Selasa, 24 Juni 2014

Mbak Metha

Cerita ini terjadi waktu aku masih berumur 12 tahun. Walau cerita ini udah lama terjadi, tapi peristiwa ini masih membekas dipikiranku. Tentu aja masih membekas, soalnya peristiwa inilah yang membentuk aku jadi maniak seks seperti sekarang.

Mba Meta adalah keponakan jauh ibuku yang ikut tinggal dirumahku. Ya, dia ikut keluargaku sebab keluarganya kurang beruntung. Dia ikut keluargaku sejak kelas dia 2 SMP. Kejadian ini terjadi saat mba Meta duduk di kelas 3 SMA
Mba Meta adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih dan bodynya… hmmm.. masih tergambar jelas bodynya yang aduhai.

Aku masih ingat bagaimana dulu aku sering sekali memelototi dadanya yang ranum. Sebenarnya dadanya tidak terlalu besar, tapi membusung kedepan, benar-benar bulat sempurna. Aku juga senang sekali memperhatikan lekukan pinggangnya yang seperti gitar spanyol itu, pantatnya yang membulat dan pahanya yang putih. Apalagi kalau dia memakai celana pendek favoritnya, terlihat jelas paha mulusnya dan betis bulir padinya yang aduhai. Hmmm…. Pantas saja banyak teman prianya yang mengejar-ngejarnya.

Kejadian ini terjadi waktu aku tinggal berdua denga mba Meta dirumah. Bapakku seperti biasa pergi ke kantor dan ibuku pergi kerumah temannya dengan membawa adikku yang masih kecil. Awalnya aku bermain diluar bersama teman-temanku, tapi karena turun hujan akhirnya aku pulang kerumah dan tinggal berdua dengan mba Meta. Dari pada tidak ada kerjaan, aku menonton tv. Selagi asik menonton kartun di tv swasta satu-satunya waktu itu, mba Meta keluar dari kamarnya dan memanggilku. Saat itu mba Meta memakai kaos putih dan rok SMA nya. Aku menebak pasti dia tidak pakai bra, soalnya puting payudaranya tercetak di kaus putih yang tipis itu.

“Putra ! Ke kamar mba Meta yuk sebentar” panggil mba Meta. aku yang sebenarnya lagi asik menonton dengan agak malas akhirnya masuk ke kamar mba Meta.

“Ada apa mba ?” tanyaku.

“Dari pada nonton tv, mendingan main sama mba Meta” katanya.

“Main apa ?” tanyaku.

“Kita main dokter-dokteran yuk” ajaknya

Aku tertawa.. “Wah itu kan mainannya anak perempuan, lagian aku kan udah gede” jawabku. Padahal adikku sering mengajakku bermain dokter-dokteran.

“Ini beda, kan mba udah dapet pelajarannya di SMA” katanya merayuku.

“Hmmm… ya udah, jadi gimana mainnya ?” tanyaku.

“Mba yang jadi dokternya, kamu yang jadi pasiennya. Sudah kamu tiduran dulu ditempat tidur, mba siap-siap” suruhnya.

Kemudian aku naik ke tempat tidurnya dan berbaring terlentang.
“Sakit apa de? saya periksa dulu ya…” kata mba Meta berakting.

Kemudian dia menaikkan bajuku dan mengetuk-ngetuk dadaku layaknya seorang dokter.

“Wah de ini sakitnya parah” katanya.

Aku tertawa kecil karena mba Meta pandai sekali meniru seorang dokter. Kemudian tangannya turun mengetuk-ngetuk perutku sambil berkata “Sepertinya penyakitnya ada dibawah sini” kemudian dia berusaha membuka kancing celanaku.

Tanganku memegang tangannya, menahan dia membuka celanaku. “Kok celananya dibuka mba ?” tanyaku. Walaupun aku masih kecil, tapi waktu itu aku sudah mengerti perbedaan antara pria dan wanita.

“Mau disembuhin penyakitnya gak ?” katanya sambil pura-pura melotot. Aku terdiam, kemudian melepaskan tangannya. Dia tersenyum kemudian berkata “Gitu dong, kan mau diobatin”.

Kemudian dia melepas kancing celanaku dan resletingnya. Kemudian dia melorotkan celanaku hingga terpampanglah burung mudaku. Aku hanya diam menahan malu.

“Wah ini dia sumber penyakitnya” katanya riang kemudian memegang burungku. Kemudian dia duduk disebelahku. Mukaku semakin merah, apalagi burungku secara perlahan tapi pasti menegang membesar.Mba Meta malah tertawa “Nah aku bilang apa, ini dia masalahnya, tuh dia makin keras, makin besar !” sambil mengelus-ngelus lembut burungku.

Tubuhku tergetar karena nikmat yang menjalari tubuhku. Burungku makin tegang dan makin membesar.

“Mba…” kataku lemah karena keenakan.

“Tenang ya Putra, mba obatin dulu ya” katanya.Celanaku dibuka secara penuh kemudian dia menaruhnya di kursi dekat meja belajarnya.

S*****kanganku dilebarkan, kemudian dia berpindah posisi, dia duduk diantara kedua pahaku. Kemudian mba Meta mulai mengulum penisku. Aku semakin menerawang, inilah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Saat mba Meta mengulum dan menyedot-nyedot penisku, dia mengeluarkan suara-suara erotis diantara keluar masuknya penisku di mulutnya. Ternyata saat aku melihat, tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Hmm tak heran badannya ikut bergetar saat mengulum penisku.

Tiba-tiba mba Meta berhenti mengulum penisku. “Sebentar ya” kata mba Meta yang kemudian berdiri. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak rela karena tidak ingin kehilangan kenikmatan tadi. Ternyata mba Meta melorotkan celana dalamnya. Karena dia memakai rok, celana dalamnya langsung turun, kemudian dia membuangnya kelantai. Dia kembali duduk diantara s*****kanganku, tapi kali ini dia agak melebarkan pahanya.
Mba Meta kembali mengulum penisku. Badanku kembali bergetar keenakan. Diantara sadar dan tidak, aku mulai mencium suatu bau khas, yang sekarang aku tau kalau bau itu adalah vagina.

Aku melihat mba Meta yang terus mengulum penisku. Tangan kirinya yang tadi meremas-remas payudaranya sekarang berada di s*****kangannya, tapi aku tidak bisa melihat apa yang dilakukan tangan itu sebab tertutup kain rok yang masih dipakainya. Tapi aku menduga bau khas tadi pasti berasal dari s*****kangannya itu.

Kenikmatan naik sampai ubun-ubunku, badanku bergetar hebat.
“Mba… aku mau pipis…” kataku sambil menahan dorongan hebat dipenisku. Tapi mba Meta tidak memperdulikan, bahkan mempercepat kulumannya. Aku merasa gila karena keenakan.. “Crotz… Crotz.. Crot..” akhirnya aku mengeluarkan pipisku di mulutnya, aku baru tau kemudian kalo itu adalah cairan sperma

Mba Meta menyedot semua cairan spermaku, kemudian dia tersenyum padaku. “Enak kan diobatin sama mba ?” tanyanya sambil mengelap sisa-sisa sperma dipenisku.

Aku cuma menganggu kecil. Aku sangat lelah ! Rasa kantuk menyerangku.
“He..he..he.. abis diobatin langsung ngantuk” tawa mba Meta.

Aku berusaha menahan kantukku, tapi rasanya berat sekali. “Ya udah tidur aja dulu gih” suruh mba Meta yang kemudian berbaring terlentang disebelahku.
Diantara terbuka dan tertutupnya mataku, aku melihat mba Meta menaikkan kaosnya sehingga terpampanglah payudaranya. Kemudian dia meremas-remas kedua payudaranya sendiri. Suara-suara lenguhan mulai terdengar dari mulutnya.

Sepertinya dia tidak puas hanya meremas payudaranya, dia menyibak roknya keatas. Dari samping aku melihat s*****kangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku tidak bisa melihat jelas, tapi aku melihat jari tengahnya keluar masuk dari lobang yang mengeluarkan bau harum tersebut.

Tangan kirinya meremas-remas payudaranya, jari tengah tangan kanannya keluar masuk memeknya. Badannya menegang, sesekali melengkung keatas, seperti s*****kangannya mengejar sesuatu. Suara lenguhannya maikin keras dan makin cepat…. dan aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku terbangun aku melihat mba Meta tidur terlentang disampingku. Tangan kirinya masih dipayudaranya dan tangan kanannya masih dis*****kangan, sama persis dengan keadaanya sebelum aku tertidur. Bedanya badannya seperti terkulai lemas, tidak setegang tadi.

Lama aku memandangi tubuhnya. Tenggorokanku tercekat, sebab baru kali ini aku melihat langsung payudaranya yang bulat itu. Apalagi memek yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Aku menelan ludahku. Walau sering membicarakan dengan temanku tentang tubuh wanita, tapi melihat langsung memang jauh lebih nikmat.

Kemudian pandangannku tertumbuk pada memeknya. Aku jadi ingat bau khas yang aku cium tadi. Aku bergeser untuk duduk diantara s*****kangannya yang masih terbuka lebar itu. Perlahan aku menggeser tangan kanan yang masih “hinggap” dis*****kangan.

Dadaku berdebar, takut mba Meta terbangun, tapi usahaku berhasil, tangannya kini berada di samping tubuhnya.Perlahan aku elus memek itu dengan jari tengahku. Hmm.. agak berlendir. Kemudian aku mencium jari berlendirku. Aha.. ! benar kan dugaanku, bau itu dari memeknya.

Tapi aku kurang puas. Aku elus lagi memeknya dengan jari tengahku. Aku coba untuk menusuk lebih dalam agar mendapat lendir lebih banyak. Aku tusuk keluar masuk walau tidak terlalu dalam, tapi aku belum mendapat lendir sebanyak yang aku mau.

Seiring aku menusuk-nusuk memeknya, perlahan pinggul mba Meta bergoyang sedikit mengikuti jariku. Aku merasa memek mba Meta makin berlendir, aku tersenyum puas. Saat jariku terasa cukup berlendir, aku mengangkatnya dan menciumnya. Wah… baunya sangat kuat tapi aku sangat menyukainya.
Suka akan baunya, keingintahuanku timbul untuk mencoba rasanya. Aku menjilat jari berlendirku itu. Hmm.. rasanya aneh, agak hambar, sedikit asin. Tapi entah mengapa aku suka sekali.

Kemudian aku mengambil lagi lendir itu dari memek mba Meta dan menjilatnya lagi. Tapi aku kurang puas. Akhirnya aku dekatkan mukaku ke memek mba Meta. Aku buka lipatan luar memeknya, terlihatnya bibir vaginanya yang berwarna merah muda. Memek tersebut basah dengan lendir.
Perlahan aku menjilat memek mba Meta. Nikmat sekali menikmati lendir dari sumbernya .

“Uh..uh..uh…” lenguh mba Meta setiap lidahku menyetuh dinding vaginanya. “Ahhhh…” lenguhnya panjang saat aku menjilat daging kecil di bagian atas lobang memeknya. Badannya semakin bergetar dan pinggulnya maju kedepan setiap lidahku lepas dari memeknya. Sepertinya memeknya mengejar lidahku, ingin dijilat lagi.

Tiba-tiba kepalaku terdorong masuk ke memeknya. “Aduh Putra enak banget !!” pekik mba Meta. Ternyata mba Meta sudah bangun dan tangannya menekan kepalaku ke memeknya.

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum padanya. “Ayo Putra lagi… mba gak tahan nih..”.

Aku kembali menjilati memeknya dengan lebih semangat. Tangannya tetap dikepalaku, menekan setiap aku mengangkat kepalaku.

“Ah..ah..ah.. aduh Putra enak banget..” ujarnya sambil mengangkat-angkat pinggulnya mengejar lidahku. “Shit… enak banget” sambil menggerak-gerakkan kepalanya kekiri dan kekanan.

“Akhhh…… ” pekik mba Meta yang kemudian menarik tubuhku keatas untuk menindihnya. Dia kemudian memegang kepalaku dan kemudian memagut bibirku. Dia nafsu sekali mencium bibirku yang penuh dengan lendir memeknya tersebut.

Akupun terangsang hebat. Aku membalas ciumannya. Tanganku meraba-raba payudaranya yang kenyal itu. Penisku tegang penuh karena ciuman itu.

Kami berciuman sangat hebat, “clop..clop…clop” bunyi diantara ciuman saling sedot kami. Tangan mba Meta memegang penisku dan mengocok perlahan. Nikmat sekali, tapi aku lebih bisa mengendalikan diri sekarang.

“Putra, masukin ya sekarang, mba udah gak tahan !” ujarnya sambil menatapku dengan pandangan sayu. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi saat dia menarik penisku kearah memeknya, aku bergeser kebawah sedikit karena perbedaan tinggi kami.

Mba Meta mengarahkan penisku ke memeknya, kemudian menggesek-gesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Tak lama kemudian dia menarik penisku untuk masuk lebih dalam, secara reflek aku mendorong pinggulku. Perlahan penisku masuk kememeknya. Akh.. nikmat sekali memasukkan penis ke lobang licin yang menjepit itu.

Mba Meta menekan pantatku sampai penisku amblas masuk ke memeknya semua. Kemudian dia menahan pantatku. Aku melihat wajahnya. Matanya dipejamkan dengan kepala agak dimiringkan kekanan, aduh seksinya. Kemudian aku mulai merasa penisku seperti diurut-urut oleh jari-jari kecil didalam memeknya. tdak terbayang kenikmatan saat itu.

Mba kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisku keluar masuk memeknya sedikit. Sensasi kenikmatannya lebih dahsyat dari urutan memeknya tadi. “Putra gerakin dong burungnya” pintanya memelas tapi tidak menghentikan goyangan pinggulnya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku mengikuti gerakkannya. Sekarang penisku keluar masuk memeknya lebih banyak. “Akh…akhh… akhh…” lenguhnya sambil menggoyangkan kepala kekiri kekanan.

Mukaku yang berada didepan lehernya menciumi dan menjilati leher mba Meta dengan sangat bernafsu.Aku lengkungkan badanku, kemudian aku penyedot pentil payudara kirinya. Badannya ikut melengkung dan bergetar hebat. Aku pindah ke payudara kanannya, dia melenguh hebat “Akkhhh…” kemudian menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa menit kami dalam posisi tersebut, kemudian mba Meta bangkit “Putra gantian ya, kamu dibawah, supaya lebih enak”.

Aku setuju saja, kemudian aku tidur terlentang. Penisku berdiri menantang.
Kemudian mba Meta jongkok dis*****kanganku. Dia memegang penisku, mengarahkan kememeknya yang dia turunkan. Bless… penisku masuk seluruhnya kememeknya. Mba Meta kemudian menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Dia kemudian tersenyum padaku “Putra kamu hebat banget, kamu udah ngegagahin aku” katanya lirih menggoda. Kemudian dia memagut bibirku.
Perlahan dia menggoyangkan pinggulnya, dan aku juga berusaha menggarakkan pinggulku, tapi agak susah. Akhirnya aku cuma diam meremasi payudaranya.

Ciuman kami lepas saat goyangannya makin kencang. “Agh.. akh.. agh..”

pekiknya setengah berteriak. Goyangan mba Meta makin kencang, sesekali dia memutar kepalanya untuk meyibak rambutnya yang jatuh kebawah.

“Akh..akh… akh..AGGHHHHHH…” tiba-tiba tubuhnya menegang. Dia menekan memeknya ke penisku. Gerakkannya terhenti. Matanya terpejam. Setelah beberapa lama dia membuka matanya kemudian berkata “Ahh…. Putra enak bangetth..” dengan nafas terengal-engal. Kemudian tubuhnya amburk ketubuhku.

Aku yang belum puas coba menggerakkan pinggulku. Memeknya terasa jauh lebih licin dari sebelumnya. Cairannya makin banyak.

“Kamu belum puas ya ??” tanyanya sambil memandangku dengan wajah puas.

“Iya mba, sedikit lagi” jawabku.Kemudian mba Meta bergeser, kemudian tidur terlentang. Kemudian dia membuka s*****kangannya lebar. Aku mengerti maksudnya, kemudian aku memposisikan tubuhku diantara s*****kangannya.

Aku mengarahkan penisku ke memeknya dan menekannya masuk. “Hgkh..” pekiknya saat penisku masuk.

“Putra yang cepet ya..” katanya lirih. “Udah gak enak lagi ya mba ?” tanyaku.

“Masih enak, tapi mba capek banget” jawabnya lirih.Aku menggoyangkan pinggulku dan memusatkan untuk mengejar kepuasanku. Tak lama kemudian aku merasa ada yang ingin keluar dari penisku, aku menekan penisku dalam-dalam kememeknya dan mengeluarkan spermaku banyak-banyak didalam memeknya.

Aku mencabut penisku, dia terseyum lebar. Kemudian kami tidur saling berpelukan. Semenjak itu setiap ada kesempatan aku dan mba Meta selalu melakukan hubungan sex. Selalu dikamarnya, dan tidak ada orang lain yang curiga. Setelah mba Meta lulus, dia kerja di kota sebelah, kemudian dia menikah di kota tersebut. Hmm.. aku merindukan saat-saat aku bersama mba Meta….

Tamat

Berawal dari mengintip

Namaku Agus, saat ini aku berusia 25 tahun dan sedang kuliah MBA di London. Aku hampir tiap minggu berkunjung ke 17Tahun.com dan sangat tertarik untuk menceritakan pengalamanku. Pertama-tama, untuk perkenalan, aku akan menceritakan pengalamanku waktu kuliah di Bandung. Kalau banyak peminat, aku akan menceritakan pengalamanku sewaktu kerja di Jakarta, dan kuliah di London. Tapi tentunya akan panjang sekali dan aku akan menceritakannya dalam beberapa episode.

Kisah nyata ini terjadi di tahun 1993, ketika aku baru lulus dari SMA dan diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di kota Bandung. Saat itu aku masih sangat polos dan belum berpengalaman di dunia esek-esek. Perlu pembaca ketahui, aku orangnya alim, pendiam, dan kutu buku. Tinggi badanku sekitar 175 cm dan berat badan saya 60 kg. Sedikit kurus memang, tapi mengenai tampang dijamin oke punya. Pokoknya aku tidak pernah kesulitan mendekati cewek sewaktu SMA.

Kost pertamaku berlokasi di Jln. Cihampelas yang merupakan bangunan tua (dekat BUN, sekarang sudah menjadi kompleks Perumka). Walaupun bangunan tua, namun aku sangat menyukai kost tersebut karena bentuk bangunannya yang terbuka dan tidak berbentuk rumah tinggal. Kost-nya terdiri dari kamar-kamar yang berderet. Tiap kamar mempunyai kamar mandi sendiri-sendiri. Yang istimewa di kost ini adalah kebebasannya. Pemilik kost tersebut jarang datang dan anak kost bisa melakukan apa saja di kost tersebut. Tapi berhubung Bandung adalah kota pelajar, hampir semua anak kost di sana adalah mahasiswa.

Kamarku berada di pojok, dan tetanggaku adalah seorang cewek manis yang berasal dari Jakarta. Dia adalah mahasiswi tingkat akhir di jurusan Sastra Inggris yang dulu kampusnya berada di Jln. Cihampelas. Namanya Santi. Aku ingat waktu pertama kali bertemu dengannya, dia selesai mandi dan kelihatan segar sekali. Aku sudah langsung tertarik dan ngaceng (maklum masih perjaka ting-ting dan nafsuku memang besar sekali). Tapi aku yakin tiap cowok normal pasti akan ngaceng jika melihat bentuk tubuh Santi yang sangat indah. Payudaranya tidak terlalu besar (mungkin ukurannya cuma 32) tapi mancungnya minta ampun. Dan tambahan lagi pinggulnya yang menjulang seakan menantang tiap cowok untuk menyentuh dan meremasnya. Tapi aku paling suka pada matanya, sangat bulat, polos dan begitu jernih. Dan hidungnya, bagus sekali.

Santi sebenarnya sudah mempunyai seorang pacar, yang saat itu sedang kerja di Jakarta. Rencananya sih mereka mau married tahun depan. Karena sibuk, cowoknya cuma datang tiga bulan sekali. Aku kasihan juga pada Santi, habis orangnya agak cerewet dan manja serta tidak bisa ditinggal sendirian. Maunya sih ada orang yang terus menemaninya buat main dan curhat.

Waktu itu aku masih miskin (sekarang masih miskin juga sebenarnya), jadi di kamarku tidak ada komputer maupun TV, sedangkan di kamarnya, Santi punya TV, video, komputer, kulkas, tape, dll. Kelihatannya cukup berduit juga tuh anak. Karena sering tidak ada kesibukan, aku sering nongol dan numpang nonton TV di kamarnya. Klop deh, dia ingin curhat dan aku ingin nonton TV.

Suatu hari aku baru sadar kalau kamar mandiku dan kamar mandinya letaknya bersebelahan dan di kamar mandi kita ada lubang angin di atapnya. Karena aku kuliah di jurusan Arsitektur, otakku langsung jalan. Aku mikir kalau aku manjat ke atap lewat lubang angin di kamar mandiku, tentunya aku bisa jalan ke atap kamar Santi dan ngintip dia. Langsung deh adikku berontak.

Keesokan harinya, jam 9 pagi aku mendengar ada suara air di kamar mandi Santi. Semangatku langsung bangkit dan pelan-pelan, aku menaruh kursi di kamar mandiku untuk memanjat ke atap. Dadaku berdebar kencang, sedikit takut tapi kepingin. Tanpa suara aku berhasil memanjat ke atas. Atapnya sangat berdebu dan banyak kabel listriknya. Aku harus hati-hati, pikirku kalau mati kesetrum karena ngintip cewek mandi kan nggak lucu. Dengan berjingkrat-jingkrat aku sampai juga ke atas kamar mandinya. Tetapi aku tidak berani melihat langsung lewat lubang angin, takut ada bayanganku di bawah dan mungkin saja dia melihat ke atas. Dasar lagi beruntung, aku melihat lubang kecil di atap kamar mandinya. Ukurannya cuma sekitar 1 cm, tapi buat yang sering ngintip tentu ngerti kalau ukuran ini sudah jauh dari cukup.

Dengan posisi berlutut, aku ngintip ke bawah melalui lubang tersebut. Di kamar mandi, kulihat Santi sedang menyabuni badannya. Dari atas aku bisa melihat hampir seluruh badannya. Yang pertama menangkap perhatianku adalah payudaranya dan puting susunya yang mungil dan berwarna coklat muda. Bentuknya sangat bagus, sedikit kecil namun sesuai dengan imajinasiku sebelumnya, bentuknya bagus dan kelihatannya amat kenyal dan kencang. Amboi.. aku sampai gemetar dan nafasku memburu

Sambil bernyanyi kecil, Santi menyabuni pundaknya, payudaranya, lalu turun ke bawah, pahanya, dan... Ya ampun dia mengangkangkan kakinya sedikit lalu menyabuni daerah kewanitaannya. Aku bisa melihat bulu kemaluannya dengan jelas. Tidak terlalu lebat, dan menurutku termasuk tipis, tapi siapa yang peduli.

Aku ngintip terus, sampai dia sirami badannya dengan air, lalu mengelap badan, memakai CD warna putih, celana pendek, dan kaos, tanpa BH. Saat itu, aku sudah tidak tahan lagi. Buru-buru aku turun ke kamar mandiku lalu melakukan onani. Cepat sekali aku keluarnya, habis sudah terangsang sekali.

Setelah itu dengan alasan mau meminjam koran, aku langsung ke kamar Santi. Bayangannya waktu mandi terus berada di benakku. Jadi waktu ngobrol dengannya, aku ngaceng terus (walaupun sudah ejakulasi). Waktu Santi menunduk untuk ngambilin koran, dari kaosnya yang agak longgar itu aku bisa melihat payudaranya. Ampun deh.. kali ini cuma berjarak sekitar 1 m dariku, tapi karena masih polos, aku tidak berani berbuat sesuatu. Aku cuma mengucapkan terima kasih, lalu balik ke kamarku dan melakukan onani lagi.

Hubunganku dengan Santi semakin bertambah intim. Kita selalu makan bareng dan nonton TV bareng. Kalau malam minggu dan cowoknya tidak datang, kita pasti jalan ke BIP atau nonton. Kadang ke diskotik di jalan Cihampelas. Tapi kita ke diskotik cuma untuk disco dan mendengarkan musik, tidak pernah tripping. Aku sampai sekarang masih bersih dari yang namanya drugs.

Sering aku nonton TV sampai larut malam dan kalau dia ngantuk, dia tidur duluan. Tempat tidurnya menghadap TV, dan aku duduk di atas karpet di sebelah tempat tidurnya.

Suatu ketika, saat aku nonton bola sampai larut dan dia sudah tidur, aku jalan ke tempat TV untuk mengganti channel. Waktu aku balik, aku berjalan ke arahnya. Waktu itu pahanya agak terbuka dan lewat celah-celah celana pendeknya aku bisa melihat celana dalamnya. Warnanya putih bersih, dan lewat celana dalamnya aku bisa melihat bentuk segunduk daging kemaluannya. Waktu itu aku ingin sekali meraba pahanya dan celana dalamnya, sayang keberanianku belum cukup. Aku cuma bisa membayangkan dan mengkhayal saja.

Sampai suatu hari, aku ingat itu hari Minggu, Santi baru balik dari Jakarta. Sekitar jam 10 malam aku sudah nongol di kamarnya.
"San, gimana perjalanan ke Jakarta? Capek nggak?" tanyaku.
"Iya, capek banget, abis tadi nggak dapat tempat duduk di kereta dan cuman berdiri atau duduk di lantai", jawab Santi sambil tiduran, "Pinggangku serasa mau patah", sambungnya.
Sambil bercanda aku bilang, "Kalau lagi pegel paling enak di pijat, gitu-gitu aku pintar pijat lho..."
Ternyaata tidak disangka-sangka Santi menjawab, "Beneran nich, tolong dong pijatin aku.. capek banget nich. Besok aku traktir makan dech.."
Dengan semangat 45 langsung kubilang, "Oke deal..." Aku tertawa dalam hati, tanpa ditraktir pun aku bersedia.

Kemudian aku memintanya telungkup dan aku mulai memijatnya. Aku sebenarnya tidak tahu caranya memijat orang, cuma aku punya pengalaman beberapa kali ke panti pijat. Jadi pura-pura berpengalaman saja. Aku mulai memijat telapak kakinya dengan jempolku. Pelan dan sedikit bertenaga.
"Sakit nggak San? kalau sakit bilang-bilang ya?" kataku.
"Nggak, enak kok", sahut Santi.

Sekitar sepuluh menit kemudian, pijatanku naik ke paha bawahnya. Nafasku mulai cepat dan aku bisa merasakan suhu badanku mulai naik. Pahanya mulus sekali, mulus dan putih. Aku merasa tanganku agak dingin, tapi tidak tahu deh Santinya merasakan hal yang sama denganku atau tidak. Tapi aku tidak berani memijat pahanya terlalu ke atas. Sampai batas celana pendeknya saja, tapi sudah cukup oke. Aku bergantian memijat paha kiri dan kanannya. Waktu itu aku melihat Santi menikmati pijatanku dan hampir tertidur. Matanya tertutup.

Sekitar 15 menit kemudian, aku mulai memijat pinggangnya melewati pinggulnya, tapi dengan perasaan takut. Dari pinggang, aku naik ke atas untuk memijat pundaknya. Sebelum naik ke pundaknya, kupindah tangannya dari posisi di samping badan ke atas (posisinya seperti Superman ketika terbang). Sewaktu aku memijat daerah atas pinggang, aku sengaja memijat ke arah samping badannya sehinga bisa merasakan gumpalan samping payudaranya. Dia tidak memakai BH, jadi tanganku dengan leluasa merasakan gumpalan tersebut (walaupun sedikit, namun berarti sekali). Saat itu badanku sudah panas sekali dan aku bisa merasakan wajahku yang panas dan merah.

Aku melihat ke wajah Santi dan aku sangat senang ketika melihat wajahnya juga memerah. Wah, kupikir, dianya juga mulai horny nih. Pijatanku lalu kuteruskan ke pundak, leher dan kepalanya. Waktu memijat kepalanya, aku mengelus belakang telinganya (dari buku aku tahu ini merupakan daerah sensitif cewek).
"Gimana, enak nggak San?" tanyaku dengan suara yang sedikit gemetar.
"Wah, enak banget, kerja sampingan loe jadi tukang pijat kali", jawab Santi.
"Kalau ada baby oil dan mijat ke kulit langsung, jauh lebih enak San.." Pancingku.
Ternyata umpanku langsung disambar. Dia naikkan kaosnya sampai hampir ke pundaknya lalu dia bilang, "Sayang aku kagak ada baby oil, tapi coba sekarang..."
Saat itu aku sudah terangsang sekali melihat kulitnya yang putih bersih. Dari samping aku bisa melihat gumpalan payudaranya. Seperti yang kulihat sebelumnya, tidak terlalu besar, tapi putih sekali.

Perlahan-lahan aku mulai memijat pinggangnya yang kali ini tanpa kaos. Pijatanku kali ini kuarahkan ke bawah sedikit dan menyentuh batas celana pendeknya. Keberanianku mulai timbul, dengan perlahan aku menurunkan celana pendeknya, sehingga aku bisa melihat belahan atas pantatnya. Putih..., dan Santi cuma diam. Aku memijatnya terus dan sedikit turun ke bawah, kali ini aku memijat pantatnya yang masih tertutup celana pendek. Amboi.. kencang sekali. Setelah itu tanganku mulai naik ke atas, dan memijat bagian samping lagi. Kali ini aku bisa menyentuh pinggiran payudaranya secara langsung. Nafasku mulai memburu dan aku semakin berani saja karena Santi cuma diam dan memejamkan matanya yang bagus.

Entah setan mana yang masuk ke dalam kepalaku, pijatanku turun lagi ke daerah pinggulnya dan kali ini kuturunkan celana pendek berikut celana dalamnya sampai aku bisa melihat seluruh pantatnya. Dari atas aku sudah bisa sedikit melihat bagian kemaluannya yang berwarna merah.

"Ahhh.. loe bandel amat sich.." kata Santi perlahan.
"Tenang aja San.. loe tiduran aja, pasti enak kok.." padahal aku sendiri sudah gemetar tidak karuan, masih memintanya tenang. Aku menatap pantatnya yang putih bersih, di pantat kanannya ada tahi lalat yang cukup besar. Aku masih ingat karena tahi lalat tersebut sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Aku meremas pantatnya, secara perlahan lalu naik ke atas memijat pinggangnya.

"San, celana loe mengganggu banget, aku buka ya?" aku memberanikan diri untuk maju s*****kah lagi.
"Jangan Gus..", kata Santi, "Aku masih perawan.."
"Oke.. oke.." Kataku, sedikit kecewa, "Aku cuma pingin loe releks dan menikmati."
Santi cuma diam, kutafsir sikapnya sebagai undangan untuk melanjutkan pijatanku.

Sekarang aku ganti strategi, aku mulai memijat payudaranya dari samping. Pertama aku cuma bisa menyentuh sedikit buah dadanya, tapi lama-lama tanganku menyusup ke bawah dan mulai mencari puting susunya. Kuremas payudaranya perlahan, dan ketika jariku menyentuh puting susunya, aku merasakan puting susunya sudah keras sekali. Saat itu posisi badannya tidak telungkup lagi. Badannya sedikit miring untuk memberikan tempat bagi tanganku meremas susu kirinya. Jariku bermain di putingnya, memutar-mutar putingnya seperti sedang mencari frekwensi radio. Saat itu aku mulai mendengar desahan Santi, "Ahhh.. ahhhh.."

Dengan sedikit memaksa, aku membalikkan posisi badannya. Sekarang dia berbaring menghadap ke atas, dan untuk pertama kalinya aku melihat payudaranya langsung dari depan. Mancung dan putih. Puting susunya berwarna coklat muda. Kudekatkan mulutku dan mulai menjilat puting susunya sambil terus meremas payudaranya. Santi sendiri sudah terangsang berat, tangannya mengusap dan kadang menarik rambutku. Aku yang sudah terangsang hebat langsung menggerakkan tanganku ke daerah kemaluannya yang masih tertutup sebagian oleh celana dalamnya. Mungkin terlalu cepat aku menyentuh daerah jembutnya, tiba-tiba dia menangkap tanganku.

"Jangan Gus, aku mau married bulan depan..." kata Santi dengan wajah memelas. Kasian juga aku melihat raut mukanya. Setelah itu aku cuma kiss dia dan menaikkan celananya lagi. Lalu aku balik ke kamarku untuk melakukan onani.

Sayang memang, namun aku tidak menyesal kok, ini cuma langkah kecil buat yang sudah berpengalaman, tapi buatku yang masih polos, ini merupakan loncatan besar dan akan membawaku dan Santi ke petualangan selanjutnya yang tidak akan terlupakan oleh kita berdua.

Mbak Titis

Namaku Dimas. Aku tinggal di kota jogja. Ceritaku ini terjadi pada tahun 2001. Pada waktu itu aku masih kuliah di sebuah PTN terkenal di jogja. Aku ambil cuti kuliah untuk bekerja di sebuah radio swasta yang baru berdiri. Waktu itu aku bekerja sebagai kru produksi. Pekerjaannya sangat sederhana yaitu merekam lagu, membuat iklan radio, dan mempersiapkan segala hal yang sifatnya off-air. Pemilik radio itu namanya Bapak Damian. Dia mempunyai istri yang sangat cantik. Aku biasa menyebutnya dengan Ibu Titis.

Ibu Titis tingginya kira-kira 170cm, bahkan lebih tinggi dari suaminya. Ibu Titis bekerja di sebuah perusahaan swasta di jogja. Sejak pertama kali masuk kerja di radio itu, aku udah kepincut dengan Ibu Titis. Ibu Titis ini berparas sangat cantik, mungkin sensual. Tinggi kira-kira 170cm, berat 50kg. Payudaranya tidak besar, sama sekali tidak besar. Tapi justru payudaranya yang kecil itu yang membuatku sangat penasaran. Aku selalu terobsesi dengan payudara yang kecil.

Ibu Titis suka memakai pakaian yang seksi. Baju-bajunya selalu tanpa lengan dan sering memakai rok yang sedikit di atas lutut. Pernah suatu ketika, aku sedang santai di kantor karena tidak ada order pembuatan iklan. Aku hanya duduk di balik meja marketing. Ibu Titis baru pulang dari kantornya. Aku perhatikan beliau turun dr mobil dan ketika melintas di dekatku

"Selamat siang, Bu. Jam segini kok udah pulang Bu?", sapaku.
Ibu Titis tersenyum.
"Iya Mas. Ini mau nganter Bapak ke Bandara."
Aku seketika merasa senang. Terus terang, aku ga suka ama bosku. Bawaannya cerewet mulu. Tapi aku mencoba bersikap biasa aja.
"Oh, rapat lagi ya bu di Jakarta?", tanyaku asal-asalan.
"Iya, Mas. Mau nyelesein urusan frekuensi katanya." Ibu Titis menjawab sambil berlalu dengan meninggalkan senyum yang sangat manis.
Tak berapa lama, Pak Damian dan Ibu Titis keluar dari rumah membawa beberapa koper.
"Mas, nanti malam jangan lupa matiin pemancarnya ya.", pesan Pak Damian padaku. "Siap Pak", jawabku sambil berlagak kayak prajurit.
"Hati2 pak", sambungku lagi. Setelah beliau berdua pergi, aku masuk lagi ke ruang operator untuk ngecek properti. Iseng aja si benernya. Abis di kantor lagi sepi. Marketingnya pada keluar semua. Yang ada cuma 1 penyiar yang lagi bertugas, ama aku doang. Abis itu aku duduk lagi di meja marketing.

S***** 1 jam, Ibu Titis udah nyampe lagi di studio. Waktu ngliat, Ibu Titis cantik sekali. Bajunya merah berkerah agak rendah dan memakai kulot. Aku langsung kesengsem abis. Ibu Titis ga langsung masuk ke rumah tapi mampir dulu ke studio. Melihatku duduk Ibu Titis bertanya apakah semua order iklan sudah selesai. Aku jawab aja udah. Kupikir abis nanyain Ibu Titis langsung masuk ke rumah eh ternyata malah nyamperin ke mejaku. Pas nyampe di depanku, Ibu Titis meletakkan sikunya di meja dan meraih majalah yang ada. Posisi tubuhnya membungkuk di depanku. Seketika gaunnya terbuka sehingga aku dengan jelas melihat payudaranya yang kecil terpampang di depan mataku.

Ya ampun, ternyata ada juga payudaranya. Tanpa ba bi bu, penisku langsung berdiri. Pemandangan ini yang selalu kutunggu. Payudaranya masih tertutup beha putih tapi itu sudah cukup untuk membangkitkan penisku.
"Marketingnya lagi keluar semua, Mas?"
Aku kaget bukan main mendengar pertanyaan itu. Bukan karena pertanyaannya, tapi karena aku baru sadar kalo aku baru terbengong-bengong menyaksikan payudara istri bosku. Dan aku tau banget kalo Ibu Titis tau apa yang barusan aku lakukan. Aku malu setengah mati. Mukaku langsung terasa panas.
"Iya, Bu", jawabku cepat sambil mengalihkan pandanganku.
"Nanti, Pak Min ijin ga masuk. Mas Dimas tolong bantuin beres-beres ruang siaran ya", katanya sambil menegakkan tubuh dan berjalan menuju pintu. Aduh, Pak Min nih ijin melulu deh, umpatku dalam hati. Pak Min itu orang yang dipekerjakan untuk membereskan kantor, semacam OB gitu.
"Iya, Bu" jawabku lagi.
"Ya, udah. Ibu masuk dulu ya", katanya lagi sambil berlalu dengan tetap memberikan senyum. Kali ini aku benar-benar deg-degan. Takut kalau-kalau Ibu Titis berpikir untuk mendepakku dari perusahaan. Sekali dilaporin ke suaminya, habislah aku.
Ah biarin aja lah. Kalo emang dipecat ya tidur aja di kost. Hehehe... Yang lebih memenuhi kepalaku justru payudara Ibu Titis yang tadi kulihat. Sumpah, indah banget. Ingin sekali aku menelanjangi Ibu Titis dan mengulum puting payudaranya. Aku membayangkan apa kira2 warna puting payudaranya. Ahh... Memikirkannya aja aku udah ngaceng gini.

Singkat cerita, malamnya aku lagi-lagi harus lembur nungguin penyiar terakhir kelar. Gara-gara Pak Min nih. Bete juga nungguin ampe tengah malem kalo ga ngapa-ngapain. Aku masuk lagi ke ruang produksi. Masang headphone di telingaku. Aku puter aja musik tahun 80an. Lumayanlah, musiknya agak melow-melow gitu jadinya asik di dengerin sambil ngantuk. Kulirik jam tanganku, masih jam 11. Huh, masih 2 jam lagi. Lagu2 yang kuputar membuatku terbuai. Entah kenapa, bayangan payudara Ibu Titis tiba-tiba nyantol lagi di kepalaku. Tanpa bisa kutahan, senjataku segera mengacung memenuhi celanaku. Dudukku menjadi tidak tenang. Kuelus pelan senjataku yang masih terbalut celanaku. Kuperhatikan sejenak situasi sekitarku. Lampu di ruanganku sudah sejak tadi kumatikan sehingga tidak ada yang tau kalo aku masih ada di situ. Kualihkan pandanganku ke ruang siaran. Mbak Rani, penyiar terakhir hari ini, masih bercuap-cuap aja di depan miknya.

Aman, pikirku. Kubuka retsleting celanaku dan segera kuturunkan sedikit celanaku. Otomatis senjataku yang dari tadi tersekap di dalam mengacung dengan gagahnya. Kukocok-kocok pelan penisku sambil membayangkan payudara kecil Ibu Titis. Indah banget. Pengen rasanya menyentuh, meremas, mengulum putingnya. Beberapa lama aku terpejam sambil tanganku tetap mengocok penisku pelan. Aku bayangkan ibu Titis dengan rambutnya yang sebahu, bibirnya yang selalu merah. Aku ingin sekali bibir itu mengulum penis. Sesekali aku mendesah sambil menyebut Ibu Titis. Akhh... Ibu Titis...
Tiba-tiba di penisku ada benda lain yang menempel. Dan ketika kubuka mataku, kaget setengah mati karena ada tangan lain yang menyentuh penisku. Dan lebih kaget lagi karena itu adalah tangan Ibu Titis yang sedang berjongkok di samping kursi yang aku duduki. Spontan aku segera melepas tanganku dan mencoba menarik celanaku. Tapi tangan ibu Titis yang satunya menahanku.
"Dimas, biarian aja. Ibu juga pengen megang kok", katanya sambil tersenyum.
"Ma...maaf bu...", kataku terbata sambil tetep berusaha menarik celanaku.
"Dimas, biarin aja", kata Bu Titis lagi.
"Sekarang mas Dimas tetep duduk aja dan jawab pertanyaan ibu", perintahnya sambil tetep tangan kanannya menggenggam penisku. Kagetku berangsur pulih, aku mengangguk sambil berusaha menenangkan diri. Ibu Titis menggeser tubuhnya dan sekarang sudah berada tepat di depanku dalam posisi jongkok dengan tangannya tidak lepas dari penisku. Aku merasakan nikmat yang luar biasa ketika tangannya dengan halus meremas penisku.
"Menurut kamu, ibu cantik ga", tanya ibu Titis dengan menatap mataku.
Aku bengong sesaat, tapi segera menganggukkan kepalaku.
"Ibu cantik", jawabku pendek. Mendengar jawabanku ibu Titis tersenyum kecil sambil memutar tangannya di penis. Ahh... Sumpah rasanya luar biasa.
"Mas Dimas jg ganteng", kata ibu Titis tapi kini tidak memandangku lagi. Matanya justru melihat ke penisku. Aku berusaha sepenuhnya menguasai diriku. Tiba-tiba lidahnya menjulur dan menjilat bagian belakang penisku dari pangkal sampai ke ujung. Oughh... Jilatannya menimbulkan sensasi yang luar biasa yang membuatku meregang menahan kenikmatan.
"dan, jangan panggil ibu lagi kecuali di depan bapak sama karyawan yang lain. Panggil aja Mbak. Ngerti!" sambungnya lagi.
"i...iya bu...Mbak", jawabku pendek.

Entah kenapa perasaan senang menyelimutiku. Dia adalah istri bosku. Gila neh! Dan lagi2 Mbak Titis menjilat penisku pelan. Aku hanya diam saja menikmati sensasinya. Mbak Titis kemudian memasukkan penisku lama ke dalam mulutnya. Lama sekali ditahan di dalam mulutnya sebelum Mbak Titis menaikturunkan mulutnya. Aku diam saja karena tidak tau harus ngomong apa. Mbak Titis pun masih asik dengan penisku di mulutnya. Sesekali bibirnya turun ke pelirku dan mengisap dengan kuat. Mimpiku jadi kenyataan.

Kulirik arlojiku, udah jam 24.40. Artinya 20 menit udah mau selesai siarannya. Aku agak panik karenanya. Tapi kenikmatan di penisku mengubur habis kepanikanku. Mbak Titis masih terus menghisap penisku. Dan tangan kanan kirinya sekarang menyusup di balik kemejaku, mengusap halus putingku. Segera saja aku melenguh keenakan. Aku tidak terlalu khawatir dengan suaraku karena ruang produksi di desain kedap suara. Perlahan aku mulai berani untuk bereaksi. Aku ulurkan tanganku untuk meraih kepalanya mencoba membelai rambutnya. Tapi ditepisnya tanganku. Akhirnya aku diam saja membiarkan Mbak Titis bermain dengan penisku. Payudaranya yang kecil menggesek pelan di kedua lutuntuku. Semakin lama Mbak Titis semakin cepat naik turun di penisku. Dan aku merasa ada sesuatu yang mau keluar. Kedua tanganku mencengkeram pegangan kursi.
"Mbak... Sshh... Sshh... Mau kkeluar Mbak...", kataku setengah mendesis.
Mbak Titis terus saja menghisap penisku. Sampai suatu saat aku tidak dapat lagi menahan dan muncratlah air maniku.

Crooottt... crooottt ... sshhh... ahhhh...

Pantatku sampai terangkat dr kursi karena kenikmatan. Banyak sekali mani yang kukeluarkan. Emang udah lama gak kukeluarin sih... Sekalinya keluar di mulutnya Mbak Titis. Gimana ga banyak coba... Kulihat Mbak Titis masih tetap mengulum penisku dan menghisap semua mani yang ku keluarkan.
"Oh Mbak... Enak banget", desisku lagi. Mbak Titis menjilati penisku sampai bersih. Rasanya geli banget. Setelah bersih, Mbak Titis berdiri dan melepas headphoneku. "Nanti kalo dah selesai beres2 jangan lupa taro kuncinya di rumah ya", bisiknya.

Aku hanya mengangguk pelan belum pulih dari kenikmatanku. Setelah Mbak Titis keluar dr ruanganku aku segera membereskan celanaku. Tanpa sempat mikir aku segera membereskan ruangan dan berjalan menuju ruang siar karena Rani pun sudah selesai siaran.
"Halo mas, loh mukanya kok merah gitu", sapa Rani sambil membereskan form request di meja.
"Hehehe... panas banget nih... AC ruang produksi lagi macet", jawabku sambil pura-pura membereskan mik. Padahal aku grogi setengah mati takut ketauan boongnya.
"Oh... Ya udah mas. Aku balik dulu ya", kata Rani.
"Iya deh. Ati-ati ya...", sahuntuku cepat berharap Rani segera pulang.
Setelah, mematikan semua komputer dan lampu, segera ku kunci semua ruangan. Setelah itu aku naik ke lantai 2 untuk mematikan pemancar dan menyerahkan kunci studio. Ketika akan menyerahkan kunci studio, aku baru ingat kalo yang akan menerima kunci nanti adalah ibu Titis alias Mbak Titis. Karuan aja aku jadi deg-degan...

"Gerbang depan udah di kunci, mas", sebuah suara membuyarkan lamunanku.
"Belum Mbak", jawabku setengah berteriak. Celingukan aku mencari sumber suara. Rupanya Mbak Titis sudah tau kehadiranku.
"Dikunci dulu, trus ntar kuncinya bawa ke sini ya, mas!"
Sesaat aku bingung sambil berjalan turun menuju pintu gerbang. Pikiran kotor menyerbu otakku. Siapa tau Mbak Titis minta ditemenin. Wah, pucuk dicinta ulam pun tiba neehhh... Bergegas aku mengunci pintu gerbang dan naik lagi menyerahkan kunci.

Sesampai di dalam rumah aku tidak menemukan siapa pun. Dimana Mbak Titis, pikirku. Kulangkahkan kakiku ke ruang tengah. Kosong juga. Wah, di mana nih. Perlahan aku berjalan ke dapur sambil berharap cemas. Kalo udah pada tidur ya aku pulang aja. Sampai aku dikejuntukan oleh sepasang tangan yang melingkar dipinggangku dari belakang.
"malam ini temenin Mbak ya", terdengar bisikan di telingaku.
Tanpa basa-basi aku segera memutar tubuhku dan di depanku telah berdiri Mbak Titis dengan paras yang sangat cantik. Wajah Mbak Titis persis di depanku. Hidungku nyaris bersentuhan dengan hidung Mbak Titis. Terasa hangat di wajahku ketika Mbak Titis menghembuskan nafas. Aku benar-benar dibuat terpesona.
Mbak Titis sudah berganti pakaian dengan kimono warna pink. Matanya sayu menatapku. Entah keberanian dari mana yang mendorong wajahku sehingga bibirku mengecup lembut bibir Mbak Titis. Tidak ada perlawanan dari Mbak Titis. Bibirku terus bermain di bibir Mbak Titis beberapa lama. Kurasakan tangan Mbak Titis meremas lembut kemejaku. Aku mencoba melingkarkan tanganku di punggung Mbak Titis. Kuusap perlahan punggungnya sambil terus memainkan bibirku. Lidahku mulai menerobos masuk ke dalam mulut Mbak Titis. Bibir Mbak Titis lembut sekali, wangi dan itu membuatku semakin bernapsu.
Lidahku semakin liar bermain. Kuciumi lagi bibirnya, hidungnya, matanya, keningnya, pipinya, dagunya. Dan semuanya terasa lembut. Napas Mbak Titis semakin memburu. Tanganku bergerak ke bawah mencari2 tali kimono. Setelah ketemu, kuloloskan talinya pelan. Ketika berhasil kulepaskan, kimono tersebut merosot sedikit menjuntai ke lantai.

Kumundurkan tubuhku dan nampaklah pemandangan yang sangat indah yang sering kubayangkan selama ini. Mbak sudah tidak memakai bra dan cd. Payudara yang selama ini hanya ada dalam imajinasiku kini terpampang jelas di hadapanku. Tampak puting yang kecil berwarna coklat dan merah muda pada ujungnya. Bener-bener sesuai ama yang kuharapkan. Payudaranya kecil, mungkin ukuran 34a. Tapi aku suka banget ama yang segitu.
"Dimas Kenapa berhenti?", ucapnya lirih seraya matanya yang sayu memandangku. Tanpa pikir panjang kuhampiri Mbak Titis dan berlutut di depannya. Aku membungkuk dan mencium lembut jari kaki sebelah kirinya sementara tangan kananku membelai lembut betis kanan Mbak Titis. Yang kudengar saat itu hanya lenguhan nikmat dari Mbak Titis. Kudongakkan kepalaku menatap Mbak Titis. Mbak Titis hanya menatapku sayu dengan nafas yang memburu. Kuarahkan perhatianku lagi ke bawah. Kuciumi lagi kaki kiri dan kanan berganti sementara tanganku mengusap lembut betisnya. Mbak Titis terus mendesis sampai suatu saat Mbak Titis hampir terduduk karena menahan kenikmatan dari ciuman dan belaian di betisnya.
Aku bangkit dan kusandarkan tubuh Mbak Titis di tembok dapur dengan posisi tubuh berdiri. Aku berlutut lagi dan kini yang menjadi sasaranku adalah pahanya. Kuciumi pelan paha kanan Mbak Titis. Tangan kanan Mbak Titis mencengkeram tembok. Kuciumi terus mulai dr atas lutut sampai mendekati pangkal pahanya. Tercium aroma yang membuatku semakin mabuk asmara ketika menciumi sekitar pangkal paha. Mbak Titis berusaha mengatupkan pahanya tapi aku menahannya dengan kedua tangan supaya tetap terbuka. Ciumanku pindah ke paha yang kiri sementara tangan kananku bergerak ke atas ke wilayah perut dan mengusap pelan dengan ujung jariku. Mbak Titis semakin mendesis tidak karuan.
"Oh... Mas... Shh... sh..."
Ciumanku terus naik mendekati pangkal pahanya. Dengan gerakan sedikit menyentak kurenggangkan lagi paha Mbak Titis.
Oughhh... Mbak Titis melenguh panjang menerima perlakuanku yang tiba2. Kupandangi sejenak gundukan di depanku. Jembutnya lebat sekali dan baunya wangi. Sambil tetap memegangi kedua lutut Mbak Titis, kujulurkan hidungku menyapu jembutnya. Tubuh Mbak Titis bergetar menerima sapuan hidungku. Tampak samar belahan daging dan kucoba menjilat pelan membelah hutan jembut yang lebat itu.
"Ouhh... Mas...", tangannya meraih rambuntuku dan menjambak pelan. Lidahku terus menjilat mencari-cari daging nikmat. Kurasakan ada cairan menempel dilidahku. Gurih terasa di muluntuku. Muluntuku pun mulai menghisap gundukan indah Mbak Titis.
"oh... Sshh... Sshh... Mas... enak banget mas...", desah Mbak Titis. Desahan itu membuatku semakin ganas. Penisku sudah tegang dari tadi tapi aku masih ingin bermain dengan Mbak Titis. Hisapanku di vagina Mbak Titis semakin liar. Sementara Mbak Titis meliuk-liuk menerima serangan di vaginanya.
"mas.. Kamu kok pinter banget sih...", kata Mbak Titis manja. Aku hanya tersenyum aja mendengarnya.

Perlahan ciumanku naik ke perut Mbak Titis. Tidak lama di situ aku berniat untuk langsung menyerbu tetek Mbak Titis. Aku segera bangkit. Kupandangi sejenak tetek Mbak Titis yang sedari tadi belum kusentuh sama sekali. Lalu kupandangi wajah Mbak Titis, titik2 keringat bermunculan di keningnya. Kumajukan wajahku ke arah tetek Mbak Titis, tanpa mengalihkan pandangan dari matanya. Sampai di tetek yang sebelah kiri kukecup pelan putingnya. Mbak Titis mendongakkan wajahnya menerima sensasi kecil di putingnya. Kukulum puting tetek kiri Mbak Titis. Terasa hangat di dalam muluntuku. Mbak mulai mendesis lagi.
"terusin mas... terusin",
Aku semakin gencar mengulum puting tetek Mbak Titis. Sesekali kusedot dengan keras.
"Ahh.!" Mbak Titis berteriak kecil.
Aku melirik ke tetek yang sebelah kanan. Segera kuarahkan bibirku ke puting kanan. Perlakuanku beda kali ini. Aku menyerbu tetek kanan Mbak Titis dengan sangat liar sementara tangan kananku meremas-remas dengan kuat tetek yang kiri. Menerima perlakuanku yang berubah drastis, Mbak Titis berteriak keras dengan menggoyangkan kepalanya kiri kanan. Keliaranku itu bertahan selama 10 menitan sementara penisku sengaja kugesek-gesekkan ke vagina Mbak Titis.
Mbak Titis terus menerus meracau. Tidak jelas apa yang diucapkan. Aku sudah tidak tahan lagi. Segera kubalik tubuh Mbak Titis kupaksa untuk menungging. Mbak Titis menahan tubuhnya dengan tangan di tembok. Kuarahkan penisku ke vagina Mbak Titis. Pelan aku coba menerobos liang vagina Mbak Titis. Agak susah juga mencari posisi lubang vagini Mbak Titis. Setelah beberapa saat akhirnya penisku sudah berada dalam jepitan vagina Mbak Titis.
"Mbak..." aku menahan sebentar penisku. Mbak Titis melenguh panjang.
"ouhh...hss...mas..."
aku segera menarik penisku pelan sampai tersisa kepalanya dalam vaginanya. Lalu kutusuk lagi dengan gerakan cepat. Mbak Titis lagi-lagi melenguh panjang. Kulakukan berulang kali sampai 15 menit. Tanpa berganti posisi aku percepat gerakanku. Tanganku kubiarkan bebas menggantung. Penisku terus kupacu di dalam vagina Mbak Titis. Sampai suatu ketika tubuh Mbak Titis mengejang hebat dan Mbak Titis melolong hebat merasakan orgasme pertamanya. Tubuh Mbak Titis masih bergetar beberapa saat. Aku harus menahan tubuhnya karena seperti mau terjatuh ke lantai. Sebenarnya aku juga sudah hampir sampai tapi sekuat tenaga aku bertahan. Aku tidak mau permainan ini cepat selesai.
Kudiamkan sebentar penisku di dalam vagina Mbak Titis dan membiarkan Mbak Titis mengatur napasnya, menikmati orgasmenya.

Beberapa saat kemudian, aku melanjuntukan lagi serbuanku ke vagina Mbak Titis.
"Oh...uh...oh...uh", suara Mbak Titis keenakan.
"Mas, enak banget", tambahnya lagi. Tangan kirinya meraih tangan kiriku dan meletakkannya di teteknya. Spontan kuremas tetek Mbak Titis. Sensasi di dua wilayah sensitifnya membuatnya menggelinjang ga karuan. Sodokanku di vaginanya kupercepat sementara remasanku semakin kuat di teteknya. Akhirnya, aku mengeluarkan senjataku yang terakhir. Tangan kananku yang bebas kuarahkan ke lubang anusnya. Kuludahi anusnya dan kuusap keras bagian anus Mbak Titis. Sekarang 3 bagian sensitifnya habis aku garap. Mbak Titis semakin melolong tidak karuan. Kepalanya terayun-ayun menambah keseksiannya. Badannya terus terguncang-guncang menerima sodokan penisku. Aku pun mulai kacau merasakan sensasi di penisku.
"Mbak, enak banget Mbak", cerocosku.
"heh...uh... terusin mas. Ahh..."
Jariku mencoba menerobos ke liang anus Mbak Titis. Aku tidak berani terlalu dalam. Takut menyakiti Mbak Titis. Penisku masih terus menghunjam di vagina Mbak Titis. Sampai akhirnya aku merasakan gelombang sangat kuat yang siap menerobos keluar dari penisku.
"Mbak... Aku dah mo keluar Mbak... Mphhh..."
Iiiiyyaaaa maasss... mbak juga... aaayooo masss..."
Kupercepat gerakanku. Penisku terus menerobos vagina sampai akau tidak kuat lagi menahan gejolakku...
Croot...croot...croot... Ah... Ah... Ah...
Gerakan penisku kuhentikan di dalam vagina Mbak Titis. Dan tubuh Mbak Titis pun bergetar sangat hebat. Tangan kirinya mencengkeram tangan kiriku yang bermain di teteknya dengan sangat kuat.
"AHHH... DIMAAASSSSHHHHH", teriaknya memenuhi ruangan dapur.
Kujatuhkan kepalaku ke punggung Mbak Titis. Kutarik penisku pelan-pelan, dan kuhunjamkan lagi ke dalam vagina Mbak Titis tapi dengan gerakan yang sangat pelan. kedua tanganku meremas lembut tetek Mbak Titis. Nikmat banget. Sumpah nikmat banget. Kuciumi pelan punggung Mbak Titis sementara Mbak Titis masih berguncang-guncang menerima orgasmenya.
Setelah beberapa saat, aku tetap membiarkan penisku bertahan di dalam vagina Mbak Titis. Lalu, pelan-pelan kutarik penisku. Mbak Titis melenguh merasakan gesekan pelan di vaginanya.
"Mbak... Nikmat banget. Mbak cantik sekali", bisikku pelan.
"Dimas... Kamu hebat. Hhh...mbak nggak ngira kamu mau ama mbak", katanya sambil membalikkan tubuhnya dan kini duduk terkulai lemas di lantai.
Aku tersenyum aja mendengarnya.
"Kapan-kapan, kalo mbak pengen, Dimas mau ya nemenin Mbak lagi?"
"Mmmmm... Siap Mbak! Apapun buat Mbak!", jawabku sambil berkelakar.

Itu adalah kisah pertamaku dengan Mbak Titis, istri bosku. Setelah hari itu, selama empat hari aku nemenin Mbak Titis tiap malam. Ga jadi nyesel deh, Pak Min banyak ijinnya. Ijin terus aja Pak Miiinnn... Setiap bosku keluar kota aku selalu menemani Mbak Titis dan memberinya kepuasan. Demikian juga Mbak Titis memberiku pengalaman, dan sensasi-sensasi baru lainnya.

Mama Lina

Nama ku Rendi, telah beristri, bekerja di sebuah Perusahaan Swasta, Istriku cukup lumayan, cantik dan bahenol, namun yang akan aku ceritakan ini bukan soal hubungan seks ku dengan istri ku, tapi soal hubungan ku dengan seorang setengah baya, yang setatusnya adalah tante, tapi kami sekeluarga memanggilnya dengan kata Mama, hal ini wajar, agar bisa lebih akrab dan dekat.

Mama Lina, itulah sebutan dan nama dari tante istriku, Mama Lina adalah Istri dari Paman Istriku, maaf beliau (Mama Lina) adalah Istri kedua dari Paman Istriku, Cantik, tidak terlalu tinggi, wajar sebagaimana pribumi, kulitnya terbilang putih, mulus, walau bersetatus tante atau lebih tua dari istriku tapi belum terbilang tua, karena dia istri kedua dari Paman Istriku, semua lekuk tubuh sensualnya masih mengencang, mulai dari payudaranya, masih terangkat keatas dan bulat menonjol menggairahkan, putingnya juga masih seperti milik seorang gadis, perutnya belum mengendor, begitu juga pinggul dan pantatnya masih menonjol.

Anda tahu apa sebabnya ? ialah karena Mama Lina tidak pernah hamil dan ternyata selama 9 tahun berumah tangga dengan Paman Istriku, boleh dikatakan hanya 1 tahun dia digauli sebagaimana layaknya seorang istri, selebihnya selama 8 tahun selanjutnya, hanya dia bisa nikmati dengan sentuhan tangan suaminya, Itu semua dia alami Karena Sang suami memiliki penyakit Jantung kronis, dan sudah tiada.

Singkat ceritanya ialah Mama Lina sudah lebih kurang 1 tahun menjanda, sebatang kara, tidak punya anak, apalagi cucu, tidak bekerja dan juga tidak memiliki usaha, peninggalan suami pas-pasan, oleh karenanya aku bersama istri sudah berniat untuk membelanjakan atau memberikan nafkah kepada Mama Lina, mulai dari urusan bayar telepon, Listrik, sampai urusan belanja dapur. Hidupnya sehari-hari ditemani dengan seorang pembantu rumah tangga, yang juga menjadi tanggungan kami.

Setiap dua minggu sekali istriku selalu datang menemui Mama Lina untuk menjenguk sekaligus membawanya belanja keperluan dapur ke Supermarket, aku paling hanya telepon dan paling sebulan sekali menjenguknya. Semua ini kami lakukan hitung-hitung balas budi, karena sewaktu suaminya masih ada dan kondisi kehidupan kami belum mapan kami banyak dibantunya.Suatu ketika istriku tidak dapat pergi untuk menjenguk Mama Lina, padahal sudah jadualnya untuk belanja keperluan dapur Mama Lina, istriku kurang enak badan, terpaksa aku menggantikannya, dan hal ini bukan yang pertama kali sudah sering hampir 4-5 kali, namun yang kali ini suatu hal yang luar biasa.

Aku sudah tidak canggung lagi dengan Mama Lina, karena sudah biasa bertemu dan bahkan sudah seperti Ibu ku sendiri. Soal tidur, kami sering tidur bertiga, Aku, Istriku dan Mama Lina, bahkan pernah suatu siang kami, Aku dan Mama Lina tidur berdua dikamar, jadi tidak ada hal yang aneh, namun kali ini kejadiannya tidak terencana dan sangat mengagetkan.Selesai jam kerja di sore hari, aku langsung menuju kerumah Mama Lina, untuk menggantikan istriku menemani Mama Lina belanja keperluan dapur sebagaimana rutinnya, Setibanya di rumah Mama Lina aku langsung memarkirkan mobil ku di depan garasi rumahnya.

“Sore Ma……!” Sapa ku sambil menghampiri Mama Lina yang sedang tiduran di sofa sambil menonton TV, kucium tangannya dan kedua pipinya, hal ini adalah kebiasaan di keluarga kami kalau bertemu dalam satu keluarga.

“Dengan siapa kamu Ren …?” Mama Lina bertanya sambil melirik kearah pintu utama dan melihat ku dengan kening dikerut.

“Ya dengan Mobil Ma …..!” Jawab ku santai dan berbalik ke arah Lemari Es untuk mengambil segelas air dingin.

“Jangan bercanda …., Mama Tanya beneran “

“Rendy tidak bercanda Ma…., Rendy jawab benaran “ sekarang aku duduk di bangku tamu didepan sofanya, sambil ikutan menonton TV.

“Maksud Mama, Eva tidak ikut ?” Eva adalah Istri ku.

“Eva lagi tidak enak badan, jadinya Rendy yang kesini” Jawab ku sambil mengalihkan pandangan dari pesawat Televisi kearah Mama Lina, namun pandanganku terhenti di kedua panggkal pahanya yang sedang dilipat dan saling bertindihan.Kusadari Mama Lina tidak sadar kalau dasternya tersingkap atau dia tahu tapi karena hal ini sudah biasa maka tidak ada masalah bagi kami.

Kali ini aku merasakannya agak aneh, kog aku merasa terangsang dengan pandangan ini. Aku sadar sehingga kualihkan secepatnya pandanganku lagi kearah pesawat televisi, tapi perasaan ku menggoda, sehingga aku mencoba mecuri pandang dengan melirik kearah paha tadi, hati semakin tidak tenang, pikiranku mulai tidak normal. Kucoba membuang fikiran yang sudah mulai tidak menentu arah.

“Ma….. !`” sapaan ku berhenti, aku ingin menggajak nya bicara tapi pada saat aku menyapa sacara bersamaan aku memalingkan pandangan ku lagi kearah wajah Mama Lina, tapi pandangan ku berhenti di bagian dada Mama lina yang terlihat gundukannya dikarenakan belahan dastrernya pada bagian dada melorot kesamping, karena pada saat itu posisi tidur Mama Lina disofa miring.

” Ada apa Ren … ” Tanya nya mengagetkan ku, aku segera memalingkan pandanganku kewajahnya.

” Ayo Ma…, rapi-rapi, sudah hampir jam 7 nich, nanti Supermaket tutup”

” Ren…, badan Mama rasanya lemes, kurang bersemangat, bagaimana kalau besok aja kita belanjanya”

” Yah … Mama ….., Rendy udah sampai disini, lagi pula besok Rendy ada kerja lembur, dan iya kalau Eva sudah enakkan dan bisa kesini. ”

“Ya udah kapan kapan aja “ sambutnya lagi,

“Enggak ah Ma… sekarang aja, nanti kalau ditunda-tunda jadi enggak jadi kayak dulu”

“Kamu memang orangnya keras kepala Ren, kalau ada maunya tidak bisa ditunda”

“Ya sudah Mama salin dulu, tapi kalau nanti Mama jadi sakit kamu yang repot juga”

Akhirnya dengan malas dia bangun dari sofanya menuju kamar, akupun melanjutkan menonton Televisi. S***** beberapa menit aku menunggu dengan tidak sabar, akupun melirik kearah pintu kamar, dan tiba tiba mata ku terperanjat melihat pandangan didalam kamar, kulihat Mama Lina membelakangi pintu kamar dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa BH, sayangnya posisinya juga membelakangi ku sehingga aku hanya bisa menikmati lekukan tubuhnya dari belakang, dan cukup indah masih seperti anak remaja, semuanya serba ketat dan gempal. Aku semakin kacau.

Kuperhatikan terus dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, rambut yang terurai semakin menggairahkan ku. Kulihat Mama lina sedang memakai Baju Kemeja putih berenda, wah rupanya dia tidak memakai BH, setelah itu dia pakai celana Jean ketat panjangnya tiga-per-empat, dan langsung berbalik kearah pintu kamar, aku dengan cepat juga memalingkan muka kearah Televisi seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi tadi di kamar.

“Ayo Ren …. Kita jalan “, sapa Mama Lina yang sudah keluar dari kamarnya, dan akupun meraih remote TV untuk mematikan TV, sambil bangun dari sofa yang aku duduki.

“Kalau nanti Mama sakit, kamu harus tanggung ya Rend !” Mama Lina membuka lagi pembicaraan setelah beberapa menit kami meninggalkan rumahnya dan Mama lina sedang menikmati jalan sambil duduk disebelahku. Aku sambil memegang setir mobil menjawab dengan santai dan manja.

” Ya …. Iya dong Ma…., siapa lagi yang ngurus Mama kalau bukan Rendy.”

” Mama sambil rebahan ya Ren ?” pintanya sambil merebahkan sandaran jok mobil yang didudukinya.

” Boleh kan Ren ?” pintanya lagi sambil memegang tangan kiriku, tapi saat ini posisi Mama Lina sudah rebah dan terlentang, seolah-olah memerkan dadanya yang menonjol menggairahkan itu.

Aku menoleh kesamping kearah Mama Lina sambil mengangguk, tapi lagi-lagi pandanganku terhenti didada Mama Lina, yang terlihat samar lekukannya dari balik bajunya yang sengaja tidak dikancing pada bagian atasnya. Kuarahkan lagi pandangan ku kejalan raya agar tidak terjadi apa-apa.Setibanya di Supermarket mobil aku parkirkan ditempatnya dan kami pun berjalan menuju kedalam supermarket sambil bergandengan, Mama lina mengait tanganku untuk digandolinya, hal ini sudah biasa bagi kami, tapi kali ini darah ku berdesar-desar saat bergandengan tangan dengan Mama Lina, bagaimana tidak berdesar, yang sedari tadi dalam fikiran ku terlintas terus lekukan buah dada Mama Lina kini tersenggol-senggol mengenai siku kiri ku seirama dengan gerakan langkah kami selama menuju kedalam Supermarket.

Setibanya didalam supermarket aku langsung menyambar lorry yang berada disisi pintu masuk supermarket, dan kami pun bergandengan lagi menuju ke barisan etalase keperluan Rumah tangga. Satu persatu barang keperluan dapur dipilih dan diambil oleh Mama Lina, akupun asik dengan kegiatan ku sendiri memperhatikan lekukan badan Mama lina yang masih mengencang yang bergerak terus kadang merunduk dan berdiri lagi sambil ia memeriksa barang yang terdapat dietalase. Khayalan ku terhenti karena sapaannya.

” Rend coba kamu lihat labelnya ini, apakah jangka waktunya masih berlaku tidak “ pintanya sambil jongkok dan dan tanpa melihatku kebelakang dengan tangan memegang sebuah makanan kaleng memberikan kepada ku.Kemudian aku bergerak mendekati Mama Lina dan berdiri tepat disampingnya yang sedang jongkok, kuambil makanan kaleng yang ada ditangannya dan kuperhatikan dengan seksama label masa berlaku yang dimaksud.

” Masih lama nih Ma……” Jawab ku sambil mengembalikan makanan kaleng tadi kepada Mama Lina, yang saat ini posisinya sedang membungkuk memperhatikan barang-barang yang lain.

Aku terperanjat melihat dua buah gunung yang menempel di dada Mama Lina, terlihat jelas karena posisinya yang membungkuk sehingga bajunya menggantung kebawah.Buah dada yang indah, masih mengencang, dan memiliki putting yang masih kencang dan tidak terlalu besar, maklum karena Mama Lina belum pernah menyusui bayi. Bentuknya masih bagus, tanpa keriput sedikitpun di sekitar putingnya, putih mulus dan terawat dengan baik. Ada sekitar sepuluh detik aku memperhatikannya, terhenti karena Mama lina berdiri dan bergeser posisi.Kini akupun tetap berada disampingnya, dengan maksud untuk mendapatkan kesempatan memandang seperti tadi, dan benar Mama lina sebentar-bentar menunduk, dan kesempatan itu tidak aku lewati dengan langsung mengincar pandangan buah dada yang indah itu. Sudah lebih kurang setengah jam kami mengitari etalase demi etalase, tiba-tiba dari posisi jongkok Mama Lina meraih tangan kiriku yang sedang berada disebelahnya. Sambil menggandul ditanganku Mama Lina berdiri dan merapatkan badannya disisi badan ku langsung meletakkan wajahnya di bahu kiri ku sambil bergumam

” Mama pusing Ren.. Mama udah enggak kuat lagi” Kemudian tangan kiri ku mengait pinggul Mama Lina setengah memeluk dan berkata,

“Ya.. sudah Ma, kita pulang aja, kalau masih ada yang kurang belanjaannya bisa dibeli di warung dekat rumah aja” Tanpa menunggu jawaban Mama Lina, sambil tetap merangkulnya tangan kanan ku meraih kereta dorong belanjaan dan berjalan menuju Kasir.

Selesai membayar semua belanjaan aku pun meminta petugas kasir untuk membantu membawakan barang ke Mobil, sementara aku berjalan didepan sambil merangkul Mama Lina. Yang kurasakan sekarang buah dada Mama Lina menempel di rusuk kiri ku, dan nafasnya yang wangi sangat terasa disisi pipi ku. Setibanya di Mobil aku pun membukakan pintu dan membimbing Mama Lina masuk ke Mobil, perlahan aku dudukan dan kurebahkan ke kursi yang berada disebelah supir, dan sambil kedua tangan ku menahan badan Mama Lina rebah, tersenggol lah kedua sisi buah dadanya oleh tangan ku, aduh… alangkah kerasnya tuh buah dada.

Diperjalanan pulang kutanyakan apakah perlu diperiksa ke dokter, tapi Mama Lina mengatakan tidak perlu, karena dia hanya merasa pusing biasa, mungkin masuk angin. Aku pun menyetujui dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Mama Lina. Kusempatkan memegang kening Mama Lina dengan tujuan memeriksa apakah badannya panas atau tidak. Kupalingkan pandangan ku sekali sekali kearah Mama Lina yang tiduran disamping.

“Masih pusing Ma….., Tanyaku.

“Sedikit ….. ” jawabnya singkat.

“Ntar juga sembuh Ma …….”.

Pembicaraan kami terhenti dan diam beberapa saat.Mobil aku parkir didepan rumah, dan dengan bergegas aku turun terus menghampiri sisi pintu kiri mobil untuk membukakan pintu bagi Mama Lina, pintu pun ku buka, kulihat Mama Lina terasa berat mengangkat badannya dari Jok Mobil.

“Bantu Mama dong Ren…., dasar tidak bertanggung jawab ” hardiknya manja.

Akupun langsung merangkul pinggulnya turun dari Mobil dan langsung memapah kedalam rumah. Setibanya didepan pintu masuk Mbok Atik pembantu Mama Lina membukakan pintu dan aku sambil membopong Mama Lina memerintahkan Mbok Atik untuk menurunkan barang serta menguncil kembali mobilnya.

“Mama mau tiduran di Sofa atau dikamar?”

“Dikamar aja Rend” Kami pun menuju kamar, dan aku langsung membaringkan Mama Lina terlentang di tempat tidur. Mama Lina pun berbaring sambil memegang kepalanya.

“Rendy balur minyak kayu putih dulu ya.. perut Mama, setelah itu Rendy pijit kepala Mama” Pintaku.

Mama Lina diam saja, dan aku mengartikan dia setuju, akupun langsung beranjak mengambil minyak kayu putih yang tersedia di tempat obat. Kuangkat sedikit baju kemeja bagian bawah Mama Lina sampai batas rusuk bawahnya, dan akupun membalurkan minyak kayu putih tadi, dengan lembut aku lakukan.

“Ma … Kancing celana Mama di lepas ya… biar lega bernafas” Aku tahu dia pasti tidak menjawab dan aku pun langsung melepas kancing celana nya.

Selesai aku membalur bagian perutnya dan tanpa meminta ijin aku membalur bagian dada atasnya, saat itu Mama lina kuperhatikan sedang memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegangi kepala. Dan aku duduk diatas tempat tidur disisi kanan Mama Lina. Sesuai janji ku, selesai membalur akupun mulai memijit kepala Mama Lina, perlahan kutarik kedua tangannya kebawah, dan tanpa kusadari tangan kanannya jatuh diatas pangkal paha ku hampir mengenai punya ku.

Perlahan aku pijit dengan lembut kepalanya, dia pun menikmatinya, tiba-tiba aku teringat pemandangan yang indah sewaktu di supermarket tadi, dua gundukan daging yang menggairahkan, seketika itu juga pandangan ku berpindah ke dada Mama Lina, tapi sial yang terlihat hanya bagian atasnya, bajunya hanya terkuak sedikit pada saat aku membalurkan minyak kayu putih pada bagian dada tadi.

“Ren …. Jangan pulang dulu…, temani Mama sampai enakan” Aku terkejut dengan suara tadi dan akupun memalingkan muka ku kearah wajah Mama Lina, sambil mengangguk.

Pijitan ku terus pada kepala Mama Lina, dan Dia pun kembali memjamkan matanya.Terasa capek karena posisi ku memijit agak membungkuk, akupun pindah duduk di lantai karpet. Sekarang posisi memijit ku sambil duduk dilantai dengan kepala aku tidurkan ditempat tidur, pas berada disamping karena buah dada Mama Lina.Karena mungkin terlalu capek, akupun tertidur pulas, ada mungkin 15 menit, dan aku terbangun karena tekanan buah dada sebelah Kanan Mama Lina pada ubun-ubun kepala ku.

Kuangkat kepala ku, kudapatkan Mama Lina sedang tidur miring kekanan menghadap ku, dan tanpa kusadari sekarang pipi ku menempel langsung pada bagian atas buah dada kanan Mama Lina. Aku tidak berani bergerak, kudiamkan saja pipi ku menempel, tapi barang ku mulai bergerak mengeras. Ada lebih kurang satu menit aku terdiam pada posisi ini, dan tiba-tiba Mama Lina memindahkan tangan kirinya yang sedari tadi di atas paha nya ke bahu ku tepat dibawah leher, seolah-olah memeluk ku. Gerakan Mama Lina tadi menyebakan bajunya yang terkuak nyangkut di dagu ku dan tertarik kebawah, sehingga makin terbuka lebar buah dada yang terbuka, dan kepala ku juga ikut terdorong kebawah dengan posisi tidur Mama Lina masih miring dan yang menyenangkan bagi ku ialah putting susu kanan yang kecil mungil tadi berada satu centimeter diujung bibir ku.

Aku heran dan gemeter, apakah ini sengaja dilakukan oleh Mama Lina, dan apakah dia benar-benar tidur sehingga tidak mengetahui keadaan ini. Sementara fikiran ku bertanya-tanya tanpa kusadari lidah ku sudah mulai menjilati pinggiran putting yang kecil mungil dan halus itu, terus aku jilati sepuas ku dan perlahan aku geser kepala ku sedikit agar lebih dekat dan dapat mengisap serta mengulumnya. Kini aku isap putting yang menggairahkan itu.

Mama lina masih memejamkan matanya, entah tidur atau tidak tapi aku sudah tidak perduli lagi dan perlahan aku buka satu lagi kancing baju atasnya, agar aku bisa lebih leluasa menjilati buah dada yang indah ini. Tiba-tiba ada gerakan pada kaki Mama Lina, dan dengan segera aku lepas kuluman bibir ku di putting Mama Lina dan aku ber pura-pura tidur, wah bener Mama Lina menggerakkan badannya dan berpindah posisi miring membelakangi ku.

Untuk beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan punggung Mama Lina, namun fikiran ku terus merayap mencari akal agar aku dapat menikmati buah dada yang montok tadi, maklum nafsu ku sudah mulai tidak bisa dibendung, untuk pulang kerumah menyalurkannya perlu waktu lagi, sementara disini sudah mulai dapat kesempatan, apalagi aku tahu Mama Lina sudah bertahun-tahun tidak pernah di sentuh barang sakti, pasti vaginanya sudah mulai rapat dan ketat lagi.Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri naik ketempat tidur dan berbaring disebelah Mama lina dengan posisi miring menghadap punggung Mama Lina.

Untuk beberapa saat aku merfikir memulainya dari mana, aku bingung, tapi akhirnya aku putuskan untuk memeluk Mama Lina dari belakang dengan melingkarkan tangan kanan ku ketengah dadanya. Perlahan ku tempelkan telapak tangan ku bagian atas buah dada kiri Mama Lina, wah…. benjolannya masih keras, pelan ku gerakkan tangan ku turun ke bagian tengah buah dadanya, sekarang posisi tangan ku sedang mempermainkan putting buah dada Mama Lina sambil sebentar - sebentar meremasnya.

Kurasakan badan Mama Lina bergerak dan akupun berhenti dalam permainan ku sejenak dalam posisi masih memeluk Mama Lina dan tangan ku masih berada diatas gundukan buah dada Mama Lina. Bersamaan akan aku mulai lagi permainan ku tadi, karena aku anggap Mama Lina sudah pulas lagi, ku dengar suara serak dan parau dari sebelah ku.

“Ren dari tadi Mama tahu kalau Rendy mimik, dan sekarang pegangi susu Mama “ suara ini datangnya dari Mama Lina. Aku sangat terkejut dan kaku sekujur tubuh ku, takut dan bersalah.

“Ma …..” belum selesai aku berbicara tiba–tiba tangan ku yang berada diatas buah dada Mama Lina dipegangnya dan ia berkata

“Tidak apa-apa Ren……., kalau kamu masih belum puas teruskan aja, asal kamu bisa memberi kesenangan pada Mama”

Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Mama Lina, aku segera menarik badan Mama Lina sehingga pada posisi telentang, dan karena kancing bajunya sudah terbuka setengah maka terkuak lah buah dada yang aku remas -remas tadi.

“Rendy akan memberikan kepuasan yang telah lama hilang dari Mama malam ini” selesai berkata demikian, aku langsung menerkam dan melumat bibir mungil yang dihadapan ku.

Permainan bibir berjalan sangat panjang, kami saling bertukar menghisap bibir atas dan bawah, saling mempermainkan lidah, bagaikan dua orang yang sudah lama tidak berciuman.Permainan bibir dan ciuman kuhentikan dan aku berkata lembut sambil memandangi mata Mama Lina yang sudah mulai layu.

“Mama sudah puas ciuman Ma ……..” dia tersenyum dan mengangguk.

“Sekarang Mama nikmati ya……., Mama diam dan nikmatilah, Rendy akan memberikan kesenangan yang Mama minta”

Perlahan aku pelorotkan badan ku yang ada diatas Mama Lina turun kebawah, sehingga muka ku persis diatas dada Mama Lina. Ku ciumi lembut leher kirinya dan perlahan berputar ke leher sebelah kanan, setelah puas dengan ciuman di leher, ciuman aku pindahkan kebagian atas dada Mama lina.

Pertama aku ciumi dan aku jilati gundukan kedua dadanya, dan bergeser kebagian tengah, kini aku kitari keliling gundukan buah dada yang kanan dan sekarang yang kiri. Perlahan ku rambatkan juluran lidah ku keatas putting susu kiri Mama lina dan kuisap sedikit-sedikit sambil menggigit halus. Kuraskan kedua tangan Mama Lina mulai mendekap badan ku, dan kurasakan juga Mama Lina mulai menggerak-gerakkan pinggulnya yang kutahu dia sedang mencari ganjalan agar menekan tepat dibibir vaginanya. Aku pindahkan lagi kuluman dan permainan bibir ku ke putting susu Mama Lina yang sebelah kanan, Mama lina makin bergerak agak cepat, dia mulai terangsang penuh.

“Enak Ma….., ???Mama Senang .??…..”sambung ku lagi.

“Ren …. Mama senang, Mama Puas….., Kamu pinter, kamu lembut …….anak manis, …… Mama sudah lama sekali tidak merasakan ini, Mama ….mau kalau setiap ketemu Kamu cium dan mimik Mama………”“Ren ……, lagi nak ……., jangan terlalu lama ngobrolnya, teruskan aja apa yang kamu mau lakukan, Mama pasti senang”.

“Cium lagi Ren ….., Mimik lagi anak manja …..’”

Aku pun meneruskan permainan lidah ku di kedua susu yang mentul dan keras itu. Perlahan ciuman dan jilatan ku turun ebawah sambil aku melorotkan lagi badan ku, kini kaki ku sudah menyentuh lantai. Ku ciumi perlahan perut Mama lina terus kebawah sambil membuka resliting celana Mama lina.Sekarang posisi ciuman ku sudah berada dibagian bawah pusar Mama Lina, kira-kira satu centi lagi diatas klitoris Mama lina.

Badannya mulai bergerak tidak menentu, pinggulnya naik turun seakan ingin segera ujung lidah ku menyentuh belahan yang sudah mulai membasah ini, sesekali kudengar suara desis dari bibir mungil Mama Lina dan nafas yang sudah mulai tidak menentu.

“ahhkk…. Hek …….ehhhh, yaa…hhhh Ren……”

Perlahan kutarik dan lepaskan celana jean dan sekaligus celana dalam Mama lina, badan dan kakinya ikut dilenturkan agar mudah aku melepaskan celana yang menutupi vaginanya.Sekarang celananya sudah terlepas tidak ada lagi yang menutupi kulit mulus Mama Lina dari pusar kebawah, sementara kancing baju yang dipakainya sudah kubuka semua dan telah terbuka lebar.Aku terdiam sejenak dan memandangi tubuh mulus Mama Lina yang sedang telentang pasrah sambil memejamkan matanya. Kupandangi dari kedua buah dadanya sampai ketengah s*****kangannya yang menjepit vagina yang ditumbuhi bulu halus dan pirang, Berulang kali aku pandangi, akhirnya aku terkejut oleh suara Mama Lina.

“Anak manja …….., apa sudah selesai kamu puaskan Mama, …..atau Mama cukup kamu pandangi saja seperti itu??”

“Tentu tidak Mama sayang ……, Mama akan mendapatkan kepuasan yang belum pernah Mama dapatkan sebelumnya,. …..tapi Rendy tidak akan menyia-nyiakan pemandangan yang langka ini, jadi Rendy puas-puaskan dulu memandangi Mama….”

“Ayo lah Ren…., mama sudah tidak sabar lagi merasakan kepuasan yang kamu janjikan….., kamu bisa memandang Mama kapan saja dan dimana saja nanti, Mama pasti kasih asal kamu selesaikan dulu sekarang”

Tanpa menjawab apa-apa lagi aku pun berlutut diujung kakinya du tengah kedua kakinya. Perlahan aku elus dengan kedua tangan ku kedua kaki Mama Lina mulai dari bawah betisnya sampai kepangkal pahanya ber-ulang kali naik turun sambil kedua ujung jari ku menyentuh sekali-sekali bibir kiri dan kanan Vaginannya. Rangsangan mulai dirasakan Mama Lina, kaki dan pinggulnya mulai bergerak dan kejang-kejang. Melihat hal itu aku langsung membungkuk dan menjilati sekeliling bibir Vagina Mama Lina.

Tercium aroma khas vagina yang terawat dan basah….., dan aku yakin kalau vaginan ini sudah bertahun-tahun tidak disentuh benda keras, kelihatan rapat dan tidak berkerut seperti genjer ayam, satu keuntung besar aku dapatkan. Permainan lidah ku berlangsung semakit lincah dan sembari menggigit dan menghisap bagian klitoris yang benar sensitive itu.

“Ren…. Enak sekali Rennnn ……., kamu benar ……, Mama belum pernah merasakan jilatan seperti ini …… sungguh sayang …., ahhhkkk Ren …..ahhhh ehhhhhhhlk kkk….. “ sambil bergumam Mama lina menarik rambut ku dengan kedua tangannya agar aku merapatkan dan menekan bibir ku kuat ke Vaginannya.

“Jangan berhenti Ren ….. , Mama puas…., Mama ahhkk…. Mam….., Mama menikmatinya Ren ……. Uhhh…..”

“Kamu apain Ren……, Tobat anakku….., ampun … Mama ……..ahkkkkk ahhhhhhh enak Ren……,”Aku tidak perdulikan ocehannya, terus aku jilati vaginanya yang semakin basah, kutahan pinggulnya dengan kedua belah tangan ku agar tidak menggangu permainan ku dengan rontakan nya.

Tiba - tiba aku rasakan kepala ku diangkat keatas dan kulihat Mama Lina sudah duduk dihadapan ku, dengan cepat kedua tangan Mama Lina meraih ikat pinggang dan kancing celana ku, dan membuka resliting celnaa ku. Kurasakan darah ku mengalir cepat dan bulu roma ku berdiri pada saat tangan kanan Mama Lina menelusup masuk kedalam celanaku dan mengelus batang kemaluan ku.

Ku diamkan saja apa Maunya. Mama lina terus mengelus sembari meremas remasa kelamin ku. Dengan tidak sabar di pelorotinya celana ku, dan karena posisi kuberdiri dengan lutut diatas tempat tidur dihadapan Mama Lina, sehingga gerakan tanganya melorotkan celanaku dan celana dalam ku berhenti di lutut ku, tapi itu semua sudah cukup untuk membuat kemaluan ku tidak tertutup lagi

“Ren ….. besar sekali kamu punya “ di berkata sambil mengelus-ngelus batang dan kantong biji kemaluan ku.

“Ren apa tidak sakit Ren …., Mama kan sudah lama tidak dimasuki ……”

“Tidak Ma….., Nanti Rendy akan pelan - pelan dan Mama akan merasakan nya nikmat..”

Dan ahhhhhk….., tersentak nafasku, Mama Lina sudah mengulunm ujung batang kemaluan ku, dihisapnya dan sambil memaju dan memundurkan kepalanya aku rasakan setengah batang kemaluan ku sudah masuk kerongga mulut Mama Lina. Aku biarkan dia menikmatinya sambil membuka baju ku, setelah itu, aku membuka baju Mama Lina yang sudah terlepas kancingnya tadi.

Sambil Mama Lina menikmati Batang kemaluanku, kedua tanganku juga meremas-remas buah dadanya dan sekali mengelus punggungnya dan yang lainnya. Pokoknya hampir seluruh badannya aku elus. Ciuman Mama Lina di batang kemaluan ku berhenti dan kedua tangan ku diraihnya, dan ditariknya sambil Mama Lina merebahkan kembali Badan nya, maka badan ku pun tertarik merebah menimpa diatas badannya.

” Mama sudah tidak sabar lagi kepengen meraskan batang milik anak Mama yang besar itu Ren ..”

“Iya … Sayang …. “ Sambut ku sambil menyambar bibir mungil Mama Lina.

Sembari mencium, pinggulku ku gerak-gerakan untuk mengarahkan Batang sakti ku masuk ke mulut Vagina Mama Lina yang sudah sempit lagi itu. Kurasakan Batang ku sudah menempel di Vaginanya, dan aku rasakan Mama lina mengangkat pinggulnya untuk menekan rapat kebatang kemaluanku.Kuangkat pantat ku dan pelan kuarahkan ujung batang kemaluan ku tepat di tengah lubang yang basah ini, kutekan pelan-pelan dan ahkkkk tersentak badan Mama Lina.

“Sakit Ma ……??”, Tanya ku dan Mama Lina tidak menjawab dia hanya mendesih…. Ehhhhhhh. Aku terus menekan sedikit demi sedikit, masuk sudah setengah kepala batang kemaluan ku…..Kutekan terus dan sekarang seluruh kepala kemaluan ku sudah masuk di lobang nikmat ini…… Kutekan terus per lahan dan pelan dan masuk lah setengah Batang ku tapi Mama Lina berteriak…..

“Aduhhhhhh … ahhkkk…”Aku hentikan gerakan menekan ku dan akubertanya :

“Sakit Ma……,??”Dia mengangguk tapi kedua tangannya memegang pinggul ku seakan tidak membolehkan aku mencabut batang ku dari vaginanya.

Aku berfikir, baru setengah sudah sakit dan terasa terjepit. Memang Batang ku cukup besar diatas normal sementara Mama Lina tipikal tubuh badan pribumi yang mungil dan memiliki barang yang sempit, aku jadi penasaran dan ingin merasakan nikmatnya kalau seluruh batang ku masuk. Perlahan kugerakan lagi pantatku menekan kedalam, lembut sekali dan sangat perlahan.

“Ehh… ahhh…, Ren…. Ahhhhh…. Iya ehhhh ahh …. Ren …..,” itu lah suara yang keluar dari mulut Mama Lina seiring gerakan ku naik turun yang menyebabkan barang ku keluar masuk.

Sedikit -sedikit gerakan menekan kedalam aku tambah sehingga batang ku yang masuk semakin dalam. Aku rasakan diujung batang ku seperti di hisap-hisap, alangkah nikmatnya, aku hampir tidak tahan. Aku perkirakan semua batang ku sudah ambles kedalam karena terasa hangat dan nikmat. Dengan lembut aku rapatkan s*****kangan ku sambil kedua tangan ku menguak dan mengangkat kedua kaki Mama Lina. Ku tekan rapat-rapat dan ku gerakkan memutar pinggul ku dengan pahaku menempel rapat dan semua batang ku telah masuk.

“Ren ….. nikmat sekali ren, sudah lama sekali Mama tidak merasakan seperti ini, kamu pandai bermain seks … Nak… Mama … bisa ketagihan Ren….”Aku terus memutar pinggul ku dan menciumi lehernya sambil merapatkan badan ku.

“Mama bisa minta kapan saja ….., Mama tinggal telepon dan Rendy pasti melayani Mama ……”

“Ma ….. punya Mama masih enak, rapat dan menghisap …., Rendy menikmatinya Ma…..”

“Ahhhkk Ren …., goyang ehhhhh, goyangnya lebih cepat sayang ….., Mama kayaknya mau dapat “

“ahhkkkk Ren ,,,, ya…. Uhhhh ……hekkk .. Ren……”Aku hentikan sejenak goyangan ku dan kuperbaiki posisi ku dengan sedikit menarik dengkul ku agak menekuk agar pada saat dapat nanti aku bisa leluasa mengankat dan menekan pantat ku dengan leluasa.

“Jangan berhenti sayang …..”

“tenang Ma…. Kita dapatnya bareng, … pada saat dapat nanti Rendy akan keluar masuk kan punya Rendy biar Mama lebih nikmat lagi…. Kalau dapat Mama bilang Ya…..” aku sudah mulai menggoyang pinggul ku dengan merapatkan panggkal paha ku.

“Ma…. Sekarang nikmati, pejam kan mata Mama ….” Ku goyangkan terus berputar pinggul ku makin lama makin cepat.

“Ren …. Ahhhh, terus Ren…., Terus Sayang,….. auuu… ahh…., ya…. Ren….Ya……”

“Uh ……ahhhh, eeeenak,,,, sekali anak ku….., kamu…. Ahhhhh, goyang … tekan,,,,,,” Semakin mengejang seluruh badan Mama Lina dan goyangan ku semakin cepat berputar.

“Ren… ahhhh, Ren …. Reennnn , Mam ….. ahhhh, ahhhh .., Ren ……. Dah……., Mama mau ….., Mama keluar anakku…..” Mendengar perkataan itu aku pun mempercepat goyang ku.“Ren…. Enak Ren,,,,,,,… terus Rennn…” aku tekan dan aku goyang terus, sambil aku menahan agar aku tidak keluar. Sengaja aku lakukan agar Mama Lina puas dulu baru aku keluar.

“Dapat yang panjang …. Ma,….. Ah,….. yang lama … Ma …. Puaskan Ma……”

“Mama puas Ren,,,,,…. Terus Ren,,,,,,,. Ahhhhh, ahh huhhhh…. Kamu dapat juga sayang …. “

Aku hentikan goyangan ku dan dengan segera aku ganti dengan gerakan naik turun.

“Au …. Ahh… Ren ,,,,, , ya…. Ren… yang kayak gini makin nikmat Sayang…..”

“Puas…. Puas…. Aduhh… enak sekali…. Ahhhhhh, yam,,,yahhhhhhh terus Ren …….” Gerakan naik turun ku semakin cepat dan batang ku terasa semakin keras nafas ku semakin tidak teratur.

“Ma… ahhhh, Ma….., ya….. Mama Sayangg ……, enak sekali Ma…., Punya Mama kering ……, auuu Aduhhhh”

“Ahhhhh, Mam…. Rendy mau dapat Ma….”

“Dapat lah Sayang …. Dapatlah…., semburkan semua …… Mama sudah puas sekali….”

“Ayo …. Ayo Manja……”Akupercepat gerakan ku sehingga bunyi yang terdengar semakin berdecak, agak kutegakkan badan ku mengambil posisi siap untuk menembakkan cairan dari Batang ku.

“Rendy dapat Ma …., Keluar ahhhhhh Ma,,,,,,,”.

“Re…. Mama juga rasakan sayang…., hou…. Keras sekali sayang,,,,,,,, terus Nak……, puaskan manja….”

Semburan mani ku banyak sekali dan berulang ulang, tidak tahu berapa kali, dan gerakkan ku makin pelan dan akhirnya tubuh ku lunglai menimpa tubuh kecil Mama Lina.Aku masih terkulai diatas Mama lina sementara batangku belum kucabut dan masih kurasakan denyutan-denyut liang vagina Mama lina.

Perlahan aku jatuh kesamping kanan Mama Lina yang sedang terbaring lunglai juga, aku masih memejamkan mata ku sambil menikmati permainan yang baru saja selesai. Mama Lina memiringkan badannya menghadapku dan tangan kirinya melingkari dada ku, dan menciumi pipi ku.

“Mama puas sekali Ren…, Terima kasih Na……,”dia terus menciumi pipi ku dan aku melirik sambil tersenyum. Kulihat dia sedang menyibak s*****kangannya dengan tissue yang ada di meja samping tempat tidur, dan setelah selesai Mama lina bangkit duduk mengelap batang ku.

Incest

saat itu gue masih duduk di bangku SMA. Waktu itu gue akuin kalo gue emang tergolong anak yg bandel, gue seneng banget nongkrong/ngumpul sama anak-anak yang usianya jauh diatas gue. Itu semua berakibat pada umur segitu gue udah ngerasain sex bebas. Sampai pada suatu hari (hari sabtu)..., waktu gue baru bangun tidur telepon rumah gue bunyi dan saat itu seperti biasanya dirumah engga ada orang selain gue dan nyokap gue. Dengan terpaksa walaupun mata masih lima watt gue jalan ke ruang tengah buat ngangkat telepon. Ternyata dari cewek gue...langsung aja rasa ngantuk gue ilang sama sekali, berhubung dari semalem gue udah ngerencanain kegiatan yang mantaf punya dengan cewek gue itu. Ngobrol punya ngobrol engga taunya cewek gue ngasih kabar bahwa pada hari itu dia ada acara dengan keluarganya keluar kota katanya sih arisan keluarga dan dia mau engga mau harus ikut.Walaupun dengan segala macam rayuan dia tetap bilang kalo engga bisa jalan ama gue hari itu, denga kesal telepon gue banting yang ada dipikran gue saat itu...ilang deh rencana yang udah gue buat semaleman, padahal gue udah ngebayangin malem ini bakalan ngelonin body cewek gue yang aduhai.... Abis teleponan gue berniat nyari rokok gue ke kamar dan sekalian bermaksud buat tidur lagi...abis kesel sih!. Baru beberapa langkah telepon udah bunyi lagi...gue pikir ini pasti dari cewek gue lagi. Pas gue angkat ternyata dari kakaknya nyokap gue, berhubung gue lagi bad mood gue bilang aja kalo nyokap gue masih tidur. Tante gue akhirnya hanya kasih tau kalo acara jalan ama nyokap gue dibatalin dan minta tolong untuk disampein. Abis itu gue engga jadi ngambil rokok gue dikamar tapi gue langsung menuju ke kamar nyokap buat ngasih tau perihal telepon tadi. Waktu gue buka pintu kamar gue lihat nyokap gue sedang duduk di ranjang sambil sandaran di bantal dan nyokap kelihatan sedang merem sambil tangannya maninin nonoknya sendiri pake alat yang mirip seperti kontol beneran.

Waktu itu gue kaget setengah mati takut kalo nyokap gue marah...tapi keliatannya nyokap gue juga kaget bercampur malu. Dia langsung ngeberesin bajunya yang acak-acakan dan peralatannya di masukin kelaci tempat tidur. Sambil masih kaget gue bialng aja... "Mah tadi ada telpon dari tante Avin katanya acara hari ini batal!". Gue lihat nyokap gue udah bisa netralisir keadan dan bilang "Oh...Gitu toh...ya udah engga apa-apa Jim, maksih deh...!" Setelah itu gue langsung aja beranjak menuju ke pintu untuk segera keluar dari kamar nyokap. Tapi baru beberapa langkah gue denger nyokap manggil gue..."Jim...kamu mau nolongin Mamah engga sayang...?". "Nolong apaan sih Mah? pasti Jimmy mau dong..!", sambil gue balik badan. "Sini dulu dong, duduk disini samping Mamah...!" kata nyokap. Dengan masih agak bingung gue duduk juga disamping nyokap gue. Trus nyokap gue bilang..."Jim...kamu kan tadi udah liat Mamah lagi ngapain kan...!, abis Papah kamu udah lama engga pulang sih Jim, kamu pasti ngerti lah...!!". "Iya Mah...Jimmy ngerti koq'" jawab gue. "Trus Jim...Mamah kayaknya lagi nanggung nih..!Kamu bisa tolong mamah sebentar kan?", tanya nyokap gue lagi. "Maksud mamah apa nih...Jimmy belon ngerti Mah...?", gue belagak bego. "Kamu Mamah ajarin deh! nanti juga kamu ngerti gampang koq Jim...!". Abis itu nyokap gue langsung ngelepas dasternya dan dibalik itu dia ternyata udah engga pake apa-apa lagi...!!alias bugil...(gile juga yah nyokap gue).

Gue kaget bukan main tetapi berhubung pingin tau juga gue diem aja sambil memperhatikan bentuk tubuh nyokap gue, ternyata body nyokap gue masih dua tingkat diatas body cewek gue. Body nyokap gue kelihatan udah mateng bener, teteknya masih kenceng dengan puting yang tegak menantang. Jembut yang lebat namun ditata dengan rapi berbentuk segitiga sehingga bagi yang melihatnya merupakan suatu pemandangan yang menggiurkan. Tanpa gue sadarin kontol gue udah ngaceng dan berhubung gue cuma pake celana pendek tipis doang maka jelas terlihat. Dan rupanya hal ini disadari oleh Nyokap gue, "Nah kan kamu udah mulai terangsang...jadi kayaknya makin gampang aja nih Jim...?", kata nyokap gue sambil usaha untuk ngelepasin semua baju gue. "Tapi Mah...nanti apa kata orang...?", sahut gue sekenanya. "Kan engga ada yang ngeliat Jimmy...dan ngapain juga kita harus kasih tau ke orang-orang...cukup kamu sama Mamah aja...!", Nyokap gue ngasih penjelasan. Setelah baju sama celana pendek gue lepas maka gue cuma pake celana kolor doang, dan gue lihat Nyokap gue ngasih kode ke gue untuk ngelepasin yang satu itu juga. Tapi gue masih ragu "Kan malu Mah...", kata gue. "Malu sama siapa sih Jim...kan cuma sama Mamah aja masa sih kamu malu...ya udah Mamah yang lepasin yah...?", abis bilang gitu nyokap gue ngeplorotin celana dalem gue dan ngelempar ke kolong ranjang.

Setelah CD gue lepas maka kontol gue yag dari tadi udah ngaceng berat langsung nunjuk ke muka nyokap gue. "Wah punya kamu lumayan juga nih...Jim, kayaknya sih sama dengan punya Papah kamu nih...!", sambil ngomong gitu nyokap gue ngelus-ngelus kontol gue dengan lembut. Perasaan gue saat itu kayaknya gimana...gitu...gue engga tau lagi harus berbuat apa, jadi gue diemin aja sambil mencoba nikmatin apa yang diperbuat nyokap gue. Abis itu nyokap langsung jilat palkon gue yang udah berdenyut-denyut engga karuan, sambil sesekali ngelamot abis batang kontol gue yang lumayan gede. S***** beberapa menit nyokap gue nyuruh gue untuk naik ke ranjang, maka kita berdua segera beranjak dari lantai kamar ke atas ranjang nyokap gue yang empuk dan luas. Nyokap gue langsung ambil posisi celentang dengan kedua pahanya dikangkangin lebar-lebar sambil bilang..,"Jim...coba kamu sini...jilatin tetek Mamah dong...!". Berhubung gue udah dirasuki oleh birahi yang tinggi ditambah memang seharusnya hari ini gue ngelakuin ini dengan cewek gue sendiri dan acara itu ternyata gagal total, maka gue langsung aja menghampiri tetek nyokap gue yang masih kelihatan kencang dan padat walaupun tidak begitu besar tapi cukup proposional dengan ukuran tubuhnya. Gue lantas ambil inisiatif untuk menjilati bagian putingnya dulu sambil sesekali menggigit gemas (dalam urusan begini gue udah bukan beginer lagi). Usaha ini ternyata menimbulkan rangsangan buat nyokap gue ini terbukti dengan terdengar rintihan nikmat dari mulut nyokap gue, "Shhhhh....uuuhhhh...shhssshhhsss....aduh...Jim... ". Ternyata tetek nyokap gue memang masih kencang dan bertambah kencang setelah gue lamot abis. Setelah puas dengan tetek gue mulai turun ke bagian bawah yaitu ke bagian nonok nyokap gue. Gue mulai dari arah jembut yang berbentuk segitiga terus turun ke arah itilnya yang udah mulai nyembul keluar, semua gue jilat abis sampe engga ada yang kelewat.

Suara nyokap gue yang tadinya cuma rintihan berubah menjadi teriakan, "Aaaahhhh....waaawww...Jim...aduhhhh...Jim...k amu pinter banget sih....ahhhh....shhhhh...!". "Udah Jim....ahhh..Mamah udah engga tahan nih...!!", kata nyokap gue lagi. ya udah, abis itu gue bangun dan langsung gue arahin kontol gue ke arah lobang vagina yang udah basah mendekati banjir. Gue masukin pelan-pelan...dan terasa hangat, bleeep...masuk sudah kontol gue ke dalem nonok nyokap gue. Walaupun terasa sedikit agak longgar dibanding punya cewek gue tapi ranggsangan yang gue terima lebih besar dan ini semua menambah nikmat yang tidak ada bandingnya. Pelan-pelan gue maju mundurin kontol gue sesuai dengan gerakan yang dilakukan nyokap gue, makin lama gerakan gue makin cepat dan gue rasain tubuh nyokap gue bergetar hebat sambil kedua tangannya meremas pantat gue kenceng banget. Gue tau kalo nyokap gue udah orgasme dan itu pun ditandai denga erangan hebat..."Aaaaawwww.....ahhhh....Jimmyyyyyy.....adu uuuhhhh....Mamah engga tahan Jim.....aaahhhhhhh........", gue ngerasa kontol gue dibanjiri oleh cairan yang membuat makin licin dan kayaknya gue juga udah engga tahan. "Mahhhh....Jimmy udah mau keluar nihhhhh.....ahhh.....,keluarin di dalem apa diluar Mah.....?", tanya gue. "Udah keluarin di dalem aja Jim...engga apa-apa koq....!", jawab nyokap sambil ngelus ngelus pantat gue. Dengan cepat gue gesekin kontol gue dan akhirnya muncratlah peju gue di dalem nonok nyokap gue, "Creeet...creeeet.....creeeet....aaaahhhhhhh, Mah enak banget nih....", ujar gue setelah muncratin peju gue banyak banget. "Iya sayang...Mamah juga enak koq....", balas nyokap dengan lembut di kuping gue. "Tuh...Jim gampang kan...udah gitu enak lagi!!", kata nyokap gue setelah kita berdua tidur berdampingan sambil menyeka keringat yang keluar dari tubuh masing masing. "Jimmy makasih banyak yah...sayang...yah...!", kata nyokap gue sambil mengecup pipi gue lembut banget, abis berkata begitu dia langsung bangun dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan badan dengan air dari shower. Sambil masih tiduran gue, jadi berpikir apa yang gue lakuin dengan nyokap gue ini bener apa salah...tapi ini semua awalnya kan diluar kehendak gue sendiri jadi akhirnya gue putusin "What the hell lah...".

Semenjak saat itu gue jadi rutin ngelakuin itu sama nyokap gue dan kita udah bikin jadwal tetap disesuaikan dengan jadwal kepulangan bokap gue, dan itu semua yang ngatur nyokap gue sendiri. Hubungan dengan cewek gue masih berlanjut tapi itu cuma sekedarnya, cuma buat pelampiasan kalo bokap gue pulang dan libido gue lagi tinggi. Yang jelas setelah saat itu gue cuma pingin ngentot sama nyokap gue sendiri karena rasanya lebih nikmat dibanding dengan yang lain. Sekian cerita dari gue, sekarang gue udah berusia 25 taon dan udah kerja di salah satu perusahaan yang bergerak dibidang komputer. Sampai saat ini gue masih suka ngelakuin itu sama nyokap gue cuma frekuensinya udah jarang, itu juga kalo kepingi aja dan lagi malas untuk keluar rumah.

Suami pergi melulu, istri tidurin aja

Nama gua Antok. Travel customer service perusahaan penyalur air minum. Bahasa awamnya sopir sekaligus tukang angkat galon air mineral duapuluh liter. Gak heran badan gua kekar. Bos bilang ini namanya company benefit. Sialan. Dulu gua termasuk orang kuliahan, tapi nyerah sebelom kelar. Otak tak mampu, kantong kering, motivasi payah. Jelek-jelek gini gua punya simpenan cewe cantik putih keturunan chinese. Sarjana lulusan perguruan tinggi and berduit. Rumah gedongan pakai AC. Ibu rumah tangga lagi. Apa gak hebat? Temen-temen gua pada bilang, prestasi kaya gitu kok dibangga-banggaain. Gua bales nanya, emangnya elu bisa apah? Gak peduli omongan orang, pokoknya gua pede. Manteb buat nulis di sini biar orang-orang pada tau semua.

Cewe gua namanya Lina. Umur tigasatu, anak umur lima sama tujuh. Biar gitu badan masih ramping. Tetenya kenceng dan pentilnya terjaga baik. Sampe hapal tuch, padahal dulu kalo pelajaran lupa terus. Katanya waktu anak-anak masih kecil pake botol. Yang terpenting itu memenya masih seret. Kok bisa? Bisa ajah berkat kemajuan teknologi operasi sesar. Ada bekas carutan di perut bawah. Kalo gak percaya lihat ajah sendiri. Suami pergi melulu, ikut perusahaan internasional. Katanya harus sering travel, biar cepat naek pangkat. Bodo amat aturan itu, pokoknya suami pergi melulu, istri tidurin ajah. Lagian cewe mana yang gak butuh temen ngobrol. Abis gitu ya lanjuting ke ranjang lah. Gak bener kalo cuma ngomong-ngomong doang. Guru bahasa Indonesia gua dulu bilang, jangan cuman bicara tapi juga kerja. Lupa gimana persisnya, pokoknya gitu maksudnya.

Cewe gua servisnya benar-benar yahood, termasuk kalo lagi gak mood. Pagi-pagi gua dateng nganter galon air. Mana si bibik, tanya gua. Ke pasar, jawabnya males tiduran. Emang bosen yach ditinggal suami melulu. Anak-anak sekolah, tanya gua liatin itu kaki putih mulus. Iyah, katanya sambil lihat TV. Satu tangan maju, masih gak cukup, pakai dua. Naek turun masuk-masuk balik daster. Halus di tangan, mesum di mata. Pantynya warna jambu, pusernya kelihatan lagi, wuih. Kok diam ajah, lagi gak minat yach. Gua gak peduli, kan udah ngaceng. Gua peloroting ajah pantynya. Buang ke ranjang. Gak nolak. Itu rambut menantang mengundang bencana ajah. Copot celana seragam gua, kolor gua. Buang ke ranjang. Si monas udah kenceng naek turun. Sabar ach, bentar lagi juga dapet itu meme istri orang. Angkat dasternya sampe atas pusar, buka dua kaki mulus putih rada lebar. Nurut kok. Gua naekin badannya. Posisi standar lah, kan si cewe lagi gak gairah. Tangan di samping badan, kaki dipas-pasin di antara dua kaki dia.

Helm coklat item gua mulai masukin celah merah jambu. Ssh, suara apa itu keluar dari mulut. Lanjuting terus, masuk separoh. Seret tapi kering, geli tapi kurang nikmat. Gua pompa pelan-pelan, nah tuch mulai basah. Langsung pentokin ajah si rudal. Uuhh. Banter itu suara sampe kepala keangkat dikit. Heheh. Pompa lagi rada kenceng. Nah, ini baru namaya licin rapet anget nikmat. Gua lirik ke bawah, badan gua yg item kasar numpukin badan dia yang putih halus. Serasa berkuasa gitu, bagaikan orang penting ajah! Biar mesra dikit, gua cipokin mulutnya. Dibales lagi. Nikmat buanget. Sedot-sedot lidah, nah tuh tangan pegangan punggung gua, mulai menikmati yach. Gua jilatin mukanya yang putih. Tambah kenceng goyang pinggul gua sampe kaki doi keangkat-angkat. Nempel lepas jembut gua ke si kecil itil. Teken-teken gesek-gesek biar geli-geli. Nah tuch bener khan, kakinya jadi ngerangkul ke bokong gua. Kalao ada orang ngintip, gua gak bisa dituduh memperkosa. Liat tuch posisinya kakinya kaya gitu, tul hak?. Tarik lagi, seret, licin. Amblas lagi, geli-geli, uenak bener. Cantik putih, istri orang lagi. Kapan lagi.

Gunung merapi mau meletus. Gua angkat badan gua sampe tangan lurus kenceng, perut bawah nempel ketat. Digoyang yach Lin, bisik gua jorok, gua mau kkluarrr nich. Gak perlu diperintah dua kali, kakinya diturunin. Gua lirik ke bawah lagi, pinggulnya yang bulat seksi putih mulai goyang naek turun. Buset. Gak kecepatan yang bikin punya gua sakit. Kan lagi peka-pekanya gitu. Gak terlalu pelan juga yang bikin kurang manteb ngecrotnya. Pokoknya paslah. Crot pertama. Pembukaan. Prrrottthhh dua kali. Yang ini paling banter sampe badan kejang and pantat ampir kram. Sambil digoyang lagi, geli-geli buanget dech helm gua! Peju gua yemprot dalem-dalem. Kalo gak diikat itu rahim abis operasi sesar dulu itu udah pasti hamil eluh. Gua tinggal kabur pastilah. Crot lagi. Crot, crot, rada dikit. Dikit lagi, dikit lagi. Tes, tes. Naaah abis jugah, gak mau rugi maksudnya. Badan ambruk. Punggung keringatan, torpedo masih nancep. Masih ajah digoyang tapi sambil pelan-pelan dibrentiin. Biar punya gua gak kaget gitu. Abis istirohat, gua pake pakaian. Gua sedot bibirnya tanda trima kasih. Tinggalin permen coklat buat anak-anak. Terus balik kerja. Ini baru yang namanya company benefit! Gimana rekan-rekan, hebat khan pengalaman gua? Entar nulis lagi pengalaman sama cewe gua ini waktu dia lagi mood. Lebih lengkap and rame, tunggu ajah.