Jumat, 04 Januari 2013

Medical Check Up

Ringkasan ini tidak tersedia. Harap klik di sini untuk melihat postingan.

Bonus Asik Warnet

Namaku Rio, seorang dokter di sebuah rumah sakit di Jakarta Selatan, kisah yang akan kuceritakan ini terjadi saat aku masih bertunangan dengan istriku sekarang ini, dan terjadi berawal dari hal yang sama sekali tidak terduga sedikitpun olehku.

Bulan February 2001 lalu aku mengantarkan kawanku Rudy ke bengkel Toyota di jalan ***(edited) Jakarta. Saat tiba di bengkel, sudah banyak mobil yang antri menunggu giliran.
Rudy tersenyum kepadaku dan bilang, "Sorry Yo.., kayaknya loe musti nungguin lama juga nih.."
Brengsek juga nih pikirku, biar tidak bosan, aku pergi ke warnet di dekat situ, persisnya di sebelah Soto Kudus, persis depan Danar Hadi.

Aku masuk, disambut oleh seorang cewek yang ternyata adalah yang bertugas menjaga warnet tersebut. Mulanya aku tidak begitu memperhatikannya, berhubung hatiku lagi kesal sekali sama ulah si Rudy tadi. Tapi ketika aku mulai meng-klik mouse dan sedang menunggu connect-nya internet, baru aku perhatikan bahwa cewek penjaga ini punya wajah cukup lumayan dan body yang oke juga. Terus terang, saat itu juga aku terpikat oleh penampilannya, aku jatuh hati pada "the way she look".

Aku sibuk berpikir dalam hati, bagaimana cara aku berkenalan dengannya? Tapi mungkin memang takdir cara itu datang dengan sendirinya, cewek itu tidak lama kemudian membuka juga internet dan dia duduk persis di belakangku, jadi posisi kami saling memunggungi satu sama lain. Aku sempat menoleh ke belakang, dan kulihat dia membuka situs "mIRC".
"Kayaknya dia mau chatting nih..," pikirku.
Ternyata benar, dia mau chatting, dan aku sempat melihat kalau dia pake "nick" yanthie. Langsung saja aku masuk ke "mIRC" juga, aku call dia, eeh dia nge-reply.

Kami berkenalan, dan selama chatting itu dia sama sekali tidak sadar kalau Rio yang sedang ngobrol dengannya adalah cowok yang duduk tepat di belakangnya, hihihihi. Pas sejam aku selesai, aku bayar, aku pancing obrolan dengannya, aku tahu sekarang namanya "Yanti", tepatnya "Iryanti". Tampangnya benar-benar membuat aku bergairah.

Aku lalu keluar, pergi ke bengkel menemui si Rudy, mobilnya sedang dikerjakan. Aku pergi ke telepon kartu di bengkel itu, kutelepon penerangan "108". Kutanyakan nomer telepon warnet itu, setelah kudapat langsung kutelepon, dan aku minta bicara dengan Yanti.

"Siapa nih..?" suara Yanti di seberang sana.
"Ini Rio, boleh saya kenal kamu..?" jawabku.
"Boleh aja, tapi kamu dapat nomer ini darimana..?" tanya Yanti lagi.
"Saya yang pernah main di warnet kamu..," jawabku.
Dan Oh My God..! Tahu tidak Yanti bilang apa..?
"Kamu yang tadi chatting di belakang saya khan..?" katanya.
Mati aku, dia sudah tahu rupanya. Terlanjur malu aku mengaku saja, kalau itu benar aku, dan aku terpesona oleh penampilan dia, tapi aku malu untuk menegur disana, jadi aku pakai cara ini saja.

Yanti tertawa, enak deh suaranya, kuberanikan saja ingin menjemput dia, mau atau tidak. Katanya dia sore ini tidak bisa, karena cowoknya (yang akhirnya kuketahui namanya Joe) menjemput dia.
"Gimana kalau besok lusa aja..?" katanya.
"Oke aja.." kataku.

Jadilah lusanya aku tidak praktek, jam 17.00 tepat aku sudah sampai di warnet Yanti. Kami terus jalan deh. Di jalan, dasar pikiran nakalku sudah di ubun-ubun, aku tanya sudah berapa lama Yanti pacaran sama Joe, berapa kali pacaran, terakhir aku juga mengaku sudah punya cewek, terus aku tanya mau tidak Yanti jadi cewekku? Yanti kaget.
"Jadi Yanti ngeduain Joe donk Yo..?" tanyanya.
"Iya sama Rio juga ngeduain cewek Rio.." jawabku sekenanya.
"Nakal kamu Yo.." kata Yanti sambil mencubit lenganku.
"Naaah.., kena nih cewek..!" pikirku.

Kutangkap tangannya, kupegang kuat, kuhentikan mobilku di depan sebuah bangunan sepi dekat Pasaraya Manggarai, kutarik Yanti ke arahku, kucium bibirnya, Yanti mendorong tubuhku.
"Hhhmmmhh malu-malu kucing nih.." pikirku.
Terus kutarik tubuhnya sambil mengeluarkan kata-kata gombalku. Lama kelamaan Yanti tidak menolak lagi, dibalasnya ciumanku, dijulurkannya lidahnya, digigitnya bibirku, kusedot lidahnya, nikmat sekali, urat syarafku terangsang. Kuraba pahanya, terus ke s*****kangannya, Yanti mendesah.

"Jangan Rio.." desahnya.
Aku berhenti, kuhidupkan mesin mobil, kuarahkan mobil ke hotel ***(edited) di jalan ***(edited) Jakarta Pusat, aku langsung parkir.
"Mau ngapain kita kesini Yo..?" tanya Yanti.
Aku tidak menjawab, kusuruh dia menunggu di mobil, aku masuk ke dalam, aku check in di kamar 104.

Setelah diantar ke kamar, kuhidupkan AC, lalu aku ke mobil.
"Yan, turun yuuk..!" kataku.
"Nggak mau ah, mau ngapain sih Rio..?" kata Yanti.
Lagi-lagi kukeluarkan jurus mautku, sampai akhirnya Yanti mau juga ikut masuk ke kamar. Di dalam kamar kubuka celana panjangku. Dengan hanya pakai handuk aku ke kamar mandi, saat aku keluar kulihat Yanti sedang nonton TV.

"Film apa sih Yan..?" tanyaku sambil duduk di sebelahnya.
"Sinetron..," jawab Yanti pendek.
Kupandangi wajahnya, Yanti jengah juga dan bilang, "Ngapain sih ngeliatin gitu Yo..?"
"Kamu cantik.." rayuku.
"Rio pengen ciuman kayak tadi deh.." kataku.
Kutarik tubuhnya, Yanti diam saja, kuangkat dagunya, kupandangi lekat-lekat matanya, kucium lembut bibirnya, Yanti memejamkan matanya. Dibalasnya ciumanku, kujulurkan lidahku, Yanti membalasnya, kuhisap, Yanti membalasnya. Pikiranku benar-benar sudah dikuasai gairah memuncak, kuciumi lehernya, kujilati sepuasku.
"Aaacchh.., Riooo..." desahan Yanti membuatku tambah bernafsu.
Aku berdiri di samping tempat tidur sambil tidak lepas memandang wajahnya sedikitpun.

Kubuka bajuku, handuk, terakhir celana dalamku, sengaja tidak kupadamkan lampu, penisku langsung "tegak-melompat" keluar "sarangnya". Kulihat Yanti terkesima, kuhampiri dia, kuraih tangannya, kuletakkan di atas penisku, kusuruh dia melakukan gerakan "mengocok".
"Aaahhh nikmat sekali.." desahku.

15 menit Yanti melakukan itu, kulepaskan tangannya dari penisku, kutarik wajahnya, kuarahkan ke penisku. Mula-mula Yanti menolak, dengan sedikit paksaan mau juga dia. Masuklah penisku dalam mulut mungilnya. Digerakkannya maju-mundur berulang kali sampai basah kuyup penisku oleh ludahnya, kurasakan spermaku mau keluar, kutarik rambutnya.
"Stop Yanti..!" kataku.

Kini kubaringkan dia, kutelanjangi Yanti sampai sehelai benang pun tidak ada lagi di tubuhnya. Kupandangi tubuhnya, tampak di perut kirinya ada tahi lalat cukup besar. Kucium bibirnya, dagunya, turun ke lehernya, dadanya, perutnya, kuhisap pusar dan tahi lalatnya, Yanti menggelinjang geli. Kuteruskan ke s*****kangannya, kumasukkan jari tengahku sambil aku terus mencium s*****kangannya.

"Aaaccchhh Riiiooo niiikkkmaaatnyaaa sayaaanggg..." desah Yanti.
Yanti mengangkat pantatnya setinggi-tingginya, kurasakan basah vaginanya. Yanti telah orgasme rupanya. Kini aku menaiki tubuh Yanti, penisku pun sudah amat berdenyut mendambakan pelampiasan pula. Kuarahkan penisku ke vagina Yanti, kuturunkan perlahan pinggulku, tidak sedetikpun kulepaskan pandanganku dari mata Yanti. Kulihat Yanti menggigit bibirnya.
"Sakiiittt Riiiooo..." desahnya.
Kuhentikan sejenak, lalu kuteruskan lagi, Yanti mendesis lagi. Kulihat butiran air mata di sisi matanya.

"Sakit saayyyaangg..?" tanyaku.
"Iyyaaa Riiiooo, punya kamu besar sekali.." jawab Yanti meracau.
"Mana besar sama punya Joe..?" tanyaku.
"Besar punya kamu Riooo... sakit saaayyyaangghhh, perrriiihhh, tapiii niiikmaaatthh sekaliii.." rintih Yanti.
Akhirnya masuk semua penisku ke dalam vaginanya. Kutarik maju mundur, akibatnya sungguh luar biasa, Yanti menggeram, kedua kakinya menjepit pinggangku sekuatnya, giginya ditanamkan di bahuku, kurasakan pedih. Waaaahhh berdarah nih... Yanti orgasme kedua kalinya.

Kini kuganti posisiku, Yanti kusuruh menungging, dan dengan nafsu memuncak kutusukkan penisku ke anusnya, kurasakan otot "spchincter ani"-nya mencengkram erat penisku. Kugerakkan masuk-keluar penisku, kugenggam payudaranya, Yanti menggenggam tepi tempat tidur.
"Riiooo... saaayyyaanngghh... ciiintaaa... eeennnaaakkhhh... Riioooo.. Rioooo... nikmaaatthh sayaaaanggghh... terrruuussshhh cinnntaaaa..." erang Yanti terus menerus.
Aku benar-benar nikmat, "Yaaanntiii kuhamili kamuuuu... badan kamuuu enak bangeeettthh.." erangku juga.

10 menit kemudian aku tidak tahan lagi, penisku berdenyut kuat, kucengkram erat pinggul Yanti, kusemburkan sperma hangatku dalam vagina Yanti.
"Aaacchhh nikmat sekali..." desahku di telinganya.
Kami pun terkulai lemas.

Setelah itu beberapa kali kami mengulanginya di hotel "xxx" dekat kantor Yanti. Sekarang Yanti telah menikah dengan Joe. Kami masih berhubungan lewat telepon. Semoga kamu baca kisah kita ini Yanti. Rio sayang kamu selalu.

Mainan Pembawa Nikmat

Jam 18.30 aku dan Linda sudah meluncur di jalan. Ia menunjuk sebuah Mall, maka ke sanalah mobilku kuarahkan. Dari keterangan Linda pula aku tahu nanti mesti menuju ke salah satu sudut cafe terbuka di Mall tersebut. Di sana, menurut Linda pula, kita tinggal menjatuhkan apa saja; bisa sapu tangan, korek api, atau barang belanjaan. Setelah itu akan ada laki-laki yang berlagak mengambilkan barang yang jatuh itu. Kalau kita suka pada laki-laki itu tinggal bilang "OK" tapi kalau tidak suka tinggal bilang "Thanx."

"Kalau OK, mainan itu akan langsung nguntit kita, hi, hi, hi..," jelas Linda sambil cekikikan.
Aku pun menyambutnya dengan tertawa dan masih ada perasaan-perasaan tegang.
"Kamu bilang mainan?" tanyaku.
"Ya, kita semua di tempat fitness menyebutnya mainan, mainan pembawa nikmat, hi, hi, hi..," kata Linda lagi masih ditutup dengan tawa.

Untung lalulintas tak begitu padat hingga tepat jam 19.00 kami sudah tiba di sana. Cafe yang disebut Linda ternyata hanya warung terbuka biasa yang menjual aneka minuman dan makanan ringan. Tampak di sana sejumlah anak muda laki-laki dan perempuan.

"Yang cewek nyari cowok, yang cowok nunggu panggilan cewek," bisik Linda, dilanjutkan aksinya menjatuhkan saputangan tanpa menghentikan langkah melewati cafe tersebut. Aku pun tak mau ketinggalan menjatuhkan kaca mata gelapku. Betul saja tidak lama kemudian ada dua anak muda menghampiri dan mengembalikan barang-barang tersebut. Aku pandangan si pembawa kacamataku, seperti terkena sihir mulutku otomatis mengatakan "OK," demikian pula Linda yang mungkin merasa cocok dengan anak yang menghampirinya. Tanpa basa-basi lagi kami memutuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.

Setibanya kembali di tempat parkir, dua anak muda itu masing-masing mengenalkan diri.
"Ronny," kata pasangan Linda sambil mengecup pipi Linda kemudian menjabat tanganku. Linda pun membisikan namanya.
"Alvin," kata pasanganku sambil mengecup dan menggandeng pinggangku.
"Oh," hatiku terasa melayang meski hanya digandeng begitu saja.
Kemudian kubisikan pula namaku. Suasana yang lama hilang serasa kembali lagi. Segera pula kurugoh tas kecilku untuk mengambil kunci mobil.
Begitu hendak membuka pintu mobilku, Alvin merebutnya sambil berbisik, "Biar Ronny saja yang nyetir, kita di belakang."
Aku langsung mengangguk menyetujuinya.

Kami meluncur ke arah utara kota. Baru saja beberapa ratus meter meninggalkan halaman Mall, tangan Alvin sudah mulai beraksi. Ia mengusap-usap leherku, kemudian mendekat dan menciuminya dari samping. Tak ayal aku menggelinjang. Ciuman Alvin menjalar ke kuping, terus melaju, dan akhirnya mendarat di bibirku. Mendapat serangan yang sudah lama kurindukan, kontan kubuka bibirku langsung menyambut juluran lidah Alvin. Kami pun berpagutan cukup lama. Dari sudut mataku kulihat Linda pun merapat, terlihat gerakan tangannya menghampiri celana Ronny. Sejenak tampak Ronny mengangkat badannya, rupanya ia memberi ruang pada Linda untuk membuka resleting celananya dan mengeluarkan kemaluannya.

"Ehmm.. lumayan besar," demikian terdengar suara Linda, tapi tak kulihat lagi kepalanya karena sudah merunduk tenggelam di pangkuan Ronny yang sedang menyetir. Selanjutnya hanya kudengar suara kecupan dan kuluman mulut Linda yang rupanya sedang melakukan oral di kontol Ronny.

Aku sendiri mulai sibuk, lidah kami saling melilit dalam ciuman yang sangat hot. Alvin mulai meraba-raba pahaku, kemudian naik hingga sampai di bagian "V" celana dalamku. Aku bergeser memberikan ruang bagi tangannya agar bisa tepat di celah belahan memekku. Sementara tanganku pun mulai berani merayap tepat di atas sebentuk benda tegang di balik celananya. Kuelus-elus benda hangat yang berada di balik celana itu, dengan jari telunjuk dan jempol kujelajahi sepanjang batangnya. Aku punya kesimpulan kontol Alvin relatif besar, dari pengalamanku pula aku yakin saat itu belum mengeras sepenuhnya.
"Kalau sudah ngaceng sepenuhnya tentu besar sekali," begitu pikirku.

Alvin masih mengelus-elus celah memekku dari luar dengan jari tengahnya. Aku yakin celana dalamku jadi basah karenanya. Sementara itu mobilku terus melaju di tengah keramaian kota. Untung seluruh kaca mobilku berlapis pelindung cukup gelap. Kami bisa melihat ke luar tapi orang-orang di luar tak pernah tahu apa yang kami perbuat. Ada juga perasaan aneh ketika melakukan itu semua di tengah keramaian, tapi yang jelas nafsuku menjadi lebih bergelora hingga pagutanku di mulut Alvin kian ganas. Apalagi ketika mobil berhenti di lampu merah, aku malah membayangkan orang-orang di mobil di kiri-kanan kami sedang menyaksikan adegan-adegan hot ini. Begitu pula ketika ada orang lewat menyebrang, ingin rasanya aku ditonton mereka. Ahh.. pendeknya pengalaman baru yang sungguh mengasyikan. Tanganku pun mulailah membuka ikat pinggang celana Alvin, langsung pula menarik resletingnya. Langsung kontolnya meloncat keluar karena ternyata Alvin tak memakai celana dalam.

"Wow, besarnyaa..," teriakku agak kaget begitu melihat kontol Alvin.
Lantas sambil menggenggam batang kontol pacar baruku itu aku berbisik, "Vin, apa kesukaanmu?"
"Blow job," jawab Alvin ringkas. Aku terdiam belum mengerti.
"Iseplah..," kata alvin menjelaskan.
Aku pun senyum dengan menggenggam kontolnya lebih erat lagi, "Jadi blow job itu artinya ngentot pakai mulut?" tanyaku bermanja-manja dan pura-pura bodoh.

Setelah itu tak banyak bicara lagi kujilati bagian kepala kontolnya Alvin. Ini adalah bagian pemanasan yang paling kusuka ketika Amri masih hot-hotnya. Maka ketika kujilati, kuciumi, dan kuemut-emut kepala kontol Alvin, aku melakukannya dengan intens sekali. Alvin pun segera melenguh merasa nikmat, tangannya dengan agak kasar menyingkapkan celana dalamku ke pinggir hingga jarinya kini bisa menyentuh langsung alat kenikmatanku yang sudah lama tak tersentuh laki-laki itu.

"Sluurrpp..," mulutku maju lebih jauh lagi melahap batang kontol Alvin, sejenak kutahan di sana sambil kurasakan bahwa kontol Alvin ternyata masih tumbuh membesar. Tahu begitu maka aku merangsangnya lebih keras lagi karena ingin segera tahu seberapa besarnya jika sudah ngaceng sepenuhnya.

"Sluurrpp..," mulutku maju lagi hingga separo kontol Alvin masuk, terasa ada yang berdenyut dan tumbuh mengembang. Kubiarkan kutahan di dalam, dan kian lama terasa mulutku kian penuh hampir tak bisa lagi menampung kebesaran kontolnya. Saat itulah kulepas mulutku, kupandangi benda yang ternyata tampak gagah sekali itu. Seluruh batangnya mengkilat karena basah oleh ludahku, kugenggam di bagian pangkalnya, kogoyang-goyang.. Ohh.. benda yang sangat kurindukan kini ada digenggamanku.

Sekali lagi "Sluurrpp..," kulahap sekaligus kontolnya.
Kini kuusahakan bisa masuk sedalam mungkin. Ternyata betul-betul sungguh besar, hanya lebih sedikit dari setengahnya sudah menyentuh tenggorokanku. Agak sesak tapi kubiarkan tenggelam di dalam untuk beberapa saat. Sambil kuemut-emut kontolnya, perlahan-lahan kupelorotkan celana Alvin hingga lepas. Seusai itu, Alvin pun berusaha memelorotkan celana dalamku. Di ruang kursi mobil yang sempit, ternyata usaha melepas celana dalam itu menjadi tidak mudah. Masalahnya aku mau melepasnya tanpa mau melepas kuluman mulutku di kontolnya, demikian pula Alvin seperti tak mau kehilangan memekku.

Setelah berjuang keras akhirnya lepas pulalah celana dalamku. Alvin kini dengan merdeka mulai bisa menusukan jarinya yang besar. Ohh.. baru dengan jari itu saja aku sudah merasa melayang, maka kurespon sodokan jarinya dengan memaju-mundurkan pantatku, sementara mulutku pun mulai mengangguk-angguk memberikan gerakan kontol Alvin agar keluar-masuk.

"Ohh.. Tarsih, ohh.. dewiku, sedap sekali sedotanmu.. memekmu pun sungguh masih ketat sekali.. aku pengen segera mengentotnya," erang Alvin karena nikmat. Aku merasa begitu tersanjung, maka segera aku lepaskan kuluman, naik ke pangkuannya dengan kontol Alvin diusahakan tak lepas dari genggamanku. Kedua kakiku kini ada di atas kursi mobil, dengan posisi jongkok begini kusentuh-sentuhkan kepala kontol Alvin di celah memekku, sesekali disentuhkan pula ke kelentitku yang sudah sangat peka.

Kemudian, "Bless.." sekaligus kutanamkan kontol besar itu dengan tak sabar.
"Ohh.. ahh..," aku pun mengerang karena kaget sendiri merasakan kontol yang begitu besar melesak masuk. Demikian kerasnya eranganku sehingga membuat linda bangkit dari kegiatannya kemudian melirik ke belakang.
"Gimana, asyik Teh Tarsih?" tanya Linda menggodaku yang sedang nikmat.
"I.. i.. yaa, Linda.. Kontol Alvin gede sekali, asyik sekali," jawabku sambil mulai menggoyang-goyangkan pinggulku.

Pada saat itu pula sempat kulihat lagi keramaian kota. Dengan posisi sudah mulai sanggama, dalam keadaan kontol pasanganku sudah tertanam di memek laparku, melihat keramaian di luar kian membuat aku terangsang lagi.
Maka kugenjot kontol Alvin lebih hebat lagi, hatiku seolah-olah berteriak kepada orang-orang di jalanan, "Heii.. orang-orang lihatlah.. lihatlah aku lagi ngentot dengan nikmat sekali.. ngentot kontol gede.. hhmmhh.. ahh."

Gerakan pantatku turun-naik di atas kontol Alvin kian cepat, Alvin pun sesekali membalasnya dengan mengangkat pantatnya hingga kontolnya tertanam sepenuhnya di memekku. Rasa dahagaku yang sudah cukup lama tak merasakan kontol, rupanya membuat nafsuku jadi sangat berlebihan, sehingga aku tak bisa mengontrol dan membuat persetubuhan berlangsung begitu cepat.

"Ohh.. Vin, Alvin.. entot terus, entot memekku yang lapar ini.. entot, jangan berhenti.. ohh teruss.. aku hampir sampai di puncak.. teruss.. ohh.. ohh.. ohh.. ahh!" Sebuah erangan panjang menandakan aku sudah mencapai orgasme.

Sementara aku tahu bahwa Alvin masih segar bugar. Karena itu kuelus kepalanya untuk menghibur, sementara Alvin membenamkan wajahnya di celah buah dadaku. Dengan kontol yang masih tertanam di memekku, dijilatinya seluruh celah dari lembah payudaraku, kemudian naik ke puting susu sebelah kiri, melintas lagi di celah lembahnya dan pindah ke puting susu sebelah kanan, sesekali mendarat agak lama di salah satu puting susuku yang sejak tadi sudah begitu keras. Di isap-isapnya di situ, adakalanya digigit-gigit kecil sehingga menimbulkan rasa geli bercampur nimkat.

Sampai pada adegan ini sudah terpikir pula untuk membalas kenikmatan yang telah diberikan oleh Alvin, tapi sementara itu pula aku berkesempatan melihat ke arah luar jendela mobil untuk melihat ke arah mana kira-kira mobil ini melaju. Dengan sekilas aku segera tahu mobil sedang melaju ke rah utara, maka aku tanya ke Ronny atau pun Linda yang juga sedang asyik di depan, "Heh, sedang menuju ke mana kita ini?"

Yang menjawab ternyata Linda dengan tanpa mau melepaskan emutan mulutnya di kontol Ronny sehingga suaranya seperti suara orang yang tersumpal, "Mmpphhff.. ki.. fftaa.. kee.. ff 'L" saa.. phhjaa.. di sana.. phhpp.. ada hotel mmff.. hotel.. yang asyikk.. mmff.. slrupp."

Aku sebetulnya setuju-setuju saja, tapi tiba-tiba saja muncul pikiran lain sehingga aku protes, "Nggak, deh, oohh.. eyy..," kalimatku terhenti karena kaget dan geli oleh gigitan Alvin di puting susuku, "Balik ke rumahku saja..," lanjutku sambil tetap mengelus-elus kepala Alvin yang terasa pula kontolnya masih berusaha menusuk keluar-masuk di memekku.
Mendengar protesku Linda yang tenggelam di antara s*****kangan Ronny tiba-tiba bangkit, "Bener nih?"
"Serius, kita balik ke rumahku saja.." jawabku tegas.

Ronny dan Linda tampak sejenak saling pandang, tapi kemudian sepakat tak berani melawan permintaanku. Maka di satu persimpangan Ronny memutar balik haluan, kemudian meluncur menuju ke rumahku yang sedikit agak di bagian selatan pusat kota.
Setelah tahu kendaraan yang kami tunggangi menuju arah balik, maka aku pun segera ingat kepada tugas ingin membalas kenikmatan yang telah diberikan Alvin.

"Kamu.. belum keluar, ya, sayang.. kontolmu masih ngaceng keras.. biar aku bikin keluar, yaa..," kataku sambil mengangkat kepala Alvin kemudian memagut bibir, dan kami kembali berciuman cukup lama.

Tanpa melepaskan bibir dan lidah kami yang saling berjalin, aku mengangkat tubuhku pelan-pelan sehingga sedikit demi sedikit kontol Alvin keluar dari jepitan memekku. Menj***** kepala kontolnya lepas cepat-cepat tangan kiriku menuju ke bawah untuk menyambutnya dan menggenggamnya. Terasa sekali kontol Alvin begitu licin karena basah oleh cairan orgasme yang tadi telah keluar dari memekku.

Sambil sedikit kukocok-kocok kontol yang licin itu, aku berbisik pada Alvin, "Kamu pernah di 'tits-fucking,' dientot pake payudara, sayangg.. Sini aku kasih tits-fucking sambil sesekali aku sedot kontolmu dengan mulutku yang haus ini, yaa..?".
"Belum.. pernah, ohh.. asyik sekali.. sejak semula aku sudah tertarik sama susu gedenya Tante Tarsih.. asyik sekali kayaknya dijepit di sana.. ayo, dong, Tante.. Al sudah tak tahan nih..," jawab Alvin kelihatan sudah tak sabar.
"OK sayang.. sini taro kontolmu di antara susu Tante..," kataku sambil menyangga kedua susuku dengan kedua tanganku.

Posisiku agak sedikit turun dari jok mobil, sementara Alvin sedikit naik dengan mengarahkan kontolnya di antara celah dua bukit payudaraku. Begitu tiba di sana langsung aku sambut dan aku tekan payudaraku hingga menjepit kontol Alvin.
"Ahh.. uuhh.. Tantee..," lenguh Alvin kenikmatan sambil mulai mengocok-kocokan kontolnya di sana.
Kontolnya yang memang lumayang panjang dan gemuk, sesekali bagian kepalanya menyentuh daguku. Dengan begitu memudahkan aku untuk bisa menyambutnya dengan mulutku.

Dengan sedikit merunduk dengan mulut telah siap terbuka, maka kontol Alvin pun sesekali masuk di mulutku. Setelah beberapa kocokan, Alvin menghentikan gerakannya. Aku tahu Alvin minta kontolnya diisap, maka segera pula aku merunduk agak jauh lagi sehingga sebagian kontolnya bisa masuk ke mulutku. Kutahan dan kubiarkan terbenam di sana untuk beberapa saat, ketika di dalam kuemut-emut mulutku sambil menggerak-gerakan lidahku menyentuh-sentuh batang dan kepala kontol Alvin. Ohh.. luar biasa sekali, aku bisa merasakan langsung bekas cairanku sendiri di kontol Alvin.

Adegan dan wanginya cairan memekku sendiri ini sungguh membuatku terangsang kembali. Nafsuku untuk bersetubuh sudah kembali pulih, ingin sesungguhnya aku segera naik kembali menunggangi kontolnya Alvin. Tapi kuputuskan untuk meneruskan memberikan tits-fucking sambil melomoh-lomoh kontolnya dan sesekali kusedot-sedot, kuisap-isap.

Alvin sendiri kelihatan sekali merasa nikmat dan bahagia dengan pelayanan itu, "Oohh.. emmhh.. nikmat sekali rasanyaa.. Tantee.. teruss.. jepit terus dengan susu tante yang gede itu.. ohh.. ya, sedott, jangan berhenti.. tantee.. sedapp, wah sudah kuduga tante ini hebat.. aku mau deh setiap hari ngentot sama Tante Tarsih," kicaunya.

Mendapat pujian itu ditambah berahiku sendiri, maka aku kian bersemangat menjepitkan susuku dan nyedot kontolnya sampai pipiku kempot saking kuatnya. Kurasakan gerakan maju-mundurnya Alvin pun kian deras, kontolnya terasa sudah sangat tegang sekali, aku tahu itu adalah tanda-tanda Alvin sudah kian dekat ke puncak kenikmatannya. Tak ayal aku pun mengimbangi gerakan-gerakan pantatnya dengan semakin bersemangat.

Hingga tak lama kemudian, "Oohh tantee.. teruuss.. aku sudah hampir.. sudah dekatt.. teruss.. ohh.. uhh.. mmhh.. ohh.. uhh.. mmhh.., aku tak tahan lagii.. keluarin di mana tantee..," erangan dan kicauan Alvin bercampur aduk.
"Keluarin di mulutku saja.. sayangg.. ohh.. mari penuhi mulut tante yang lapar ini dengan spermamu yang hangat.. ayo keluarin.. sayangg," jawabku ingin segera melihat pasanganku mencapai puncak kebahagiaannya.
"I.. i.. ini dia tantee.. aku keluarr.. huuhh.. ahh..," teriak Alvin, bersamaan dengan itu kurasakan kontolnya menjadi super tegang diiringin meletupnya semburan air mani dari kontolnya hingga membentur pangkal tenggorokanku.

Begitu banyak air mani yang ia keluarkan hingga mulutku tak sanggup menampungnya. Sebagian langsung kutelan, sebagian lagi kubiarkan keluar di atas kedua payudaraku sambil tak henti-hentinya aku teruskan mengocok kontolnya. Luar biasa sekali, ketika kukocok di luar pun sperma Alvin masih meluap demikian banyak sehingga membanjiri seluruh permukaan buah dadaku, kemudian meleleh turun membasahi sebagian perutku.

"Mmhhmmffhh.. Al, sayangku.. luar biasa banyak sekali sampai banjir..," kataku sambil menyusut air maninya yang turun ke perut untuk kemudian kujilati lewat tanganku hingga bersih. Begitu pula yang membasahi buahdada-ku, aku coba untuk menyendoknya dengan tangan kemudian aku lahap pula, lantas dengan sengaja kuperlihatkan pada Alvin ketika menjilat jari-jariku yang masih bersisa air maninya, berulang-ulang kujilat hingga bersih. Tak lama kemudian terdengar kehebohan di kursi depan, Linda setengah berteriak-teriak sambil mengocok kontol Ronny yang masih tetap di belakang kemudi.

"Ayoo.. Ronny-ku, keluarkan.. tuntaskan sayang.. aku nggak mau kalah sama Teh Tarsih.. aku pun ingin sperma hangatmu.. ayo keluarkan."
"I.. i.. iya tante Linda, kocok terus, saya sudah hampir, kocok yang keras.. ehh.. sambil diemut lagi.. tante..," pinta Ronny.

Kemudi mobil sedikit agak bergoyang, aku dan Alvin saling berpandangan lantas tersenyum. Kontol Alvin yang sudah melembek masih di dalam elusan tanganku, Alvin pun dengan mesra tak lepas-lepasnya mengelus bibir memekku sambil mengecup-kecup puting payudaraku. Rupanya dia betul-betul terpesona oleh kebesaran buah dadaku.

Lagi-lagi suara Ronny terdengar, "Yaa.. yaa.. ahh.. uhh.. ya tante, hampir tante.. aku mau keluar nihh.."
"Ya, ya, ya, keluarkan saja di mulutku," kata Linda yang rupanya tak mau kalah dengan aku.
"Emmhh.. ahh.. tantee.. aku keluarr..," erangan panjang terlepas dari mulut Ronny.

Tapi bisa kupastikan Linda sedang sibuk dengan limpahan sperma pasangannya. Tak ayal, mobilku pun jadi penuh oleh aroma sex. Aku sendiri, anehnya, merasa begitu bahagia dan sangat menikmati permainan yang nikmat ini. Tanpa terasa mobil yang kami tumpangi sudah berada di depan gerbang rumahku.

Linda tiba-tiba bangkit dari kursi depan lantas bertanya kepadaku, "Eh, Teh Tarsih.. ini betul, serius.. gimana kalau suamimu ada di rumah?"
"Serius, dan memang aku ingin dia tahu," jawabku tegas.
"Yang bener?" tanya Linda lagi masih ragu.
"Bener, ayo Ronny masuk saja jangan ragu-ragu," kataku.
"Baik, tante," jawab Ronny sambil memasukan mobil.
"Ya, nanti kita teruskan lagi permainannya, ya!" sambungku dengan suara menggoda.

Mobil pun masuklah ke halaman rumah, langsung masuk garasi dan kami segera turun dengan pakaian masing-masing yang masih berantakan. Pakaianku basah di bagian depan karena terkena limpahan spermanya Alvin.


TAMAT

Tamara Blesinzky Hidden Diary

Suasana di kamar Presidential Suite itu jelas dirancang untuk membangun suasana yg romantis. Cahaya lampu kamar yg ada di lantai tertinggi hotel berbintang lima itu dibuat dengan mengimitasi candle light party yg temaram. Cahaya jingga mendominasi kamar berukuran luas itu, sementara harum bau pewangi ruangan yg disemprotkan secara otomatis menguarkan aroma yg membangkitkan erotisme. Alunan musik instrumental berirama acid jazz lembut makin menegaskan suasana penuh gairah itu.
Ranjang berukuran besar itu berderit pelan, kelambu yg menutup sebagian ranjang bergaya neo klasik itu bergetar dengan lembut seiring dengan guncangan lembut yg terjadi. Sehelai lingerie berwarna pink tipis nyaris transparan dan sehelai g string sewarna berenda-renda tergeletak di lantai dekat ranjang. Di dekatnya, pakaian pria mulai dari kemeja, celana panjang sampai pakaian dalam terserak berantakan di beberapa tempat.
"Ohh... ohggh... aahh... aahh..." desahan suara wanita terdengar begitu manja di tengah deru nafasnya yg memburu.
"Ahh... yeah... c mon Tammy.. ahh.. yes.. ohh.. yes.." suara pria mengiringi desahan desahan manja sang wanita. Sepasang anak manusia bergulat di atas ranjang dalam keadaan telanjang bulat, menyatu dalam sebuah persetubuhan ganas. Si wanita yg berwajah indo berposisi di atas memacu tubuhnya yg putih mulus dengan gerakan liar sambil melenguh-lenguh merasakan kenikmatan persetubuhannya, sementara si pria yg jelas orang bule memeluk tubuh mulus si wanita sambil mencumbui sepasang payudara mulusnya yg montok dan kenyal, sesekali payudara putih itu dijilati dengan penuh nafsu.
"Ohh.. aahh.. Fuck me.. harder.. Mike.. ohh.." wanita yg disapa Tammy itu melenguh keras, tubuhnya mengejang dan menggeliat-geliat, wajahnya memerah tegang, seolah ingin mengeluarkan sesuatu yg sedari tadi ingin dia keluarkan dari tubuhnya. Saat itulah tubuhnya melengkung, wajahnya mendongak ke atas, sementara kuku jari tangannya membenam di pundak si pria.
AHHKKH... OHHH..." wanita itu melenguh keras, seluruh gejolak seksualnya meledak bertubi-tubi menciptakan sensasi luar biasa yg menggedor sekujur syarafnya, tubuhnya menegang kaku. Sementar si pria merasakan jepitan kuat mencengkeram penisnya. Vagina si wanita berdenyut keras seperti memijat penis yg mendekam di dalamnya.
"Ohh.. Ahh.." pria bule itu mengerang keras, tidak tahan merasakan sensasi kenikmatan yg melanda penisnya. Penisnya berkedut sesaat lalu dengan lenguhan penuh nikmat, sperma si pria menyembur mengisi rahim wanita cantik itu.
*
Menelisik hubungan spesial antara Tamara Bleszinsky dengan Mike Lewis, bintang sinetron sekaligus model berdarah Eropa itu seperti mencoba mengendus tindak pidana korupsi, ada di depan hidungmu tapi tidak bisa kau buktikan. Selama berbulan-bulan para wartawan Infotainment mencoba mencoba mengungkap fakta itu, tapi tak satupun dari mereka yg berhasil. Padahal hampir semua orang paham kalau perceraian Tamara dengan Rafly disebabkan oleh perselingkuhan Tamara dengan Mike.
Hal itu pula yg membuat Tamara Dan Mike bisa melenggang bebas. Selama ini memang keduanya punya trik khusus untuk menyembunyikan perselingkuhan mereka. Rafly sendiri sebenarnya tahu hal itu meskipun dia tidak berhasil membuktikannya. Itulah sebabnya dia mati-matian memproteksi Rassya dari bekas istrinya, karena dia ingin menangkap basah hubungan gelap Tamara secara langsung.
Siang itu karena tidak ada jadwal syuting, Tamara terlihat sibuk melakukan latihan fitness di rumahnya yg luas. Memakai pakaian fitness yg ketat membuat lekuk tubuhnya yg menjadi fantasi liar banyak pria terlihat begitu jelas. Keringat yg membasahi tubuhnya yg putih membuatnya tampak makin seksi.
Di tengah kesibukannya berlatih tiba-tiba terdengar dering telepon membuat Tamara menghentikan latihannya. Dengan gerakan enggan Tamara menghampiri telepon yg terletak di sudut ruangan.
"Halo.." kata Tamara ogah-ogahan. Suara berkeresek terdengar dari seberang.
"Halo Mbak.. Ini di pos depan ada paket amplop buat Mbak Tamara." kata suara yg ternyata satpam di depan. "Saya antar sekarang Mbak?"
"Ya. Bawa saja ke dalam." kata Tamara Pendek. Dia segera menutup telepon, lalu menyambar mantel tidur yg ada di dekatnya untuk menutupi tubuhnya. Tamara lalu menuju ruang tengah. Sebuah amplop coklat besar yg tersegel rapat dan agak menggelembung karena terisi sesuatu. Tamara agak bingung melihatnya, mungkin surat penggemar yg dijadikan satu pikirnya. Dibaliknya amplop itu. Tidak ada nama pengirimnya. Dengan buru-buru Tamara merobek amplop itu, karena kurang hati-hati, isi amplop itu berhamburan keluar. Foto. Amplop itu berisi foto banyak sekali, tapi bukan foto sembarang foto. Seluruh foto yg ada ternyata adalah foto-foto yg memperlihatkan perselingkuhannya dengan Mike Lewis. Entah berapa banyak adegan mesranya dengan Mike yg diabadikan, mulai dari yg sekedar berpelukan atau berciuman sampai foto yg jelas memperlihatkan dirinya dalam pose telanjang bahkan tengah melakukan hubungan seks. Foto yg memperlihatkan saat mereka memasuki kamar Presidential Suite dua hari yg lalu juga ada.
Seluruh tulang di tubuh Tamara seolah lenyap begitu melihat foto-foto itu. Tubuhnya langsung panas dingin seperti terserang demam mendadak. Perutnya serasa bergejolak seperti diaduk-aduk isinya. Dengan panik Tamara mengumpulkan foto-foto dan memasukkannya lagi ke dalam amplop. Selembar kertas bekas sobekan notes terselip di antara tumpukan foto.

KETEMU DI KAFE BIASANYA, JAM 2 SIANG INI

Tamara tertegun melihat kertas itu. Kepanikan luar biasa seperti seekor ular piton membelit tubuhnya. Otaknya bekerja keras mencoba mengungkap siapa yg mengirimkan foto-foto itu. Tapi dalam keadaan panik, karena dalam seperempat jam dia harus datang ke tempat yg diminta oleh pengirim surat kaleng itu, membuat Tamara tak bisa berpikir jernih. Tanpa mandi, Tamara segera berganti pakaian lalu menuju mobilnya.
*
Kafe yg berada di daerah Kemang itu terlihat sepi pada jam-jam seperti ini. Bisa dimengerti karena ini adalah jam kantor di saat aktifitas sedang sibuk-sibuknya. Tamara beberapa kali melirik jam tangan mewah berlapis emas yg melingkari perg*****an tangan kirinya dengan gelisah. Dia terlambat sepuluh menit dari seharusnya. Tamara sengaja duduk di sudut ruangan agar bisa mengawasi pengunjung yg lain. Dia memakai kaus ketat warna merah dan celana jins ketat. Tamara sengaja menyembunyikan identitasnya dengan memakai topi dan kacamata hitam. Begitulah yg biasa dia lakukan jika berduaan dengan Mike.
Mendadak, seorang pria berjaket hitam dan berkacamata gelap duduk di depan Tamara. Tamara yg sedang kalut langsung terkejut dibuatnya, nyaris dia berteriak kalau pria itu tidak mencegahnya.
"Jangan Mbak.." pria itu memberi isyarat agar Tamara diam. Tamara seperti mengenali suara pria itu.
"Kamu.." Tamara mulai yakin siapa yg dihadapinya. "Samy. Kamu Samy kan?" Tamara menggeram marah. "Bajingan kamu..!"
"Sst.." pria yg disapa dengan nama Samy itu memberi isyarat diam pada Tamara. "Jangan berisik Mbak. Apa mbak Tamara mau semua orang tahu?" Samy mengucapkan kalimat itu dengan tenang, seperti sudah melatihnya selama berhari-hari. Tamara merasakan ada nada ancaman dari suara Samy.
"Apa maumu bangsat?" Tamara menajamkan suaranya dengan raut muka penuh kemarahan.
"Wah. Langsung ke tujuan." Samy tersenyum sinting. "Dulu waktu Mbak Tamara memecat saya sebagai sopir Mbak, kayaknya juga begitu."
Tamara kian panik dipermainkan seperti itu. Tangannya mencengkeram gelas minumannya yg masih penuh. Hampir saja Tamara menyiramkan isinya ke wajah Samy. Tamara ingat, dia pernah memecat Samy yg waktu itu bekerja padanya sebagai sopirnya. Samy sebenarnya tergolong rajin, tapi dia punya masalah sering teledor. Beberapa kali dia mengacaukan jadwal Tamara karena keteledorannya. Nama aslinya Samsudin. Umurnya tidak beda jauh dari Tamara. Tampangnya lugu dan culun, yg sebenarnya lebih mirip orang katro ketimbang kriminil dam punya selera humor yg kelewatan bahkan cenderung konyol. Hobinya cengar-cengir sendirian menambah kesan sebagai orang yg agak slebor. Tubuhnya kurus dan agak pendek, cuma 155 cm. Kulitnya gelap terbakar matahari. Kumis ikan lele model Tukul Arwana menambah kesan culun di wajahnya.
"Jangan basa-basi!" Tamara kian kesal dengan kelakuan Samy. "Elo mau apa? Uang?"
"Wah. Kalau itu sih pasti Mbak Tamara.." Samy menjawab konyol. "Siapa orangnya yg nggak doyan duit. Tapi ini lebih dari sekedar duit.."
Tamara berdesir. Ada rasa tidak enak melintas di benaknya ketika mendengar perkataan Samy barusan.
"Apa maksud elo?" Tamara bertanya gugup. Samy terlihat senang berada di atas angin. Jelas sekali dia sangat menikmati permainan ini.
"Mbak Tamara pernah memecat saya kan?" tanya Samy. "Pakai acara memaki-maki pula."
Tamara hanya diam. Dia tidak tahu akan diarahkan ke mana pembicaraan ini.
"Lalu apa yg elo mau sekarang?" Tamara bertanya gugup setelah terdiam beberapa saat. Samya tertawa mendengar kegugupan dalam ucapan Tamara.
"Gampang saja kok Mbak, asal Mbak Tamara menuruti perintah saya, semua beres." kata Samy blak-blakan. Tamara nyaris melompat dari kursinya. Wajahnya seperti ditampar mendengar hal itu. Tubuhnya langsung gemetar dan panas dingin.
"Tapi kalau Mbak Tamara nggak mau juga nggak apa-apa." Samy menambahi melihat reaksi Tamara. "Paling-paling foto mesumnya Mbak Tamara bakal nongol di internet. Dan Mas Rafly bakal nggak akan mengijinkan Mbak menemui Rassya buat selamanya. Gampang kan?"
Rasanya seperti ada palu godam raksasa yg menghantam rontok sekujur tulang tubuh Tamara saat mendengar hal itu. Bagi Tamara, perselingkuhannya dengan Mike Lewis tersebar bukan masalah besar. Foto mesranya dengan Mike tersebar juga bukan masalah besar. Tapi bagi Tamara, lebih baik mati daripada dilarang menemui anak kandungnya sendiri untuk selamanya.
"Jangan.." Tamara menggeleng lemah. Sebutir air mata mengalir di pipinya yg putih. "Jangan.. Gue bersedia mematuhi perintah elo, tapi please jangan sebarin foto-foto gue. Gue bisa mati kalau tidak diijinkan ketemu Rassya lagi." Tamara meratap.
Samy tertawa puas mendengar ucapan Tamara. Perasaan penuh kemenangan memenuhi sekujur tubuhnya, sebuah kemenangan yg sangat tak ternilai harganya yg bahkan jauh melebihi perkiraannya.
"Bagus sekali Mbak.." Samy tersenyum licin, penuh kemenangan. "kalau begitu sekarang Mbak Tamara tandatangani surat pernyataan ini." Samy mengeluarkan sebuah tumpukan kertas dari saku jaketnya.
"Saya yg bertanda tangan di bawah ini, Tamara Bleszinsky sebagai pihak pertama, menyatakan bersedia mematuhi semua perintah dari pihak kedua yg bernama Samsudin. Jika saya m*****gar perjanjian ini, saya bersedia menerima hukuman yg bentuknya diserahkan sepenuhnya pada pihak kedua. Demikian surat pernyataan ini saya buat tanpa paksaan dari pihak manapun."
Tamara membeku membaca isi surat perjanjian yg ada di tangannya. Jika dia menandatangani surat itu, berarti dia akan sepenuhnya dikuasai oleh Samy, bahkan lebih buruk lagi, dia akan menjadi budak Samy. Tapi Tamara juga takut kehilangan Rassya. Kebingungan melanda Tamara. Pilihan yg dihadapinya sama-sama sulit. Tapi akhirnya, karena kalut, Tamara memutuskan untuk menandatangani surat yg dibuat rangkap tiga itu.
"Bagus sekali Mbak.." Samy tertawa. "Mbak Tamara memang pintar deh." kata Samy sambil memasukkan surat perjanjian ke dalam sakunya. "Sekarang tugas pertama Mbak Tamara adalah.." Samy menatap wajah cantik artis itu dengan liar. "Mbak Tamara musti muasin saya.."
Tamara terkesiap mendengarnya. Tubuhnya terasa lemas seolah tak bertulang.
"Apa maksudmu..?" Tamara beratanya gemetar.
"Masa nggak ngerti juga.." Samy menjawab tenang sambil tersenyum-senyum mesum.
Tamara merinding ngeri. Ketakutannya yg terbesar terbukti benar. Dia menundukkan wajahnya sambil menangis pelan. Tapi karena Tamara telah menandatangani surat perjanjian maka dia tidak bisa menolak keinginan Samy. Secara legal Samy berhak memerintahkan apa saja pada Tamara. Tamara benar-benar tidak berdaya menghadapi akal Samy yg dengan lihai telah menjebaknya dengan dua senjata mematikan. Bahkan dengan pengacara sekelas Hotman Paris Hutapea atau Ruhut Sitompul sekalipun Tamara tidak yakin bisa keluar dari jeratan bekas sopirnya itu. Kalaupun Tamara bisa lolos dari jerat surat perjanjian yg ditandatanganinya, dia masih harus menghadapi ancaman kehilangan Rassya. Tamara bingung dan kalut memikirkan hal itu. Dia juga heran bagaimana caranya Samy bisa mendapatkan foto-foto pribadi itu. Padahal kalau Tamara mau cermat, dia pasti ingat pernah kehilangan kamera digital beberapa bulan lalu.
Ketidakberdayaan itulah yg membuat Tamara menurut saat Samy mengajaknya pergi dengan memakai mobilnya. Tamara memperhatikan Samy membawanya ke arah Puncak. Tamara hafal jalan yg dilalui karena dia sering melewatinya bersama Mike. Sepanjang perjalanan, karena terlindung kaca mobil yg gelap, Samy dengan leluasa menggerayangi tubuh Tamara. Tangan Samy berkali-kali bercokol di payudara Tamara yg sering disebut-sebut sebagai payudara terindah di Indonesia itu sambil meremasinya dengan kasar. Tamara sendiri dipaksa untuk mengelusi bagian kemaluan Samy dengan tangannya.
Semula Tamara mengira Samy akan membawanya ke villa. Tapi alangkah terkejutnya Tamara ketika Samy membelokkan mobilnya ke sebuah penginapan yg terkesan kumuh. Tamara merasa jengah berada di penginapan itu. Sering sekali dia melihat wanita malam kelas murah meriah berseliweran di depannya, bergandengan tangan dengan pria hidung b*****. Mereka menyewa sebuah kamar yg sempit dan pengap tanpa AC, membuat Tamara kegerahan. Hanya ada sebuah ranjang berukuran besar yg membuat kamar sempit itu jadi makin sempit. Dilihat dari kondisinya, Tamara tidak yakin kalau seprai tempat tidurnya pernah diganti selama sebulan terakhir. Tamara bahkan melihat ada noda seperti bekas ceceran darah di tengah-tengah seprai berwarna kuning lusuh itu. Tamara tiba-tiba merasa dirinya jadi tidak ada bedanya dengan pelacur murahan yg dilihatnya di depan penginapan. Selama beberapa lama dia hanya bisa berdiri mematung.
"Jangan diam saja di situ." Samy berkata agak keras. "Sekarang elo ke sini." Samy mulai meninggalkan sebutan 'Mbak' dan mulai menggunakan bahasa 'elo gue' pada Tamara. Tamara diam saja mendengar ucapan itu, tapi wajahnya memerah karena menahan malu dan marah.
"Nah.. Sekarang gue mau elo lepasin semua baju elo sampai bugil." kata Samy. "Iya, bugil." ulangnya saat melihat reaksi Tamara yg terpekik tak percaya.
"Tapi bukan asal bugil Tam." Samy mengeluarkan barang bawaannya. Sebuah handycam. "Gue mau merekam elo bugil."
"Jangan Sam.." Tamara menggeleng lemah merasa dilecehkan. "Gue mau bugil di depan elo, tapi jangan direkam.. Please.." Tamara memohon dengan terisak, tapi Samy tertawa dingin.
"Eln nggak berhak menawar." Samy menukas. "Gue yg berkuasa di sini, jadi cepat lakukan." Samy mengancam.
Tamara terdiam dan terisak mendengarnya, tapi dia tidak bisa menolak keinginan Samy. Dengan menguatkan diri, Tamara menghapus air matanya. Perlahan dia mulai menarik kaus ketatnya, melewati kepalanya sampai kaus itu terlepas dari tubuhnya membuat tubuh Tamara bagian atas sekarang hanya berbalut sebuah bra berwarna hitam berenda. Samy langsung melotot menatap tubuh molek wanita cantik itu yg begitu putih dan mulus.
"Ohh.. bra hitam.. yeah.. kesukaan gue nih.." kata Samy penuh nafsu sambil menyorot kemolekan tubuh Tamara dengan handycam. "Ayo, celananya juga. pelorotin celana elo."
Tamara terisak pelan mendengarnya. Dengan berat hati dia mulai membuka celana jeans ketat yg dipakainya lalu diturunkannya sampai lepas. Seketika itu pula sepasang kaki yg seputih pualam terpampang dengan indah menampakkan sepasang paha mulus dan betis indah yg berakhir pada s*****kangan dan pinggul membulat yg masih tertutup celana dalam model G string yg juga berwarna hitam berenda.
"Ohh.." Samy mendengus penuh nafsu melihat tubuh Tamara yg nyaris bugil. Kemulusan tubuh Tamara terlihat begitu kontras dengan pakaian dalam warna hitam yg dipakainya. Samy meminta Tamara membalikkan badan agar dia bisa menyorot punggung Tamara yg mulus dan pantat montoknya yg terbuka. Selama beberapa menit Samy memuaskan diri merekam tubuh mulus Tamara dari segala arah.
"Sekarang lepasin bra sama celana dalamnya." perintah Samy. Tamara menggeleng lemah mendengarnya. Air matanya kembali mengalir.
"Gue bilang lepas!" Samy membentak. Tanpa daya sedikitpun Tamara menurut. Diraihnya kait bra di bagian punggungnya, dan sebentar saja bra hitam itu sudah terlepas dari tubuhnya dan jatuh ke lantai, membuat payudara Tamara yg putih mulus itu menggantung telanjang. Bentuknya memang indah, tidak tampak seperti payudara wanita yg sudah punya anak. Payudara mulus itu tetap terlihat montok dan kencang, bulat padat dengan puting berwarna pink segar mencuat menggairahkan.
"Ohh.. montok.. ohh.. mulus.." Samy gemetar menahan nafsunya yg menggebu melihat keindahan payudara Tamara yg telanjang.
"Ayo, celana dalamnya juga." Samy berkata gemetar. Tamara tidak kuasa menolaknya, dia segera memelorotkan G stringnya sampai lepas dan melemparkannya ke lantai, membuat tubuh mulusnya kini benar-benar telanjang bulat. Daerah kemaluannya yg terbuka ditumbuhi rambut halus yg terawat cermat.
"Ohh.. ohh.. mulus banget.. ohh.." Samy mengerang sambil terus menyorot tubuh bugil Tamara selama beberapa menit. Lalu setelah puas menikmati kemulusan tubuh Tamara, Samy menyuruh artis cantik itu mendekat. Dipaksanya Tamara berlutut di hadapannya.
"Sekarang elo buka celana gue Tam." perintah Samy, membuat Tamara bergidik ngeri. Tapi Tamara terpaksa menurut. Seketika penis Samy yg besar dan kokoh langsung mengacung tegak tepat di wajah Tamara membuat Tamara memalingkan wajahnya. Penis Samy ternyata jauh lebih besar dibanding penis Mike. Salah satu alasan Tamara berselingkuh adalah karena dia tidak pernah puas jika berhubungan badan dengan Rafly, tapi kalau melihat ukuran penis Samy, Tamara jadi ngeri membayangkan kalau Samy memperkosanya.
"Elo pasti sering nyepongin kontolnya Mike kan Tam?" Samy bertanya membuat Tamara gugup. "Sekarang elo emut ****** gue."
Tamara terkesiap ngeri, dia merasa jijik melihat penis Samy. Dia memang sering melakukan oral seks dengan Mike, tapi penis Mike jelas lebih bersih ketimbang penis yg sedang dia hadapinya.
"Ayo.. tunggu apa lagi?" bentak Samy. Tamara merinding sesaat. Akhirnya dengan pasrah Tamara mulai menggenggam penis Samy yg berukuran super dan mengocoknya dengan lembut. Samy langsung mengejang merasakan kenikmatan kocokan tangan Tamara yg halus dan lembut pada penisnya. Lalu Tamara mulai membuka mulutnya.Kemudian memasukkan penis yg sedang dikocoknya ke dalam mulutnya.
"Ohh.. ohh.. ahh.. nghh.. ohh.." Samy mengerang-erang menahan kenikmatan yg mulai mendesak tubuhnya ketika Tamara mulai mengulum penisnya Tamara memang lihai melakukan oral seks. Dia mulai mengeluarkan trik-triknya dengan mengeluarkan batang penis Samy dari mulutnya untuk dikocoknya dengan lembut dan kemudian dikulumnya kembali. Hal itu dilakukan Tamara berulang-ulang membuat Samy kian melenguh tak karuan. Kamar yg pengap itu jadi semakin pengap oleh permainan oral seks Tamara membuat keringat Tamara dan Samy bercucuran. Samy makin keenakan menikmati kuluman dan kocokan Tamara pada penisnya sambil tetap merekam wajah artis cantik itu saat mengulum penisnya. Wajah cantik Tamara terlihat kian menggairahkan dan membangkitkan nafsu.
Selama sepuluh menit lamanya Tamara mengulum dan mengocok penis Samy sampai Samy berkelojotan menahan sekuat tenaga desakan kenikmatan ya melanda tubuhnya. Sampai pada klimaksnya, Samy tidak tahan lagi. Dia memegangi kepala Tamara dan menyodokkan penisnya dalam-dalam sampai mentok di tenggorokan artis cantik itu. Tamara membeliak kehabisan nafas sampai tubuhnya meronta-ronta. Samy makin brutal menyodokkan penisnya.
"ARGHH.. ARGGHH.. OHH..!! Samy melenguh keras, tubuhnya mengejang. "Crt.. crt.. crt.." seketika sperma Samy menyembur ke dalam tenggorokan Tamara. Tamara merasakan ada cairan kental mengalir di tenggorokannya dan meluncur tak tertahankan ke dalam perutnya.
"Ahh.." Samy melenguh penuh kelegaan. Rasanya seperti terlepas dari himpitan sebuah gunung batu saat dia menumpahkan spermanya di tenggorokan artis cantik itu. Tamara langsung terpuruk ke lantai sambil tersengal-sengal kehabisan nafas. Dia terisak sedih, harga dirinya terhempas ke titik paling hina seolah ada yg mendorong tubuhnya ke dalam jurang yg sangat dalam.
"He he he.." Samy tertawa penuh kemenangan. "Elo memang jago banget nyepongnya Tam." kata Samy mengejek. Tamara mendongak menatap Samy dengan wajah memelaskan.
"Sudah cukup kan Sam?" Tamara bertanya lirih. "Gue udah puasin elo.."
"Sudah cukup?" Samy tertawa. "Mulai saja belum.."
Ucapan Samy membuat Tamara kembali tertunduk lemas.
"Sekarang Tam, elo harus menari bugil." perintah Samy tegas. Tamara terisak pelan mendengarnya. Tapi tanpa daya sedikitpun, Tamara mulai berdiri. Samy menyetel lagu berirama House Music untuk mengiringi tarian telanjang Tamara. Artis bertubuh seksi itupun mulai menggerakkan tubuhnya dengan gerakan yg sering dia lakukan kalau sedang dugem. Goyangam tubuh putih mulus Tamara yg telanjang bulat membuat nafsu Samy kembali bangkit. Sambil terus merekam tarian bugil Tamara, dia juga mengocok penisnya sendiri.
"Ohh.. yeah.. terus Tam.. ayn goyang terus.." Samy menyemangati Tamara. "Ayo goyangin pantatnya juga. Pakai gaya ngebor.." Samy tertawa penuh nafsu saat melihat Tamara menggoyangkan pantatnya yg padat dengan gaya ngebor.
Selama setengah jam Tamara memuaskan Samy dengan tarian bugil. Tubuhnya yg mulus bercucuran keringat membuat tubuh putih itu berkilat membangkitkan nafsu birahi. Tamara tersimpuh di lantai karena kelelahan. Tubuh seksinya bergetar seirama deru nafasnya yg tersengal.
"gimana Tam? Puas? Mau lagi?" Samy mengejek. Tamara diam saja.
"Sekarang Tam, elo musti onani di depan gue." kata Samy. Tamara terkesiap mendengarnya, tapi dia tidak bisa menolaknya. Perlahan dia mulai menegakkan tubuhnya, dia mulai meremas-remas payudaranya sendiri sambil mengocok vaginanya dengan jari tangannya. Akibatnya libido Tamara mulai meninggi. Tubuhnya menggeliat dan mengejang sambil sesekali mengerang lirih.
"Ohkkh.. ahh.." Tamara mengerang tertahan. Wajahnya seketika memerah menahan libidonya dan sekaligus malu. Tapi setelah beberapa menit, pelan-pelan Tamara mulai terhanyut oleh permainannya sendiri. Tamara kian liar dalam merangsang dirinya sendiri. Rasa malu Tamara pelan-pelan hilang dari pikiran, yg ada dalam benak Tamara sekarang adalah bagaimana mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin.
"Ohh.. ohh.. ahh.." Tamara mengejang-ngejang, tubuhnya sampai menungging di lantai merasakan sensasi yg dibuatnya sendiri. Jari-jarinya masuk sampai mentok di dalam liang vaginanya sendiri. Cairan bening mengucur deras dari vaginanya membuatnya kian lancar dalam mengocok vaginanya sendiri.
"Enggh.. ogghh.. ohh.." Tamara menggeliat liar sambil menggigit bibirnya sendiri. Desakan orgasmenya makin tak tertahankan membuat tubuhnya menggeliat kian tak terkendali.
"Ohhkkh.. Ohhh.." Tamara mengerang keras saat orgasmenya meledak. Cairan vaginanya kian mengucur deras, menandakan kalau wanita cantik itu telah siap untuk bersenggama. Tamara terkapar lemas di lantai dengan nafas terengah-engah seperti baru saja berlari ribuan kilometer. Dia merasa malu sekaligus puas merasakan orgasmenya yg pertama. Gelombang orgasme itu menguasai tubuh Tamara begitu kuat sampai-sampai saat Samy mengangkat tubuhnya, Tamara tidak melawan sedikitpun. Dia membiarkan saja tubuhnya yg telanjang bulat dibaringkan di atas ranjang. Samy meletakkan handycamnya di atas meja yg posisinya diatur sedemikian rupa sehingga bisa menyorot ke seluruh ranjang dan merekam tubuh mulus Tamara yg bugil di atasnya. Tanpa membuang waktu lagi Samy segera melepaskan pakaiannya sampai bugil. Dia lalu berlutut di hadapan Tamara yg terlentang sambil mengatur posisi kaki artis cantik itu sampai mengangkang membuat liang vagina Tamara terbuka lebar.
"Ohh.. mulus.." Samy meneguk ludah menatap kemolekan tubuh Tamara yg telanjang bulat di hadapannya, tubuh yg selama ini hanya bisa dibayangkannya itu sekarang terpampang di hadapannya siap untuk diapakan saja. Pelan-pelan Samy mencondongkan tubuhnya ke depan menindih tubuh mulus Tamara, lalu dia mulai menciumi bibir Tamara yg menggemaskan dan melumat bibir artis cantik itu dengan lumatan ganas. Samy juga menjilati dan mengenyot bibir seksi itu sambil mendesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Tamara. Pengaruh orgasme yg masih menyerang Tamara membuat artis sinetron itu merespon ciuman ganas Samy dan menyambut desakan lidah mantan sopirnya dengan bernafsu. Selama beberapa menit kedua orang yg berbeda status itu berpagutan dengan bibir menempel ketat, saling kulum dan saling lumat.
Samy merasa mendapat angin mengetahui respon Tamara. Serangannya mulai berpindah. Tangannya mulai mengelusi payudara indah Tamara yg membusung begitu mulus. Samy kemudian menjilati payudara artis seksi itu sedangkan tangannya terus mengelus-elus dan meremasi payudara lembut itu dengan ganas. Jilatan-jilatan ringan ujung lidah Samy menari-nari di atas puting payudara Tamara membuat artis cantik itu kembali mengerang penuh nafsu.
"Nghh.. ohh.." Tamara mendesah tertahan merasakan jilatan Samy pada puting payudaranya. Jilatan itu membuat tubuhnya kembali menegang. Saat itulah Tamara merasakan benda tumpul menggesek bibir vaginanya.
"Ohkkh.. ahh.." Tamara mengerang lirih saat merasakan penis Samy melesak ke dalam liang vaginanya. Vagina Tamara yg basah membuat penis Samy melesak dengan mulus ke dalam liang vagina artis seksi itu. Tamara menggigit bibir merasakan penis Samy yg berukuran besar menjejali vaginanya.
"Ehhggh.. ohh.." Samy mengerang merasakan jepitan vagina Tamara. Liang vagina artis itu seolah menyempit dan mencengkeram penisnya dengan kuat.
"Ohh.. gila.. memek elo mantap banget Tam.. Ohh.. Sempit banget, padahal udah punya anak.." Samy berujar senang di tengah usahanya menggagahi artis cantik itu. Pemandangan yg membangkitkan nafsu tersaji di atas ranjang kumuh itu. Tubuh Tamara yg tinggi, putih, mulus dan telanjang bulat digeluti oleh sosok pria yg kurus dan legam.
Pada awalnya mungkin Tamara merasa terpaksa, tapi saat Samy menyodok vaginanya, Tamara mulai merasakan sebuah sensasi kenikmatan yg tidak didapatkannya dari Mike. Tamara menjerit lirih menahan nikmat tiap kali penis Samy menggenjot vaginanya. Penis Samy yg besar membuat Tamara mendapatkan kenikmatan baru. Tubuhnya mulai merespon persetubuhan itu.
"Nghh.. nhh.. ohh.. ohh.. ahh.." Tamara mengerang penuh kenikmatan merasakan sensasi persetubuhan yg dia lakukan dengan mantan sopirnya itu. Tidak tampak lagi Tamara yg diperkosa, yg ada sekarang adalah Tamara yg begitu menikmati persetubuhannya itu. Saking terangsangnya, Tamara membiarkan saja Samy membimbingnya dalam bersenggama. Masih dengan kelamin yg menyatu, keduanya saling peluk dan bertukar posisi. Tubuh Tamara berada di atas, lalu Tamara memposisikan dirinya dalam posisi berjongkok dengan kaki mengangkang seperti kaki kodok. Keduanya saling berpegangan tangan, lalu Tamara menggerakkan pantatnya naik turun membuat penis Samy kembali menggenjot vaginanya dengan keras. Suara berkecipak saat kedua alat kelamin itu saling sodok terdengar cukup jelas diiringi lenguhan Tamara yg kian menggila.
"Hghh.. ehgh.. ohh.. ohh.. ahh.. ahh.." lenguhan Tamara kian liar seirama gerakan pantatnya yg kian kuat. Hampir sepuluh menit lamanya Tamara menggerakkan pantatnya seolah memaksa penis Samy sampai batas akhir. Meski begitu, karena sudah mengalami ejakulasi sebelumnya, Samy kali ini bisa bertahan lama, lagipula Samy tidak ingin terlalu cepat. Dia benar-benar ingin menikmati tubuh Tamara selama mungkin. Samy lalu menyuruh Tamara menungging dengan bertumpu pada lutut dan sikunya sehingga posisi pantat Tamara yg bulat padat lebih tinggi dari kepalanya. Dengan posisi itu, Samy sangat leluasa untuk menggenjot vagina artis cantik itu dari belakang dengan gerakan yg makin lama makin brutal membuat tubuh Tamara yg mulus itu tersentak-sentak maju mundur seirama genjotan penis Samy pada vaginanya.
"Ahh.. ohh.. fuck.. ohh.. fuck.." Samy menggenjot vagina Tamara sambil melenguh dan meracau tidak karuan. Tapi perlakuan Samy yg brutal justru menimbulkan sensasi tersendiri pada diri Tamara. Artis cantik itu melenguh liar, menggigit bibirnya sendiri merasakan kenikmatan luar biasa yg melanda tubuhnya.
Reaksi Tamara itu membuat Samy makin bersemangat. Digenjotnya vagina artis sinetron yg juga bintang iklan sabun mandi itu dengan kekuatan berlebihan, sampai pada klimaksnya Samy merasakan liang vagina artis seksi itu kembali menyempit dan berdenyut keras meremas penisnya.
"OHHHKKH... AAHH.." Tamara melolong keras bagai seekor srigala. Tubuhnya menggelepar liar vaginanya mengucurkan cairan dan berdenyut keras sekali sampai Samy merasa penisnya bisa hancur oleh kekuatan cengkeraman vagina wanita cantik itu. Tamara kembali meledakkan orgasmenya yg kali ini bahkan lebih hebat dibanding yg pertama. Samy akhirnya menyerah, tak tahan lagi saat vagina Tamara menjepit penisnya keras. Dengan kekuatan penuh, dia melesakkan penisnya sedalam mungkin di liang vagina artis itu.
"Ohhggh.. Ohh.." Samy melenguh sambil tubuhnya mengejang, lalu spermanya kembali menyembur deras, kali ini di dalam vagina Tamara, mengisi rahim wanita cantik itu dengan benihnya.
Tamara terhempas di ranjang, nafasnya terengah-engah setelah mengalami persetubuhan dan orgasme yg gila-gilaan tersebut. Tubuh telanjangnya yg putih mulus bermandikan keringat sampai berkilat. Selama beberapa detik lamanya gelombang kejut orgasme membuat Tamara seolah melayang beberapa senti di udara. Untuk pertama kali sepanjang hidupnya,Tamara merasakan gelombang orgasme yg begitu dahsyat. Mike Lewis sekalipun belum pernah membuatnya orgasme sedemikian hebat. Jauh di dalam pikiran liarnya, dia justru ingin merasakan sensasi orgasme seperti itu lagi. Tapi hati kecilnya yg masih normal memberontak saat ingat kalau persetubuhan yg dialaminya ini adalah sebuah perkosaan. Kedua hal yg bertentangan itu membuat Tamara terguncang dan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis terisak. Dan syok hebat yg dialaminya itu pula yg membuatnya tidak melawan saat Samy menarik tubuh mulusnya dan mendaratkan ciuman ganas di bibir seksinya.
"Astaga. Gue lapar banget nih." kata Samy tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya dari tubuh bugil Tamara. "Elo lapar juga nggak Tam?" tanya Samy. Tamara hanya mengangguk pelan. Samy segera mengenakan pakaiannya dan berlari keluar.
"Jangan ke mana-mana." kata Samy yg kepalanya menyembul dari balik pintu. "Dan jangan pakai baju." katanya lagi sebelum menutup pintu. Tamara diam saja mendengar itu, tapi dia mematuhinya. Tamara hanya menutup tubuhnya yg telanjang dengan selimut, lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi. Samy kembali ke kamar seperempat jam kemudian setelah Tamara selesai membersihkan bekas-bekas persetubuhan dari tubuhnya. Dilihatnya Samy membawa bungkusan dalam tas plastik yg mengeluarkan bau sedap yg langsung membuat perut Tamara bereaksi. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Tamara untuk menghabiskan makanan yg diberikan Samy padanya.
Perut yg kenyang membuat keduanya seperti kembali terisi ten****ya. Samy kembali melancarkan aksinya. Ditariknya selimut yg menutupi tubuh Tamara. Tamara spontan menjerit kecil saat tubuhnya kembali telanjang bulat di hadapan Samy.
"Hehehe..." Samy tertawa. "Payudara elo montok banget Tam.." kata Samy sambil mengelus-elus payudara mulus Tamara yg membusung tegak. Tamara merinding dibuatnya, dia menahan nafas saat tangan kasar Samy menyentuh kulit payudaranya, seolah ada amplas kasar di atas payudaranya yg lembut.
"Ohh.. mulus.." Samy mendengus merasakan kemulusan dan kelembutan payudara Tamara. Dia lalu mulai meremas-remas payudara lembut itu dengan ganas membuat Tamara mendesah menahan desakan birahinya yg mulai bangkit. Sambil terus meremas-remas payudara Tamara, Samy juga mulai mendaratkan ciuman-ciuman ganas pada puting payudara indah itu. Sesekali, seperti bayi yg menyusu, Samy juga mengulum puting payudara Tamara dan mengisap serta menyedotnya lembut. Sesekali lidah Samy juga menari di atas payudara Tamara, membuat birahi bintang sinetron cantik itu kian meledak.
"Ohh.. ahh.. ahh.." Tamara mendesah liar di tengah deru nafasnya yg memburu menahan desakan libido yg tak terkendali.
Pelan-pelan serangan lidah Samy meluncur ke daerah perut Tamara yg rata dan licin, dan terus turun ke bagian s*****kangan artis cantik itu.
"Ohh.." Tamara mendesah, tubuhnya mengejang saat Samy mulai mengaduk-aduk daerah kemaluannya. Samy makin menjadi-jadi. Samy menyusupkan wajahnya ke s*****kangan Tamara sambil kedua tangannya mencengkeram bongkahan pantat Tamara yg montok.
"Ohh.. ohh.." Tamara kembali mendesah merasakan lidah Samy menelusuri belahan vaginanya. Kakinya seolah lemas ketika rangsangan dari lidah Samy menyebar ke sekujur tubuhnya.
"Ohh.. memek artis memang beda.." ujar Samy di tengah usahanya menjilati vagina Tamara. "Biar udah punya anak tapi tetap hot.." Tamara memang selalu rajin merawat organ vitalnya itu dengan cermat. Dia juga melakukan operasi vaginoplastis untuk memperbaiki bagian vitalnya itu.
"Samy yg makin yakin telah menguasai artis seksi itu sepenuhnya, kian bersemangat. Dia memasukkan tipa jarinya sekaligus ke dalam liang vagina artis itu lalu mengaduk-aduk liang vagina itu dengan liar.
"Ahhkkh.. ohgghh.. ohh.." Tamara mengejang-ngejang dengan kepala menggeleng ke kiri ke kanan merasakan sensasi kocokan jari tangan Samy. Tubuh Tamara dengan cepat merespon sensasi liar yg timbul dari kocokan jari tangan Samy pada liang vaginanya. Tubuh telanjang yg putih mulus itu menggeliat dan mengejang kuat.
"OHHH... AHHH.." Tamara mengerang keras, pertahanannya jebol saat gelombang orgasme kembali melanda tubuhnya, vaginanya langsung basah oleh cairan kewanitaan yg membludak.
Tidak mau membuang momen yg bagus itu, Samy buru-buru melepaskan seluruh pakaiannya sampai telanjang. Disuruhnya Tamara menghadap dinding dengan posisi berdiri menungging dan kedua tangan bertumpu pada tembok. Lalu dengan kasar Samy membenamkan penisnya ke dalam liang vagina Tamara.
"Ohhkk.." Tamara mengerang lirih saat penis besar itu kembali menjejali vaginanya. Selama beberapa puluh detik Samy mendiamkan penisnya membenam di dalam liang vagina artis seksi itu seperti ingin menikmati kehangatan dan kelembutan cengkeraman vagina yg mulai berdenyut itu. Kemudian dengan tangan mencengkeram pantat Tamara yg padat, Samy melanjutkan usahanya menggagahi artis itu. Kembali digenjotnya vagina Tamara dengan gerakan kasar dan brutal. Tamara benar-benar tidak berdaya menolak perlakuan hina itu. Untuk kedua kalinya Tamara diperkosa oleh bekas sopirnya sendiri. Meski begitu, tanpa disadari, Tamara ternyata malah merasakan kenikmatan luar biasa dari persetubuhannya dengan bekas sopirnya itu. Tubuhnya tanpa sadar merespon begitu saja sehingga waktu Samy menghentikan sodokan penisnya, secara naluriah Tamara menggerakkan pantatnya sendiri maju mundur memaksa penis Samy terus memompa vaginanya.
"Ohh.. yess.. ahh.. bagus Tam.. ohh.. ayo.. teruss.. terus.." Samy menyemangati goyangan Tamara yg kian liar. Tampaknya Tamara sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Yg dia inginkan hanyalah melampiaskan gairah seksualnya sebanyak dia mampu.
Samy yg merasakan respon Tamara menjadi sangat puas telah berhasil menguasai artis cantik itu luar dalam. Dia makin liar dalam menggagahi Tamara. Gerakannya menjadi brutal membuat Tamara merasa tersiksa di tengah kenikmatan seksual yg menderanya. Desahan dan lenguhannya kian menjadi-jadi dan makin berubah menjadi manja. Samy tentu saja makin senang dengan reaksi Tamara. Selama sehari semalam penuh dia terus menerus menggagahi wanita cantik itu, mereguk kenikmatan seksual dari tubuh artis seksi itu sebanyak mungkin. Pikirannya kian dipenuhi impian liar yg selama ini hanya bisa diwujudkan dalam imajinasinya.
"Ohh.. ohh.. ayo Tam.. terus.. lebih keras.. ayo.." Samy melenguh, memeluk erat tubuh telanjang Tamara yg bermandi keringat.

"Dasar perempuan hina!" teriak Rafly sambil melemparkan sesuatu ke wajah Tamara. Tamara seolah merasa tubuhnya menyusut seukuran botol melihat kemarahan bekas suaminya itu. Foto-foto perselingkuhannya dengan Mike Lewis berhamburan di sekitarnya. Tamara hanya bisa berdiri mematung sambil menangis tersedu-sedu di hadapan Rafly.
"Mulai hari ini jangan harap kamu bisa bertemu Rassya lagi. Pintu rumah ini sudah tertutup bagimu untuk selamanya!" Rafly berseru keras sambil menunjuk ke arah Tamara. Tamara langsung terkesiap pucat mendengarnya.
"Jangan Raf!" Tamara tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia langsung berlutut dan memeluk kaki Rafly. Tangisnya kian menjadi-jadi. "Maafkan aku Raf! Aku memang bejat! Aku memang tidak pantas untukmu, tapi jangan pisahkan aku dari Rassya.." Tamara menangis memohon-mohon di bawah kaki Rafly.
"Percuma kamu berakting di depanku!" Rafly kian murka, disepaknya Tamara sampai terjengkang. "Pergi dari hadapanku, dan jangan kembali lagi!"
"Jangan Raf! Jangan! Please! Ijinkan aku ketemu Rassya! Please!" teriak Tamara di tengah tangisnya yg memilukan.
"Tidak..!" Tamara terbangun dari tidurnya. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi membasahi tubuhnya sampai gaun tidurnya yg tipis basah kuyup oleh keringat. Nafasnya memburu seperti baru saja berlari ratusan kilometer.
Tubuh Tamara gemetar sesaat, ngeri membayangkan mimpinya barusan. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah lalu menangis tersedu-sedu. Tamara merasa hidupnya seolah tidak berarti lagi sejak Samy menjebaknya dan menjadikan dirinya sebagai budak pemuas nafsu seksual. Dalam dua hari terakhir, seolah tidak ada waktu yg dilewatkan oleh Tamara tanpa melakukan hubungan seksual dengan Samy, dan Tamara tidak bisa menolak keinginan bekas sopirnya itu sedikitpun. Hal itu yg kemudian memaksa Tamara untuk memproteksi dirinya dari kemungkinan hamil dengan memasang kontrasepsi. Tamara tidak bisa menolak Samy menggunakan tubuhnya sebagai pemuas nafsu, tapi Tamara tidak rela kalau bekas sopirnya itu menghamili dirinya.
Tamara bangkit dari tempat tidurnya dengan gerakan enggan. Dilihatnya matahari mulai menyinari kamarnya lewat sela-sela tirai. Tapi belum sempat Tamara berbuat apa-apa, tiba-tiba ponselnya berdering nyaring. Tamara langsung lemas seperti kain basah mengetahui siapa yg meneleponnya. Nama Samy tertera di layar ponselnya.
"Halo Tamara sayang." Samy menyambar sebelum Tamara sempat berkata apa-apa.
"Ada apa lagi?" Tamara menjawab kasar.
"Wah, jangan marah-marah gitu dong Sayang. Kalau elo marah bikin gue tambah horny lho." Samy menjawab seenaknya.
"Sudah, jangan basa-basi!" Tamara menukas ketus. "Elo mau apa lagi?"
"Lho, biasanya gimana?" Samy tertawa. "Kalau gue nelepon berarti gue kepingin ngentotin elo."
Tamara berdesir mendengarnya. Jantungnya berdetak lebih kencang seolah digedor oleh tangan yg tak terlihat.
"Baiklah.." Tamara menjawab gemetar. "Di mana?"
Tamara mendengar Samy tertawa memuakkan yg membuatnya gondok setengah mati. Nyaris saja dia membanting ponselnya saking kesalnya.
"Biar lebih bebas, kita ketemu di vila di Puncak, OK?" kata Samy masih dengan gaya seenaknya.
Bagai kertas yg tersiram air, Tamara langsung lesu mendengar perintah Samy. Villa miliknya di puncak adalah tempat yg strategis untuk bersembunyi. Tanahnya yg luas dan tersembunyi oleh pepohonan membuat siapapun yg ada di sana bebas melakukan apapun tanpa takut diintip. Apapun yg direncanakan Samy kali ini, jelas bukan sesuatu yg menyenangkan buatnya. Tapi Tamara tidak punya pilihan lain. Dia buru-buru mandi dan berpakaian. Tamara hanya mengenakan kaus ketat tanpa lengan dan celana pendek selutut, dan sesuai pesan Samy, Tamara tidak mengenakan bra dan celana dalam.

Seorang penjaga menyambut kedatangan Tamara dengan antusias. Penjaga villa itu sudah tua. Wajahnya begitu keriput dan kendor seolah kulitnya itu terlalu lebar untuk tubuhnya yg kecil pendek dan berkaki agak bengkok, rambutnya tipis dan beruban seluruhnya.
"Pagi Mbak Tamara.." kata penjaga itu penuh hormat. Tamara mengangguk kaku dan menatap penjaga villanya dari balik kacamata hitamnya.
"Pagi Pak Abdul." Tamara menjawab kaku, terkesan angkuh. "Mobil siapa itu?" Tamara menunjuk mobil butut yg terparkir di halaman.
"Itu mobilnya si Sam Mbak." jawab Pak Abdul. Sekali lagi jantung Tamara mencelos mendengar nama Samy disebut. Dia buru-buru memarkir mobilnya dan memasuki ruang tamu. Samy ternyata sudah menunggunya di ruang tamu.
"Akhirnya datang juga." Samy berubah cerah melihat kedatangan Tamara. Selama beberapa detik dia memandangi artis cantik itu dari ujung kaki ke ujung kepala. Samy lalu memberi isyarat agar Tamara mendekat, lalu tanpa basa-basi lagi, Samy segera memeluk pinggang wanita cantik itu sambil mendaratkan ciuman ganas di bibir Tamara yg menggemaskan itu. Tamara meskipun enggan tidak berani menolak keinginan Samy. Dibiarkannya bekas sopirnya itu menggeluti bibirnya selama beberapa saat.
"Bagaimana perjalanannya Sayang? Lancar kan?" tanya Samy di tengah usahanya menggeluti bibir Tamara.
"Sudahlah." Tamara akhirnya menghindari ciuman Samy. "Jangan basa-basi. Buruan kalau mau ngentotin gue. Gue banyak acara hari ini."
Samy hanya tertawa mendengar ucapan Tamara.
"Bagus. Langsung To the point." Samy berujar. "Udah nggak tahan ya? Kebelet pingin ******* ya?" Samy mengejek. "Tapi sayang sekali Tam, hari ini gue pingin makai elo sehari penuh. Jadi apapun acara elo hari ini, elo musti batalin."
Tamara terbelalak mendengar hal itu. Dia mendorong Samy dan melepaskan diri dari dekapannya.
"Elo gila!" Tamara nyaris menangis dibuatnya. "Elo sudah bikin gue hancur. Jangan hancurin karir gue juga!" Tamara membentak murka. Tapi Samy tenang-tenang saja, malah dia pasang tampang bego.
"Terserah elo sih." Samy berujar santai. "Elo bolos sehari nggak bakal bikin karir elo hancur. Kalau elo nggak nurutin perintah gue, baru karir elo hancur."
Tamara langsung terkesiap pucat. Kemarahannya lenyap berganti dengan kengerian, harga dirinya sebagai selebriti terpandang seperti terpuruk ke dalam jurang paling dalam dan paling gelap.
"Jangan Sam." Tamara menggeleng ngeri. Dia akhirnya pasrah. Samy tertawa penuh kemenangan mendengar nada kepasrahan dalam ucapan Tamara.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Buka baju elo sekarang! Cepat!"
"Di sini?" Tamara terperanjat bukan main. "Tapi.. Elo gila! Ini di ruang tamu..! Bagaimana kalau ada yg datang?" Tamara benar-benar putus asa menghadapi Samy. Tangisnya akhirnya benar-benar meledak.
"Gue nggak peduli." Samy menjawab santai. "Lagipula gue memang kepingin tubuh elo ditonton orang."
"Jangan Sam.. Jangan.. Kita ******* di kamar saja, jangan di sini.. Please.." Tamara menggeleng sambil menangis tersedu. Dia ngeri membayangkan tubuhnya ditonton banyak orang.
"Kalau gue bilang buka ya buka!" kata Samy yg mulai tidak sabar. Tamara sungguh kehabisan akal dalam menghadapi ulah Samy. Dia benar-benar tidak berdaya sedikitpun menolak perintah bekas sopirnya itu. Akhirnya, meskipun dengan keengganan luar biasa, Tamara akhirnya menurut. Dia segera menarik kausnya sampai lepas, seketika itu payudaranya yg tidak mengenakan bra langsung mencuat telanjang.
"Ohh.. mulus.." Samy mulai membelai dan mengelus-elus sepasang payudara montok itu. "Udah nggak tahan ya Tam, sampai nggak sempat pakai kutang." Samy mengejek. Tamara merasa ada pisau mengiris telinganya, merasa sakit hati oleh penghinaan Samy. Tapi rangsangan yg dilakukan Samy pada kedua belah payudaranya segera membuatnya melupakan penghinaan itu. Tamara mulai merintih lirih saat Samy makin gencar membelai dan meremas payudaranya dengan gerakan kasar seperti orang mengaduk-aduk adonan roti.
"Ohh.. ohh.. ahh.. ahh.." Tamara segera merasakan birahinya bangkit dengan cepat akibat rangsangan pada daerah payudaranya. Samy menjadi kian bersemangat mengetahui respon Tamara. Dia mulai mengenyot-ngenyot payudara wanita cantik itu dengan mulutnya sampai meninggalkan bekas kemerahan pada payudara yg putih mulus itu. Kenyotan bibir Samy membuat Tamara makin terhanyut. Dia merintih-rintih menahan kenikmatan yg kian meninggi, apalagi saat lidah Samy mulai menggelitik puting payudaranya, membuat Tamara makin terangsang. Karena itulah Tamara tidak melawan saat Samy memelorotkan celana pendeknya, sehingga membuat Tamara sempurna telanjang bulat.
"Ohh.. Memeknya mulus.." Samy mengelus-elus daerah kemaluan Tamara yg sekarang licin tanpa sehelaipun rambut menutupinya. Sentuhan tangan Samy pada daerah kemaluannya membuat Tamara mengejang seolah ada aliran listrik menyambar tubuhnya.
Samy lalu membimbing Tamara duduk di sofa pendek, lalu disuruhnya wanita cantik itu mengangkang, kedua kaki Tamara kemudian disangkutkan pada sandaran tangan sehingga daerah vagina artis itu membuka lebar.
Samy lalu berlutut tepat di depan Tamara, sedetik kemudian Samy membenamkan wajahnya ke s*****kangan wanita bertubuh indah itu. Samy menciumi dan menjilati vagina Tamara tanpa merasa jijik sedikitpun, sementara tangannya meraba dan mengelus paha mulus artis itu.
"Enghh.. ohhggh.. ahhss.. ahh.." Tamara mendesis-desis merasakan kenikmatan yg melanda tubuhnya. Permainan Samy pada vaginanya membuat Tamara benar-benar terlena. Tamara tidak lagi terlihat terpaksa tapi justru sangat menikmati permainan Samy.
Mengetahui reaksi Tamara, Samy kian berani. Kali ini dia memasukkan jari tangannya ke dalam liang vagina artis itu dan mengaduk-aduk kemaluan wanita cantik itu dengan ganas. Hal itu membuat Tamara menggeliat-geliat antara sakit bercampur nikmat. Wajah Tamara sampai merah padam merasakan rangsangan demi rangsangan yg mendera tubuhnya. Desakan birahinya kian kuat mendesak tubuh Tamara sampai seolah Tamara merasa tubuhnya membengkak dua kali ukuran semula.
"Ohh.. yeah.. ayo Tam, jangan ditahan.. ayo.. terus.." Samy seolah memberi semangat pada Tamara untuk mengeluarkan orgasmenya sambil mempercepat kocokan jarinya pada liang vagina artis itu. Tidak tahan menerima rangsangan, Tamara akhirnya mengejang kuat, tangannya mencengkeram sofa dengan kuat seolah akan mengoyak kain sofa itu.
"OHHKH.. AHHKKH.. AAHH.." Tamara melolong seperti seekor srigala betina. Gelombang orgasme yg melanda tubuhnya bagaikan sengatan listrik yg menggetarkan seluruh syaraf di tubuhnya. Tubuh Tamara mengejang kaku dan berkelojotan selama beberapa detik sebelum melemas dan terkulai di sofa. Vaginanya banjir oleh cairan seks yg membludak.
Samy tertawa puas melihat Tamara mengalami orgasme. Reaksi Tamara ternyata lebih dari yg diperkirakannya.
"Gimana Tam? Enak kan?" tanya Samy melecehkan sambil dia sendiri mencopot seluruh pakaiannya sampai telanjang. Penisnya langsung mencuat dahsyat membuat Tamara bergidik. "Sekarang giliran gue." kata Samy sambil menarik pantat Tamara agak maju. Kemudian pelan-pelan Samy mendorong penisnya pada celah vagina Tamara.
"Ohhgh.." Tamara mengerang pelan sambil menggigit bibir saat penis berukuran besar itu melesak ke dalam liang vaginanya yg licin. Vagina Tamara mengerut sesaat, seperti mencengkeram penis Samy.
"Ehhkh.." Samy mengerang tertahan saat merasakan jepitan vagina Tamara yg bagai hendak menarik penisnya sampai putus. Kehangatan dan sensasi nikmat mulai mengaliri syaraf seksual Samy membuat Samy mengejang selama beberapa detik. Dia mendiamkan penisnya sejenak seperti berusaha menyerap kenikmatan dari vagina Tamara. Pelan-pelan Samy mulai menarik penisnya dari vagina Tamara. Samy merasakan vagina itu melakukan perlawanan seperti menggenggam penisnya. Kemudian Samy mendorong kembali penisnya dengan hentakan keras.
"Ohhk.." Tamara menggeliat merasakan hujaman keras penis Samy yg seolah membelah vaginanya. Tubuhnya menekuk ke atas membuat payudaranya mencuat menggemaskan. Tanpa ampun Samy segera meremas payudara mulus dan padat itu dengan ganas, sementara pada saat bersamaan penisnya mulai menggenjot vagina Tamara.
"Ohh.. ohh.. aahh.. aahh.." Tamara mengerang sambil tubuhnya menggeliat tiap kali Samy menyodokkan penisnya. Genjotan demi genjotan penis Samy pada vaginanya ditambah remasan brutal pada payudaranya membuat Tamara terhanyut. Dia akhirnya menikmati persetubuhannya dan kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Yg diinginkannya hanyalah mendapatkan orgasme secepat mungkin. Tapi kali ini Samy tidak membiarkan Tamara mencapai orgasme dengan mudah. Setiap beberapa saat Samy menghentikan genjotannya untuk menghentikan orgasme Tamara. Hal itu tidak saja membuat Tamara merasa tersiksa tapi juga frustrasi karena orgasmenya tidak tercapai. Tubuh Tamara seolah sudah ingin meledak oleh keinginan orgasmenya.
"Ohggh.. oghh.. ohh.. ahh.." Tamara merintih-rintih tersiksa oleh dorongan orgasmenya. Wajahnya sampai merah padam mencoba mendesak orgasmenya keluar, tapi Samy terus menggagalkan usaha Tamara membuat artis cantik itu makin tersiksa oleh keinginannya sendiri sampai-sampai Tamara memaksa menggerakkan pinggulnya sendiri membuat penis Samy tetap menyodok vaginanya.
Kemampuan Samy mengendalikan Tamara membuat persetubuhan itu berlangsung bermenit-menit lamanya. Jelas sekali kali ini Samy sudah mempersiapkan diri sebaik mungkin.
Bosan dengan gaya itu, Samy lalu menyuruh Tamara berdiri dan menunggingkan pantatnya sambil tangannya bertumpu pada sandaran kursi. Dilebarkannya kaki Tamara selebar mungkin. Dengan posisi itu maka Samy kembali merudal vagina Tamara dari belakang.
"Ahkh.. ohh.. ohh.." Tamara kembali merintih liar saat merasakan vaginanya kembali menerima sodokan penis Samy. Permainan seks Samy yg kasar ternyata malah mampu membuat Tamara begitu bergairah. Tamara tidak malu lagi untuk mengimbangi keganasan Samy. Dia ikut menggerakkan pantatnya sendiri seiramam dengan gerakan Samy. Gerakan liar Tamara membuat penis Samy terasa mengaduk-aduk vagina artis cantik itu dan membuat birahi Tamara kian menggebu.
"Ohh.. ohh.. Terus.. ayo terus.. Goyang terus Tam.. ohh.. ohh.." Samy menyemangati Tamara yg semakin liar. Bagaikan kuda betina, gerakan pantat Tamara kian kuat membuat penis Samy makin keras mengaduk vagina artis seksi itu.
"Ohh.. yes.. ohh.. yes.. Terus Tam.. ohh.. lebih kuat.. ohh.. Teruss.." Samy meracau mendesis-desis sementara tangannya sibuk menggerayangi dan mengelusi setiap inci tubuh mulus Tamara yg bisa dijangkaunya.
Tamara semakin tidak bisa menahan diri. Lenguhannya kian keras menggema di ruang tamu sementara gerakan tubuhnya kian lia

Nikmatnya Dikerjai Mbak Ambar

Perkenalkan, namaku Nico usia 23 tahun, tampang lumayan (kata yang lain lho), kulit putih, tinggi 167-an. Aku memiliki sebuah pengalaman yang sangat istimewa, penglaman yang pertama kali dan tak dapat terlupakan, yang terjadi ketika aku masih berumur 13 tahun, masih duduk di kelas 1 SMP. Tentu saja ketika itu aku masih sangat muda, tinggiku dulu masih belum ada 160-an, dan belum banyak mengetahui apa-apa, apalagi dunia seks, walaupun dulu aku juga pernah menonton beberapa film blue, namun pengetahuanku mengenai seks yang sebenarnya masih sangat minim. Sebenarnya seluruh keluargaku ada di Semarang, namun aku dititipkan oleh orangtuaku kepada Oomku untuk sekolah di salah satu SMP swasta favorit di Jakarta.

Oomku adalah pemilik dan juga merangkap salah satu jabatan direktur di salah satu perusahaan, yang berlokasi di kawasan bisnis Kuningan, namun oleh karena kesibukan kerja yang amat banyak, Oomku membuat juga sebuah kantor mini di rumahnya, yang diisi hanya oleh beberapa karyawan saja. Dengan perangkat komputer yang canggih sehingga dapat langsung diakses ke kantor pusat.

Salah satu staff Marketing perusahaan Oomku bernama Mbak Ambarwati, dan biasa kupanggil Mbak Ambar, dan tampaknya Mbak Ambar menjadi salah satu staff kepercayaan Oomku, karena walaupun sebenarnya kantornya adalah di Kantor Pusat Kuningan, namun ia sering membantu Oomku di kantor mini di rumahnya yang sangat besar, sehingga aku sering melihatnya, karena kadang-kadang aku sering masuk kantornya untuk meminjam alat-alat tulis untuk mengerjakan pekerjaan sekolahku.

Mbak Ambar sangat cantik dan manis, usianya sekitar 25 tahun, tingginya kurang lebih 160-an, tubuhnya sangat ideal, kulitnya kuning langsat, serta memiliki rambut yang dipotong pendek sebahu. Dengan baju kerjanya Mbak Ambar terlihat sangat cantik dan seksi. Apabila ia sedang melepas blezernya, buah dadanya tampak padat, ukurannya sedang-sedang saja. Karena ia selalu memakai rok span mini, maka pantatnya terlihat padat dan kencang, karena tercetak dengan sangat jelas di rok spannya yang ketat.

Sering kali ketika aku sedang mengerjakan tugas sekolahku di salah satu meja kerja yang kosong, aku melirik ke arah betis Mbak Ambar yang sangat mulus dan indah, Mbak Ambar juga selalu memakai sepatu hak tinggi warna hitam yang seksi, sehingga menambah keindahan kaki dan betisnya. Pernah suatu kali ketika aku sedang melirik betis indahnya Mbak Ambar, tanpa kusadari ia mengetahuinya dan melihat ke arahku. Begitu aku tiba-tiba sadar dan melihat ke arahnya, aku malu sekali, jantungku berdegup kencang. Namun Mbak Ambar justru tersenyum kepadaku, yang malah membuatku makin jadi salah tingkah. Mbak Ambar memang orangnya ramah dan baik hati, bahkan ia terkadang memberiku hadiah-hadiah kecil. Namun tetap saja apabila aku sedang diajak bicara olehnya, jantung ini berdebar-debar, entah kenapa.

Peristiwa ini bermula pada suatu hari di hari Sabtu, ketika sekolahku libur. Seperti biasanya jika hari Sabtu kantor Oomku tutup, dan kebetulan hari itu Oomku sedang pergi ke luar kota untuk urusan bisnisnya. Hari itu sekitar jam 10 pagi, dan aku sedang duduk-duduk di teras depan, namun tiba-tiba Mbak Ambar datang dengan pakaian kerjanya seperti biasa.

"Eh, Mbak Ambar ! Lho, Mbak ini kan hari Sabtu, kok masuk kerja ?", tanyaku keheranan. "Oh, soalnya ada pekerjaan yang Mbak mesti selesaikan hari ini juga." jawabnya. "Oh, begitu. Tapi di kantor nggak ada siapa-siapa lho." kataku. "Ah, nggak apa-apa kok, Mbak bisa bekerja sendiri." katanya. " Tapi kamu mau khan temenin Mbak di kantor, supaya nggak terlalu sepi.", tanyanya. Wah, tentu saja aku mau, aku kan jadi bisa puas ngeliatin Mbak Ambar, memang tawaran ini yang kutunggu-tunggu, kataku dalam hati, he..he..he... "Ehm, baik Mbak, aku temenin deh..." jawabku. Sungguh aku yang saat itu masih berumur 13 tahun, sama sekali tidak mempunyai prasangka apapun.

Di dalam ruang kerja kantor, Mbak Ambar bekerja menggunakan komputernya, sedangkan aku sendiri bermain game dengan komputerku (dulu belum ada internet sih...), tepat di sebelah meja Mbak Ambar. Saat itu kulihat Mbak Ambar sedang sibuk dengan pekerjaannya, tentu saja kesempatan ini kugunakan sebaik-baiknya, untuk memperhatikan kecantikan Mbak Ambar habis-habisan. Keperhatikan wajah Mbak Ambar yang begitu cantik, lalu buah dadanya yang padat. Karena Mbak Ambar menggunakan rok span yang mini, maka ketika ia duduk dengan menumpangkan kakinya, pahanya yang putih mulus itu langsung terlihat, juga betisnya yang indah, kutatap habis-habisan. Namun tiba-tiba Mbak Ambar menatapku sambil tersenyum menggoda, " Lagi ngeliatin apa kamu, Nico ?" Deg ! Astaga..., aku benar-benar kaget, jantungku serasa copot, aku benar-benar panik, " Eh.., anu..., ehm..., nggak kok Mbak...", jawabku terbata-bata.

"Nggak apa-apa kok, kalau kamu suka Nico...", katanya sambil tersenyum nakal. Namun Mbak Ambar malah berdiri ke arah pintu dan menguncinya, lalu menghampiriku dan berdiri tepat di depanku, bau harum parfumnya terasa olehku. Tentu saja aku jadi makin berdebar-debar nggak karuan. "Co, menurut Nico, Mbak Ambar cantik nggak ?", tanyanya menggoda. "Eh... enggg.. iya.." jawabku kebingungan sambil menunduk, aku bahkan tidak berani melihatnya. "Nah... kalau begitu Nico mau dong kalau Mbak Ambar minta tolong." katanya, dan Astaga... Mbak Ambar bertanya sambil mengelus pipiku dengan punggung telapak tangannya. Perasaanku saat itu benar-benar campur-aduk, aku merasakaan kehalusan dan kelembutan tangannya, namun bercampur dengan grogi dan bingung. Aku hanya bisa mengangguk saja.

Lalu Mbak Ambar memegang tanganku dan menariknya dengan lembut, sehingga aku bangun dari dudukku.
"Yuk.., ikut Mbak.., Mbak mau ajarin Nico sesuatu.", katanya sambil menuntunku berjalan ke arah meja kerja yang kosong. Sebagai seorang anak, yang baru berangkat remaja, dan sedang kebingungan, saat itu aku benar-benar bagai kerbau yang dicucuk hidungnya, aku mengikuti semua kemauan Mbak Ambar.

"Nah,.. sekarang kamu berdiri di sini, dan diam dulu yah,..." katanya. Aku berdiri dengan bersandar pada meja. Lalu tiba-tiba Mbak Ambar mengecup bibirku dengan lembut, aku benar-benar kaget, sungguh, baru kali ini aku merasakan ciuman, rasanya benar-benar nikmat, bibir Mbak Ambar terasa lembut dan basah, aku hanya bisa diam saja sambil memejamkan mata, dan terus-terang saat itu penisku langsung bergerak naik
perlahan.

Kemudian tiba-tiba tangan Mbak Ambar, bergerak menuju celana pendekku, dan memengang tali celanaku. "Mbak, eh..., anu..., Nico mau diapain Mbak ?...", tanyaku dengan gugup, terus-terang perasanku saat itu agak takut. Nngak tau kenapa, walaupun aku pernah melihat film blue satu-dua kali, namun menghadapi kenyataan yang sebenarnya dan yang pertama kayak begini, jantungku berdegup sangat kencang.

"Kamu tenang saja deh Nico.., percaya deh sama Mbak, pasti nanti kamu suka.", bujuknya sambil kembali tersenyum nakal. Lalu Mbak Ambar mulai berlutut di hadapanku, dan mulai mengendurkan tali celanaku, "Mbak... jangan Mbak... ", aku sungguh-sungguh bingung dan takut, sungguh bukan pura-pura, badanku terasa panas-dingin, namun Mbak Ambar tidak memperdulikanku ia malah sibuk mencoba membuka celanaku, nampaknya nafsu birahinya sudah tak bisa lagi dikendalikan. Setelah talinya kendur, lalu Mbak Ambar melorotkannya, karena aku kebetulan sedang tidak memakai celana dalam, langsung saja penisku terjulai keluar. Ukuran penisku saat itu masih tanggung, bulunya pun masih sedikit karena memang baru tumbuh, namun kelihatannya hal itu justru membikin Mbak Ambar menatap penisku dengan tatapan buasnya. "...Mbak......", ujarku lirih dengan gemetar, lututku terasa lemas. Mbak Ambar yang tahu akan keadaanku lalu memegang pinggangku, dan menyuruhku naik, duduk di meja. Seperti terhipnotis akupun mengikutinya lagi. Lalu Mbak Ambar memegang penisku yang sudah agak keras itu, Ah..... genggaman jari-jari lentik Mbak Ambar terasa sangat lembut di penisku...

Lalu tiba-tiba dengan lembut Mbak Ambar, menjilat kepala penisku perlahan, "Ahh.... Mbaaaak....." jeritku lirih, Gila.... rasanya.... sulit dilukiskan...., bergetar seluruh tubuhku, saat lidah Mbak Ambar yang lembut menyapu permukaan kepala penisku. Lalu tanpa sungkan-sungkan lagi Mbak Ambar langsung mengulum penisku, benar-benar Gila rasanya.... "...Mbaak... aaaah.... Mbaaak....." aku mengerang-ngerang, tak karuan. Mbak Ambar terus mengulum-ngulum, sambil mengocok-ngocok, dan menyedot-nyedot penisku. Luar biasa rasanya.... tak terbayangkan nikmatnya...

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tak tertahankan, yang akan keluar dari tubuhku. Aku makin menggila mengerang-ngerang, Mbak Ambar yang rupanya tahu waktunya telah tiba, langsung menyedot penisku kuat-kuat. "...Mbaaaaaaaaaak..... Aaaarghhhhhhhhh..............", aku menjerit kencang, air maniku muncrat menyembur keluar, untuk pertama kali aku merasakan puncak kenikmatan yang tak terbayangkan, yang baru pernah aku alami... lalu tubuhku terkulai lemas.... tergeletak di atas meja.....

Namun air maniku yang tadi menyembur keluar di dalam mulut Mbak Ambar malah disedot, dihisap, dan ditelannya. Nampaknya Mbak Ambar rakus sekali dengan air maniku, bahkan karena saking banyaknya ada air maniku yang meleleh keluar dari mulutnya, dan melumuri sekitar bibirnya, dan dengan menggunakan lidahnya Mbak Ambar menyapunya semua lalu menelannya. Terus terang melihat adegan ini aku benar-benar heran dan agak merinding dibuatnya... Namun aku tidak peduli, karena tubuhku saat ini sangat lemas, dengan sisa tenaga yang ada aku berjalan ke sofa panjang di ruangan itu, dan aku langsung rebah dan terlelap.......

Sekitar satu jam aku tertidur, ketika terbangun aku merasakan suatu perasaan yang Wah..., pokoknya lain dari biasanya. Aku melihat Mbak Ambar sedang mencetak dengan printernya, nampaknya perkerjaannya sudah hampir selesai.

Setelah pekerjaan Mbak Ambar selesai, dan mematikan komputernya, ia menghampiriku. "Co... badan Mbak Ambar pegel nih, pijitin dong... mau khan ?", pintanya. "Iya Mbak." jawabku.

Mbak Ambar langsung terlungkup di sofa panjang, setelah aku bangun. Sejenak aku bingung, hendak bagaimana. Memang sering sih aku membayangkan menyentuh Mbak Ambar, tapi setelah dikasih kesempatan ini aku malah bingung. "Ayo.., kok malah bengong sih.", seru Mbak Ambar. "I..iya Mbak...". Masih agak ragu, namun mungkin karena peristiwa pertama tadi aku jadi agak berani. Kuusap pelan-pelan pundak Mbak Ambar, lalu perlahan kupijit-pijit, lalu turun pelan-pelan ke punggungnya. Ketika hampir mencapai ke dua buah pantatnya yang montok itu, aku agak ragu. "Ayo Co, jangan ragu-ragu.." serunya yang seakan tahu akan keraguanku.

Dengan agak berdebar kutempelkan kedua telapak tanganku ke buah pantatnya yang padat berisi itu. Wah, sungguh empuk, namun padat rasanya, lalu kuremas-remas perlahan, " Hmmm..... pintar kamu Nico...." kata Mbak Ambar sambil merasakan nikmat.

Setelah agak lama bermain di pantat Mbak Ambar, tanganku kembali merayap menyelusuri paha bagian belakang dan betisnya. Wah... betis indah Mbak Ambar yang biasanya hanya bisa kulihat dan kubayangkan saja, sekarang kuusap-usap dan kuremas-remas dengan lembut, sungguh halus sekali rasanya, mulus dan lembut....

Kemudian Mbak Ambar bangun dari terlungkupnya, dan kini duduk bersandar di sofa. "Nico, lepas sepatu Mbak !" perintahnya. Akupun melakukan perintahnya, melepas sepatunya dengan hati-hati. Setelah dilepas ternyata sampai ke ujung kakinyapun sangat halus dan mulus. "Nico, sekarang kamu jilat kaki Mbak !" kali ini tanpa ragu lagi aku ikuti perintahnya. Aku jilat telapak kaki Mbak Ambar yang mulus, lalu kujilatin pula tumitnya yang berwarna merah jambu itu. "Ehmmmm.... kamu nakal Co....", Mbak Ambar kegelian. "Terus naik ke atas yah, jangan berhenti !" pintanya lirih. Dari telapak kaki dan tumitnya, jilatanku naik ke atas. Kujilati betis mulus dan indah Mbak Ambar, benar-benar lembut sekali terasa di lidahku.

Jilatanku terus naik ke atas, kusingkapkan setengah rok spannya ke atas, lalu kujilati paha Mbak Ambar, membuatnya terus menerus merintih kegelian. "Nico, tolong bukain celana dalam Mbak yah...", lalu Mbak Ambar menyingkapkan seluruh roknya ke atas, sehingga celana dalamnya yang putih nampak jelas di depanku. Aha...!, ternyata di bagian tengah celana dalamnya telah basah, rupanya Mbak Ambar sudah sangat terangsang. Tanpa membuka roknya yang disingkapkan ke atas, dengan hati-hati kuturunkan dan kulepaskan celana dalam Mbak Ambar. Wah... luar biasa... baru kali ini aku menyaksikan yang secara nyata memek seorang wanita.

Memek Mbak Ambar sangat indah, bulu-bulunya sangat lebat, bentuk bukit memeknya cembung, di tengahnya terdapat garis bibir memek yang berwarna kemeraha-merahan, sangat merangsang birahi, apalagi di pinggirannya telah nampak basah oleh cairan birahinya.

"Ayo Co, jilatin dong, tunggu apa lagi." serunya. Kali ini aku agak ragu lagi. Namun karena aku pernah di film blue, tampaknya kok enak sekali rasa memek itu, aku jadi penasaran.

Aku dekati memek Mbak Ambar, ada sedikit bau harum birahinya, mula-mula dengan perlahan aku mulai menjilati pinggiran memeknya. "Sshhh... aaahhh.... ssshhhh.... aahhh....", Mbak Ambar mendesis-desis geli dan nikmat. Entah pemandangan apa ini, masih mengenakan pakaian kerjanya dengan lengkap kecuali celana dalam, Mbak Ambar duduk selonjoran di sofa, sementara aku menjilati sesuatu di balik rok spannya.

Aku terus menjilati pinggiran memek Mbak Ambar yang telah basah itu, rasanya asin-asin... Setelah pinggiran memeknya, aku mulai ingin menjilat tengahnya, kulihat di bibir memek Mbak Ambar yang masih rapat itu terdapat cairan basah, lalu aku jilat bagian tengah yang memanjang di memeknya, "Ssssssstthhhhh....." Mbak Ambar mendesis panjang. Lalu kujilati bagian dalam memeknya, kukorek dengan lidah seluruh dinding bagian dalam memeknya untuk mendapatkan cairan memeknya, sehingga membuatnya
menggelinjang-gelinjang, "Nico... aaaaahhh..... aaaahhh....." Mbak Ambar terus mengerang-ngerang.

Lalu aku ingat akan clitnya. Untung di film sudah diajarin dimana mencarinya. Dengan jariku aku renggangkan kedua bibir memek Mbak Ambar, lalu sedikit diangkat ke atas, maka tampaklah ujung clitnya yang mungil yang berwarna pink. Lalu dengan sekali jilatan panjang, aku jilat clit itu, "Aaaaaaaaaauuhhhhhh.........." Mbak Ambar langsung menjerit, ia tersentak kaget. " Nico.. dari mana kamu tau.. hmmmmm..?", tanyanya gemas. "Dari film Mbak", sahutku. "...Dasar...", Mbak Ambar mencubit tanganku. Kelemahan Mbak Ambar ini tidak kusia-siakan, lalu aku langsung menjilati clitnya, kugosok-gosok dengan lidahku, membuatnya semakin gila, menjerit-jerit dan menggelinjang-gelinjang, "Aaaaaahhh.... aaaaaaaahhh..... aaaaaaarghhhhh..... ehmmmmmmmm......." , terus saja kujilati.

Lalu kusedot clit Mbak Ambar dengan satu sedotan panjang, tiba-tiba Mbak Ambar langsung menjerit keras, "Aaaaaaaaaakkkhhhhhhh........", badannya mengejang, bergetar, kedua pahanya dirapatkannya ke kepalaku, dan tangannya meremas sofa itu dengan kuatnya, Mbak Ambar sedang merasakan puncak kenikmatan orgasme yang luar biasa, lendir hangat orgasmenya keluar dari dalam memeknya, yang langsung aku sedot langsung ke memeknya, membuat erangannya semakin panjang, "Aaaaaaakhhhhh....... Nicoooo..... eemmmhhh.... eeemmmhhhhhhh...........", dan akhirnya Mbak Ambar tergeletak lemas .....

Setelah terbaring lemas di sofa beberapa saat, Mbak Ambar kembali bangkit, lalu menarikku ke sofa, dan menciumku, melumat bibirku, lalu lidahnya didesakannya masuk ke mulutku. Aku yang belum berpengalaman menerima saja. Lidah Mbak Ambar bermain di dalam mulutku, mengait-ngait lidahku, Wah... rasanya... geli, nikmat, dan basah...

Kemudian Mbak Ambar melepaskan lumatannya, lalu melepaskan kaosku, sehingga kini aku telanjang bulat. Kemudian Mbak Ambar mendorong badanku agar aku terlentang di sofa. Ia menatap penisku yang sudah mulai bangun kembali, digenggamnya batang penisku, yang langsung saja membuatnya makin mengeras, lalu di kocok-kocoknya. Mulanya perlahan, lama-kelaman makin cepat, Wah.... rasanya benar-benar aduhai... Lalu Mbak Ambar melumat batang dan kepala penisku, Waaaah..... rasanya semakin luar biasa.....

Namun rupanya Mbak Ambar menginginkan lebih dari yang tadi. Ia melepaskan lumatannya di penisku, lalu Mbak Ambar mulai melepaskan pakaian kerjanya. Aku bangkit dan terduduk di sofa. Melihat pemandangan itu, aku jadi deg-degan, namun kali ini sedikit bercampur nafsu. Dan akhirnya Mbak Ambar membuka seluruh pakaiannya, termasuk BH dan celana dalamnya, sehingga ia kini benar-benar telanjang bulat. Wah..... luar biasa indahnya tubuh Mbak Ambar yang kuning langsat, sangat mulus dan seksi. Aku yang baru pertama kali melihat hal seperti ini, walau deg-degan, namun sekarang aku benar-benar terangsang. "Gimana Co, kamu suka kan... pasti kamu belum pernah melihat wanita telanjang, iya kan...?", tanyanya sambil menggodaku. Aku hanya tersipu sambil menganggukan kepala, Mbak Ambar tertawa cekikian...

Lalu Mbak Ambar meraih tanganku, dan diletakan di atas buah dadanya, Wuih..... walau aku deg-degan, tapi rasanya sangat lembut sekali.... "Nah Co, coba kamu remas-remas yach...", katanya. Tanpa disuruh dua kali aku langsung meremasnya dengan perlahan. "Hmmmmmm.......", Mbak Ambar mendesah. Aku terus meremas-remas dengan nikmat, "...Hmmmm.... stthhh..... aaahhhhh.....", Mbak Ambar terus mendesah.

Namun rupanya, tegangan birahi Mbak Ambar sudah sangat tinggi. Tiba-tiba aku langsung diterjangnya, dipeluk, serta dilumatnya bibirku, dengan penuh nafsu. Benar-benar baru kurasakan yang namanya cumbuan dan pelukan wanita, apalagi kita sama-sama dalam keadaan telanjang bulat, jantung ini berdetak kencang.

Tangan Ambar merayap mencari penisku, setelah dapat, lalu digenggamnya batang penisku. Lalu sambil mendudukiku, Mbak Ambar mengarahkan ujung kepala penisku ke memeknya. Aku yang melihat hal itu, jadi bingung sendiri, mau nyoba sih, tapi nggak berani, "Mbak, Nico mau diapain, ja..jangan sampai begitu Mbak..., Nico belum pernah...", kataku terbata-bata.

"Nah... kalau begitu, sekarang Mbak ajarin...", kata Mbak Ambar sambil tersenyum menggodaku. Sambil berkata demikian, Mbak Ambar langsung menekan memeknya ke kepala penisku, "Enghhh...", aku mengerang merasakan seretnya penisku masuk ke memek Mbak Ambar. "Sttthhh...", Mbak Ambar pun rupanya merasakan seretnya gesekan penisku dengan memeknya. Walaupun telah basah oleh lendir memeknya, namun memek Mbak Ambar memang masih sempit, jadi cuma sepertiga batang penisku yang baru berhasil masuk. Namun Mbak Ambar terus memaksakan batang penisku masuk, sampai aku sendiri takut kalau batang penisku lecet. "Stthhhh..... aaaaaahhh....", akhirnya seluruh batang penisku masuk ke dalam memek Mbak Ambar. Sungguh luar biasa, nikmat sekali rasanya batang penisku di dalam memek Mbak Ambar, hangat, lembab, basah, dan serasa dihisap masuk ke dalam lubang sempit yang berulir.

Kemudian Mbak Ambar mulai menaik-nurunkan pinggulnya, Mbak Ambar mengocok penisku di dalam memeknya. "..Aaaaahhhh.... aaaaaahhh...", aku benar-benar merasakan nikmatnya yang pertama kali.

Mbak Ambar pun tak kalah menjerit-jeritnya, "Sstthhh.... Aaaaaahhh.... Nicoo.... aaaaaaahhh.....". Mbak Ambar tampaknya seperti sudah lupa daratan, menggoyangkan pinggulnya kesana-kemari, maju-mundur, kiri-kanan, meliuk-liukan pinggulnya, sambil mengerang-ngerang dan menjerit-jerit. Sampai setelah sekitar sepuluh menit, tiba-tiba Mbak Ambar menjerit kencang, badannya mengejang, ditekannya memeknya ke penisku kuat-kuat, sambil mencengkram erat ke sofa. "Nicoooooo............. Aaaaaaaaaaakkkhhhhhh...........". Aku merasakan memek Mbak Ambar dengan sangat kuat menjepit dan mengempot penisku, rasanya memang sangat luar biasa nikmat, dari dalam memeknnya kurasakan keluar banyak sekali cairan. Karena merasakan jepitan dan empotan yang sangat dahsyat, tiba-tiba aku merasakan kembali sesuatu yang sangat tak tertahankan, dan akhirnya. "Mbaaaaaaaaakkkk........... Aaaaaaaakhhhhh...........", aku menjerit dengan kerasnya, merasakan nikmatnya rasa yang luar biasa, yang tidak bisa kulukiskan, air maniku muncrat dengan derasnya di dalam memek Mbak Ambar, banyak sekali......

Mbak Ambar tersenyum nakal kepadaku, lalu memelukku, aku merasa sangat lemas..... Dan akhirnya kami berdua tertidur sambil berpelukan telanjang di sofa itu........

Ketika aku bangun, Mbak Ambar tersenyum kepadaku, "Nico..., tenyata kamu hebat, lho...., Mbak nggak nyangka..." Aku hanya tersipu saja. "Lain kali kamu mau kan, Mbak ajarin lagi ...?". "...Iya Mbak...", jawabku sambil menggangguk, Yaah tentu saja aku mau setelah merasakan nikmatnya bermain sex dengan Mbak Ambar.

Waktu rupanya sudah menunjukan pukul 3 sore, rupanya kami tertidur cukup lama, untung tidak ada yang datang mengganggu. Sejak saat itu, setiap ada kesempatan, kami selalu melakukan hubungan seks. Bahkan pernah dengan alasan mengajakku jalan-jalan, Mbak Ambar pernah mengajakku ke apartement milik temannya yang sedang kosong, dan kami pun berdua melalukannya lagi, pokoknya luar biasa deh.... Hal-hal seperti itu terus kami lakukan sampai Mbak Ambar akhirnya menikah, dan pindah ke kota asalnya Bandung.....

Begitulah kisah pengalaman seks-ku yang pertama kali dahulu, yang tak dapat kulupakan.........