Tampilkan postingan dengan label cerita selingkuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita selingkuh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 Juni 2014

Suami pergi melulu, istri tidurin aja

Nama gua Antok. Travel customer service perusahaan penyalur air minum. Bahasa awamnya sopir sekaligus tukang angkat galon air mineral duapuluh liter. Gak heran badan gua kekar. Bos bilang ini namanya company benefit. Sialan. Dulu gua termasuk orang kuliahan, tapi nyerah sebelom kelar. Otak tak mampu, kantong kering, motivasi payah. Jelek-jelek gini gua punya simpenan cewe cantik putih keturunan chinese. Sarjana lulusan perguruan tinggi and berduit. Rumah gedongan pakai AC. Ibu rumah tangga lagi. Apa gak hebat? Temen-temen gua pada bilang, prestasi kaya gitu kok dibangga-banggaain. Gua bales nanya, emangnya elu bisa apah? Gak peduli omongan orang, pokoknya gua pede. Manteb buat nulis di sini biar orang-orang pada tau semua.

Cewe gua namanya Lina. Umur tigasatu, anak umur lima sama tujuh. Biar gitu badan masih ramping. Tetenya kenceng dan pentilnya terjaga baik. Sampe hapal tuch, padahal dulu kalo pelajaran lupa terus. Katanya waktu anak-anak masih kecil pake botol. Yang terpenting itu memenya masih seret. Kok bisa? Bisa ajah berkat kemajuan teknologi operasi sesar. Ada bekas carutan di perut bawah. Kalo gak percaya lihat ajah sendiri. Suami pergi melulu, ikut perusahaan internasional. Katanya harus sering travel, biar cepat naek pangkat. Bodo amat aturan itu, pokoknya suami pergi melulu, istri tidurin ajah. Lagian cewe mana yang gak butuh temen ngobrol. Abis gitu ya lanjuting ke ranjang lah. Gak bener kalo cuma ngomong-ngomong doang. Guru bahasa Indonesia gua dulu bilang, jangan cuman bicara tapi juga kerja. Lupa gimana persisnya, pokoknya gitu maksudnya.

Cewe gua servisnya benar-benar yahood, termasuk kalo lagi gak mood. Pagi-pagi gua dateng nganter galon air. Mana si bibik, tanya gua. Ke pasar, jawabnya males tiduran. Emang bosen yach ditinggal suami melulu. Anak-anak sekolah, tanya gua liatin itu kaki putih mulus. Iyah, katanya sambil lihat TV. Satu tangan maju, masih gak cukup, pakai dua. Naek turun masuk-masuk balik daster. Halus di tangan, mesum di mata. Pantynya warna jambu, pusernya kelihatan lagi, wuih. Kok diam ajah, lagi gak minat yach. Gua gak peduli, kan udah ngaceng. Gua peloroting ajah pantynya. Buang ke ranjang. Gak nolak. Itu rambut menantang mengundang bencana ajah. Copot celana seragam gua, kolor gua. Buang ke ranjang. Si monas udah kenceng naek turun. Sabar ach, bentar lagi juga dapet itu meme istri orang. Angkat dasternya sampe atas pusar, buka dua kaki mulus putih rada lebar. Nurut kok. Gua naekin badannya. Posisi standar lah, kan si cewe lagi gak gairah. Tangan di samping badan, kaki dipas-pasin di antara dua kaki dia.

Helm coklat item gua mulai masukin celah merah jambu. Ssh, suara apa itu keluar dari mulut. Lanjuting terus, masuk separoh. Seret tapi kering, geli tapi kurang nikmat. Gua pompa pelan-pelan, nah tuch mulai basah. Langsung pentokin ajah si rudal. Uuhh. Banter itu suara sampe kepala keangkat dikit. Heheh. Pompa lagi rada kenceng. Nah, ini baru namaya licin rapet anget nikmat. Gua lirik ke bawah, badan gua yg item kasar numpukin badan dia yang putih halus. Serasa berkuasa gitu, bagaikan orang penting ajah! Biar mesra dikit, gua cipokin mulutnya. Dibales lagi. Nikmat buanget. Sedot-sedot lidah, nah tuh tangan pegangan punggung gua, mulai menikmati yach. Gua jilatin mukanya yang putih. Tambah kenceng goyang pinggul gua sampe kaki doi keangkat-angkat. Nempel lepas jembut gua ke si kecil itil. Teken-teken gesek-gesek biar geli-geli. Nah tuch bener khan, kakinya jadi ngerangkul ke bokong gua. Kalao ada orang ngintip, gua gak bisa dituduh memperkosa. Liat tuch posisinya kakinya kaya gitu, tul hak?. Tarik lagi, seret, licin. Amblas lagi, geli-geli, uenak bener. Cantik putih, istri orang lagi. Kapan lagi.

Gunung merapi mau meletus. Gua angkat badan gua sampe tangan lurus kenceng, perut bawah nempel ketat. Digoyang yach Lin, bisik gua jorok, gua mau kkluarrr nich. Gak perlu diperintah dua kali, kakinya diturunin. Gua lirik ke bawah lagi, pinggulnya yang bulat seksi putih mulai goyang naek turun. Buset. Gak kecepatan yang bikin punya gua sakit. Kan lagi peka-pekanya gitu. Gak terlalu pelan juga yang bikin kurang manteb ngecrotnya. Pokoknya paslah. Crot pertama. Pembukaan. Prrrottthhh dua kali. Yang ini paling banter sampe badan kejang and pantat ampir kram. Sambil digoyang lagi, geli-geli buanget dech helm gua! Peju gua yemprot dalem-dalem. Kalo gak diikat itu rahim abis operasi sesar dulu itu udah pasti hamil eluh. Gua tinggal kabur pastilah. Crot lagi. Crot, crot, rada dikit. Dikit lagi, dikit lagi. Tes, tes. Naaah abis jugah, gak mau rugi maksudnya. Badan ambruk. Punggung keringatan, torpedo masih nancep. Masih ajah digoyang tapi sambil pelan-pelan dibrentiin. Biar punya gua gak kaget gitu. Abis istirohat, gua pake pakaian. Gua sedot bibirnya tanda trima kasih. Tinggalin permen coklat buat anak-anak. Terus balik kerja. Ini baru yang namanya company benefit! Gimana rekan-rekan, hebat khan pengalaman gua? Entar nulis lagi pengalaman sama cewe gua ini waktu dia lagi mood. Lebih lengkap and rame, tunggu ajah.

Jumat, 04 Januari 2013

Mainan Pembawa Nikmat

Jam 18.30 aku dan Linda sudah meluncur di jalan. Ia menunjuk sebuah Mall, maka ke sanalah mobilku kuarahkan. Dari keterangan Linda pula aku tahu nanti mesti menuju ke salah satu sudut cafe terbuka di Mall tersebut. Di sana, menurut Linda pula, kita tinggal menjatuhkan apa saja; bisa sapu tangan, korek api, atau barang belanjaan. Setelah itu akan ada laki-laki yang berlagak mengambilkan barang yang jatuh itu. Kalau kita suka pada laki-laki itu tinggal bilang "OK" tapi kalau tidak suka tinggal bilang "Thanx."

"Kalau OK, mainan itu akan langsung nguntit kita, hi, hi, hi..," jelas Linda sambil cekikikan.
Aku pun menyambutnya dengan tertawa dan masih ada perasaan-perasaan tegang.
"Kamu bilang mainan?" tanyaku.
"Ya, kita semua di tempat fitness menyebutnya mainan, mainan pembawa nikmat, hi, hi, hi..," kata Linda lagi masih ditutup dengan tawa.

Untung lalulintas tak begitu padat hingga tepat jam 19.00 kami sudah tiba di sana. Cafe yang disebut Linda ternyata hanya warung terbuka biasa yang menjual aneka minuman dan makanan ringan. Tampak di sana sejumlah anak muda laki-laki dan perempuan.

"Yang cewek nyari cowok, yang cowok nunggu panggilan cewek," bisik Linda, dilanjutkan aksinya menjatuhkan saputangan tanpa menghentikan langkah melewati cafe tersebut. Aku pun tak mau ketinggalan menjatuhkan kaca mata gelapku. Betul saja tidak lama kemudian ada dua anak muda menghampiri dan mengembalikan barang-barang tersebut. Aku pandangan si pembawa kacamataku, seperti terkena sihir mulutku otomatis mengatakan "OK," demikian pula Linda yang mungkin merasa cocok dengan anak yang menghampirinya. Tanpa basa-basi lagi kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.

Setibanya kembali di tempat parkir, dua anak muda itu masing-masing mengenalkan diri.
"Ronny," kata pasangan Linda sambil mengecup pipi Linda kemudian menjabat tanganku. Linda pun membisikan namanya.
"Alvin," kata pasanganku sambil mengecup dan menggandeng pinggangku.
"Oh," hatiku terasa melayang meski hanya digandeng begitu saja.
Kemudian kubisikan pula namaku. Suasana yang lama hilang serasa kembali lagi. Segera pula kurugoh tas kecilku untuk mengambil kunci mobil.
Begitu hendak membuka pintu mobilku, Alvin merebutnya sambil berbisik, "Biar Ronny saja yang nyetir, kita di belakang."
Aku langsung mengangguk menyetujuinya.

Kami meluncur ke arah utara kota. Baru saja beberapa ratus meter meninggalkan halaman Mall, tangan Alvin sudah mulai beraksi. Ia mengusap-usap leherku, kemudian mendekat dan menciuminya dari samping. Tak ayal aku menggelinjang. Ciuman Alvin menjalar ke kuping, terus melaju, dan akhirnya mendarat di bibirku. Mendapat serangan yang sudah lama kurindukan, kontan kubuka bibirku langsung menyambut juluran lidah Alvin. Kami pun berpagutan cukup lama. Dari sudut mataku kulihat Linda pun merapat, terlihat gerakan tangannya menghampiri celana Ronny. Sejenak tampak Ronny mengangkat badannya, rupanya ia memberi ruang pada Linda untuk membuka resleting celananya dan mengeluarkan kemaluannya.

"Ehmm.. lumayan besar," demikian terdengar suara Linda, tapi tak kulihat lagi kepalanya karena sudah merunduk tenggelam di pangkuan Ronny yang sedang menyetir. Selanjutnya hanya kudengar suara kecupan dan kuluman mulut Linda yang rupanya sedang melakukan oral di kontol Ronny.

Aku sendiri mulai sibuk, lidah kami saling melilit dalam ciuman yang sangat hot. Alvin mulai meraba-raba pahaku, kemudian naik hingga sampai di bagian "V" celana dalamku. Aku bergeser memberikan ruang bagi tangannya agar bisa tepat di celah belahan memekku. Sementara tanganku pun mulai berani merayap tepat di atas sebentuk benda tegang di balik celananya. Kuelus-elus benda hangat yang berada di balik celana itu, dengan jari telunjuk dan jempol kujelajahi sepanjang batangnya. Aku punya kesimpulan kontol Alvin relatif besar, dari pengalamanku pula aku yakin saat itu belum mengeras sepenuhnya.
"Kalau sudah ngaceng sepenuhnya tentu besar sekali," begitu pikirku.

Alvin masih mengelus-elus celah memekku dari luar dengan jari tengahnya. Aku yakin celana dalamku jadi basah karenanya. Sementara itu mobilku terus melaju di tengah keramaian kota. Untung seluruh kaca mobilku berlapis pelindung cukup gelap. Kami bisa melihat ke luar tapi orang-orang di luar tak pernah tahu apa yang kami perbuat. Ada juga perasaan aneh ketika melakukan itu semua di tengah keramaian, tapi yang jelas nafsuku menjadi lebih bergelora hingga pagutanku di mulut Alvin kian ganas. Apalagi ketika mobil berhenti di lampu merah, aku malah membayangkan orang-orang di mobil di kiri-kanan kami sedang menyaksikan adegan-adegan hot ini. Begitu pula ketika ada orang lewat menyebrang, ingin rasanya aku ditonton mereka. Ahh.. pendeknya pengalaman baru yang sungguh mengasyikan. Tanganku pun mulailah membuka ikat pinggang celana Alvin, langsung pula menarik resletingnya. Langsung kontolnya meloncat keluar karena ternyata Alvin tak memakai celana dalam.

"Wow, besarnyaa..," teriakku agak kaget begitu melihat kontol Alvin.
Lantas sambil menggenggam batang kontol pacar baruku itu aku berbisik, "Vin, apa kesukaanmu?"
"Blow job," jawab Alvin ringkas. Aku terdiam belum mengerti.
"Iseplah..," kata alvin menjelaskan.
Aku pun senyum dengan menggenggam kontolnya lebih erat lagi, "Jadi blow job itu artinya ngentot pakai mulut?" tanyaku bermanja-manja dan pura-pura bodoh.

Setelah itu tak banyak bicara lagi kujilati bagian kepala kontolnya Alvin. Ini adalah bagian pemanasan yang paling kusuka ketika Amri masih hot-hotnya. Maka ketika kujilati, kuciumi, dan kuemut-emut kepala kontol Alvin, aku melakukannya dengan intens sekali. Alvin pun segera melenguh merasa nikmat, tangannya dengan agak kasar menyingkapkan celana dalamku ke pinggir hingga jarinya kini bisa menyentuh langsung alat kenikmatanku yang sudah lama tak tersentuh laki-laki itu.

"Sluurrpp..," mulutku maju lebih jauh lagi melahap batang kontol Alvin, sejenak kutahan di sana sambil kurasakan bahwa kontol Alvin ternyata masih tumbuh membesar. Tahu begitu maka aku merangsangnya lebih keras lagi karena ingin segera tahu seberapa besarnya jika sudah ngaceng sepenuhnya.

"Sluurrpp..," mulutku maju lagi hingga separo kontol Alvin masuk, terasa ada yang berdenyut dan tumbuh mengembang. Kubiarkan kutahan di dalam, dan kian lama terasa mulutku kian penuh hampir tak bisa lagi menampung kebesaran kontolnya. Saat itulah kulepas mulutku, kupandangi benda yang ternyata tampak gagah sekali itu. Seluruh batangnya mengkilat karena basah oleh ludahku, kugenggam di bagian pangkalnya, kogoyang-goyang.. Ohh.. benda yang sangat kurindukan kini ada digenggamanku.

Sekali lagi "Sluurrpp..," kulahap sekaligus kontolnya.
Kini kuusahakan bisa masuk sedalam mungkin. Ternyata betul-betul sungguh besar, hanya lebih sedikit dari setengahnya sudah menyentuh tenggorokanku. Agak sesak tapi kubiarkan tenggelam di dalam untuk beberapa saat. Sambil kuemut-emut kontolnya, perlahan-lahan kupelorotkan celana Alvin hingga lepas. Seusai itu, Alvin pun berusaha memelorotkan celana dalamku. Di ruang kursi mobil yang sempit, ternyata usaha melepas celana dalam itu menjadi tidak mudah. Masalahnya aku mau melepasnya tanpa mau melepas kuluman mulutku di kontolnya, demikian pula Alvin seperti tak mau kehilangan memekku.

Setelah berjuang keras akhirnya lepas pulalah celana dalamku. Alvin kini dengan merdeka mulai bisa menusukan jarinya yang besar. Ohh.. baru dengan jari itu saja aku sudah merasa melayang, maka kurespon sodokan jarinya dengan memaju-mundurkan pantatku, sementara mulutku pun mulai mengangguk-angguk memberikan gerakan kontol Alvin agar keluar-masuk.

"Ohh.. Tarsih, ohh.. dewiku, sedap sekali sedotanmu.. memekmu pun sungguh masih ketat sekali.. aku pengen segera mengentotnya," erang Alvin karena nikmat. Aku merasa begitu tersanjung, maka segera aku lepaskan kuluman, naik ke pangkuannya dengan kontol Alvin diusahakan tak lepas dari genggamanku. Kedua kakiku kini ada di atas kursi mobil, dengan posisi jongkok begini kusentuh-sentuhkan kepala kontol Alvin di celah memekku, sesekali disentuhkan pula ke kelentitku yang sudah sangat peka.

Kemudian, "Bless.." sekaligus kutanamkan kontol besar itu dengan tak sabar.
"Ohh.. ahh..," aku pun mengerang karena kaget sendiri merasakan kontol yang begitu besar melesak masuk. Demikian kerasnya eranganku sehingga membuat linda bangkit dari kegiatannya kemudian melirik ke belakang.
"Gimana, asyik Teh Tarsih?" tanya Linda menggodaku yang sedang nikmat.
"I.. i.. yaa, Linda.. Kontol Alvin gede sekali, asyik sekali," jawabku sambil mulai menggoyang-goyangkan pinggulku.

Pada saat itu pula sempat kulihat lagi keramaian kota. Dengan posisi sudah mulai sanggama, dalam keadaan kontol pasanganku sudah tertanam di memek laparku, melihat keramaian di luar kian membuat aku terangsang lagi.
Maka kugenjot kontol Alvin lebih hebat lagi, hatiku seolah-olah berteriak kepada orang-orang di jalanan, "Heii.. orang-orang lihatlah.. lihatlah aku lagi ngentot dengan nikmat sekali.. ngentot kontol gede.. hhmmhh.. ahh."

Gerakan pantatku turun-naik di atas kontol Alvin kian cepat, Alvin pun sesekali membalasnya dengan mengangkat pantatnya hingga kontolnya tertanam sepenuhnya di memekku. Rasa dahagaku yang sudah cukup lama tak merasakan kontol, rupanya membuat nafsuku jadi sangat berlebihan, sehingga aku tak bisa mengontrol dan membuat persetubuhan berlangsung begitu cepat.

"Ohh.. Vin, Alvin.. entot terus, entot memekku yang lapar ini.. entot, jangan berhenti.. ohh teruss.. aku hampir sampai di puncak.. teruss.. ohh.. ohh.. ohh.. ahh!" Sebuah erangan panjang menandakan aku sudah mencapai orgasme.

Sementara aku tahu bahwa Alvin masih segar bugar. Karena itu kuelus kepalanya untuk menghibur, sementara Alvin membenamkan wajahnya di celah buah dadaku. Dengan kontol yang masih tertanam di memekku, dijilatinya seluruh celah dari lembah payudaraku, kemudian naik ke puting susu sebelah kiri, melintas lagi di celah lembahnya dan pindah ke puting susu sebelah kanan, sesekali mendarat agak lama di salah satu puting susuku yang sejak tadi sudah begitu keras. Di isap-isapnya di situ, adakalanya digigit-gigit kecil sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nimkat.

Sampai pada adegan ini sudah terpikir pula untuk membalas kenikmatan yang telah diberikan oleh Alvin, tapi sementara itu pula aku berkesempatan melihat ke arah luar jendela mobil untuk melihat ke arah mana kira-kira mobil ini melaju. Dengan sekilas aku segera tahu mobil sedang melaju ke rah utara, maka aku tanya ke Ronny atau pun Linda yang juga sedang asyik di depan, "Heh, sedang menuju ke mana kita ini?"

Yang menjawab ternyata Linda dengan tanpa mau melepaskan emutan mulutnya di kontol Ronny sehingga suaranya seperti suara orang yang tersumpal, "Mmpphhff.. ki.. fftaa.. kee.. ff 'L" saa.. phhjaa.. di sana.. phhpp.. ada hotel mmff.. hotel.. yang asyikk.. mmff.. slrupp."

Aku sebetulnya setuju-setuju saja, tapi tiba-tiba saja muncul pikiran lain sehingga aku protes, "Nggak, deh, oohh.. eyy..," kalimatku terhenti karena kaget dan geli oleh gigitan Alvin di puting susuku, "Balik ke rumahku saja..," lanjutku sambil tetap mengelus-elus kepala Alvin yang terasa pula kontolnya masih berusaha menusuk keluar-masuk di memekku.
Mendengar protesku Linda yang tenggelam di antara s*****kangan Ronny tiba-tiba bangkit, "Bener nih?"
"Serius, kita balik ke rumahku saja.." jawabku tegas.

Ronny dan Linda tampak sejenak saling pandang, tapi kemudian sepakat tak berani melawan permintaanku. Maka di satu persimpangan Ronny memutar balik haluan, kemudian meluncur menuju ke rumahku yang sedikit agak di bagian selatan pusat kota.
Setelah tahu kendaraan yang kami tunggangi menuju arah balik, maka aku pun segera ingat kepada tugas ingin membalas kenikmatan yang telah diberikan Alvin.

"Kamu.. belum keluar, ya, sayang.. kontolmu masih ngaceng keras.. biar aku bikin keluar, yaa..," kataku sambil mengangkat kepala Alvin kemudian memagut bibir, dan kami kembali berciuman cukup lama.

Tanpa melepaskan bibir dan lidah kami yang saling berjalin, aku mengangkat tubuhku pelan-pelan sehingga sedikit demi sedikit kontol Alvin keluar dari jepitan memekku. Menj***** kepala kontolnya lepas cepat-cepat tangan kiriku menuju ke bawah untuk menyambutnya dan menggenggamnya. Terasa sekali kontol Alvin begitu licin karena basah oleh cairan orgasme yang tadi telah keluar dari memekku.

Sambil sedikit kukocok-kocok kontol yang licin itu, aku berbisik pada Alvin, "Kamu pernah di 'tits-fucking,' dientot pake payudara, sayangg.. Sini aku kasih tits-fucking sambil sesekali aku sedot kontolmu dengan mulutku yang haus ini, yaa..?".
"Belum.. pernah, ohh.. asyik sekali.. sejak semula aku sudah tertarik sama susu gedenya Tante Tarsih.. asyik sekali kayaknya dijepit di sana.. ayo, dong, Tante.. Al sudah tak tahan nih..," jawab Alvin kelihatan sudah tak sabar.
"OK sayang.. sini taro kontolmu di antara susu Tante..," kataku sambil menyangga kedua susuku dengan kedua tanganku.

Posisiku agak sedikit turun dari jok mobil, sementara Alvin sedikit naik dengan mengarahkan kontolnya di antara celah dua bukit payudaraku. Begitu tiba di sana langsung aku sambut dan aku tekan payudaraku hingga menjepit kontol Alvin.
"Ahh.. uuhh.. Tantee..," lenguh Alvin kenikmatan sambil mulai mengocok-kocokan kontolnya di sana.
Kontolnya yang memang lumayang panjang dan gemuk, sesekali bagian kepalanya menyentuh daguku. Dengan begitu memudahkan aku untuk bisa menyambutnya dengan mulutku.

Dengan sedikit merunduk dengan mulut telah siap terbuka, maka kontol Alvin pun sesekali masuk di mulutku. Setelah beberapa kocokan, Alvin menghentikan gerakannya. Aku tahu Alvin minta kontolnya diisap, maka segera pula aku merunduk agak jauh lagi sehingga sebagian kontolnya bisa masuk ke mulutku. Kutahan dan kubiarkan terbenam di sana untuk beberapa saat, ketika di dalam kuemut-emut mulutku sambil menggerak-gerakan lidahku menyentuh-sentuh batang dan kepala kontol Alvin. Ohh.. luar biasa sekali, aku bisa merasakan langsung bekas cairanku sendiri di kontol Alvin.

Adegan dan wanginya cairan memekku sendiri ini sungguh membuatku terangsang kembali. Nafsuku untuk bersetubuh sudah kembali pulih, ingin sesungguhnya aku segera naik kembali menunggangi kontolnya Alvin. Tapi kuputuskan untuk meneruskan memberikan tits-fucking sambil melomoh-lomoh kontolnya dan sesekali kusedot-sedot, kuisap-isap.

Alvin sendiri kelihatan sekali merasa nikmat dan bahagia dengan pelayanan itu, "Oohh.. emmhh.. nikmat sekali rasanyaa.. Tantee.. teruss.. jepit terus dengan susu tante yang gede itu.. ohh.. ya, sedott, jangan berhenti.. tantee.. sedapp, wah sudah kuduga tante ini hebat.. aku mau deh setiap hari ngentot sama Tante Tarsih," kicaunya.

Mendapat pujian itu ditambah berahiku sendiri, maka aku kian bersemangat menjepitkan susuku dan nyedot kontolnya sampai pipiku kempot saking kuatnya. Kurasakan gerakan maju-mundurnya Alvin pun kian deras, kontolnya terasa sudah sangat tegang sekali, aku tahu itu adalah tanda-tanda Alvin sudah kian dekat ke puncak kenikmatannya. Tak ayal aku pun mengimbangi gerakan-gerakan pantatnya dengan semakin bersemangat.

Hingga tak lama kemudian, "Oohh tantee.. teruuss.. aku sudah hampir.. sudah dekatt.. teruss.. ohh.. uhh.. mmhh.. ohh.. uhh.. mmhh.., aku tak tahan lagii.. keluarin di mana tantee..," erangan dan kicauan Alvin bercampur aduk.
"Keluarin di mulutku saja.. sayangg.. ohh.. mari penuhi mulut tante yang lapar ini dengan spermamu yang hangat.. ayo keluarin.. sayangg," jawabku ingin segera melihat pasanganku mencapai puncak kebahagiaannya.
"I.. i.. ini dia tantee.. aku keluarr.. huuhh.. ahh..," teriak Alvin, bersamaan dengan itu kurasakan kontolnya menjadi super tegang diiringin meletupnya semburan air mani dari kontolnya hingga membentur pangkal tenggorokanku.

Begitu banyak air mani yang ia keluarkan hingga mulutku tak sanggup menampungnya. Sebagian langsung kutelan, sebagian lagi kubiarkan keluar di atas kedua payudaraku sambil tak henti-hentinya aku teruskan mengocok kontolnya. Luar biasa sekali, ketika kukocok di luar pun sperma Alvin masih meluap demikian banyak sehingga membanjiri seluruh permukaan buah dadaku, kemudian meleleh turun membasahi sebagian perutku.

"Mmhhmmffhh.. Al, sayangku.. luar biasa banyak sekali sampai banjir..," kataku sambil menyusut air maninya yang turun ke perut untuk kemudian kujilati lewat tanganku hingga bersih. Begitu pula yang membasahi buahdada-ku, aku coba untuk menyendoknya dengan tangan kemudian aku lahap pula, lantas dengan sengaja kuperlihatkan pada Alvin ketika menjilat jari-jariku yang masih bersisa air maninya, berulang-ulang kujilat hingga bersih. Tak lama kemudian terdengar kehebohan di kursi depan, Linda setengah berteriak-teriak sambil mengocok kontol Ronny yang masih tetap di belakang kemudi.

"Ayoo.. Ronny-ku, keluarkan.. tuntaskan sayang.. aku nggak mau kalah sama Teh Tarsih.. aku pun ingin sperma hangatmu.. ayo keluarkan."
"I.. i.. iya tante Linda, kocok terus, saya sudah hampir, kocok yang keras.. ehh.. sambil diemut lagi.. tante..," pinta Ronny.

Kemudi mobil sedikit agak bergoyang, aku dan Alvin saling berpandangan lantas tersenyum. Kontol Alvin yang sudah melembek masih di dalam elusan tanganku, Alvin pun dengan mesra tak lepas-lepasnya mengelus bibir memekku sambil mengecup-kecup puting payudaraku. Rupanya dia betul-betul terpesona oleh kebesaran buah dadaku.

Lagi-lagi suara Ronny terdengar, "Yaa.. yaa.. ahh.. uhh.. ya tante, hampir tante.. aku mau keluar nihh.."
"Ya, ya, ya, keluarkan saja di mulutku," kata Linda yang rupanya tak mau kalah dengan aku.
"Emmhh.. ahh.. tantee.. aku keluarr..," erangan panjang terlepas dari mulut Ronny.

Tapi bisa kupastikan Linda sedang sibuk dengan limpahan sperma pasangannya. Tak ayal, mobilku pun jadi penuh oleh aroma sex. Aku sendiri, anehnya, merasa begitu bahagia dan sangat menikmati permainan yang nikmat ini. Tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan gerbang rumahku.

Linda tiba-tiba bangkit dari kursi depan lantas bertanya kepadaku, "Eh, Teh Tarsih.. ini betul, serius.. gimana kalau suamimu ada di rumah?"
"Serius, dan memang aku ingin dia tahu," jawabku tegas.
"Yang bener?" tanya Linda lagi masih ragu.
"Bener, ayo Ronny masuk saja jangan ragu-ragu," kataku.
"Baik, tante," jawab Ronny sambil memasukan mobil.
"Ya, nanti kita teruskan lagi permainannya, ya!" sambungku dengan suara menggoda.

Mobil pun masuklah ke halaman rumah, langsung masuk garasi dan kami segera turun dengan pakaian masing-masing yang masih berantakan. Pakaianku basah di bagian depan karena terkena limpahan spermanya Alvin.


TAMAT

Kisah Perselingkuhan Ridha

kisah perselingkuhan1

Kehidupan kami biasa saja, dari segi ekonomi sampai hubungan suami istri. Aku dan suamiku cukup menikmati kehidupan ini. Suamiku yang kalem dan sedikit pendiam adalah seorang pegawai swasta di kotaku ini. Penghasilan sebulannya cukup untuk menghidupi kami bertiga. Namun kami belum begitu puas. Walau bagaimana kami harus merasakan lebih bukan hanya sekedar cukup.

Karena jabatan suamiku sudah tidak mungkin lagi naik di perusahaannya, untuk menambah penghasilan kami, aku meminta ijin kepada Mas Hadi untuk bekerja, mengingat pendidikanku sebagai seorang Accounting sama sekali tidak kumanfatkan semenjak aku menikah. Pada dasarnya suamiku itu selalu menuruti keinginanku, maka tanpa banyak bicara dia mengijinkan aku bekerja, walaupun aku sendiri belum tahu bekerja di mana, dan perusahaan mana yang akan menerimaku sebagai seorang Accounting, karena aku sudah berkeluarga.

"Bukankah kamu punya teman yang anak seorang Direktur di sini?" kata suamiku di suatu malam setelah kami melakukan hubungan badan.
"Iya... si Yanthi, teman kuliah Ridha..!" kataku.
"Coba deh, kamu hubungi dia besok. Kali saja dia mau menolong kamu..!" katanya lagi.
"Tapi, benar nih.. Mas.. kamu ijinkan saya bekerja..?"
Mas Hadi mengangguk mesra sambil menatapku kembali.

Sambil tersenyum, perlahan dia dekatkan wajahnya ke wajahku dan mendaratkan bibirnya ke bibirku.
"Terimakasih.. Mas.., mmhh..!" kusambut ciuman mesranya.
Dan beberapa lama kemudian kami pun mulai terangsang lagi, dan melanjutkan persetubuhan suami istri untuk babak yang ketiga. Kenikmatan demi kenikmatan kami raih. Hingga kami lelah dan tanpa sadar kami pun terlelap menuju alam mimpi kami masing-masing.

Perlu kuceritakan di sini bahwa Rendy, anak kami tidak bersama kami. Dia kutitipkan ke nenek dan kakeknya yang berada di lain daerah, walaupun masih satu kota. Kedua orangtuaku sangat menyayangi cucunya ini, karena anakku adalah satu-satunya cucu laki-laki mereka.

Siang itu ketika aku terbangun dari mimpiku, aku tidak mendapatkan suamiku tidur di sisiku. Aku menengok jam dinding. Rupanya suamiku sudah berangkat kerja karena jam dinding itu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku teringat akan percakapan kami semalam. Maka sambil mengenakan pakaian tidurku (tanpa BH dan celana dalam), aku beranjak dari tempat tidur berjalan menuju ruang tamu rumahku, mengangkat telpon yang ada di meja dan memutar nomor telpon Yanti, temanku itu.

"Hallo... ini Yanti..!" kataku membuka pembicaraan saat kudengar telpon yang kuhubungi terangkat.
"Iya.., siapa nih..?" tanya Yanti.
"Ini.. aku Ridha..!"
"Oh Ridha.., ada apa..?" tanyanya lagi.
"Boleh nggak sekarang aku ke rumahmu, aku kangen sama kamu nih..!" kataku.
"Silakan.., kebetulan aku libur hari ini..!" jawab Yanti.
"Oke deh.., nanti sebelum makan siang aku ke rumahmu. Masak yang enak ya, biar aku bisa makan di sana..!" kataku sambil sedikit tertawa.
"Sialan luh. Oke deh.., cepetan ke sini.., ditunggu loh..!"
"Oke.., sampai ketemu yaa.. daah..!" kataku sambil menutup g****g telpon itu.

Setelah menelepon Yanti, aku berjalan menuju kamar mandi. Di kamar mandi itu aku melepas pakaianku semuanya dan langsung membersihkan tubuhku. Namun sebelumnya aku bermasturbasi sejenak dengan memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri sambil pikiranku menerawang mengingat kejadian-kejadian yang semalam baru kualami. Membayangkan penis suamiku walau tidak begitu besar namun mampu memberikan kepuasan padaku. Dan ini merupakan kebiasaanku.

Walaupun aku telah bersuami, namun aku selalu menutup kenikmatan bersetubuh dengan Mas Hadi dengan bermasturbasi, karena kadang-kadang bermasturbasi lebih nikmat.

Singkat cerita, siang itu aku sudah berada di depan rumah Yanti yang besar itu. Dan Yanti menyambutku saat aku mengetuk pintunya.
"Apa khabar Rida..?" begitu katanya sambil mencium pipiku.
"Seperti yang kamu lihat sekarang ini..!" jawabku.
Setelah berbasa-basi, Yanti membimbingku masuk ke ruangan tengah dan mempersilakan aku untuk duduk.

"Sebentar ya.., kamu santailah dahulu, aku ambil minuman di belakang..." lalu Yanti meninggalkanku.
Aku segera duduk di sofanya yang empuk. Aku memperhatikan ke sekeliling ruangan ini. Bagus sekali rumahnya, beda dengan rumahku. Di setiap sudut ruang terdapat hiasan-hiasan yang indah, dan pasti mahal-mahal. Foto-foto Yanti dan suaminya terpampang di dinding-dinding. Sandi yang dahulu katanya sempat menaksir aku, yang kini adalah suami Yanti, terlihat semakin ganteng saja. Dalam pikirku berkata, menyesal juga aku acuh tak acuh terhadapnya dahulu. Coba kalau aku terima cintanya, mungkin aku yang akan menjadi istrinya.

Sambil terus memandangi foto Sandi, suaminya, terlintas pula dalam ingatanku betapa pada saat kuliah dulu lelaki keturunan Manado ini mencoba menarik perhatianku (aku, Yanti dan Sandi memang satu kampus). Sandi memang orang kaya. Dia adalah anak pejabat pemerintahan di Jakarta. Pada awalnya aku pun tertarik, namun karena aku tidak suka dengan sifatnya yang sedikit sombong, maka segala perhatiannya padaku tidak kutanggapi. Aku takut jika tidak cocok dengannya, karena aku orangnya sangat sederhana.

Lamunannku dikagetkan oleh munculnya Yanti. Sambil membawa minuman, Yanti berjalan ke arah aku duduk, menaruh dua gelas sirup dan mempersilakanku untuk minum.
"Ayo Rid, diminum dulu..!" katanya.
Aku mengambil sirup itu dan meminumnya. Beberapa teguk aku minum sampai rasa dahaga yang sejak tadi terasa hilang, aku kembali menaruh gelas itu.

"Oh iya, Mas Sandi ke mana?" tanyaku.
"Biasa... Bisnis dia," kata Yanti sambil menaruh gelasnya. "Sebentar lagi juga pulang. Sudah kutelpon koq dia, katanya dia juga kangen sama kamu..!" ujarnya lagi.

Yanti memang sampai sekarang belum mengetahui kalau suaminya dahulu pernah naksir aku. Tapi mungkin juga Sandi sudah memberitahukannya.

"Kamu menginap yah.. di sini..!" kata Yanti.
"Akh... enggak ah, tidak enak khan..!" kataku.
"Loh... nggak enak gimana, kita kan sahabat. Sandi pun kenal kamu. Lagian aku sudah mempersiapkan kamar untukmu, dan aku pun sedang ambil cuti koq, jadi temani aku ya.., oke..!" katanya.
"Kasihan Mas Hadi nanti sendirian..!" kataku.
"Aah... Mas Hadi khan selalu menurut keinginanmu, bilang saja kamu mau menginap sehari di sini menemani aku. Apa harus aku yang bicara padanya..?"
"Oke deh kalau begitu.., aku pinjam telponmu ya..!" kataku.
"Tuh di sana...!" kata Yanti sambil menujuk ke arah telepon.

Aku segera memutar nomor telpon kantor suamiku. Dengan sedikit berbohong, aku minta ijin untuk menginap di rumah Yanti. Dan menganjurkan Mas Hadi untuk tidur di rumah orangtuaku. Seperti biasa Mas Hadi mengijinkan keinginanku. Dan setelah basa-basi dengan suamiku, segera kututup g****g telpon itu.

"Beres..!" kataku sambil kembali duduk di sofa ruang tamu.
"Nah.., gitu dong..! Ayo kutunjukkan kamarmu..!" katanya sambil membimbingku.
Di belakang Yanti aku mengikuti langkahnya. Dari belakang itu juga aku memperhatikan tubuh montoknya. Yanti tidak berubah sejak dahulu. Pantatnya yang terbungkus celana jeans pendek yang ketat melenggak-lenggok. Pinggulnya yang ramping sungguh indah, membuatku iseng mencubit pantat itu.

"Kamu masih montok saja, Yan..!" kataku sambil mencubit pantatnya.
"Aw.., akh.. kamu. Kamu juga masih seksi saja. Bisa-bisa Mas Sandi nanti naksir kamu..!" katanya sambil mencubit buah dadaku.
Kami tertawa cekikikan sampai kamar yang dipersiapkan untukku sudah di depan mataku.
"Nah ini kamarmu nanti..!" kata Yanti sambil membuka pintu kamar itu.

Besar sekali kamar itu. Indah dengan hiasan interior yang berseni tinggi. Ranjangnya yang besar dengan seprei yang terbuat dari kain beludru warna biru, menghiasi ruangan ini. Lemari pakaian berukiran ala Bali juga menghiasi kamar, sehingga aku yakin setiap tamu yang menginap di sini akan merasa betah.

Akhirnya di kamar itu sambil merebahkan diri, kami mengobrol apa saja. Dari pengalaman-pengalaman dahulu hingga kejadian kami masing-masing. Kami saling bercerita tentang keluhan-keluhan kami selama ini. Aku pun bercerita panjang mulai dari perkawinanku sampai sedetil-detilnya, bahkan aku bercerita tentang hubungan bercinta antara aku dan suamiku. Kadang kami tertawa, kadang kami serius saling mendengarkan dan bercerita. Hingga pembicaraan serius mulai kucurahkan pada sahabatku ini, bahwa aku ingin bekerja di perusahan bapaknya yang direktur.

"Gampang itu..!" kata Yanti. "Aku tinggal menghubungi Papa nanti di Jakarta. Kamu pasti langsung diberi pekerjaan. Papaku kan tahu kalau kamu adalah satu-satunya sahabatku di dunia ini.." lanjutnya sambil tertawa lepas.
Tentu saja aku senang dengan apa yang dibicarakan oleh Yanti, dan kami pun meneruskan obrolan kami selain obrolan yang serius barusan.

Tanpa terasa, di luar sudah gelap. Aku pun minta ijin ke Yanti untuk mandi. Tapi Yanti malah mengajakku mandi bersama. Dan aku tidak menolaknya. Karena aku berpikir toh sama-sama wanita.Sungguh di luar dugaan, di kamar mandi ketika kami sama-sama telanjang bulat, Yanti memberikan sesuatu hal yang sama sekali tidak terpikirkan.

Sebelum air yang hangat itu membanjiri tubuh kami, Yanti memelukku sambil tidak henti-hentinya memuji keindahan tubuhku. Semula aku risih, namun rasa risih itu hilang oleh perasaan yang lain yang telah menjalar di sekujur tubuh. Sentuhan-sentuhan tangannya ke sekujur tubuhku membuatku nikmat dan tidak kuasa aku menolaknya. Apalagi ketika Yanti menyentuh bagian tubuhku yang sensitif.

Kelembutan tubuh Yanti yang memelukku membuatku merinding begitu rupa. Buah dadaku dan buah dadanya saling beradu. Sementara bulu-bulu lebat yang berada di bawah perut Yanti terasa halus menyentuh daerah bawah perutku yang juga ditumbuhi bulu-bulu. Namun bulu-bulu kemaluanku tidak selebat miliknya, sehingga terasa sekali kelembutan itu ketika Yanti menggoyangkan pinggulnya.

Karena suasana yang demikian, aku pun menikmati segala apa yang dia lakukan. Kami benar-benar melupakan bahwa kami sama-sama perempuan. Perasaan itu hilang akibat kenikmatan yang terus mengaliri tubuh. Dan pada akhirnya kami saling berpandangan, saling tersenyum, dan mulut kami pun saling berciuman.

Kedua tanganku yang semuala tidak bergerak kini mulai melingkar di tubuhnya. Tanganku menelusuri punggungnya yang halus dari atas sampai ke bawah dan terhenti di bagian buah pantatnya. Buah pantat yang kencang itu secara refleks kuremas-remas. Tangan Yanti pun demikian, dengan lembut dia pun meremas-remas pantatku, membuatku semakin naik dan terbawa arus suasana. Semakin aku mencium bibirnya dengan bernafsu, dibalasnya ciumanku itu dengan bernafsu pula.

Hingga suatu saat ketika Yanti melepas ciuman bibirnya, lalu mulai menciumi leherku dan semakin turun ke bawah, bibirnya kini menemukan buah dadaku yang mengeras. Tanpa berkata-kata sambil sejenak melirik padaku, Yanti menciumi dua bukit payudaraku secar bergantian. Napasku mulai memburu hingga akhirnya aku menjerit kecil ketika bibir itu menghisap puting susuku. Dan sungguh aku menikmati semuanya, karena baru pertama kali ini aku diciumi oleh seorang wanita.

"Akh.., Yaantiii.., oh..!" jerit kecilku sedikit menggema.
"Kenapa Rid.., enak ya..!" katanya di sela-sela menghisap putingku.
"Iya.., oh.., enaaks... teruus..!" kataku sambil menekan kepalanya.
Diberi semangat begitu, Yanti semakin gencar menghisap-hisap putingku, namun tetap lembut dan mesra. Tangan kirinya menahan tubuhku di punggung.

Sementara tangan kanannya turun ke bawah menuju kemaluanku. Aku teringat akan suamiku yang sering melakukan hal serupa, namun perbedaannya terasa sekali, Yanti sangat lembut memanjakan tubuhku ini, mungkin karena dia juga wanita.

Setelah tangan itu berada di kemaluanku, dengan lembut sekali dia membelainya. Jarinya sesekali menggesek kelentitku yang masih tersembunyi, maka aku segera membuka pahaku sedikit agar kelentitku yang terasa mengeras itu leluasa keluar.

Ketika jari itu menyentuh kelentitku yang mengeras, semakin asyik Yanti memainkan kelentitku itu, sehingga aku semakin tidak dapat mengendalikan tubuhku. Aku menggelinjang hebat ketika rasa geli campur nikmat menjamah tubuhku. Pori-poriku sudah mengeluarkan keringat dingin, di dalam liang vaginaku sudah terasa ada cairan hangat yang mengalir perlahan, pertanda rangsangan yang sungguh membuatku menjadi nikmat.

Ketika tanganku menekan bagian atas kepalanya, bibir Yanti yang menghisap kedua putingku secara bergantian segera berhenti. Ada keinginan pada diriku dan Yanti mengerti akan keinginanku itu. Namun sebelumnya, kembali dia pada posisi wajahnya di depan wajahku. Tersungging senyuman yang manis.

"Ingin yang lebih ya..?" kata Santi.
Sambil tersenyum aku mengangguk pelan. Tubuhku diangkatnya dan aku duduk di ujung bak mandi yang terbuat dari porselen. Setelah aku memposisikan sedemikian rupa, tangan Yanti dengan cekatan membuka kedua pahaku lebar-lebar, maka vaginaku kini terkuak bebas. Dengan posisi berlutut, Yanti mendekatkan wajahnya ke s*****kanganku. Aku menunggu perlakuannya dengan jantung yang berdebar kencang.

Napasku turun naik, dadaku terasa panas, begitu pula vaginaku yang terlihat pada cermin yang terletak di depanku sudah mengkilat akibat basah, terasa hangat. Namun rasa hangat itu disejukkan oleh angin yang keluar dari kedua lubang hidung Yanti. Tangan Yanti kembali membelai vaginaku, menguakkan belahannya untuk menyentuh kelentitku yang semakin menegang.

Agak lama Yanti membelai-belai kemaluanku itu yang sekaligus mempermainkan kelentitku. Sementara mulutnya menciumi pusar dan sekitarnya. Tentu saja aku menjadi kegelian dan sedikit tertawa. Namun Yanti terus saja melakukan itu.
Hingga pada suatu saat, "Eiist... aakh... aawh... Yanthhii... akh... mmhh... ssh..!" begitu suara yang keluar dari mulutku tanpa disadari, ketika mulutnya semakin turun dan mencium vaginaku.
Kedua tangan Yanti memegangi pinggul dan pantatku menahan gerakanku yang menggelinjang nikmat.

Kini ujung lidahnya yang menyentuh kelentitku. Betapa pintar dia mempermainkan ujung lidah itu pada daging kecilku, sampai aku kembali tidak sadar berteriak ketika cairan di dalam vaginaku mengalir keluar.
"Oohh... Yantii... ennaakss... sekaalii..!" begitu teriakku.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku, memancing nikmat yang lebih. Yanti masih pada posisinya, hanya sekarang yang dijilati bukan hanya kelentitku tapi lubang vaginaku yang panas itu. Tubuhku bergetar begitu hebat. Gerakan tubuhku mulai tidak karuan. Hingga beberapa menit kemudian, ketika terasa orgasmeku mulai memuncak, tanganku memegang bagian belakang kepalanya dan mendorongnya. Karuan saja wajah Yanti semakin terpendam di s*****kanganku.

"Hissapp... Yantiii..! Ooh.., aku.. akuu.. mau.. keluaar..!" jeritku.
Yanti berhenti menjilat kelentitku, kini dia mencium dan menghisap kuat lubang kemaluanku.
Maka.., "Yaantii.., aku.. keluaar..! Oh.., aku.. keluar.. nikmaathhs.. ssh..!" bersamaan dengan teriakku itu, maka aku pun mencapai orgasme.
Tubuhku seakan melayang entah kemana. Wajahku menengadah dengan mata terpejam merasakan berjuta-juta nikmat yang sekian detik menjamah tubuh, hingga akhirnya aku melemas dan kembali pada posisi duduk. Maka Yanti pun melepas hisapannya pada vaginaku.

Dia berdiri, mendekatkan wajahnya ke hadapan wajahku, dan kembali dia mencium bibirku yang terbuka. Napasku yang tersengal-sengal disumbat oleh mulut Yanti yang menciumku. Kubalas ciuman mesranya itu setelah tubuhku mulai tenang.

"Terimakasih Yanti.., enak sekali barusan..!" kataku sambil tersenyum.
Yanti pun membalas senyumanku. Dia membantuku turun dari atas bak mandi itu.
"Kamu mau nggak dikeluarin..?" kataku lagi.
"Nanti sajalah.., lagian udah gatel nih badanku. Sekarang mending kita mandi..!" jawabnya sambil menyalakan shower.

Akhirnya kusetujui usul itu, sebab badanku masih lemas akibat nikmat tadi. Dan rupanya Yanti tahu kalau aku kurang bertenaga, maka aku pun dimandikannya, disabuni, diperlakukan layaknya seorang anak kecil. Aku hanya tertawa kecil. Iseng-iseng kami pun saling menyentuh bagian tubuh kami masing-masing. Begitupula sebaliknya, ketika giliran Yanti yang mandi, aku lah yang menyabuni tubuhnya.

Setelah selesai mandi, kami pun keluar dari kamar mandi itu secara bersamaan. Sambil berpelukan, pundak kami hanya memakai handuk yang menutup tubuh kami dari dada sampai pangkal paha, dan sama sekali tidak mengenakan dalaman. Aku berjalan menuju kamarku sedang Yanti menuju kamarnya sendiri. Di dalam kamar aku tidak langsung mengenakan baju. Aku masih membayangkan kejadian barusan. Seolah-olah rasa nikmat tadi masih mengikutiku.

Di depan cermin, kubuka kain handuk yang menutupi tubuhku. Handuk itu jatuh terjuntai ke lantai, dan aku mulai memperhatikan tubuh telanjangku sendiri. Ada kebanggaan dalam hatiku. Setelah tadi melihat tubuh telanjang Yanti yang indah, ternyata tubuhku lebih indah. Yanti memang seksi, hanya dia terlalu ramping sehingga sepintas tubuhnya itu terlihat kurus. Sedangkan tubuhku agak montok namun tidak terkesan gemuk.

Entah keturunan atau tidak, memang demikianlah keadaan tubuhku. Kedua payudaraku berukuran 34B dengan puting yang mencuat ke atas, padahal aku pernah menyusui anakku. Sedangkan payudara Yanti berukuran 32 tapi juga dengan puting yang mencuat ke atas juga.

Kuputar tubuhku setengah putaran. Kuperhatikan belahan pantatku. Bukit pantatku masih kencang, namun sudah agak turun, karena aku pernah melahirkan. Berbeda dengan pantat milik Yanti yang masih seperti pantat gadis perawan, seperti pantat bebek.

Kalau kuperhatikan dari pinggir tubuhku, nampak perutku yang ramping. Vaginaku nampak menonjol keluar. Bulu-bulu kemaluanku tidak lebat, walaupun pernah kucukur pada saat aku melahirkan. Padahal kedua tangan dan kedua kakiku tumbuh bulu-bulu tipis, tapi pertumbuhan bulu kemaluanku rupanya sudah maksimal. Lain halnya dengan Yanti, walaupun perutnya lebih ramping dibanding aku, namun kemaluannya tidak menonjol alias rata. Dan daerah itu ditumbuhi bulu-bulu yang lebat namun tertata rapi.

Setelah puas memperhatikan tubuhku sendiri (sambil membandingkan dengan tubuh Yanti), aku pun membuka tasku dan mengambil celana dalam dan Bra-ku. Kemudian kukenakan kedua pakaian rahasiaku itu setelah sekujur tubuhku kulumuri bedak. Namun aku agak sedikit kaget dengan teriakan Yanti dari kamarnya yang tidak begitu jauh dari kamar ini.

"Rida..! Ini baju tidurmu..!" begitu teriaknya.
Maka aku pun mengambil handuk yang berada di lantai. Sambil berjalan kukenakan handuk itu menutupi tubuhku seperti tadi, lalu keluar menuju kamarnya yang hanya beberapa langkah. Pintu kamarnya ternyata tidak dikunci. Karena mungkin Yanti tahu kedatanganku, maka dia mempersilakan aku masuk.

"Masuk sini Rid..!" kataya dari dalam kamar.
Kudorong daun pintu kamarnya. Aku melihat di dalam kamar itu tubuh Yanti yang telanjang merebah di atas kasur. Tersungging senyuman di bibirnya. Karena aku sudah m*****kah masuk, maka kuhampiri tubuh telanjang itu.

"Kamu belum pake baju, Yan..?" kataku sambil duduk di tepi ranjang.
"Akh.., gampang... tinggal pake itu, tuh..!" kata Yanti sambil tangannya menunjuk tumpukan gaun tidur yang berada di ujung ranjang.
Lalu dia berkata lagi, "Kamu sudah pake daleman, ya..?"
Aku mengangguk, "Iya..!"
Kuperhatikan dadanya turun naik. Napasnya terdengar memburu. Apakah dia sedang bernafsu sekarang.., entahlah.
Lalu tangan Yanti mencoba meraihku. Sejenak dia membelai tubuhku yang terbungkus handuk itu sambil berkata, "Kamu mengairahkan sekali memakai ini..!"
"Akh.., masa sih..!" kataku sambil tersenyum dan sedikit menggeser tubuhku lebih mendekat ke tubuh Yanti.

"Benar.., kalo nggak percaya.., emm.. kalo nggak percaya..!" kata Yanti sedikit menahan kata-katanya.
"Kalo nggak percaya apa..?" tanyaku.
"Kalo nggak percaya..!" sejenak matanya melirik ke arah belakangku.
"Kalo nggak percaya tanya saja sama orang di belakangmu... hi.. hi..!" katanya lagi.

Segera aku memalingkan wajahku ke arah belakangku. Dan.., (hampir saja aku teriak kalau mulutku tidak buru-buru kututup oleh tanganku), dengan jelas sekali di belakangku berdiri tubuh lelaki dengan hanya mengenakan celana dalam berwarna putih yang tidak lain adalah Mas Sandi suami Yanti itu. Dengan refleks karena kaget aku langsung berdiri dan bermaksud lari dari ruangan ini. Namun tangan Yanti lebih cepat menangkap tanganku lalu menarikku sehingga aku pun terjatuh dengan posisi duduk lagi di ranjang yang empuk itu.

"Mau kemana.. Rida.., udah di sini temani aku..!" kata Yanti setengah berbisik.
Aku tidak sempat berkata-kata ketika Mas Sandi mulai bergerak berjalan menuju aku. Dadaku mulai berdebar-debar. Ada perasaan malu di dalam hatiku.
"Halo.., Rida. Lama tidak bertemu ya..." suara Mas Sandi menggema di ruangan itu.
Tangannya mendarat di pundakku, dan lama bertengger di situ.

Aku yang gelagapan tentu saja semakin gelagapan. Namun ketika tangan Yanti dilepaskan dari cengkramannya, pada saat itu tidak ada keinginanku untuk menghindar. Tubuhku terasa kaku, sama sekali aku tidak dapat bergerak. Lidahku pun terasa kelu, namun beberapa saat aku memaksa bibirku berkata-kata.
"Apa-apaan ini..?" tanyaku parau sambil melihat ke arah Yanti.
Sementara tangan yang tadi bertengger di bahuku mulai bergerak membelai-belai. Serr.., tubuhku mulai merinding. Terasa bulu-bulu halus di tangan dan kaki berdiri tegak.

Rupanya Sentuhan tangan Mas Sandi mampu membangkitkan birahiku kembali. Apalagi ketika terasa di bahuku yang sebelah kiri juga didarati oleh tangan Mas Sandi yang satunya lagi. Perasaan malu yang tadi segera sirna. Tubuhku semakin merinding. Mataku tanpa sadar terpejam menikmati dalam-dalam sentuhan tangan Mas Sandi di bahuku itu.

Pijatan-pijatan kecil di bahuku terasa nyaman dan enak sekali. Aku begitu menikmati apa yang terasa. Hingga beberapa saat kemudian tubuhku melemas. Kepalaku mulai tertahan oleh perut Mas Sandi yang masih berada di belakangku. Sejenak aku membuka mataku, nampak Yanti membelai vaginanya sendiri dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya meremas pelan kedua payudaranya secara bergantian. Tersungging senyuman di bibirnya.

"Nikmati Rida..! Nikmati apa yang kamu sekarang rasakan..!" suara Yanti masih sedikit membisik.
Aku masih terbuai oleh sentuhan kedua tangan Mas Sandi yang mulai mendarat di daerah atas payudarara yang tidak tertutup. Mataku masih terpejam.
"Ini.. kan yang kamu inginkan. Kupinjamkan suamiku..!" kata Yanti lagi.
Mataku terbuka dan kembali memperhatikan Yanti yang masih dengan posisinya.
"Ayo Mas..! Nikmati Rida yang pernah kamu taksir dulu..!" kata Yanti lagi.
"Tentu saja Sayang.., asal.. kamu ijinkan..!" kata suara berat Mas Sandi.

Tubuhnya dibungkukkan. Kemudian wajahnya ditempelkan di bagian atas kepalaku. Terasa bibirnya mencium mesra daerah itu. Kembali aku memejamkan mata. Bulu-buluku semakin keras berdiri. Sentuhan lembut tangan Mas Sandi benar-benar nikmat. Sangat pintar sekali sentuhan itu memancing gairahku untuk bangkit. Apalagi ketika tangan Mas Sandi sebelah kanan berusaha membuka kain handuk yang masih menutupi tubuhku itu.

"Oh.., Mas.., Maas... jangaan... Mas..!" aku hanya dapat berkata begitu tanpa kuasa menahan tindakan Mas Sandi yang telah berhasil membuka handuk dan membuangnya jauh-jauh.
Tinggallah tubuh setengah bugilku. Kini gairahku sudah memuncak dan aku mulai lupa dengan keadaanku. Aku sudah terbius suasana.

Mas Sandi mulai berlutut, namun masih pada posisi di belakangku. Kembali dia membelai seluruh tubuhku. Dari punggungku, lalu ke perut, naik ke atas, leherku pun kena giliran disentuhnya, dan aku mendesah nikmat ketika leherku mulai dicium mesra oleh Mas Sandi. Sementara desahan-desahan kecil terdengar dari mulut Yanti.

Aku melirik sejenak ke arah Yanti, rupanya dia sedang masturbasi. Lalu aku memejamkan mata lagi, kepalaku kutengadahkan memberikan ruangan pada leherku untuk diciumi Mas Sandi. Persaanku sudah tidak malu-malu lagi, aku sudah kepalang basah. Aku lupa bahwa aku telah bersuami, dan aku benar-benar akan merasakan apa yang akan kurasakan nanti, dengan lelaki yang bukan suamiku.

"Buka ya.. BH-nya, Rida..!" kata Mas Sandi sambil melepas kancing tali BH-ku dari punggung.
Beberapa detik BH itu terlepas, maka terasa bebas kedua payudaraku yang sejak tadi tertekan karena mengeras. Suara Yanti semakin keras, rupanya dia mencapai orgasmenya. Kembali aku melirik Yanti yang membenamkan jari manis dan jari telunjuknya ke dalam vaginanya sendiri. Nampak dia mengejang dengan mengangkat pinggulnya.

"Akh.., nikmaats... ooh... nikmaatts.. sekalii..!" begitu kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Dan tidak lama kemudian dia terkulai lemas di ranjang itu. Sementara Mas Sandi sibuk dengan kegiatannya.

Kini kedua payudaraku sudah diremasi dengan mesra oleh kedua telapak tangannya dari belakang. Sambil terus bibirnya menjilati inci demi inci kulit leherku seluruhnya. Sedang enak-enaknya aku, tiba-tiba ada yang menarik celana dalamku. Aku membuka mataku, rupanya Yanti berusaha untuk melepas celana dalamku itu. Maka kuangkat pantatku sejenak memudahkan celana dalamku dilepas oleh Yanti. Maka setelah lepas, celana dalam itu juga dibuang jauh-jauh oleh Yanti.

Aku menggeser posisi dudukku menuju ke bagian tengah ranjang itu. Mas Sandi mengikuti gerakanku masih dari belakang, sekarang dia tidak berlutut, namun duduk tepat di belakang tubuhku. Kedua kakinya diselonjorkan, maka pantatku kini berada di antara s*****kangan milik Mas Sandi. Terasa oleh pantatku ada tonjolan keras di s*****kangan. Rupanya penis Mas Sandi sudah tegang maksimal.

Lalu Yanti membuka lebar-lebar pahaku, sehingga kakiku berada di atas paha Mas Sandi. Lalu dengan posisi tidur telungkup, Yanti mendekatkan wajahnya ke s*****kanganku, dan apa yang terjadi...
"Awwh... ooh... eeisth.. aakh..!" aku menjerit nikmat ketika kembali kurasakan lidahnya menyapu-nyapu belahan vaginaku, terasa kelentitku semakin menegang, dan aku tidak dapat mengendalikan diri akibat nikmat, geli, enak, dan lain sebagainya menyatu di tubuhku.

Kembali kepalaku menengadah sambil mulutku terbuka. Maka Mas Sandi tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia tahu maksudku. Dari belakang, bibirnya langsung melumat bibirku yang terbuka itu dengan nafsunya. Maka kubalas ciuman itu dengan nafsu pula. Dia menyedot, aku menyedot pula. Terjadilah pertukaran air liur Mas Sandi dengan air liurku. Terciuma aroma rokok pada mulutnya, namun aroma itu tidak mengganggu kenikmatan ini.

Kedua tangan Mas Sandi semakin keras meremas kedua payudaraku, namun menimbulkan nikmat yang teramat, sementara di bawah Yanti semakin mengasyikkan. Dia terus menjilat dan mencium vaginaku yang telah banjir. Banjir oleh cairan pelicin vaginaku dan air liur Yanti.
"Mmmhh... akh... mmhh..!" bibirku masih dilumati oleh bibir Mas Sandi.

Tubuhku semakin panas dan mulai memberikan tanda-tanda bahwa aku akan mencapai puncak kenikmatan yang kutuju. Pada akhirnya, ketika remasan pada payudaraku itu semakin keras, dan Yanti menjilat, mencium dan menghisap vaginaku semakin liar, tubuhku menegang kaku, keringat dingin bercucuran dan mereka tahu bahwa aku sedang menikmati orgasmeku. Aku mengangkat pinggulku, otomatis ciuman Yanti terlepas. Semakin orgasmeku terasa ketika jari telujuk dan jari manis Yanti dimasukkan ke liang vaginaku, kemudian dicabutnya setengah, lalu dimasukkan lagi.

Perlakuan Yanti itu berulang-ulang, yaitu mengeluar-masukkan kedua jarinya ke dalam lubang vaginaku. Tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata betapa nikmat dan enak pada saat itu.
"Aakh... aawhh... nikmaatss... terus.. Yantii.. oooh... yang cepaat.. akh..!" teriakku.
Tubuh Mas Sandi menahan tubuhku yang mengejang itu. Jarinya memilin-milin puting susuku. Bibirnya mengulum telingaku sambil membisikkan sesuatu yang membuatku semakin melayang. Bisikan-bisikan yang memujiku itu tidak pernah kudengar dari Mas Hadi, suamiku.

"Ayo cantik..! Nikmatilah orgasmemu.., jangan kamu tahan, keluarkan semuanya Sayang..! Nikmatilah.., nikmatilah..! Oh.., kamu cantik sekali jika orgasme..!" begitu bisikan yang keluar dari mulut Mas Sandi sambil terus mengulum telingaku.
"Aakh.. Maass, aduh.. Yanti.., nikmaats... oh... enaaks.. sekali..!" teriakku.
Akhirnya tubuh kejangku mulai mengendur, diikuti dengan turunnya kenikmatan orgasmeku itu.

Perlahan sekali tubuhku turun dan akhirnya terkulai lemas di pangkuan Mas Sandi. Lalu tubuh Yanti mendekapku.
Dia berbisik padaku, "Ini.. belum seberapanya Sayaang.., nanti akan kamu rasakan punya suamiku..!" sambil berkata demikian dia mencium keningku.
Mas Sandi beranjak dari duduknya dan berjalan entah ke arah mana, karena pada saat itu mataku masih terpenjam seakan enggan terbuka.

Entah berapa lama aku terlelap. Ketika kusadar, kubuka mataku perlahan dan mencari-cari Yanti dan Mas Sandi sejenak. Mereka tidak ada di kamar ini, dan rupanya mereka membiarkanku tertidur sendiri. Aku menengok jam dinding. Sudah pukul sepuluh malam. Segera aku bangkit dari posisi tidurku, lalu berjalan menuju pintu kamar. Telingaku mendengar alunan suara musik klasik yang berasal dari ruangan tamu. Dan ketika kubuka pintu kamar itu yang kebetulan bersebelahan dengan ruang tamu, mataku menemukan suatu adegan dimana Yanti dan suaminya sedang melakukan persetubuhan.

Yanti dengan posisi menelentang di sofa sedang ditindih oleh Mas Sandi dari atas. Terlihat tubuh Mas Sandi sedang naik turun. Segera mataku kutujukan pada s*****kangan mereka. Jelas terlihat penis Mas Sandi yang berkilat sedang keluar masuk di vagina Yanti. Terdengar pula erangan-erangan yang keluar dari mulut Yanti yang sedang menikmati hujaman penis itu di vaginanya, membuat tubuhku perlahan memanas. Segera saja kuhampiri mereka dan duduk tepat di depan tubuh mereka.

Di sela-sela kenikmatan, Yanti menatapku dan tersenyum. Rupanya Mas Sandi memperhatikan istrinya dan sejenak dia menghentikan gerakannya dan menengok ke belakang, ke arahku.
"Akh... Mas.., jangan berhentiii doong..! Oh..!" kata Yanti.
Dan Mas Sandi kembali berkonsentrasi lagi dengan kegiatannya. Kembali terdengar desahan-desahan nikmat Yanti yang membahana ke seluruh ruangan tamu itu. Aku kembali gelagapan, kembali resah dan tubuhku semakin panas. Dengan refleks tanganku membelai vaginaku sendiri.

"Oh.. Ridhaa.., nikmat sekaallii.. loh..! Akuu... ooh... mmh..!" kata Yanti kepadaku.
Aku melihat wajah nikmat Yanti yang begitu cantik. Kepalannya kadang mendongak ke atas, matanya terpejam-pejam. Sesekali dia gigit bibir bawahnya. Kedua tangannya melingkar pada pantat suaminya, dan menarik-narik pantat itu dengan keras sekali. Aku melihat penis Mas Sandi yang besar itu semakin amblas di vagina Yanti. Samakin mengkilat saja penis itu.

"Oh Mas.., aku hampiir sampaaii..! Teruus... Mas... terus..! Lebih keras lagiih.., oooh... akh..!" kata Yanti.
Yanti mengangkat tinggi-tinggi pinggulnya, Mas Sandi terus dengan gerakannya menaik-turunkan tubuhnya dalam kondisi push-up.
"Maass.., akuuu... keluaar..! Aakh... mhh... nikmaats.., mmh..!" kata Yanti lagi dengan tubuh yang mengejang.
Rupanya Yanti mencapai orgasmenya. Tangannya yang tadi melingkar di pantat suaminya, kini berpindah melingkar di punggung.

Mas Sandi berhenti bergerak dan membiarkan penis itu menancap dalam di lubang kemaluan Yanti.
"Owhh... banyak sekali Sayang.. keluarnya. Hangat sekali memekmu..!" kata Mas Sandi sambil menciumi wajah istrinya.

Dapat kubayangkan perasaan Yanti pada saat itu. Betapa nikmatnya dia. Dan aku pun belingsatan dengan merubah-rubah posisi dudukku di depan mereka. Beberapa saat kemudian, Yanti mulai melemas dari kejangnya dan merubah posisinya. Segera dia turun dari sofa ketika Mas Sandi mencabut penis dari lubang kenikmatan itu. Aku melihat dengan jelas betapa besar dan panjang penis Mas Sandi. Dan ini baru pertama kali aku melihatnya, karena waktu tadi di dalam kamar, Mas Sandi masih menutupi penisnya dengan celana dalam.

Dengan segera Yanti menungging. Lalu segera pula Mas Sandi berlutut di depan pantat itu.
"Giliranmu... Mas..! Ayoo..!" kata Yanti.
Tangan Mas Sandi menggenggam penis itu dan mengarahkan langsung ke lubang vagina Yanti. Segera dia menekan pantatnya dan melesaklah penis itu ke dalam vagina istrinya, diikuti dengan lenguhan Yanti yang sedikit tertahan.
"Owwh... Maas... aakh..!"
"Aduuh... Yantii.., jepit Sayangh..!" kata Mas Sandi.

Lalu kaki Yanti dirapatkan sedemikian rupa. Dan segera pantat Mas Sandi mulai mundur dan maju.Ufh.., pemandangan yang begitu indah yang kulihat sekarang. Baru kali ini aku menyaksikan sepasang manusia bersetubuh tepat di depanku secara langsung. Semakin mereka mempercepat tempo gerakannya, semakin aku terangsang begitu rupa. Tanganku yang tadi hanya membelai-belai vaginaku, kini mulai menyentuh kelentitku.

Kenikmatan mulai mengaliri tubuhku dan semakin aku tidak tahan, sehingga aku memasukkan jariku ke dalam vaginaku sendiri. Aku sendiri sangat menikmati masturbasiku tanpa lepas pandanganku pada mereka. Belum lagi telingaku jelas mendengar desahan dan rintihan Yanti, aku dapat membayangkan apa yang dirasakan Yanti dan aku sangat ingin sekali merasakannya, merasakan vaginaku pun dimasukkan oleh penis Mas Sandi.

Beberapa saat kemudian Mas Sandi mulai melenguh keras. Kuhentikan kegiatanku dan terus memperhatikan mereka.
"Aakhh... Yantii... nikmaats... aakh... aku keluaar..!" teriak Mas Sandi membahana.
"Oh... Maas... akuu... juggaa... akh..!"
Kedua tubuh itu bersamaan mengejang. Mereka mencapai orgasmenya secara bersama-sama.

Penis Mas Sandi masih menancap di vagina Yanti sampai akhirnya mereka melemas, dan dari belakang tubuh Yanti, Mas Sandi memeluknya sambil meremas kedua payudara Yanti. Mas Sandi memasukkan semua spermanya ke dalam vagina Yanti.

Lama sekali aku melihat mereka tidak bergerak. Rupanya mereka sangat kelelahan. Di sofa itu mereka tertidur bertumpukan. Tubuh Yanti berada di bawah tubuh Mas Sandi yang menindihnya. Mata mereka terpejam seolah tidak menghiraukan aku yang duduk terpaku di depannya. Hingga aku pun mulai bangkit dari dudukku dan beranjak pergi menuju kamarku. Sesampai di kamar aku baru sadar kalau aku masih telanjang bulat. Maka aku pun balik lagi menuju kamar Yanti di mana celana dalam dan BH yang akan kupakai berada di sana.

Selagi aku berjalan melewati ruang tamu itu, aku melihat mereka masih terkulai di sofa itu. Tanpa menghiraukan mereka, aku terus berjalan memasuki kamar Yanti dan memungut celana dalam dan BH yang ada di lantai. Setelah kukenakan semuanya, kembali aku berjalan menuju kamarku dan sempat sekali lagi aku menengok mereka di sofa itu pada saat aku melewati ruang tamu.

Sesampai di kamar, entah kenapa rasa lelah dan kantukku hilang. Aku menjadi semakin resah membayangkan kejadian yang baru kualami. Pertama ketika aku dimasturbasikan oleh suami istri itu. Dan yang kedua aku terus membayangkan kejadian di mana mereka melakukan persetubuhan yang hebat itu. Keinginanku untuk merasakan penis Mas Sandi sangat besar. Aku mengharapkan sekali Mas Sandi sekarang menghampiri dan menikmatiku. Namun itu mungkin tidak terjadi, karena aku melihat mereka sudah lelah sekali.

Entah sudah berapa kali mereka bersetubuh pada saat aku terlelap tadi. Aku semakin tidak dapat menahan gejolak birahiku sendiri hingga aku merebahkan diri di kasur empuk. Dengan posisi telungkup, aku mulai memejamkan mata dengan maksud agar aku terlelap. Namun semua itu sia-sia. Karena kembali kejadian-kejadian barusan terus membayangiku. Secara cepat aku teringat bahwa tadi ketika mereka bersetubuh, aku melakukan masturbasi sendiri dan itu tidak selesai. Maka tanganku segera kuselipkan di s*****kanganku. Aku membelai kembali vaginaku yang terasa panas itu.

Dan ketika tanganku masuk ke dalam celanaku, aku mulai menyentuh klitorisku. Kembali aku nikmat. Aku tidak kuasa membendung perasaan itu, dan jariku mulai menemukan lubang kemaluanku yang berlendir itu. Dengan berusaha membayangkan Mas Sandi menyetubuhiku, kumasukkan jari tengahku ke dalam lubang itu dalam-dalam. Kelembutan di dalam vaginaku dan gesekan di dinding-dindingnya membuatku mendesah kecil.

Sambil mengeluar-masukkan jari tengahku, aku membayangkan betapa besar dan panjangnya penis Mas Sandi. Beda sekali dengan penis Mas Hadi yang kumiliki. Kemaluan Mas Sandi panjang dan besarnya normal-normal saja. Sedangkan milik Mas Sandi, sudah panjang dan besar, dihiasi oleh urat-uratnya yang menonjol di lingkaran batang kemaluannya. Itu semua kulihat tadi dan kini terbayang di dalam benakku.

Beberapa menit kemudian, ketika ada sesuatu yang lain di dalam vaginaku, semakin kupercepat jari ini kukeluar-masukkan. Sambil terus membayangi Mas Sandi yang menyetubuhiku, dan aku sama sekali tidak membayangkan suamiku sendiri. Setiap bayangan suamiku muncul, cepat-cepat kubuang bayangan itu, hingga kembali Mas Sandi lah yang kubayangkan.

Tanpa sadar, ketika aku akan mencapai orgasme, aku membalikan badan dan aku memasukkan jari telunjuk ke dalam lubang vaginaku. Dalam keadaan telentang aku mengangkangkan selebar mungkin pahaku. Kini dua jariku yang keluar masuk di lubang vaginaku. Maka kenikmatan itu berlanjut hebat sehingga tanpa sadar aku memanggil-manggil pelan nama Mas Sandi.

"Akh... sshh... Masss... Sandii... Okh... Mass.. Mas.. Sandi.. aakkh..!" itulah yang keluar dari mulutku.
Seer... aku merasa kedua jariku hangat sekali dan semakin licin. Aku mengangkat ke atas pinggulku sambil tidak melepas kedua jariku menancap di lubang vaginaku. Beberapa lama tubuhku merinding, mengejang, dan nikmat tidak terkira. Sampai pada akhirnya aku melemas dan pinggulku turun secara cepat ketika kenikmatan itu perlahan berkurang.

Aku mencabut jari jemariku dan cairan yang menempel di jari-jari itu segera kujilati. Asin campur gurih yang kurasakan di lidahku. Dengat mata yang terpejam-pejam kembali aku membayangkan penis Mas Sandi yang sedang kuciumi, kuhisap, dan kurasakan. Cairan yang asin dan gurih itu kubayangkan sperma Mas Sandi. Ohhh.., nikmatnya semua ini.

Dan setelah aku puas, barulah kuhentikan hayalan-hayalanku itu. Kutarik selimut yang ada di sampingku dan menutupi sekujur tubuhku yang mulai mendingin. Aku tersenyum sejenak mengingat hal yang barusan, gila... aku masturbasi dengan membayangkan suami orang lain.

Pagi harinya, ketika aku terjaga dari tidurku dan membuka mataku, aku melihat di balik jendela kamar sudah terang. Jam berapa sekarang, pikirku. Aku menengok jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Aku kaget dan bangkit dari posisi tidurku. Ufh.., lemas sekali badan ini rasanya. Kukenakan celana dalamku. Karena udara sedikit dingin, kubalut tubuhku dengan selimut dan mulai berdiri.

Ketika berdiri, sedikit kugerak-gerakan tubuhku dengan maksud agar rasa lemas itu segera hilang. Lalu dengan gontai aku berjalan menuju pintu kamar dan membuka pintu yang tidak terkunci.

Karena aku ingin pipis, segera aku berjalan menuju kamar mandi, sesampainya di kamar mandi segera kuturunkan celana dalamku dan berjongkok. Keluarlah air hangat urine-ku dari liang vagina. Sangat banyak sekali air kencingku, sampai-sampai aku pegal berjongkok. Beberapa saat kemudian, ketika air kencingku habis, segera kubersihkan vaginaku dan kembali aku mengenakan celana dalamku, lalu kembali pula aku melingkari kain selimut itu, karena hanya kain ini yang dapat kupakai untuk menahan rasa dingin, baju tidur yang akan dipinjamkan oleh Yanti masih berada di kamarnya.

Aku keluar dari kamar mandi itu, lalu berjalan menuju ruangan dapur yang berada tidak jauh dari kamar mandi itu, karena tenggorokanku terasa haus sekali. Di dapur itu aku mengambil segelas air dan meminumnya.

Setelah minum aku berjalan lagi menuju kamarku. Namun ketika sampai di pintu kamar, sejenak pandangan mataku menuju ke arah ruang tamu. Di sana terdapat Mas Sandi sedang duduk di sofa sambil menghisap sebatang rokok. Matanya memandangku tajam, namun bibirnya memperlihatkan senyumnya yang manis. Dengan berbalut kain selimut di tubuhku, aku menghampiri Mas Sandi yang memperhatikan aku. Lalu aku duduk di sofa yang terletak di depannya. Aku membalas tatapan Mas Sandi itu dengan menyunggingkan senyumanku.

"Yanti mana..?" tanyaku padanya membuka pembicaraan.
"Sedang ke warung sebentar, katanya sih mau beli makanan..!" jawabnya.
"Mas Sandi tidak kerja hari ini..?"
"Tidak akh.., malas sekali hari ini. Lagian khan aku tak mau kehilangan kesempatan..!" sambil berkata demikian dengan posisi berlutut dia menghampiriku.

Setelah tepat di depanku, segera tangannya melepas kain selimut yang membungkusi tubuhku. Lalu dengan cepat sekali dia mulai meraba-raba tubuhku dari ujung kaki sampai ujung pahaku. Diperlakukan demikian tentu saja aku geli. Segera bulu-bulu tubuhku berdiri.
"Akh... Mas..! Gellii..!" kataku.
Mas Sandi tidak menghiraukan kata-kataku itu.

Kini dia mulai mendaratkan bibirnya ke seluruh kulit kakiku dari bawah sampai ke atas. Perlakuannya itu berulang-ulang, sehingga menciptakan rasa geli campur nikmat yang membuatku terangsang. Lama sekali perlakuan itu dilakukan oleh Mas Sandi, dan aku pun semakin terangsang.
"Akh... Mas..! Oh.., mmh..!" aku memegang bagian belakang kepala Mas Sandi dan menariknya ketika mulut lelaki itu mencium vaginaku.
Semakin aku mengangkangkan pahaku, dengan mesranya lidah Mas Sandi mulai menjilat kemaluanku itu. Tubuhku mulai bergerak-gerak tidak beraturan, merasakan nikmat yang tiada tara di sekujur tubuhku.

Aku membuang kain selimut yang masih menempel di tubuhku ke lantai, sementara Mas Sandi masih dengan kegiatannya, yaitu menciumi dan menjilati vaginaku. Aku menengadah menahan nikmat, kedua kakiku naik di tumpangkan di kedua bahunya, namun tangan Mas Sandi menurunkannya dan berusaha membuka lebar-lebar kedua pahaku itu. Karuan saja s*****kanganku semakin terkuak lebar dan belahan vaginaku semakin membelah.
"Akh.. Mas..! Shh.. nikmaats..! Terus Mass..!" rintihku.

Kedua tangan Mas Sandi ke atas untuk meremas payudaraku yang terasa sudah mengeras, remasan itu membuatku semakin nikmat saja, dan itu membuat tubuhku semakin menggelinjang. Segera aku menambah kenikmatanku dengan menguakkan belahan vaginaku, jariku menyentuh kelentitku sendiri. Oh.., betapa nikmat yang kurasakan, liang kemaluanku sedang disodok oleh ujung lidah Mas Sandi, kedua payudaraku diremas-remas, dan kelentitku kusentuh dan kupermainkan. Sehingga beberapa detik kemudian terasa tubuhku mengejang hebat disertai perasaan nikmat teramat sangat dikarenakan aku mulai mendekati orgasmeku.

"Oh... Mas..! Aku... aku... akh.., nikmaats... mhh..!" bersamaan dengan itu aku mencapai klimaksku.
Tubuhku melayang entah kemana, dan sungguh aku sangat menikmatinya. Apalagi ketika Mas Sandi menyedot keras lubang kemaluanku itu. Tahu bahwa aku sudah mencapai klimaks, Mas Sandi menghentikan kegiatannya dan segera memelukku, mecium bibirku.

"Kamu sungguh cantik, Ridha.., aku cinta padamu..!" sambil berkata demikian, dengan pinggulnya dia membuka kembali pahaku, dan terasa batang kemaluannya menyentuh dinding kemaluannku.
Segera tanganku menggenggam kemaluan itu dan mengarahkan langsung tepat ke liang vaginaku.
"Lakukan Mas..! Lakukan sekarang..! Berikan cintamu padaku sekarang..!" kataku sambil menerima setiap ciuman di bibirku.

Mas Sandi dengan perlahan memajukan pinggulnya, maka terasa di liang vaginaku ada yang melesak masuk ke dalamnya. Gesekan itu membuatku kembali menengadah, sehingga ciumanku terlepas. Betapa panjang dan besar kurasakan. Sampai aku merasakan ujung kemaluan itu menyentuh dinding rahimku.
"Suamimu sepanjang inikah..?" tanyanya.
Aku menggelengkan kepala sambil terus menikmati melesaknya penis itu di liang vaginaku.

Beberapa saat kemudian sudah amblas semua seluruh batang kemaluan Mas Sandi. Aku pun sempat heran, kok bisa batang penis yang panjang dan besar itu masuk seluruhnya di vaginaku. Segera aku melipatkan kedua kakiku di belakang pantatnya. Sambil kembali mencium bibirku dengan mesra, Mas Sandi mendiamkan sejenak batang penisnya terbenam di vaginaku, hingga suatu saat dia mulai menarik mundur pantatku perlahan dan memajukannya lagi, menariknya lagi, memajukannya lagi, begitu seterusnya hingga tanpa disadari gerakan Mas Sandi mulai dipercepat. Karuan saja batang penis yang kudambakan itu keluar masuk di vaginaku. Vagina yang seharusnya hanya dapat dinikmati oleh suamiku, Mas Hadi.

Di alam kenikmatan, pikiranku menerawang. Aku seorang perempuan yang sudah bersuami tengah disetubuhi oleh orang lain, yang tidak punya hak sama sekali menikmati tubuhku, dan itu sangat di luar dugaanku. Seolah-olah aku sudah terjebak di antara sadar dan tidak sadar aku sangat menikmati perselingkuhan ini. Betapa aku sangat mengharapkan kepuasan bersetubuh dari lelaki yang bukan suamiku. Ini semua akibat Yanti yang memberi peluang seakan sahabatku itu tahu bahwa aku membutuhkan ini semua.

Beberapa menit berlalu, peluh kami sudah bercucuran. Sampailah aku pada puncak kenikmatan yang kudambakan. Orgasmeku mulai terasa dan sungguh aku sangat menikmatinya. Menikmati orgasmeku oleh laki-laki yang bukan suamiku, manikmati orgasme oleh suami sahabatku. Dan aku tidak menduga kalau rahimku pun menampung air sperma yang keluar dari penis lelaki selain suamiku.

Singkat kisahku, kini aku sudah bekerja di salah satu perusahaan milik bapaknya Yanti. Dengan demikian kehiduapanku selanjutnya mulai membaik. Ini semua berkat bantuan dari sahabatku Yanti. Namun sekarang tercipta problema baru yang mengganggu pikiranku. Penghianatanku terhadap Mas Hadi tidak berhenti sampai di sini.

Gairah seksku tidak dapat tertahankan. Aku dapat melayani suamiku hingga beberapa kali. Dan jika aku tidak merasa puas, kulampiaskan gejolakku itu dengan Mas Sandi, bahkan kalau Mas Sandi tidak ada, aku mencari kepuasan seksku dengan siapa saja yang mau. Dan untungnya hingga kini suamiku tidak mengetahuinya, tapi apa mungkin dia telah mengetahuinya..? Aku tidak perduli.


TAMAT

Skripsi Buat Selingkuh

Ceritanya bermula ketika aku disodorkan sebuah judul skripsi atau thesis oleh seorang mahasiswi untuk dibantu penyusunannya dengan alasan ia sendiri punya keterbatasan untuk menyusunnya, baik karena kurang memiliki buku-buku rujukan maupun belum pengalaman menyusun, apalagi dengan ketikan komputer. Karenanya, lewat informasi dariteman-temannya, ia (sebut saja namanya Sri) datang ke rumahku menawarkan sebuah judul yang sudah diterima oleh ketua jurusannya untuk dibahas lebih lanjut. Karena profesiku sehari-hari memang bergerak di bidang jasa pengetikan komputer dan penyusunan karya ilmiah, termasuk bimbingan penyusunan karya ilmiah, maka tentu aku berusaha untuk tidak menolak tawaran itu, meskipun waktu penyelesaian yang diberikan hanya seminggu. Tanpa pikir panjang, aku langsung menerima tawarannya dengan biaya yang tertera dalam formulir pesanan yang telah kusediakan.

Setelah selesai mengisi formulir pesanan yang kusodorkan, lalu kuamati identitas dan judul yang ditulisnya dalam formulir itu. Aku berpikir bahwa judul tersebut termasuk agak berat ringan, namun bisa diakali atau spekulasi, sebab menyangkut problem yang banyak dibicarakan oleh mas media dewasa ini. Redaksi judulnya adalah "Perselingkuhan dan Dampaknya terhadap Keharmonisan Rumah Tangga". Buku-buku yang membahas tentang perselingkuhan, masih sangat terbatas di kota tempat tinggal kami (sebut saja kota Wp) yakni salah satu kota kabupaten di Sulsel.

"Wah berat sekali judulnya ini, bisa ngga mencari buku-buku rujukannya" kataku setelah membaca isi formuliar pesanan yang telah ia isi itu.
"Nanti kuusahakan cari buku rujukannya kak" janjinya.
"Tapi judul ini nampaknya perlu juga penelitian lapangan dik, karena menyangkut problem rumahtangga yang ngga sulit ditemukan faktanya di daerah kita ini. Lagi pula saya yakin buku rujukannya sangat terbatas, sehingga perlu ditunjang dengan hasil wawancara atau angket"alasanku.
"Jadi bagaimana caranya kak? apa aku harus wawancara dengan mereka yang selingkuh?"tanya Sri sambil ketawa seolah ia malu melaksanakannya; dan memang harus dimaklumi karena ia masih tergolong gadis pemalu. Sri merupakan sosok wanita yang sedikit kalem, sikap dan penampilannya cukup sederhana. Tubuhnya langsing dengan wajah berseri-seri dan kepalanya selalu tertutup kain kerudung.
"Apa adik ngga mampu melakukannya atau malu?" tanyaku singkat.
"Aku sangat malu kak, palagi bicara soal rumah tangga, tentangselingkuh lagi, khan ngga enak rasanya kak"katanya terus terang.

Setelah kupikir dan pertimbangkannya, aku lalu menawarkan jalan lain:
"Gimana kalau anda beri surat kuasa padaku, biar aku yang wawancara sama teman atau orang lain yang kuketahui selingkuh" tawaranku padanya.
"Wah,,malah itu jalan yang terbaik kak. Buat aja surat kuasanya kak, nanti kutandatangani. Soal biaya yang kak keluarkan sehubungan dengan penelitian ini, aku siap tanggulangi semuanya asal bukan saya yang disuruh melakukannya" katanya seolah gembira sekali menyambutnya.
"Tapi terus terang aja dik, mungkin aku hanya minta kepada mereka agar bersedia menandatangani surat keterangan penelitiannya. Soal kejadian dan dampaknya, biar aku yang rekayasa kalimatnya" jelasku pada Sri.
"Ngga masalah kak. Yang penting karya ilmiahku bisa selesai dan ditandatangani oleh pembimbing serta aku bisa ikut ujian meja bersama teman-teman dalam waktu dekat ini" katanya pasrah padaku.

Saat itu pula aku langsung ketik suarat kuasanya lalu ditandatangani oleh Sri, kemudian ia minta izin pulang setelah aku mencatat Nomor telepon rumahnya. Setelah lima hari kemudian, aku sudah menyusun dengan matang konsep yang akan aku jalankan lebih lanjut. Aku hubungi dan minta agar Sri datang ke rumah pada pukul 19.00 wita guna membicarakan soal penyelesaian karya ilmiahnya. Sementara aku makan malam bersama keluarga, terdengarlah ada orang yang mengetuk pintu. Aku yakin itu pasti Sri. Istriku segera keluar membukakan pintu, ternyata betul Sri datang sebelum jam 19.00 wita. Mungkin ia anggap panggilanku itu sangat penting, apalagi menyangkut soal penyelesaian karya ilmiahnya.
"Silahkan duduk dik" kata istriku setelah Sri masuk.
"Langsung aja gabung di sini dik, kita makan sama-sama" teriakku dari dalam ruang makan. Istriku tidak pernah curiga dan cemburu terhadap setiap wanita yang datang kerumah, karena tujuannya sangat jelas.
"Terima kasih kak. Teruskan aja makannya. Aku baru aja makan di rumah" teriak Sri dari luar setelah ia duduk di kursi tamu yang tersedia.

"Begini Sri, aku sengaja memanggilmu ke sini untuk membicarakan soal kesimpulan penelitian yang akan saya muat dalam karya ilmiah anda. Aku takut kerja dua kali. Jadi sebelum aku muat, aku mau minta tanggapan dan keputusanmu dulu" jelasku ketika aku selesai makan dan duduk berhadapan dengan Sri. Sementara istriku masih sementara makan bersama dengan dua orang putraku. Kupikir mereka masih lama di ruang makan, sebab ia pasti meneruskannya dengan cuci piring, bikin air panas buat aku dan Sri. Masih banyak kesempatan yang bisa kami gunakan untuk bicara secara bebas tanpa mengundang kecurigaan dari istriku.
"Atur sajalah kak mana baiknya. Aku serahkan penuh keputusannya semua pada kak, karena kakaklah yang lebih tahu mengenai hal ini semua" katanya pasrah,meskipun ia belum tau niat dan spekulasiku memanggilnya.

"Sri,,terus terang dik..ada sesuatu yang akan saya tawarkan padamu, tapi aku malu dan takut kamu tersinggung dan marah padaku"kataku pada Sri dengan suara sedikit pelan karena takut kedengaran istri.
"Katakan saja kak,,aku ngga akan tersinggung kok, apalagi marah. Itu bukan watakku. Lagi pula kenapa mesti marah jika memang itu adalah kepentingan penyusunan karya ilmiahku. Aku siap bantu kak sepanjang aku mampu" kata Sri tanpa ragu dan berpikir curiga atas maksudku. Meskipun penuh keraguan, bahkan bisa beresiko buruk jika Sri tidak setuju, namun tetap aku beranikan diri menyampaikan niat bejatku.
"Bbbegini dik Sri,,maaf sekali lagi. Penelitian kita tidak boleh semua rekayasa dan mesti ada sedikit data pembuktian. Sementara aku sangat kesulitan mendapatkan bukti otentik, karena jarang sekali pria mau mengakui perselingkuhannya dan juga sulit ditemukan istri yang mau mengungkapkan secara jujur akibat yang dirasakannya dari perselingkuhan suaminya" paparku menjelaskan alasanku pada Sri.

Setelah terdiam, tunduk dan berpikir sejenak, maka Sri pun bertanya:
"Jadi kira-kira bagaimana baiknya kak agar kesulitan kak bisa teratasi"
"Rela ngga berkorban demi penyelesaian karya ilmiahnya dik?"tanyaku
"Sepanjang aku mampu, tentu saja aku akan usahakan kak. Khan sudah berulang-ulang kali kukatakan pada kak" katanya sedikit tegas, namun entah apa ia tau apa yang akan kuminta darinya atau sama sekali tidak terpikir olehnya. Tapi nampaknya ia tidak ragu-ragu mengatakannya.
"Betul? janji?" tanyaku tegas sambil mengulurkan tangan untuk salaman dengannya sebagai tanda perjanjian kami. Sri pun menyambut tanganku.
"Mumpun istriku masih di dalam Sri, kita bisa atur strateginya saat ini juga, sebab tawaranku ini sangat rahasia dan hanya kita berdua yang bisa ketahui" kataku sangat pelan dan hanya bisa didengar oleh Sri.

Setelah terdiam, tunduk dan berpikir sejenak, maka Sri pun bertanya:
"Jadi gimana caranya kak? rahasia bagaimana yang kak maksudkan. Katakan aja sekarang agar aku tidak penasaran untuk mendengarnya" desaknya.
"Aku akan menulis pertanyaan rahasia itu di komputer dan kamu menjawab langsung dengan kata "ya" jika setuju dan "tidak" jika tidak setuju ketika aku bertanya padamu "begini?". Kamu harus pura-pura membacakan isi sebuah buku tentang kehidupan rumah tangga yang harmonis, sebab kebetulan judul buku itu ada di sini dan aku seolah-olah menulis apa yang kamu bacakan, meskipun sebenarnya yang kutulis di komputer nanti adalah sejumlah pertanyaan yang harus kamu jawab "ya atau tidak" jelasku pada Sri meskipun ia tidak segera memahami maksudku, namun setelah aku menjelaskannya beberapa kali, akhirnya iapun mengerti.

Setelah kami sepakat untuk melakonkan sandiwara itu di depan komputer, kamipun saling terdiam tanpa saling memandang. Namun sikap kami itu tidak berlangsung lama sebab istriku tiba-tiba muncul membawa 2 cangkir air teh buat kami. Istriku tidak nampak ada rasa curiga pada kami, malah dia bercanda karena ia tidak sempat bikin kue buat Sri.
"Silahkan diminum dik, kebetulan ngga ada tulangnya nih" canda istriku.
"Terima kasih bu', aku merepotkan aja" kata Sri pada istriku.
"Silahkan diminum dulu dik,,atau kita bawa aja masuk di kamar komputer sambil anda membacakan datanya biar proses penyusunannya agak cepat" kataku dengan suara yang sedikit besar agar didengar langsung oleh istriku yang sedang duduk di sampingku sambil aku berdiri membawa secangkir teh masuk ke kamar kerjaku dan disusul pula oleh Sri setelah minta izin sama istriku, bahkan istriku sendiri yang membawakan tehnya dan meletakkannya di atas meja komputer lalu minta izin pada kami untuk nonton acara TV Sinetron kesukaannya yakni Kehormatan di ruang dalam.

"Silahkan dibaca dik," kataku sengaja memperdengarkan istriku yang sedang berbaring di depan TV. Sementara Sri duduk di kursi yang telah kusiapkan kurang lebih 50 cm di samping kananku dan aku sendiri duduk persis di depan layar komputer. Sri membaca isi buku yang dipegangnya kata demi kata layaknya orang yang mendiktekan, namun aku tidak menulis apa yang dibaca, melainkan aku mulai buat pertanyaan buat Sri.
"Begini tulisannya?" kataku seolah menulis apa yang dibaca itu, namun aku menuliskan pertanyaan bahwa "apa anda siap duduk di situ hingga jam 10 malam?"tulisku di layar komputer.
"Ya" jawab Sri di sela-sela kalimat yang dibacanya.
"Begini?" tanyaku lagi sambil menulis pertanyaanku "anda bisa maju dan bergeser ke arahku agak lebih dekat lagi?"
"Ya" jawab Sri lagi sambil menggeser kursinya agak lebih dekat lagi.

Meskipun yang kedengaran dari mulutku hanya kata "begini", namun pertanyaan yang kuajukan ke Sri lewat layat komputer banyak sekali. Hampir semua pertanyaanku dijawab dengan kata "ya" oleh Sri, termasuk pertanyaanku tentang apa Sri sudah punya pacar, pernah jatuh cinta, pernah dirasakan belaian pria, pernah dipegang tangannya, rambutnya, wajahnya, pahanya, payudaranya oleh pacarnya. Bahkan Sri juga mengiyakan pertanyaanku soal cium mencium dengan pacarnya. Namun ketika pertanyaanku mengarah lebih dalam lagi, terutama soal pernah tidur bersama dan bersetubuh dengan pacarnya, maka tiba-tiba ia jawab
dengan kata tegas "Tidak". Komunikasi kami berjalan lancar meskipun yang kedengaran keluar dari mulutku hanya kata "begini atau begini tulisanya?", lalu dijawab oleh Sri dengan kata "ya atau tidak" hingga waktu tidak dirasa sudah menunjukkan pukul 9.30 malam.

Setelah aku kehabisan bahan dan telah kukorek semua kepribadian Sri, aku lalu minta izin sama Sri untuk masuk buang air kecil sekaligus untuk memastikan keadaan istriku apa ia tidak mengintip atau mencurigai kami dalam kamar kerjaku, meskipun pintu ruanganku sengaja kubuka agar tidak ada rasa curiga dari istriku. Ternyata anak dan istrikut telah tertidur semua di depan TV, sebab kebiasannya memang suka tertidur ketika nonton. Aku sedikit lega dan merasa ada peluang untuk sedikit bereaksi bersama Sri setelah kuketahui kelemahannya. Karenanya, setelah buang air kecil, aku segera masuk dan duduk kembali seperti semula di samping kiri Sri, namun aku sengaja mendorong sedikit pintu agar tidak terlalu terbuka tanpa dilihat oleh Sri.

"Ayo kita lanjutkan sedikit Sri mumpun masih belum larut malam" kataku sambil sedikit bergeser ke arah kursi Sri.
"Begini Sri?" tanyaku dengan tekanan suara yang mulai rendah sambil memperlihatkan sebuah pertanyaan lagi dengan kalimat "apa pacarmu pernah mengelus-elus pahamu?". Sri lalu menjawab:
"Ya". Namun ia sangat kaget dan tersentak sejenak ketika aku bertanya:
"Seperti ini?" sambil kupegang dan kuelus pahanya yang dilapisi celana panjangnya yang agak tipis dan halus kainnya.
"Yyya..ah..titidak" jawabnya seolah ketakutan. Bahkan sempat bergeser
dan bermaksud menjauh dariku ketika aku menulis pertanyaan "pernahkah pacar anda meremas payudaranya?" lalu kuperlihatkan Sri sambil berkata:
"Begini Sri?" sambil aku berbalik menghadap padanya dan segera meremas kedua payudaranya dari luar bajunya. Kali ini ia tidak melepas kedua tanganku dari payudaranya, tapi ia mencoba berdiri lalu menengok keluar ke arah istriku seolah ia hanya takut sama istriku.

"Tenang Sri,,istri dan anak-anakku sedang tidur" bisikku pada Sri ketika ia mencoba menghindar dari perlakuanku, namun ia duduk kembali setelah melihat dengan jelas istriku sedang tidur pulas di depan TV melalui celah pintu yang sedikit terbuka.
"Kenapa harus sampai begini kak? aku malu, takut dan tidak biasa diperlakukan seperti ini" tanyanya padaku dengan suara sedikit berbisik namun cukup mengerti kalau kami harus bertindak super hati-hati.
"Maaf dik,,jika ini terpaksa harus kita lakukan di tempat ini,bukankah adik sendiri yang telah berjanji akan memberikan pengorbanan sesuai kemampuannya asal penyusunan karya ilmiahnya berjalan lancar?"kataku terus terang dan mengingatkan janjinya.
"Wah,,ternyata kak menafsirkan sampai ke situ. Aku ngga pernah berpikir sampai ke hal itu kak, tapi.."katanya seolah tidak tau arahku ke situ. Namun aku yakin ia tidak bakal menolak tindakanku lebih jauh karena Sri tiba-tiba berucap "tapi.." yang menandakan adanya peluangku lebih jauh.

Aku sudah berhenti membuat pertanyaan tertulis di layat komputer dan Sri pun meletakkan buku yang dibacanya sejak tadi. Kini kami saling berhadapan dan saling mengerti perasaan serta berkomikasi langsung, namun suara kami sangat kecil, sehingga hanya kami berdua yang bisa mendengarnya. Kami tentu harus waspada dan takut ketahuan oleh istri jika tiba-tiba ia terbangun. Kami betul-betul berani memanfaatkan kesempatan yang beresiko dan sempit itu. Sambil mengawasi terbangunnya istri yang sedang tidur, kami juga mengurangi bisikan dan komunikasi. Bahasa yang kami gunakan adalah mimik atau isyarat. Takut sekali bersuara. Tanganku mulai memegang paha Sri dari luar celananya, memegang kedua payudaranya yang terbungkus, merangkul dan mencium pipi lalu leher dan singga di bibirnya. Aku sedikit menikmati kecupan bibir Sri yang menyambut serangan bibir dan lidahku di mulut sampai rongga mulutnya.

"Sri,,kita tidak boleh menunda-nunda permainan ini. Kita harus segera tuntaskan siapa tau istri saya terbangun lalu heran kenapa ngga ada suara-suara kita seperti tadi. Ayo bantu aku dik" bisikku di telinga Sri ketika aku dan mungkin Sri juga terangsang, apalagi tiba-tiba diliputi rasa takut.
"Yah kak,,aku takut sekali. Cepat-cepat selesaikan kak" balas Sri seolah menerima baik tindakanku ini. Sri segera membuka 2 kancing bajunya untuk memberi kesempatan agar aku segera meremas susunya dan mengisap putingnya yang nampak tegang kecoklatan. Akupun tidak menyia- nyiakan kesempatan emas ini dan segera meraih bukit kembar yang putih mulus itu. Sangat mungil karena belum pernah dijamah oleh pria lain kecuali hanya pacarnya yang pernah meremasnya dari luar bajunya, apalagi usianya baru berkisar 20 tahun. Setelah aku puas menjilat, mengisap dan memainkan bukit kembarnya, tanganku berpindah ke bawah yang sudah mulai ada jalan masuk karena telah terbuka kasper celananya dari depan, sehingga tanganku dengan mudah meraba, mengelus dan menekan biji daging yang terasa bergetar-getar yang ada di antara kedua bibir bawahnya.

Karena sepakat akan menuntaskan seluruh permainan kami di kamar kerjaku itu, maka wajar jika kami saling membantu dan memudahkan terlaksananya hajat kami. Tanpa kuminta, Sripun melorot sedikit celananya hingga di atas lututnya. Aku tak sempat melihat apa Sri memakai celana dalam atau dilorit bersama celana panjangnya, tapi yang jelas paha mulus lagi putih itu terlihat dengan jelas, bahkan sampai ke batas pinggangnya. Namun Sri masih tetap dalam posisi duduk berhadapan denganku, sehingga aku sulit melihat dengan jelas barang mewah yang ada di s*****kangannya tapi aku bisa meraba dan memainkannya dengan mudah. Mulutku akrab menempel di payudara kirinya, sementara tangan kiriku melekat di payudara kanannya dan tangan kananku tak mau pisah dengan sebuah daging yang tertancap pada dua bibir bawah di antara s*****kangannya.
"Ssstttt....aahhhhh.....khkh....cceeepat kak selesaikan, aku sudah ngga tahan nih" bisik Sri ditelingaku ketika aku semakin memainkan mulut dan tanganku pada kedua alat sensitifnya itu sambil berusaha menurunkan sedikit celananya hingga lutut.

"Sabar dik,,aku ngga mau rasanya berhenti dan ingin menikmati sampai pagi" bisikku sambil mempercepat gerakan tangan dan mulutku. Namun Sri mencubit pinggangku lalu ia segera berdiri dan kedua tangannya langsung membuka ikat pinggang berikut kait serta kasper celanaku dengan lincah sekali. Setelah terlepas, kedua tangannya segera menurunkan celanaku, namun sedikit tertahan karena aku masih duduk di atas kursi, tapi aku sangat mengerti sehingga aku mengangkat pantat untuk memudahkan ia menurunkan celanaku hingga lutut. Tanpa disentuh dan digocok, penisku dengan sendirinya berdiri mengacung bagaikan kepala ular berbisa yang mau mematuk mangsanya. Tanpa perintah atau komando, Sri tiba-tiba duduk di antara kedua pahaku dan meraih ujung penisku lalu mengarahkan ke lubang memeknya yang sedikit basah dan licin itu, lalu merangkul leherku. Ia mulai menggoyang sedikit pinggulnya ke kiri dan kekanan agar penisku dapat dengan mudah masuk ke lubang sasarannya, namun agak sulit. Selain karena memek Sri ditumbuhi bulu hitam yang cukup lebat, juga memeknya kuyakini belum terbiasa dimasuki benda tumpul seperti yang kami usahakan masuk saat ini.

Aku mencoba membantu untuk memasukkannya dengan memegang penisku serta membuka kedua bibir memeknya dengan kedua tanganku, tapi belum bisa amblas meskipun separohnya sudah mulai masuk dan kurasakan senti demi senti melejik ke dalam, apalahi gerakan pinggul dan tangan Sri tidak mau berhenti. Aku sebenarnya masih ingin menikmati permainan kami dengan lama sekali, tapi tiba-tiba terpikir akan terbangun istriku karena suara kaki kursi plastik yang selalu bergerak-gerak seiring dengan gerakan kami, maka aku konsentrasi lagi untuk menuntaskannya dengan segera. Gerakan pinggulku mengikuti gerakan pinggul Sri dan kami saling menekan masuk hingga akhirnya bisa amblas seluruhnya. Bunyi "decak,,decik,,,decukk,,,cak..cikkk..cukkk" pun cukup menyela keheningan malam itu, yang membuat aku semakin hawatir istriku terganggu dan terbangun, sehingga kami mengatur kembali gerakan.

Meskipun pakaian kami hanya terbuka sedikit sekali dan gerakan serta suara kami sangat terbatas, namun cukup bisa kami nikmati permainan kami itu. Bahkan belum pernah kurasakan kenikmatan seperti itu dari istriku. Mungkin karena ini hasil curian atau karena ketidak leluasaan kami yang membuat permainan kami lebih nikmat dan lebih berkesan. Kembali lagi Sri menghentak-hentakkan pantatnya ke pahaku seiring dengan keluar masuknya penisku ke dalam vaginanya, bahkan ia seolah tak sadarkan diri lagi dan gerakannya semakin dipercepat ketika aku mencoba mengangkat sedikit pantatku agak masuknya lebih dalam lagi. Tanpa berkata apa-apa, Sri terasa gemetar sekujur tubuhnya dan keringatnya yang bercampir dengan keringatku jatuh membasahi kursi tempat dudukku. Akupun mengerti kalau Sri sudah berada di ambang pintu kenikmatan yang luar biasa, maka aku mencoba menahan cairan hangat yang juga mulai terasa menjalar ditubuhku dan mendesak mau keluar lewat penisku. Sri tiba-tiba merangkulku dengan keras, menggigit sedikit bahuku dan mencakar-cakar punggungku, lalu terasa lemas lunglai.

Ketika Sri terasa lemas seolah kehabisan tenaga, aku yakin kalau ia sudah melewati klimaksnya. Kini giliranku untuk mencapainya, lalu aku segera mengangkat tubuh Sri dan memutar sehingga posisi membelakangiku. Mau tidak mau ia terpaksa pegangan di didinding kamar, lalu kutekan sedikit kepalanya agar ia lebih nungging lagi. Setelah terlihat lubang kenikmatannya dengan jelas,aku segera arahkan penisku masuk ke dalamnya dan menekannya agar masuk lebih dalam, lalu kugenjok dengan keras dan cepat bolak balik maju mundur hingga akupun merasakan ada cairan hangat yang kental tumpah ke dalam lubang kenikmatan Sri. Aku sengaja dan tidak takut akibatnya, sebab zat Sri yang bakal membuahi sudah keluar sejak tadi, sehingga tidak mungkin bisa ketemu dan terbuahi. Hal itu kuyakini sesuai praktek kami bersama istri selama ini. Setelah kami sama-sama mencapai puncak kenikmatan, kami lalu berpelukan sejenak dan saling memberi kecupan sebagai tanda terima kasih dan saling puas. Tanpa menunda waktu sedetikpun, kami segera memperbaiki kembali posisi pakaian kami masing-masing seperti semula lalu duduk sejenak sambil berpandangan dengan senyum puas dan bahagia yang kami rasakan.

Kami sudah tidak konsentrasi lagi terhadap karya ilmiah dan penelitian yang sedang kami proses. Bahkan sebelum istriku bangun, Sri minta izin untuk pulang, tapi aku sempat membisikkan sebuah kalimat di telinganya:
"Sudah mengerti yang namanya selingkuh sayang? inilah bukti selingkuh yang sebenarnya dan data inilah yang paling otentik dari semua hasil penelitian kita,karena sama sekali bukan rekayasa melainkan betul-betul berdasarkan fakta dan pengalkaman nyata kita sendiri" bisikku sambil memberi ciuman terakhir dan merangkulnya sekali lagi dengan eratnya. Sri hanya membalas dengan senyum dan sedikit cubutan di pinggangku. Sri pun m*****kah keluar lalu naik ke motornya seolah penuh bahagia.

Tukar Pasangan Asing

Nama saya Dikky, saya berumur 28 tahun, baru 3 (tiga) bulan bekerja di suatu perusahaan asing di Jakarta, atasan saya Mr. Richard Handerson, berasal dari Amerika, kira-kira berumur 40 tahun. Dalam waktu singkat Rich demikian teman-teman di kantor suka memanggilnya, telah sangat akrab dengan saya, karena kebetulan kami mempunyai hobi yang sama yaitu bermain golf. Perusahaan tempat kami bekerja adalah suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang advertising. Menurut cerita-cerita teman-teman istri Richard, yang berasal dari Amerika juga, sangat cantik dan badannya sangat seksi, seperti bintang film Hollywood . Aku sendiri belum pernah bertemu secara langsung dengan istri Richard, hanya melihat fotonya yang terletak di meja kerja Richard. Suatu hari saya memasang foto saya berdua denga Nina istri saya, yang berasal dari Bandung dan berumur 26 tahun, di meja kerja saya. Pada waktu Richard melihat foto itu, secara spontan dia memuji kecantikan Nina dan sejak saat itu pula saya mengamati kalau Richard sering melirik ke foto itu, apabila kebetulan dia datang ke ruang kerja saya.

Suatu hari Richard mengundang saya untuk makan malam di rumahnya, katanya untuk membahas suatu proyek, sekaligus untuk lebih mengenal istri masing-masing.
"Dik, nanti malam datang ke rumah ya, ajak istrimu Nina juga, sekalian makan malam".
"Lho, ada acara apa boss?", kataku sok akrab.
"Ada proyek yg harus diomongin, sekalian biar istri saling kenal gitu".
"Okelah!", kataku.

Sesampainya di rumah, undangan itu aku sampaikan ke Nina. Pada mulanya Nina agak segan juga untuk pergi, karena menurutnya nanti agak susah untuk berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan mereka. Akan tetapi setelah kuyakinkan bahwa Richard dan Istrinya sangat lancar berbahasa Indonesia, akhirnya Nina mau juga pergi.
"Ada apa sih Mas, kok mereka ngadain dinner segala?".
"Tau, katanya sih, ada proyek apa...., yang mau didiskusikan" .
"Oooo..., gitu ya", sambil tersenyum. Melihat dia tersenyum aku segera mencubit pipinya dengan gemas. Kalau melihat Nina, selalu gairahku timbul, soalnya dia itu seksi sekali. Rambutnya terurai panjang, dia selalu senam so..., punya tubuh ideal, dan ukurannya itu 34B yang padat kencang.

Pukul 19.30 kami sudah berada di apartemen Richard yang terletak di daerah Jl. Gatot Subroto. Aku mengenakan kemeja batik, sementara Nina memakai stelan rok dan kemeja sutera. Rambutnya dibiarkan tergerai tanpa hiasan apapun. Sesampai di Apertemen no.1009, aku segera menekan bel yang berada di depan pintu. Begitu pintu terbuka, terlihat seorang wanita bule berumur kira-kiar 32 tahun, yang sangat cantik, dengan tinggi sedang dan berbadan langsing, yang dengan suara medok menegur kami.
"Oh Dikky dan Nina yah?,silakan. .., masuk..., silakan duduk ya!, saya Lillian istrinya Richard".
Ternyata Lillian badannya sangat bagus, tinggi langsing, rambut panjang, dan lebih manis dibandingkan dengan fotonya di ruang kerja Richard. Dengan agak tergagap, aku menyapanya.
"Hallo Mam..., kenalin, ini Nina istriku".

Setelah Nina berkenalan dengan Lillian, ia diajak untuk masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam, sementara Richard mengajakku ke teras balkon apartemennya.
"Gini lho Dik..., bulan depan akan ada proyek untuk mengerjakan iklan.., ini..., ini..., dsb. Berani nggak kamu ngerjakan iklan itu".
"Kenapa nggak, rasanya perlengkapan kita cukup lengkap, tim kerja di kantor semua tenaga terlatih, ngeliat waktunya juga cukup. Berani!".
Aku excited sekali, baru kali itu diserahi tugas untuk mengkordinir pembuatan iklan skala besar.

Senyum Richard segera mengembang, kemudian ia berdiri merapat ke sebelahku.
"Eh Dik..., gimana Lillian menurut penilaian kamu?", sambil bisik-bisik.
"Ya..., amat cantik, seperti bintang film", kataku dengan polos.
"Seksi nggak?".
"Lha..., ya..., jelas dong".
"Umpama..., ini umpama saja loooo..., kalo nanti aku pinjem istrimu dan aku pinjemin Lillian untuk kamu gimana?".
Mendenger permintaan seperti itu terus terang aku sangat kaget dan bingung, perasanku sangat shock dan tergoncang. Rasanya kok aneh sekali gitu. Sambil masih tersenyum-senyum, Richard melanjutkan, "Nggak ada paksaan kok, aku jamin Nina dan Lillian pasti suka, soalnya nanti..., udah deh pokoknya kalau kau setuju..., selanjutnya serahkan pada saya..., aman kok!".

Membayangkan tampang dan badan Lillian aku menjadi terangsang juga. Pikirku kapan lagi aku bisa menunggangi kuda putih? Paling-paling selama ini hanya bisa membayangkan saja pada saat menonton blue film. Tapi dilain pihak kalau membayangkan Nina dikerjain si bule ini, yang pasti punya senjata yang besar, rasanya kok tidak tega juga. Tapi sebelum saya bisa menentukan sikap, Richard telah melanjutkan dengan pertanyaan lagi, "Ngomong-ngomong Nina sukanya kalo making love style-nya gimana sih?".
Tanpa aku sempat berpikir lagi, mulutku sudah ngomong duluan, "Dia tidak suka style yang aneh-aneh, maklum saja gadis pingitan dan pemalu, tapi kalau vaginanya dijilatin, maka dia akan sangat terangsang!" .
"Wow..., aku justru pengin sekali mencium dan menjilati bagian vagina, ada bau khas wanita terpancar dari situ..., itu membuat saya sangat terangsang!" , kata Richard.
"Kalau Lillian sangat suka main di atas, doggy style dan yang jelas suka blow-job" lanjutnya.
Mendengar itu aku menjadi bernafsu juga, belum-belum sudah terasa ngilu di bagian bawahku membayangkan senjataku diisap mulut mungil Lillian itu.
Kemudian lanjut Richard meyakinkanku, "Oke deh..., enjoy aja nanti, biar aku yang atur. Ngomong-ngomong my wife udah tau rencana ini kok, dia itu orangnya selalu terbuka dalam soal seks..., jadi setuju aja".
"Nanti minuman Nina aku kasih bubuk penghangat sedikit, biar dia agak lebih berani..., Oke..., yaa!", saya agak terkejut juga, apakah Richard akan memberikan obat perangsang dan memperkosa Rina? Wah kalau begitu tidak rela aku. Aku setuju asal Rina mendapat kepuasan juga. Melihat mimik mukaku yang ragu-ragu itu, Richard cepat-cepat menambahkan, "Bukan obat bius atau ineks kok. Cuma pembangkit gairah aja", kemudian dia menjelaskan selanjutnya, "Oke, nanti kamu duduk di sebelah Lillian ya, Nina di sampingku".

Selanjutnya acara makan malam berjalan lancar. Juga rencana Richard. Setelah makan malam selesai kelihatannya bubuk itu mulai bereaksi. Rina kelihatan agak gelisah, pada dahinya timbul keringat halus, duduknya kelihatan tidak tenang, soalnya kalau nafsunya lagi besar, dia agak gelisah dan keringatnya lebih banyak keluar. Melihat tanda-tanda itu, Richard mengedipkan matanya pada saya dan berkata pada Nina, "Nin..., mari duduk di depan TV saja, lebih dingin di sana!", dan tampa menunggu jawaban Nina, Richard segera berdiri, menarik kursi Nina dan menggandengnya ke depan TV 29 inchi yang terletak di ruang tengah. Aku ingin mengikuti mereka tapi Lillian segera memegang tanganku. "Dik, diliat aja dulu dari sini, ntar kita juga akan bergabung dengan mereka kok". Memang dari ruang makan kami dapat dengan jelas menyaksikan tangan Richard mulai bergerilya di pundak dan punggung Nina, memijit-mijit dan mengusap-usap halus. Sementara Nina kelihatan makin gelisah saja, badannya terlihat sedikit menggeliat dan dari mulutnya terdengar desahan setiap kali tangan Richard yang berdiri di belakangnya menyentuh dan memijit pundaknya.

Lillian kemudian menarikku ke kursi panjang yang terletak di ruang makan. Dari kursi panjang tersebut, dapat terlihat langsung seluruh aktivitas yang terjadi di ruang tengah, kami kemudian duduk di kursi panjang tersebut. Terlihat tindakan Richard semakin berani, dari belakang tangannya dengan trampil mulai melepaskan kancing kemeja batik Nina hingga kancing terakhir. BH Nina segera menyembul, menyembunyikan dua bukit mungil kebanggaanku dibalik balutannya. Kelihatan mata Nina terpejam, badannya terlihat lunglai lemas, aku menduga-duga, "Apakah Nina telah diberi obat tidur, atau obat perangsang oleh Richard?, atau apakah Nina pingsan atau sedang terbuai menikmati permainan tangan Richard?". Nina tampaknya pasrah seakan-akan tidak menyadari keadaan sekitarnya. Timbul juga perasaan cemburu berbarengan dengan gairah menerpaku, melihat Nina seakan-akan menyambut setiap belaian dan usapan Richard dikulitnya dan ciuman nafsu Richardpun disambutnya dengan gairah.

Melihat apa yang tengah diperbuat oleh si bule terhadap istriku, maka karena merasa kepalang tanggung, aku juga tidak mau rugi, segera kualihkan perhatianku pada istri Richard yang sedang duduk di sampingku. Niat untuk merasakan kuda putih segera akan terwujud dan tanganku pun segera menyelusup ke dalam rok Lillian, terasa bukit kemaluannya sudah basah, mungkin juga telah muncul gairahnya melihat suaminya sedang mengerjai wanita mungil. Dengan perlahan jemariku mulai membuka pintu masuk ke lorong kewanitaannya, dengan lembut jari tengahku menekan clitorisnya. Desahan lembut keluar dari mulut Lillian yang mungil itu, "aahh..., aaghh..., aagghh", tubuhnya mengejang, sementara tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.

Sementara itu di ruang sebelah, Richard telah meningkatkan aksinya terhadap Nina, terlihat Nina telah dibuat polos oleh Richard dan terbaring lunglai di sofa. Badan Nina yang ramping mulus dengan buah dadanya tidak terlalu besar, tetapi padat berisi, perutnya yang rata dan kedua bongkahan pantatnya yang terlihat mulus menggairahkan serta gundukan kecil yang membukit yang ditutupi oleh rambut-rambut halus yang terletak diantara kedua paha atasnya terbuka dengan jelas seakan-akan siap menerima serangan-serangan selanjutnya dari Richard. Kemudian Richard menarik Nina berdiri, dengan Richard tetap di belakangnya, kedua tangan Richard menjelajahi seluruh lekuk dan ngarai istriku itu. Aku sempat melihat ekspresi wajah Nina, yang dengan matanya yang setengah terpejam dan dahinya agak berkerut seakan-akan sedang menahan suatu kenyerian yang melanda seluruh tubuhnya dengan mulutnya yang mungil setengah terbuka, menunjukan Nina menikmati benar permainan dari Richard terhadap badannya itu, apalagi ketika jemari Richard berada di semak-semak kewanitaannya, sementara tangan lain Richard meremas-remas puting susunya, terlihat seluruh badan Nina yang bersandar lemas pada badan Richard, bergetar dengan hebat.

Saat itu juga tangan Lillian telah membuka zipper celana panjangku, dan bagaikan orang kelaparan terus berusaha melepas celanaku tersebut. Untuk memudahkan aksinya aku berdiri di hadapannya, dengan melepaskan bajuku sendiri. Setelah Lillian selesai dengan celanaku, gilirannya dia kutelanjangi. Wow..., kulit badannya mulus seputih susu, payudaranya padat dan kencang, dengan putingnya yang berwarna coklat muda telah mengeras, yang terlihat telah mencuat ke depan dengan kencang. Aku menyadari, kalau diadu besarnya senjataku dengan Richard, tentu aku kalah jauh dan kalau aku langsung main tusuk saja, tentu Lillian tidak akan merasa puas, jadi cara permainanku harus memakai teknik yang lain dari lain. Maka sebagai permulaan kutelusuri dadanya, turun ke perutnya yang rata hingga tiba di lembah diantara kedua pahanya mulus dan mulai menjilat-jilat bibir kemaluannya dengan lidahku.

Kududukkan Lillian kembali di sofa, dengan kedua kakinya berada di pundakku. Sasaranku adalah vaginanya yang telah basah. Lidahku segera menari-nari di permukaan dan di dalam lubang vaginanya. Menjilati clitorisnya dan mempermainkannya sesekali. Kontan saja Lillian berteriak-teriak keenakan dengan suara keras, " Oooohh..., oooooohh..., ssssssshh... , ssssssssshh" . Sementara tangannya menekan mukaku ke vaginanya dan tubuhnya menggeliat-geliat. Tanganku terus melakukan gerakan meremas-remas di sekitar payudaranya. Pada saat bersamaan suara Nina terdengar di telingaku saat ia mendesah-desah, "Oooh..., aaggghh!", diikuti dengan suara seperti orang berdecak-decak. Tak tahu apa yang diperbuat Richard pada istriku, sehingga dia bisa berdesah seperti itu. Nina sekarang telah telentang di atas sofa, dengan kedua kakinya terjulur ke lantai dan Richard sedang berjongkok diantara kedua paha Nina yang sudah terpentang dengan lebar, kepalanya terbenam diantara kedua paha Nina yang mulus. Bisa kubayangkan mulut dan lidah Richard sedang mengaduk-aduk kemaluan Nina yang mungil itu. Terlihat badan Nina menggeliat-geliat dan kedua tangannya mencengkeram rambut Richard dengan kuat.

Aku sendiri makin sibuk menjilati vagina Lillian yang badannya terus menggerinjal- gerinjal keenakan dan dari mulutnya terdengar erangan, "Ahh..., yaa..., yaa..., jilatin..., Ummhh". Desahan-desahan nafsu yang semakin menegangkan otot-otot penisku. "Aahh..., Dik..., akuuu..., aakkuu..., ooooohh..., hh!", dengan sekali hentakan keras pinggul Lillian menekan ke mukaku, kedua pahanya menjepit kepalaku dengan kuat dan tubuhnya menegang terguncang-guncang dengan hebat dan diikuti dengan cairan hangat yang merembes di dinding vaginanya pun semakin deras, saat ia mencapai organsme. Tubuhnya yang telah basah oleh keringat tergolek lemas penuh kepuasan di sofa. Tangannya mengusap-usap lembut dadaku yang juga penuh keringat, dengan tatapan yang sayu mengundangku untuk bertindak lebih jauh.

Ketika aku menengok ke arah Richard dan istriku, rupanya mereka telah berganti posisi. Nina kini telentang di sofa dengan kedua kakinya terlihat menjulur di lantai dan pantatnya terletak pada tepi sofa, punggung Nina bersandar pada sandaran sofa, sehingga dia bisa melihat dengan jelas bagian bawah tubuhnya yang sedang menjadi sasaran tembak Richard. Richard mengambil posisi berjongkok di lantai diantara kedua paha Nina yang telah terpentang lebar. Aku merasa sangat terkejut juga melihat senjata Richard yang terletak diantara kedua pahanya yang berbulu pirang itu, penisnya terlihat sangat besar kurang lebih panjangnya 20 cm dengan lingkaran yang kurang lebih 6 cm dan pada bagian kepala penisnya membulat besar bagaikan topi baja tentara saja.[/font]

[font=&quot]Terlihat Richard memegang penis raksasanya itu, serta di usap-usapkannya di belahan bibir kemaluan Nina yang sudah sedikit terbuka, terlihat Nina dengan mata yang terbelalak melihat ke arah senjata Richard yang dahsyat itu, sedang menempel pada bibir vaginanya. Kedua tangan Nina kelihatan mencoba menahan badan Richard dan badan Nina terlihat agak melengkung, pantatnya dicoba ditarik ke atas untuk mengurangi tekanan penis raksasa Richard pada bibir vaginanya, akan tetapi dengan tangan kanannya tetap menahan pantat Nina dan tangan kirinya tetap menuntun penisnya agar tetap berada pada bibir kemaluan Nina, sambil mencium telinga kiri Nina, terdengar Richard berkata perlahan, "Niiinnn..., maaf yaa..., saya mau masukkan sekarang..., boleh?", terlihat kepala Nini hanya menggeleng-geleng kekiri kekanan saja, entah apa yang mau dikatakannya, dengan pandangannya yang sayu menatap ke arah kemaluannya yang sedang didesak oleh penis raksasa Richard itu dan mulutnya terkatup rapat seakan-akan menahan kengiluan.

Richard, tanpa menunggu lebih lama lagi, segera menekan penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang telah basah itu, biarpun kedua tangan Nina tetap mencoba menahan tekanan badan Richard. Mungkin, entah karena tusukan penis Richard yang terlalu cepat atau karena ukuran penisnya yang over size, langsung saja Nina berteriak kecil, "Aduuuuuh... , pelan-pelan. .., sakit nih", terdengar keluhan dari mulutnya dengan wajah yang agak meringis, mungkin menahan rasa kesakitan. Kedua kaki Nina yang mengangkang itu terlihat menggelinjang. Kepala penis Richard yang besar itu telah terbenam sebagian di dalam kemaluan Nina, kedua bibir kemaluannya menjepit dengan erat kepala penis Richard, sehingga belahan kemaluan Nina terlihat terkuak membungkus dengan ketat kepala penis Richard itu. Kedua bibir kemaluan Nina tertekan masuk begitu juga clitoris Nina turut tertarik ke dalam akibat besarnya kemaluan Richard.

Richard menghentikan tekanan penisnya, sambil mulutnya mengguman, "Maaf..., Nin..., saya sudah menyakitimu. .., maaf yaa..., Niin!".
"aagghh..., jangan teeeerrlalu diiipaksakan. .., yaahh..., saayaa meerasa..., aakan..., terbelah..., niiiih..., sakiiiitttt. .., jangan..., diiiterusiinn" .
Nina mencoba menjawab dengan badannya terus menggeliat-geliat, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungung Richard.
"Niiiinn..., saya mau masukkan lagi..., yaa..., dan tolong katakan yaa..., kalau Nina masih merasa sakit", sahut Richard dan tanpa menunggu jawaban Nina, segera saja Richard melanjutkan penyelaman penisnya ke dalam lubang vagina Nina yang tertunda itu, tetapi sekarang dilakukannya dengan lebih pelan pelan.

Ketika kepala penisnya telah terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluan Nina, terlihat muka Nina meringis, tetapi sekarang tidak terdengar keluhan dari mulutnya lagi hanya kedua bibirnya terkatup erat dengan bibir bawahnya terlihat menggetar.
Terdengar Richard bertanya lagi, "Niiiinnn... , sakit..., yaa?", Nina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil kedua tangannya meremas bahu Richard dan Richard segera kembali menekan penisnya lebih dalam, masuk ke dalam lubang kemaluan Nina.

Secara pelahan-lahan tapi pasti, penis raksasa itu menguak dan menerobos masuk ke dalam sarangnya. Ketika penis Richard telah terbenam hampir setengah di dalam lubang vagina Nina, terlihat Nina telah pasrah saja dan sekarang kedua tangannya tidak lagi menolak badan Richard, akan tetapi sekarang kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada tepi sofa. Richard menekan lebih dalam lagi, kembali terlihat wajah Nina meringis menahan sakit dan nikmat, kedua pahanya terlihat menggeletar, tetapi karena Nina tidak mengeluh maka Richard meneruskan saja tusukan penisnya dan tiba-tiba saja, "Bleeees", Richard menekan seluruh berat badannya dan pantatnya menghentak dengan kuat ke depan memepetin pinggul Nina rapat-rapat pada sofa.

Pada saat yang bersamaan terdengar keluhan panjang dari mulut Nina, "Aduuuuh", sambil kedua tangannya mencengkeram tepi sofa dengan kuat dan badannya melengkung ke depan serta kedua kakinya terangkat ke atas menahan tekanan penis Richard di dalam kemaluannya. Richard mendiamkan penisnya terbenam di dalam lubang vagina Nina sejenak, agar tidak menambah sakit Nina sambil bertanya lagi, "Niinnn..., sakit..., yaa? Tahan dikit yaa, sebentar lagi akan terasa nikmat!", Nina dengan mata terpejam hanya menggelengkan kepalanya sedikit seraya mendesah panjang, "aaggggghh.. ., kit!", lalu Richard mencium wajah Nina dan melumat bibirnya dengan ganas. Terlihat pantat Richard bergerak dengan cepat naik turun, sambil badannya mendekap tubuh mungil Nina dalam pelukannya.

Tak s***** lama kemudian terlihat badan Nina bergetar dengan hebat dari mulutnya terdengar keluhan panjang, "Aaduuuuh... , oooohh..., sssssssshh.. ., ssssshh", kedua kaki Nina bergetar dengan hebat, melingkar dengan ketat pada pantat Richard, Nina mengalami orgasme yang hebat dan berkepanjangan. S***** sesaat badan Nina terkulai lemas dengan kedua kakinya tetap melingkar pada pantat Richard yang masih tetap berayun-ayun itu.

aah, suatu pemandangan yang sangat erotis sekali, suatu pertarungan yang diam-diam yang diikuti oleh penaklukan disatu pihak dan penyerahan total dilain pihak.
"Dik..., ayo aku mau kamu", suara Lillian penuh gairah di telingaku. Kuletakkan kaki Lillian sama dengan posisi tadi, hanya saja kini senjataku yang akan masuk ke vaginanya. Duh, rasanya kemaluan Lillian masih rapet saja, aku merasakan adanya jepitan dari dinding vagina Lillian pada saat rudalku hendak menerobos masuk.
"Lill..., kok masih rapet yahh". Maka dengan sedikit tenaga kuserudukkan saja rudalku itu menerobos liang vaginanya. "Aaggghh", mata Lillian terpejam, sementara bibirnya digigit. Tapi ekspresi yang terpancar adalah ekspresi kepuasan. Aku mulai mendorong-dorongkan penisku dengan gerakan keluar masuk di liang vaginanya. Diiringi erangan dan desahan Lillian setiap aku menyodokkan penisku, melihat itu aku semakin bersemangat dan makin kupercepat gerakan itu. Bisa kurasakan bahwa liang kemaluannya semakin licin oleh pelumas vaginanya.

"Ahh..., ahh", Lillian makin keras teriakannya.
"Ayo Dik..., terus".
"Enakkk..., eeemm..., mm!".
Tubuhnya sekali lagi mengejang, diiringi leguhan panjang, "Uuhh...hh.. ..." "Lill..., boleh di dalam..., yaah", aku perlu bertanya pada dia, mengingat aku bisa saja sewaktu-waktu keluar.
"mm...".

Kaki Lillian kemudian menjepit pinggangku dengan erat, sementara aku semakin mempercepat gerakan sodokan penisku di dalam lubang kemaluannya. Lillian juga menikmati remasan tanganku di buah dadanya.
"Nih..., Lill..., terima yaa".
Dengan satu sodokan keras, aku dorong pinggulku kuat-kuat, sambil kedua tanganku memeluk badan Lillian dengan erat dan penisku terbenam seluruhnya di dalam lubang kemaluannya dan saat bersamaan cairan maniku menyembur keluar dengan deras di dalam lubang vagina Lillian. Badanku tehentak-hentak merasakan kenikmatan orgasme di atas badan Lillian, sementara cairan hangat maniku masih terus memenuhi rongga vagina Lillian, tiba-tiba badan Lillian bergetar dengan hebat dan kedua pahanya menjepit dengan kuat pinggul saya diikuti keluhan panjang keluar dari mulutnya, "รข€¦aagghh..., hhm!", saat bersamaan Lillian juga mengalami orgasme dengan dahsyat.

Setelah melewati suatu fase kenikmatan yang hebat, kami berdua terkulai lemas dengan masih berpelukan erat satu sama lain. Dari pancaran sinar mata kami, terlihat suatu perasaan nikmat dan puas akan apa yang baru kami alami. Aku kemudian mencabut senjataku yang masih berlepotan dan mendekatkannya ke muka Lillian. Dengan isyarat agar ia menjilati senjataku hingga bersih. Ia pun menurut. Lidahnya yang hangat menjilati penisku hingga bersih. "Ahh..". Dengan kepuasan yang tiada taranya aku merebahkan diri di samping Lillian.

Kini kami menyaksikan bagaimana Richard sedang mempermainkan Nina, yang terlihat tubuh mungilnya telah lemas tak berdaya dikerjain Richard, yang terlihat masih tetap perkasa saja. Gerakan Richard terlihat mulai sangat kasar, hilang sudah lemah lembut yang pernah dia perlihatkan. Mulai saat ini Richard mengerjai Nina dengan sangat brutal dan kasar. Nina benar-benar dipergunakan sebagai objek seks-nya. Saya sangat takut kalau-kalau Richard menyakiti Nina, tetapi dilihat dari ekspressi muka dan gerakan Nina ternyata tidak terlihat tanda-tanda penolakan dari pihak Nina atas apa yang dilakukan oleh Richard terhadapnya.

Richard mencabut penisnya, kemudian dia duduk di sofa dan menarik Nina berjongkok diantara kedua kakinya, kepala Nina ditariknya ke arah perutnya dan memasukkan penisnya ke dalam mulut Nina sambil memegang belakang kepala Nina, dia membantu kepala Nina bergerak ke depan ke belakang, sehingga penisnya terkocok di dalam mulut Nina. Kelihatan Nina telah lemas dan pasrah, sehingga hanya bisa menuruti apa yang diingini oleh Richard, hal ini dilakukan Richard kurang lebih 5 menit lamanya.

Richard kemudian berdiri dan mengangkat Nina, sambil berdiri Richard memeluk badan Nina erat-erat. Kelihatan tubuh Nina terkulai lemas dalam pelukan Richard yang ketat itu. Tubuh Nina digendong sambil kedua kaki Nina melingkar pada perut Richard dan langsung Richard memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Nina. Ini dilakukannya sambil berdiri. Badan Nina terlihat tersentak ke atas ketika penis raksasa Richard menerobos masuk ke dalam lubang kemaluannya dari mulutnya terdengar keluhan, "aagghh!", Nina terlihat seperti anak kecil dalam gendongan Richard. Kaki Nina terlihat merangkul pinggang Richard, sedangkan berat badannya disanggah oleh penis Richard. Richard berusaha memompa sambil berdiri dan sekaligus mencium Nina. Pantat Nina terlihat merekah dan tiba-tiba Richard memasukkan jarinya ke lubang pantat Nina. "Ooooohh!". Mendapat serangan yang demikian serunya dari Richard, badan Nina terlihat menggeliat-geliat dalam gendongan Richard. Suatu pemandangan yang sangat seksi.

Ketika Richard merasa capai, Nina diturunkan dan Richard duduk pada sofa. Nina diangkat dan didudukan pada pangkuannya dengan kedua kaki Nina terkangkang di samping paha Richard dan Richard memasukkan penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina dari bawah. Dari ruang sebelah saya bisa melihat penis raksasa Richard memaksa masuk ke dalam lubang kemaluan Nina yang kecil dan ketat itu. Vaginanya menjadi sangat lebar dan penis Richard menyentuh paha Nina. Kedua tangan Richard memegang pinggang Nina dan membantu Nina memompa penis Richard secara teratur, setiap kali penis Richard masuk, terlihat vaginanya ikut masuk ke dalam dan cairan putih terbentuk di pinggir bibir vaginanya. Ketika penisnya keluar, terlihat vaginanya mengembang dan menjepit penis Richard. Mereka melakukan posisi ini cukup lama.
Kemudian Richard mendorong Nina tertelungkup pada sofa dengan pantat Nina agak menungging ke atas dan kedua lututnya bertumpu di lantai. Richard akan bermain doggy style. Ini sebenarnya adalah posisi yang paling disukai oleh Nina. Dari belakang pantat Nina, Richard menempatkan penisnya diantara belahan pantat Nina dan mendorong penisnya masuk ke dalam lubang vagina Nina dari belakang dengan sangat keras dan dalam, semua penisnya amblas ke dalam vagina Nina. Jari jempol tangan kiri Richard dimasukkan ke dalam lubang pantat. Nina setengah berteriak, "aagghh!", badannya meliuk-liuk mendapat serangan Richard yang dahsyat itu. Badan Nina dicoba ditarik ke depan, tapi Richard tidak mau melepaskan, penisnya tetap bersarang dalam lubang kemaluan Nina dan mengikuti arah badan Nina bergerak.

Nina benar-benar dalam keadaan yang sangat nikmat, desahan sudah berubah menjadi erangan dan erangan sudah berubah menjadi teriakan, "Ooooooohhmm. .., aaduhh!". Richard mencapai payudara Nina dan mulai meremas-remasnya. Tak lama kemudian badan Nina bergetar lagi, kedua tangannya mencengkeram dengan kuat pada sofa, dari mulutnya terdengar, "Aahh..., aahh..., ssssshh..., sssssshh!". Nina mencapai orgasme lagi, saat bersamaan Richard mendorong habis pantatnya sehingga pinggulnya menempel ketat pada bongkahan pantat Nina, penisnya terbenam seluruhnya ke dalam kemaluan Nina dari belakang. Sementara badan Nina bergetar-getar dalam orgasmenya, Richard sambil tetap menekan rapat-rapat penisnya ke dalam lubang kemaluan Nina, pinggulnya membuat gerakan-gerakan memutar sehingga penisnya yang berada di dalam lubang vagina Nina ikut berputar-putar mengebor liang vagina Nina sampai ke sudut-sudutnya.

Setelah badan Nina agak tenang, Richard mencabut penisnya dan menjilat vagina Nina dari belakang. Vagina Nina dibersihkan oleh lidah Richard. Kemudian badan Nina dibalikkannya dan direbahkan di sofa. Richard memasukkan penisnya dari atas, sekarang tangan Nina ikut aktif membantu memasukkan penis Richard ke vaginanya. Kaki Nina diangkat dan dilingkarkan ke pinggang Richard. Richard terus menerus memompa vagina Nina. Badan Nina yang langsing tenggelam ditutupi oleh badan Richard, yang terlihat oleh saya hanya pantat dan lubang vagina yang sudah diisi oleh penis Richard. Kadang-kadang terlihat tangan Nina meraba dan meremas pantat Richard, sekali-kali jarinya di masukkan ke dalam lubang pantat Richard. Gerakan pantat Richard bertambah cepat dan ganas memompa dan terlihat penisnya yang besar itu dengan cepat keluar masuk di dalam lubang vagina Nina, tiba-tiba, "Oooooohh... , ooooooohh!", dengan erangan yang cukup keras dan diikuti oleh badannya yang terlonjak-lonjak, Richard menekan habis pantatnya dalam-dalam, mememetin pinggul Nina ke sofa, sehingga penisnya terbenam habis ke dalam lubang kemaluan Nina, pantat Richard terkedut-kedut sementara penisnya menyemprotkan spermanya di dalam vagina Nina, sambil kedua tangannya mendekap badan Nina erat-erat. Dari mulut Nina terdengar suara keluhan, "Ssssssh..., sssssshh..., hhmm...., hhmm!", menyambut semprotan cairan panas di dalam liang vaginanya.

Setelah berpelukan dengan erat selama 5 menit, Richard kemudian merebahkan diri di atas badan Nina yang tergeletak di sofa, tanpa melepaskan penisnya dari vagina Nina. Nina melihat ke saya dan memberikan tanda bahwa yang satu ini sangat nikmat. Aku tidak bisa melihat ekspresi Richard karena terhalang olah tubuh Nina. Yang jelas dari sela-sela s*****kangan Nina mengalir cairan mani. Kemudian Ninapun seperti kebiasaan kami membersihkan penis Richard dengan mulutnya, itu membuat Richard mengelinjang keenakan. Malam itu kami pulang menj***** subuh, dengan perasaan yang tidak terlupakan. Kami masih sempat bermain 2 ronde lagi dengan pasangan itu.