Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita seru. Tampilkan semua postingan
Jumat, 04 Januari 2013
Bonus Asik Warnet
Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.
Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, "Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih.."
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.
Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada "the way she look".
Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs "mIRC".
"Kayaknya dia mau chatting nih..," pikirku.
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake "nick" yanthie. Langsung saja aku masuk ke "mIRC" juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.
Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya "Yanti", tepatnya "Iryanti". Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.
Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan "108". Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.
"Siapa nih..?" suara Yanti di seberang sana.
"Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?" jawabku.
"Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?" tanya Yanti lagi.
"Saya yang pernah main di warnet kamu..," jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
"Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?" katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.
Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.
"Gimana kalau besok lusa aja..?" katanya.
"Oke aja.." kataku.
Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.
"Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?" tanyanya.
"Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio.." jawabku sekenanya.
"Nakal kamu Yo.." kata Yanti sambil mencubit lenganku.
"Naaah.., kena nih cewek..!" pikirku.
Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.
"Hhhmmmhh malu-malu kucing nih.." pikirku.
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke s*****kangannya, Yanti mendesah.
"Jangan Rio.." desahnya.
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.
"Mau ngapain kita kesini Yo..?" tanya Yanti.
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.
Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.
"Yan, turun yuuk..!" kataku.
"Nggak mau ah, mau ngapain sih Rio..?" kata Yanti.
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.
"Film apa sih Yan..?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Sinetron..," jawab Yanti pendek.
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, "Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?"
"Kamu cantik.." rayuku.
"Rio pengen ciuman kayak tadi deh.." kataku.
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.
"Aaacchh.., Riooo..." desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.
Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung "tegak-melompat" keluar "sarangnya". Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan "mengocok".
"Aaahhh nikmat sekali.." desahku.
15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.
"Stop Yanti..!" kataku.
Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke s*****kangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium s*****kangannya.
"Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg..." desah Yanti.
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.
"Sakiiittt Riiiooo..." desahnya.
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.
"Sakit saayyyaangg..?" tanyaku.
"Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali.." jawab Yanti meracau.
"Mana besar sama punya Joe..?" tanyaku.
"Besar punya kamu Riooo... sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii.." rintih Yanti.
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih... Yanti orgasme kedua kalinya.
Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot "spchincter ani"-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.
"Riiooo... saaayyyaanngghh... ciiintaaa... eeennnaaakkhhh... Riioooo.. Rioooo... nikmaaatthh sayaaaanggghh... terrruuussshhh cinnntaaaa..." erang Yanti terus menerus.
Aku benar-benar nikmat, "Yaaanntiii kuhamili kamuuuu... badan kamuuu enak bangeeettthh.." erangku juga.
10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.
"Aaacchhh nikmat sekali..." desahku di telinganya.
Kami pun terkulai lemas.
Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel "xxx" dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu baca kisah kita ini Yanti. Rio sayang kamu selalu.
Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, "Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih.."
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.
Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada "the way she look".
Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs "mIRC".
"Kayaknya dia mau chatting nih..," pikirku.
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake "nick" yanthie. Langsung saja aku masuk ke "mIRC" juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.
Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya "Yanti", tepatnya "Iryanti". Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.
Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan "108". Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.
"Siapa nih..?" suara Yanti di seberang sana.
"Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?" jawabku.
"Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?" tanya Yanti lagi.
"Saya yang pernah main di warnet kamu..," jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
"Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?" katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.
Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.
"Gimana kalau besok lusa aja..?" katanya.
"Oke aja.." kataku.
Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.
"Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?" tanyanya.
"Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio.." jawabku sekenanya.
"Nakal kamu Yo.." kata Yanti sambil mencubit lenganku.
"Naaah.., kena nih cewek..!" pikirku.
Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.
"Hhhmmmhh malu-malu kucing nih.." pikirku.
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke s*****kangannya, Yanti mendesah.
"Jangan Rio.." desahnya.
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.
"Mau ngapain kita kesini Yo..?" tanya Yanti.
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.
Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.
"Yan, turun yuuk..!" kataku.
"Nggak mau ah, mau ngapain sih Rio..?" kata Yanti.
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.
"Film apa sih Yan..?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Sinetron..," jawab Yanti pendek.
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, "Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?"
"Kamu cantik.." rayuku.
"Rio pengen ciuman kayak tadi deh.." kataku.
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.
"Aaacchh.., Riooo..." desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.
Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung "tegak-melompat" keluar "sarangnya". Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan "mengocok".
"Aaahhh nikmat sekali.." desahku.
15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.
"Stop Yanti..!" kataku.
Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke s*****kangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium s*****kangannya.
"Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg..." desah Yanti.
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.
"Sakiiittt Riiiooo..." desahnya.
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.
"Sakit saayyyaangg..?" tanyaku.
"Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali.." jawab Yanti meracau.
"Mana besar sama punya Joe..?" tanyaku.
"Besar punya kamu Riooo... sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii.." rintih Yanti.
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih... Yanti orgasme kedua kalinya.
Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot "spchincter ani"-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.
"Riiooo... saaayyyaanngghh... ciiintaaa... eeennnaaakkhhh... Riioooo.. Rioooo... nikmaaatthh sayaaaanggghh... terrruuussshhh cinnntaaaa..." erang Yanti terus menerus.
Aku benar-benar nikmat, "Yaaanntiii kuhamili kamuuuu... badan kamuuu enak bangeeettthh.." erangku juga.
10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.
"Aaacchhh nikmat sekali..." desahku di telinganya.
Kami pun terkulai lemas.
Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel "xxx" dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu baca kisah kita ini Yanti. Rio sayang kamu selalu.
Nikmatnya Dikerjai Mbak Ambar
Perkenalkan, namaku Nico usia 23 tahun, tampang lumayan (kata yang lain lho), kulit putih, tinggi 167-an. Aku memiliki sebuah pengalaman yang sangat istimewa, penglaman yang pertama kali dan tak dapat terlupakan, yang terjadi ketika aku masih berumur 13 tahun, masih duduk di kelas 1 SMP. Tentu saja ketika itu aku masih sangat muda, tinggiku dulu masih belum ada 160-an, dan belum banyak mengetahui apa-apa, apalagi dunia seks, walaupun dulu aku juga pernah menonton beberapa film blue, namun pengetahuanku mengenai seks yang sebenarnya masih sangat minim. Sebenarnya seluruh keluargaku ada di Semarang, namun aku dititipkan oleh orangtuaku kepada Oomku untuk sekolah di salah satu SMP swasta favorit di Jakarta.
Oomku adalah pemilik dan juga merangkap salah satu jabatan direktur di salah satu perusahaan, yang berlokasi di kawasan bisnis Kuningan, namun oleh karena kesibukan kerja yang amat banyak, Oomku membuat juga sebuah kantor mini di rumahnya, yang diisi hanya oleh beberapa karyawan saja. Dengan perangkat komputer yang canggih sehingga dapat langsung diakses ke kantor pusat.
Salah satu staff Marketing perusahaan Oomku bernama Mbak Ambarwati, dan biasa kupanggil Mbak Ambar, dan tampaknya Mbak Ambar menjadi salah satu staff kepercayaan Oomku, karena walaupun sebenarnya kantornya adalah di Kantor Pusat Kuningan, namun ia sering membantu Oomku di kantor mini di rumahnya yang sangat besar, sehingga aku sering melihatnya, karena kadang-kadang aku sering masuk kantornya untuk meminjam alat-alat tulis untuk mengerjakan pekerjaan sekolahku.
Mbak Ambar sangat cantik dan manis, usianya sekitar 25 tahun, tingginya kurang lebih 160-an, tubuhnya sangat ideal, kulitnya kuning langsat, serta memiliki rambut yang dipotong pendek sebahu. Dengan baju kerjanya Mbak Ambar terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat.
Sering kali ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolahku di salah satu meja kerja yang kosong, aku melirik ke arah betis Mbak Ambar yang sangat mulus dan indah, Mbak Ambar juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya. Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya Mbak Ambar, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun Mbak Ambar justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Mbak Ambar memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa.
Peristiwa ini bermula pada suatu hari di hari Sabtu, ketika sekolahku libur. Seperti biasanya jika hari Sabtu kantor Oomku tutup, dan kebetulan hari itu Oomku sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk di teras depan, namun tiba-tiba Mbak Ambar datang dengan pakaian kerjanya seperti biasa.
"Eh, Mbak Ambar ! Lho, Mbak ini kan hari Sabtu, kok masuk kerja ?", tanyaku keheranan. "Oh, soalnya ada pekerjaan yang Mbak mesti selesaikan hari ini juga." jawabnya. "Oh, begitu. Tapi di kantor nggak ada siapa-siapa lho." kataku. "Ah, nggak apa-apa kok, Mbak bisa bekerja sendiri." katanya. " Tapi kamu mau khan temenin Mbak di kantor, supaya nggak terlalu sepi.", tanyanya. Wah, tentu saja aku mau, aku kan jadi bisa puas ngeliatin Mbak Ambar, memang tawaran ini yang kutunggu-tunggu, kataku dalam hati, he..he..he... "Ehm, baik Mbak, aku temenin deh..." jawabku. Sungguh aku yang saat itu masih berumur 13 tahun, sama sekali tidak mempunyai prasangka apapun.
Di dalam ruang kerja kantor, Mbak Ambar bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bermain game dengan komputerku (dulu belum ada internet sih...), tepat di sebelah meja Mbak Ambar. Saat itu kulihat Mbak Ambar sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya, untuk memperhatikan kecantikan Mbak Ambar habis-habisan. Keperhatikan wajah Mbak Ambar yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena Mbak Ambar menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan. Namun tiba-tiba Mbak Ambar menatapku sambil tersenyum menggoda, " Lagi ngeliatin apa kamu, Nico ?" Deg ! Astaga..., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku benar-benar panik, " Eh.., anu..., ehm..., nggak kok Mbak...", jawabku terbata-bata.
"Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka Nico...", katanya sambil tersenyum nakal. Namun Mbak Ambar malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan. "Co, menurut Nico, Mbak Ambar cantik nggak ?", tanyanya menggoda. "Eh... enggg.. iya.." jawabku kebingungan sambil menunduk, aku bahkan tidak berani melihatnya. "Nah... kalau begitu Nico mau dong kalau Mbak Ambar minta tolong." katanya, dan Astaga... Mbak Ambar bertanya sambil mengelus pipiku dengan punggung telapak tangannya. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakaan kehalusan dan kelembutan tangannya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja.
Lalu Mbak Ambar memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
"Yuk.., ikut Mbak.., Mbak mau ajarin Nico sesuatu.", katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang kosong. Sebagai seorang anak, yang baru berangkat remaja, dan sedang kebingungan, saat itu aku benar-benar bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengikuti semua kemauan Mbak Ambar.
"Nah,.. sekarang kamu berdiri di sini, dan diam dulu yah,..." katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba Mbak Ambar mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, sungguh, baru kali ini aku merasakan ciuman, rasanya benar-benar nikmat, bibir Mbak Ambar terasa lembut dan basah, aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu penisku langsung bergerak naik
perlahan.
Kemudian tiba-tiba tangan Mbak Ambar, bergerak menuju celana pendekku, dan memengang tali celanaku. "Mbak, eh..., anu..., Nico mau diapain Mbak ?...", tanyaku dengan gugup, terus-terang perasanku saat itu agak takut. Nngak tau kenapa, walaupun aku pernah melihat film blue satu-dua kali, namun menghadapi kenyataan yang sebenarnya dan yang pertama kayak begini, jantungku berdegup sangat kencang.
"Kamu tenang saja deh Nico.., percaya deh sama Mbak, pasti nanti kamu suka.", bujuknya sambil kembali tersenyum nakal. Lalu Mbak Ambar mulai berlutut di hadapanku, dan mulai mengendurkan tali celanaku, "Mbak... jangan Mbak... ", aku sungguh-sungguh bingung dan takut, sungguh bukan pura-pura, badanku terasa panas-dingin, namun Mbak Ambar tidak memperdulikanku ia malah sibuk mencoba membuka celanaku, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah talinya kendur, lalu Mbak Ambar melorotkannya, karena aku kebetulan sedang tidak memakai celana dalam, langsung saja penisku terjulai keluar. Ukuran penisku saat itu masih tanggung, bulunya pun masih sedikit karena memang baru tumbuh, namun kelihatannya hal itu justru membikin Mbak Ambar menatap penisku dengan tatapan buasnya. "...Mbak......", ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Mbak Ambar yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja. Seperti terhipnotis akupun mengikutinya lagi. Lalu Mbak Ambar memegang penisku yang sudah agak keras itu, Ah..... genggaman jari-jari lentik Mbak Ambar terasa sangat lembut di penisku...
Lalu tiba-tiba dengan lembut Mbak Ambar, menjilat kepala penisku perlahan, "Ahh.... Mbaaaak....." jeritku lirih, Gila.... rasanya.... sulit dilukiskan...., bergetar seluruh tubuhku, saat lidah Mbak Ambar yang lembut menyapu permukaan kepala penisku. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Mbak Ambar langsung mengulum penisku, benar-benar Gila rasanya.... "...Mbaak... aaaah.... Mbaaak....." aku mengerang-ngerang, tak karuan. Mbak Ambar terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot penisku. Luar biasa rasanya.... tak terbayangkan nikmatnya...
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, Mbak Ambar yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot penisku kuat-kuat. "...Mbaaaaaaaaaak..... Aaaarghhhhhhhhh..............", aku menjerit kencang, air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan, yang baru pernah aku alami... lalu tubuhku terkulai lemas.... tergeletak di atas meja.....
Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut Mbak Ambar malah disedot, dihisap, dan ditelannya. Nampaknya Mbak Ambar rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya Mbak Ambar menyapunya semua lalu menelannya. Terus terang melihat adegan ini aku benar-benar heran dan agak merinding dibuatnya... Namun aku tidak peduli, karena tubuhku saat ini sangat lemas, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah dan terlelap.......
Sekitar satu jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang Wah..., pokoknya lain dari biasanya. Aku melihat Mbak Ambar sedang mencetak dengan printernya, nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.
Setelah pekerjaan Mbak Ambar selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku. "Co... badan Mbak Ambar pegel nih, pijitin dong... mau khan ?", pintanya. "Iya Mbak." jawabku.
Mbak Ambar langsung terlungkup di sofa panjang, setelah aku bangun. Sejenak aku bingung, hendak bagaimana. Memang sering sih aku membayangkan menyentuh Mbak Ambar, tapi setelah dikasih kesempatan ini aku malah bingung. "Ayo.., kok malah bengong sih.", seru Mbak Ambar. "I..iya Mbak...". Masih agak ragu, namun mungkin karena peristiwa pertama tadi aku jadi agak berani. Kuusap pelan-pelan pundak Mbak Ambar, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu. "Ayo Co, jangan ragu-ragu.." serunya yang seakan tahu akan keraguanku.
Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk, namun padat rasanya, lalu kuremas-remas perlahan, " Hmmm..... pintar kamu Nico...." kata Mbak Ambar sambil merasakan nikmat.
Setelah agak lama bermain di pantat Mbak Ambar, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah... betis indah Mbak Ambar yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut....
Kemudian Mbak Ambar bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa. "Nico, lepas sepatu Mbak !" perintahnya. Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas ternyata sampai ke ujung kakinyapun sangat halus dan mulus. "Nico, sekarang kamu jilat kaki Mbak !" kali ini tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki Mbak Ambar yang mulus, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. "Ehmmmm.... kamu nakal Co....", Mbak Ambar kegelian. "Terus naik ke atas yah, jangan berhenti !" pintanya lirih. Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah Mbak Ambar, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku.
Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha Mbak Ambar, membuatnya terus menerus merintih kegelian. "Nico, tolong bukain celana dalam Mbak yah...", lalu Mbak Ambar menyingkapkan seluruh roknya ke atas, sehingga celana dalamnya yang putih nampak jelas di depanku. Aha...!, ternyata di bagian tengah celana dalamnya telah basah, rupanya Mbak Ambar sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan dan kulepaskan celana dalam Mbak Ambar. Wah... luar biasa... baru kali ini aku menyaksikan yang secara nyata memek seorang wanita.
Memek Mbak Ambar sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.
"Ayo Co, jilatin dong, tunggu apa lagi." serunya. Kali ini aku agak ragu lagi. Namun karena aku pernah di film blue, tampaknya kok enak sekali rasa memek itu, aku jadi penasaran.
Aku dekati memek Mbak Ambar, ada sedikit bau harum birahinya, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya. "Sshhh... aaahhh.... ssshhhh.... aahhh....", Mbak Ambar mendesis-desis geli dan nikmat. Entah pemandangan apa ini, masih mengenakan pakaian kerjanya dengan lengkap kecuali celana dalam, Mbak Ambar duduk selonjoran di sofa, sementara aku menjilati sesuatu di balik rok spannya.
Aku terus menjilati pinggiran memek Mbak Ambar yang telah basah itu, rasanya asin-asin... Setelah pinggiran memeknya, aku mulai ingin menjilat tengahnya, kulihat di bibir memek Mbak Ambar yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, "Ssssssstthhhhh....." Mbak Ambar mendesis panjang. Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh dinding bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya
menggelinjang-gelinjang, "Nico... aaaaahhh..... aaaahhh....." Mbak Ambar terus mengerang-ngerang.
Lalu aku ingat akan clitnya. Untung di film sudah diajarin dimana mencarinya. Dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek Mbak Ambar, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat clit itu, "Aaaaaaaaaauuhhhhhh.........." Mbak Ambar langsung menjerit, ia tersentak kaget. " Nico.. dari mana kamu tau.. hmmmmm..?", tanyanya gemas. "Dari film Mbak", sahutku. "...Dasar...", Mbak Ambar mencubit tanganku. Kelemahan Mbak Ambar ini tidak kusia-siakan, lalu aku langsung menjilati clitnya, kugosok-gosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan menggelinjang-gelinjang, "Aaaaaahhh.... aaaaaaaahhh..... aaaaaaarghhhhh..... ehmmmmmmmm......." , terus saja kujilati.
Lalu kusedot clit Mbak Ambar dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba Mbak Ambar langsung menjerit keras, "Aaaaaaaaaakkkhhhhhhh........", badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya, Mbak Ambar sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, yang langsung aku sedot langsung ke memeknya, membuat erangannya semakin panjang, "Aaaaaaakhhhhh....... Nicoooo..... eemmmhhh.... eeemmmhhhhhhh...........", dan akhirnya Mbak Ambar tergeletak lemas .....
Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, Mbak Ambar kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah Mbak Ambar bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah... rasanya... geli, nikmat, dan basah...
Kemudian Mbak Ambar melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian Mbak Ambar mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap penisku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang penisku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.... rasanya benar-benar aduhai... Lalu Mbak Ambar melumat batang dan kepala penisku, Waaaah..... rasanya semakin luar biasa.....
Namun rupanya Mbak Ambar menginginkan lebih dari yang tadi. Ia melepaskan lumatannya di penisku, lalu Mbak Ambar mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya Mbak Ambar membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan celana dalamnya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat. Wah..... luar biasa indahnya tubuh Mbak Ambar yang kuning langsat, sangat mulus dan seksi. Aku yang baru pertama kali melihat hal seperti ini, walau deg-degan, namun sekarang aku benar-benar terangsang. "Gimana Co, kamu suka kan... pasti kamu belum pernah melihat wanita telanjang, iya kan...?", tanyanya sambil menggodaku. Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala, Mbak Ambar tertawa cekikian...
Lalu Mbak Ambar meraih tanganku, dan diletakan di atas buah dadanya, Wuih..... walau aku deg-degan, tapi rasanya sangat lembut sekali.... "Nah Co, coba kamu remas-remas yach...", katanya. Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan. "Hmmmmmm.......", Mbak Ambar mendesah. Aku terus meremas-remas dengan nikmat, "...Hmmmm.... stthhh..... aaahhhhh.....", Mbak Ambar terus mendesah.
Namun rupanya, tegangan birahi Mbak Ambar sudah sangat tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang.
Tangan Ambar merayap mencari penisku, setelah dapat, lalu digenggamnya batang penisku. Lalu sambil mendudukiku, Mbak Ambar mengarahkan ujung kepala penisku ke memeknya. Aku yang melihat hal itu, jadi bingung sendiri, mau nyoba sih, tapi nggak berani, "Mbak, Nico mau diapain, ja..jangan sampai begitu Mbak..., Nico belum pernah...", kataku terbata-bata.
"Nah... kalau begitu, sekarang Mbak ajarin...", kata Mbak Ambar sambil tersenyum menggodaku. Sambil berkata demikian, Mbak Ambar langsung menekan memeknya ke kepala penisku, "Enghhh...", aku mengerang merasakan seretnya penisku masuk ke memek Mbak Ambar. "Sttthhh...", Mbak Ambar pun rupanya merasakan seretnya gesekan penisku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek Mbak Ambar memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang penisku yang baru berhasil masuk. Namun Mbak Ambar terus memaksakan batang penisku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang penisku lecet. "Stthhhh..... aaaaaahhh....", akhirnya seluruh batang penisku masuk ke dalam memek Mbak Ambar. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang penisku di dalam memek Mbak Ambar, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.
Kemudian Mbak Ambar mulai menaik-nurunkan pinggulnya, Mbak Ambar mengocok penisku di dalam memeknya. "..Aaaaahhhh.... aaaaaahhh...", aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali.
Mbak Ambar pun tak kalah menjerit-jeritnya, "Sstthhh.... Aaaaaahhh.... Nicoo.... aaaaaaahhh.....". Mbak Ambar tampaknya seperti sudah lupa daratan, menggoyangkan pinggulnya kesana-kemari, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit. Sampai setelah sekitar sepuluh menit, tiba-tiba Mbak Ambar menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke penisku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa. "Nicoooooo............. Aaaaaaaaaaakkkhhhhhh...........". Aku merasakan memek Mbak Ambar dengan sangat kuat menjepit dan mengempot penisku, rasanya memang sangat luar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya. "Mbaaaaaaaaakkkk........... Aaaaaaaakhhhhh...........", aku menjerit dengan kerasnya, merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek Mbak Ambar, banyak sekali......
Mbak Ambar tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas..... Dan akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu........
Ketika aku bangun, Mbak Ambar tersenyum kepadaku, "Nico..., tenyata kamu hebat, lho...., Mbak nggak nyangka..." Aku hanya tersipu saja. "Lain kali kamu mau kan, Mbak ajarin lagi ...?". "...Iya Mbak...", jawabku sambil menggangguk, Yaah tentu saja aku mau setelah merasakan nikmatnya bermain sex dengan Mbak Ambar.
Waktu rupanya sudah menunjukan pukul 3 sore, rupanya kami tertidur cukup lama, untung tidak ada yang datang mengganggu. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, Mbak Ambar pernah mengajakku ke apartement milik temannya yang sedang kosong, dan kami pun berdua melalukannya lagi, pokoknya luar biasa deh.... Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai Mbak Ambar akhirnya menikah, dan pindah ke kota asalnya Bandung.....
Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan.........
Oomku adalah pemilik dan juga merangkap salah satu jabatan direktur di salah satu perusahaan, yang berlokasi di kawasan bisnis Kuningan, namun oleh karena kesibukan kerja yang amat banyak, Oomku membuat juga sebuah kantor mini di rumahnya, yang diisi hanya oleh beberapa karyawan saja. Dengan perangkat komputer yang canggih sehingga dapat langsung diakses ke kantor pusat.
Salah satu staff Marketing perusahaan Oomku bernama Mbak Ambarwati, dan biasa kupanggil Mbak Ambar, dan tampaknya Mbak Ambar menjadi salah satu staff kepercayaan Oomku, karena walaupun sebenarnya kantornya adalah di Kantor Pusat Kuningan, namun ia sering membantu Oomku di kantor mini di rumahnya yang sangat besar, sehingga aku sering melihatnya, karena kadang-kadang aku sering masuk kantornya untuk meminjam alat-alat tulis untuk mengerjakan pekerjaan sekolahku.
Mbak Ambar sangat cantik dan manis, usianya sekitar 25 tahun, tingginya kurang lebih 160-an, tubuhnya sangat ideal, kulitnya kuning langsat, serta memiliki rambut yang dipotong pendek sebahu. Dengan baju kerjanya Mbak Ambar terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat.
Sering kali ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolahku di salah satu meja kerja yang kosong, aku melirik ke arah betis Mbak Ambar yang sangat mulus dan indah, Mbak Ambar juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya. Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya Mbak Ambar, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun Mbak Ambar justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Mbak Ambar memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa.
Peristiwa ini bermula pada suatu hari di hari Sabtu, ketika sekolahku libur. Seperti biasanya jika hari Sabtu kantor Oomku tutup, dan kebetulan hari itu Oomku sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk di teras depan, namun tiba-tiba Mbak Ambar datang dengan pakaian kerjanya seperti biasa.
"Eh, Mbak Ambar ! Lho, Mbak ini kan hari Sabtu, kok masuk kerja ?", tanyaku keheranan. "Oh, soalnya ada pekerjaan yang Mbak mesti selesaikan hari ini juga." jawabnya. "Oh, begitu. Tapi di kantor nggak ada siapa-siapa lho." kataku. "Ah, nggak apa-apa kok, Mbak bisa bekerja sendiri." katanya. " Tapi kamu mau khan temenin Mbak di kantor, supaya nggak terlalu sepi.", tanyanya. Wah, tentu saja aku mau, aku kan jadi bisa puas ngeliatin Mbak Ambar, memang tawaran ini yang kutunggu-tunggu, kataku dalam hati, he..he..he... "Ehm, baik Mbak, aku temenin deh..." jawabku. Sungguh aku yang saat itu masih berumur 13 tahun, sama sekali tidak mempunyai prasangka apapun.
Di dalam ruang kerja kantor, Mbak Ambar bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bermain game dengan komputerku (dulu belum ada internet sih...), tepat di sebelah meja Mbak Ambar. Saat itu kulihat Mbak Ambar sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya, untuk memperhatikan kecantikan Mbak Ambar habis-habisan. Keperhatikan wajah Mbak Ambar yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena Mbak Ambar menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan. Namun tiba-tiba Mbak Ambar menatapku sambil tersenyum menggoda, " Lagi ngeliatin apa kamu, Nico ?" Deg ! Astaga..., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku benar-benar panik, " Eh.., anu..., ehm..., nggak kok Mbak...", jawabku terbata-bata.
"Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka Nico...", katanya sambil tersenyum nakal. Namun Mbak Ambar malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan. "Co, menurut Nico, Mbak Ambar cantik nggak ?", tanyanya menggoda. "Eh... enggg.. iya.." jawabku kebingungan sambil menunduk, aku bahkan tidak berani melihatnya. "Nah... kalau begitu Nico mau dong kalau Mbak Ambar minta tolong." katanya, dan Astaga... Mbak Ambar bertanya sambil mengelus pipiku dengan punggung telapak tangannya. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakaan kehalusan dan kelembutan tangannya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja.
Lalu Mbak Ambar memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
"Yuk.., ikut Mbak.., Mbak mau ajarin Nico sesuatu.", katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang kosong. Sebagai seorang anak, yang baru berangkat remaja, dan sedang kebingungan, saat itu aku benar-benar bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengikuti semua kemauan Mbak Ambar.
"Nah,.. sekarang kamu berdiri di sini, dan diam dulu yah,..." katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba Mbak Ambar mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, sungguh, baru kali ini aku merasakan ciuman, rasanya benar-benar nikmat, bibir Mbak Ambar terasa lembut dan basah, aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu penisku langsung bergerak naik
perlahan.
Kemudian tiba-tiba tangan Mbak Ambar, bergerak menuju celana pendekku, dan memengang tali celanaku. "Mbak, eh..., anu..., Nico mau diapain Mbak ?...", tanyaku dengan gugup, terus-terang perasanku saat itu agak takut. Nngak tau kenapa, walaupun aku pernah melihat film blue satu-dua kali, namun menghadapi kenyataan yang sebenarnya dan yang pertama kayak begini, jantungku berdegup sangat kencang.
"Kamu tenang saja deh Nico.., percaya deh sama Mbak, pasti nanti kamu suka.", bujuknya sambil kembali tersenyum nakal. Lalu Mbak Ambar mulai berlutut di hadapanku, dan mulai mengendurkan tali celanaku, "Mbak... jangan Mbak... ", aku sungguh-sungguh bingung dan takut, sungguh bukan pura-pura, badanku terasa panas-dingin, namun Mbak Ambar tidak memperdulikanku ia malah sibuk mencoba membuka celanaku, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah talinya kendur, lalu Mbak Ambar melorotkannya, karena aku kebetulan sedang tidak memakai celana dalam, langsung saja penisku terjulai keluar. Ukuran penisku saat itu masih tanggung, bulunya pun masih sedikit karena memang baru tumbuh, namun kelihatannya hal itu justru membikin Mbak Ambar menatap penisku dengan tatapan buasnya. "...Mbak......", ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Mbak Ambar yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja. Seperti terhipnotis akupun mengikutinya lagi. Lalu Mbak Ambar memegang penisku yang sudah agak keras itu, Ah..... genggaman jari-jari lentik Mbak Ambar terasa sangat lembut di penisku...
Lalu tiba-tiba dengan lembut Mbak Ambar, menjilat kepala penisku perlahan, "Ahh.... Mbaaaak....." jeritku lirih, Gila.... rasanya.... sulit dilukiskan...., bergetar seluruh tubuhku, saat lidah Mbak Ambar yang lembut menyapu permukaan kepala penisku. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Mbak Ambar langsung mengulum penisku, benar-benar Gila rasanya.... "...Mbaak... aaaah.... Mbaaak....." aku mengerang-ngerang, tak karuan. Mbak Ambar terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot penisku. Luar biasa rasanya.... tak terbayangkan nikmatnya...
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, Mbak Ambar yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot penisku kuat-kuat. "...Mbaaaaaaaaaak..... Aaaarghhhhhhhhh..............", aku menjerit kencang, air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan, yang baru pernah aku alami... lalu tubuhku terkulai lemas.... tergeletak di atas meja.....
Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut Mbak Ambar malah disedot, dihisap, dan ditelannya. Nampaknya Mbak Ambar rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya Mbak Ambar menyapunya semua lalu menelannya. Terus terang melihat adegan ini aku benar-benar heran dan agak merinding dibuatnya... Namun aku tidak peduli, karena tubuhku saat ini sangat lemas, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah dan terlelap.......
Sekitar satu jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang Wah..., pokoknya lain dari biasanya. Aku melihat Mbak Ambar sedang mencetak dengan printernya, nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.
Setelah pekerjaan Mbak Ambar selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku. "Co... badan Mbak Ambar pegel nih, pijitin dong... mau khan ?", pintanya. "Iya Mbak." jawabku.
Mbak Ambar langsung terlungkup di sofa panjang, setelah aku bangun. Sejenak aku bingung, hendak bagaimana. Memang sering sih aku membayangkan menyentuh Mbak Ambar, tapi setelah dikasih kesempatan ini aku malah bingung. "Ayo.., kok malah bengong sih.", seru Mbak Ambar. "I..iya Mbak...". Masih agak ragu, namun mungkin karena peristiwa pertama tadi aku jadi agak berani. Kuusap pelan-pelan pundak Mbak Ambar, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu. "Ayo Co, jangan ragu-ragu.." serunya yang seakan tahu akan keraguanku.
Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk, namun padat rasanya, lalu kuremas-remas perlahan, " Hmmm..... pintar kamu Nico...." kata Mbak Ambar sambil merasakan nikmat.
Setelah agak lama bermain di pantat Mbak Ambar, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah... betis indah Mbak Ambar yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut....
Kemudian Mbak Ambar bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa. "Nico, lepas sepatu Mbak !" perintahnya. Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas ternyata sampai ke ujung kakinyapun sangat halus dan mulus. "Nico, sekarang kamu jilat kaki Mbak !" kali ini tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki Mbak Ambar yang mulus, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. "Ehmmmm.... kamu nakal Co....", Mbak Ambar kegelian. "Terus naik ke atas yah, jangan berhenti !" pintanya lirih. Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah Mbak Ambar, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku.
Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha Mbak Ambar, membuatnya terus menerus merintih kegelian. "Nico, tolong bukain celana dalam Mbak yah...", lalu Mbak Ambar menyingkapkan seluruh roknya ke atas, sehingga celana dalamnya yang putih nampak jelas di depanku. Aha...!, ternyata di bagian tengah celana dalamnya telah basah, rupanya Mbak Ambar sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan dan kulepaskan celana dalam Mbak Ambar. Wah... luar biasa... baru kali ini aku menyaksikan yang secara nyata memek seorang wanita.
Memek Mbak Ambar sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.
"Ayo Co, jilatin dong, tunggu apa lagi." serunya. Kali ini aku agak ragu lagi. Namun karena aku pernah di film blue, tampaknya kok enak sekali rasa memek itu, aku jadi penasaran.
Aku dekati memek Mbak Ambar, ada sedikit bau harum birahinya, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya. "Sshhh... aaahhh.... ssshhhh.... aahhh....", Mbak Ambar mendesis-desis geli dan nikmat. Entah pemandangan apa ini, masih mengenakan pakaian kerjanya dengan lengkap kecuali celana dalam, Mbak Ambar duduk selonjoran di sofa, sementara aku menjilati sesuatu di balik rok spannya.
Aku terus menjilati pinggiran memek Mbak Ambar yang telah basah itu, rasanya asin-asin... Setelah pinggiran memeknya, aku mulai ingin menjilat tengahnya, kulihat di bibir memek Mbak Ambar yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, "Ssssssstthhhhh....." Mbak Ambar mendesis panjang. Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh dinding bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya
menggelinjang-gelinjang, "Nico... aaaaahhh..... aaaahhh....." Mbak Ambar terus mengerang-ngerang.
Lalu aku ingat akan clitnya. Untung di film sudah diajarin dimana mencarinya. Dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek Mbak Ambar, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat clit itu, "Aaaaaaaaaauuhhhhhh.........." Mbak Ambar langsung menjerit, ia tersentak kaget. " Nico.. dari mana kamu tau.. hmmmmm..?", tanyanya gemas. "Dari film Mbak", sahutku. "...Dasar...", Mbak Ambar mencubit tanganku. Kelemahan Mbak Ambar ini tidak kusia-siakan, lalu aku langsung menjilati clitnya, kugosok-gosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan menggelinjang-gelinjang, "Aaaaaahhh.... aaaaaaaahhh..... aaaaaaarghhhhh..... ehmmmmmmmm......." , terus saja kujilati.
Lalu kusedot clit Mbak Ambar dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba Mbak Ambar langsung menjerit keras, "Aaaaaaaaaakkkhhhhhhh........", badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya, Mbak Ambar sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, yang langsung aku sedot langsung ke memeknya, membuat erangannya semakin panjang, "Aaaaaaakhhhhh....... Nicoooo..... eemmmhhh.... eeemmmhhhhhhh...........", dan akhirnya Mbak Ambar tergeletak lemas .....
Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, Mbak Ambar kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah Mbak Ambar bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah... rasanya... geli, nikmat, dan basah...
Kemudian Mbak Ambar melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian Mbak Ambar mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap penisku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang penisku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.... rasanya benar-benar aduhai... Lalu Mbak Ambar melumat batang dan kepala penisku, Waaaah..... rasanya semakin luar biasa.....
Namun rupanya Mbak Ambar menginginkan lebih dari yang tadi. Ia melepaskan lumatannya di penisku, lalu Mbak Ambar mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya Mbak Ambar membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan celana dalamnya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat. Wah..... luar biasa indahnya tubuh Mbak Ambar yang kuning langsat, sangat mulus dan seksi. Aku yang baru pertama kali melihat hal seperti ini, walau deg-degan, namun sekarang aku benar-benar terangsang. "Gimana Co, kamu suka kan... pasti kamu belum pernah melihat wanita telanjang, iya kan...?", tanyanya sambil menggodaku. Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala, Mbak Ambar tertawa cekikian...
Lalu Mbak Ambar meraih tanganku, dan diletakan di atas buah dadanya, Wuih..... walau aku deg-degan, tapi rasanya sangat lembut sekali.... "Nah Co, coba kamu remas-remas yach...", katanya. Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan. "Hmmmmmm.......", Mbak Ambar mendesah. Aku terus meremas-remas dengan nikmat, "...Hmmmm.... stthhh..... aaahhhhh.....", Mbak Ambar terus mendesah.
Namun rupanya, tegangan birahi Mbak Ambar sudah sangat tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang.
Tangan Ambar merayap mencari penisku, setelah dapat, lalu digenggamnya batang penisku. Lalu sambil mendudukiku, Mbak Ambar mengarahkan ujung kepala penisku ke memeknya. Aku yang melihat hal itu, jadi bingung sendiri, mau nyoba sih, tapi nggak berani, "Mbak, Nico mau diapain, ja..jangan sampai begitu Mbak..., Nico belum pernah...", kataku terbata-bata.
"Nah... kalau begitu, sekarang Mbak ajarin...", kata Mbak Ambar sambil tersenyum menggodaku. Sambil berkata demikian, Mbak Ambar langsung menekan memeknya ke kepala penisku, "Enghhh...", aku mengerang merasakan seretnya penisku masuk ke memek Mbak Ambar. "Sttthhh...", Mbak Ambar pun rupanya merasakan seretnya gesekan penisku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek Mbak Ambar memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang penisku yang baru berhasil masuk. Namun Mbak Ambar terus memaksakan batang penisku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang penisku lecet. "Stthhhh..... aaaaaahhh....", akhirnya seluruh batang penisku masuk ke dalam memek Mbak Ambar. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang penisku di dalam memek Mbak Ambar, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.
Kemudian Mbak Ambar mulai menaik-nurunkan pinggulnya, Mbak Ambar mengocok penisku di dalam memeknya. "..Aaaaahhhh.... aaaaaahhh...", aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali.
Mbak Ambar pun tak kalah menjerit-jeritnya, "Sstthhh.... Aaaaaahhh.... Nicoo.... aaaaaaahhh.....". Mbak Ambar tampaknya seperti sudah lupa daratan, menggoyangkan pinggulnya kesana-kemari, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit. Sampai setelah sekitar sepuluh menit, tiba-tiba Mbak Ambar menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke penisku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa. "Nicoooooo............. Aaaaaaaaaaakkkhhhhhh...........". Aku merasakan memek Mbak Ambar dengan sangat kuat menjepit dan mengempot penisku, rasanya memang sangat luar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya. "Mbaaaaaaaaakkkk........... Aaaaaaaakhhhhh...........", aku menjerit dengan kerasnya, merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek Mbak Ambar, banyak sekali......
Mbak Ambar tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas..... Dan akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu........
Ketika aku bangun, Mbak Ambar tersenyum kepadaku, "Nico..., tenyata kamu hebat, lho...., Mbak nggak nyangka..." Aku hanya tersipu saja. "Lain kali kamu mau kan, Mbak ajarin lagi ...?". "...Iya Mbak...", jawabku sambil menggangguk, Yaah tentu saja aku mau setelah merasakan nikmatnya bermain sex dengan Mbak Ambar.
Waktu rupanya sudah menunjukan pukul 3 sore, rupanya kami tertidur cukup lama, untung tidak ada yang datang mengganggu. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, Mbak Ambar pernah mengajakku ke apartement milik temannya yang sedang kosong, dan kami pun berdua melalukannya lagi, pokoknya luar biasa deh.... Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai Mbak Ambar akhirnya menikah, dan pindah ke kota asalnya Bandung.....
Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan.........
Nikmatnya Kakak Pacar
Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.
"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana."
"Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?"
"Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah."
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.
Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.
"Loh, enggak kerja?" tanyaku.
"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.
"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kata Marta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum."
Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.
Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton tv. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.
Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.
"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.
"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.
Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.
"Aku ingin dada itu," kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, 'adikku' bergerak melawan arah gravitasi.
"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!," Marta menghardik.
Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.
"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!"
"Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.
"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
"Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.
"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengiba sambil mendekatinya.
Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.
"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!," katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.
"Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran," kataku.
Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di perg*****an tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.
"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!," kata Marta.
Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.
Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.
Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha vaginaik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.
Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.
Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.
Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.
Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.
Astaga! Berhasil!
Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.
Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,
"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?"
Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,
"Dodi, please... Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran."
Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke s*****kangannya. Marta tak bisa mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.
Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.
"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. "Adik"-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.
Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.
Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,
"Jangan..." teriaknya atau terdengar seperti rintihan.
Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.
Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.
Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.
Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.
Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, "Ah... ah..."
Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku."Aaahhh," lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.
Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.
Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.
"Uhhh," aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.
Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.
Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.
Grrreeekkk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Mampus gua! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan ...
"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana."
"Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?"
"Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah."
Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.
Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.
Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.
"Loh, enggak kerja?" tanyaku.
"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.
"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.
"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kata Marta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum."
Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.
Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.
Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton tv. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.
Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.
"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.
"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.
Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.
"Aku ingin dada itu," kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, 'adikku' bergerak melawan arah gravitasi.
"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!," Marta menghardik.
Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.
"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!"
"Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.
"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.
"Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.
"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengiba sambil mendekatinya.
Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.
"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!," katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.
"Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran," kataku.
Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di perg*****an tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.
"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!," kata Marta.
Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.
Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.
Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha vaginaik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.
Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.
Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.
Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.
Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.
Astaga! Berhasil!
Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.
Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,
"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?"
Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,
"Dodi, please... Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran."
Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke s*****kangannya. Marta tak bisa mengelak.
Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.
Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.
"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. "Adik"-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.
Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.
Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,
"Jangan..." teriaknya atau terdengar seperti rintihan.
Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.
Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.
Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.
Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.
Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, "Ah... ah..."
Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku."Aaahhh," lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.
Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.
Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.
"Uhhh," aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.
Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.
Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.
Grrreeekkk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Mampus gua! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan ...
Terlanjur Basah
Setelah lulus dari sebuah PT di kota Yogyakarta, aku mencoba untuk melanjutkan hidup di kota ini juga. Hingga akhirnya aku diterima di sebuah LSM, meskipun baru pada tingkat m****g. Dengan alasan, saat aku kuliah dulu, aku pernah membantu sebuah proyek yang sedang ditangani oleh LSM lain. Dan kisah ini terjadi saat aku terlibat dalam proyek tersebut.
Terus terang, sebetulnya dunia yang selama ini kugeluti, sangat jauh dari dunia sex. Dan kalau pun tahu, itu hanya sebatas bacaan-bacaan semacam Nick Carter. Namun, setelah aku mengenal dunia cyber dan mendapatkan situs 17tahun.com dari temanku ini, rasanya aku mulai tahu tentang dunia yang satu ini. Dan mungkin bisa experience sharing, sekaligus menyalurkan hobiku dalam hal tulis-menulis.
Kisah ini bermula saat kepulanganku dari luar kota setelah melakukan hunting dan survey untuk proyek tersebut. Saat itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 10.00 malam. Setelah bus jurusan Yogya-Surabaya yang kunaiki sampai di pertigaan Janti, aku bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang pun turut berdiri, berjajar di belakangku. Hingga akhirnya, aku dan para penumpang lainnya sudah turun, bus melaju melanjutkan perjalanannya menuju terminal.
Setelah sesaat melepas lelah sambil nongkrong di sebuah warung pinggir jalan, aku pun berniat untuk segera pulang lalu istirahat. Saat hendak membayar minum, aku rogoh saku belakangku. Dan aku pun sangat terkejut ketika kudapati, belakang celanaku ternyata robek.
"Sialan..," makiku.
"Kenapa, Dik..?" tanya penjual minuman itu.
Aku sendiri tidak dapat berkata-kata apa-apa. Karena bagaiamanapun juga, toh aku juga harus tetap membayar minuman yang telah kuhabiskan. Dan untung saja, setelah kurogoh seluruh kantong yang ada di baju dan celanaku, aku menemukan sedikit uang yang cukup untuk sekedar membayar minuman tersebut. Dan akhirnya, aku beranjak meninggalkan warung itu dengan langkah gontai.
"Yaa... terpaksa pulang jalan kaki nih..." umpatku.
Namun tidak berapa jauh aku m*****kah, seorang wanita menegurku dari arah belakang.
"Maaf, Dik.."
Meskipun dengan sedikit malas, aku berusaha untuk menanggapi teguran tersebut.
"Ada apa, Mbak..?" tanyaku.
"Adik tahu jalan ini (dia menyebutkan salah satu jalan di kota ini)..?" tanyanya dengan nafas yang memburu terkesan seperti tergesa-gesa.
Dan belum sempat aku menjawabnya, ia sudah menyambung dengan kata-katanya.
"Kalo tahu, tolong dong, saya dianter. Bisa kan..? Please..!"
Namun dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, semula aku menolaknya. Dalam pikiranku, aku cuman mengeluh, sialan nih perempuan, tidak tahu orang lagi suntuk! Namun lama-kelamaan, akhirnya aku merasa iba juga melihatnya, apalagi dia sempat menawarkan imbalan berapa pun yang aku minta asalkan aku mau mengantarkannya. Hingga akhirnya, aku pun bersedia mengantarnya. Dan tentu saja dengan syarat, aku minta ongkos taksi untuk pulang ke kost. Itu saja. Dan ia pun setuju.
Singkat cerita, kami pun melaju menuju alamt tersebut dengan sebuah taksi. Di dalam taksi pun, kami mulai saling memperkenalkan diri. Dan ternyata, kami sama-sama satu bus. Hingga akhirnya aku berhasil memancingnya untuk bercerita tentang dirinya. Lalu ia pun bercerita tentang kisah pahit dalam hidupnya. Seolah aku terhanyut dengan cerita-cerita yang mengharukan yang ia tuturkan.
Vina, nama perempuan itu. Usianya 30 tahun. Wajahnya cukup cantik. Terlebih lagi, dengan kaca mata yang ia kenakan, semakin menambah anggun kecantikannya. Ia adalah janda yang tidak mempunyai anak. Suaminya pergi dari rumah karena selingkuh dengan seorang karyawan yang kost di rumahnya. Sedangkan di kota ini, ia akan memulai hidup baru bersama kakak perempuannya.
Di tengah-tengah cerita, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari pipinya saat bercerita. Atau mencoba menyembunyikan isakan tangisnya dengan menyandarkan kepalanya di atas pudakku. Mungkin, sudah menjadi naluri laki-laki untuk menjadi pengayom bagi seorang wanita. Dan itu juga yang coba kulakukan untuk mencoba menenangkan Mbak Vina. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba untuk merangkul pundaknya. Kulontarkan kata-kata yang kupikir dapat meredam kesedihannya.
Tapi entah setan dari mana, tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita panas yang pernah kubaca, ataupun film-film dari VCD yang pernah kutonton. Aku sendiri mencoba untuk mengusir khayalan-khayalan itu. Namun, sentuhan-sentuhan yang terjadi di antara kami, meskipun itu tidak di sengaja, justru semakin memancing hasrat kelaki-lakianku. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan jika penisku mulai menegang. Aku mulai salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan keringat dingin membasahai keningku. Namun, untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama. Karena taksi yang membawa kami telah berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.
"Sudah sampai, Mas.." kata supir taksi itu.
Lalu Mbak Vina pun membayar ongkos dan segera mengajakku menuju rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, seorang wanita yang mirip dengan Mbak Vina, tapi lebih tua sedikit, membuka pintu dan langsung berteriak sambil memeluk Mbak Vina. Mbak Vina pun menyambut pelukan itu dengan tangisan yang meledak. Hening sesaat.
"Oo... ini toh Mbak Rani, kakaknya Mbak Vina.." Batinku.
Lumayan juga. Kulitnya putih bersih. Dan kondisiku yang masih agak terangsang ini, semakin menjadi-jadi ketika kulihat Mbak Rani yang hanya menggunakan baju tidur, dengan belahan dada yang cukup lebar, sehingga belahan buah dada Mbak Rani dapat terlihat jelas. Aku sempat terpana juga melihat pemandangan seperti itu. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh teguran Mbak Rani untuk mengajak kami masuk.
Akhirnya, setelah sedikit berbasa-basi, aku pun dipersilakan istirahat di ruang tidur tamu. Dan malam itu pun, akhirnya aku terpaksa di tidur di rumah Mbak Rani. Namun, meskipun tubuhku ini sangat lelah, aku heran, kenapa aku tidak dapat memejamkan mataku. Justru bayangan Mbak Vina dan Mbak Rani yang terus mengganggu pikiranku. Aku coba segala cara agar mata ini dapat terpejam, meski akhirnya tidak dapat juga. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar hinga aku melihat ada sebuah TV dan VCD player. Lalu kubuka beberapa laci yang ada, dan kutemukan beberapa keping CD. Maka kuputuskan untuk memutar CD tersebut sebagai penghantar tidurku.
Namun, justru aku tak dapat memejamkan mataku saat melihat adegan-adegan yang terpampang di film tersebut. Karena dari 5 CD yang ada, empat di antaranya film BF semua.
"Nggak apalah... dari pada nggak ada tontonan dan nggak bisa tidur..." batinku.
Sambil tiduran di ranjang, aku pun menikmati film-film BF tersebut sendirian. Khayalanku pun semakin liar menerawang. Dan penisku pun mulai mengeras. Suara-suara desahan di TV semakin membuat nafsuku bergejolak.
Entah sadar atau tidak, perlahan tanganku mulai membelai-belai penisku sendiri. Perlahan celana panjang kuturunkan. Semula hanya sebatas lutut, meski akhirnya, aku tanggalkan seluruhnya.
"Oohhh... mmmhhh..." desahku mengikuti irama permainan yang ada di layar TV.
Semakin lama, semakin cepat pula gerakan tanganku mengocok penisku sendiri. Gerakan tubuhku semakin tak beraturan. Sesekali kakiku mengejang dengan pantat yang sedikit terangkat. Hingga akhirnya, "Aaggrkkh.....aarrghh....." jeritku dengan suara tertahan.
Dan bersamaan itu pula meledaklah larva berwarna putih kental dari ujung kemaluanku. Entah berapa kali semprotan yang keluar, aku tak sempat menghitungnya. Aku pun terkulai lemas.
Keringat membasahi tubuhku. Aku limbung sambil masih berusaha menikmati sisa-sisa keletihan dalam kenikmatan itu. Dan entah berapa kali aku beronani di malam itu, aku tak ingat lagi. Karena, 4 CD yang ada kuputar semuanya non stop. Sampai aku tertidur dengan hanya kaos pendek yang melekat di tubuhku. Sementara tubuh bagian bawahku masih tidak mengenakan penutup samasekali.
Belum lama mataku terpejam, aku dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka.
"Eh... maaf Dik. Aku pikir Dik Jaka udah tidur..." kata Mbak Rani.
Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku segera meraih celanaku yang tergeletak di pinggir ranjang. Meski tidak sempat mengenakannya, tapi cukup untuk sekedar menutupi bagian bawah tubuhku, terutama penisku.
"A.. ada appa... Mbak..?" tanyaku dengan nada terpatah-patah karena malu bercampur grogi.
"Sorry, Dik. Aku mau ambil pakaian tidur di lemari itu. Kebetulan, pakaian yang ada di kamar Mbak, belum di cuci.." jawabnya.
Lalu Mbak Rani pun menghampiri lemari di sisi kanan ranjang tempat aku berbaring. Saat ia menoleh ke arah TV yang ternyata masih menyala, Mbak Rani berpaling ke arahku sambil tersenyum. Aku pun terpaksa membalasnya dengan tersenyum juga. Meski pun dengan agak tertahan. Aku segera meraih remote yang ada di sebelahku, lalu segera mematikannya.
"Kok dimatikan, Dik. Nggak pa-pa kok. Kalo belum selesai, dilanjutin aja. Tanggung kan..?" kata Mbak Rani sambil membelakangiku karena sedang mencari pakaian yang ia cari.
"Nggak ah, Mbak.." sahutku, "Lagian juga udah ngantuk nih."
Selesai mengambil pakaiannya, Mbak Rani duduk di sisi ranjang. Ia mengambil remote yang ada di tanganku dan kembali menyalakan TV.
"Nggak usah malu-malu. Santai aja. Apa perlu Mbak temenin biar nggak ngantuk..? Nonton film kaya gini ini, enaknya kan nggak cuman tiduran. Iya nggak Dik..?" kata Mbak Rani sambil melirik bagian s*****kanganku.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Dan selanjutnya, kami berdua terdiam. Hanya suara erangan dan desahan dari layar TV yang ada di kamar itu. Aku sendiri tidak dapat menikmati permainan yang sedang berlangsung di film itu. Meskipun kuakui, penisku mulai kurasakan kembali mengeras, namun aku justru salah tingkah sendiri. Sedangkan Mbak Rani, justru kulihat sangat menikmatinya.
"Mbak Vina, mana Mbak..?" tanyaku memecah keheningan dan sekedar untuk menghilangkan gemetarku.
Mbak Rani menoleh ke arahku dengan seungging senyum di bibir tipisnya. Dengan perlahan ia mendekatiku. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku.
"Kan ada Mbak Rani di sini. Kasihan Mbak Vina, kelihatannya capek. Biarin aja dia istirahat," kata Mbak Rani sambil menyentuh kulit pahaku dan mengelus-elus pelan.
Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Dan sebelum aku menjelaskan maksud pertanyaanku, tangan kanan mungil Mbak Rani sudah menggenggam kemaluanku. Aku sedikit tersentak terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Terlebih lagi saat tangannya perlahan mengocok penisku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat kesadaranku melayang entah kemana. Ketika tangan kiri Mbak Rani mendorong dadaku, aku perlahan merebah di atas ranjang. Namun, tiba-tiba kesadaranku muncul dan segera menarik tangan kanan Mbak Rani yang sedang membelai penisku. Dan aku segera bergeser ke samping saat tubuh Mbak Rani hendak menindih tubuhku.
"Jangan, Mbak... ini tidak boleh..!" aku mencoba mengingatkan Mbak Rani.
"Pleassee... Dik... tolong Mbak.." pinta Mbak Rani dengan wajah yang sudah terlihat sayu dengan nafas memburu.
"Tolong, Mbak. Saya nggak bisa melakukan ini.." sahutku.
Mbak Rani hanya terdiam. Kulihat ada rasa kekecewaan di raut wajahnya. Lalu dengan tanpa suara dan wajah sedikit bersungut, Mbak Rani meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya dapat melihat punggung Mbak Rani meninggalkan kamarku. Akhirnya aku dapat bernafas lega sambil mencoba mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya aku pun terpejam dan terlelap dalam tidurku.
Pagi harinya, ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku pun segera berkemas dan siap untuk pulang. Setelah kurasa semuanya beres, aku segera beranjak menuju pintu kamar. Namun ketika pintu belum kubuka lebar, aku menyaksikan adegan yang mengejutkan di ruang tengah. Di sebuah sofa di depan TV yang tengah menayangkan sebuah film porno, aku melihat Mbak Rani tengah berciuman dan saling melumat dengan seorang perempuan. Nafasnya jelas sekali terengah-engah dengan sesekali diselingi desahan-desahan. Sementara tangan kanannya memeluk perempuan yang berada di sampingnya. Dan tangan kirinya meremas-remas rambut lelaki yang ada di bawahnya. Dalam pandanganku, nampak kedua tangan lelaki itu meremas-remas payudara sekaligus puting Mbak Rani.
Di antara kedua pahanya, kulihat seseorang tengah asyik mempermainkan vagina Mbak Rani. Aku sendiri hanya terdiam, dan kurasakan dadaku mulai naik turun. Kemaluanku pun semakin mengeras.
"Oochh... sshhtt... yyaacchh... terrruuusss Deedd..." Mbak Rani meracau sambil mendongakkankepalanya.
Sementara perempuan yang berada di sampingnya, terus menerus menelusuri leher Mbak Rani yang terlihat putih jenjang dengan sedikit ada bekas-bekas merah akibat ciuman.
terlanjur basah2
Sambungan dari bagian 01
Aku semakin tidak tahan melihat pergumulan itu. Tanganku bergerak perlahan dan mengusap-usap kemaluanku yang telah mengeras. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku sambil mengusap-usap penisku dari luar. Lalu perlahan aku masukkan salah satu tanganku ke dalam celana jeans-ku. Dengan sangat perlahan karena takut ketahuan, aku menurunkan celanaku. Tiba-tiba, "Bruuk..!" aku terkejut dengan tas yang tergantung di bahuku terjatuh. Mbak Rani, lelaki dan perempuan itu tiba-tiba segera menghentikan permainannya, dan secara bersamaan menoleh ke arahku.
"Sialan..." makiku dalam hati.
Aku hanya terdiam dengan ketakutan dan gemetar ketika mereka bertiga melihat ke arahku.
"Maaf... maa.. af.." kataku langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar aku hanya dapat memaki habis-habisan. Aku segera beranjak mendekati tempat tidur. Dan dengan celanaku yang tetap dalam posisi agak melorot, aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja kusaksikan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan nafsuku. Dan kocokan-kocokan kecil dari tanganku semakin membuat tubuhku panas dingin.
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan kananku yang tetap mengocok penisku. Belum sempat aku menyelesaikan permainanku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan di depan pintu kulihat Mbak Rani dan kedua temannya sudah berdiri dengan tanpa sehelai benang pun menempel di ketiga orang itu. Aku terkejut dan segera bangun dari tidurku, dan membenahi posisi celanaku yang turun ke bawah sampai ke lutut. Akan tetapi, lelaki yang berada di antara Mbak Rani dan seorang perempuan itu dengan cepat segera mengangkat ujung kakiku sambil tangannya mendorong tubuhku. Sehingga dengan sendirinya aku terpelanting ke belakang. Tubuhku pun kembali rebah di atas ranjang tersebut.
Lalu dengan cepat, lelaki itu naik ke atas ranjang, dan dengan cepat duduk di atas dadaku dengan kedua lututnya yang berada di samping kanan kiriku sambil kedua tangannya memegang tanganku. Mbak Rani dan teman wanitanya segera mendekatiku.
"Arya, terus pegang yang kuat. Jangan sampai lepas..!" kata Mbak Rani kepada lelaki yang memegang kedua tanganku.
Lelaki yang bernama Arya itu pun semakin kuat mencengkeram kedua tanganku.
"Nov, kamu pegang kakinya.." sambung Mbak Rani sambil mendekati tubuhku yang hampir tidak dapat berkutik.
Aku mencoba berontak dengan menedang-nendang kakiku. Namun, kembali kakiku terdiam saat Arya yang duduk berada di atas dadaku menekan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu ia tersenyum dengan penuh arti, dan perlahan mengusap-usap pahaku. Aku berusaha untuk meronta, tapi cengkeraman Arya dan Nova justru semakin kuat.
"Toloong, Mbak... Lepaskan saya," pintaku.
Mbak Rani tidak memperdulikan kata-kataku. Sekarang ia justru mulai mendekatkan wajahnya ke arah paha dan kemaluanku. Dan tidak berapa lama, aku mulai merasakan kalau pahaku terasa basah. Kemaluanku masih agak tegang.
Aku semakin meronta. Tapi itu justru membuat Mbak Rani semakin keranjingan untuk terus menjilati pahaku. Tangan kanannya pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Akhirnya, aku pun tidak dapat menahan ciuman-ciuman bibir Mbak Rani di pahaku. Tangan lembutnya yang mengocok penisku pun mulai kurasakan sebagai satu kenikmatan tersendiri. Namun aku tetap berusaha untuk tidak larut dalam permainan itu. Tapi bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Dan mendapat rangsangan seperti itu, terkadang membuat nafasku tersengal akibat birahi di tubuhku mulai memanas. Terlebih lagi ketika lidah Mbak Rani mulai menyentuh batang kemaluanku. Sedangkan Nova yang dari tadi memegang kakiku pun turut memberikan ciuman-ciuman di betisku.
Aku semakin tidak kuat untuk menahan rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan akibat jilatan-jilatan lidah Mbak Rani. Sesekali batang kemaluanku masuk ke dalam mulut Mbak Rani. Dan kurasakan hisapan-hisapan dari mulutnya membuat tubuhku semakin panas dingin.
"Bagaimana sayang, kamu menikmatinya kan..?" goda Mbak Rani dengan melirik ke arahku.
Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah almari di samping ranjang. Tidak berapa lama Mbak Rani kembali dengan membawa beberapa helai kain.
"Tarik ke atas, Ar," Kata Mbak Rani sambil membentangkan kainnya.
Arya pun turun dari atas dadaku, dan dengan kasar Arya pun menarik tubuhku ke atas. Kini Mbak Rani ikut-ikutan ke atas ranjang. Dan dengan santainya, ia segera duduk di atas dadaku untuk mengikat kedua tanganku di tepi ranjang.
Saat ia duduk di atas dadaku, kurasakan vaginanya ia tekan dan gesek-gesekkan ke dadaku. Dan saat Mbak Rani membungkuk untuk mengikat kedua tanganku pun ia gesek-gesekkan pula susu di wajahku. Saat itu pula kurasakan kekenyalan sebongkah susu.
"Aayyoo sayyangg... hisap-hisap susu Mbak..." racau Mbak Rani mencoba memberikan rangsangan-rangsangan kepadaku.
Aku hanya memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk lebih merasakan kekenyalan buah dada milik Mbak Rani.
Sementara itu, Arya yang tadi berada di atasku, kini pindah ke bawah dan juga mengikat kedua kakiku dengan kain yang diambilkan Mbak Rani dari lemari tadi. Sesaat setelah mereka bertiga mengerjaiku seperti ini, lalu mereka duduk di pinggir ranjang sambil sesekali tersenyum melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya.
"Arya, Nova, ayo kita lanjutkan lagi permainan yang tadi belum selesai.." kata Mbak Rani sambil merunduk mendekatkan wajahnya ke penis Arya sambil berjongkok.
Arya pun duduk di sisi ranjang dan memberikan penisnya yang lumayan besar itu ke mulut Mbak Rani. Sedangkan Nova berdiri di samping Arya dan memberikan kedua buah dadanya untuk dihisap Arya.
"Oorghhh.... yaa.. terus Raann... Ssstthhh... yaanggg... kencceenggrrrhhh..." terdengar desahan Arya menikmati kemaluannya yang terus dikulum Mbak Rani.
"Oohh... sssttthhh... teeerrruusss... Aarr.. yaanng keerraaa.. ssss... hissaapp.. nnyaa..!" Nova pun juga mendesah dengan sesekali kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dengan apa yang mereka bertiga lakukan. Aku hanya dapat meyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa dapat berbuat apa-apa. Nafasku pun mulai memburu seiring dengan tubuhku yang mulai terasa panas dingin.
Posisi Nova yang berhadap-hadapan denganku hanya tersenyum menggodaku. Perlahan ia mendekati sisi ranjang. Dengan tetap membiarkan payudaranya dihisap dan dijilati oleh lidah Arya, ia mendekatiku. Lalu perlahan tangannya mulai membelai pahaku. Kembali aku hanya dapat menggigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan itu.
"Terrusss... Nov.. ke attasss..." kataku sambil menahan gairah yang sudah terlalu menggebu.
Aku tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi tadi malam saat aku menolak bermain cinta dengan Mbak Rani.
"Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian..," batinku.
"Oorrghhhh... yyaacchhh... ssstt..." aku hanya dapat mendesah menikmati belaian lembut dan kocokan pelan tangan Nova di batang kemaluanku.
Pinggulku bergerak ke arah kanan-kiri dan terkadang sedikit kuangkat untuk menikmati permainan itu. Dan secara perlahan, tanpa mau melepaskan hisapan-hisapan mulut Arya di kedua buah dadanya, Nova bergerak mendekatkan wajahnya ke arah s*****kanganku. Tubuhku semakin panas dingin dan bergetar hebat melihat apa yang akan dilakukan Nova di s*****kanganku. Aku menahan nafas untuk menikmati permainan selanjutnya. Tapi, tiba-tiba tangan Mbak Rani yang tadi sibuk dengan kemaluan Arya, segera menarik tubuh Nova.
"Dari pada jilatin itu, mendingan jilatin punyaku aja, Nov..," kata Mbak Rani sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk di sebelah Arya yang hanya tersenyum kepadaku tanpa kutahu maksudnya.
Nova sendiri hanya menuruti kata-kata Mbak Rani yang seolah-olah memang menguasai permainan itu. Sekarang, Mbak Rani meletakkan pantatnya di sisi ranjang. Kaki kanannya ia biarkan tergelantung. Sementara kaki kirinya ia letakkan di sisi ranjang, sehingga pangkal pahanya terbuka. Dan giliran Nova yang jongkok mendekati vagina Mbak Rani.
"Oorgghh... sstthhh... yyaaa.. ooupppsss..." erang Mbak Rani ketika lidah Nova menyentuh vaginanya.
Arya yang melihat Mbak Rani dan Nova dalam keadaan seperti itu, langsung meraih wajah Mbak Rani yang duduk di sampingnya. Ia lumat habis bibir Mbak Rani sambil mengarahkan tangan Mbak Rani untuk mengocok penisnya.
"Ouuggrrhhh... yaacchhh... sssttt... aaauuuwww..!" geliatan Mbak Rani semakin menjadi.
Tubuhnya bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, tidak beraturan.
Dan tidak berapa lama, kulihat Mbak Rani membungkukkan tubuhnya ke arah kemaluan Arya. Rupanya ia belum puas mengulum penis Arya.
"Aaacchhh... Noovvv... aakkk.. kuuu mmaauuu.. keellluuaaa.. arrr..." erangan Mbak Rani di sela-sela kesibukan bibirnya melumat penis Arya.
Mendengar teriakan itu, Arya pun merubah posisinya. Ia biarkan Mbak Rani yang tergeletak dengan posisi miring di sisi ranjang. Lalu Arya ikut jongkok di samping Nova yang gerakan-gerakan kepalanya makin cepat menjilat dan menghisap-hisap vagina Mbak Rani.
Arya segera mendekatkan bibirnya ke puting susu Mbak Rani. Mendapat perlakuan seperti itu, Mbak Rani sepertinya tidak kuat lagi menahan puncak orgasmenya.
Hingga akhirnya, "Aargghhh... aaachhh..!" Mbak Rani mengerang sejadi-jadinya menikmati lendir kenikmatannya keluar dari vaginanya.
Sedangkan Nova pun semakin cepat pula membersihkan cairan yang keluar dari vagina Mbak Rani dengan hisapan-hisapan kuatnya.
"Ooocchhh... yyaaacchhh..." terdengar nafas Mbak Rani yang memburu dan kadang tersengal menikamti sisa-sisa orgasmenya.
Dan dengan tubuh yang sudah agak lemas itu, Mbak Rani kembali duduk sambil mengangkat pinggul Nova. Sehingga posisi Nova menjadi menungging. Mbak Rani lalu meoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, lalu memberi isyarat. Arya tahu apa yang dimaksud. Lalu ia pun berdiri di belakang bongkahan pantat Nova yang menungging dengan batang zakarnya yang masih tegak mangacung.
"Kamu siap, Nov..?" tanya Arya yang sudah siap dengan penisnya.
"Cepetan doongg.. Arr... udah nggak tahhaann niichh..!" sahut Nova yang sebentar menoleh ke arah Arya, lalu melanjutkan memainkan lidahnya di vagina Mbak Rani.
"Aacchhh... peelllaann.. peellaa... aannn... Arrr..!" desah Nova saat bibir kemaluannya menerima sodokan ujung penis Arya.
Saat penis Arya sudah seluruhnya masuk ke vagian Nova, ia maju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil. Nova pun mengiringinya dengan memutar-mutar pantatnya. Kedua tangan kekarnya membantu menggerak-gerakkan pinggul Nova.
"Hoohhh... sssttt... teerrruuu... uusss... Aarrr... lebbbiihhh kerraaa.. arrs..!" Mbak Rani sendiri pun ikut-ikutan mendesah.
Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas-remas payudara Nova yang masih tetap membungkuk di depannya. Sesekali ia menurunkan badannya untuk menciumi punggung Nova yang mulus itu. Sementara Nova, mendapat serangan dari atas dan bawah itu hanya dapat menahan desahan-desahannya. Karena mulutnya pun sibuk di antara pangkal paha Mbak Rani.
Beberapa menit kemudian, Arya dan Nova sepertinya hendak mencapai puncak orgasmenya. Kulihat Arya yang seolah-olah sudah tidak kuat lagi menahan mani yang mau keluar dari penisnya.
"Noovv... aakkkuuu mmauu keelluu... aaarrr..!" kata Arya di sela-sela gerakan maju mundur pantatnya.
"Ceepppaatt... Aarrr... akkuu jjuggaa... mmauuu keelluu... aaarrgghhh... aarrrghhh... ssttt..!" erang Nova saat mencapai klimak sambil mendongakkan kepalanya.
Melihat itu, Mbak Rani segera menyambutnya dengan ciuman di bibir Nova. Dan bersamaan itu pula, kulihat Arya menekan pinggulnya keras-keras ke pantat Nova.
terlanjur basah 3
Sambungan dari bagian 02
Setelah beberapa saat, ketiganya terdiam menikmati orgasme mereka masing-masing dengan nafas yang terengah-engah.
"Gila... kamu Nov. Memek kamu kuat sekali kalau menjepit ya..," puji Arya sambil duduk di sisi ranjang di sebelah Mbak Rani.
Nova hanya tersenyum mendengar kata-kata itu.
"Kalo sama punya Mbak Rani, kuatan mana..?" goda Nova sambil mendekati Arya dan melirik sebentar ke arah Mbak Rani.
"Ah.. apa-apan sih kamu, Nov..?" sahut Mbak Rani dengan sedikit malu.
Lalu ketiganya bercanda sambil berpelukan di sisi ranjang.
"Eh... Kalian masih kuatkan..?" tiba-tiba Mbak Rani memotong pembicaraan mereka sambil menoleh ke arahku.
Lalu ketiganya pun menoleh ke arahku yang masih menahan nafsu akibat melihat persetubuhan yang baru saja kusaksikan tanpa dapat berbuat apa-apa.
"Kalo bareng-bareng, boleh nggak Ran..?" tanya Arya kepada Mbak Rani.
"Usulan menarik itu.." sahut Nova dengan sambil melirik ke arah penisku yang sudah sedikit mengendor.
"Ok... kita mulai..!" kata Mbak Rani sambil memberi isyarat kepada Nova dan Arya untuk mencari posisi masing-masing.
Aku masih terbengong-bengong sambil bertanya-tanya, apa yang akan mereka perbuat kepadaku. Lalu kulihat, Nova pindah ke samping kiriku. Sementara Arya di tengah, tepat di antara kedua kakiku yang mengangkang karena ikatan tali itu. Sedangkan Mbak Rani berada di samping kananku. Perlahan mereka mengusap-usap bagian tubuhku. Mulai dari dada, perut, paha sampai ujung kaki. Tidak ada lagi kulitku yang lolos dari belaian-belaian tiga pasang tangan itu. Aku hanya dapat mendesah perlahan menikmati belain-belaian itu sambil memejamkan mataku. Hingga akhirnya, kedua putingku terasa basah dan hangat.
Saat kubuka mataku, aku melihat Mbak Rani dan Nova sudah menempelkan bibirnya di kedua putingku. Dan tidak berapa lama, pahaku pun juga terasa basah. Rupanya Arya pun turut menempelkan bibirnya di tubuhku. Kembali aku memejamkan mataku agar dapat menikmati jilatan-jilatan di tubuhku sepenuhnya. Apalagi dengan posisiku yang telentang pasrah dengan kedua tangan dan kaki terikat. Tiba-tiba aku sedikit tersentak dan mengangkat pinggulku ketika jilatan-jilatan itu kurasakan mengumpul di bawah pusarku. Tepat di s*****kanganku.
"Aarrghh... aacchhh... hhooohh... sssttthh..!" eranganku.
Sejenak mataku kubuka kembali untuk melihat ketiga bibir yang tengah mempermainkan batang kemaluanku. Kulihat Mbak Rani dan Nova saling bergantian mengulum penisku. Sedangkan Arya sibuk mengulum dan melumat habis kedua biji telurku. Sesekali kuangkat pinggulku saat Mbak Rani atau Nova mengulum penisku. Mbar Rani ataupun Nova tahu apa yang kulakukan, mereka justru mengimbanginya dengan mempercepat kulumannya. Saat pantatku kuangkat, aku kembali menerima sensasi yang lain. Karena dengan kuangkat pantatku, Arya justru menggelitik lubang anusku dengan ujung lidahnya.
"Mbak... dilepas aja talinya, Mbak..." pintaku kepada Mbak Rani.
Mbak Rani yang mendengar kata-kataku bergerak naik perlahan sambil terus menjilati sekujur tubuhku. Saat wajah sayunya tepat berada di dadaku, ia mendongak ke atas, sambil tersenyum penuh rasa kemenangan.
"Pleeaaassse... tolloonngg.. mmmbb..." aku merajuknya kembali.
Belum selesai kata-kata yang keluar dari bibirku, bibir Mbak Rani sudah menerkam bibirku. Maka kubalas pula lumatan-lumatan bibirnya. Bibir kami saling memagut dan saling memilin. Mbak Rani pun menggeser tubuhnya ke atas tubuhku. Kurasakan dadaku yang tertindih dengan dada Mbak Rani.
Kekenyalan buah dadanya kurasakan lembut dan hangat di dadaku. Lalu ia menggeserkan pinggulnya ke arah Nova. Nova pun paham dengan kelakuan Mbak Rani itu. Ia segera menjulurkan lidahnya ke arah vagina Mbak Rani yang kembali becek itu. Sedangkan bibir Arya menggantikan bibir Nova untuk mengulum batang kemaluanku. Desahan-desahanku dan Mbak Rani pun hanya tertahan dalam pagutan-pagutan bibir kami. Sementara vagina Mbak Rani dijilati oleh Nova, batang kemaluanku pun dikulum rakus oleh Arya. Sesekali aku tersentak kembali saat lidah Arya bergerak turun ke arah anusku.
Tidak berapa lama Nova memberi pelumas di bibir vagina Mbak Rani dengan air liurnya, Mbak rani sudah tidak tahan lagi.
"Udaacchhh... Novv... masukin aja kontolnya... uddaacchhhsss... nggaaakkkgg... aahhaannn... nicchh..!"
Lalu Nova memegang batang kamaluanku dalam genggamannya dan menuntunnya ke arah vagina Mbak Rani. Dan bless.., kurasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh setiap kulit di kemaluanku.
"Ooouucchh... yyaaacchh.... sshhttt..." terdengar erangan Mbak Rani saat penisku mulai memasuki lubang vaginanya.
Kulihat Mbak Rani hanya mendongakkan kepalanya sambil matanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu perlahan dan pasti, ia naik turunkan pinggulnya dengan dibantu kedua tangan Nova yang membantu memeganginya. Aku pun secara refleks segera menaik-turunkan pinggulku.
"Lepasin talinya doong Mbak..." aku mencoba kembali meminta Mbak Rani saat bibir kami terlepas untuk sejenak menarik nafas.
Ketika kedua tangan Mbak Rani menuju ke arah tali yang mengikat, tiba-tiba Arya melarangnya.
"Nggak usah dilepas dulu, Mbak.. Punyaku juga nggak tahann nicchh..."
Aku terkejut mendengar kata-kata Arya itu. Dalam benakku, apa hubungannya tali yang mengikatku dengan 'punya'-nya Arya. Tapi belum sempat aku berpikir lama, kurasakan sesuatu yang kenyal, basah dan hangat menyentuh ujung kemaluanku.
"Yeaacchhh... terrruuusss... Jak... yang kerraasss..!" Mbak rani semakin meracau tidak karuan saat batang kemaluanku mengaduk-aduk dinding dalam vagina Mbak Rani.
"Konnttollmuuu... eennaacckkk... Jaakkk.."
Aku pun ikut-ikutan mengerang nikmat. Namun, di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan, aku sedikit tersentak dan kurasakan anusku sedikit perih.
"Aauuwww... ssaakkkiiitt... Aarrr..!" jeritku ketika kulihat Arya sudah bersimpuh di antara s*****kanganku.
Kedua kakinya ia selipkan di bawah pahaku. Sehingga secara otomatis, pinggulku agak terangkat ke atas. Saat itu, sejenak aku melupakan kenikmatan yang kudapat dari Mbak Rani. Saat itu aku hanya merasakan perih di lubang anusku. Saat kulihat tubuh Arya, ia tengah sibuk dan perlahan-lahan bergerak maju mundur. Rupanya pertanyaan yang tadi sempat terlintas dalam benakku, kini terjawab sudah. Ternyata Arya ingin bermain anal dengan anusku. Dan mungkin, dalam pikirannya, jika tali itu dilepas, aku pasti menolaknya. Mbak Rani pun sempat kaget ketika mendengar jeritanku. Sejenak ia menoleh ke belakang, dan hanya tersenyum. Lalu kembali merundukkan tubuhnya dan meyambar bibirku yang terbuka.
Jeritan-jeritanku pun akhirnya tertahan di mulut Mbak Rani. Kepalaku hanya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri mendapat perlakuan seperti itu. Antara kenikmatan dari batang penisku yang dicengkeram kuat oleh dinding vagina Mbak Rani dan rasa perih akibat permainan anal dari Arya. Lama-lama kelamaan rasa perih itu berangsur-angsur berkurang, berbaur dengan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Sedangkan Nova yang sedari tadi hanya membantu pinggul Mbak Rani saat bergerak naik turun, mulai ikut aktif dalam permaianan itu.
Nova segera mendaratkan ciumannya di bibir Arya. Lalu tangan kanannya pindah ke arah pangkal pahanya dan mulai mengocok-kocok vaginanya sendiri. Namun ternyata, Nova kurang puas dengan posisi seperti itu. Akhirnya Nova pun melepaskan ciumannya dan menarik tubuh Mbak Rani yang sudah tengkurap menindih tubuhku. Lalu langsung menyambar bibir Mbak Rani, sementara tangan kanannya tidak ia lepaskan dari vaginanya sendiri. Dengan tangan kanannya, Mbak Rani memeluk pinggang Nova. Nova pun menggeser tubuhnya agar bisa enjoy menikmati ciuman Mbak Rani.
"Novv... memeecckk... muu... ssiinnn... niii Noovvv..." aku nekat meminta vagina Nova untuk kujilati meski dengan kata-kata terputus menikmati permainan sehebat itu.
Lalu Nova menggeser pantatnya ke arah wajahku. Dan dalam kedua kaki Nova pun menyilang tepat di atas wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku menjilat-jilat vagina seorang perempuan. Agak asin dan licin saat cairan di bibir vagina Nova menempel di bibirku. Namun tidak berapa lama, aku langsung memiringkan wajahku dan menjerit keras saat kurasakan spermaku hendak muntah dari ujung penisku.
"Yyaanngghh.... kerraasss.... Mbaackkk... aackkuu... mmauuu... kellluuaarrrggghh..." dan saat itulah kuangkat pinggulku dengan keras hingga pantat Mbak Rani yang berada di atas pinggulku juga turut terangkat.
Hingga akhirnya, spermaku pun keluar ke dalam vagina Mbak Rani. Sedangkan Mbak Rani ikut mengimbangi gerakanku. Sejenak mereka bertiga diam dalam posisi masing-masing. Penis Arya yang sedang berada di dalam anusku pun kurasakan ikut berhenti sambil meremas-remas pantatku. Mbak Rani pun turut berhenti, meski tanpa melepaskan bibirnya dari bibr Nova. Sedangkan Nova kembali menggesek-gesekkan tangannya di vaginannya sendiri. Rupanya mereka bertiga memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati klimaksnya sebuah orgasme.
Namun tidak berapa lama, kulihat Arya segera mengocok kemaluannya dengan frekuensi lebih cepat. Begitu juga dengan Mbak Rani yang semakin mempercepat gerakan naik turunnya pinggangnya. Mungkin khawatir, jika penisku mulai mengendur.
Hingga akhirnya, "Acckkuuu... keellluaarrr... Jaacckkk..."
Kurasakan cairan keluar dari vagina Mbak Rani meleleh dan memberikan efek hangat di batang kemaluanku yang masih tersimpan di dalam vagina Mbak Rani.
Mbak Rani lalu melepaskan jepitan vaginanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke arah batang kemaluanku. Penisku pun dilumat habis dalam mulut Mbak Rani. Seiring itu pula, Arya kulihat semakin mengejang dengan nafas agak tertahan. Dan saat ia benamkan seluruh batang kemaluannya dalam anusku, saat itulah kurasakan ada cairan hangat menyentuh dinding-dinding anusku. Arya pun mendapatkan puncak orgasmenya. Arya pun mencabut penisnya dari anusku, dan kemudian ikut menjilat-jilat batang kemaluanku, meski kurasakan batang penisku sudah mulai mengendur. Sedangkan Nova masih saja berkutat dengan jari-jari tangannya yang sibuk mengocok vaginanya sendiri.
"Mbak Rani, Arya.., tolongin akuu.. dong..." sambil melentangkan tubuhnya di sampingku dan membuka kedua kakinya.
Bibirnya pun diarahkan ke mulutku. Aku pun membalas ciuman bibir Nova. Sementara itu, Mbak Rani dan Arya sibuk menjilat-jilat vagina Nova. Setelah beberapa saat, Nova melepaskan ciumannya, dan, "Aaarrrccgghh..." Nova mengerang saat mencapai orgasmenya. Ia tersenyum puas ke arahku dan memberikan seulas senyum manis kepadaku.
"Gimana sayang..?" tanyanya menggodaku.
"Tadi malam, diajak single nggak mau.." sahut Mbak Rani yang menggeser tubuhnya naik sambil melepaskan tali di kedua tanganku.
Arya pun juga sudah melepaskan ikatan tali di kedua kakiku, lalu menyusul naik ke atas.
"Punya kamu masih sempit, Jak. Masih perawan ya..?" kata Arya sambil bergeser mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
Kini posisi kami berempat saling berhimpitan di atas sebuah ranjang, saling memeluk dan menyilangkan kaki. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan peristiwa yang baru saja kualami.
"Kenapa sayang..?" tanya Mbak Rani melihat gelengan kepalaku.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mbak Rani, Nova dan Arya pun ikut tersenyum melihat tingkahku. Hingga akhirnya kami terlelap dalam tidur dengan masing-masing masih telanjang.
Itulah pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex. Pengalaman yang hanya sekali itu kualami. Karena beberapa minggu setelah peristiwa itu, Arya pulang ke daerah asalnya di luar Jawa, karena kuliahnya sudah selesai. Sedangkan Nova, telah menikah. Meskipun katanya masih tinggal di kota ini, tapi aku tidak mendapatkan alamatnya yang jelas. Itu kuketahui saat aku kembali bertandang ke rumah Mbak Rani beberapa minggu kemudian. Sehingga, saat itu aku hanya bercinta dengan Mbak Rani. Single fighter, kata Mbak Rani.
Memang peristiwa itu hanya berlangsung beberapa saat, namun peristiwa itu pula yang telah merenggut keperjakaanku sekaligus 'keperawananku'. Hingga saat ini pun, terkadang aku masih ingin mengulangi pengalaman pertamaku itu. Meski sebenarnya, aku yakin jika suatu saat nanti, aku dapat mengulanginya kembali. Namun, hanya setumpuk pertanyaan yang ada di dalam benakku saat ingin kembali mengulanginya. Kapan, dimana dan dengan siapa?
TAMAT
Terus terang, sebetulnya dunia yang selama ini kugeluti, sangat jauh dari dunia sex. Dan kalau pun tahu, itu hanya sebatas bacaan-bacaan semacam Nick Carter. Namun, setelah aku mengenal dunia cyber dan mendapatkan situs 17tahun.com dari temanku ini, rasanya aku mulai tahu tentang dunia yang satu ini. Dan mungkin bisa experience sharing, sekaligus menyalurkan hobiku dalam hal tulis-menulis.
Kisah ini bermula saat kepulanganku dari luar kota setelah melakukan hunting dan survey untuk proyek tersebut. Saat itu, jam di tanganku menunjukkan pukul 10.00 malam. Setelah bus jurusan Yogya-Surabaya yang kunaiki sampai di pertigaan Janti, aku bersiap-siap untuk turun. Beberapa penumpang pun turut berdiri, berjajar di belakangku. Hingga akhirnya, aku dan para penumpang lainnya sudah turun, bus melaju melanjutkan perjalanannya menuju terminal.
Setelah sesaat melepas lelah sambil nongkrong di sebuah warung pinggir jalan, aku pun berniat untuk segera pulang lalu istirahat. Saat hendak membayar minum, aku rogoh saku belakangku. Dan aku pun sangat terkejut ketika kudapati, belakang celanaku ternyata robek.
"Sialan..," makiku.
"Kenapa, Dik..?" tanya penjual minuman itu.
Aku sendiri tidak dapat berkata-kata apa-apa. Karena bagaiamanapun juga, toh aku juga harus tetap membayar minuman yang telah kuhabiskan. Dan untung saja, setelah kurogoh seluruh kantong yang ada di baju dan celanaku, aku menemukan sedikit uang yang cukup untuk sekedar membayar minuman tersebut. Dan akhirnya, aku beranjak meninggalkan warung itu dengan langkah gontai.
"Yaa... terpaksa pulang jalan kaki nih..." umpatku.
Namun tidak berapa jauh aku m*****kah, seorang wanita menegurku dari arah belakang.
"Maaf, Dik.."
Meskipun dengan sedikit malas, aku berusaha untuk menanggapi teguran tersebut.
"Ada apa, Mbak..?" tanyaku.
"Adik tahu jalan ini (dia menyebutkan salah satu jalan di kota ini)..?" tanyanya dengan nafas yang memburu terkesan seperti tergesa-gesa.
Dan belum sempat aku menjawabnya, ia sudah menyambung dengan kata-katanya.
"Kalo tahu, tolong dong, saya dianter. Bisa kan..? Please..!"
Namun dengan berbagai alasan yang kubuat-buat, semula aku menolaknya. Dalam pikiranku, aku cuman mengeluh, sialan nih perempuan, tidak tahu orang lagi suntuk! Namun lama-kelamaan, akhirnya aku merasa iba juga melihatnya, apalagi dia sempat menawarkan imbalan berapa pun yang aku minta asalkan aku mau mengantarkannya. Hingga akhirnya, aku pun bersedia mengantarnya. Dan tentu saja dengan syarat, aku minta ongkos taksi untuk pulang ke kost. Itu saja. Dan ia pun setuju.
Singkat cerita, kami pun melaju menuju alamt tersebut dengan sebuah taksi. Di dalam taksi pun, kami mulai saling memperkenalkan diri. Dan ternyata, kami sama-sama satu bus. Hingga akhirnya aku berhasil memancingnya untuk bercerita tentang dirinya. Lalu ia pun bercerita tentang kisah pahit dalam hidupnya. Seolah aku terhanyut dengan cerita-cerita yang mengharukan yang ia tuturkan.
Vina, nama perempuan itu. Usianya 30 tahun. Wajahnya cukup cantik. Terlebih lagi, dengan kaca mata yang ia kenakan, semakin menambah anggun kecantikannya. Ia adalah janda yang tidak mempunyai anak. Suaminya pergi dari rumah karena selingkuh dengan seorang karyawan yang kost di rumahnya. Sedangkan di kota ini, ia akan memulai hidup baru bersama kakak perempuannya.
Di tengah-tengah cerita, sesekali ia mengusap air mata yang keluar dari pipinya saat bercerita. Atau mencoba menyembunyikan isakan tangisnya dengan menyandarkan kepalanya di atas pudakku. Mungkin, sudah menjadi naluri laki-laki untuk menjadi pengayom bagi seorang wanita. Dan itu juga yang coba kulakukan untuk mencoba menenangkan Mbak Vina. Dengan sedikit gemetar, aku mencoba untuk merangkul pundaknya. Kulontarkan kata-kata yang kupikir dapat meredam kesedihannya.
Tapi entah setan dari mana, tiba-tiba aku teringat akan cerita-cerita panas yang pernah kubaca, ataupun film-film dari VCD yang pernah kutonton. Aku sendiri mencoba untuk mengusir khayalan-khayalan itu. Namun, sentuhan-sentuhan yang terjadi di antara kami, meskipun itu tidak di sengaja, justru semakin memancing hasrat kelaki-lakianku. Dan sedikit demi sedikit, aku mulai merasakan jika penisku mulai menegang. Aku mulai salah tingkah dan tidak tahu harus berbuat apa. Perlahan keringat dingin membasahai keningku. Namun, untung saja kejadian ini tidak berlangsung lama. Karena taksi yang membawa kami telah berhenti di sebuah rumah yang lumayan besar.
"Sudah sampai, Mas.." kata supir taksi itu.
Lalu Mbak Vina pun membayar ongkos dan segera mengajakku menuju rumah itu. Setelah mengetuk pintu dan menunggu beberapa saat, seorang wanita yang mirip dengan Mbak Vina, tapi lebih tua sedikit, membuka pintu dan langsung berteriak sambil memeluk Mbak Vina. Mbak Vina pun menyambut pelukan itu dengan tangisan yang meledak. Hening sesaat.
"Oo... ini toh Mbak Rani, kakaknya Mbak Vina.." Batinku.
Lumayan juga. Kulitnya putih bersih. Dan kondisiku yang masih agak terangsang ini, semakin menjadi-jadi ketika kulihat Mbak Rani yang hanya menggunakan baju tidur, dengan belahan dada yang cukup lebar, sehingga belahan buah dada Mbak Rani dapat terlihat jelas. Aku sempat terpana juga melihat pemandangan seperti itu. Hingga akhirnya aku dikejutkan oleh teguran Mbak Rani untuk mengajak kami masuk.
Akhirnya, setelah sedikit berbasa-basi, aku pun dipersilakan istirahat di ruang tidur tamu. Dan malam itu pun, akhirnya aku terpaksa di tidur di rumah Mbak Rani. Namun, meskipun tubuhku ini sangat lelah, aku heran, kenapa aku tidak dapat memejamkan mataku. Justru bayangan Mbak Vina dan Mbak Rani yang terus mengganggu pikiranku. Aku coba segala cara agar mata ini dapat terpejam, meski akhirnya tidak dapat juga. Lalu kuputuskan untuk melihat-lihat sekeliling kamar hinga aku melihat ada sebuah TV dan VCD player. Lalu kubuka beberapa laci yang ada, dan kutemukan beberapa keping CD. Maka kuputuskan untuk memutar CD tersebut sebagai penghantar tidurku.
Namun, justru aku tak dapat memejamkan mataku saat melihat adegan-adegan yang terpampang di film tersebut. Karena dari 5 CD yang ada, empat di antaranya film BF semua.
"Nggak apalah... dari pada nggak ada tontonan dan nggak bisa tidur..." batinku.
Sambil tiduran di ranjang, aku pun menikmati film-film BF tersebut sendirian. Khayalanku pun semakin liar menerawang. Dan penisku pun mulai mengeras. Suara-suara desahan di TV semakin membuat nafsuku bergejolak.
Entah sadar atau tidak, perlahan tanganku mulai membelai-belai penisku sendiri. Perlahan celana panjang kuturunkan. Semula hanya sebatas lutut, meski akhirnya, aku tanggalkan seluruhnya.
"Oohhh... mmmhhh..." desahku mengikuti irama permainan yang ada di layar TV.
Semakin lama, semakin cepat pula gerakan tanganku mengocok penisku sendiri. Gerakan tubuhku semakin tak beraturan. Sesekali kakiku mengejang dengan pantat yang sedikit terangkat. Hingga akhirnya, "Aaggrkkh.....aarrghh....." jeritku dengan suara tertahan.
Dan bersamaan itu pula meledaklah larva berwarna putih kental dari ujung kemaluanku. Entah berapa kali semprotan yang keluar, aku tak sempat menghitungnya. Aku pun terkulai lemas.
Keringat membasahi tubuhku. Aku limbung sambil masih berusaha menikmati sisa-sisa keletihan dalam kenikmatan itu. Dan entah berapa kali aku beronani di malam itu, aku tak ingat lagi. Karena, 4 CD yang ada kuputar semuanya non stop. Sampai aku tertidur dengan hanya kaos pendek yang melekat di tubuhku. Sementara tubuh bagian bawahku masih tidak mengenakan penutup samasekali.
Belum lama mataku terpejam, aku dikejutkan dengan suara pintu kamar yang terbuka.
"Eh... maaf Dik. Aku pikir Dik Jaka udah tidur..." kata Mbak Rani.
Aku tidak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Aku segera meraih celanaku yang tergeletak di pinggir ranjang. Meski tidak sempat mengenakannya, tapi cukup untuk sekedar menutupi bagian bawah tubuhku, terutama penisku.
"A.. ada appa... Mbak..?" tanyaku dengan nada terpatah-patah karena malu bercampur grogi.
"Sorry, Dik. Aku mau ambil pakaian tidur di lemari itu. Kebetulan, pakaian yang ada di kamar Mbak, belum di cuci.." jawabnya.
Lalu Mbak Rani pun menghampiri lemari di sisi kanan ranjang tempat aku berbaring. Saat ia menoleh ke arah TV yang ternyata masih menyala, Mbak Rani berpaling ke arahku sambil tersenyum. Aku pun terpaksa membalasnya dengan tersenyum juga. Meski pun dengan agak tertahan. Aku segera meraih remote yang ada di sebelahku, lalu segera mematikannya.
"Kok dimatikan, Dik. Nggak pa-pa kok. Kalo belum selesai, dilanjutin aja. Tanggung kan..?" kata Mbak Rani sambil membelakangiku karena sedang mencari pakaian yang ia cari.
"Nggak ah, Mbak.." sahutku, "Lagian juga udah ngantuk nih."
Selesai mengambil pakaiannya, Mbak Rani duduk di sisi ranjang. Ia mengambil remote yang ada di tanganku dan kembali menyalakan TV.
"Nggak usah malu-malu. Santai aja. Apa perlu Mbak temenin biar nggak ngantuk..? Nonton film kaya gini ini, enaknya kan nggak cuman tiduran. Iya nggak Dik..?" kata Mbak Rani sambil melirik bagian s*****kanganku.
Aku hanya terdiam mendengar kata-kata itu. Dan selanjutnya, kami berdua terdiam. Hanya suara erangan dan desahan dari layar TV yang ada di kamar itu. Aku sendiri tidak dapat menikmati permainan yang sedang berlangsung di film itu. Meskipun kuakui, penisku mulai kurasakan kembali mengeras, namun aku justru salah tingkah sendiri. Sedangkan Mbak Rani, justru kulihat sangat menikmatinya.
"Mbak Vina, mana Mbak..?" tanyaku memecah keheningan dan sekedar untuk menghilangkan gemetarku.
Mbak Rani menoleh ke arahku dengan seungging senyum di bibir tipisnya. Dengan perlahan ia mendekatiku. Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku.
"Kan ada Mbak Rani di sini. Kasihan Mbak Vina, kelihatannya capek. Biarin aja dia istirahat," kata Mbak Rani sambil menyentuh kulit pahaku dan mengelus-elus pelan.
Aku semakin tidak dapat mengendalikan diriku. Dan sebelum aku menjelaskan maksud pertanyaanku, tangan kanan mungil Mbak Rani sudah menggenggam kemaluanku. Aku sedikit tersentak terkejut mendapat perlakuan seperti itu. Terlebih lagi saat tangannya perlahan mengocok penisku. Aku tidak dapat berbuat apa-apa saat kesadaranku melayang entah kemana. Ketika tangan kiri Mbak Rani mendorong dadaku, aku perlahan merebah di atas ranjang. Namun, tiba-tiba kesadaranku muncul dan segera menarik tangan kanan Mbak Rani yang sedang membelai penisku. Dan aku segera bergeser ke samping saat tubuh Mbak Rani hendak menindih tubuhku.
"Jangan, Mbak... ini tidak boleh..!" aku mencoba mengingatkan Mbak Rani.
"Pleassee... Dik... tolong Mbak.." pinta Mbak Rani dengan wajah yang sudah terlihat sayu dengan nafas memburu.
"Tolong, Mbak. Saya nggak bisa melakukan ini.." sahutku.
Mbak Rani hanya terdiam. Kulihat ada rasa kekecewaan di raut wajahnya. Lalu dengan tanpa suara dan wajah sedikit bersungut, Mbak Rani meninggalkanku sendirian di kamar. Aku hanya dapat melihat punggung Mbak Rani meninggalkan kamarku. Akhirnya aku dapat bernafas lega sambil mencoba mengulang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Hingga akhirnya aku pun terpejam dan terlelap dalam tidurku.
Pagi harinya, ketika aku terbangun, jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Aku pun segera berkemas dan siap untuk pulang. Setelah kurasa semuanya beres, aku segera beranjak menuju pintu kamar. Namun ketika pintu belum kubuka lebar, aku menyaksikan adegan yang mengejutkan di ruang tengah. Di sebuah sofa di depan TV yang tengah menayangkan sebuah film porno, aku melihat Mbak Rani tengah berciuman dan saling melumat dengan seorang perempuan. Nafasnya jelas sekali terengah-engah dengan sesekali diselingi desahan-desahan. Sementara tangan kanannya memeluk perempuan yang berada di sampingnya. Dan tangan kirinya meremas-remas rambut lelaki yang ada di bawahnya. Dalam pandanganku, nampak kedua tangan lelaki itu meremas-remas payudara sekaligus puting Mbak Rani.
Di antara kedua pahanya, kulihat seseorang tengah asyik mempermainkan vagina Mbak Rani. Aku sendiri hanya terdiam, dan kurasakan dadaku mulai naik turun. Kemaluanku pun semakin mengeras.
"Oochh... sshhtt... yyaacchh... terrruuusss Deedd..." Mbak Rani meracau sambil mendongakkankepalanya.
Sementara perempuan yang berada di sampingnya, terus menerus menelusuri leher Mbak Rani yang terlihat putih jenjang dengan sedikit ada bekas-bekas merah akibat ciuman.
terlanjur basah2
Sambungan dari bagian 01
Aku semakin tidak tahan melihat pergumulan itu. Tanganku bergerak perlahan dan mengusap-usap kemaluanku yang telah mengeras. Aku hanya dapat menggigit bibir bawahku sambil mengusap-usap penisku dari luar. Lalu perlahan aku masukkan salah satu tanganku ke dalam celana jeans-ku. Dengan sangat perlahan karena takut ketahuan, aku menurunkan celanaku. Tiba-tiba, "Bruuk..!" aku terkejut dengan tas yang tergantung di bahuku terjatuh. Mbak Rani, lelaki dan perempuan itu tiba-tiba segera menghentikan permainannya, dan secara bersamaan menoleh ke arahku.
"Sialan..." makiku dalam hati.
Aku hanya terdiam dengan ketakutan dan gemetar ketika mereka bertiga melihat ke arahku.
"Maaf... maa.. af.." kataku langsung menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar.
Di dalam kamar aku hanya dapat memaki habis-habisan. Aku segera beranjak mendekati tempat tidur. Dan dengan celanaku yang tetap dalam posisi agak melorot, aku mencoba mengingat-ingat kejadian yang baru saja kusaksikan. Aku semakin tidak dapat mengendalikan nafsuku. Dan kocokan-kocokan kecil dari tanganku semakin membuat tubuhku panas dingin.
Kurebahkan tubuhku di atas ranjang dengan tangan kananku yang tetap mengocok penisku. Belum sempat aku menyelesaikan permainanku, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Dan di depan pintu kulihat Mbak Rani dan kedua temannya sudah berdiri dengan tanpa sehelai benang pun menempel di ketiga orang itu. Aku terkejut dan segera bangun dari tidurku, dan membenahi posisi celanaku yang turun ke bawah sampai ke lutut. Akan tetapi, lelaki yang berada di antara Mbak Rani dan seorang perempuan itu dengan cepat segera mengangkat ujung kakiku sambil tangannya mendorong tubuhku. Sehingga dengan sendirinya aku terpelanting ke belakang. Tubuhku pun kembali rebah di atas ranjang tersebut.
Lalu dengan cepat, lelaki itu naik ke atas ranjang, dan dengan cepat duduk di atas dadaku dengan kedua lututnya yang berada di samping kanan kiriku sambil kedua tangannya memegang tanganku. Mbak Rani dan teman wanitanya segera mendekatiku.
"Arya, terus pegang yang kuat. Jangan sampai lepas..!" kata Mbak Rani kepada lelaki yang memegang kedua tanganku.
Lelaki yang bernama Arya itu pun semakin kuat mencengkeram kedua tanganku.
"Nov, kamu pegang kakinya.." sambung Mbak Rani sambil mendekati tubuhku yang hampir tidak dapat berkutik.
Aku mencoba berontak dengan menedang-nendang kakiku. Namun, kembali kakiku terdiam saat Arya yang duduk berada di atas dadaku menekan tubuhku dengan tubuhnya. Lalu ia tersenyum dengan penuh arti, dan perlahan mengusap-usap pahaku. Aku berusaha untuk meronta, tapi cengkeraman Arya dan Nova justru semakin kuat.
"Toloong, Mbak... Lepaskan saya," pintaku.
Mbak Rani tidak memperdulikan kata-kataku. Sekarang ia justru mulai mendekatkan wajahnya ke arah paha dan kemaluanku. Dan tidak berapa lama, aku mulai merasakan kalau pahaku terasa basah. Kemaluanku masih agak tegang.
Aku semakin meronta. Tapi itu justru membuat Mbak Rani semakin keranjingan untuk terus menjilati pahaku. Tangan kanannya pun mulai memegang penisku dan mengocoknya perlahan. Akhirnya, aku pun tidak dapat menahan ciuman-ciuman bibir Mbak Rani di pahaku. Tangan lembutnya yang mengocok penisku pun mulai kurasakan sebagai satu kenikmatan tersendiri. Namun aku tetap berusaha untuk tidak larut dalam permainan itu. Tapi bagaimanapun juga aku seorang lelaki. Dan mendapat rangsangan seperti itu, terkadang membuat nafasku tersengal akibat birahi di tubuhku mulai memanas. Terlebih lagi ketika lidah Mbak Rani mulai menyentuh batang kemaluanku. Sedangkan Nova yang dari tadi memegang kakiku pun turut memberikan ciuman-ciuman di betisku.
Aku semakin tidak kuat untuk menahan rangsangan-rangsangan yang ditimbulkan akibat jilatan-jilatan lidah Mbak Rani. Sesekali batang kemaluanku masuk ke dalam mulut Mbak Rani. Dan kurasakan hisapan-hisapan dari mulutnya membuat tubuhku semakin panas dingin.
"Bagaimana sayang, kamu menikmatinya kan..?" goda Mbak Rani dengan melirik ke arahku.
Lalu ia berdiri dan berjalan ke arah almari di samping ranjang. Tidak berapa lama Mbak Rani kembali dengan membawa beberapa helai kain.
"Tarik ke atas, Ar," Kata Mbak Rani sambil membentangkan kainnya.
Arya pun turun dari atas dadaku, dan dengan kasar Arya pun menarik tubuhku ke atas. Kini Mbak Rani ikut-ikutan ke atas ranjang. Dan dengan santainya, ia segera duduk di atas dadaku untuk mengikat kedua tanganku di tepi ranjang.
Saat ia duduk di atas dadaku, kurasakan vaginanya ia tekan dan gesek-gesekkan ke dadaku. Dan saat Mbak Rani membungkuk untuk mengikat kedua tanganku pun ia gesek-gesekkan pula susu di wajahku. Saat itu pula kurasakan kekenyalan sebongkah susu.
"Aayyoo sayyangg... hisap-hisap susu Mbak..." racau Mbak Rani mencoba memberikan rangsangan-rangsangan kepadaku.
Aku hanya memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri untuk lebih merasakan kekenyalan buah dada milik Mbak Rani.
Sementara itu, Arya yang tadi berada di atasku, kini pindah ke bawah dan juga mengikat kedua kakiku dengan kain yang diambilkan Mbak Rani dari lemari tadi. Sesaat setelah mereka bertiga mengerjaiku seperti ini, lalu mereka duduk di pinggir ranjang sambil sesekali tersenyum melihat kondisiku yang sudah tidak berdaya.
"Arya, Nova, ayo kita lanjutkan lagi permainan yang tadi belum selesai.." kata Mbak Rani sambil merunduk mendekatkan wajahnya ke penis Arya sambil berjongkok.
Arya pun duduk di sisi ranjang dan memberikan penisnya yang lumayan besar itu ke mulut Mbak Rani. Sedangkan Nova berdiri di samping Arya dan memberikan kedua buah dadanya untuk dihisap Arya.
"Oorghhh.... yaa.. terus Raann... Ssstthhh... yaanggg... kencceenggrrrhhh..." terdengar desahan Arya menikmati kemaluannya yang terus dikulum Mbak Rani.
"Oohh... sssttthhh... teeerrruusss... Aarr.. yaanng keerraaa.. ssss... hissaapp.. nnyaa..!" Nova pun juga mendesah dengan sesekali kedua tangannya menjambak rambutnya sendiri.
Aku sendiri tidak berbuat apa-apa dengan apa yang mereka bertiga lakukan. Aku hanya dapat meyaksikan mereka mereguk kenikmatan tanpa dapat berbuat apa-apa. Nafasku pun mulai memburu seiring dengan tubuhku yang mulai terasa panas dingin.
Posisi Nova yang berhadap-hadapan denganku hanya tersenyum menggodaku. Perlahan ia mendekati sisi ranjang. Dengan tetap membiarkan payudaranya dihisap dan dijilati oleh lidah Arya, ia mendekatiku. Lalu perlahan tangannya mulai membelai pahaku. Kembali aku hanya dapat menggigit bibir bawahku untuk menahan rangsangan itu.
"Terrusss... Nov.. ke attasss..." kataku sambil menahan gairah yang sudah terlalu menggebu.
Aku tidak perduli lagi dengan apa yang terjadi tadi malam saat aku menolak bermain cinta dengan Mbak Rani.
"Terlanjur basah, ya sudah mandi sekalian..," batinku.
"Oorrghhhh... yyaacchhh... ssstt..." aku hanya dapat mendesah menikmati belaian lembut dan kocokan pelan tangan Nova di batang kemaluanku.
Pinggulku bergerak ke arah kanan-kiri dan terkadang sedikit kuangkat untuk menikmati permainan itu. Dan secara perlahan, tanpa mau melepaskan hisapan-hisapan mulut Arya di kedua buah dadanya, Nova bergerak mendekatkan wajahnya ke arah s*****kanganku. Tubuhku semakin panas dingin dan bergetar hebat melihat apa yang akan dilakukan Nova di s*****kanganku. Aku menahan nafas untuk menikmati permainan selanjutnya. Tapi, tiba-tiba tangan Mbak Rani yang tadi sibuk dengan kemaluan Arya, segera menarik tubuh Nova.
"Dari pada jilatin itu, mendingan jilatin punyaku aja, Nov..," kata Mbak Rani sambil bangkit dari jongkoknya dan duduk di sebelah Arya yang hanya tersenyum kepadaku tanpa kutahu maksudnya.
Nova sendiri hanya menuruti kata-kata Mbak Rani yang seolah-olah memang menguasai permainan itu. Sekarang, Mbak Rani meletakkan pantatnya di sisi ranjang. Kaki kanannya ia biarkan tergelantung. Sementara kaki kirinya ia letakkan di sisi ranjang, sehingga pangkal pahanya terbuka. Dan giliran Nova yang jongkok mendekati vagina Mbak Rani.
"Oorgghh... sstthhh... yyaaa.. ooupppsss..." erang Mbak Rani ketika lidah Nova menyentuh vaginanya.
Arya yang melihat Mbak Rani dan Nova dalam keadaan seperti itu, langsung meraih wajah Mbak Rani yang duduk di sampingnya. Ia lumat habis bibir Mbak Rani sambil mengarahkan tangan Mbak Rani untuk mengocok penisnya.
"Ouuggrrhhh... yaacchhh... sssttt... aaauuuwww..!" geliatan Mbak Rani semakin menjadi.
Tubuhnya bergerak-gerak seperti cacing kepanasan, tidak beraturan.
Dan tidak berapa lama, kulihat Mbak Rani membungkukkan tubuhnya ke arah kemaluan Arya. Rupanya ia belum puas mengulum penis Arya.
"Aaacchhh... Noovvv... aakkk.. kuuu mmaauuu.. keellluuaaa.. arrr..." erangan Mbak Rani di sela-sela kesibukan bibirnya melumat penis Arya.
Mendengar teriakan itu, Arya pun merubah posisinya. Ia biarkan Mbak Rani yang tergeletak dengan posisi miring di sisi ranjang. Lalu Arya ikut jongkok di samping Nova yang gerakan-gerakan kepalanya makin cepat menjilat dan menghisap-hisap vagina Mbak Rani.
Arya segera mendekatkan bibirnya ke puting susu Mbak Rani. Mendapat perlakuan seperti itu, Mbak Rani sepertinya tidak kuat lagi menahan puncak orgasmenya.
Hingga akhirnya, "Aargghhh... aaachhh..!" Mbak Rani mengerang sejadi-jadinya menikmati lendir kenikmatannya keluar dari vaginanya.
Sedangkan Nova pun semakin cepat pula membersihkan cairan yang keluar dari vagina Mbak Rani dengan hisapan-hisapan kuatnya.
"Ooocchhh... yyaaacchhh..." terdengar nafas Mbak Rani yang memburu dan kadang tersengal menikamti sisa-sisa orgasmenya.
Dan dengan tubuh yang sudah agak lemas itu, Mbak Rani kembali duduk sambil mengangkat pinggul Nova. Sehingga posisi Nova menjadi menungging. Mbak Rani lalu meoleh ke arah Arya yang berdiri di sampingnya, lalu memberi isyarat. Arya tahu apa yang dimaksud. Lalu ia pun berdiri di belakang bongkahan pantat Nova yang menungging dengan batang zakarnya yang masih tegak mangacung.
"Kamu siap, Nov..?" tanya Arya yang sudah siap dengan penisnya.
"Cepetan doongg.. Arr... udah nggak tahhaann niichh..!" sahut Nova yang sebentar menoleh ke arah Arya, lalu melanjutkan memainkan lidahnya di vagina Mbak Rani.
"Aacchhh... peelllaann.. peellaa... aannn... Arrr..!" desah Nova saat bibir kemaluannya menerima sodokan ujung penis Arya.
Saat penis Arya sudah seluruhnya masuk ke vagian Nova, ia maju mundurkan pinggulnya dengan irama yang stabil. Nova pun mengiringinya dengan memutar-mutar pantatnya. Kedua tangan kekarnya membantu menggerak-gerakkan pinggul Nova.
"Hoohhh... sssttt... teerrruuu... uusss... Aarrr... lebbbiihhh kerraaa.. arrs..!" Mbak Rani sendiri pun ikut-ikutan mendesah.
Kedua tangannya ia gunakan untuk meremas-remas payudara Nova yang masih tetap membungkuk di depannya. Sesekali ia menurunkan badannya untuk menciumi punggung Nova yang mulus itu. Sementara Nova, mendapat serangan dari atas dan bawah itu hanya dapat menahan desahan-desahannya. Karena mulutnya pun sibuk di antara pangkal paha Mbak Rani.
Beberapa menit kemudian, Arya dan Nova sepertinya hendak mencapai puncak orgasmenya. Kulihat Arya yang seolah-olah sudah tidak kuat lagi menahan mani yang mau keluar dari penisnya.
"Noovv... aakkkuuu mmauu keelluu... aaarrr..!" kata Arya di sela-sela gerakan maju mundur pantatnya.
"Ceepppaatt... Aarrr... akkuu jjuggaa... mmauuu keelluu... aaarrgghhh... aarrrghhh... ssttt..!" erang Nova saat mencapai klimak sambil mendongakkan kepalanya.
Melihat itu, Mbak Rani segera menyambutnya dengan ciuman di bibir Nova. Dan bersamaan itu pula, kulihat Arya menekan pinggulnya keras-keras ke pantat Nova.
terlanjur basah 3
Sambungan dari bagian 02
Setelah beberapa saat, ketiganya terdiam menikmati orgasme mereka masing-masing dengan nafas yang terengah-engah.
"Gila... kamu Nov. Memek kamu kuat sekali kalau menjepit ya..," puji Arya sambil duduk di sisi ranjang di sebelah Mbak Rani.
Nova hanya tersenyum mendengar kata-kata itu.
"Kalo sama punya Mbak Rani, kuatan mana..?" goda Nova sambil mendekati Arya dan melirik sebentar ke arah Mbak Rani.
"Ah.. apa-apan sih kamu, Nov..?" sahut Mbak Rani dengan sedikit malu.
Lalu ketiganya bercanda sambil berpelukan di sisi ranjang.
"Eh... Kalian masih kuatkan..?" tiba-tiba Mbak Rani memotong pembicaraan mereka sambil menoleh ke arahku.
Lalu ketiganya pun menoleh ke arahku yang masih menahan nafsu akibat melihat persetubuhan yang baru saja kusaksikan tanpa dapat berbuat apa-apa.
"Kalo bareng-bareng, boleh nggak Ran..?" tanya Arya kepada Mbak Rani.
"Usulan menarik itu.." sahut Nova dengan sambil melirik ke arah penisku yang sudah sedikit mengendor.
"Ok... kita mulai..!" kata Mbak Rani sambil memberi isyarat kepada Nova dan Arya untuk mencari posisi masing-masing.
Aku masih terbengong-bengong sambil bertanya-tanya, apa yang akan mereka perbuat kepadaku. Lalu kulihat, Nova pindah ke samping kiriku. Sementara Arya di tengah, tepat di antara kedua kakiku yang mengangkang karena ikatan tali itu. Sedangkan Mbak Rani berada di samping kananku. Perlahan mereka mengusap-usap bagian tubuhku. Mulai dari dada, perut, paha sampai ujung kaki. Tidak ada lagi kulitku yang lolos dari belaian-belaian tiga pasang tangan itu. Aku hanya dapat mendesah perlahan menikmati belain-belaian itu sambil memejamkan mataku. Hingga akhirnya, kedua putingku terasa basah dan hangat.
Saat kubuka mataku, aku melihat Mbak Rani dan Nova sudah menempelkan bibirnya di kedua putingku. Dan tidak berapa lama, pahaku pun juga terasa basah. Rupanya Arya pun turut menempelkan bibirnya di tubuhku. Kembali aku memejamkan mataku agar dapat menikmati jilatan-jilatan di tubuhku sepenuhnya. Apalagi dengan posisiku yang telentang pasrah dengan kedua tangan dan kaki terikat. Tiba-tiba aku sedikit tersentak dan mengangkat pinggulku ketika jilatan-jilatan itu kurasakan mengumpul di bawah pusarku. Tepat di s*****kanganku.
"Aarrghh... aacchhh... hhooohh... sssttthh..!" eranganku.
Sejenak mataku kubuka kembali untuk melihat ketiga bibir yang tengah mempermainkan batang kemaluanku. Kulihat Mbak Rani dan Nova saling bergantian mengulum penisku. Sedangkan Arya sibuk mengulum dan melumat habis kedua biji telurku. Sesekali kuangkat pinggulku saat Mbak Rani atau Nova mengulum penisku. Mbar Rani ataupun Nova tahu apa yang kulakukan, mereka justru mengimbanginya dengan mempercepat kulumannya. Saat pantatku kuangkat, aku kembali menerima sensasi yang lain. Karena dengan kuangkat pantatku, Arya justru menggelitik lubang anusku dengan ujung lidahnya.
"Mbak... dilepas aja talinya, Mbak..." pintaku kepada Mbak Rani.
Mbak Rani yang mendengar kata-kataku bergerak naik perlahan sambil terus menjilati sekujur tubuhku. Saat wajah sayunya tepat berada di dadaku, ia mendongak ke atas, sambil tersenyum penuh rasa kemenangan.
"Pleeaaassse... tolloonngg.. mmmbb..." aku merajuknya kembali.
Belum selesai kata-kata yang keluar dari bibirku, bibir Mbak Rani sudah menerkam bibirku. Maka kubalas pula lumatan-lumatan bibirnya. Bibir kami saling memagut dan saling memilin. Mbak Rani pun menggeser tubuhnya ke atas tubuhku. Kurasakan dadaku yang tertindih dengan dada Mbak Rani.
Kekenyalan buah dadanya kurasakan lembut dan hangat di dadaku. Lalu ia menggeserkan pinggulnya ke arah Nova. Nova pun paham dengan kelakuan Mbak Rani itu. Ia segera menjulurkan lidahnya ke arah vagina Mbak Rani yang kembali becek itu. Sedangkan bibir Arya menggantikan bibir Nova untuk mengulum batang kemaluanku. Desahan-desahanku dan Mbak Rani pun hanya tertahan dalam pagutan-pagutan bibir kami. Sementara vagina Mbak Rani dijilati oleh Nova, batang kemaluanku pun dikulum rakus oleh Arya. Sesekali aku tersentak kembali saat lidah Arya bergerak turun ke arah anusku.
Tidak berapa lama Nova memberi pelumas di bibir vagina Mbak Rani dengan air liurnya, Mbak rani sudah tidak tahan lagi.
"Udaacchhh... Novv... masukin aja kontolnya... uddaacchhhsss... nggaaakkkgg... aahhaannn... nicchh..!"
Lalu Nova memegang batang kamaluanku dalam genggamannya dan menuntunnya ke arah vagina Mbak Rani. Dan bless.., kurasakan ada sesuatu yang hangat dan basah menyentuh setiap kulit di kemaluanku.
"Ooouucchh... yyaaacchh.... sshhttt..." terdengar erangan Mbak Rani saat penisku mulai memasuki lubang vaginanya.
Kulihat Mbak Rani hanya mendongakkan kepalanya sambil matanya merem melek sambil menggigit bibir bawahnya sendiri. Lalu perlahan dan pasti, ia naik turunkan pinggulnya dengan dibantu kedua tangan Nova yang membantu memeganginya. Aku pun secara refleks segera menaik-turunkan pinggulku.
"Lepasin talinya doong Mbak..." aku mencoba kembali meminta Mbak Rani saat bibir kami terlepas untuk sejenak menarik nafas.
Ketika kedua tangan Mbak Rani menuju ke arah tali yang mengikat, tiba-tiba Arya melarangnya.
"Nggak usah dilepas dulu, Mbak.. Punyaku juga nggak tahann nicchh..."
Aku terkejut mendengar kata-kata Arya itu. Dalam benakku, apa hubungannya tali yang mengikatku dengan 'punya'-nya Arya. Tapi belum sempat aku berpikir lama, kurasakan sesuatu yang kenyal, basah dan hangat menyentuh ujung kemaluanku.
"Yeaacchhh... terrruuusss... Jak... yang kerraasss..!" Mbak rani semakin meracau tidak karuan saat batang kemaluanku mengaduk-aduk dinding dalam vagina Mbak Rani.
"Konnttollmuuu... eennaacckkk... Jaakkk.."
Aku pun ikut-ikutan mengerang nikmat. Namun, di tengah-tengah kenikmatan yang kurasakan, aku sedikit tersentak dan kurasakan anusku sedikit perih.
"Aauuwww... ssaakkkiiitt... Aarrr..!" jeritku ketika kulihat Arya sudah bersimpuh di antara s*****kanganku.
Kedua kakinya ia selipkan di bawah pahaku. Sehingga secara otomatis, pinggulku agak terangkat ke atas. Saat itu, sejenak aku melupakan kenikmatan yang kudapat dari Mbak Rani. Saat itu aku hanya merasakan perih di lubang anusku. Saat kulihat tubuh Arya, ia tengah sibuk dan perlahan-lahan bergerak maju mundur. Rupanya pertanyaan yang tadi sempat terlintas dalam benakku, kini terjawab sudah. Ternyata Arya ingin bermain anal dengan anusku. Dan mungkin, dalam pikirannya, jika tali itu dilepas, aku pasti menolaknya. Mbak Rani pun sempat kaget ketika mendengar jeritanku. Sejenak ia menoleh ke belakang, dan hanya tersenyum. Lalu kembali merundukkan tubuhnya dan meyambar bibirku yang terbuka.
Jeritan-jeritanku pun akhirnya tertahan di mulut Mbak Rani. Kepalaku hanya bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri mendapat perlakuan seperti itu. Antara kenikmatan dari batang penisku yang dicengkeram kuat oleh dinding vagina Mbak Rani dan rasa perih akibat permainan anal dari Arya. Lama-lama kelamaan rasa perih itu berangsur-angsur berkurang, berbaur dengan rasa nikmat yang menjalar ke seluruh sendi tubuhku. Sedangkan Nova yang sedari tadi hanya membantu pinggul Mbak Rani saat bergerak naik turun, mulai ikut aktif dalam permaianan itu.
Nova segera mendaratkan ciumannya di bibir Arya. Lalu tangan kanannya pindah ke arah pangkal pahanya dan mulai mengocok-kocok vaginanya sendiri. Namun ternyata, Nova kurang puas dengan posisi seperti itu. Akhirnya Nova pun melepaskan ciumannya dan menarik tubuh Mbak Rani yang sudah tengkurap menindih tubuhku. Lalu langsung menyambar bibir Mbak Rani, sementara tangan kanannya tidak ia lepaskan dari vaginanya sendiri. Dengan tangan kanannya, Mbak Rani memeluk pinggang Nova. Nova pun menggeser tubuhnya agar bisa enjoy menikmati ciuman Mbak Rani.
"Novv... memeecckk... muu... ssiinnn... niii Noovvv..." aku nekat meminta vagina Nova untuk kujilati meski dengan kata-kata terputus menikmati permainan sehebat itu.
Lalu Nova menggeser pantatnya ke arah wajahku. Dan dalam kedua kaki Nova pun menyilang tepat di atas wajahku. Dan untuk pertama kalinya, aku menjilat-jilat vagina seorang perempuan. Agak asin dan licin saat cairan di bibir vagina Nova menempel di bibirku. Namun tidak berapa lama, aku langsung memiringkan wajahku dan menjerit keras saat kurasakan spermaku hendak muntah dari ujung penisku.
"Yyaanngghh.... kerraasss.... Mbaackkk... aackkuu... mmauuu... kellluuaarrrggghh..." dan saat itulah kuangkat pinggulku dengan keras hingga pantat Mbak Rani yang berada di atas pinggulku juga turut terangkat.
Hingga akhirnya, spermaku pun keluar ke dalam vagina Mbak Rani. Sedangkan Mbak Rani ikut mengimbangi gerakanku. Sejenak mereka bertiga diam dalam posisi masing-masing. Penis Arya yang sedang berada di dalam anusku pun kurasakan ikut berhenti sambil meremas-remas pantatku. Mbak Rani pun turut berhenti, meski tanpa melepaskan bibirnya dari bibr Nova. Sedangkan Nova kembali menggesek-gesekkan tangannya di vaginannya sendiri. Rupanya mereka bertiga memberi kesempatan kepadaku untuk menikmati klimaksnya sebuah orgasme.
Namun tidak berapa lama, kulihat Arya segera mengocok kemaluannya dengan frekuensi lebih cepat. Begitu juga dengan Mbak Rani yang semakin mempercepat gerakan naik turunnya pinggangnya. Mungkin khawatir, jika penisku mulai mengendur.
Hingga akhirnya, "Acckkuuu... keellluaarrr... Jaacckkk..."
Kurasakan cairan keluar dari vagina Mbak Rani meleleh dan memberikan efek hangat di batang kemaluanku yang masih tersimpan di dalam vagina Mbak Rani.
Mbak Rani lalu melepaskan jepitan vaginanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke arah batang kemaluanku. Penisku pun dilumat habis dalam mulut Mbak Rani. Seiring itu pula, Arya kulihat semakin mengejang dengan nafas agak tertahan. Dan saat ia benamkan seluruh batang kemaluannya dalam anusku, saat itulah kurasakan ada cairan hangat menyentuh dinding-dinding anusku. Arya pun mendapatkan puncak orgasmenya. Arya pun mencabut penisnya dari anusku, dan kemudian ikut menjilat-jilat batang kemaluanku, meski kurasakan batang penisku sudah mulai mengendur. Sedangkan Nova masih saja berkutat dengan jari-jari tangannya yang sibuk mengocok vaginanya sendiri.
"Mbak Rani, Arya.., tolongin akuu.. dong..." sambil melentangkan tubuhnya di sampingku dan membuka kedua kakinya.
Bibirnya pun diarahkan ke mulutku. Aku pun membalas ciuman bibir Nova. Sementara itu, Mbak Rani dan Arya sibuk menjilat-jilat vagina Nova. Setelah beberapa saat, Nova melepaskan ciumannya, dan, "Aaarrrccgghh..." Nova mengerang saat mencapai orgasmenya. Ia tersenyum puas ke arahku dan memberikan seulas senyum manis kepadaku.
"Gimana sayang..?" tanyanya menggodaku.
"Tadi malam, diajak single nggak mau.." sahut Mbak Rani yang menggeser tubuhnya naik sambil melepaskan tali di kedua tanganku.
Arya pun juga sudah melepaskan ikatan tali di kedua kakiku, lalu menyusul naik ke atas.
"Punya kamu masih sempit, Jak. Masih perawan ya..?" kata Arya sambil bergeser mendekatkan tubuhnya ke tubuhku.
Kini posisi kami berempat saling berhimpitan di atas sebuah ranjang, saling memeluk dan menyilangkan kaki. Aku hanya geleng-geleng kepala dengan peristiwa yang baru saja kualami.
"Kenapa sayang..?" tanya Mbak Rani melihat gelengan kepalaku.
Aku tersenyum mendengar pertanyaan itu. Mbak Rani, Nova dan Arya pun ikut tersenyum melihat tingkahku. Hingga akhirnya kami terlelap dalam tidur dengan masing-masing masih telanjang.
Itulah pengalaman pertamaku melakukan hubungan sex. Pengalaman yang hanya sekali itu kualami. Karena beberapa minggu setelah peristiwa itu, Arya pulang ke daerah asalnya di luar Jawa, karena kuliahnya sudah selesai. Sedangkan Nova, telah menikah. Meskipun katanya masih tinggal di kota ini, tapi aku tidak mendapatkan alamatnya yang jelas. Itu kuketahui saat aku kembali bertandang ke rumah Mbak Rani beberapa minggu kemudian. Sehingga, saat itu aku hanya bercinta dengan Mbak Rani. Single fighter, kata Mbak Rani.
Memang peristiwa itu hanya berlangsung beberapa saat, namun peristiwa itu pula yang telah merenggut keperjakaanku sekaligus 'keperawananku'. Hingga saat ini pun, terkadang aku masih ingin mengulangi pengalaman pertamaku itu. Meski sebenarnya, aku yakin jika suatu saat nanti, aku dapat mengulanginya kembali. Namun, hanya setumpuk pertanyaan yang ada di dalam benakku saat ingin kembali mengulanginya. Kapan, dimana dan dengan siapa?
TAMAT
Hotel Nikmat
Pada suatu pagi saya ditelepon oleh seorang kawan lama saya yang bernama Herry, yang baru datang dari Bandung untuk suatu keperluan. Kebetulan sekali saat itu saya tidak ada kuliah, sehingga dapat bebas pergi ke mana pun. Sesampainya di sana ternyata teman saya telah lama menunggu di kamarnya, dan saya pun masuk, tetapi tidak lama kemudian, Herry pamit kalau dia ada janji mau pergi ke kantor temannya di Jl. Rasuna Said dan saya pun menunggu di kamarnya sampai Herry pulang.
Ternyata menunggu merupakan suatu yang sangat menjengkelkan, tak terasa telah satu jam kupindah-pindahkan channel televisi dari CNN sampai STAR TV, tapi semua terasa membosankan, sehingga pada suatu ketika bel di kamar berbunyi, ting tong... ting tong, malas kubuka pintu. Terlihat sesosok tubuh wanita dengan tinggi kurang lebih 167 cm dengan rok span dan pakaian kerja, seksi dengan dada kupikir sekitar 36B.
"Permisi, mau bertemu Bapak Herry ada?" tanyanya.
"Mm.. oh Bapak Herry sedang pergi ke Jl. Rasuna Said, ada janji?" tanyaku.
"Ya... boleh saya menunggu?" tanyanya.
"Silakan", jawabku sambil mengajak dia masuk.
Wanita itu pun masuk dan duduk di sofa. Jam saat itu menunjukkan pukul 10 pagi.
"Mbak ini siapa ya?" tanyaku memberanikan diri.
"Saya Selly, utusan dari cabang Bandung yang menjemput Pak Herry ke mari", jawabnya.
"Ooo... perkenalkan saya Denny, teman Herry."
Selly memang sosok wanita ideal. Selain anggun, dia juga cantik, kalau dilihat mirip Drew Barrymore. Jam menunjukkan pukul 11.00, dan Herry belum pulang juga. Aku sudah gelisah juga, soalnya di kamar hotel begini bersama seorang wanita cantik. Perlahan-lahan kuberanikan untuk duduk di sebelah Selly.
"Mmm... gimana ya Mbak... kok belum datang juga Herry", kataku membuka kebisuan.
"Ah.. nggak apa kok, kan ada Mas Denny", jawabnya sambil memegang tanganku.
Wah lampu hijau nih pikirku. Gila juga nih orang, aku sempat grogi dipegang kayak gitu.
"Mau ke kamar kecil bentar ya Denn... di mana sih tempatnya?" tanyanya manja.
"Di situ tuh", kataku cuek.
"Nitip tasnya ya!" katanya lagi, dan Selly pun masuk ke kamar kecil.
"Awww... awww... tolong Den... ada kecoa..." jeritnya dari dalam kamar mandi.
Kupikir mana mungkin sih di hotel bintang lima macam begini ada kecoa. Tapi aku bangkit juga menuju kamar mandi. Baru sampai di depan pintu kamar mandi Selly sudah menarik tanganku.
"Masuk... sini..." katanya sambil menutup pintu. Kulihat Selly sudah melepaskan rok spannya, hanya tinggal CD sama baju saja. Dan dia pun langsung mencium mulutku. Aku yang belum siap mental malah menghindari ciumannya. "Mana kecoanya?" tanyaku pura-pura bodoh. Habis baru sekali ini sih aku dibegitukan oleh wanita.
"Ini nih masuk ke dalam celana", jawabnya cuek.
Dia terus berusaha menciumi mulutku, lama kelamaan aku terangsang juga. Gantian kuciumi juga mulutnya. Sekitar tiga menit acara pagut-memagut itu pun berlangsung. Kupraktekan cara mencium yang sering kulihat di film porno. Kemudian tanganku pun segera merambah bukit kembarnya dari celah-celah bajunya. Gila benar ini anak, ternyata dia tidak memakai BH. Langsung kumainkan bukit kembarnya dan kupelintir sedikit-sedikit putingnya. Terasa putingnya mengeras, kata orang sih tanda-tandanya sudah terangsang. "Awww... pelan-pelan dong Den", protesnya saat kupelintir putingnya. Terus kuciumi lehernya yang jenjang, Selly pun cuma mendesah, "Aah... hmmm... ahhh... Deenn..." langsung kubuka bajunya dan semakin terpampang jelas gundukan di dadanya yang menggairahkan. Kuciumi kedua bukit kembarnya dan kujilat-jilat putingnya, lagi-lagi dia bergumam, "Terus Den.... ahh.. ouchhh...." aku melanjutkan menciumi pusarnya, terus ke bawah pusarnya. Terpampang dengan jelas rambut tipis berbentuk segitiga di pangkal pahanya. Kujilati sepuas-puasnya.
Setelah itu dia kubimbing duduk di samping bathtub dan duduk di situ. Terus dia kusuruh membuka pahanya. Ooh, seperti ini toh liang kemaluan wanita. Soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat langsung yang asli. Langsung saja kulihat dari dekat. "Kok diliatin doang Denn... dijilatin donk", kata Selly. Aku diam saja, terus kusibakan bibir kemaluannya dan terlihat di situ daging yang menonjol. Barangkali ini yang disebut klitoris pikirku. Terus dengan iseng kupelintir daging itu pelan-pelan. "Ahh... ouhh... Denn.. ahh... terus Den... mainin klitorisku ahhh", wah benar juga pikirku. Terus perlahan kupegangi dalamnya, kok agak lembab dan basah. Wah rupanya Selly terangsang berat nih. Kulihat lebih dekat lagi, tiba-tiba saja tangan Selly membenamkan kepalaku ke dalam pangkal pahanya. "Jilatin dong Den.. ahhh.. ahhh.. jangan nakal, gitu dong... masa cuma diliatin aja", aku pun terus menjilati kedua bibir kemaluannya. Mmm... terus kujilati juga klitorisnya dan cairan yang ada di situ rasanya asin-asin nikmat dan baunya itu loh bikin batang kemaluanku semakin mengeras saja. Terus kujilati dengan ganas klitorisnya sambil kugigit sedikit. "Ahhh... Denn... ouchh... Denyy... akkhhh... akkuu.. akkh."
Terlihat cairan semakin deras saja yang keluar dan Selly semakin membenamkan kepalaku ke dalam kemaluannya. Wah rupanya Selly sudah klimaks nih, "Ahh... Denn ouchh... aku keluarr..." katanya. Kujilati semua cairan yang keluar dari kemaluan Selly. Terus dia pun berdiri dan menuju ke tempat tidur. Wah gila nih perempuan, masa aku dianggurin, pikirku. Aku terus mengikuti dia pergi ke tempat tidur. Rupanya dia duduk di samping tempat tidur. "Sini deh Den... gantian aku yang mainin kontolmu", katanya. Aku menurut saja dan aku rebahan di tempat tidur dengan kaki di lantai. Terus Selly mulai memainkan kemaluanku dari luar celana dalam. Dia jilati batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, terus dibukanya CD-ku pakai giginya. "Wah nih orang pasti kebanyakan lihat film-film gituan", pikirku. Setelah CD-ku lepas, gantian dia mainkan kantong kemaluanku, dia jilati ke atas dan ke bawah. Rasanya sungguh mengejutkan. Terus dia pegangi batangku dengan kedua tangannya dan dijilat-jilatin kepalanya sambil matanya melihat ke arahku. Langsung dia benamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan dikocok-kocok pakai mulutnya yang mungil. "Oohh... Selly... akhhh... uhhh", desahku merasakan nikmat di sekujur batangku. Sambil terus mengulum-ngulum batang kemaluanku, dia pun memijit-mijit buah kemaluanku, rasanya linu-linu nikmat.
Setelah berlangsung 5 menit, Selly pun mulai bosan dengan permainannya. "Den, kita main beneran yuk", katanya. Aku pun tanpa berpikir langsung menjawab dengan semangat 45, "Ayooo!" Selly langsung duduk di atas pahaku dan memegang batang kemaluanku sambil diarahkan ke dalam lubang kemaluannya. Blesss... seluruh batang kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya. Terasa lembab dan nikmat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. "Ahhh.. mmmm... uhh... aahh..." desah Selly sambil merem melek menikmati pergesekan batang kemaluanku dengan liang kemaluannya. Tak lupa tangannya pun ikut-ikutan memegangi kedua buah dadanya. "Ohh... Denny... akhhh... uhhh... yeahh... Dennyy... ahhh." Aku pun dengan reflek mengimbangi permainannya dengan menaik-turunkan batang kemaluanku, sehingga terdengar bunyi pluk... pluk... ketika batang kemaluan dan liang kemaluan berbenturan. "Ahhh... oughh... mmmhhh... ahhh..." desah Selly.
Selly pun makin menjadi-jadi, dia pun kemudian memegangi rambut kepalanya dan kurasakan gerakannya semakin liar, "Ahhh... uhhh... ahhh." Aku bantu merangsangnya dengan memegangi kedua payudaranya. Tak lama kemudian Selly pun menjerit, "Dennnyy.. ahh... ouhh.. akuu.. mau... keluar... ahhh..." Di kepala batang kemaluanku pun terasa ada aliran yang tak dapat dibendung lagi, "Kita keluar sama-sama Sell... ahh... ouhh..." Kurasakan cairan hangat menyemprot pada kepala batang kemaluanku dan menyebabkan kepala batang kemaluanku tak dapat menahan aliran yang deras dari dalam batang kemaluanku. "Ahh... aku keluarr... Selly", teriakku. "Akuu.. jugaa... Denny... akhh." Kemudian kami pun lemas dan tertidur sampai pukul 5 sore.
Sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel, tet... tet... wah gila nih, Herry pulang. Langsung saja kubangunkan, "Selly... Sell... Selly... bangun..." ternyata Selly tidur dengan nyenyaknya. Aku cuek saja soalnya susah kalau membangunkan orang yang tidur dengan berjuta kenikmatan. Akhirnya pintu hotel kubuka, ternyata wanita bule yang mengetuk pintu. "Excuse me... Is this Mr. John's Room, 513?" tanyanya. "Oh... No, I think... its beside this room", jawabku sekenanya dan wanita bule itu pun pergi ke kamar sebelah. Setelah dibel berkali-kali ternyata tidak ada orangnya. Dia pun pergi ke arahku lagi. "He is not in his room", katanya. "Bisa sa.. ya... tunggu di sini?" katanya. Wah bisa juga dia ngomong Indonesia, pikirku. "Oh... sure... tentu", kataku. "silakan masuk." Dia pun duduk di sofa. Karena kamar ini termasuk luas, sekitar 7x7 meter, maka Selly yang tertidur di springbed tak kelihatan.
"Anda dari mana?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Oh... I come from USA, Nevada", katanya.
"Oh... Las Vegas", kataku.
"Anda sudah menikah?" tanyaku lagi.
"Ya... saya... menikah 2 tahun lalu dan saya sudah cerai selama setahun", katanya lagi.
Wah kesepian juga nih cewek, pikirku. Kalau dilihat-lihat wanita ini tingginya sekitar 170-an, wajahnya mirip-mirip Dana Scully-nya X-File, usianya sekitar 30-an. Kalau dilihat bodinya sih mantap juga. Rambutnya sebahu, matanya biru, bibirnya, wah sensual sekali.
"Can I know your name?" tanyaku.
"Jessica", katanya sambil mengulurkan tangan.
"Denny", kataku.
"What is your job Denny?" tanyanya.
"I'm student", kataku.
"What major?" tanyanya.
"Informatics", kataku.
Wah bisa-bisa dua jam cuma nanya masalah sekolah nih pikirku. Harus dihentikan nih. Kuberanikan tanya soal lain. Sambil pindah duduk ke samping Jessica.
"Can I know something about life?" tanyaku.
"Yah... apa? please in Indonesian, cause I think you can not speak fluently in english", katanya.
Wah ketahuan deh modalku, pikirku.
"Ini agak pribadi, nggak apa-apa?" tanyaku.
"No problem, cause I think kamu orang baik-baik", katanya.
"Kalau udah cerai, gimana kamu memenuhi kebutuhan biologismu?" tanyaku.
"Maksud kamu seks?" tanyanya.
"Yes..." kataku mantap.
"Saya bisa main seks kapan saja, dan dimana saja dengan orang yang kusuka, that's menyebabkan my husband menceraikan saya."
Wah gila juga nih cewek pikirku.
"Kamu pernah main seks Denny?" tanyanya.
"No.." jawabku.
Dia pun tersenyum melihatku, terus lihat wanita tergolek di atas ranjang. Wah ketahuan deh kalau menipu.
"Siapa dia Denny?" tanyanya.
"She is my sister", jawabku sembarangan.
"Oh.. jadi kamu betulan belum pernah ya... mau belajar sama saya, Denny?" tanyanya.
"Wah mau sekali Jessy", kataku mantap.
"Sini Denny... kamu ke depanku.. apa your sister tidak marah kalau lihat kita Denny?" tanyanya.
"Nggak apa-apa Jessy", kataku sambil mendekat ke depannya. Terus dia membuka bajunya. "Sini Denny... kamu pegang dada saya", katanya. Terus kupegangi susunya yang ukurannya 36C.
"And cium bibirku Denny", katanya.
Aku tanpa dikomando langsung menciumi bibir Jessica. Langsung mulut kami beradu, kulumat bibir yang sensual itu dan lidah kami pun saling berbelit, "Ouchhh... mmm..." terus aku langsung turun ke lehernya yang jenjang dan dia pun mendesah, "Aahhh... mmm... ouchhh... sssh... Denn.. kamu membuat akuu... ahh...." Kulanjutkan ke susunya, kulumat kedua putingnya pakai mulut. "Ahhh... ouhhh... shh... Dennyy... oooo... kamu memang nakal baby, yeahhh... ahhh..." Terus kubuka rok spannya dan CD-nya, langsung kuturun ke pangkal pahanya. Kujilat habis kemaluannya dengan rakus. "Aahhh... stop Dennyyy... akan kuberikan gaya favoritku kepadamu", katanya. Padahal sudah basah liang kemaluannya. Sepertinya dia sudah terangsang berat. Langsung saja kulepaskan celana jeans-ku, dan kemudian Jesicca pun membantu melepaskan CD-ku sambil memegang batang kemaluanku yang 7 inchi.
"Kemaluan yang bagus", katanya sambil meremas batanganku yang sudah tegang berat. "Coba kamu duduk di kursi ini sayang", katanya. Aku pun duduk dan terus dia duduk di atas kedua pahaku. Wah asyik juga nih kayaknya. Terus dia memegang kemaluanku yang sudah tegang berat dan dia arahkan ke dalam lubang kemaluannya dan dia pun duduk di atasku, blesss... kemaluanku pun masuk ke dalam liang kemaluan Jesica. Dia lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun. "Ouchhh... yeahh... mmm... oohh... ohhh... ini seperti naik kuda saja, Denny", katanya. "Aakkhh... oukkkhh." Aku pun mengimbangi dengan menaik-turunkan pinggulku. "Mmm... akhhh... ssshhh... ukhhh... akh... Denyy... ukhh... yeajjhhh... yeahhh... oukhhh..." Tiba-tiba saja Jessica teriak-teriak tak keruan dan tak lama kemudian... "Dennyy... aku keluaaaarrr..." terasa panas cairan menyembur dari lubang kenikmatan Jessica dan tanpa kulepaskan masih saja kukocok lubang kemaluan Jessica dengan batang kemaluanku. "Yeah... ouchhh Dennyyyyy... tolong berhenti Denny... akhhh... ouchhh..." masih tetap saja kukocok. Malahan tambah kencang frekuensinya. "Tolong... hentikan sayang akkhh... akhh..." Tanggung nih pikirku. Tiba-tiba saja Jessica meronta dan karena sudah diambang klimaks. Begitu Jessica mencabut cengkeraman liang kemaluannya pada batang kemaluanku, langsung saja cairan sperma yang sudah di ujung kepala keluar semua. "Oouchh... baby..." langsung saja mulut Jesicca menyambar kepala kemaluanku dan dilumatnya habis cairan di kepala kemaluanku.
Tiba-tiba saja Selly terbangun, "Dennyy... Dennyy..." aku dan Jessica kaget bukan main. Untungnya aku bisa mengatasi keadaan yang sangat gawat ini.
"Ada apa sayang? enak ya tidurnya", kataku tanpa dosa. Untunglah Selly dapat memahami keadaan ini.
"Denn... siapa tuh?" tanyanya, dan Jessica pun masih dengan telanjang bulat mendekati Selly dan berjabat tangan.
"Jessica", katanya.
"I'm sorry... udah ganggu tidurmu ya?" kata Jessica.
Tanpa berkata apa-apa, Selly malah langsung menciumi Jessica. Wah nggak aku sangka, ternyata si Selly ini biseks dan Jessica mungkin karena terbawa oleh Selly juga mengikuti saja. Kedua wanita itu pun terhanyut dalam permainannya. Aku dari sofa cuma mangamati permainan mereka. Selly kemudian menciumi seluruh leher Jessica dan Jessica pun meraba pantat Selly. Kemudian Selly mencium dan menjilati buah dada Jessica. "Ohh... uchhh... ssshh", hanya kata itu yang mencuat dari mulut Jessica. Kemudian Selly pun turun ke perut Jessica dan kemudian menjilati dengan rakusnya. Tak lama kemudian Jessica rebah di atas spring bed dan kakinya diletakkan di lantai. Selly kemudian menciumi seluruh permukaan kemaluan Jessica mulai dari bibir-bibirnya. "Kamu memang pemain yang hebat sayang, mmmm... ukhh... sss..." kata Jessica. Selly pun mulai menjilat-jilat dan mengaduk isi kemaluan Jessica tanpa kompromi. Dengan lidahnya dia mulai merangsang seluruh syaraf yang ada di vagina Jessica dan dengan reflek pinggul Jessica pun bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengimbangi jilatan-jilatan yang menimpa pada pangkal pahanya.
"Aahh... uhhh... yess... ohss... babyy..." jerit Jessica saat Selly menjilati klitorisnya dan menggigit-gigit klitorisnya pelan-pelan. Tampak terlihat kemaluan Jessica bertambah basah saja. Tak lama kemudian mereka pun berhenti dan melihat ke arahku. "Wah gawat, bisa jadi pejantan buat mereka berdua nih", pikirku khawatir.
"Hey Denny... mau gabung?" tanya Selly sambil tersenyum nakal.
"Ah nggak... aku liat aja.... udah capek", jawabku.
Mereka pun melanjutkan aksinya. Sekarang kayaknya mereka mau 69. Eh tapi tunggu dulu, ternyata Jessica mengambil tas hitamnya di atas meja dan mengambil sesuatu. Oh ternyata dia bawa vibrator yang berbentuk batang kemaluan. "Hi... Selly... kamu akan lebih nikmat dengan alat ini", kata Jessy sambil memberi vibrator ke Selly.
Kemudian Jessica pun kembali duduk di sampingku. Terlihat Selly langsung menghidupkan vibrator tersebut dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya. "Aahhh... ohhh... ujhhh.... ssss..." jerit Selly kesenangan dengan mainan barunya. "Hai Jessy... mainan ini bener-bener dahsyat shhhhh... ohhh", katanya sambil merem-melek. Jessica pun tersenyum di sampingku sambil mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah tidur. "Lebih dahsyat pake ini..." sahut Jessica. Wah diperlakukan demikian tentu saja kemaluanku bangkit lagi.
"Mau lagi Denn?" tanya Jessy.
"Tidak!" jawabku.
"Sure?" katanya sambil mulutnya turun mendekati batang kemaluanku dan dia pun nmenjilat-jilat biji kemaluanku dari bawah ke atas. "Please relax Denny", aku pun sambil tiduran menikmati jilatannya. "Ahhh... ouckhh... shhh... aku hampir keluar Jessyyy..." jerit Selly saat dia mencapai orgasme dengan vibrator. Jessy pun sudah nggak menghiraukan jeritan Selly. Dia sudah asyik dengan kemaluanku dan dia mulai menjilati kepala kemaluanku dan memainkan lidahnya di ujungnya. Hal ini membuatku sangat geli dan nikmat. "Jessyy... ssshhh, uch..." dan Jessy pun mulai memasuk-keluarkan batang kemaluanku di kerongkongannya dan setelah 10 menit acara kulum batang kemaluan, aku pun menjerit, "Jessyy... aku mau keluaarrr..." dan air maniku pun bercucuran di muka Jessy. "Ah enak sekali", kata Jessy sambil tersenyum genit. Akhirnya kami bertiga pun tertidur. Sampai akhirnya sekitar pukul 6 pagi terbangun dan kami beriga kembali ke tempat masing-masing.
TAMAT
Ternyata menunggu merupakan suatu yang sangat menjengkelkan, tak terasa telah satu jam kupindah-pindahkan channel televisi dari CNN sampai STAR TV, tapi semua terasa membosankan, sehingga pada suatu ketika bel di kamar berbunyi, ting tong... ting tong, malas kubuka pintu. Terlihat sesosok tubuh wanita dengan tinggi kurang lebih 167 cm dengan rok span dan pakaian kerja, seksi dengan dada kupikir sekitar 36B.
"Permisi, mau bertemu Bapak Herry ada?" tanyanya.
"Mm.. oh Bapak Herry sedang pergi ke Jl. Rasuna Said, ada janji?" tanyaku.
"Ya... boleh saya menunggu?" tanyanya.
"Silakan", jawabku sambil mengajak dia masuk.
Wanita itu pun masuk dan duduk di sofa. Jam saat itu menunjukkan pukul 10 pagi.
"Mbak ini siapa ya?" tanyaku memberanikan diri.
"Saya Selly, utusan dari cabang Bandung yang menjemput Pak Herry ke mari", jawabnya.
"Ooo... perkenalkan saya Denny, teman Herry."
Selly memang sosok wanita ideal. Selain anggun, dia juga cantik, kalau dilihat mirip Drew Barrymore. Jam menunjukkan pukul 11.00, dan Herry belum pulang juga. Aku sudah gelisah juga, soalnya di kamar hotel begini bersama seorang wanita cantik. Perlahan-lahan kuberanikan untuk duduk di sebelah Selly.
"Mmm... gimana ya Mbak... kok belum datang juga Herry", kataku membuka kebisuan.
"Ah.. nggak apa kok, kan ada Mas Denny", jawabnya sambil memegang tanganku.
Wah lampu hijau nih pikirku. Gila juga nih orang, aku sempat grogi dipegang kayak gitu.
"Mau ke kamar kecil bentar ya Denn... di mana sih tempatnya?" tanyanya manja.
"Di situ tuh", kataku cuek.
"Nitip tasnya ya!" katanya lagi, dan Selly pun masuk ke kamar kecil.
"Awww... awww... tolong Den... ada kecoa..." jeritnya dari dalam kamar mandi.
Kupikir mana mungkin sih di hotel bintang lima macam begini ada kecoa. Tapi aku bangkit juga menuju kamar mandi. Baru sampai di depan pintu kamar mandi Selly sudah menarik tanganku.
"Masuk... sini..." katanya sambil menutup pintu. Kulihat Selly sudah melepaskan rok spannya, hanya tinggal CD sama baju saja. Dan dia pun langsung mencium mulutku. Aku yang belum siap mental malah menghindari ciumannya. "Mana kecoanya?" tanyaku pura-pura bodoh. Habis baru sekali ini sih aku dibegitukan oleh wanita.
"Ini nih masuk ke dalam celana", jawabnya cuek.
Dia terus berusaha menciumi mulutku, lama kelamaan aku terangsang juga. Gantian kuciumi juga mulutnya. Sekitar tiga menit acara pagut-memagut itu pun berlangsung. Kupraktekan cara mencium yang sering kulihat di film porno. Kemudian tanganku pun segera merambah bukit kembarnya dari celah-celah bajunya. Gila benar ini anak, ternyata dia tidak memakai BH. Langsung kumainkan bukit kembarnya dan kupelintir sedikit-sedikit putingnya. Terasa putingnya mengeras, kata orang sih tanda-tandanya sudah terangsang. "Awww... pelan-pelan dong Den", protesnya saat kupelintir putingnya. Terus kuciumi lehernya yang jenjang, Selly pun cuma mendesah, "Aah... hmmm... ahhh... Deenn..." langsung kubuka bajunya dan semakin terpampang jelas gundukan di dadanya yang menggairahkan. Kuciumi kedua bukit kembarnya dan kujilat-jilat putingnya, lagi-lagi dia bergumam, "Terus Den.... ahh.. ouchhh...." aku melanjutkan menciumi pusarnya, terus ke bawah pusarnya. Terpampang dengan jelas rambut tipis berbentuk segitiga di pangkal pahanya. Kujilati sepuas-puasnya.
Setelah itu dia kubimbing duduk di samping bathtub dan duduk di situ. Terus dia kusuruh membuka pahanya. Ooh, seperti ini toh liang kemaluan wanita. Soalnya seumur-umur baru kali ini aku melihat langsung yang asli. Langsung saja kulihat dari dekat. "Kok diliatin doang Denn... dijilatin donk", kata Selly. Aku diam saja, terus kusibakan bibir kemaluannya dan terlihat di situ daging yang menonjol. Barangkali ini yang disebut klitoris pikirku. Terus dengan iseng kupelintir daging itu pelan-pelan. "Ahh... ouhh... Denn.. ahh... terus Den... mainin klitorisku ahhh", wah benar juga pikirku. Terus perlahan kupegangi dalamnya, kok agak lembab dan basah. Wah rupanya Selly terangsang berat nih. Kulihat lebih dekat lagi, tiba-tiba saja tangan Selly membenamkan kepalaku ke dalam pangkal pahanya. "Jilatin dong Den.. ahhh.. ahhh.. jangan nakal, gitu dong... masa cuma diliatin aja", aku pun terus menjilati kedua bibir kemaluannya. Mmm... terus kujilati juga klitorisnya dan cairan yang ada di situ rasanya asin-asin nikmat dan baunya itu loh bikin batang kemaluanku semakin mengeras saja. Terus kujilati dengan ganas klitorisnya sambil kugigit sedikit. "Ahhh... Denn... ouchh... Denyy... akkhhh... akkuu.. akkh."
Terlihat cairan semakin deras saja yang keluar dan Selly semakin membenamkan kepalaku ke dalam kemaluannya. Wah rupanya Selly sudah klimaks nih, "Ahh... Denn ouchh... aku keluarr..." katanya. Kujilati semua cairan yang keluar dari kemaluan Selly. Terus dia pun berdiri dan menuju ke tempat tidur. Wah gila nih perempuan, masa aku dianggurin, pikirku. Aku terus mengikuti dia pergi ke tempat tidur. Rupanya dia duduk di samping tempat tidur. "Sini deh Den... gantian aku yang mainin kontolmu", katanya. Aku menurut saja dan aku rebahan di tempat tidur dengan kaki di lantai. Terus Selly mulai memainkan kemaluanku dari luar celana dalam. Dia jilati batang kemaluanku yang dari tadi sudah sangat tegang, terus dibukanya CD-ku pakai giginya. "Wah nih orang pasti kebanyakan lihat film-film gituan", pikirku. Setelah CD-ku lepas, gantian dia mainkan kantong kemaluanku, dia jilati ke atas dan ke bawah. Rasanya sungguh mengejutkan. Terus dia pegangi batangku dengan kedua tangannya dan dijilat-jilatin kepalanya sambil matanya melihat ke arahku. Langsung dia benamkan seluruh batang kemaluanku ke dalam mulutnya dan dikocok-kocok pakai mulutnya yang mungil. "Oohh... Selly... akhhh... uhhh", desahku merasakan nikmat di sekujur batangku. Sambil terus mengulum-ngulum batang kemaluanku, dia pun memijit-mijit buah kemaluanku, rasanya linu-linu nikmat.
Setelah berlangsung 5 menit, Selly pun mulai bosan dengan permainannya. "Den, kita main beneran yuk", katanya. Aku pun tanpa berpikir langsung menjawab dengan semangat 45, "Ayooo!" Selly langsung duduk di atas pahaku dan memegang batang kemaluanku sambil diarahkan ke dalam lubang kemaluannya. Blesss... seluruh batang kemaluanku masuk ke dalam liang kemaluannya. Terasa lembab dan nikmat tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. "Ahhh.. mmmm... uhh... aahh..." desah Selly sambil merem melek menikmati pergesekan batang kemaluanku dengan liang kemaluannya. Tak lupa tangannya pun ikut-ikutan memegangi kedua buah dadanya. "Ohh... Denny... akhhh... uhhh... yeahh... Dennyy... ahhh." Aku pun dengan reflek mengimbangi permainannya dengan menaik-turunkan batang kemaluanku, sehingga terdengar bunyi pluk... pluk... ketika batang kemaluan dan liang kemaluan berbenturan. "Ahhh... oughh... mmmhhh... ahhh..." desah Selly.
Selly pun makin menjadi-jadi, dia pun kemudian memegangi rambut kepalanya dan kurasakan gerakannya semakin liar, "Ahhh... uhhh... ahhh." Aku bantu merangsangnya dengan memegangi kedua payudaranya. Tak lama kemudian Selly pun menjerit, "Dennnyy.. ahh... ouhh.. akuu.. mau... keluar... ahhh..." Di kepala batang kemaluanku pun terasa ada aliran yang tak dapat dibendung lagi, "Kita keluar sama-sama Sell... ahh... ouhh..." Kurasakan cairan hangat menyemprot pada kepala batang kemaluanku dan menyebabkan kepala batang kemaluanku tak dapat menahan aliran yang deras dari dalam batang kemaluanku. "Ahh... aku keluarr... Selly", teriakku. "Akuu.. jugaa... Denny... akhh." Kemudian kami pun lemas dan tertidur sampai pukul 5 sore.
Sampai tiba-tiba terdengar bunyi bel, tet... tet... wah gila nih, Herry pulang. Langsung saja kubangunkan, "Selly... Sell... Selly... bangun..." ternyata Selly tidur dengan nyenyaknya. Aku cuek saja soalnya susah kalau membangunkan orang yang tidur dengan berjuta kenikmatan. Akhirnya pintu hotel kubuka, ternyata wanita bule yang mengetuk pintu. "Excuse me... Is this Mr. John's Room, 513?" tanyanya. "Oh... No, I think... its beside this room", jawabku sekenanya dan wanita bule itu pun pergi ke kamar sebelah. Setelah dibel berkali-kali ternyata tidak ada orangnya. Dia pun pergi ke arahku lagi. "He is not in his room", katanya. "Bisa sa.. ya... tunggu di sini?" katanya. Wah bisa juga dia ngomong Indonesia, pikirku. "Oh... sure... tentu", kataku. "silakan masuk." Dia pun duduk di sofa. Karena kamar ini termasuk luas, sekitar 7x7 meter, maka Selly yang tertidur di springbed tak kelihatan.
"Anda dari mana?" tanyaku membuka pembicaraan.
"Oh... I come from USA, Nevada", katanya.
"Oh... Las Vegas", kataku.
"Anda sudah menikah?" tanyaku lagi.
"Ya... saya... menikah 2 tahun lalu dan saya sudah cerai selama setahun", katanya lagi.
Wah kesepian juga nih cewek, pikirku. Kalau dilihat-lihat wanita ini tingginya sekitar 170-an, wajahnya mirip-mirip Dana Scully-nya X-File, usianya sekitar 30-an. Kalau dilihat bodinya sih mantap juga. Rambutnya sebahu, matanya biru, bibirnya, wah sensual sekali.
"Can I know your name?" tanyaku.
"Jessica", katanya sambil mengulurkan tangan.
"Denny", kataku.
"What is your job Denny?" tanyanya.
"I'm student", kataku.
"What major?" tanyanya.
"Informatics", kataku.
Wah bisa-bisa dua jam cuma nanya masalah sekolah nih pikirku. Harus dihentikan nih. Kuberanikan tanya soal lain. Sambil pindah duduk ke samping Jessica.
"Can I know something about life?" tanyaku.
"Yah... apa? please in Indonesian, cause I think you can not speak fluently in english", katanya.
Wah ketahuan deh modalku, pikirku.
"Ini agak pribadi, nggak apa-apa?" tanyaku.
"No problem, cause I think kamu orang baik-baik", katanya.
"Kalau udah cerai, gimana kamu memenuhi kebutuhan biologismu?" tanyaku.
"Maksud kamu seks?" tanyanya.
"Yes..." kataku mantap.
"Saya bisa main seks kapan saja, dan dimana saja dengan orang yang kusuka, that's menyebabkan my husband menceraikan saya."
Wah gila juga nih cewek pikirku.
"Kamu pernah main seks Denny?" tanyanya.
"No.." jawabku.
Dia pun tersenyum melihatku, terus lihat wanita tergolek di atas ranjang. Wah ketahuan deh kalau menipu.
"Siapa dia Denny?" tanyanya.
"She is my sister", jawabku sembarangan.
"Oh.. jadi kamu betulan belum pernah ya... mau belajar sama saya, Denny?" tanyanya.
"Wah mau sekali Jessy", kataku mantap.
"Sini Denny... kamu ke depanku.. apa your sister tidak marah kalau lihat kita Denny?" tanyanya.
"Nggak apa-apa Jessy", kataku sambil mendekat ke depannya. Terus dia membuka bajunya. "Sini Denny... kamu pegang dada saya", katanya. Terus kupegangi susunya yang ukurannya 36C.
"And cium bibirku Denny", katanya.
Aku tanpa dikomando langsung menciumi bibir Jessica. Langsung mulut kami beradu, kulumat bibir yang sensual itu dan lidah kami pun saling berbelit, "Ouchhh... mmm..." terus aku langsung turun ke lehernya yang jenjang dan dia pun mendesah, "Aahhh... mmm... ouchhh... sssh... Denn.. kamu membuat akuu... ahh...." Kulanjutkan ke susunya, kulumat kedua putingnya pakai mulut. "Ahhh... ouhhh... shh... Dennyy... oooo... kamu memang nakal baby, yeahhh... ahhh..." Terus kubuka rok spannya dan CD-nya, langsung kuturun ke pangkal pahanya. Kujilat habis kemaluannya dengan rakus. "Aahhh... stop Dennyyy... akan kuberikan gaya favoritku kepadamu", katanya. Padahal sudah basah liang kemaluannya. Sepertinya dia sudah terangsang berat. Langsung saja kulepaskan celana jeans-ku, dan kemudian Jesicca pun membantu melepaskan CD-ku sambil memegang batang kemaluanku yang 7 inchi.
"Kemaluan yang bagus", katanya sambil meremas batanganku yang sudah tegang berat. "Coba kamu duduk di kursi ini sayang", katanya. Aku pun duduk dan terus dia duduk di atas kedua pahaku. Wah asyik juga nih kayaknya. Terus dia memegang kemaluanku yang sudah tegang berat dan dia arahkan ke dalam lubang kemaluannya dan dia pun duduk di atasku, blesss... kemaluanku pun masuk ke dalam liang kemaluan Jesica. Dia lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya naik turun. "Ouchhh... yeahh... mmm... oohh... ohhh... ini seperti naik kuda saja, Denny", katanya. "Aakkhh... oukkkhh." Aku pun mengimbangi dengan menaik-turunkan pinggulku. "Mmm... akhhh... ssshhh... ukhhh... akh... Denyy... ukhh... yeajjhhh... yeahhh... oukhhh..." Tiba-tiba saja Jessica teriak-teriak tak keruan dan tak lama kemudian... "Dennyy... aku keluaaaarrr..." terasa panas cairan menyembur dari lubang kenikmatan Jessica dan tanpa kulepaskan masih saja kukocok lubang kemaluan Jessica dengan batang kemaluanku. "Yeah... ouchhh Dennyyyyy... tolong berhenti Denny... akhhh... ouchhh..." masih tetap saja kukocok. Malahan tambah kencang frekuensinya. "Tolong... hentikan sayang akkhh... akhh..." Tanggung nih pikirku. Tiba-tiba saja Jessica meronta dan karena sudah diambang klimaks. Begitu Jessica mencabut cengkeraman liang kemaluannya pada batang kemaluanku, langsung saja cairan sperma yang sudah di ujung kepala keluar semua. "Oouchh... baby..." langsung saja mulut Jesicca menyambar kepala kemaluanku dan dilumatnya habis cairan di kepala kemaluanku.
Tiba-tiba saja Selly terbangun, "Dennyy... Dennyy..." aku dan Jessica kaget bukan main. Untungnya aku bisa mengatasi keadaan yang sangat gawat ini.
"Ada apa sayang? enak ya tidurnya", kataku tanpa dosa. Untunglah Selly dapat memahami keadaan ini.
"Denn... siapa tuh?" tanyanya, dan Jessica pun masih dengan telanjang bulat mendekati Selly dan berjabat tangan.
"Jessica", katanya.
"I'm sorry... udah ganggu tidurmu ya?" kata Jessica.
Tanpa berkata apa-apa, Selly malah langsung menciumi Jessica. Wah nggak aku sangka, ternyata si Selly ini biseks dan Jessica mungkin karena terbawa oleh Selly juga mengikuti saja. Kedua wanita itu pun terhanyut dalam permainannya. Aku dari sofa cuma mangamati permainan mereka. Selly kemudian menciumi seluruh leher Jessica dan Jessica pun meraba pantat Selly. Kemudian Selly mencium dan menjilati buah dada Jessica. "Ohh... uchhh... ssshh", hanya kata itu yang mencuat dari mulut Jessica. Kemudian Selly pun turun ke perut Jessica dan kemudian menjilati dengan rakusnya. Tak lama kemudian Jessica rebah di atas spring bed dan kakinya diletakkan di lantai. Selly kemudian menciumi seluruh permukaan kemaluan Jessica mulai dari bibir-bibirnya. "Kamu memang pemain yang hebat sayang, mmmm... ukhh... sss..." kata Jessica. Selly pun mulai menjilat-jilat dan mengaduk isi kemaluan Jessica tanpa kompromi. Dengan lidahnya dia mulai merangsang seluruh syaraf yang ada di vagina Jessica dan dengan reflek pinggul Jessica pun bergerak-gerak ke atas dan ke bawah mengimbangi jilatan-jilatan yang menimpa pada pangkal pahanya.
"Aahh... uhhh... yess... ohss... babyy..." jerit Jessica saat Selly menjilati klitorisnya dan menggigit-gigit klitorisnya pelan-pelan. Tampak terlihat kemaluan Jessica bertambah basah saja. Tak lama kemudian mereka pun berhenti dan melihat ke arahku. "Wah gawat, bisa jadi pejantan buat mereka berdua nih", pikirku khawatir.
"Hey Denny... mau gabung?" tanya Selly sambil tersenyum nakal.
"Ah nggak... aku liat aja.... udah capek", jawabku.
Mereka pun melanjutkan aksinya. Sekarang kayaknya mereka mau 69. Eh tapi tunggu dulu, ternyata Jessica mengambil tas hitamnya di atas meja dan mengambil sesuatu. Oh ternyata dia bawa vibrator yang berbentuk batang kemaluan. "Hi... Selly... kamu akan lebih nikmat dengan alat ini", kata Jessy sambil memberi vibrator ke Selly.
Kemudian Jessica pun kembali duduk di sampingku. Terlihat Selly langsung menghidupkan vibrator tersebut dan memasukkannya ke dalam liang vaginanya. "Aahhh... ohhh... ujhhh.... ssss..." jerit Selly kesenangan dengan mainan barunya. "Hai Jessy... mainan ini bener-bener dahsyat shhhhh... ohhh", katanya sambil merem-melek. Jessica pun tersenyum di sampingku sambil mengelus-elus batang kemaluanku yang sudah tidur. "Lebih dahsyat pake ini..." sahut Jessica. Wah diperlakukan demikian tentu saja kemaluanku bangkit lagi.
"Mau lagi Denn?" tanya Jessy.
"Tidak!" jawabku.
"Sure?" katanya sambil mulutnya turun mendekati batang kemaluanku dan dia pun nmenjilat-jilat biji kemaluanku dari bawah ke atas. "Please relax Denny", aku pun sambil tiduran menikmati jilatannya. "Ahhh... ouckhh... shhh... aku hampir keluar Jessyyy..." jerit Selly saat dia mencapai orgasme dengan vibrator. Jessy pun sudah nggak menghiraukan jeritan Selly. Dia sudah asyik dengan kemaluanku dan dia mulai menjilati kepala kemaluanku dan memainkan lidahnya di ujungnya. Hal ini membuatku sangat geli dan nikmat. "Jessyy... ssshhh, uch..." dan Jessy pun mulai memasuk-keluarkan batang kemaluanku di kerongkongannya dan setelah 10 menit acara kulum batang kemaluan, aku pun menjerit, "Jessyy... aku mau keluaarrr..." dan air maniku pun bercucuran di muka Jessy. "Ah enak sekali", kata Jessy sambil tersenyum genit. Akhirnya kami bertiga pun tertidur. Sampai akhirnya sekitar pukul 6 pagi terbangun dan kami beriga kembali ke tempat masing-masing.
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)