua brengsek itu? Lidya makin gelisah dan ingin segera pergi dari sini. Pria yang genit itu duduk di samping Lidya. Dia sengaja duduk sedikit merapat ke arah si cantik. Lidya bisa merasakan senggolan-senggolan kecil di daerah pinggul dan pantatnya

“Wah, hp seri **** ya?” tanya pria genit itu lagi sambil menunjuk telpon genggam yang dipegang Lidya. “Saya selalu ingin memiliki hp seperti itu. Sayang di tempat ini sangat susah mendapatkan hp seperti yang anda miliki, hp seri baru stoknya terbatas. Padahal saya tidak peduli dengan harganya yang mahal. Berapapun harganya, pasti saya beli. Saya selalu mengatakan pada diri saya sendiri, kalau saya menginginkan hp, harus yang memiliki fitur lengkap. Kebetulan hp itu memiliki fitur-fitur seperti yang saya butuhkan.

Lidya mengangguk dan mengangkat bahu, dia masih cuek dan tidak peduli apa yang dikatakan laki-laki di sebelahnya. Pria itu mendekat dan makin nekat, kini lengan mereka bersinggungan dan saling menempel sisinya. Lidya berusaha menyembunyikan hpnya karena toh telpon genggam itu menyala tanpa simcard. Dia tidak ingin ketahuan oleh si hidung b***** ini sedang berpura-pura. Untungnya pria hidung b***** itu lebih tertarik memperhatikan paha dan belahan buah dada Lidya yang putih mulus dan menggoda daripada hp yang sedang ia sembunyikan

Sekali lagi, pria hidung b***** itu masih terus mencoba mendekati Lidya

“Hpnya bagus, cocok dengan pemiliknya yang cantik.” puji si hidung b***** dengan rayuannya. “Anda sangat cantik.

“Terima kasih.” Jawab Lidya mencoba ramah

“Sebelumnya belum pernah saya memuji seorang wanita yang baru saya temui seperti saat ini.” Kata si hidung b***** lagi. “Tapi anda benar-benar mempesona.”

“Terima kasih. Saya beruntung menjadi yang pertama yang pernah anda puji.” Jawab Lidya. Dia menarik nafas lega karena sepertinya orang ini cukup sopan untuk tidak berbuat yang aneh-aneh di tengah keramaian.

“Saya tidak tahu apa yang merasuki diri saya, mudah-mudahan anda tidak tersinggung.” Kata pria itu lagi

“Ah tidak.” Jawab Lidya pendek. “Saya tidak tersinggung.

Lidya berusaha membenahi caranya duduk agar pria di sebelahnya tidak bisa menikmati pahanya yang putih mulus dengan bebas. Matanya masih terus mencari Pak Hasan. Kalau hanya digoda oleh laki-laki sudah jadi langganan bagi Lidya, yang membedakan kali ini adalah caranya berpakaian. Dengan busana yang ia kenakan, Lidya seakan seperti seorang pelacur yang sedang menunggu p*****gan. Memalukan sekali

“Saya juga sangat menyukai pakaian yang anda kenakan, sangat modern dan seksi. Jujur saja saya sangat kagum dengan kecantikan anda. Apakah anda seorang model iklan atau bintang sinetron?” pria itu mulai berani melancarkan serangan

“Bukan. Saya hanya seorang ibu rumah tangga biasa.

Kata-kata ‘ibu rumah tangga’ membuat lelaki itu sedikit terkejut. Jarak mereka merenggang. Lidyapun akhirnya bisa menarik nafas lega. Tapi pria itu masih juga belum mau menyerah

“Apa anda sedang menunggu suami anda?” tanya laki-laki itu.

“Tidak.” Kali ini Lidya menjawab jujur. “Suami saya sedang berada di luar kota. Saya bersama ayah mertua saya.”

Di saat genting, Lidya malah keceplosan mengatakan hal-hal jujur pada laki-laki ini, tapi memang Lidya mulai kebingungan mencari kata-kata karena ditelan oleh perasaan gelisah yang makin lama makin membuncah, dan pada akhirnya, dia mengatakan hal jujur di saat dia harus berbohong. Keringat si cantik mengalir deras. Laki-laki itu merasa kembali mendapatkan angin, dia merapat lagi, kali ini bahkan agak mendesak tubuh Lidya.

“Wah, kalau begitu suami anda adalah seorang pria yang sangat beruntung karena memiliki seorang istri yang cantik dan seksi yang juga sangat sayang pada mertua.” Katanya. “Saya selalu berharap istri saya berani mengenakan pakaian yang lebih membuat saya bergairah tapi dia selalu menolaknya.”

“Saya yakin istri anda punya alasan sendiri.” Jawab Lidya sambil menjauh.

Lidya tidak berani menatap mata laki-laki di sebelahnya, pria itu menatapnya nanar seperti ingin menjilat seluruh tubuh Lidya. Lidya ingin pergi, dia ingin cepat-cepat meninggalkan pria ini, dia takut sekali, tapi Lidya jauh lebih takut pada Pak Hasan sehingga dia tidak beranjak meninggalkan bangku.

“Tentunya kaki istri saya yang gemuk tidak bisa dibandingkan dengan keindahan kaki anda yang langsing. Suami anda benar-benar seorang laki-laki yang beruntung.” Kata pria itu lagi. “Sayang dia tidak mempedulikan anda dan pergi ke luar kota sendirian…”

“Dia sedang dinas keluar kota .”

“…mungkin saja. Tapi hari ini, di mall ini, pasti banyak orang yang mau meninggalkan istri mereka dan mengajak anda pulang ke rumah.”

“Anda sungguh berani mengatakan hal itu.”

Pria itu tersenyum penuh percaya diri, tangannya perlahan mengelus lengan Lidya yang putih mulus, dia benar-benar yakin Lidya akan jatuh ke tangannya. Si cantik itu mulai jengah, kata-kata orang ini terdengar sopan dan terpelajar, sayang kelakuannya menjijikkan.

“Apakah anda termasuk pria tidak mempedulikan istri anda?” tanya Lidya menantang. Dia menepis tangan pria hidung b***** tak dikenal yang mulai keterlaluan itu.

“Bagaimana pendapat anda? Apa anda mau saya ajak pulang?” tanya pria itu sambil cekikikan, wajahnya terlihat sangat nafsu dan menjijikkan. Dalam benaknya pasti sudah terbayang beribu macam cara menunggangi Lidya. Dia pasti sudah gatal ingin melesakkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang rahim si cantik ini.

“Maaf sobat. Tapi nampaknya menantu saya tidak tertarik pada anda.” Sebuah suara menyelamatkan Lidya.

Pak Hasan sudah datang.

Beberapa hari ini Lidya merasa jijik dan marah pada mertuanya, baru kali ini dia merasa sangat lega Pak Hasan datang dan menyelamatkannya dari godaan seorang lelaki hidung b*****. Lidya segera bangkit dan berlindung di balik tubuh Pak Hasan. Laki-laki itu tahu diri dan mundur teratur sambil memasang muka masam. Tapi dia masih sempat melirik ke arah Lidya dan menjilat bibirnya penuh nafsu.

Dasar hidung b*****!

Pak Hasan memeluk pinggang menantunya dan mereka berjalan lagi menyusuri lorong-lorong mall. Karena sudah diselamatkan dari lelaki iseng dan terlindungi, Lidya diam saja saat tangan mertuanya itu nakal meraba dan meremas-remas pantatnya saat mereka berjalan bersama. Lidya seakan sudah tidak peduli seandainya ada orang yang saat itu menatap mereka.

Satu perasaan bangga memenuhi batin Pak Hasan. Seumur hidupnya, dia belum pernah memiliki suatu hal yang bisa dibanggakan. Kini, saat berjalan bersanding dengan seorang wanita yang masih muda, cantik dan seksi yang bisa ditunggangi setiap saat, banyak lelaki menatapnya iri. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Pak Hasan bisa memamerkan sesuatu yang membuat orang lain ingin menjadi dirinya. Pak Hasan benar-benar puas.

“Bagaimana rasanya, nduk?” bisik Pak Hasan di telinga Lidya.

Sekujur tubuh wanita jelita itu merinding karena bisikan Pak Hasan disertai pula dengan ciuman dan jilatan kecil di telinganya.

“Ra-rasanya apa, Pak?” Lidya menggelinjang geli.

“Bagaimana rasanya digoda laki-laki?”

“Bu-bukan yang pertama kali. Aku tidak suka…” Lidya tidak meneruskan kalimatnya karena sekali lagi Pak Hasan mengendus telinganya yang wangi. Lidya tidak bohong, walaupun terkesan sombong tapi memang dia sudah sering sekali digoda laki-laki hidung b*****. Sebenarnya Lidya benci sekali pria semacam itu, karena meskipun Lidya sudah mengenakan pakaian yang sopan, tidak seksi dan tidak menunjukkan lekuk tubuhnya yang indah, masih banyak yang mendekatinya dengan tidak sopan. Kali ini situasinya sedikit berbeda, karena Lidya jelas-jelas menggunakan pakaian seksi yang mengundang birahi, dia bagaikan seorang pelacur yang sedang menawarkan d****gan dengan mempertontonkan keindahan lekuk tubuhnya. Lidya meneruskan kalimatnya dengan lirih sambil memejamkan mata sesaat ketika lidah Pak Hasan nekat menjelajah daun telinganya di tengah keramaian mall. “…tidak suka…”

“Kamu tidak suka digoda?”

“Ti-tidak…”

Pak Hasan menyeringai jahat.

###

“Kamu kecewa, Mas?”

Dodit yang sedang merapikan bajunya terdiam membisu. Bagaimana dia harus menjawab pertanyaan Anissa itu? Jujur saja dia kecewa karena tidak bisa melampiaskan nafsu birahinya yang sedang memuncak, tapi di sisi lain, dia juga sangat bangga pada kekasihnya karena masih menjunjung tinggi nilai dan budaya timur yang kini sudah mulai luntur. Sangat jarang menemui gadis seperti Anissa.

“Kamu pasti kecewa ya, Mas?” Anissa mengulangi pertanyaannya.

Dodit tersenyum dan mengelus rambut tunangannya yang panjang dan indah dengan mesra. “Kenapa harus kecewa? Aku bangga sama kamu, say. Di jaman sekarang ini, susah sekali menemukan gadis yang masih memandang penting keperawanan seperti kamu. Aku bangga dan merasa terhormat. Pernikahan kita sudah hampir tiba, jadi kenapa harus kecewa? Aku hanya perlu sabar dan menunggu sebentar lagi.”

Anissa tersenyum mendengar perkataan Dodit. Dia tidak tahu apakah Dodit berbohong untuk sekedar menenangkan dirinya atau benar-benar jujur, tapi Anissa yakin Dodit pria yang baik, dia bersedia menunggu sampai datang hari pernikahan mereka untuk bisa bersatu dengannya. Anissa tahu saat ini Dodit sudah sangat horny, tapi kemampuannya mengendalikan diri memang pantas diacungi jempol. Dia dengan bangga akan menyerahkan segalanya untuk Dodit di hari pernikahan mereka. Dia akan memberikan miliknya yang paling berharga, kegadisannya yang sudah dia jaga sejak kecil.

“Terima kasih, sayang,” kata Anissa sambil lembut mengecup pipi Dodit, “kau tahu seandainya kau teruskan, aku tidak akan bisa menolakmu karena aku sangat mencintaimu, tapi aku ingin malam pertama kita benar-benar menjadi malam pertama yang sangat berharga.”

Dodit tersenyum dan balas mengecup pipi Anissa, dia kembali terdiam dan membisu. Dodit memutar kunci dan menghidupkan mesin mobil.

###

“Pak, kenapa kita harus mencarinya? Dia menjijikkan! Dia menggodaku… dia… dia…” kata-kata Lidya patah-patah karena bingung mencari kata yang cocok. Dia kesulitan berjalan cepat sambil tetap mempertahankan pakaiannya agar tidak terbuka dengan vulgar, meskipun saat ini dia sudah seperti seorang pelacur hina.

“Itu sebabnya kita harus menemuinya! Bapak akan memberinya pelajaran berharga!”

Pak Hasan mencari-cari pria hidung b***** yang tadi menggoda Lidya. Setelah berkeliling dari lantai ke lantai, mereka menemukannya sedang duduk di sebuah restoran siap saji, dia segera menarik tangan Lidya dan menghampirinya. Lidya yang sudah berharap tidak akan bertemu lagi dengan orang itu menjadi sangat kecewa, bagaimana mungkin di mall sebesar dan seramai ini, Pak Hasan bisa menemukan orang itu lagi?

“Selamat siang, mas.” Kata Pak Hasan. Orang itu memang lebih muda dari Pak Hasan, dengan pandangan curiga dan ragu pria hidung b***** yang tadi menggoda Lidya menatap ke arah Pak Hasan dan menantunya.

“Ya?” pria genit itu mengernyitkan dahi.

“Kenalkan, nama saya Hasan dan ini menantu saya, Lidya.” Kata Pak Hasan sambil mengajak pria mupeng itu bersalaman.

“Saya Nyoto.” Pria itu masih menjawab dengan pendek, tapi dia tidak melewatkan kesempatan untuk menjabat tangan Lidya dan mengelusnya sedikit. Pria itu terkekeh pelan menikmati halusnya tangan Lidya. Si cantik itu sendiri ingin mati rasanya.

“Saya lihat tadi Mas Nyoto tertarik dengan menantu saya, apa benar?”

“Kalau iya kenapa?” Nyoto menjilat lidahnya ke arah Lidya dengan sengaja, membuat Lidya makin jengah. Dia menarik-narik ujung baju Pak Hasan dan mengajaknya pergi, tapi rupanya mertuanya itu punya rencana lain.

“Yah, menantu saya ini rupanya juga sangat tertarik pada anda. Bahkan dia tadi mengatakan kalau seandainya diberikan kesempatan sebentar saja dia ingin merasakan kehangatan yang mungkin bisa anda berikan padanya. Berulang kali dia meminta untuk kembali dipertemukan dengan anda.” Kata Pak Hasan sambil melirik Lidya puas.

Lidya benar-benar ingin mati, dua pria ini pantas dibunuh. Seandainya bisa, dia ingin mengambil sebilah pisau dan menancapkannya di dada Pak Hasan dan Nyoto. Pria yang bernama asli Sunyoto itu bagaikan baru saja menjadi pemenang undian berhadiah, dia hampir-hampir melompat dari kursinya dan hendak memeluk Lidya. Tapi Pak Hasan menghentikannya.

“Tapi tentu saja, saya tidak bisa mengijinkan Mas Nyoto memakai menantu saya ini, karena biar bagaimanapun juga, dia masih menantu saya dan istri sah dari anak saya. Saya tidak akan mengijinkan siapapun juga menidurinya.” Kata Pak Hasan sambil menatap Nyoto galak.

Nyoto yang ternyata cukup pengecut kembali duduk ke kursinya. Pria genit itu menatap Pak Hasan heran. “Kalau tidak boleh dipakai, buat apa ditawarin?”

“Berhubung anak saya sedang keluar kota, menantu saya ini sangat kesepian. Bagaimana kalau Mas Nyoto bermain-main sebentar dengan buah dadanya? Seperti yang mas Nyoto lihat, Lidya tidak mengenakan BH dan ingin dibelai-belai sebentar di kamar kecil.” Kata Pak Hasan.

Perlahan Lidya meneteskan air mata. Dia sudah tidak mampu lagi berucap ataupun mengeluarkan protes. Penghinaan Pak Hasan sudah hampir membuatnya pingsan, dia sama sekali tidak mengira mertuanya itu akan menyerahkannya pada pria menjijikkan ini.

Nyoto melonjak lagi. “Berapa perlu saya bayar untuk melakukan itu?”

“Mas Nyoto hanya perlu membelikan makan siang untuk kami berdua.”

“Setuju.” Nyoto langsung mengangguk. Dia meraih dompet dan mengeluarkan lembaran ratusan ribu pada Pak Hasan. “Terserah kalian mau makan di mana.”

Dengan buru-buru Nyoto menggandeng lengan Lidya dan menariknya ke kamar kecil di ujung gang yang untungnya sedang sepi. Dia tidak peduli lagi dengan makan siangnya yang belum habis di restoran siap saji tadi. Dia lebih bernafsu menikmati buah dada Lidya. Pak Hasan tertawa sambil mengikuti mereka berdua dari belakang.

Nyoto tidak menunggu terlalu lama, saat berada di gang menuju kamar kecil yang sepi, dia segera menubruk Lidya. Dengan kasar dia membuka kancing baju kemeja Lidya dan tidak mempedulikan airmata yang menetes di pipi wanita cantik itu. Lidya benar-benar sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali pasrah.

“Kamu pikir kamu bisa lolos dariku, yah?” kata Nyoto sambil terkekeh pada Lidya. “Untung sekali kamu punya mertua yang pengertian. Dasar sombong, rasakan sekarang pembalasanku!”

Dengan sekali sentak, kemeja Lidya terbuka lebar. Perempuan cantik itu menjerit lirih tak berdaya, tangisannya makin menjadi. Buah dada Lidya meloncat keluar tepat di hadapan Nyoto dan pentilnya yang menunjuk ke depan mempesona pria genit itu. Lidya kembali menjerit dan terisak saat Nyoto dengan kasar meremas buah dadanya dengan gemas dan memainkannya dengan nakal. Lidya bisa merasakan jari jemari Nyoto melingkari pentilnya dan perlahan memencetnya. Karena tubuh Lidya dan Nyoto berdempetan, Lidya bisa merasakan gumpalan kemaluan di s*****kangan Nyoto makin lama makin membesar.

Cukup lama Nyoto meremas-remas buah dada Lidya dan mereguk kenikmatan darinya, sebelum ada orang yang melewati gang itu, akhirnya Pak Hasan menghentikan ulah cabul Nyoto pada menantunya. Nyoto mengangguk tanda mengerti dan menghentikan serangannya pada dada Lidya. Wanita cantik itu jatuh luruh ke lantai sambil terus menangis terisak-isak.

“Maaf, Mas. Waktunya habis.” Kata Pak Hasan.

“Wah… nanggung sekali, Pak. Saya belum menjilatinya, saya belum menikmati buah dada itu seutuhnya.” Nyoto ngos-ngosan menahan birahi yang sudah hampir memuncak. “Saya ingin lebih, saya ingin menidurinya.”

Nyoto meraih dompet dan bersiap mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu lagi. Pak Hasan tersenyum dan menggeleng. “Maaf sekali, tapi perjanjian adalah perjanjian. Dia masih menantu saya, Mas. Saya masih harus menghormati dia.”

Nyoto menunduk kesal, dengan setengah membentak, dia mendorong Pak Hasan. “Berapapun saya bayar, Pak! Berapapun!! Saya punya ATM, kartu kredit, semua buat Bapak! Saya hanya ingin memeknya! Saya ingin memek menantu bapak ini! Sekali saja!!”

Pak Hasan menyeringai marah dan balas mendorong Nyoto, di luar dugaan, ternyata Pak Hasan jauh lebih kuat dari pria yang sedang birahi ini. “Saya sudah katakan berulang-ulang, perjanjiannya hanya soal buah dada Lidya, bukan memeknya! Dia bukan pelacur!!”

Nyoto menunduk lagi. Akhirnya emosinya perlahan menyurut. Dengan langkah lemas dia meninggalkan Pak Hasan dan Lidya. Di luar dugaan, Pak Hasan mendatangi Lidya dan memeluknya mesra. Lidya memeluk Pak Hasan erat dan menangis sejadi-jadinya. Pak Hasan mengelus-elus rambut Lidya dan memberinya penghiburan. Walaupun merasa aneh, Lidya sedikit merasa terlindung ulah sikap Pak Hasan yang tiba-tiba baik ini.

Nyoto ternyata masih belum menyerah. Dia mengeluarkan kartu nama dari dalam dompetnya dan menaruhnya di lantai. “Seandainya bapak butuh uang dan berniat melakukan perjanjian lagi, silahkan hubungi saya. Saya bukan orang yang kaya raya, tapi berapapun saya bayar untuk bisa menikmati memeknya.”

Pak Hasan menatap Nyoto sambil meringis sadis. Dia mengambil kartu nama itu dengan terkekeh. “Yah, kita toh tidak tahu kapan butuh uang. Siapa tahu Lidya suatu saat nanti kangen pada Mas Nyoto.”

Lidya kaget dengan ucapan mertuanya dan mendorongnya menjauh. Pak Hasan dan Nyoto tertawa berbarengan.

“Kurang ajar! Kalian anggap apa saya ini? Barang d****gan? Pelacur murahan?” Lidya menjerit marah. Kesabarannya sudah habis. “Pak, saya ini menantumu! Istri dari anakmu! Teganya kamu melakukan ini semua?”

Plakk!! Tamparan Pak Hasan mendarat di pipi Lidya. Bekas merah merona tertinggal di pipi mulus wanita cantik itu. Lidya kembali menangis tak tertahankan.

“Jangan pernah bicara kurang ajar di depan kenalan baru!” bentak Pak Hasan. “Maafkan menantu saya, Mas Nyoto. Seandainya dia nanti merindukan remasan-remasan anda, pasti saya hubungi anda lagi.”

“Baik, saya tunggu telpon anda.” Kata Nyoto sambil menyeringai puas. Sebelum pergi, pria genit itu mengerlingkan mata pada Lidya yang masih menangis.

Lidya menatap mertuanya ketakutan.

“Bersihkan wajahmu di kamar kecil. Benahi make-upmu! Kuberi waktu sepuluh menit. Kalau selesai dalam sepuluh menit, kita pulang. Kalau tidak, akan aku cari orang lain lagi untuk meremas-remas buah dadamu!”

Lidya segera lari ke kamar kecil dengan terburu-buru.

###

“Bang! Baksonya tiga ya, Bang!”

“Iya Bu!”

Akhir-akhir ini Paidi sering lewat di komplek rumah di sekitar pos kamling lokasi dia memergoki wanita cantik idamannya. Pagi siang malam Paidi berkeliling untuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok bidadari yang kemarin lusa dia lihat. Wanita itu sangat cantik dan terlihat seperti wanita baik-baik. Paidi tidak habis pikir apa yang dilakukan wanita seperti itu malam-malam di pos kamling. Bisa dipastikan wanita cantik itu adalah warga komplek ini, itu sebabnya Paidi bersemangat mencarinya. Walaupun nanti kalau sudah bertemu, Paidi tidak tahu apa yang akan dia lakukan.

Hari ini, Paidi kembali berusaha mendapatkan jawabannya. Kebetulan sekali ada tiga orang ibu-ibu komplek yang sedang ngerumpi dan membeli bakso d****gannya. Dengan hati-hati Paidi mendekati mereka dan berpura-pura memotong-motong sayuran, Paidi menguping pembicaraan ibu-ibu yang sedang asyik ngobrol, siapa tahu ada informasi yang bisa dia simpan.

“Eh, Bu Syamsul, katanya Pak Bejo punya cewek simpanan baru lho.”

“Cewek simpanan? Pak Bejo yang gemuk itu? Pak Bejo Suharso? Masa sih, Bu? Siapa yang mau sama Pak Bejo? Istrinya aja nolak-nolak!”

Ibu-ibu itu tertawa.

“Bener kok, Bu. Ini gosip dari Bu Bejo sendiri. Katanya akhir-akhir ini Pak Bejo jadi lebih sering dandan dan lebih wangi. Dia jadi lebih memperhatikan diri. Kalau dulu boro-boro dia mau pakai minyak wangi, sikat gigi aja jarang!”

“Ah, Bu Tatang ini…”

“Kalau berita itu bener, saya jadi heran sendiri. Siapa sih wanita bodoh yang mau sama Pak Bejo? Meskipun di depan orang kelakuannya baik, tapi sebenarnya itu kedok karena di belakang dia punya perangai dan watak yang jelek! Busuknya kan sudah terkenal sampai kemana-mana! Kasihan istrinya.”

“Iya tuh, saya juga sering ngeri kalau melihat Pak Hendra dan Bu Hendra mempercayakan rumah dan anak pada Pak Bejo. Mungkin mereka satu-satunya warga yang tidak tahu seperti apa Pak Bejo sebenarnya.”

“Yah, kalau soal itu sih, awalnya juga tidak ada yang tahu, Bu Syamsul. Soalnya Bu Bejo kan orangnya baik banget! Suka menolong dan ramah. Bu Hendra juga baik, tidak pernah mencurigai orang dan sifatnya lemah lembut, jadi saya yakin keluarga Pak Hendra pasti mempercayai keluarga Pak Bejo.”

“Eh, jangan-jangan cewek simpenan Pak Bejo itu Bu Hendra yah?”

Ibu-ibu itu kembali tertawa.

“Ah, Bu Tatang ini ngaco terus! Mana mau Bu Hendra sama Pak Bejo! Suaminya saja cakep banget, belum lagi Pak Bejo itu gemuk, botak dan jelek! Buat apa Bu Hendra yang cantik dan seksi itu selingkuh sama Pak Bejo? Kalau beneran mau selingkuh kan dia bisa cari laki-laki lain yang lebih cakep? Ah ada-ada saja.”

“Bener, Bu Syamsul. Bu Hendra itu bener-bener tipe ibu rumah tangga idaman di komplek kita. Masih muda, cantik, seksi, setia, baik, ramah, sopan, udah gitu lemah lembut pula. Gak ada kurang-kurangnya. Suami saya aja sering diam-diam melirik nakal kalau sedang berpapasan di jalan dengan Bu Hendra.”

“Wah, suami saya juga, Bu Sani. Kalau sudah ketemu Bu Hendra, itu mata kayaknya nggak mau lepas-lepas! Dilalapnya sampai habis penampilan Bu Hendra dari atas ke bawah! Kakinya yang jenjang, kulitnya yang putih mulus, bodinya yang aduhai, buah dadanya yang indah, wajahnya yang cantik, semua ditelan mentah-mentah. Dasar laki-laki, kalau sudah lihat yang bening lupa sama istri sendiri!”

Ibu-ibu itu tertawa lagi.

Paidi mengangguk-angguk sambil memainkan mangkok baksonya. Pria itu sepertinya mulai menemui titik terang.

Paidi mencatat informasi yang didapatkannya dari percakapan ibu-ibu itu dalam benaknya. Sepertinya ada seorang wanita yang sangat cantik dan seksi yang tinggal di komplek ini dan menjadi idola tidak saja bagi kaum pria tapi juga kaum wanita. Perempuan itu adalah istri dari seorang warga komplek yang bernama Hendra, apakah mungkin dia wanita yang dia lihat malam itu?

Paidi jelas berniat mencari tahu.

###

Lidya masuk ke kamarnya dengan langkah lunglai. Badannya lemas dan capek, wajahnya kuyu, seluruh kekuatannya telah diserap habis oleh kegiatannya sehari bersama Pak Hasan. Dia sudah tidak bisa lagi menangis sedih karena sangat lelah. Dia hanya ingin bisa tidur dengan tenang malam ini.

Lidya menatap dirinya sendiri dalam cermin, dia seolah melihat seorang pelacur yang sudah kelelahan melayani p*****gan. Tidak nampak lagi sosok wanita cantik yang ceria seperti dahulu, tidak ada lagi senyum tersungging di bibirnya yang mungil. Semua hilang karena ulah mertua yang cabul.

Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka dan Pak Hasan masuk sambil cengengesan.

Untuk beberapa saat lamanya Lidya berdiri kebingungan tanpa tahu apa yang sebaiknya ia lakukan. Mulutnya sudah terbuka, tapi tak kunjung keluar kata-kata yang bisa ia ucapkan. Seluruh pikirannya sudah kabur. Akhirnya Lidya hanya berkata lirih. “Apa yang Bapak inginkan? Aku capek sekali.”

“Apa yang aku inginkan? Kamu ini benar-benar bodoh atau cuma pura-pura saja, nduk? Tidak usah pakai basa-basi, langsung dibuka saja bajumu.” Perintah Pak Hasan. “Sejak tadi pagi aku menahan diri tidak memakai memekmu, sekarang saat yang tepat”

Wajah Lidya berubah menjadi muram. Dalam hatinya dia sudah berharap Pak Hasan tidak akan menyetubuhinya lagi malam ini. Harapannya jelas tidak terwujud. Lidya berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Mertuanya yang cabul itu sudah pernah menidurinya beberapa kali dan pakaian yang dikenakannya sendiri saat ini sangat terbuka, apalah bedanya kalau saat ini dia bugil atau tidak

Senyum yang tersungging di bibir Pak Hasan makin melebar saat melihat Lidya melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuhnya. Seluruh pakaian yang dibelinya siang tadi di Mall akhirnya terlepas dari tubuh sang menantu. Kemeja tipis menerawang tanpa BH, rok mini hitam yang seksi dan celana dalam g-string super kecil jatuh satu persatu ke lantai.

“Indah sekali.” Pak Hasan tertawa puas menyaksikan menantunya sendiri berdiri telanjang bulat dan kedinginan dihadapannya. Pria tua itu juga meringis melihat Lidya berusaha keras menutupi rasa malu luar biasa yang ditimbulkan karena berdiri tanpa sehelai benangpun di depan mertuanya sendiri. “Berbaliklah, nduk. Aku ingin melihat pantatmu.”

Lidya menggigit bibir bawahnya dengan geram dan menurut pada perintah Pak Hasan. Wanita cantik itu berbalik dengan sangat perlahan sehingga mertuanya bisa melihat dengan jelas gelombang gerakan erotis yang ditimbulkan oleh pantat Lidya. Pantat sang menantu sangat mempesona Pak Hasan. Pantat yang bulat, putih mulus dan tanpa cacat, kemolekan yang sempurna.

“Menakjubkan.” Kata Pak Hasan. Matanya nanar menatap keindahan bokong sang menantu. “Berbaringlah di ranjang dan buka kakimu lebar-lebar. Aku pengen ng***** sekarang.

Lidya menahan nafas karena terkejut dan mulai panik. Dia berusaha menghindar dari Pak Hasan. Setelah seharian mendapatkan rangsangan demi rangsangan, Lidya takut dia mulai rindu pada kontol sang mertua yang beberapa hari ini telah membuatnya orgasme berkali-kali. Hal ini berusaha dihindarinya sedini mungkin. Dia tidak mau tenggelam dalam nafsu pada sang mertua. Dengan rasa takut yang amat sangat, Lidya berusaha menghindar. Dia masih memiliki kesadaran untuk menolak. Walaupun sudah pernah diperkosa, Lidya tetap menolak untuk pasrah. Tapi apalah daya seorang wanita lemah sepertinya? Apalagi kini Lidya sudah bugil di hadapan sang mertua.

“Baiklah, sepertinya kau mendapat kesulitan berkomunikasi dengan Bapak, ya nduk?” kata Pak Hasan sambil tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kita adakan perjanjian saja?”

“Pak, aku mohon. Cukuplah apa yang Bapak lakukan ini. Perbuatan kita sangat nista, Pak. Ijinkan aku…”

“Shhh, jangan ribut to, nduk. Kita buat perjanjian saja ya? Soalnya aku masih penasaran sama tubuhmu yang seksi itu,” kata Pak Hasan. Wajahnya terlihat sangat sadis dan membuat Lidya bergidik ketakutan, tamparannya siang tadi di mall masih terasa panas di pipinya, “Kali ini kau akan memperbolehkanku menyetubuhimu tanpa perlawanan. Tidak hanya itu saja, kali ini kau juga harus membuatku orgasme dan kalau kau tidak bisa membuatku orgasme secepat mungkin, ah, resiko ada di tanganmu…”

Lidya menatap Pak Hasan heran. “Kenapa resiko ada di tanganku?”

“Oh ya, Lidya sayang. Ada sesuatu yang lupa aku sampaikan padamu.”

Lidya menatap mata ayah mertuanya dengan pandangan bertanya-tanya. Tubuhnya yang telanjang menggigil terkena angin. Lidya berusaha menutup ketelanjangannya dengan memeluk dirinya sendiri. Tangan kanan menyilang menutupi pentil dan tangan kiri menutup gundukan lembut di s*****kangan

“Aku bohong soal Andi.” Kata Pak Hasan.

Jantung Lidya berdetak kencang, perlahan rasa takut menyebar di seluruh tubuhnya. Pak Hasan tersenyum menghina, dia bergerak mendekati Lidya dan memeluk tubuh menantunya itu erat-erat. Tangan-tangannya yang nakal mengelus dan meraba lekuk-lekuk tubuh Lidya. Wanita cantik itu masih tak bergeming, kedua tangannya juga masih berusaha menutup auratnya. Pak Hasan terkekeh, dia dengan berani menyentakkan tangan kanan Lidya dan meremas-remas payudaranya perlahan.

“Andi pulang hari ini. Dia baru saja telpon dari bandara.” Kata pria tua itu

Mata Lidya terbelalak.

“Dia akan segera sampai di rumah.”

Dengan panik Lidya mencoba melepaskan diri dari pelukan ayah mertuanya. Menantu Pak Hasan yang cantik itu menjerit-jerit dan menangis tak tertahankan, dia berusaha menarik tubuhnya dari kuncian sang mertua namun tidak berhasil. Tubuhnya yang indah dan basah oleh keringat tak bisa lepas dari pelukan Pak Hasan.

“Lepaskan aku! Lepaskan! Andi sudah mau pulang! Kita tidak boleh terlihat seperti ini! Kumohon, Pak! Kasihani aku! Kasihani akuuu!!”

Pak Hasan meringis sadis dan tak memberi ampun sedikitpun. Gerakan tangannya meremas buah dada Lidya malah makin kencang.

“Aduh, sial sekali! Aku lupa mengunci pintu depan!” goda Pak Hasan.

Lidya menjerit-jerit ketakutan. Pelukan Pak Hasan makin erat.

“Bagimana menurutmu, nduk? Aku janji akan segera melepaskanmu begitu aku mencapai klimaks. Sebaiknya kita segera bersetubuh dengan cepat karena Andi hampir sampai. Aku tidak berani menjamin apa yang akan dilakukan anakku itu padamu seandainya dia pulang mendapati istrinya yang cantik jelita telanjang bulat digauli oleh bapaknya sendiri. Jujur saja, aku tidak peduli seandainya Andi pulang dan menemui kita dalam posisi seperti ini, tapi aku yakin pendapatmu pasti sebaliknya. Pasti kau ingin ini semua cepat selesai, iya kan?

“Ba-bapak benar-benar sudah gila… aku… aku tidak bisa melakukannya! Mas Andi… mas Andi sudah mau pulang! Ti-tidak akan sempat! Kita tidak akan sempat ber…” Lidya menjerit putus asa, tubuhnya yang telanjang kian bersinar indah karena derasnya kucuran keringat bercampur dengan air mata. Wajahnya yang menunjukkan rasa takut dan gelisah malah membuat Pak Hasan kian terangsang dan bergairah. Pria tua itu melepaskan pelukannya dan berdiri di dekat ranjang.

“Tidak sempat bercinta, maksudmu? Kalau begitu, tidak ada waktu lagi untuk berpikir, nduk,” kata Pak Hasan sambil menyeringai, “Andi bisa setiap saat pulang ke rumah. Berapa jam sih waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke sini dari bandara?”

“Tidak bisa. Tidak sempat. Tidak … aku tidak mau!” Lidya terus menggeleng. Pikirannya kalut. Dia meremas-remas jemarinya dengan perasaan gelisah.

“Waktu terus berjalan, nduk,” Pak Hasan terkekeh menghina, “Sebenarnya kau tidak punya banyak pilihan, kalau tidak mau melayaniku, ya berarti kau lebih memilih kuperkosa saja. Karena kalau itu yang kau mau, aku tidak yakin Andi bisa menerima kenyataan yang harus dihadapi. Bayangkan, istri dan ayahnya…”

“Hentikan!! Jangan bapak teruskan kata-kata itu!!” Lidya makin panik.

Desah nafas Lidya yang memburu kian keras terdengar, bahkan sampai ke telinga Pak Hasan. Dadanya naik turun dengan cepat dan nafasnya yang cepat terdengar berat. Lidya berusaha mencari jalan keluar dari situasi ini tapi sepertinya tidak ada pilihan yang bisa menyelamatkannya.

Lidya menundukkan kepala dengan pasrah. Tidak ada jalan lain.

Lidya berbisik lirih memohon maaf kepada suaminya. Sambil terburu-buru Lidya segera menghampiri Pak Hasan, menarik celana pendeknya dan meraih tongkat kemaluan kebanggaan sang mertua. Mata Lidya terbelalak melihat ukuran penis Pak Hasan yang terlihat jauh lebih besar dari sebelumnya.

“Nah, gitu kan enak, bagaimana kontolku, nduk? Pas di tanganmu yah?” Pak Hasan tertawa melihat menantunya akhirnya mau melayaninya tanpa paksaan. Selama ini Pak Hasan hanya berhasil memperkosa Lidya, belum bisa membuat menantunya yang cantik itu bercinta dengannya dengan kesadaran sendiri. Kali ini akhirnya apa yang diimpikannya menjadi kenyataan.

Lidya tidak menjawab sindiran Pak Hasan. Matanya berulang kali menatap ke arah jendela dengan takut. Lidya segera mulai mengocok kontol Pak Hasan. Jemari lembut Lidya bergerak cepat mengocok penis Pak Hasan naik turun dengan harapan pria tua yang bejat itu segera mencapai klimaks.

“Ayo cepat, cepat…” desis Lidya, matanya terus beralih dari jendela ke kemaluan Pak Hasan. Lidya makin tidak sabar dan bertanya-tanya butuh waktu berapa lama lagi Pak Hasan akan menembakkan spermanya.

“Menyenangkan, sayang,” kata Pak Hasan, “Tapi percayalah, kalau cuma begini terus aku tidak akan cepat mencapai klimaks.”

Lidya mulai merasa pening. Dia benar-benar sangat stress. Pandangan matanya terus beralih dan berputar, cukup lama dia menatap penis Pak Hasan yang besarnya luar biasa itu. Mertuanya itu benar, kalau hanya begini saja pasti akan memakan waktu yang sangat lama.

“Dasar!” teriak Lidya kalut, dengan serta merta dia melepaskan pegangan pada kontol Pak Hasan dan menarik celana pendek sang mertua sampai ke bawah. Kontol besar milik mertuanya itu bergelantungan di depan wajah Lidya

Lidya menarik nafas panjang karena lagi-lagi harus melakukan hal yang tidak begitu disukainya. Seandainya ini Andi, Lidya akan melakukannya dengan sukarela dan penuh rasa cinta, tapi kontol di depan wajahnya ini justru milik ayah dari Andi, mertuanya sendiri.

Lidya menarik batang penis Pak Hasan yang menegang dan berukuran besar. Si cantik itu sempat melirik ke arah mertuanya yang tersenyum meringis dengan wajah menghina. Lalu sambil mencoba menahan nafas agar tidak tersedak, kepala Lidya maju ke depan dan mulutnya membuka. Perlahan lidahnya yang mungil mulai menjilat ujung gundul kepala penis Pak Hasan. Gerakan Lidya makin lama makin cepat, dia berusaha menelusuri setiap jengkal penis Pak Hasan dengan lidahnya itu. Pak Hasan mendesah penuh kenikmatan.

Lidya menggelengkan kepalanya dengan jengkel karena penis Pak Hasan tidak segera mencapai klimaks walaupun dia sudah berusaha keras. Panik mulai merasuk ke dalam diri Lidya

“Memang enak dijilati seperti itu, sayang,” kata Pak Hasan, “tapi aku tidak akan mengeluarkan sperma dan mencapai kepuasan maksimal hanya dengan cara seperti itu. Bersiap-siaplah. Sebentar lagi Andi akan segera pulang…”

“Ahhhhhhhh!” Lidya menjerit keras-keras karena panik dan bingung.

Setelah berpikir keras dan tak kunjung mendapat solusi, akhirnya Lidya menyerah. Tubuh indah wanita cantik itu pasrah dalam mendekap sang mertua yang bejat. Pak Hasan makin bergairah saat merasakan gesekan buah dada Lidya pada tubuhnya, baru kali inilah Lidya mau memeluknya. Menantunya yang cantik itu kini sedang meletakkan penis Pak Hasan tepat di pintu masuk surgawinya. Dengan jemarinya yang lentik, Lidya memasang penis sang mertua tepat di bawah lubang memeknya.

“Nah, gitu dong! Dari tadi kek!”, Pak Hasan terkekeh-kekeh dan menyandarkan tubuhnya ke belakang dengan santai.

Lidya sempat ragu-ragu ketika dia mulai merasakan ujung kepala kontol mertuanya mengelus bibir vaginanya dengan lembut, tapi perasaan ragu itu hilang karena Lidya kemudian teringat apa yang akan terjadi seandainya dia tidak segera melayani Pak Hasan. Setelah menarik nafas panjang dan memejamkan mata menahan sakit, Lidya menurunkan badannya dan merasakan batang kemaluan sang mertua perlahan memasuki lubang vaginanya.

Kedua orang yang tengah bersenggama itu melenguh bersamaan. Mereka mendesahkan gairah dengan alasan yang berbeda. Lidya mendesahkan rasa gelisahnya karena telah melayani seorang pria yang bukan suaminya. Wanita itu merasa bersalah dan tidak berdaya karena diharuskan melayani ayah mertuanya sampai dia bisa orgasme dan ini semua berlangsung karena paksaan mertuanya yang bejat itu. Lenguhan panjang Pak Hasan adalah lenguhan kepuasan. Kebalikan dari apa yang dirasakan oleh Lidya, Pak Hasan merasa sangat puas bisa menyetubuhi menantunya yang memiliki tubuh luar biasa seksi itu. Semua paksaan dan intimidasi yang dilakukannya pada Lidya akhirnya berbuah juga, Lidya akhirnya mau melayaninya. sebenarnya Lidya tidak ingin ini semua terjadi karena Pak Hasan yang menyuruhnya melakukannya. Pria tua bejat itu amat menyukai kekuatan, dia bangga bisa membuat seseorang melakukan hal-hal yang di luar kebiasaannya, melakukan suatu hal yang biasanya tidak pernah atau tidak mungkin akan mereka lakukan dalam kondisi normal.

Lidya meremas pundak Pak Hasan karena rasa nikmat yang dia alami sudah di ambang batas. Wanita jelita itu bisa merasakan rasa hangat yang melanda seluruh tubuhnya. Cengkraman Lidya di pundak sang mertua membuat tubuh indah Lidya bergerak naik turun dengan kecepatan tinggi mengendarai penis Pak Hasan. Tidak pernah terbayangkan dalam benak Lidya dia akan bersetubuh dengan Pak Hasan, apalagi harus memberikan pelayanan ekstra.

Pak Hasan makin menikmati permainan kali ini. Sudah dua kali dia bersetubuh dengan menantunya yang bohay itu, tapi baru kali ini Lidya sendiri yang mau melayaninya tanpa harus diperkosa. Pak Hasan menyandarkan tubuh ke belakang dan memejamkan mata menikmati detik demi detik saat memek Lidya naik turun dengan cepat mengendarai batang penisnya yang berdiri tegak menjulang ke atas. Batang kemaluan Pak Hasan mulai basah oleh cairan cinta Lidya. Buah dada Lidya yang indah mental ke atas dan ke bawah seiring gerakan tubuhnya. Keringat yang mengucur deras membasahi tiap inci bagian tubuh Lidya termasuk di puting susunya yang menegang ke depan.

Lidya berusaha mengenyahkan semua pikiran erotis dan nafsu birahi yang melanda seluruh badannya. Namun sebuah perasaan aneh membuatnya terangsang secara perlahan. Perasaan itu adalah wujud ketidakmampuannya untuk mengendalikan situasi, Lidya yang biasanya ceria dan enerjik itu kini berada dalam kendali seorang pria yang seharusnya menjadi figur ayah, bukannya malah melesakkan penisnya dalam-dalam ke tubuhnya. Tiap kali penis Pak Hasan melesak masuk dan menghantam dinding vaginanya dengan penuh kekuatan, Lidya mengeluarkan desahan demi desahan menyuarakan kenikmatan, tapi Lidya tidak akan mau mengakuinya.

Lidya berusaha keras membuat pria tua ini segera mencapai klimaks. Dia menggunakan seluruh kekuatan dan kecepatannya. Lidya bahkan mencoba melakukan gerakan-gerakan erotis yang selama mungkin bahkan belum pernah dia praktekkan pada suaminya sendiri. Wanita cantik itu sesekali memutar pinggulnya, membuat gerakan melingkar tiap kali bibir memeknya sudah menyentuh ujung batang penis Pak Hasan.

“Bagus sekali, nduk!” pria tua itu tertawa puas. “Begitu baru enak! Kenapa nggak dari tadi? Ayo teruskan! Teruskan!”

Lidya tidak akan sudi menjawab kata-kata sang mertua. Dia melanjutkan gerakan naik turun mengendarai batang kemaluan Pak Hasan dengan kecepatan yang makin meningkat. Makin lama makin cepat. Lidya menghantamkan pantatnya ke arah paha Pak Hasan yang gemuk, mengocok penis keriput sang mertua dengan memeknya dan berusaha keras membuat pria tua bejat itu mencapai titik akhir permainan cinta mereka.

Makin lama Lidya makin berani mengangkat pantatnya lebih tinggi dan menghantamkannya ke bawah dengan kekuatan penuh dan kecepatan tinggi. Lubang vagina Lidya yang sudah basah oleh cairan cinta menelan seluruh batang kemaluan gemuk milik Pak Hasan. Lidya meneriakkan jeritan kekecewaan dan rasa panik, tapi bagi Pak Hasan, teriakan itu terdengar seperti kenikmatan yang makin memuncak.

Lidya melakukannya berulang-ulang kali, ia mengendarai batang kemaluan mertuanya dengan kecepatan tinggi seperti kesetanan. Lidya menghantamkan memeknya ke bawah sampai ke batas pangkal kemaluan Pak Hasan dengan keras. Naik turun naik turun. Berulang-ulang.

Pak Hasan serasa berada di nirwana. Pria tua itu menjerit dan melenguh dengan puas, dia sangat menikmati setiap detik saat memek menantunya yang cantik meremas penisnya yang besar dan menyukai tiap kali bibir memek Lidya mengatup dan menjepit batangnya saat tubuh indah Lidya naik turun dengan cepat. Sungguh sangat nikmat.

“Hampir!!” teriak Pak Hasan.

“Cepaaat! Cepaaaaat!!” jerit Lidya panik. Lidya memperkirakan sang mertua akan segera mengeluarkan air maninya. Seluruh desah dan tangisannya adalah karena paksaan Pak Hasan, tapi entah kenapa Lidya tidak yakin lagi. Dia tidak yakin apakah dia sudah berhasil membuat mertuanya itu mencapai klimaks, atau malah dirinya sendiri yang keenakan dan mendapatkan kepuasan batin.

Lidya masih bergetar dan tidak mampu mengembalikan kesadarannya dengan sempurna. Penis Pak Hasan masih terus berdenyut dan bergerak maju mundur tanpa terhenti di liang cintanya. Campuran antara kenikmatan dan rasa bersalah membuat Lidya tidak mampu melakukan apa-apa, seluruh tubuhnya lemas.

Cairan bening mengalir melalui sela-sela memek Lidya yang kini tersumpal oleh batang penis mertuanya sendiri. Lidya tidak peduli apakah dia sudah mencapai orgasmenya atau belum. Dia tidak peduli seandainya cairan cintanya meleleh, kalaupun benar dia sudah klimaks, istri Andi itu tidak ingin mengetahuinya. Lidya hanya punya satu keinginan saat ini dan itu adalah membuat Pak Hasan orgasme. Tubuh indah wanita muda itu terus bergerak naik turun, membiarkan penis sang mertua merajai liang cinta yang seharusnya hanya diserahkan pada sang suami.

Bibir memek Lidya menjepit kontol Pak Hasan lebih erat lagi dan sang mertua melenguh keenakan, mertua bejat itu kembali melesakkan satu sentakan keras ke dalam vagina Lidya. Gerakan tubuh Lidya yang turun ke bawah disambut oleh gerakan pinggul sang mertua yang mendorong batang kemaluannya ke atas. Sekali lagi Pak Hasan melenguh puas sebelum akhirnya menembakkan spermanya ke dalam vagina sang menantu.

“Akhirnyaa… keluaaar…” desah Lidya lemas. Seluruh tubuh wanita jelita itu basah oleh keringat dan dia juga terengah-engah kelelahan. Lidya hampir-hampir tidak bisa bernafas.

Terdengar bunyi bel berdentang.

Pak Hasan tersenyum mesra menatap menantunya yang ketakutan mendengar bel itu. Mertua bejat itu mencium bibir Lidya dan menampar pipi pantatnya dengan lembut. “Itu, anakku sudah pulang.” Kata pria tua itu. “Sana kau sambut suamimu, Nduk.”

Lidya segera bergegas melepaskan diri dari pelukan Pak Hasan. Dia buru-buru mengenakan pakaiannya dan berlari ke bawah menuju pintu depan.

Titin , gadis sunda

Pertengahan bulan April yang lalu, kami mendapatkan seorang pembantu baru bernama Titin, seorang gadis Sunda berumur 15 tahun, berwajah bulat dan manis dan sangat kekanak-kanakan, rambut sebahu dan berkulit putih, bertubuh mungil, sangat seksi dengan kedua buah dada yang ranum untuk gadis seusianya. Ia bercerita kalau dia terdampar ke Jakarta karena melarikan diri dari rumahnya di kampung saat hendak dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki tua yang telah beristeri, sedangkan saat itu ia sudah menjalin hubungan serius dengan pacarnya. Oleh salah satu kenalannya dari kampung, yang empunya yayasan penyalur tenaga kerja ia ditampung sebagai tenaga kerja pembantu.

Dalam minggu pertama kehadirannya di rumah kami, Titin bekerja dengan rajin, tetapi karena umurnya yang masih muda, ia masih sangat bersifat kekanakan dan manja. Titin senang berpakaian baju kaos terusan model daster, sehingga tubuhnya yang mungil dan padat tercetak dengan jelas pada pakaiannya itu.

Aku sangat bernafsu sekali melihat Titin dalam keadaan seperti itu, terutama bila ia mencuci pakaian, dan kaos yang dipakainya tersiram air sehingga basah. Penisku langsung menegang dengan keras, ingin rasanya langsung memeluk dan meremas-remas tubuhnya yang bagus itu. Sesekali aku dengan halus berusaha menyenggol pinggulnya atau payudaranya bila berpapasan seakan-akan tidak sengaja, Titin biasanya diam dan senyum-senyum saja. Aku terus berusaha mencari akal untuk bagaimana caranya bisa menikmati dan menggeluti tubuh Titin yang ranum itu. Sampai satu hari, aku menemukan persediaan obat-obatan di lemari dan di situ terdapat sejumlah obat tidur.
Aku melirik ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Aku melirik lagi ke arah istriku, yang terbaring dengan nyenyak di sisiku. Ia telah tertidur sekitar setengah jam yang lalu, dan aku memang menunggu saat ini untuk meyakinkan bahwa tidurnya benar-benar nyenyak.

Saat aku telah yakin benar bahwa isteriku telah tidur nyenyak, karena aku tahu persis kalau ia sudah tidur, akan sangat susah sekali untuk membangunkannya, apalagi ditambah minum susu kocok yang dibubuhi obat tidur. Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Aku mengambil sehelai handuk kecil serta membasahinya dengan air hangat serta kemudian keluar dari situ dengan tidak lupa mengambil handuk, tidak lupa sayapun membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.

Aku berjalan langsung ke kamar Titin, tempat di mana ia tidur dan saat ini ia tidur dengan pulas sekali, aku tahu demikian karena iapun meminum segelas susu kocok bercampur obat tidur sebagaimana isteriku. Pelan-pelan aku membuka pintu kamarnya dan setelah mataku terbiasa dengan cahaya kamar Titin, aku dapat melihat badannya yang terbaring di dipan. Titin tidur tanpa mengenakan pakaiannya, mungkin karena kamar yang agak panas, ia hanya mengenakan celana dalamnya saja. Payudaranya yang montok tampak menyembul dengan indahnya, dengan puting yang mencuat kecil kemerah-merahan. Rambutnya tergerai dan dibalik celana dalamnya yang tipis terbayang rambut-rambut vaginanya yang tipis. Aku berdiri memperhatikannya, bibirnya yang manis mengeluarkan napas dalam tidurnya yang nyenyak. Benar-benar gadis 15 tahun yang menggairahkan. Aku menaruh handuk kecil dan handuk besar di kaki tempat tidur, kemudian aku menyentuh pipinya, Titin tidak bereaksi sedikitpun terhadap sentuhan itu, aku mengulum bibirnya serta meremas dengan pelan kedua buah payudaranya bergantian. Ooh, kulitnya halus sekali, sungguh nikmat meremas payudara Titin ini. Aku mengangkat badannya dan mendekatkan kepada pinggiran tempat tidur, sehingga kakinya tergantung pada pinggir tempat tidur tersebut. Celana dalamnya kulepaskan perlahan.

Titin bergerak untuk berbalik, tetapi aku menahannya pada pinggulnya yang bulat. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya yang mulus dan mencium vaginanya yang kecil, ooh.., nikmat sekali. Sesekali kusapukan lidahku pada clitorisnya, kemudian clitorisnya kukulum-kulum dengan bibir dan memainkan lidahku untuk menjilat-jilatnya, pinggul Titin bergelinjang dan kakinya secara refleks menjepit kepalaku. Pelan-pelan aku mengangkat kedua belah kakinya sehingga kedua kaki Titin terlipat dan kedua lututnya menempel pada payudaranya yang ranum dan kedua telapaknya bertumpu pada pantatnya yang bulat. Dengan perlahan aku mulai menindih Titin dan menahan agar ia jangan bergerak sehingga posisinya berubah. Penisku yang sudah sangat tegang langsung kuarahkan ke vagina kecilnya yang sudah menanti. Benar-benar gerakan yang susah sekali mengingat Titin tetap tertidur dan tidak memberikan gerakan bantuan kepadaku.

Aku menekan ujung penis yang sudah benar-benar keras ke arah kedua belah bibir vagina Titin dan menggosok-gosokan terus berulang-ulang sehingga cairan mulai membasahi vaginanya. Aku mengisap-isap payudaranya yang ranum dan tetap menggosok-gosokan ujung penisku ke vaginanya untuk mempersiapkan vagina Titin menyambut penisku yang besar ini. Aku menekan penisku pelan-pelan sehingga sepertiga dari penisku mulai amblas ke dalam vagina Titin yang sempit. Aku berhenti sebentar untuk merasakan kehangatan, licinnya cairan dan cengkeraman liang vagina Titin pada penisku nikmat sekali. Aku menekan terus ke dalam liang vaginanya.., aduuh.., hangatnya.., nikmat.
Setelah penisku masuk setengahnya ke dalam vagina Titin, baru kusadari bahwa vagina Titin ini sangat sempit sekali. sungguh ketat otot-otot vaginanya mencengkeram penisku, aku menekan lagi dengan keras sampai penisku terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Titin sambil menahan nikmat yang dihasilkan oleh vaginanya yang mulai berdenyut-denyut meremas penisku. Aku benar-benar tidak dapat menahan kenikmatan yang begitu nikmat akibat denyutan dan remasan vagina Titin ini, aku langsung menarik penisku dengan cepat sehingga tinggal kepala penisku saja di dalam vaginanya kemudian secara cepat dan keras kubenamkan lagi, begitu berulang-ulang secara perlahan-lahan, aku merasakan bahwa otot-otot vagina Titin mengejang dan memberi cengkreaman yang keras kepada penisku yang besar. Setelah beberapa saat aku diam untuk menikmati kenikmatan vagina ini, aku mulai lagi untuk menarik dan menggenjot masuk penisku, kuulangi lagi gerakan ini berulang-ulang, masuk.., keluar.., tarik.., tekan.., tarik.., tekan dalam-dalam. Aku benar-benar bernafsu sekali kepada Titin, apalagi saat aku menekan dan menarik, kedua payudaranya berayun-ayun bagai mengikuti irama gerakanku.
Aku merasa bahwa aku sudah mau sampai puncak orgasme, biarpun aku mau keadaan ini tetap berlangsung terus, tetapi aku harus cepat-cepat mengakhiri ini kalau tidak mau tertangkap basah, biarpun Titin dan isteriku sudah terkena pengaruh obat tidur. Bahaya ketahuan tetaplah bahaya yang besar bagiku.

Akhirnya, aku merangkul badannya yang mungil melewati kedua belah kakinya yang terlipat, aku pertemukan kedua tanganku di belakang punggung Titin dan memeluknya erat sekali ke badanku, kemudian aku memutar pinggulku sambil tetap menekan ke arah vaginanya sehingga aku bisa menanamkan penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Titin sampai penisku terasa menyentuh liang peranakannya. Aku benar-benar tidak pernah merasakan hal seperti ini, mungkin hal ini terjadi karena perbedaan ukuran tubuh dan penisku yang besar dibanding tubuh Titin yang begitu mungil. Aku menekan terus, kemudian menarik penisku lagi dan menekan lagi dengan keras dan cepat, sehingga terasa tubuhnya bagaikan orang yang menggigil dan cengkeraman vaginanya terasa semakin memuntir batang penisku, benar-benar nikmat dan nikmat sekali, Tanpa terasa aku menggigit payudaranya yang kanan dengan gigiku. Saat aku menekan batang penisku dalam-dalam ke liang vaginanya, sampailah aku kepuncak kenikmatan bersetubuh, penisku mengeluarkan cairan mani yang menyemprot masuk ke dalam liang vagina Titin dalam-dalam. Aku tetap menekan terus dan tidak melepaskan batang penisku dari dalam vaginanya sampai aku tidak merasakan lagi denyutan-denyutan yang mencengkram. Begitu aku mencabut batang penisku, aku langsung menggosok-gosokan ke bibir vaginanya yang kecil itu sebelum aku mengambil handuk basah untuk mengelapnya.

Aku langsung membersihkan badan Titin dengan handuk lembab untuk menghapus segala tanda-tanda persetubuhan yang terjadi dan memakaikan celana dalamnya lagi serta mengatur tubuhnya dengan rapi di tempat tidur. Tanpa membersihkan diri lagi langsung saja aku menaruh handuk-handuk tersebut ke tempat cucian dan kemudian kembali ke kamarku.
Esok pagi, aku bangun agak terlambat, isteriku sudah pergi ke kantor duluan, saat aku ke belakang menuju kamar mandi, tampak Titin sedang duduk termanggu-manggu melamun di atas sebuah bangku kecil di tempat cucian.
“Ada apa, Tin.., kok pagi-pagi ngelamun siih”, sapaku.
“Aakh.., nggak.., anu Pak..”, jawabnya.
“Anu.., apanya”, kataku lagi.

“Itu.., tadi malem Titin mimpi.., kok.., aneeh bener”, jawabnya senyum-senyum.
Waktu melewati Titin, aku menengok ke arah belahan payudaranya yang terlihat dari sela-sela daster kaosnya, tampak sekilas di atas payudaranya yang sebelah kanan bekas gigitan yang memerah.., Waahh.

Kecanduan dipijat, enak si soalnya

Terus terang aku bukanlah seorang perempuan yang bertampang buruk. Setidaknya itu menurut suamiku. Aku tak perlu menyebutkan seperti apa kelebihanku secara fisik karena menurutku itu kurang patut. Cukuplah bagiku, pendapat dari suamiku sendiri ketika dia senantiasa mengingatkanku untuk selalu menjaga diri dan kehormatanku sewaktu bekerja. Menurutnya, aku sangat cantik, bahkan setelah menginjak tahun ke-2 perkimpoian kami, di usiaku yang menapaki 29 tahun, kata suamiku aku sama sekali tak berubah secara fisik, mungkin ini karena aku belum dikasih momongan sehingga badanku tidak berubah sebagaimana sebelum menikah.
Dan akupun, tak bermaksud ge-er atau memuji-muji diri. Di kantorku, maupun di lingkunganku bekerja, tidak sedikit lelaki tampan dan berkedudukan yang menaruh hati padaku, baik itu rekan sekerja, atasan, maupun rekanan-rekanan perusahaan tempatku bekerja. Ajakan makan siang bersama dari rekanan perusahaan, nonton bareng, ngobrol lewat telepon yang bernada ngeres, dan ajakan kencan buta, sudah bukan hal yang asing lagi bagiku. Tapi semua itu tak pernah menggoyahkan hatiku. Aku selalu bisa menghindarinya dengan halus dan sopan. Karena aku selalu beranggapan bahwa kesetiaan sebagai seorang istri adalah segala-galanya bagiku. Aku sudah merasa cukup bahagia dalam perkimpoianku, aku tak perlu neko-neko lagi untuk kesenangan-kesenangan sesaat, dan aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan merusak ketentraman rumah tangga yang telah kubina cukup lama.

Setidaknya itulah pandanganku mengenai kesetiaan dan kebahagiaan dalam mengarungi bahtera rumah tangga, sampai pada suatu titik dimana aku ternyata tidak mampu mempertahankan prinsipku dikarenakan oleh suatu sebab yang sebenarnya sangat sepele dan sangat tidak bermartabat?.

##########################

Pada suatu hari aku berkesempatan mengunjungi orangtuaku yang sebenarnya masih satu kota denganku. Aku datang ke sana sendirian karena suamiku harus mengurusi pekerjaannya ke luar kota. Sebenarnya walaupun tinggal di satu kota, aku tergolong jarang bertandang ke rumah orangtuaku karena kesibukanku. Rata-rata aku hanya berkunjung sebulan sekali. Entah mengapa saat itu di rumah orangtuaku terlihat sepi, tak terlihat tamu-tamu yang biasanya menjadikan rumah orangtuaku sebagai pangkalan pertemuan, maklumlah orangtuaku adalah salah satu sesepuh partai besar di negeri ini. Jadi agak terasa janggal melihat suasana rumah begitu sepi, karena biasanya tamu-tamu ayahku selalu datang silih berganti seperti tak mengenal waktu.

Saat itu di rumah hanya ada ayah-ibuku, Mbak Erni kakak kandungku, dan Pak Siraj yang menjadi tukang pijat ayahku sekaligus penasehat spiritual ayahku sejak aku SMA dulu. Aku pun nimbrung dan ngobrol-ngobrol dengan mereka semua. Sesekali kulihat ayahku yang meringis kesakitan karena telapak kakinya di-refleksi oleh P. Siraj.

Ayahku sudah cukup lama mengidap diabet, bahkan sering keluar-masuk rumah sakit kalau gula darahnya melonjak di atas normal, tidak jarang pula ayahku harus menjalani terapi insulin karena pankreasnya sudah kurang berfungsi. Tetapi entah kenapa dia masih tak percaya dengan pengobatan medis dan lebih memilih pengobatan alternatif. Untuk satu hal itu dia mempercayakan ke P. Siraj yang setahuku sudah jadi langganan keluargaku sejak lama sekali. Adapun P. Siraj sendiri setahuku hanyalah tukang pijit biasa yang tak punya kelebihan supranatural seperti yang sering dibicarakan keluargaku. Umurnya sekitar 67-an, kulit gelap, kurus tinggi. Penampilan khasnya yang sejak dulu tak pernah berubah adalah dia selalu berbaju safari pemberian ayah, berpeci hitam, bersarung gelap yang sudah pudar warnanya, dan selalu berkacamata tebal. Sejauh aku mengenalnya, aku tak pernah bicara dengannya walaupun sudah kenal lama. Hanya saja pada pertemuan kali ini, aku bisa melihat sesekali ia mencuri-curi pandang ke arahku. Sambil memijat telapak kaki ayahku, mulutnya tak henti mengisap rokok kretek yang menebarkan bau khas tembako yang terbakar. Sering kali aku pergoki sudut matanya menatap ke arahku dengan pandangan yang sulit kutebak maknanya. Aku selalu memalingkan muka, berpura-pura tak tahu kalau sedang menatapku, dan aku juga tak merasa perlu berbasa-basi dengannya karena kurasa memang kurang perlu.

Di tengah keasyikan aku berbincang ngobrol-ngobrol dengan ayah-ibuku dan Mbak Erni, tiba-tiba Ibuku menawari aku untuk diterapi / dipijat P. Siraj. Katanya, dia dan Mbak Erni juga baru saja selesai dipijat.
"Coba kamu dipijat Wi, biar kamu tahu apa penyakitmu. Siapa tahu P. Siraj bisa bantu kamu mengetahui masalah kandunganmu.."

Aku cuma tersenyum sambil menggelengkan kepalaku. "Engga perlu Bu, aku ga ada masalah kok," tolakku dengan halus. "Lagian aku ke sini cuma sebentar, rumah lagi kosong, ngga enak ditinggal lama-lama." Aku mencoba memperhalus penolakanku. Tapi alasanku ditimpali rajukan Mbak Erni, "Ayolah Wi, nggak ada salahnya kan kamu coba, siapa tahu ada gangguan yang lain.." cerocos Mbak Erni mencoba membujukku. Aku tetap menggeleng. Aku memang enggan pijat, apalagi dipijat oleh laki-laki. Untuk menghindari bujukan mereka aku segera berdiri dan pamitan. Tapi di luar dugaanku, ayahku menyela, "Wi, kamu sekarang pijat dululah. Siapa tahu ada yang salah dengan kesehatanmu. Bapak sudah merasakan khasiatnya kok. Buktinya sekarang gula darah Bapak ngga pernah naik-naik lagi," kata ayahku mencoba meyakinkan. Akhirnya dengan perasaan segan aku pun menyetujui permintaan ayahku karena sedari dulu aku memang paling segan menolak kalau ayahku sudah meminta, sementara secara sepintas aku melihat P. Siraj hanya tenang-tenang saja mendengarkan perdebatan kami, mungkin dia merasa tak enak juga kalau aku bersedia dipijat karena dipaksa.

"Di kamar Ibu saja, Wi," saran Ibuku. Mbak Erni mendukung saran Ibuku. " Iya Wi, tadi tempatnya sudah kurapikan lagi kok." Mau tak mau dengan perasaan enggan aku pun masuk ke kamar ibuku yang tempatnya tak jauh dari ruang tamu, sementara P. Siraj membuntuti langkahku dari belakang.

Sesampai di dalam kamar ibuku, aku membiarkan pintu tetap terbuka sementara aku langsung tengkurap di ranjang. Tetapi di luar dugaan P. Siraj menyuruhku berganti baju dulu.

"Maaf Jeng, saran saya, sebaiknya Jeng Dewi pake sarung atau kain saja, supaya mudah memijatnya," katanya.

Puh! Tentu saja aku keberatan, berarti aku bakalan setengah telanjang dong di depan dia. Wajahku yang mendadak berubah kesal langsung tertangkap mata lelaki tua itu. Tetapi tampaknya dia memahami keenggananku. Dengan sopan dia mencoba memberi pengertian yang sebenarnya aku sudah tahu. "Jeng Dewi, sampeyan mungkin sudah tahu kalau busana yang ketat memang kurang baik untuk kesehatan, apalagi celana semacam itu," katanya sambil memandang celana jins ketatku. "Kalau saya pijat seperti itu, nanti hasilnya malah kurang baik, soalnya mengganggu peredaran darah," katanya memberi alasan. Lagi-lagi aku terpaksa kehabisan akal untuk menolak bujukan orang tua ini. Aku terpaksa bergegas membuka-buka lemari ibuku, mencari-cari kain atau sarung. Setelah aku temukan kain sarung ibuku yang masih belum sempat terpakai, aku segera membawanya ke dalam kamar mandi yang menyatu dengan kamar tidur orang-tuaku. Terpaksalah aku tanggalkan kaus oblongku, celana jins ketatku, tinggallah bh dan celana dalamku yang keduanya berwarna krem. Aku segera memakai sarung untuk kujadikan kemben. Dan mungkin agak terlalu pendek karena sarung yang kupakai hanya menutupi bagian dadaku sampai sedikit di atas pahaku. Namun sebelum keluar dari kamar mandi entah kenapa aku tergerak untuk berkaca di depan cermin besar yang ada di dalam kamar mandi itu. Aku terhenyak. Entah mengapa, tiba-tiba aku merinding memandangi pantulan tubuhku sendiri yang masih nampak sangat sempurna. Apakah cermin ini yang salah??? Mendadak hatiku dipenuhi perasaan aneh yang tak pernah kualami sebelumnya. Suatu perasaan yang sangtat sukar kulukiskan dengan kata-kata? Aku terpesona dengan kesempuranaan tubuhku sendiri? aku merasa sangat sexy dengan penutup kemben ini. Tetapi aku berusaha menepis perasaan aneh yang tiba-tiba menjalar ini, dan aku tak ingin berlama-lama di dalam kamar mandi hanya untuk mengagumi diri sendiri.

Sesaat aku merasa ragu-ragu untuk keluar dari kamar mandi dengan busana seperti ini. Karena sejujurnya aku merasa malu kalau harus tampil dengan busana minim ini di depan orang lain selain suamiku. Tetapi serasa ada dorongan yang demikian kuat yang mengalahkan perasaan maluku, sehingga akhirnya aku hanya bisa menyerah pada keberanian dan keinginantahuan aneh yang tiba-tiba menyeruak dari dalam hatiku.

Dan benar saja dugaanku. Sekeluarku dari kamar mandi, sekalipun dengan gerakan yang beringsut menutupi "keterbukaanku", aku melihat P. Siraj memandangiku dengan ternganga? matanya seakan melompat? dan jakunnya bergerak-gerak seakan-akan menelan ludahnya sendiri. Aduh? betapa malunya aku dipandangi orang tua ini. Walaupun hanya sesaat, aku bisa merasakan ketakjuban luar biasa dari orang tua ini? dan anehnya, ini di luar kebiasaanku, aku merasa tersanjung dan senang menerima kekaguman dari lelaki lain yang sesungguhnya hanya pantas menjadi kakek buyutku.

Sesaat aku menyadari bahwa pintu kamar ibuku telah ditutup sehingga tak bisa nampak dari luar, dan AC pendingin ruangan juga telah dinyalakan. Begitu beraninya orang tua ini melakukan sesuatu di rumah orang lain tanpa meminta ijin dari sang empunya rumah?

"Silahkan tengkurap, Jeng!" instruksi P. Siraj membuyarkan lamunanku. Dengan perasaan berdebar-debar yang tak kumengerti aku segera tengkurap di ranjang ibuku dengan tetap merapatkan kain kembenku. Aduh? mengapa hatiku jadi dag? dig?dug tak keruan begini? Belum lagi pertanyaan hatiku terjawab, aku tiba-tiba merasakan ranjang pegas ibuku bergoyang ditimpa beban tubuh P. Siraj di sampingku. Dia mengambil posisiku di sebelah kiri betisku dan mulai memegang telapak kakiku. Dan lagi-lagi aku merasakan debaran di dadaku bertambah kencang saja.

Aku merasa telapak kakiku sebelah kiri di angkatnya dan ditumpangkan ke atas kedua pahanya. Secara refleks aku berusaha merapatkan kedua pahaku agar dia tak bisa mencuri-curi pandang sela-sela pahaku. Dia membalurkan minyak yang berbau rempah di atas telapak kakiku, mungkin semacam minyak tawon yang biasa aku pakai kerokan kalau lagi masuk angin. Aku merasakan suatu tekanan yang lembut namun kuat di permukaan telapak kakiku. Sungguh aneh, aku sama sekali tak merasakan sakit atau ngilu. Sebaliknya perasaan nyaman seperti mulai menyelimuti diriku. Jika sebelumnya aku merasakan ketegangan dan perasaan malu yang teramat sangat karena harus berbusana minim di depan kakek tua ini, kini rasa tegang dan malu itu berangsur-angsur sirna. Sesekali jari-jari kakiku diurutnya juga, dan entah mengapa pijatannya seperti mengalirkan perasaan rileks pada diriku.

Sekalipun begitu aku tak berusaha menunjukkan kerelaanku ketika di"sentuh" olehnya. Aku hanya membenamkan wajahku di atas bantal karena rasa malu dan gengsi sesekali masih menyeruak dalam diriku. Ruangan dalam kamar ibuku serasa sunyi, hanya terdengar keriut pegas ranjang yang bergoyang karena gerakan tubuh P. Siraj yang sesekali mengubah posisi, kadang di sebelah kananku, lalu kembali lagi ke sebelah kiri. Hampir lima menit berlalu kami berdua tak mengucapkan kata-kata basa-basi sepatah pun. Sampai suatu ketika aku mendengar suara serak dan berat dari P. Siraj memecah kekakuan ini.

"Jeng Dewi sering kena sakit lambung?" tanya P. Siraj sambil tetap mengurut-urut telapak kakiku, kali ini yang sebelah kanan, jemarinya ditekan dalam-dalam seperti mendeteksi masalah kesehatanku. Aku hanya bisa menggerakkan kepalaku ke atas-ke bawah, membenarkan diagnosisnya. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati, mengapa tebakannya bisa tepat sekali ?

"Ini ada kaitannya dengan masalah kandungan Jeng Dewi," katanya lagi. "Kenapa tidak dulu-dulu Jeng Sari periksa ke saya?"

Aku hanya diam tak menjawab. Wajahku semakin kubenamkan ke dalam bantal karena entah mengapa aku menduga P. Siraj pasti sedang memandangi bagian belakang tubuhku yang tertutup kain sarung.

Tiba-tiba tanpa permisi P. Siraj menyentuh bagian tumitku, mata kaki, betis sebelah dalam, lipatan lutut, dari kedua kakiku. Dan yang membuat aku terhenyak, dia juga menekan area perbatasan paha dan pantatku sembari berkata, "Titik-titik ini yang bermasalah dan harus segera diterapi, Jeng."
Terus terang, sekalipun P. Siraj sudah menjelaskan seperti itu aku merasa tidak terima dengan perlakuannya yang tanpa permisi dulu itu. Tetapi alih-alih aku memprotes kelakuannya itu? yang keluar dari mulutku justru? "Sakit engga ya Pak kalau diterapi di situ?"
"Ya tergantung seberapa gangguannya. Moga-moga belum parah, Jeng, supaya lekas pulihnya, tapi tidak bisa diterapi satu kali terus langsung sembuh lho.."
Aku diam saja tak berusaha menanggapi.

Giliran kedua betisku sekarang dilumuri minyak urut, lalu diratakannya dengan mengusap-agar merata hingga aku merasakan licin sekali. Kemudian diurutnya dengan tekanan yang lembut, dari arah bawah dekat mata kaki ke atas sampai lipatan lututku. Entah mengapa aku tak merasa sakit sama sekali, sebaliknya justru aku merasa enak bercampur geli sehingga beberapa kali secara refleks aku menggelinjang menahan geli. Akibatnya kain sarungku malah tertarik ke atas akibat gerakanku. Aku berusaha membetulkannya tapi tanganku tak sampai. Aku berusaha menggapai kain sarungku agar kembali ke tempatnya semula, tetapi gerakanku yang agak tegang itu malah membuat kain sarungku makin terangkat lebih tinggi, hingga akhirnya aku terpaksa menyerah, kuputuskan untuk membiarkan saja. Aku hanya berharap semoga P. Siraj tidak berusaha mengintip lebih jauh. Entah mengapa aku merasa tegang sekali saat itu karena suatu sebab yang tidak aku pahami. Mungkin aku merasa tidak terima karena tubuhku disentuh lelaki selain suamiku, atau malah sebaliknya, aku hanya ingin mengingkari saja. Apalagi tanpa kusadari aku mulai bisa menerima dan merasa nyaman dengan pijatan pak tua ini.

Lambat-laun keteganganku berangsur-angsur sirna manakala P. Siraj semakin intens mengurut kedua betisku, terutama pada area yang tadi dikatakannya sebagai salah satu titik bermasalah. Ditambah lagi minyak urut yang dioleskan ke betisku semakin banyak, jadi makin terasa licin dan enak ketika jemari pak tua yang kasar itu meluncur di atasnya. Keadaan ini membuat aku merasa tak perlu jaga imej lagi, dan aku merasa jauh lebih rileks daripada sebelumnya. Dan silih berganti betisku yang sebelah kanan dan kiri diurutnya secara bergantian. Malahan sesudah itu kedua betisku diurutnya secara bersama-sama dari bawah ke atas dengan polesan minyak urut yang lumayan banyak.

Makin lama aku merasakan pijatan P. Siraj mulai menjalar naik ke lipatan lututku sebelah kanan dan kiri bersamaan. Entah mengapa ketika itu aku merasa geli bukan main, tetapi bukan rasa geli yang membuat orang menggeliat-geliat, sebaliknya malah menerbitkan rasa nyaman yang tak terkira. Tetapi entah mengapa tiba-tiba hatiku gelisah, tiba-tiba saja perasaan aneh yang sempat kurasakan di kamar mandi tadi menyeruak lagi bersamaan dengan pijatan-pijatan lembut yang dilakukan P. Siraj yang terkadang menyentuh paha dalamku. Aku merasa seluruh pori-pori di tubuhku meremang, dan permukaan kulitku makin sensitif karenanya. Pijatan-pijatan P. Siraj lambat-laun seakan menjalarkan sensasi-sensasi aneh dalam tubuhku, sensasi yang membuat tubuhku terkadang menggelinjang tanpa kusadari.
Hatiku semakin kebat-kebit tak keruan manakala pijatan itu mulai naik ke kedua pahaku, terlebih lagi, tanpa permisi P. Siraj menyingkap kain sarungku hingga tepat ke bawah pantatku. Dinginnya AC langsung menerpa kedua pahaku yang sekarang terbuka. Aku mendadak menggigil, bukan karena kedinginan, melainkan aku menyadari bahwa P. Siraj sekarang bisa memandangi seluruh pahaku dengan leluasa. Yang lebih memalukan lagi, mungkin dia juga dapat melihat celana dalamku.

Belum apa-apa badanku tiba-tiba gemetar, padahal P. Siraj baru mengoleskan minyak urut ke permukaan kedua pahaku. Ketika dia meratakannya ke seluruh pahaku tak terkecuali paha bagian dalam, mendadak tubuhku serasa tersengat arus listrik yang membuatku menggeling tanpa kusadari. Entah sengaja atau tidak jemari P. Siraj menyentuh dan menekan pantat dan bagian dalam s*****kanganku, membuat perasaan aneh dalam diriku makin menguat. Aku merasa tubuhku mulai bergejolak. Ya Tuhan? lindungilah aku?

Sesaat terbersit kesadaran bahwa aku harus berhenti? tidak? tidak? hal ini tak boleh terjadi, tak boleh diteruskan. Tetapi sebelum sempat aku menyatakan keinginanku, tiba-tiba kurasakan kedua pahaku sudah mulai diurut secara bersamaan? diurut dari lipatan lutut? bergerak naik? betapa kurasakan tangkupan telapak tangan P. Siraj yang besar lagi kasar itu yang sebelah menekan paha dalamku, dan yang sebelah lagi menekan paha luarku. Dan aku seperti tak berdaya? menanti? menunggu dengan perasaan yang tak menentu. Saat itu yang kurasakan justru tekanan jari-jari P. Siraj yang tergelincir pada paha dalamku semakin kuat..dan terus bergerak naik..perlahan? menyusup ke dalam sarung yang kukenakan dan akhirnya?

Uhh.. aku hanya bisa menggelinjang saat jemari yang kasar itu akhirnya menekan tepat di dalam lipatan pantatku? tepat pada pinggir kewanitaanku yang masih tertutup celana dalam. Tetapi hal itu sudah cukup mengalirkan getaran pada bagian tubuhku yang paling peka. Dan tanpa bisa kutahan-tahan lagi, membersitlah cairan tubuhku, membersit dari dalam kewanitaanku, meleleh membasah kepermukaan celana dalamku. Aduh aku merasa malu sekali. Mengapa bisa seperti ini? Mengapa aku jadi bergejolak hanya karena disentuh oleh lelaki tua yang seharusnya lebih pantas menjadi kakek-buyutku? Tuhan? aku semakin tak berdaya? dan semakin berulang bersitan-bersitan hangat dari dalam kewanitaanku ketika bagian s*****kanganku tersentuh lagi, entah disengaja atau tidak. Aku merasakan geli yang luar biasa sekaligus sensasi yang luar biasa pula. Aku mulai kehilangan pikiran jermihku. Memang, ketika bagian s*****kanganku tersentuh dengan sepenuh tekanan tidaklah mengena langsung pada syarafku yang paling peka. Tetapi ketika jemarinya yang menekan s*****kanganku itu ditarik lagi dengan sepenuh tekanan ke arah bawah, betapa kurasakan bagian tubuhku yang paling peka seakan-akan seperti tertarik pula keluar. Akibatnya sungguh tak kusangka-sangka? aku belum pernah mengalami sensasi secepat dan senyaman ini ketika dengan suamiku? aku merasa jemari bapak tua ini menjalarkan sensasi yang aneh pada kewanitaanku? sekalipun aku mencoba mengingkarinya, aku tetap tak bisa mengelak bahwa saat ini aku telah benar-benar basah? suatu pertanda bahwa aku sudah siap sepenuhnya? Aduh malunya aku?

Aku serasa tak bisa menahan diri lagi ketika sentuhan pada kewanitaanku semakin sering, dan kebasahanku seakan membanjiri permukaan celana dalamku. Aku merasakan pantatku terjingkat-jingkat secara refleks, seakan-akan memberikan keleluasaan kepada pak tua ini untuk menyentuh lebih jauh. Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa jemari P.Siraj sudah tidak hanya berhenti pada batas celana dalamku, tetapi jemari-jemari itu kurasakan tergelincir melewati pembatas celana dalamku?dan langsung menekan permukaan kewanitaanku secara langsung.

Aduh? aku kaget setengah mati, seakan tak percaya pada apa yang baru kualami. Rasa malu yang luar biasa berkelindan dalam hatiku karena pak tua ini mengetahui kebasahanku. Tetapi tak berlangsung lama, jemari itu kurasakan makin liar mengurut dari lututku..ke atas?tergelincir pada paha dalamku? semakin naik menyusup ke balik sarungku?menekan s*****kanganku?. menyelusup dengan lembut batas celana dalamku? dan akhirnya berhenti pada bagian genitalku yang paling peka yang sudah sangat basah?

Tiba-tiba saja, antara percaya dan tidak, aku merasakan suatu kegelian yang hebat mulai menyemut dalam rongga panggulku, membuatku merasa melayang-layang dan cairanku tertumpah semakin banyak? aku merasakan suatu gejolak yang hebat seperti gelombang yang hendak menerjang bendungan pertahananku, aku merasa limbung? dan tak berdaya? sekalipun waktu itu aku mulai menyadari bahwa P. Siraj dengan berani dan tanpa seijinku mulai menarik karet celana dalamku sembari kurasakan jemarinya yang lain masih setia menyusup ke dalam celana dalamku, berkelindan, menekan, merabai kelenjar syarafku yang paling peka?

Uhh.. dengan tanganku aku berusaha menahan agar celana dalamku tak lepas dari tubuhku, sekalipun sensasi-sensasi yang tak keruan makin menguat memporakporandakan pertahanku? karena jemari-jemari yang nakal itu masih saja mencecar kewanitaanku silih berganti. Sampai tiba-tiba aku merasa tak sanggup lagi bertahan karena perasaanku serasa sudah mulai melayang-layang, kesadaranku mulai nanar, pandanganku kabur, sedangkan rongga dalam kewanitaanku mulai berkedut-kedut makin kuat?

Dan ketika kurasakan celana dalamku semakin melorot menjauhi pantatku?
Uhhh? tiba-tiba aku merasakan hantaman gelombang kenikmatan yang susah kulukiskan yang bersumber dari kelanjar syarafku yang paling peka? gelombang itu serasa meledak begitu saja menerjang bendungan pertahanku? membuat tubuhku bergetar dan menggelinjang tak keruan tanpa kusadari? membuat tubuhku terbang ke awang-awang? membuat s*****kanganku berkedut-kedut ribuan kali, seperti memancarkan kehangatan sepanjang kewanitaanku? Aku merasakan sesuatu yang sangat berbeda yang datang begitu cepat? yang belum pernah aku rasakan selama aku bercumbu dengan suamiku? kurasakan tubuhku menggeletar dengan gerakan yang tak bisa aku kontrol, sementara dalam sisa kesadaranku aku masih bisa merasakan jemari pak tua nakal itu masih terus menari di s*****akanganku, sementara yang lainnya terus menarik celana dalamku?

Sesaat? aku merasakan kesadaranku pulih, setelah kurasakan keliaran jemari pak tua ini berubah menjadi ngilu pada s*****kanganku. Aku malu sekali, menyadari celana dalamku telah melorot hingga ke paha? menyadari bahwa pak tua ini pasti telah menyaksikan auratku yang paling rahasia dari arah belakangku, yang paling aku jaga agar tak terjamah oleh lelaki lain selain suamiku? aku merasa sangat terhina?

Secepatnya aku menepis tangan P. Siraj yang masih ingin meneruskan aktifitasnya pada s*****kanganku. Dan secepat itu pula aku segera beringsut menjauh dari tempat tidur dengan perasaan benci yang amat sangat setelah kubetulkan celana dalamku yang melorot. Kupandangi wajah P. Siraj yang melongo sambil kurapikan kain kembenku yang sudah terbuka di sana-sini, kulihat gurat-gurat ketakutan pada kedua matanya?

Kudengar P. Siraj bersuara lirih, "? kenapa Jeng? Kan belum selesai?"
Belum selesai dengkulmu, rutukku dalam hati sambil berjalan ke kamar mandi. Aku acuhkan dia dan kubuat wajahku seketus mungkin. Bagaimanapun Aku malu sekali, sangat malu, dan sangat terhina? bagaimana aku bisa membiarkan diriku terlena oleh orang tua yang buruk rupa ini? Di dalam kamar mandi tanpa kusadari tiba-tiba aku menangis, aku merasa berdosa sekali pada suamiku, dan aku berusaha membersihkan diriku sebersih-bersihnya, serasa ada noda yang menempel pada badanku, yang susah sekali kubersihkan? Entah berapa jam aku membersihkan diri dan merenung-renung. Setelah aku merasa cukup tenang dan bisa menguasai diri, dengan sangat terpaksa sekali aku memakai celana dalamku yang ternyata masih basah dan lengket-lengket?

Ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat pintu kamar ibuku sudah terbuka, AC sudah mati, dan pak tua itu sudah tidak ada di kamar. Aku merasa tak punya nyali untuk m*****kah lebih jauh, karena mungkin P. Siraj masih di ruang tamu. Tetapi menyadari bahwa aku sudah terlampau lama meninggalkan rumah, terpaksa aku bernaikan diri keluar dari kamar ibuku. Dan ternyata benar dugaanku, kudapati P. Siraj sedang ngobrol-ngobrol dengan ayahku, sambil merokok. Aku sempat bersirobok pandang dengannya, tetapi menyadari apa yang baru saja terjadi di kamar ibuku barusan, mendadak aku merasa malu sekali, mukaku entah mau kutaruh dimana. Aku merasakan wajahku memerah ketika kupergoki dia sedang memandangiku. Lagi-lagi aku merasa terhina. Aku hanya menunduk saja sewaktu pamitan kepada ayah dan ibuku. Mbak Erni tidak tampak di antara mereka bertiga? "Jeng Dewi, tiga hari lagi tolong ke sini lagi ya, terapinya belum selesai?" P. Siraj ternyata masih berani mencoba-coba menawarkan terapi yang tak senonoh ini, setelah dia dengan sengaja berani menjahili tubuhku. Tetapi yang membuatku sangat dipermalukan adalah aku sama sekali tidak berdaya dan tidak protes sewaktu P. Siraj berbuat jahil terhadapku, bahkan aku membiarkannya?

Pagi itu aku terbangun dalam kegundahan, seakan-akan telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Bahkan saat di kamar mandi, aku merasa malu mendapati bercak-bercak kebasahan yang masih lengket dan belum mengering pada celana dalamku. bahkan saat aku menyabuni sekujur tubuhku, seakan-akan bukan diriku sendiri yang melakukannya, betapa kurasakan pori-pori pada kulitku mengembang sehingga aku merasakan kepekaan yang berlebihan pada kulitku yang membuatku merinding geli, dan kudapati kedua buah dadaku terasa membengkak serta puting-puting susuku terasa kejang, geli, dan kaku. Ahhh apa yang terjadi pada diriku saat ini??? Cepat-cepat kuselesaikan mandiku dan coba alihkan pikiranku kepada hal-hal lain.
Tetapi di kantor pun, ternyata aku kembali teringat P. Siraj. Aku seakan-akan merasakan lagi sentuhannya pada tubuhku yang membuatku menggigil? Untung saja pikiran warasku masih bekerja dengan baik dan aku pun balik menyalahkan orang lain atas apa yang telah kualami ini. Ya? sasarannya siapa lagi kalau bukan ayahku sebab beliaulah yang membuat aku mengalami kejadian ini.

"Hallo?" aku mencoba menghubungi ponsel ayahku untuk memprotes atas tindakannya memberikan nomor telpon rumahku kepada P. Siraj.
"Ya, hallo?" terdengar suara ibuku menjawab telpon di seberang.
"Ini Dewi, Bu? Bapak ada?" tanyaku dengan perasaan berdebar.
"Ga ada Wi, pagi-pagi tadi sudah pergi dengan orang-orang partai xxx? rapat katanya Wi. Tumben kamu nyari Bapak Wi?" tanya Ibuku seakan menyelidik.
"Anu ga papa Bu, Dewi cuma mau nanya siapa yang ngasih telpon rumah Dewi ke P. Siraj?"
"Loh emang kenapa Wi? Bapakmu yang ngasih itu, soalnya kata Siraj terapimu belum selesai, lagipula Siraj juga ngomong kalau kamu punya masalah serius pada kandunganmu. Nanti jadi kesini ga? Ibu sama Bapak khawatir ada kenapa-napa sama kamu"
Duh, langsung lemes tubuhku. Rupa-rupanya P. Siraj ini ngarang-ngarang supaya dia bisa menjamahi lagi tubuhku. Tetapi satu hal yang tak kupahami setelah kututup telponku, aku merasakan munculnya gejolak aneh yang lebih menggelora dibandingkan sebelumnya. Duh entah apa yang akan terjadi nanti seandainya aku jadi berkunjung ke rumah Bapak? Akhirnya, sesiang itu, hingga sore hari, aku nyaris tak bisa tenang dalam bekerja. banyak sekali telpon masuk tak bisa kutanggapi dengan sewajarnya. Belum lagi ada sms dari suamiku yang mengingatkan agar aku tidak menjenguk bapakku usai jam kantor, katanya diapun bakal pulang malam karena ada meeting dengan klien?

Akhirnya usai jam kantor, dengan hati yang berdebar kencang, dengan sejuta gelegak aneh yang menggelayuti hati, akupun pergi ke rumah Ayahku. Sampai di sana suasana rumah tampak sepi, mobil Ayahku ngga kelihatan, hanya sepeda motor Mbak Erni yang tampak terkunci di balik pagar. Dengan perasan berdebar aku m*****kah masuk, walaupun kakiku seakan-akan lemas lunglai. Rasa malu dan cemas mulai kurasakan menyeruak dalam dadaku membuat aku sejenak merasa ragu-ragu. tetapi dari dalam diriku sendiri seakan ada dorongan yang cukup kuat untuk membuatku bertahan, bertahan dari rasa takut, dari rasa malu, dari kehilangan harga diri? Sejujurnya aku bahkan sudah berpikir, seandainya kejadian kemarin ini terulang lagi hari ini, maka hal itu benar-benar sudah bukan kealpaanku semata, sebaliknya karena?

Di ruang tamu ternyata hanya ada Mbok Las (pembantuku) dan Mbak Erni. Tetapi tampaknya Mbak Erni sedang bersiap-siap untuk pergi kalau kulihat dari dandanannya yang sudah rapi.
"Wi, kamu sedari tadi sudah ditunggu-tunggu sama P. Siraj," kata Mbok Las memberi penjelasan kepadaku. Mbok Las memang sudah terbiasa memanggil aku dengan menyebut namaku langsung karena faktor kebiasaan. Dialah mengasuhku sejak aku masih bayi. "Sekarang P. Siraj sudah pergi, ngga tahu kemana Wi, sejak jam empat sore tadi."

Plong. Benar-benar plong rasanya hati ini. Seakan aku baru saja terbebas dari beban berat yang menghimpitku. Sehingga dari mulutku terucap kata syukur. Yang paling melegakan ialah karena aku terhindar dari melakukan kesalahan untuk yang kedua kali. Sekalipun tadi hatiku sempat dipenuhi gejolak yang tak kumengerti, tetapi berita ini sungguh bak air sejuk menyiram sanubariku?
Tetapi kegembiraanku hanya berlangsung sesaat. Kesalahanku adalah aku tidak segera pulang begitu mengetahui bahwa P. Siraj tidak ada di rumahku, sehingga tanpa kusadari aku mengobrol lumayan lama dengan Mbok Las dan Mbak Erni sampai kudengar suara salam yang terucap serak dan berat dari balik pintu depan ruang tamu? suara P. Siraj?
Entah kenapa tiba-tiba aku merasa menggigil, takut. Serasa lemas seluruh sendi-sendi tulangku. Tetapi sekaligus aku juga merasakan debaran kencang dalam hatiku?

Tidak seperti biasanya. kali P. Siraj mengenakan baju koko warna putih, kopiah dan sarungnya pun nampak masih baru. Sejujurnya, walaupun wajahnya tidak menarik, tetapi dengan penampilan barunya itu dia terlihat lebih bersih dan rapih dibanding sebelum-sebelumnya. Dia langsung mengambil tempat di antara kami bertiga, dan seperti biasa, meluncur kata basa-basi dari mulutnya menanyakan keadaan kami semua sambil mulai mengisap rokok kretek kegemarannya. Tak berapa lama, Mbok Las pun minta ijin membuatkan kopi untuk P. Siraj, tinggalah aku dan Mbak Erni yang terpaksa menemani. Setidaknya aku masih tertolong dengan keberadaan Mbak Erni yang memang ceriwis, sehingga aku bisa menutupi rasa gelisahku. Tapi itupun tak berlangsung lama, seperti sudah kuduga sebelumnya, Mbak Erni pun akhirnya pamitan mau pergi, katanya dia ada acara diluar sampai malam hari. Sekarang tinggallah aku dan P. Siraj berduaan saja, sementara Mbok Las masih sibuk menjerang air di dapur.

Aku menyadari benar akan keadaan bahaya yang bakal menimpa diriku saat itu. Dan sebenarnya aku masih mempunyai kesempatan untuk memilih satu di antara dua pilihan. Segera menghindar dan selamat dengan seluruh harga diri, atau membiarkan saja bahaya ini menimpaku. Seandainya aku menghindar saat itu, toh aku tidak rugi sama sekali, paling-paling aku hanya menerima kemarahan ayahku. Itupun soal yang gampang kuhadapi karena aku memiliki alasan yang kuat, misalnya suamiku tak setuju kalau aku disentuh oleh lelaki lain yang bukan muhrimku. Atau alasan apapun lainnya, tidak ada persoalan sedikitpun. Nothing to loose. Tetapi entah mengapa kecil sekali keinginan dalam hatiku untuk mengambil pilihan menghindar dari P. Siraj. Yang ada aku justru larut melayani obrolan-obrolan P. Siraj sekalipun agak enggan. Akhirnya tepat menj***** magrib, P. Siraj menanyakan kesediaanku untuk diterapi lagi. Serasa mulutku kelu untuk berkata tidak padanya, tetapi juga tak sanggup untuk berkata "ya". Harga diriku seakan menuntutku untuk tidak menyetujui, tetapi mulutku malah terasa kelu. Adalah Mbok Las yang tiba-tiba menyeruak kebisuan di antara kami berdua. Celakanya isyarat Mbok Las malah menyulut keberanian P. Siraj untuk mengulangi tawarannya.

"Wi, tadi ibu sudah pesen kalau Dewi jadi dipijat pakai kamar yang atas saja, soalnya Ibu nanti datengnya malam, Bapak Juga. Kamar yang atas tadi sudah Mbok siapkan kok," kata Mbok Las menyela tawaran pijat P. Siraj. Tapi lagi-lagi aku tak mampu mengiyakan maupun menolak. Aku hanya diam saja. Entah kenapa sejak kejadian tempo hari itu, aku serasa tak punya nyali untuk bertatapan mata langsung dengan P. Siraj. Ya, P. Siraj inilah satu-satunya lelaki di samping suamiku yang telah pernah melihat dan menyentuh auratku yang paling rahasia. Entah mengapa, kali ini di depan P. Siraj, yang sejujurnya kuakui berwajah sangat tidak menarik ini, aku merasa dikuasainya. Dan mungkin karena sudah tak sabar mendengar jawabanku P. Siraj menarik tanganku menuju ke loteng. Lagi-lagi aku tak berdaya menolak, bahkan akupun membiarkan saja sewaktu tangannya terus menggandeng tanganku menaiki tangga, seolah-olah orang tua ini takut kalau-kalau anaknya terjatuh. Dan semua itu disaksikan Mbok Las dengan mulut yang ternganga.

Ternyata benar kata Mbok Las, kamar tersebut sudah bersih dan rapi, bahkan sudah disediakan pula kain sarung, handuk, dan baby oil di atas ranjang. Dengan gugup aku segera mengambil semuanya itu dan langsung masuk ke kamar mandi yang berada satu ruangan dalam ruang tidur. Perasaanku berdebar lebih kencang lagi membayangkan apa yang akan terjadi pada diriku, serasa tubuhku makin lemas saja dan tak punya daya. Ketika aku mulai membuka blazerku, kemudian blouse atasku, mendadak muncul pergulatan sengit dalam hatiku. Kamu masih bisa menghindar Dewi, ayo!! Tetapi sekalipun begitu, jari-jariku seperti robot yang diprogram untuk terus membuka kancing-kancing blouseku, sehingga terbukalah tubuhku bagian atas. Kini bagian atas tubuhku sudah terbuka sama sekali hanya berbalut bra warna putih. Bergetar sekujur tubuhku, menyaksikan kepolosan diriku sendiri yang putih bersih terpampang dari cermin besar yang berada di balik pintu kamar mandi. Cermin ini mempertontonkan semua tubuhku dari ujung rambut hingga ujung kaki, serta merta kusadari benar adanya cairan yang membersit dari s*****kanganku. Aku benar-benar gemetar? bukan karena takut?
Tiba-tiba kudengar pintu diketuk dan suara P. Siraj yang berat serta serak.."Jeng Dewi bisa agak cepat.. jangan lupa dilepas semua dalemannya ya.." Kata-kata P. Siraj benar-benar membuatku gemetar, seakan-akan menyihirku, membuatku diriku tiba-tiba menggelinjang. Padahal semuanya masih belum terjadi?
Aku diam tak menjawab. hatiku dipenuhi perasaan ragu-ragu ketika aku mulai membuka resleting rok bawahku. Aduhh.. ampun? celana dalamku yang berwarna putih sudah tampak basah sekali. Memalukan sekali, rutukku dalam hati, masih belum apa-apa aku sudah merasakan geli di balik celana dalamku, membuatku makin basah saja? Bagaimana kalau nanti P. Siraj tahu hal ini? Tetapi serasa pikiranku dipenuhi suatu sensasi aneh yang sedemikian kuat, sehingga tanpa kusadari aku sudah mengusap-usap bagian tubuhku yang terbungkus cd? Gerangan apa yang terjadi pada diriku saat ini?? Tidak, aku tak akan membukanya, sekalipun sejujurnya saat ini aku ingin sekali..ohhh..
Cepat-cepat kukenakan kain sarung yang tadi disediakan Mbok Las. Oh, ini pasti keliru! gumamku. Sarung ini terlalu kecil sehingga hanya mampu menutupi bagian dada dan sedikit pangkal pahaku, kalau aku bergerak sedikit saja pangkal pahaku pasti kelihatan? Tapi harus kuakui kalau dengan keadaanku seperti ini aku tampak sexy sekali? sangat sexy? haruskah aku keluar menghadapi P. Siraj dengan busana seperti ini??? Haruskah aku menjumpai P. Siraj seolah sesosok perempuan binal yang meminta dibelai???
Tok?tok?tok? ketukan pada pintu kamar mandiku membuat lamunanku buyar seketika, Aku menjadi susah konsentrasi, semua kata hatiku seperti sirna ditelan sensasi-sensasi yang terus menderaku saat ini.. "Ayo, jeng Dewi? sudah keburu malam," kudengar P. Siraj, serak dari kamar tidurku?
Dengan perasaan ragu aku akhirnya membuka pintu kamar mandi sambil berusaha menutupi bagian pangkal pahaku yang gagal kusembunyikan dengan sempurna.

Ufff? benar seperti dugaanku, mata tua lelaki jelek ini seakan melompat menyaksikan kepolosanku, mulutnya seakan ternganga, dan jakun itu kuperhatikan seperti tercekat di ujung tenggorokannya? Aku lekas-lekas beringsut duduk di sudut ranjang menyembunyikan kepolosanku, aku berusaha menutupi sebisaku. Aku merasa mata lelaki tua ini seakan-akan hendak menerkamku. Ia menghampiriku ikut duduk di sampingku. Tangannya dengan berani tiba-tiba sudah mjendarat di pundakku?

"Tadi saya kan sudah bilang agar dalemannya dilepas saja," katanya sambil menjentik-jentikkan tali behaku.
"Engga usah Pak, gini aja cukup," kataku sedikit ketus.
"Ya..ya..ngga papa Jeng," katanya sedikit menenangkanku. Tapi tiba-tiba kulihat di bibirnya tersungging senyum yang sama sekali tak kusukai "Tapi? kalau yang bawah sudah dilepas belum?" katanya nakal. Seketika itu mukaku serasa ditampar, betapa memalukan sekali pertanyaannya, sehingga aku hanya mampu merenggut mendengar kenakalannya. "Ya.. sudah berbaring saja, Jeng. Telentang ya Jeng, jangan tengkurap."
Tanpa menuruti kata-katanya lantaran malu, akhirnya aku berbaring tengkurap. Betapa kurasakan saat itu, kain sarungku yang menutupi bungkahan pantatku tersingkap karena gerakanku. Aku berusaha menutupkannya sebisaku, tapi percuma karena kain sarung ini memang kekecilan. Aku mencium bau minyak urut yang membuatku pusing seperti minggu lalu. "Jangan pake minyak itu Pak, pake ini saja," kataku sambil mengulurkan baby oil membelakanginya. Aku tak mendengar penolakan darinya. Yang kurasakan saat itu hanya suara degup jantungku yang berdetak semakin kencang dan keras.
Aku merasakan ranjang pegas ini bergoyang sesaat ketika P. Siraj mulai mengambil posisi di samping betisku. Tak seperti kemarin, kali ini P. Siraj langsung meminyaki betisku dengan lotion yang cukup banyak. Entah mengapa, ketika P. Siraj meratakan lotion pada kedua betisku, tiba-tiba aku merasakan kegelian yang menyengat dari balik s*****kanganku. Ohh.. jangan sekarang, gumamku. Mengapa aku jadi secepat ini?

Ohh.. aku merasakan tangan tua ini meluncur dengan tekanan yang lembut di atas betisku yang sudah sangat licin. Ia mengurut dengan gerakan sangat perlahan dari mata kaki hingga menuju lipatan lututku. Aku merasakan kelembutan yang luar biasa mengalir di atas betisku. Kelembutan yang menjalarkan perasaan geli di seantero tubuhku, sehingga tanpa kusadari aku sudah menggelinjang? Dan semakin sering pak tua ini mengurut seperti itu, semakin sering pula aku menggelinjang. Harus kuakui, aku merasa sangat nyaman dengan segala kelembutan yang merasuki tubuhku, sehingga aku bagaikan tersihir manakala kurasakan P. Siraj perlahan-lahan mulai membuka katupan kakiku lebih lebar lagi dan lebih lebar lagi. Aku seakan tak kuasa melawan sekalipun kusadari kalau saat itu P. Siraj bakal lebih jelas lagi melihat s*****kanganku dari belakang tubuhku. Semua akal sehatku seakan tenggelam ditelan oleh rasa nyaman dan sensasi-sensasi aneh yang telah menguasai tubuhku. Aku seakan telah kehilangan rasa malu manakala kedua kakiku dikuakkan makin lebar. Ohh.. aku hanya bisa gemetar? semoga saja pak tua ini tak tahu? Saat itu aku baru menyadari bahwa sentuhannya pada lipatan lututku ternyata benar-benar membuatku mabuk kepayang.
Setelah cukup lama mengurut-urut betisku, sekarang giliran kedua pahaku yang mendapat jatah. Ohh.. aku gemetar lagi ketika teringat peristiwa kemarin saat dia mengurut pahaku. Akankah ini akan terulang lagi???
Aku merasakan tetesan demi tetesan lotion mengalir di atas kedua pahaku, banyak sekali. Lalu diratakannya dari lutut ke arah atas, semakin ke atas, hingga menyentuh pantatku yang masih tertutup celana dalam. Geli sekali yang kurasakan saat itu. Lagi-lagi aku tak bisa menguasai gelinjang yang mendera tubuhku.
"Celana dalamnya sudah basah Jeng, gimana kalau sekalian dilepas saja," katanya sambil berusaha menarik karet cdku dari pantatku. "Jangan Pak," kataku cepat. Entah kenapa saat itu rasa malu kembali menyeruak. "Tadi kesiram air sewaktu saya di kamar mandi." kilahku. Tak kudengar protes dari mulutnya, membuatku sedikit tenang. tapi apalah artinya ketenanganku saat itu, sedangkan sebentar lagi tentunya dia akan mencecarku?

Dan benar saja dugaanku. P. Siraj mulai mengurut kedua pahaku, kali ini kurasakan tanpa keraguan sedikitpun seolah-olah dia sudah membaca kelemahanku. Jemari-jemari tua itu tiba-tiba kurasakan sudah meluncur lembut di atas pahaku. Dari bawah, ke atas, kuarasakan jemarinya menekan paha dalamku menerbitkan rasa geli dan nyilu pada tubuhku. Semakin mendekati s*****kanganku. Semakin gemetar aku. Jemari itu seakan tak berhenti ketika tiba pada bungkahan bokongku, sebagian jemarinya meremas-remas bokongku, sementara jemarinya yang lain terus meluncur ke dalam pangkal pahaku, menekan dalam-dalam dan lembut ke tengah-tengah s*****kanganku yang tertutup celana dalam. Ohh? aku terkejut tiba-tiba? menggelinjang tiba-tiba.. sesaat setelah jemari nakal itu mendarat tepat pada kelenjar syarafku yang paling peka. Tanpa bisa kutahan lagi tiba-tiba kurasakan cairan kewanitaanku membersit, rahimku berkedut, sesaat kurasakan kewanitaanku disesaki oleh rasa enak yang aneh? tubuhku bergetar melawan perasaan aneh yang mulai menguasai diriku.
Dan ketika sentuhan-sentuhan itu makin intens kurasakan, semakin sering diulang, dari bawah ke atas, dan semakin sering s*****kanganku terkena sentuhan, maka makin banyak pula cairan kewanitaanku membersit keluar hingga terasa meluber di sekitar s*****kanganku dan meleleh ke arah pahaku, membuat s*****kanganku makin licin.. aku merasa tak mampu menahan getaran yang secara refleks muncul dari dalam diriku sendiri..
Dan benar saja? ketika kurasakan s*****kanganku semakin licin, jemari pak tua itu terasa terpeleset ketika menekan pantatku, seakan-akan tergelincir, menyelusup ke balik cdku, dan tak bisa dicegah lagi akhirnya jemari- jemari nakal itupun langsung bersentuhan dengan kewanitaanku tanpa dinding pembatas lagi. Aku tak lagi mampu memprotes, sebab gejolak tubuhku yang dirundung kegelian membuat pinggulku bergerak melompat-lompat ke atas, menungging-nungging kecil, seolah-olah hendak memberi akses yang lebih luas bagi pak tua ini untuk berbuat lebih jauh. Harus kuakui kepandainnya untuk menciptakan situasi yang seolah-olah tak disengaja, ketika sebagian jemarinya merasuk di area kewanitaanku dan terus bergerak liar, maka jemarinya yang lain menarik turun karet cdku sedikit demi sedikit hingga aku tak merasakannya? aku hanya merasakan kedua bokongku semakin dingin diterpa hawa pendingin ruangan yang berada di atas ranjangku.

Seperti tak memberi kesempatan padaku untuk berpikir jernih, aku terus menerus dicecar dengan rabaan, usapan, urutan, pijatan, yang langsung bersentuhan dengan kewanitaanku, sehingga mau tak mau saking gelinya, secara refleks pantatku melenting-lenting dan menggelinjang tak terkendali. Akibatnya cdku semakin mudah untuk dipelorotkan, dan aku menyadari benar hal itu ketika kurasakan cdku sudah turun dibawah pantatku. Tapi aku telah dibuat sedemikian gerah dan bergairah, sehingga sirna sudah rasa malu dalam diriku untuk mempertahankan penutup terakhirku, sebaliknya tanganku sibuk mencengkeram sprei keras-keras untuk menahan gejolak yang makin kuat ini. Hal ini membuat P. Siraj makin leluasa menguasai diriku. Sekalipun saat itu aku menyadari benar ketika perlahan-lahan cd-ku bergerak turun melewati pahaku, melewati lututku, melewati betisku? lalu tess? lepas sudah satu-satunya penutup harga diriku yang paling berharga. Rasa malu memang menyeruak, tetapi bersamaan dengan itu muncul semacam gejolak dan gairah aneh yang lebih kuat lagi seiring dengan ketelanjanganku. Bra-ku masih dalam keadaan yang aman, melekat erat menutupi buahdadaku, tetapi sarung yang seharusnya menutupi tubuhku sudah tersingkap sampai di pinggang, sehingga P. Siraj tentu bisa memandangi paha, pantat dan kewanitaanku yang telah terbuka.

Satu-satunya yang bisa membuatku bertahan saat itu adalah karena sentuhan-sentuhan jemari P. Siraj seringkali luput pada bagian pekaku, tapi kadang-kadang juga kena. Sehingga aku masih dapat menahan kelimaks ini sebisa mungkin. Tapi semakin lama akhirnya P. Siraj menemukan juga titik kelemahan utamaku, yaitu ketika jarinya menyentuh kelenjar sarafku yang paling sensitif, badanku langsung bergetar. Sontak pantatku sedikit diangkatnya sehingga posisiku agak menungging, dari belakangku semua jari P. Siraj kurasakan mengusap kelenjarku secara bersamaan. Ketika itu aku merasakan denyutan-denyutan yang makin kuat dari otot-otot rahimku, seketika itu juga aku merasa hampir meledak. Aku sudah tak mampu bertahan lagi, aku merasa pasrah menerima semua kelezatan-kelezatan yang terus mendera kewanitaanku. Aku hanya bisa menunggu dengan penuh rasa malu. Tiba-tiba kurasakan kaitan bra-ku ditariknya dan lepas dalam sekejap mata, dan tahu-tahu aku merasa braku telah terenggut melewati lenganku. Dalam keadaan seperti itu aku masih merasakan kesadaranku seutuhnya sehingga aku malu bukan main sambil berusaha menangkupkan sarung pada kedua lenganku agar merapat menutupi buah dadaku. Tetapi itupun tak bertahan lama. Sarung itu kini telah terenggut lepas dari tubuhku dan terbang entah kemana. Aku malu sekali dengan ketelanjangan yang seutuhnya ini, walaupun P. Siraj hanya bisa melihatku dari belakang. Tetapi tak bisa kupungkiri juga gelegak dalam tubuhku ternyata makin menghebat dalam keadaan telanjangku ini. Sensasi yang kurasakan lebih kuat dari sebelumnya, sehingga bisa kurasakan otot-otot kewanitaanku berdenyut-denyut semakin kuat dan semakin sering. Ohh.. aku merasa saat itu sebentar lagi akan tiba, bukan disebabkan cumbuan suamiku, tetapi oleh lelaki tua yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku, bahkan kakekku. Aku makin tak berdaya.

Bahkan ketika dengan seenaknya sendiri, P. Siraj membalikkan tubuhku telentang dalam ketelanjangan yang sempurna dihadapan matanya yang nanar, aku hanya bisa pasrah. Aku hanya bisa memejamkan mata mengatasi rasa malu yang tak terkira sambil berusaha menutupi payudara dan s*****kanganku yang terbuka bebas dengan kedua tanganku. Tapi apalah dayaku, P. Siraj menyingkirkan kedua tanganku agar menjauh dari payudara dan s*****kanganku tanpa perlawanan sedikitpun dariku. Sesekali kuberanikan diri membuka mata utntuk mengabadikan apa yang tengah berlangsung, aku terkejut bukan kepalang. Pak Siraj ternyata sudah bertelanjang dada, entah sejak kapan dia membuka baju safarinya. Hanya tubuh kurus dan dada yang keriput dan terengah menanti di antara kedua kakiku. Aduhhh?malunya. Tiba-tiba kurasakan kakiku direnggangkan lebar-lebar di antara tubuhnya. Kupejamkan mata menunggu dengan gelora yang seakan tak jua surut dalam tubuhku. Aku menunggu? entah apa yang akan terjadi? rasanya aku sudah tak mungkin menghindar lagi?

Tiba-tiba kurasakan hawa yang panas menghembus pada s*****kanganku, dan sesuatu yang kasab, dan basah sedang menggesek s*****kanganku. Aduhh? aku tertegun-tegun ketika sapuan itu mendarat tepat pada kelenjar syarafku yang terbuka. Aduhhh? kubuka mataku? yang mampu kulihat hanya seonggok kepala yang beruban sedang terkepit di antara kedua belah pahaku. Adduhhh? kurasakan sapuan itu lagi mengusap panjang pada kelenjarku yang kurasakan membengkak pada puncaknya dan geli?

Aduhh? sapuan itu semakin berulang, sehingga otot-otot panggulku berkedut-kedut dan seakan-akan membersitkan bergalon-galon cairan dari dalam kewanitaanku. Aduhhh?tiba-tiba kurasakan kelenjarku terkunci di antara dua bibirnya yang keriput lalu digeseki secara kontinyu oleh lidahnya yang kasab. Pinggulku refleks bergetar dan terangkat-angkat tanpa kontrol sama sekali, seakan-akan menyodor-nyodorkan untuk dinikmati sepuas-puasnya. Sementara aku sendiri sudah tak mampu lagi untuk tak bersuara, rintihanku sudah lepas kendali, dan seiring kelezatan yang menghantar seantero tubuhku, tanganku malah makin menekan kuat kepala pak tua itu untuk menghantarkanku pada kelezatan yang lebih tinggi lagi.

Aku merasakan buncah-buncah kelezatan dari dalam kewanitaanku terus-menerus menerjang dinding bendunganku yang makin lemah. Akhirnya aku meledak juga dalam rintihan yang keras dan panjang, ketika kurasakan air bah itu seakan bergelombang menjebol bendungan dalam rahimku, menggelontor lorong-lorong panjang yang seakan tak pernah terisi selama bertahun-tahun. Ohhh?Tuhann?. ampuni akku?

Lezat?nikmat? melayang-layang? geli? lalu ngilu? Kurasakan lidah itu masih saja bekerja, seakan membor dinding kewanitaanku padahal aku sudah tak mampu lagi menerima sensasi yang kontinyu merancah kelenjar syarafku. Rasanya ngilu sekali. Secara refleks, entah beroleh kekuatan darimana, aku mengepit kepala pria itu kuat-kuat dengan kedua pahaku, lalu kutolakkan tubuh yang renta itu menjauh dari tubuhku sampai ia terjatuh ke bawah ranjang. Dengan cepat kukemasi sarung dan semua pakaian dalamku lalu aku berlari ke dalam kamar mandi tak lupa menguncinya dari dalam. Dengan kesadaran yang hampir normal, segera kukenakan semua pakaianku tanpa sempat merapikan rambutku yang sudah acak-acakan. Saat itu entah bagaimana dan darimana asalnya, tiba-tiba aku disergap perasaan sangat berdosa pada suamiku karena telah membiarkan tubuh ini dijamah oleh selain dia. Tanpa kusadari air mataku meleleh. Tetapi aku juga merasa takut luar biasa karena di dalam kamar sekarang sedang menunggu pria tua yang barusan berhasil memperdayaku.

Dengan keberanian yang masih tersisa aku keluar dari kamar mandi, lalu berlari cepat melewati lelaki tua yang masih terduduk tanpa baju sedang mengisap rokok kreteknya? Saat itu rasanya seperti melayang? cepat sekali? sehingga tahu-tahu aku sudah berada di depan halaman rumah orangtuaku. Dengan perasaan yang ketakutan segera kumasuki mobilku dan berlalu secepat-cepatnya dan sejauh-jauhnya dari tempat aku dinistakan ini?

Tanpa aku sadari, peristiwa yang terjadi kedua kalinya dengan P. Siraj itu memjbawa perubahan 180 derajat dalam diriku. Jika sebelumnya aku merasa sangat berdosa karena telah mengkhianati suamiku, maka setelah peristiwa itu aku justru tidak merasakan apa-apa, hatiku terasa tawar saja, tidak ada lagi rasa berdosa yang menghantui. Lebih parah lagi, aku jadi tidak bisa melayani suamiku dengan baik layaknya seorang istri, aku hanya bisa berpura-pura, tapi sama sekali tak bisa menikmati. Akhirnya aku sendiri menjadi sangat tersiksa.

Sebaliknya kenanganku bersama P. Siraj seperti menyedot pikiranku. Hampir tiap hari setelah peristiwa itu, aku tak pernah bisa berhenti memikirkan dia. Bukan fisiknya yang terpateri dalam pikiranku, melainkan sentuhan-sentuhannya yang mampu mengantarku ke awang-awang. Kadang-kadang juga teringat aku akan fisiknya yang reot, keriput, dan sama sekali jauh dari menarik,. Kalau teringat itu suasana hatiku langsung sirna. Tetapi yang lebih sering adalah memori sentuhan-sentuhannya yang membuatku melayang-layang. Hampir saban hari pikiranku tak pernah berhenti mengingat itu sekalipun aku telah berusaha keras mengenyahkannya dengan menyibukkan diriku pada pekerjaan dan aktifitas yang lain-lain. Entah mengapa belakangan aku jadi mengharapkan kehadirannya. Tidak ada rasa takut lagi ketika telpon rumahku berdering-dering, aku malah mengharapkan yang menelpon itu dia, Pak Siraj. Tetapi harapanku ternyata tak terkabulka, P. Siraj sama sekali belum menelponku semenjak peristiwa itu.

Pada suatu pagi kira-kira 2 minggu bers***** setelah peristiwa yang ke-2 itu, ketika di rumahku sedang sepi karena suamiku sedang pergi ke luar pulau dan pembantuku pun sedang pulang kampung karena ada kerabatnya yang punya hajatan, telpon rumahku berbunyi. Dengan agak enggan aku mengangkat g****g telpon? dan tak kunyana terdengarlah suara yang ternyata sangat tak asing lagi di telingaku dari seberang?

"Hallo?Jeng Sari..?" Telingaku langsung akrab dengan pemilik suara di seberang itu?Ya ampun itu suara Pak Siraj. Langsung gemetar tubuhku mendengar suaranya itu.
"I..i..iya.. maaf dengan siapa?" tanyaku pura-pura tak tahu. Suaraku entah kenapa tiba-tiba berubah bergetar. Rasa takut, cemas, meriang, sekaligus senang tiba-tiba melingkupi hatiku.
"Siraj, jeng. Siraj?" suara itu terdengar serak.
"Eh..oh?i..iya Pak, ada apa Pak??" tanyaku gemetar. Benakku tiba-tiba dipenuhi oleh sensasi-sensasi yang tak kupahami, membuatku tubuhku serta-merta gemetar dan bergidik.
"Jeng Sari kok tidak terapi lagi, padahal saya hampir tiap hari ke rumah Bapak, tapi Jeng Sari tidak pernah ke sana. kapan Jeng Sari bisa saya terapi lagi?" Aku makin gemetar mendengar pertanyaannya, dan aku tidak tahu mesti menjawab apa. Tapi yang keluar dari mulutku sungguh aku sendiri tak menduganya?
"Kira-kira kapan Bapak bisa?"
"Kalau hari ini atau nanti sore gimana Jeng?" Lagi-lagi mulutku terasa kelu tak tahu mesti ngomong apa.
"E..e? dimana pak?" Bodoh! Kenapa aku bisa balik bertanya seperti itu! Aku sungguh tak paham lagi keadaan diriku..
"Anu Jeng, kalau di rumah Bapaknya Jeng Sari hari ini lagi rame orang, banyak yang rapat. bagaimana kalau di rumah Jeng Sari aja?" Aduh bagaimana dia bisa menebak kalau hari ini di rumahku sedang tidak ada orang, jangan-jangan????
"Eh..anu.. terserah Bapak saja??!!??" Plas? aku sendiri bingung dengan jawabanku saat itu. Malu, takut, tapi anehnya sama sekali tak ada perasaan bersalah dalam diriku. Bahkan sebaliknya, hatiku merasa berdebar-debar, berbunga-bunga?

Sore itu dengan hati berdebar-debar aku menanti kedatangan P. Siraj ke rumahku. Entah mengapa selama masa menunggu itu aku merasa diliputi suatu perasaan erotik yang kuat yang tak kupahami. Entah mengapa, dalam benakku kembali terlintas cumbuan-cumbuan P. Siraj atas tubuhku. Dan makin lama aku memikirkan itu tubuhku merasa merinding, gemetar serta sensitif. Tak kunyana, hanya dengan mengingat itu saja tubuhku terasa gerah, seperti ada semacam tuntutan yang lebih lagi, membuat aku merasa kurang nyaman dengan baju yang melekat di tubuhku, aku merasa risih, aku merasa ingin sekali menanggalkannya, hingga akhirnya satu persatu jari-jariku seperti tertuntun untuk melepaskan daster pendekku yang tipis. Hingga terbukalah sudah tubuhku. Tapi aku merasa ada yang kurang, kedua payudaraku terasa geli dan gatal, dan aku merasakan ketegangan pada putting susuku, maka penutup dadaku itupun lepaslah sudah, dan nampaklah ketegangan nyata kedua putingku dari balik cermin, merah tua? tegak? dan kumerasa nyeri bila tersentuh jariku sendiri? Kini tinggal secarik kain tipis berwarna putih yang masih tersisa pada tubuhku, sedangkan saat itu tubuhku seperti menuntut lebih lagi, aku merasa ada yang megap-megap di bawahku meminta di sentuh juga, sehingga terlepaslah penutup terakhir itu meluncur melewati kedua pahaku, lututku, lalu?betisku, ketika aku menyentuhnya kurasakan sesuatu yang telah licin melumasi permukaannya.

Kini tinggalah aku sendiri, di dalam kamarku, telanjang sama sekali, diamuk gejolak yang tak mampu kutolak, sehingga terjadilah apa yang tak pernah kulakukan sepanjang hidupku!!! Aku menyentuh dan merabai sejengkal demi sejengkal setiap bagian tubuhku yang menerbitkan geli, yang sensitif ketika kusentuh, yang menegang ketika kusenggol, yang membasah ketika kuraba? Ah? ah? ah? serasa tubuhku semakin geli dari detik ke detik, dan rangsang yang liar seperti mengurungku dalam berahi yang makin tak kumengerti, aku mengerang-erang sendiri, menggeliat-geliat sendiri. Sungguh suatu perbuatan yang tidak pernah kulakukan seumur hidupku bahkan ketika aku menginjak remaja dulu. Tapi kini, gairah yang mengurungku seperti mengalahkan segalanya, memadamkan rasa maluku, dan sebaliknya seperti mengobarkan gairah-gairah aneh dalam tubuhku. Oh? aku merasakan tubuhku melayang-layang ke awang-awang seiring dengan semakin banyaknya cairan yang membersit-bersit dari pori-pori tubuhku. Aku merasa bapak tua itu seakan-akan sedang menyentuhi jengkal demi jengkal bagian-bagian tubuhku yang peka? membuatku tak kuasa untuk tak merintih, mengerang?

Akhirnya entah sudah berapa lama aku melakukan itu, sehingga tanpa kusadari sore sudah beranjak malam, cuaca yang berubah gelap tampak jelas dari jendela kamarku. Tapi yang kunanti tak kunjung datang. Aku merasa perlu menyalakan lampu karena aku tak pernah merasa nyaman dalam kegelapan. Setelah kamarku terang perasaanku berubah timbul tenggelam antara kenangan dan kenyataan, yang membuat pikiranku terpecah. Apalagi selama melakukan kegiatan yang aneh itu posisiku dalam keadaan berdiri di depan cermin besar yang terpasang dalam kamarku, membuatku merasa letih, sehingga, membuatku merasa perlu berbaring karena kurasakan pendakianku sudah dekat pada puncak? Aku merasakan pahaku telah basah oleh cairan yang menderas dari sumbernya, dan semakin intens aku menyentuhnya, merabanya, menekannya, tubuhku semakin menggeletar tanpa kendali?mendekati berakhirnya pendakian yang melelahkan? tetapi?

TING-TONG!!! TING-TONG!!! Tiba-tiba kudengar bunyi bel memecah kesunyian, memecah saat-saat indah yang hampir tiba. Oh! pasti dia! tak salah lagi, pasti dia! Dengan tergopoh-gopoh kukenakan lagi dasterku. Seperti tergesa oleh sesuatu, aku tak berpikir lagi untuk mengenakan dalamanku yang lainnya. Tak apa, pikirku, bukankah diluar cuaca sudah gelap, tak apa kalau aku hanya mengenakan ini saja?

Benar saja! Aku melihat sosok tua itu sedang berdiri menunggu di depan pintu gerbang rumahku. Dalam keremangan malam masih nampak jelas olehku kacamata tebalnya, pakaian khasnya, safari biru tua, bersarung kotak-kotak warna hitam, dan kopiah yang selalu bertengger di kepalanya menutupi sebagian rambut putihnya. Di sampingnya motor bebek tua yang lampunya masih menyala.

Dengan berdebar aku m*****kah ke luar rumah hanya dengan daster yang tipis dan pendek melekat pada tubuhku. Untunglah aku belum menyalakan lampu teras maupun rumah, sehingga tak mungkin Pak tua yang agak rabun itu mampu menebak isi di dalam busana yang kupakai saat itu. Tetapi?Ya ampuunn? lelaki tua ini melihatku dengan saksama ketika aku mendekati pintu pagar, pandangannya itu seperti langsung menembus pakaianku, menembusi juga relung-relung hatiku. Dengan gemetar aku membukakan kunci gembok untuknya dan membiarkannya masuk sambil menuntun motor tuanya. Ketika aku menutup pintu gerbang rumahku dan akan mengunci gembok, tiba-tiba kurasakan remasan yang nakal pada pantatku. Aku kaget setengah mati, aku berusaha menepiskannya. Tetapi sungguh tak kunyana, tangannya yang nakal itu tiba-tiba menyelusup ke dalam dasterku bagian bawah dan langsung meremas bokongku dari dalam. Ah.. ah? aku berusaha sekuatnya menepiskan tangannya yang nakal dan tak sabar itu, tetapi tangan pak tua itu memaksa tetap tinggal dalam dasterku dan terus meremas pantatku. Ah? ah? aku semakin gemetar dibuatnya. Ini masih di luar rumah dia sudah begini nakalnya, aku takut ada orang lain atau tetanggaku memergoki perbuatan kami, jadi aku berusaha menepiskannya sekuatku. Tetapi muncul perasaan aneh yang lebih kuat membiarkan pak tua itu menakali diriku. Rasa takut, rasa malu, yang berbaur dengan sensasi-sensasi aneh ternyata membuat diriku semakin gejolak dalam diriku semakin meninggi, bahkan lebih tinggi daripada ketika aku melakukannya sendirian tadi.

Sebaliknya yang kurasakan pada P. Siraj, dia semakin menggila mengetahui aku tak mengenakan dalaman, tangannya mulai beringsut ke sana kemari, dan celakanya gejolakku yang menguat malah membuatku membiarkan saja tindakan nakalnya itu. Dari bokongku tangannya beralih merabai s*****kanganku yang sudah membasah akibat cumbuannya. Jemarinya itu? aduh? seperti bermata saja layaknya sehingga langsung menemukan pusat syarafku yang paling peka yang sudah tak tertutup apa-apa, dan menggelitik-gelitik di sana. Adduuuhh? tubuhku memberikan respons berupa geletar-geletar tak terkendali, dan kurasakan pak Siraj semakin meningkatkan cumbuannya pada s*****kanganku. Bukan itu saja, tubuhnya yang berat kuarasakaan memepetku pada pintu pagar sehingga aku hanya bisa bertumpu pada jeruji pintu pagar dan tanganku hanya bisa berpegangan erat-erat di sana. kendaraan yang sesekali melintas di depan rumahku bukannya membuat gejolakku surut, tetapi sebaliknya, aku merasakan adrenalinku semakin terpompa kuat-kuat, sehingga akhirnya aku harus menyerah bulat-bulat pada cumbuan pak tua ini.

Jemari-jemari pak tua ini semakin intens merabai, menyentuhi, menekan, area s*****kanganku, dan yang lebih parah lagi seperti kurasakan menggenthel kelenjar syarafku yang paling peka, sehingga mau tak mau sesekali kurasakan juga denyutan-denyutan yang membersitkan kebasahan dari dalam rongga kewanitaanku mulai muncul. Makin lama aku merasakan denyutan-denyutan itu makin sering, dan makin kontinyu? aduhh? tiba-tiba aku merasa sebentar lagi kenikmatan itu akan melandaku seiring makin gencarnya cumbuan lelaki tua ini pada genitalku yang terpeka.
Aduhh? aku merasakan sesuatu yang kasar dan panas tiba-tiba terbenam dalam tubuhku, mungkin cuma satu, tapi begitu liar menekan, menusuk, dan berputar-putar dalam tubuhku, membuatku kelojotan. Ya ampun? Tuhann? aku sungguh-sungguh sudah tak kuat lagi? genitalku sudah tak mampu lagi menerima rangsang yang sedemikian liar dan kontinyu. Panggulku sudah makin kuat berkedut, dan kewanitaanku sudah terus berdenyut, makin kuat, makin kuat?serasa menahan bergalon-galon cairan yang telah siap termuntahkan. Dan?. ahhh?. akhirnya tiba juga?jiwaku serasa terbang, tubuhku melorot berkelojotan, ya? ampunn?tiba-tiba aku merasa cairan dari dalam tubuhku tumpah begitu saja, seperti air bah menerjang bendungan rapuh? serasa bergalon-galon?mengalir?menerjang-nerjang dinding rahimku yang terus berkedutan? ampuuunnn??.Tuhann? ini? ahhh? nikmat sekali?. aku terus melorot, hingga jatuh terduduk di atas lantai paving halaman rumahku? memalukan sekali?

Baru sekali ini, baru sekali ini, Pak Siraj mengerti bahwa saat itu aku sudah mencapai kelimaks, sehingga ia membiarkanku terduduk menggelesot di lantai. Ia tak menyentuhku, seakan ingin membiarkanku beristirahat sejenak. Walaupun begitu ia masih saja bertanya padaku apakah aku sudah keluar? Tentu saja pertanyaannya itu hanya makin membuatku malu, aku hanya bisa menunduk. Masih kurang puas saja dengan kediamanku, dia mengulangi lagi pertanyaannya itu sehingga akhirnya dengan perasaan sangat malu, aku mengangguk, barulah ia mengerti. Celakanya lagi ia masih saja bertanya apakah aku merasa enak atau nikmat? Ohh, pak tua-pak tua? kalau saja ia tahu apa yang baru saja kualami tentu ia tak akan bertanya seperti itu. Tapi lagi-lagi aku ternyata mengangguk, hilang sudah rasanya mukaku saat itu.

Setelah sekian detik berlalu, pak Siraj menarik tanganku agar aku berdiri. Sebisa mungkin aku berdiri walaupun agak sempoyongan. Ia menuntunku masuk ke dalam rumahku seperti sedang menuntun makhluk yang rapuh?
Lampu rumah yang belum kunyalakan emmbuatku merasa kurang nyaman sehingga tanpa kusadari aku menekan saklar, maka terang-benderanglah ruangan dalam ruang tamuku. Aku tak menyadari bahwa itu aku kembali memicu aksi liar Pak Siraj. Dasterku yang transparan membuat jakun pak tua ini turun naik, dan sebelum aku menyadarinya tiba-tiba ia sudah memelukku erat-erat, tangannya dengan liar dan ganas meremas-remas buah dadaku yang putingnya tercetak jelas? Tubuhku yang masih lemas tak mampu memberikan respons yang memadai, sehingga pak tua ini begitu leluasa menguasai tubuhku. Dalam keadaan yang masih lemas dan letih serta belum mampu merespons apa yang akan terjadi selanjutnya, terbelalak mataku memandang sarung lelaki tua ini menggunung seperti terdesak sesuatu. Saat itu tahulah aku, bahwa Pak Siraj ternyata tidak lagi mengenakan pakaian dalam, ia telah telah begitu terangsang dan ingin segera mencumbuku kembali. Beberapa kali bahkan aku merasa tonjolannya menyenggol paha dan perutku. Celakanya aku sudah tak berdaya saat itu untuk sekedar menghindar dari hadapannya. Lalu tiba-tiba saja dengan beringas ditariknya dasterku ke atas, melewati kepalaku, dan?lepas?

Ohhh?Tuhann? aku telanjang lagi sekarang?. di hadapan pak tua yang sesungguhnya lebih pantas menjadi kakekku? Lebih terkejut lagi aku manakala ia tiba-tiba melapaskan sarungnya sehingga bisa kulihat dengan jelas?.
P. Siraj mulai menarikku ke sofa ruang tamu dan memberangkinku di sana. Tuhann?maafkan aku jika ia menginginkanku lebih dari sekedar bercumbu.

Dalam ketelanjanganku, di luar dugaanku tiba-tiba aku merasakan sensasi-sensasi yang memompa hasratku yang telah padam. Aku merasa sexy sekali dalam keadaan seperti ini dipelototi oleh pak tua ini, dan diraba-raba, disentuh-sentuh sesukanya, dan berkali-kali aku merasakan tonjolannya yang sudah terbebas itu bergesekan dengan pahaku yang sudah terbuka. Tetapi rupa-rupanya dia belum berminat untuk menggagahiku, sekalipun dia tahu bahwa saat itu aku sudah dalam keadaan lemah dan tak mampu lagi melawan. Ia masih ingin pergulatan ini tidak berakhir sekejap nampaknya, sehingga dengan liar diraihnya salah satu payudaraku dan dihisapnya dengan kuat dalam mulutnya yang berbau tembakau, aku hanya bisa memejamkan mata, merintih, dan menceracau? Kalau bisa saat itu aku ingin bisa melawan gejolak yang mulai mengharubiru seluruh tubuhku. Tapi sayang aku tak mampu dan merasakan sebaliknya. Seperti seorang bayi yang kehausan Pak Siraj menetek pada putting payudaraku berganti-ganti kiri-kanan, kiri-kanan. Diperlakukan seperti itu sedikit demi sedikit gejolak jiwaku bangkit, semakin kuat, dan semakin meninggi. Aku benar-benar tak bisa menhan gejolak ini lantaran area payudaraku adalah salah satu bagian genitalku yang sensitif, yang bila disentuh secara kontinyu akan menimbulkan gairah yang teramat nikmat. Dan lelaki tua yang bersamaku saat ini seperti tak pernah puas-puasnya menggeluti payudaraku silih-berganti membuatku serasa melayang-layang. Entah sudah berapa lama ia menetek di situ dan meninggalkan bekas-bekas merah pada kulit buah dadaku. Duhh, dalam hatiku membatin bagaimana jika suamiku tahu bercak-bercak ini? Tetapi sebelum sempat pikiranku m*****lang buana dan dipenuhi rasa bersalah, kurasakan tubuh tua ini merangsek turun sembari kepalanya terus saja mencucupi payudaraku, tangannya kadang menggantikan meremasnya, mulutnya yang keriput itu kulihat turun menyusuri dadaku, lalu turun ke perut, menjilat-jilat pusarku beberapa saat sehingga membuatku menjerit-jerit kegelian, lalu menyusur turun lagi, dan turun lagi melewati bagian bawah perutku yang selalu kurawat dan kucukur sehingga tak nampak sehelai bulu pun di sana, dan terus saja sambil mencucup-cucup di sekitar itu. Sesaat ada perasaan bersalah menyeruak di benakku, tetapi hanya sesaat. Bibir pak tua itu begitu cepat melenakan rasa bersalahku, dan kurasakan betapa lidahnya yang panas secara perlahan menyentuh kelopak kewanitaanku, membelahnya, dan menggeseknya tepat di atas kelenjarku yang paling peka. Aku kaget, aku serasa tersengat, aku merintih, meronta, dan mengerang tanpa rasa malu lagi ketika kurasakan lidah pak tua ini beberapa kali mengusap tepat pada kelenjarku, makin lama makin cepat sehingga membuatku lupa diri. Aku melihat kepala berambut putih itu bergerak-gerak di bawahku, kepalanya agak terbenam di antara kedua pahaku. Segera kujambak rambutnya hingga terjatuh kopiahnya, tetapi kepala pak tua itu masih setia bertengger di antara s*****kanganku yang terbuka lebar, lidahnya terus mencecar pertahanan terakhirku. Lama-lama aku tak lagi menjambaknya seiring kelezatan yang membuncah di dalam tubuhku, aku malah menekan dalam-dalam kepala tua itu ke s*****kanganku, menambah kuatnya rasa sedap yang menyengati diriku. Bisa kurasakan betapa bibir pak tua ini berulangkali mencucup kelenjarku, menyedotnya kedalam mulutnya, mengunci kelenjarku di antara bibirnya, dan menggeseknya dengan ganas. Adduhhh? seirng gempuran yang makin menjadi pada genitalku, kedutan-kedutan, denyutan-denyutan, mulai muncul semakin intens, semakin kontinyu, dan semakin kuat, sehingga kurasakan beberapa desiran halus menyeruak dari dalam kelopak kewanitaanku. Pantatku terasa basah kuyup. Aku semakin tak bisa bertahan, denyutan-denyutan dalam rahimku kurasakan makin sering, makin kuat dan mendesak-desak, seperti menabraki dinding-dinding syaraf sepanjang rahimku. Makin lama aku makin tak tahan, desakan dari dalam rahimku semakin menguat seiring jeratan lidah pak Siraj pada kelenjarku, dan aku merasakan pertahananku sudah hampir jebol. Luar biasa apa yang kuterima kali ini, hingga kedua kakiku pun tanpa kusadari telah melingkar di atas pundahkPak Siraj, menekannya kuat-kuat, sehingga semakin bertambah-tambah kenikmatan yang menyengati tubuhku. Aku merasa saat itu telah berubah menjadi wanita yang jalang? ya seorang wanita jalang yang sedang diamuk berahi? yang sedang megap-megap menanti datangnya sebuah letupan. Bahkan? kali ini? aku tak kuasa lagi menahan eranganku, rintihanku, jeritanku?

Tiba-tiba aku merasakan letupan dari dalam rahimku, menjalar-jalar sepanjang lorong di dalam tubuhku, seperti menyetrum setiap pembuluh syarafku yang peka. Meletup begitu saja tanpa tertahan lagi. Ah?ah?ahhmm?
Maka, tumpahlah apa yang seharusnya tumpah?Seketika itu kurasakan seluruh tubuhku menggeletar, pandanganku nanar, serasa jiwaku melayang tinggi, ragaku serasa terendam ke dalam samudera kenikmatan ragawi yang tak bertepi. Sedetik, dua detik, tiga detik, sepuluh detik, entah berapa lama? kesadaranku seperti hilang, yang kulihat hanya warna-warni yang berpendar dimataku lalu menjadi kabur?

Entah berapa lama aku melihat warna-warni itu mengabur ketika jiwaku terasa melayang-layang. Lalu perlahan-lahan tampak olehku warna-warni itu berubah jelas dan nyata sehingga bisa kurasakan kesadaranku telah hampir sepenuhnya pulih. Ketika itu seperti terlambat kusadari bahwa Pak Siraj telah mengambil posisi menindihku, pinggulnya tepat di atas pinggulku yang terbuka, dan tubuhnya di antara kedua kakiku yang terkuak lebar., dan aku merasakan ototnya telah menempel pada bawah perutku. Tahulah aku, pak tua ini hendak menyetubuhiku, hendak merenggut kehormatanku yang sesungguhnya hampir tak bersisa lagi. Sedangkan saat itu tubuhku terasa begitu ringan, lungkrah, lemas, dan benar-benar tak mampu menghindar lagi. Aku hanya mampu menunggu dengan perasaan was-was dan perasaan berdosa yang perlahan menyeruak di antara kesadaranku. Tapi sekali lagi aku terlambat, bahkan kedua kakiku yang telanjang begitu lemas ketika ia membukanya lebar-lebar dan menekuk lututku. Aku merasakan otot itu mulai menempel tepat pada kelopakku yang masih membasah dan licin. Lalu kurasakan Pak Siraj mulai mendorong pinggulnya ke arahku sehingga bisa kurasakan kelopakku tertekan ke dalam, satu kali? luput, aku lega, dua kali? meleset? aku merasa ngeri jika tekanannya yang ketiga kali akan menodaiku, jadi aku memiringkan pinggulku ketika ia mulai mendorong lagi. Ya Tuhaann? aku seperti terselamatkan ketika ia tak kunjung bisa menembusku. Pak Siraj merasa penasaran, dibukanya kedua kakiku makin lebar, bahkan kali ini ditumpangkannya kedua kakiku tersangkut pada bahunya, sehingga bisa kurasakan saat itu kalau kelopakku kewanitaanku langsung bergesekan dengan ototnya tanpa penghalang sedikitpun. Aku merasa takut? takut sekali? Dan ia mendorong pinggulnya lagi ke arahku? tangannya yang keriput itu membantu mengarahkan ototnya tepat pada kewanitaanku, sehingga bisa kurasakan ototnya mulai menyelusup seakan membelah kelopak kewanitaanku. Aku takut sekali, aku menahan, aku mengejan, dan pinggulku bergerak semampu yang aku bisa walaupun tidak leluasa. Berhasil? aku lega? Pak Siraj mencoba lagi, mendorong lagi, kali ini meleset lagi?dan kujepit di antara kedua pahaku yang masih licin dan membasah. Ia menggeram, ia mendesis. Mungkin ia mengira sudah berhasil, sehingga terus didorongnya pinggulnya berulang kali ketubuhku sampai kepalanya terdongak ke atas? Tiba-tiba kurasakan tubuhnya bergetar sekalipun baru sekian menit memompa. Mendadak kurasakan perutku tersiram sesuatu cairan yang dingin dan kental, begitu kuat menyemburnya sehingga sampai terpercik ke payudaraku. Seketika itu ia seperti menyadari sesuatu yang salah tempat manakala matanya memandang ke bawah, ia telah kelimaks dengan cara yang tak semestinya, Ia telah gagal menyetubuhiku. Aku lega dan senang tak bisa kupungkiri, karena berarti ia gagal merenggut kehormatanku. Sementara Pak Siraj nampak kecewa sekali. dari mulutnya yang keriput berungkali terucap kata "maaf". Mungkin ia mengira aku menginginkan persetubuhan ini terjadi sewajarnya, padahal dalam hatiku bilang huh siapa yang mau! Mungkin ini karena kesadaranku telah kembali pulih seutuhnya sehabis kelimaksku dua kali sepanjang percumbuan itu. Pak Siraj ambruk di sebelahku seperti kain basah. Ia menutupi bawahnya dengan sarungnya yang kusut masai.

Ketika kulihat Pak Siraj telah loyo lunglai dan nampak kehabisa tenaga, aku mulai bisa menguasai diriku. Dengan tubuh yang masih telanjang bulat bergegas aku masuk ke dalam kamar, mengelap semua cairan kental yang melekat di tubuhku dengan perasaan yang -entah mengapa- terasa begitu menjijikkan. Lalu kupakai kembali semua dalamanku, Kuganti dasterku yang menggoda itu dengan baju piyama yang lebih tertutup dan sopan. Entah mengapa aku melakukan itu aku tak menyadarinya benar. Saat itu yang kurasakan gairahku yang tadi seperti api yang menyala-nyala dan seolah membakarku, kini terpadami begitu saja. Seperti tak bersisa. Tak ada lagi gelora, tak bersisa lagi gairah, dan begitu cepat kurasakan bagian bawah tubuhku mengering dengan cepat.

Ketika keluar kamar menuju ruang tamu, kulihat P. Siraj sudah merapikan dirinya, sarungnya, safarinya, kopiahnya sudah rapih seperti kedatangannya sekalipun kali ini agak kusut, terutama sarungnya. Ia memandangiku dengan tersenyum kecut.

"Sebenarnya saya ingin agak lebih lama di sini Jeng..itu kalau Jeng Sari tak keberatan."
"Ehm, maaf Pak, ini sudah larut, saya takut akan tidak baik nantinya, terutama kalau ada tetangga yang tahu keberadaan Bapak di sini." Entah mendapat kekuatan darimana aku bisa beralasan seperti itu tanpa bermaksud menyinggung perasaannya.
"Jadi? saya ini langsung pulang Jeng, tidak bisakah Bapak menunggu barang satu dua jam, nanti Jeng saya terapi lagi yang sesungguhnya.."
"Maaf Pak, sebaiknya mungkin lain kali saja"
"Jadi Jeng Sari masih bersedia untuk lain kali?"
"Iya, Pak," jawabku mantap tapi penuh kepura-puraan dalam diriku. Entah mengapa aku menjadi tidak nyaman pak tua ini berlama-lama bersamaku, entah mengapa saat itu aku ingin sendiri saja, dan aku merasa merasa muak..
"janji ya Jeng, lain kali.." aku hanya mengangguk sembari mengulurkan amplop kepadanya. Aku membayarnya karena ia telah kadung berjanji melakukan terapi kepadaku, bukannya untuk maksud lain karena ia telah memberiku kesenangan ragawi.

Malam itu aku merasa lega terselamatkan dari bencana yang besar dalam hidupku. Malam itu aku tidur dengan nyenyak sekali walaupun sesekali terganggu mimpi buruk akan sesuatu yang tak kupahami?. Entah mengapa aku tak lagi merasakan perasaan berdosa atau bersalah atas peristiwa yang baru saja terjadi. Hatiku terasa begitu datar dan tawar. Tapi satu hal yang akhirnya kusadari benar bahwa peristiwa demi peristiwa yang kualami itu benar-benar merubah diriku ke depannya 180 derajat.