Selasa, 24 Juni 2014

Senin sore di kampung halaman

Aku Linda, mahasiswi hukum Universitas Pajajaran. Semenjak dua tahun yang lalu, saat diterima kuliah di Universitas Pajajaran, aku tinggal di Bandung. Aku berasal dari Sukabumi, ayahku berasal dari Bandung, sedangkan ibuku asli Sukabumi. Mereka tinggal di Sukabumi. Cerita ini menceritakan kisahku yang terjadi saat aku kelas 1 SMA di Sukabumi yang terus berlanjut sampai aku kuliah sekarang.

Aku anak yang paling tua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu adik laki-laki. Umurku berbeda 2 tahun dengan adik. Kami sangat dimanja oleh orang tua kami, sehingga tingkahku yang tomboy dan suka maksa pun tidak dilarang oleh mereka. Begitupun dengan adikku yang tidak mau disunat walaupun dia sudah kelas 2 SMP.

Waktu kecil, aku sering mandi bersama bersama adikku, tetapi sejak dia masuk SD, kami tidak pernah mandi bersama lagi. Walaupun begitu, aku masih ingat betapa kecil dan keriputnya penis seorang cowok. Sejak saat itu, aku tidak pernah melihat lagi penis cowok. Sampai suatu ketika, pada hari senin sore, aku sedang asyik telpon dengan teman cewekku. Aku telpon berjam-jam, kadang tawa keluar dari mulutku, kadang kami serius bicara tentang sesuatu, sampai akhirnya aku rasakan kandung kemihku penuh sekali. Aku kebelet pipis. Benar-benar kebelet pipis, sudah di ujung lah. Cepat-cepat kuletakkan g****g telpon tanpa permisi dulu sama temanku. Aku berlari menuju ke kamar mandi terdekat. Ketika kudorong ternyata sedang dikunci.

"Hey..! Siapa di dalam..? Buka dong..! Udah nggak tahan..!" aku berteriak sambil menggedor-gedor pintu.
"Akuu..! Tunggu sebentar..!" ternyata adikku yang di dalam. Terdengar suaranya dari dalam.
"Nggak bisa nunggu..! Cepetan..!" kataku memaksa.
Gila, aku benar-benar sudah tidak kuat menahan ingin pipis.

"Kreekk..!" terbuka sedikit pintu kamar mandi, kepala adikku muncul dari celahnya.
"Ada apa sih..?" katanya.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung nyerobot ke dalam karena sudah tidak tahan. Langsung aku jongkok, menaikkan rokku dan membuka celana dalamku.
"Serrrr..." keluar air seni dari vaginaku.
Kulihat adikku yang berdiri di depanku, badannya masih telanjang bulat.

"Wooiiyyy..! Sopan dikit napa..?" teriaknya sambil melotot tetap berdiri di depanku.
"Sebentarrr..! Udah nggak kuat nih," kataku.
Sebenarnya aku tidak mau menurunkan pandangan mataku ke bawah. Tetapi sialnya, turun juga. Kelihatan deh burungnya.
"Hihihihi..! Masih keriput kayak dulu, cuma sekarang agak gede dikitlah..." gumanku dalam hati.
Aku takut tertangkap basah melihat penisnya, cepat-cepat kunaikkan lagi mataku melihat ke matanya. Eh, ternyata dia sudah tidak melihat ke mataku lagi. Sialan..! Dia lihat vaginaku yang lagi mekar sedang pipis. Cepat-cepat kutekan sekuat tenaga otot di vaginaku biar cepat selesai pipisnya. Tidak sengaja, kelihatan lagi burungnya yang masih belum disunat itu. Sekarang penisnya kok pelan-pelan semakin gemuk. Makin naik sedikit demi sedikit, tapi masih kelihatan lemas dengan kulupnya masih menutupi helm penisnya.

"Sialan nih adikku. Malah ngeliatin lagi, mana belum habis nih air kencing..!" aku bersungut dalam hati.
"Oooo..! Kayak gitu ya Teh..?" katanya sambil tetap melihat ke vaginaku.
"Eh kurang ajar Lu ya..!" langsung saja aku berdiri mengambil gayung dan kulemparkan ke kepalanya.
"Bletak..!" kepala adikku memang kena pukul, tetapi hasilnya air kencingku kemana-mana, mengenai rok dan celana dalamku.

"Ya... basah deh rok Teteh..." kataku melihat ke rok dan celana dalamku.
"Syukurin..! Makanya jangan masuk seenaknya..!" katanya sambil mengambil gayung dari tanganku.
"Mandi lagi ahh..!" lanjutnya sambil menyiduk air dan menyiram badannya.
Terus dia mengambil sabun dan mengusap sabun itu ke badannya.
"Waduh.., sialan nih adik..!" sungutku dalam hati.
Waktu itu aku bingung mau gimana nih. Mau keluar, tapi aku jijik pake rok dan celana dalam yang basah itu. Akhirnya kuputuskan untuk buka celana dalam dan rokku, lalu pinjam handuk adikku dulu. Setelah salin, baru kukembalikan handuknya.

"Udah.., pake aja handuk Aku..!" kata adikku.
Sepertinya dia mengetahui kebingunganku. Kelihatan penisnya mengkerut lagi.
"Jadi lucu lagi gitu..! Hihihi..!" batinku.
Aku lalu membuka celana dalamku yang warnanya merah muda, lalu rokku. Kelihatan lagi deh vaginaku. Aku takut adikku melihatku dalam keadan seperti itu. Jadi kulihat adikku. Eh sialan, dia memang memperhatikan aku yang tanpa celana.

"Teh..! Memek tu emang gemuk kayak gitu ya..? Hehehe..!" katanya sambil nyengir.
Sialan, dia menghina vaginaku, "Iya..!" kataku sewot. "Daripada culun kayak punya Kamu..!" kataku sambil memukul bahu adikku.
Eh tiba-tiba dia berkelit, "Eitt..!" katanya.
Karena aku memukul dengan sekuat tenaga, akhirnya aku terpeleset. Punggungku jatuh ke tubuhnya. Kena deh pantatku ke penisnya.
"Iiihhh.., rasanya geli banget..!" cepat-cepat kutarik tubuhku sambil bersungut, "Huh..! Elo sih..!"

"Teh.. kata Teteh tadi culun, kalau kayak gini culun nggak..?" katanya mengacuhkan omonganku sambil menunjuk ke penisnya.
Kulihat penisnya mulai lagi seperti tadi, pelan-pelan semakin gemuk, makin tegak ke arah depan.
"Ya.. gitu doang..! Masih kayak anak SD ya..?" kataku mengejek dia.
Padahal aku kaget juga, ukurannya bisa bertambah begitu jauh. Ingin juga sih tahu sampai dimana bertambahnya. Iseng aku tanya, "Gedein lagi bisa nggak..?" kataku sambil mencibir.
"Bisa..! Tapi Teteh harus bantu dikit dong..!" katanya lagi.
"Megangin ya..? Wekss.., ya nggak mau lah..!" cibirku.
"Bukan..! Teteh taruh ludah aja di atas tititku..!" jawabnya.

Karena penasaran ingin melihat penis cowok kalau lagi penuh, kucoba ikuti perkataan dia.
"Gitu doang kan..? Mau Teteh ngeludahin Kamu mah. Dari dulu Teteh pengen ngeludahin Kamu""Asyiiikkk..!" katanya.
Sialan nih adikku, aku dikerjain. Kudekatkan kepalaku ke arah penisnya, lalu aku mengumpulkan air ludahku. Tapi belum juga aku membuang ludahku, kulihat penisnya sudah bergerak, kelihatan penisnya naik sedikit demi sedikit. Diameternya makin lama semakin besar, jadi kelihatan semakin gemuk. Dan panjangnya juga bertambah. Asyiik banget melihatnya. Geli di sekujur tubuh melihat itu semua. Tidak lama kepala penisnya mulai kelihatan di antara kulupnya. Perlahan-lahan mendesak ingin keluar. Wahh..! Bukan main perasaan senangku waktu itu. Aku benar-benar asyik melihat helm itu perlahan muncul. Seperti penyanyi utama yang baru muncul di atas panggung setelah ditunggu oleh fans-nya.

Akhirnya bebas juga kepala penis itu dari halangan kulupnya. Penis adikku sudah tegang sekali. Menunjuk ke arahku. Warnanya kini lebih merah. Aku jadi terangsang melihatnya. Kualihkan pandangan ke adikku.
"Hehe..." dia ke arahku. "Masih culun nggak..?" katanya lagi. "Hehe..! Macho kan..!" katanya tetap tersenyum.
Tangannya tiba-tiba turun menuju ke s*****kanganku. Walaupun aku terangsang, tentu saja aku tepis tangan itu.

"Apaan sih Elo..!" kubuang tangannya ke kanan.
"Teh..! Please Tehhh.. Pegang aja Teh... Nggak akan diapa-apain... Aku pengen tahu rasanya megang itu-nya cewek. Cuma itu aja Teh.." kata adikku, kembali tangannya mendekati s*****kanganku.
Waduuhh.. sebenarnya aku mau jaga image, masa mau sih sama adik sendiri, tapi aku juga ingin tahu bagaimana rasanya dipegang oleh cowok di vagina.
"Inget..! Jangan digesek-gesekin, taruh aja tanganmu di situ..!" akhirnya aku mengiyakan. Deg-degan juga hati ini.

Tangan adikku lalu mendekat, bulu kemaluanku sudah tersentuh oleh tangannya. Ihh geli sekali... Aku lihat penisnya sudah keras sekali, kini warnanya lebih kehitaman dibanding dengan sebelumnya. Uuppss... Hangatnya tangan sudah terasa melingkupi vaginaku. Geli sekali rasanya saat bibir vaginaku tersentuh telapak tangannya. Geli-geli nikmat di syaraf vaginaku. Aku jadi semakin terangsang sehingga tanpa dapat ditahan, vaginaku mengeluarkan cairan.
"Hihihi.. Teteh terangsang ya..?"
"Enak aja... sama Kamu mah mana bisa terangsang..!" jawabku sambil merapatkan s*****kanganku agar cairannya tidak semakin keluar.
"Ini basah banget apaan Teh..?"
"Itu sisa air kencing Teteh tahuuu..!" kataku berbohong padanya.
"Teh... memek tu anget, empuk dan basah ya..?"
"Tau ah... Udah belum..?" aku berlagak sepertinya aku menginginkan situasi itu berhenti, padahal sebenarnya aku ingin tangan itu tetap berada di situ, bahkan kalau bisa mulai bergerak menggesek bibir vaginaku.

"Teh... gesek-gesek dikit ya..?" pintanya.
"Tuh kan..? Katanya cuma pegang aja..!" aku pura-pura tidak mau.
"Dikit aja Teh... Please..!"
"Terserah Kamu aja deh..!" aku mengiyakan dengan nada malas-malasan, padahal mau banget tuh. Hihihi.. Habis enak sih...
Tangan adikku lalu makin masuk ke dalam, terasa bibir vaginaku terbawa juga ke dalam.
Ouughh..! Hampir saja kata-kata itu keluar dari bibirku. Rasanya nikmat sekali. Otot di dalam vaginaku mulai terasa berdenyut. Lalu tangannya ditarik lagi, bibir vaginaku ikut tertarik lagi.
"Ouughh..!" akhirnya keluar juga desahan nafasku menahan rasa nikmat di vaginaku.
Badanku terasa limbung, bahuku condong ke depan. Karena takut jatuh, aku bertumpu pada bahu adikku.

"Enak ya Tehh..?"
"Heeh..," jawabku sambil memejamkan mata.
Tangan adikku lalu mulai maju dan mundur, kadang klitorisku tersentuh oleh telapak tangannya. Tiap tersentuh rasanya nikmat luar biasa, badan ini akan tersentak ke depan.
"Tehh..! Adek juga pengen ngerasaain enaknya dong..!"
"Kamu mau diapain..?" jawabku lalu membuka mata dan melihat ke arahnya.
"Ya pegang-pegangin juga..!" katanya sambil tangan satunya lalu menuntun tanganku ke arah penisnya.
Kupikir egois juga jika aku tidak mengikuti keinginannya. Kubiarkan tangannya menuntun tanganku. Terasa hangat penisnya di genggaman tangan ini. Kadang terasa kedutan di dalamnya. Karena masih ada sabun di penisnya, dengan mudah aku bisa memaju-mundurkan tanganku mengocok penisnya.

Kulihat tubuh adikku kadang-kadang tersentak ke depan saat tanganku sampai ke pangkal penisnya. Kami berhadapan dengan satu tangan saling memegang kemaluan dan tangan satunya memegang bahu.
Tiba-tiba dia berkata, "Teh..! Titit Adek sama memek Teteh digesekin aja yah..!"
"Heeh" aku langsung mengiyakan karena aku sudah tidak tahan menahan rangsangan di dalam tubuh.
Lalu dia melepas tangannya dari vaginaku, memajukan badannya dan memasukkan penisnya di antara s*****kanganku. Terasa hangatnya batang penisnya di bibir vaginaku. Lalu dia memaju-mundurkan pinggulnya untuk menggesekkan penisnya dengan vaginaku.

"Ouughhh..!" aku kini tidak malu-malu lagi mengeluarkan erangan.
"Dek... masukin aja..! Teteh udah nggak tahan..!" aku benar-benar sudah tidak tahan, setelah sekian lama menerima rangsangan. Aku akhirnya menghendaki sebuah penis masuk ke dalam vaginaku.
"Iya Teh..!"
Lalu dia menaikkan satu pahaku, dilingkarkan ke pinggangnya, dan tangan satunya mengarahkan penisnya agar tepat masuk ke vaginaku.

Aku terlonjak ketika sebuah benda hangat masuk ke dalam kemaluanku. Rasanya ingin berteriak sekuatnya untuk melampiaskan nikmat yang kurasa. Akhirnya aku hanya bisa menggigit bibirku untuk menahan rasa nikmat itu. Karena sudah dari tadi dirangsang, tidak lama kemudian aku mengalami orgasme. Vaginaku rasanya seperti tersedot-sedot dan seluruh syaraf di dalam tubuh berkontraksi.
"Ouuggggkkk..!" aku tidak kuat untuk tidak berteriak.
Kulihat adikku masih terus memaju-mundurkan pinggulnya dengan sekuat tenaga. Tiba-tiba dia mendorong sekuat tenaga hingga badanku terdorong sampai ke tembok.
"Ouughhh..!" katanya.
Pantatnya ditekannya lama sekali ke arah vaginaku. Lalu badannya tersentak-sentak melengkung ke depan. Kurasakan cairan hangat di dalam vaginaku.

Lama kami terdiam dalam posisi itu, kurasa penisnya masih penuh mengisi vaginaku. Lalu dia mencium bibirku dan melumatnya. Kami berpagutan lama sekali, basah keringat menyiram tubuh ini. Kami saling melumat bibir lama sekali. Tangannya lalu meremas susuku dan memilin putingnya.
"Teh..! Teteh nungging, terus pegang bibir bathtub itu..!" tiba-tiba dia berkata.
"Wahh..! Gila Lu ya..!"
"Udah.., ikutin aja..!" katanya lagi.
Aku pun mengikuti petunjuknya. Aku berpegangan pada bathtub dan menurunkan tubuh bagian atasku, sehingga batang kemaluannya sejajar dengan pantatku. Aku tahu adikku bisa melihat dengan jelas vaginaku dari belakang. Lalu dia mendekatiku dan memasukkan penisnya ke dalam vaginaku dari belakang.

"Akkkhh..! Gila..!" aku menjerit saat penis itu masuk ke dalam rongga vaginaku.
Rasanya lebih nikmat dibanding sebelumnya. Rasa nikmat itu lebih kurasakan karena tangan adikku yang bebas kini meremas-remas payudaraku. Adikku terus memaju-mundurkan pantatnya sampai sekitar 10 menit ketika kami hampir bersamaan mencapai orgasme. Aku rasakan lagi tembakan sperma hangat membasahi rongga vaginaku. Kami lalu berciuman lagi untuk waktu yang cukup lama.

Setelah kejadian itu, kami jadi sering melakukannya, terutama di kamarku ketika malam hari saat orang tua sudah pergi tidur. Minggu-minggu awal, kami melakukannya bagaikan pengantin baru, hampir tiap malam kami bersetubuh. Bahkan dalam semalam, kami bisa melakukan sampai 4 kali. Biasanya aku membiarkan pintu kamarku tidak terkunci, lalu sekitar jam 2 malam, adikku akan datang dan menguncinya. Lalu kami bersetubuh sampai kelelahan.

Kini setelah aku di Bandung, kami masih selalu melakukannya jika ada kesempatan. Kalau bukan aku yang ke Sukabumi, maka dia yang akan datang ke Bandung untuk menyetor spermanya ke vaginaku. Saat ini aku mulai berani menghisap sperma yang dikeluarkan oleh adikku.

Dream Come True

sebut saja aku donnie (nama samaran), ini adalah kisah nyata walau tak sedetail aslinya. ini adalah impian yang jadi kenyataan.

aku sangat tergila2 dengan wanita chinese, dan yang mendekatinya. banyak aku menyimpan pic dari model chinese dan japanese. buat aku mereka sangat sexy, apa lagi dengan boobs yang tak terlalu besar. aku sangat suka wanita dengan memiliki toket kecil hingga sedang kira 32-34 dengan nipples warna cerah. aku sering onani membayangkan model2 itu.

aku sebenernya sering ml dengan teman wanita yang mau ku ajak ml dan mereka yang sedang ingin ml. aku sangat menikmati ml, dan senang untuk melayani wanita2 yang memang membutuhkan ml.

kisah ini bermula ketika aku iseng untuk cybersex, aku suka surf d internet tp klo untuk cybersex tergatung mood, klo untuk cybersex aku sering pake nick co_ca_ce_4cybersx atau co_ca_ce_chns_4cysx n masuk d channel yogyakarta, bandung, jakarta, surabaya. singkat cerita aku coba ajak pv beberapa ce, terutama ce chinese. akhirnya aku pv dengan ce chns, sebut saja elen (nama samaran), anak smu kls 2. kami mengawalinya dengan perlahan dan semakin panas d cyber. singkat cerita kami tukaran pic, cybersex n dia menyatakan kepuasannya pada ku, lalu dia ingin real. aku langsung mengatakan OK, tp aku juga bingung bagaimana melakukannya walaupun satu kota, sama2 d jogja.
dia bilang aku ga usah bingung, dia yang cariin tempatnya, akhirnya kami date.

saat kulihat dia pertama kalinya tak beda jauh dengan pic yang dia kirim sexy, pas dengan kesukaanku, boobsnya 34, rambut hitam panjang dan tingginya sepundakku, aku tingginya 180 cm. kami janjian d mall, dan kami awali dengan ngobrol. ternyata dia ngga malu2 dia santai aja kaya ketemu teman akrab, ku beranikan untuk menggandeng tangannya dan dia tak keberatan. tangan nya halus banget, dan wajahnya bikin aku horny dengan matanya yang sipit dan bibirnya yang mungil. akhirnya dia mengajakku untuk kerumahnya, dia nggak keberatan ku boncengkan diatas motorku. dia datang ke mall dengan taksi. kami ngobrol tentang apa saja baik d mall atau selama perjalanan ke rumahnya. ternyata rumahnya tidak terlalu mewah, tetapi masih tergolong diatas rata2. dan yang terpenting bersih dan rapi itu yang membuat tampak diatas rata2. kami masuk d ruang tamu, melanjutkan obrolan dan sebelumnya elen mengambilkan minuman untuk kami berdua. dan ku ketahui ternyata elen seorang anak tunggal, dan orang tuanya wiraswasta yang terbilang sukses. walaupun begitu mereka memiliki seorang pembantu yang bekerja pagi hingga siang, dan seorang sopir. tapi dia bisa melakukan segala pekerjaan rumah, bagus juga didikan ortunya batinku.

kami duduk bersebelahan dan kuberanikan untuk merangkulnya, dia ngga marah. duduk kami pun layaknya dua sejoli yang telah berhubungan lama, dia memintaku menemaninya malam itu. ortunya sedang pergi ke luar kota dengan sopirnya, jadi hanya kami berdua d rumah itu. aroma tubuhnya sangat menggoda, dan terus terang aku sangat suka feromone wanita (bau tubuh asli wanita), aroma tubuhnya bercampur dengan parfum yang dia pakai, menggoda sekali. elen bertanya soal aku berhubungan dengan wanita, dari pacaran hingga pengalaman ml. aku bercerita sambil mengelus2 rambutnya dan tiduran dengan kepalanya d pangkuanku. elen mendengar penuh perhatian. aku berbicara terus terang padanya tentang pengalaman pacaran ku dan pengalaman ml ku ketika smu. elen menunjukkan sikap yang baik padaku, lalu dia berkata pada ku bahwa dia sangat suka padaku malam ini saja dan dia ingin merasakan nikmatnya berhubungan badan. sebab dia hanya bisa masturbasi saja hingga saat itu dan dia sering nonton film semi, bf, dan film2 yang cukup merangsang. dia perna pacaran tp belum pernah melakukan hal2 yang intim, sekarang dia baru sendiri.

dengan tiba2 dia mengajakku mandi bersama. aku langsung setuju, aku sangat mau dalam batin. dia menggandengku masuk ke kamarnya, lalu dia menanggalkan pakaiannya. aku mematung melihatnya, sexy sekali sangat sesuai dengan impianku nipplesnya berwarna coklat muda, sebesar jagung dengan toket 34 yang sexy, tetapi vaginanya masih cukut lebat rambutnya tapi tak selebat orang jawa, semuanya membuat dedekku langsung melek. dia menegurku:
"donnie, kenapa kamu. ko diem aja?"
"nggak" jawab ku
"kamu sexy banget elen, kamu adalah impian ku"
elen pun tersenyum padaku
"masa, donn" sambil mendekatiku
elen pun melucuti pakaian ku, dan sebelum dia melepaskan cd ku dia mengelus2 penis ku
"keras banget, donn. uda ga tahan ya"
"he eh" jawabku
setelah ku bugil ku peluk dia dan kucium bibirnya, lembut sekali. kugandeng dia dan kami ke kamar mandi. di kamar mandi kami bercumbu, tak henti2nya ku peluk dan ku cium bibirnya, lalu
"elen, kamu mau ku cukur rambut vaginanya nggak?"
"buat apa, donn"
"biar vaginamu ngga bau n makin sexy. kaya penisku"
aku rajin mencukur rambut penisku dan kusisakan bagian atasnya.
"pantas kedua bolamu mulus banget, donn. menggoda bgt"
"jadi kamu mau?"
"OK, tp pakai cukuran apa?"
"pake pisau cukur rambut kaki mu, punya khan"
"OK"
elen duduk di kloset dan ku cukur pelahan2.
"liat nich, sexy khan" kuambil cermin dan ku lihatkan vaginanya
"iya, donn. elen suka. jadi begitu ya biar sexy n sehat, ga bau gitu vaginanya"
aku mengangguk
"coba ku cium vagina mu sekarang" kataku dan ku cium vaginanya perlahan dan lembut
dari atas turun ke bibir vaginanya lalu ke klitorisnya, kukecupi dan sesekali ku mainkan lidah kuperlahan tapi matap lidah ku memainkan klitorisnya. ku buka bibir vaginanya dengan jariku dan tampak klitorisnya dan vaginanya yang masih merah. ku lanjutkan permainan lidah ku bergerak d klitorisnya dan bibir vagina bagian dalam. terdengar
"uh"
lenguhan elen dengan kedua tangannya memegang kepalaku dan mengacak2 rambut ku. ku lanjutkan jilatan ku dan sesekali ku sedot klitnya dengan lembut. elen makin menggeliat menggerakan pinggulnya dan menekan ke pakau ke vaginanya. kutangkupkan mulut ku ke vaginanya, sehingga lubang senggamanya tertutupi oleh mulut ku. lalu kusedot lembut dan ku gerakkan lidah ku d klitnya, carian vaginanya makin deras dan tertelan oleh ku, enak sekali bagiku. ke dua tangan ku memainkan toketnya, ku remas2 lembut, ku pelintir2 nipple nya. elen makin menggila pinggulnya bergoyang kanan kiri dan makin kencang lenguhannya
"uh, donnn. enak banget"
tempo agak ku bercepat, elen makin horny. dia menjepit dan menekan2 kepalaku, lalu tubuhnya agak mengejang dan denyut vaginanya makin terasa cairan mmakin banjir, akhirnya
"ah, donnn, aku sampe"
terikannya penuh kepuasan dan ku jilati cairan itu sambil merasakan denyutan vaginanya.

ku peluk dia, keluar dari kamar mandi
"donn, tadi enak banget. itu yang pertama sama co. memekku pun masi kedutan, enak banget" sambil elen mencium ku
ku baringkan elen d tempat tidurnya, lalu ku duduk d sampingnya dan memulai foreplay kembali. ku mulai dengan ciuman di dahinya turun ke bibirnya. perlahan ku nikmati bibirnya yang mungil, dan ku mulai permainan lidah ku. sesekali ku sedot2 bibirnya. lidah kami pun saling beradu, dan semakin ganas. ku lakukan itu sambil meremas2 boobs nya, kenyal sekali dan nipples nya pun mulai mengeras lagi. kumainkan ke duanya dengan jari2 tangan ku perlahan. ciuman ku turun ke lehernya yang putih ku jilati dan ku kecup dan kedua tangan ku tak henti2nya meremas toketnya, kepalaku pun di peluknya. ciuman ku turun lagi ke dada nya. ku ciumi dada nya melingkar, belum menyentuh nipples nya. kenyal sekali terasa dibibir ku, dan tangannya tak lepas memeluk kepalaku serta desahannya semakin terdengar terutama saat aku mengecup puntingnya
"mh, donn. terusin"
ku kecup kedua puntingnya. lembut sekali rasanya di bibr ku. ku julurkan lidah ku dan ku mulai mengusapnya dengan ujung lidahku, elen mengeliat dan mendesah
"uh"
bergantian ku jilati puntingnya, kiri, kanan. ku gerakkan lidahku keatas, bawah, kiri, kanan, dan melingkar2. desahan semakin kencang, elen mulai mengacak2 rambutku walaupun pendek dan sesekali menekan2 ke dada nya. nikmat sekali puntingnya untukku, seperti cream yang lumer di dalam mulut ku terasa sekali saat ku sedot2 nipple nya tersebut. ku sedot2 nip nya perlahan dan lembut, sesekali ku gigit kecil nip nya. elen sangat menikmatinya dia sungguh santai. ku hentikan sebentar permainan ini. ku suruh dia untuk mengangkat tangannya diatas kepalanya, tampaklah ketiak yang mulus. ku elus, ku bisiki elen di kupingnya sambil menghembus kupingnya
"elen, aku suka ketiak mu" wajah elen agak memerah, tak menyangka ku bisiki hal itu.
ku cium dan ku jilati perlahan kiri dan kanan
"geli, donn" katanya "tapi asik"
sambil ku pegang daerah s*****kanyan, mmm, sudah basah.
"elen, vagina mu sudah basah ya"
"iya, horny banget nich. terusin donk"

ku mulai lagi dengan menjilati bibirnya, lehernya, dan kupingnya. lalu turun lagi ke dada nya. ku jilati nip nya dan sesekali ku sedot2. gerakan lidah ku kupercepat. salah satu tangan ku turun ke s*****kanganya, mengusap2 pahanya, bibir vaginanya, lalu klit nya perlahan. elen mengeliat dan mendesah2 keenakan sambil memejamkan matanya.
"uh...mh"
desahannya membuatku makin terangsang, pemainanku makin gila sehingga puntinya menjadi lebih merah dan ku cupang toketnya, kiri, kanan. lalu aku turun ke perutnya menuju vaginanya. ku jilati perutnya dan belly button nya. ku buka s*****kangannya dan ku ciumi vaginanya sambil menghisap cairan vaginanya, nikmat sekali rasanya. vaginanya terasa hangat, ku julurkan lidahku lalu membelah vaginanya dari bawah ke atas perlahan. elen makin menggeliat dan mendesah liar
"engh....."
ku kerjai klitnya. ku jilati perlahan, kugerakkan lidah ku naik-turun, kiri-kanan, dan melingkar2. sesekali ku sedot2 klitnya, lembut sekali dan seperti ada sesuatu yang lumer dalam mulut ku. cairan vaginanya makin deras dan denyut vaginanya semakin terasa. ku tangkupkan lagi mulutku di vaginanya, dan kakinya menjepit kepalaku. tangan ku yang bebas mengerjai boobs nya kembali, ku beri pijatan di toketnya. ku coba menusuk lubang vaginanya, elen teriak kesakitan
"auw, sakit" kuurungkan niat ku dan kembali mengelus klitnya dan menyedot2 vaginanya.
desahan terdengar kembali dari mulutnya, tak lama tubuhnya mengejang dan vaginanya makin berkedut dan
"ach...."
elen dapet lagi, dan langsung ku jilati. lalu ku berbaring disampingnya tubuh kami lumayan berkeringat, ku cium bibirnya.
"elen, kamu masi perawan ya" tanyaku
"eng, iya. dan aku ingin sama kamu"
"kenapa?" tanya ku lagi
"ingin aja, sebab menurutku kamu kalo ml gayanya lembut. dari pengalaman kamu ml dulu. ini menurutku lo"
aku tersenyum sambil meremas2 dada nya.
"donn, masukin penismu donk. aku da ngga tahan lagi"
"baik sayang, kamu akan menjadi wanita sesungguhnya" ku bisiki dia sambil mengambil posisi.
wajahnya memerah kembali. ku baringkan dia di tepi spring bed, dan aku berdiri, ku buka s*****kanya. ku gesekkan kepala penisku di klitnya, elen memejamkan matanya dan tersenyum santai. ku paskan peniku lalu ku berbisik pada nya
"siap, sayang"
"iya" jawabnya sambil memelukku dan
perlahan ku masukkan penisku, vaginanya cukup sempit tapi basah, kepalanya masuk, slep lalu 1/4 masuk. elen teriak kesakitan
"auw"
"tenang, sayang. kamu pasti akan merasakan kenikmatan" elen kembali tenang.
sodokan yang perlahan dan pasti akhirnya masuk ke vaginanya. hangat sekali, kudiamkan penisku sebentar dan ku ciumi bibirnya.
"gimana, elen"
"sakit, tapi sekarang ngga. eng, donn. penis kamu enak juga, pas. kayak nggarukin vaginaku"
"suka, ya"
elen mengangguk
ku mulai gerakanku perlahan, maju-mundur. mmm, nikmat sekali vaginanya memijat penisku. elen memejamkan matanya dan tersenyum santai menikmati penisku. desahan mulai terdengar dari mulut nya
"mh..."
sodokan sedikit ku percepat, dan tangan ku memijat toketnya serta memainkan nip nya. vaginanya makin basah, dan terdengar suara dari vaginanya.
ku coba menggendongnya, dan elen mau. kakinya menjepit pinggangku kuat dan sodokan semakin terasa, suara diantara vagina dan sodokan penisku. kami berkeringat, dan aroma feromone elen semakin tercium, sexy sekali.
"donn, elen suka banget. enak. lebih enak dari masturbasi"
"aku juga suka, elen"
beberapa menit kemudian, denyut vaginanya makin terasa di penisku, mulai dari kepalanya hingga batangnya
"donn, aku mo sampe lagi nich. ...ach" tubuhnya mengejang sehingga elen mendongakkan kepalanya. cairan vaginanya membasahi penisku dan semakin licin. ini makin membuat ku mo keluar di tambah feromonenya yang sexy
"elen, aku mo keluar nich..."
elen yang masih keasikan memelukku dan menjawab
"di dalem aja..."
denyut vaginanya makin membuatku cepat keluar dan
"argh...."
penisku memancarkan spermanya di dalam vaginanya. aku duduk, elen masih ku gendong. kami berpelukan erat beberapa saat, lalu ku cium dia.
"donn, trims ya. enak banget. ntar lagi ya"
"OK, elen"
dan ku lihat bercak merah di tempat tidur. kulihat itu darah.
"elen, selamat ya. kamu benar2 wanita sekarang"
elen tersenyum dan masih di pangkuanku. kami berciuman cukup lama, dan tak terasa penisku mulai mengendur di dalam vaginanya.

setelah kami ml d kamarnya kami, membersihan diri, dan merasa lapar. hanya memakai cd kami ke dapur. elen membuat sandwich untuk kami berdua. kami makan sambil ngobrol. lalu dia ingin melakukan oral sama co, sebab dia hanya bisa membayangkan dengan pisang katanya. aku tertawa dan menyetujuinya. lalu ku tawarkan erotic dessert padanya. dia setuju. ku ambil yoghurt dari lemari es nya. aku mengambil jatah dessert ku dulu. ku suruh dia duduk di meja makan. lalu ku cium bibir nya dan ku tuang youghurt di puntingnya ku jilati dan kunikmati. elen mendesah keenakan
"mh...enak, donn. terusin, say"
ku tuang lagi youghurt di vaginanya
"m...dingin, donn. lebih dingin di situ rasanya"
aku duduk dan ku jilati youghurt di vaginanya. ku jilati bibir vaginanya, lubang vaginanya, klitorisnya. sambil menikmati yoghurt bercampur cairan vagina. aneh tapi enak. elen menggeliat keenakan dan melenguh2
"uh...mh...uh...mh"
tangan ku pun mengerjai nip nya, sambil menjilati klitnya ku isep2 memeknya. dan sesekali kutusuk lubang vaginanya dengan lidahku. denyut vaginanya makin terasa dan elen mengejang. crot, cairan vagina keluar dibarengai desahan kenikmatan dari elen
"ach...ah..."
ku jilati sisa2 cairannya
"donn, ide kamu OK banget. sekarang aku ya"
"OK, elen. ku kasih tau ya kalo kamu oralin co, kamu juga mainin kedua balls nya ya"
"diapain?" tanyanya
"bisa di jilat atau di sedot2, tapi perlahan ya, awas sama gigi mu"
"oo, gitu ya, donn"
elen menuangkan sisa yoghurt di penis ku lalu dia menjilatinya. perlahan dia menjilatinya. kedua bijiku dia jilati, perlahan2 naik, sampai ke kepala penis ku
"m, enak, elen..."
elen mejilati penisku seperti loly pop, perlahan dengan sedotan yang tiba2 dan asyik. naik turun lidahnya bergerak, dan melingkar2 di topi baja ku. sensasi luar biasa, seperti kesetrum dan nikmat
"m, kamu pintar , elen...mh" aku mendesah2 dan melenguh "uh..."
elen mulai mengocok penisku dengan mulutnya, ku pegangi kepalanya. ku elus2 rambutnya, wajahnya sexy sekali. suara kocokan mulai terdengar. rupanya elen menikmatinya, tangannya pun memainkan bola ku dengan lembut. nikmat sekali. kocokannya makin nikmat dan aku marasakan mau keluar, rupanya elen telah menemukan bagian ku yang sensitif.
"elen, aku mo keluar nich..."
kocokan nya di perlahan, dan elen memegangi penisku lalu mengocoknya perlahan mulutnya menutupi kepala penis ku. lalu crot... aku keluarkan spremaku. nikmat sekali, elen menelannya dan mejilati sisa sperma ku.
"kamu telen ya" tanya ku
"iya, ternyata enak ko" jawabnya sambil menjilati penis ku.
"gimana, suka"
"ternyata asyik ya, aku bisa perkosa kamu n liat ekspresi kamu"
aku tersenyum, "aku juga suka ngoralin ce" sahut ku.
"elen sudah dua lubang yang membuat mu nikmat" kataku "mau lubang yang ketiga"
"yang mana?" tanyanya
"anus mu"
"maksudmu anal sex"
"yup, mo coba?" sahutku
"boleh, tapi gimana?"
"kamu punya jelly?" tanyaku
"buat apa?"
"biar jadi pelumas di anal mu, khan beda dari vagina. kalo anal sex, harus pake pelumas biar ga sakit"
"ada, tuch di lemari es. ku ambil ya"
benar2 aku menikmati elen. dia kembali dengan jelly. ku suruh dia nungging, ku jilati anusnya dan kubasahi penis ku dengan jelly. ku sodokkan penisku ke analnya. perlahan. elen kesakitan pada awalnya setelah 1/2 penisku masuk dia mulai santai.
"ayo donn, goyang"
ku gerakkan penisku maju mundur sambil ke pegangi pundaknya untuk memantapkan sodokan ku, tangan yang lain mainkan klitnya dan sesekali ku remas2 dada nya. jepitan analnya kencang sekali, sesekali ku tambah pelumasnya. ketika ku tidurkan elen diatas meja, dia sangat menikmatinya. dan aku pun menjilati nipples nya, serta mainkan klitnya dengan tangan ku. cairan yang keluar dari vaginanya turun ke bawah menjadi pelumas. licin sekali.
"donn, kamu...gila yaa...tapi aku...suka"
ku percepat kocokan ku dan aku merasakan denyut di penisku. aku mau keluar, cepat2 ku cabut dan ku masukkan ke dalam mulut elen. elen telah siap dan crot... spermaku muncrat, lagi2 elen membersihkan perlahan2.

kami masuk ke kamar kembali. dan baru ku sadari ada sebuah cermin besar terpasang di meja riasnya. ku ajak dia ml di depan cermin.
"elen, ml d depan cermin yuk" ajak ku
"yuk" jawabnya.
aku duduk di kursi riasnya, dan elen meyingkirkan benda2 yang ada di meja riasnya. lalu elen ku pangku, memeknya yang masih basah tepat diatas penisku yang setengah tegang. memeknya terasa lembut sekali dan istimewanya gundul, aku sangat suka vagina yang hairless. ku lumat bibir nya perlahan kuy mulai foreplay. tampaknya elen mudah sekali di buat ON, tanpa susah payah vaginanya mulai basah tapi tak banjir. ku lumat bbirnya dan kumainkan lidahku, saling sedot. nikmat sekali. sesekali ku elus kupingnya dengan tangan ku. ku kecuk kupingnya, lehernya dan tengkuknya. jilatanku turun dari leher ke dadanya kiri-kanan. sesekali ku tiup dan ku cium ketiaknya. elen kegelian dan juga keenakan. gerakan elen makin tak karuan ketika ku jilati nipples nya, perlahan sesekali ku sedot dan ku gigit kecil. desahan makin ter dengar
"uh...mh...uh...mh...engh..."
dengan gerakannya bak cacing kepanasan. tubuh kami berkeringat, ini menambah erotisnya suasanya, feromone nya makin merangsang ku. memeknya berdenyut dan basah, perlahan2 elen menggerakkan pinggangnya. gesekan vaginanya terasa, terutama klitnya yang menegang.
"terus, donn...engh..."
elen makin keenakan, dan makin memeluk kepalaku serta meremas2 rambutku. dan aku makin menikmati boobs nya. ku sedot dan ku mainkan puntingnya di dalam mulutku dengan lidahku. denyut vaginanya makin memujat penisku di permukaan, sesekali elen mendongakkan kepalanya serta tubuhnya sedikit mengejang. lalu cairan hangat membanjiri penisku dan terdengar desahan cukup panjang
"ah..."
elen orgasme lagi sambil memelukku dan menjilati leherku. sebentar kami beristirahat lalu berganti pose. kamu berdia menghadap cermin sehingga tampak sepasang orang yang menikmati percintaan. kami saling menatap di cermin ku bisiki dia
"elen kamu sempurna, sayang. boleh aku merasakan keindahanmu?"
"lakukan saja, sayang. malam ini aku milikmu" sambil kamu berciuman dan aku meremas2 dadanya.
ku duduk, kusuruh elen sendiri memasukkan penisnya ke dalam vaginanya. di peganginya lalu, slep masuk perlahan ke dalam vaginanya. elen menyaksikan prosesnya dari cermin. lalu
"ayo goyang, elen. ayo kita naik kuda"
elen mulai menggoyang dan aku meremas2 dadanya serta memainkan nipples nya.
"oh...yeah...your...my...horsie..."'
sambil dia bergerak naik turun. sensasi berbeda kurasakan, pijatan vaginanya makin terasa di penis ku dan suara vagina dan penis teradu makin terdengar agak basah. peluh kami makin keluar terutama elen. setelah kocokan elan agak melambat, itu tanda dia mulai cape. ku suruh dia nungging dan tangannya bersandar di meja rias lalu aku berdiri. dan
"let's get doggy, elen..."
langsung ku sodok memeknya. elen menengok kebelakang, dan bekata
"kamu nakal donnie..."
elen makin menikmatinya, lalu beberapa menit kemudian
"aku...mo...pip...pis..."
dengan wajah yang memelas. kocokan ku perlambat dan kumantapkan, gerakanku ku bibik angka 8, desahan makin terdengan dan keinginannya untuk pipis makin meningkat. dan denyut vagina makin lembut memijat penisku, rupanya pas g-spotnya, batinku. kedua tanga elen memeluk pinggang ku, badannya agak berdiri. ku jilati lehernya dan memainkan puntingnya sambik terus bergoyang.
"donn,...enak...banget..." desahnya.
tubuh kami sudah basah, dan elen mengejang dan memeknya menggenggam penisku dan cairan hangatnya keluar lagi, lalu ku susul
"crot..."
penisku menembakkan spermanya. gerakan ku hentikan, kami saling berciuman dan duduk. elen masih ku pangku begitu pula penis ku, masih di dalam.

ku gendong dia ke tempat tidur, penisku merasakan hangatnya vagina elen. kami berbaring berpelukan, dengan kelamin kami masih menyatu di dalam vaginanya, elen diatasku.
"donnie...sayang...terimakasih..."
"aku juga elen" sambil membelai rambutnya
lalu kami tertidur.

Lia Cewek Kampus

Di kampusku ada seorang cewek cakep yang selalu jadi perbincangan di antara teman-teman cowokku, Lia namanya. Sebenarnya dia tidak terlalu cakep banget, tetapi bodynya...., wow...., sungguh ideal, seksi dan sialnya dia tahu kelebihannya tersebut. Lia sering (atau mungkin suka) berpakaian ketat, sehingga memancarkan daya tariknya itu. Tak heran jika banyak cowok yang mencoba mendekatinya dan mengajaknya berkencan, apalagi dia orangnya juga supel, tapi selama ini belum pernah ada yang berhasil. Saya sebagai lelaki normal, sering juga menggodanya, tapi belum pernah mengajaknya kencan, kecuali hanya sebagai teman bercanda. Padahal kata teman-temanku, dia suka menanyakan bahkan mengirim salam kepada saya jika saya kebetulan tidak berada di kampus.

Waktu terus berjalan, dan di antara teman-teman, yang bisa dekat dengannya hanya saya. Saya sendiri tidak tahu mengapa. Tapi jika dirunut, sebenarnya justru dialah yang selalu mencoba dekat denganku. Bukannya saya ge-er. Pernah saya mencoba bertanya kepadanya tentang hal ini, jawabnya adalah karena saya ini orangnya sedikit cuek dan enak untuk diajak bertukar pendapat. Hatiku berbunga juga mendengar jawaban itu, dan kedekatan ini berjalan semakin erat, bahkan boleh dibilang seperti pacaran. Sering dia minta ditemani, beli buku, pakaian, bahkan sampai ke acara resmi, seperti ulang tahun dan pernikahan teman-temannya. Memang cukup berkesan juga kedekatan itu bagiku, akan tetapi ada satu peristiwa yang sampai benar-benar sangat mengesankan dan sampai sekarang tak akan pernah kulupakan.

Suatu saat aku diminta menemani mengantar neneknya ke Jakarta. Saya sih oke saja, tapi pada saat itu kebetulan saya tidak memiliki ongkos. Lia mengatakan bahwa keluarganyalah yang akan menanggung (saya memang dekat dengan keluarganya). Akhirnya saya berangkat menemani dia dan neneknya dengan menggunakan kendaraan dari agen travel.

Di dalam kendaraan, kami duduk bertiga, saya, Lia dan neneknya. Selepas luar kota, tiba-tiba kantukku datang, di tengah suasana lampu dalam kendaraan yang remang-remang. Mungkin juga disebabkan karena saya kelelahan karena mengikuti kegiatan di kampus siangnya. Sebelum tertidur sempat kulihat Lia dan neneknya telah terpejam lebih dulu.

Tengah malam aku terbangun, karena aku merasa tanganku ada yang menjepit. Kubuka mataku, aku terkejut, karena tanganku telah dipeluk Lia hingga tanganku menekan buah dadanya yang padat dan kenyal (kata teman-temanku) di balik kaos ketatnya. Lebih terkejut lagi, setelah aku mengetahui bahwa tangan kirinya ternyata telah berada di antara s*****kanganku. Kucoba melepaskan tanganku, karena risih takut jika dilihat oleh orang (selama ini saya belum pernah sedekat ini dengan cewek, apalagi cewek seksi). Tapi dia seakan-akan menahan tanganku, tak mau melepaskannya. Tiba-tiba ia tersenyum, sambil berbisik, "Nggak apa-apa, Lia suka kamu", sambil merapatkan buah dada kirinya ke tanganku, hingga dapat kurasakan goncangan buah dadanya seiring goncangan kendaraan. Tiba-tiba ia mencium belakang telingaku cukup lama, sampai penisku menegang. Tahu bahwasanya penisku telah mengeras, ia malah menyelusupkan tangan kirinya ke balik kaosku, kebawah, dan mencoba masuk ke celana jeansku yang agak longgar, dan akhirnya...., digenggamnya penisku. "Besar sekali..., gemes aku", bisiknya sambil memejamkan matanya. Dan aku kembali memejamkan mata untuk tidur sambil menahan gejolak yang ada di dada.

Menj***** subuh, kami bertiga tiba di tempat neneknya dengan disambut oleh kakeknya. Setelah berbasa-basi sebentar, saya diantar ke kamar yang ada di belakang dan berdekatan dengan kamar Lia. Dan akhirnya kurebahkan badanku, kelelahan dan tertidur.

Pagi hari, antara sadar dan tidak, kucium bau segar orang habis mandi. Kucoba membuka mata dan kulihat Lia sedang sibuk membuka ransel carrier-ku. Bawaanku dan bawaan Lia dijadikan satu untuk menghemat barang bawaan. Kuingat-ingat lagi, ternyata sebelum tidur saya lupa mengunci pintu, hingga ia bisa dengan mudah masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.

Dia hanya memakai kemeja putih longgar yang bersih dan tipis sampai sebatas paha. Lia tampak segar, rambutnya masih basah sehabis mandi. Kulihat aktivitasnya dari tempat tidur, agaknya dia belum tahu kalau mataku sudah terbuka dan dia membungkuk ke arahku. Sempat kulihat buah dadanya yang selama ini jadi tebakan ukurannya oleh teman-temanku dari belahan bajunya dan ternyata ia tidak memakai BH. Tampak putih bersih, mengkal, dengan puting berwarna kemerahan, bergoyang-goyang. Kurasakan ada yang menyodok dari balik celana pendekku.

"Eh.., udah bangun, bantuin buka tasnya dong....", katanya ketika menoleh ke arahku. Aku tersenyum, bangun, dan meraih segelas teh yang sudah ada di atas meja. Lalu aku berjongkok di depan Lia, sambil membantunya membuka ranselku. Kulirik kedua kakinya yang putih bersih sampai ke pangkal pahanya. Gejolakku timbul memberontak dan desakan penisku kurasakan semakin keras.

"Nih udah, mau ambil apa?", tanyaku. "Mau ngambil BH-ku", jawabnya sambil menunduk hingga aku dapat melihat dari dekat buah dadanya yang padat dari tempatku berjongkok. Tiba-tiba ia memalingkan mukanya ke arahku, beradu pandang sejenak denganku, dan..., tanpa kuduga ia mengecup bibirku sesaat. Segar kurasa bibirnya. Kuberanikan diri untuk membalasnya dan ditanggapinya dengan hangat. Dijulurkan lidahnya dan diadu dengan lidahku. Kalau boleh aku katakan Lia memang cewek yang agresif dan berani.

Sesaat lamanya kami melakukan french kiss, sampai akhirnya dia merebahkan badannya ke tempat tidur, sambil menarik tanganku. Akupun jatuh di atas tubuhnya. Tubuh Lia gemetar. Buah dadanya mulai mengeras, berhimpit dengan dadaku. Kulumat habis bibirnya. Kujilati seluruh wajahnya. Lia hanya mendesah pendek, sambil mengangkat kedua kakinya menjepit tubuhku. Kualihkan jilatanku ke lehernya, sambil kugesekkan penisku yang terbungkus celana ke s*****kangannya. "Ekkhh..., sstt...", desahnya pendek.

Kusibakkan kemejanya yang tidak dikancingkan bagian atasnya. Buah dadanya yang besar tapi ideal, nampak menjulang dengan puting merahnya telah mengeras. Kujilati buah dadanya kanan kiri secara bergantian. Lia menggelinjang kenikmatan sambil membusungkan dadanya. "Eeerrgghhh...", erangnya ketika kugigit-gigit puting dan kuremas-remas buah dadanya.

Aku beralih ke telinga, kuciumi, kukulum dan kujilati, sambil kubisikkan, "Susumu besar dan mengkal, berapa sih ukurannya?", "36.., errrgghh...", jawabnya sambil menahan nikmat. Tangannya mulai menyusup ke celana dalamku, memegang penisku dan meremasnya. Tiba-tiba..., tangannya meremas kuat penisku, tubuhnya mengejang, dan akhirnya melemas. Tampaknya Lia sudah mengalami orgasme untuk yang pertama kalinya.

Aku membuka kaus dan celanaku hingga aku telanjang bulat. Dia pun membuka kemeja dan melepas celana dalamnya. Vaginanya yang merah berbulu tak terlalu lebat, tampak mengkilap berair. "Udah banjir yaa...", godaku. Lia hanya tersenyum sambil tiduran mengangkang lebar-lebar.

Kucium lututnya, ke atas, ke paha. Lia hanya bisa menggerakkan kakinya menjepit kepalaku. Klitorisnya tampak menyembul di antara celah vaginanya. Kuhampiri dan kujilati dengan penuh perasaan. Semakin keras jepitan kakinya. Lia pasrah dan hanya bisa menggerakkan pinggul ke atas, kanan, dan kiri. Kusibakkan bibir vaginanya, kujilati vagina bagian dalamnya yang sudah basah. Kugoyangkan kepalaku, sambil menjulurkan lidahku kedalam. Terdengar bunyi gemericik air vaginanya, dan "Ss.., aarrghhh..., ekh..., Andi, aku..., nggak tahaaan..., lagii...". Dan keluarlah air kewanitaannya.

Aku merangkak menciumi seluruh tubuhnya hingga berakhir di bibirnya. Matanya terpejam, sementara tangannya mengusap-ngusap pinggulku dan meraih penisku. Ditariknya penisku, kurasakan hangat bibir vaginanya. "Dorong.., Andi..., sshhhh...". Tak segera kulakukan, hanya kugesekkan saja. Kucoba menggodanya dan Lia tersenyum karena tahu kugoda. Dibimbingnya lagi penisku ke vaginanya. Dan kudorong pelan-pelan. Lia tersentak, kedua tangannya ke samping menarik seprei. Dia tampaknya menahan nikmat yang luar biasa. Sungguh sulit penisku masuk, karena sempitnya lubang vaginanya. Kudorong kuat-kuat..., dan akhirnya..., slepp..., penisku masuk setengahnya..., dan kudorong lagi..., slepp..., masuk semuanya. Hangat kurasa di dalam vaginanya, seakan tak rela kulepaskan. Terdiam kami berdua, seakan saling menikmati surgawi ini. Lia dengan pelan-pelan menggoyangkan pinggulnya. Akupun tak mau kalah, kudorong penisku maju mundur, sambil melumat bibirnya, dan kuremas buah dadanya. Kaki Lia terjuntai ke atas, merangkul dan menekan pinggulku dan kami bersatu dalam kenikmatan.

Setelah beberapa lama, kugulingkan badanku, hingga Lia berada diatas. Ditegakkannya tubuhnya yang berkeringat dan digerakkan naik turun. Kunikmati gerakan payudaranya yang bergoyang-goyang. Lia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil mengerang kenikmatan. Dia memegang lenganku keras sekali..., dan mengerang tertahan, "Eeaargghhh.....". Kurasakan cairan hangat membanjiri penisku di vaginanya. Puncak yang kedua sudah Lia peroleh, dan tubuhnya kembali melemas.

Dengan tanpa melepas penis dari vaginanya, kubopong dia. Aku berdiri, sementara Lia merangkulku, dengan kaki menjepit pinggul, sehingga posisinya menggantung di tubuhku. Kudorong maju mundur penisku sambil kuguncang tubuhnya. "Pyek..., pyek...", terdengar dari vaginanya yang basah, seiring gerakanku. Payudara yang kenyal tersebut juga bergoyang-goyang sehingga menambah rangsanganku.

Kembali kurebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan kembali ke posisi konvensional tanpa melepas penisku. Tangannya memeluk pinggulku, menarik badanku hingga menambah nafsuku untuk semakin menghunjamkan penis dengan lebih keras dan cepat. Lia memberi variasi, dengan menggigit dan melepas penisku dengan bibir vaginanya. Aku merasakan kenikmatan yang luar biasa hingga, "Lia...., eerghhh..., aku nggak tahan..., arrgghhh..., mau keluarrr...", "Aku ..., erghh.., sshh..., jugaaa...". Dan akhirnya, "Cret.., crett....", penisku mengejang-ngejang menyemprotkan air mani, seiring dengan tubuh Lia yang mengejang orgasme.

Tubuhku seperti dilolosi tulangnya, jatuh di atas tubuh Lia. Kukulum bibirnya dan kukecup mesra dan Lia berkata, "Kamu sungguh hebat...", diiringi dengan senyuman bahagianya. Kukecup pula bibirnya dengan mesra dan bahagia.

Bersama tante tante

Namaku dedi, umur 24 tahun. Aku seorang gigolo di kota Bandung. Aku akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 p*****ganku dalam semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku mempunyai p*****gan tetap namanya Tante Mira (bukan nama asli), dia seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang di Bandung.

Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.
"Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?" katanya.
"Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?" kataku.
"Kamu nanti sore ada acara nggak?" katanya.
"Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?" tanyaku.
"Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?" katanya.
"Bisa tante.. aku siap kok?" jawabku.
"Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu", katanya.
"Oke.. Tante", balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.

Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya. S***** beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.

Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.

Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.

S***** beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan s*****kanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, "Wow.. Ded, kontol kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu.." katanya.
"Masa sich Tante", kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.
"Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain kontol kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?" katanya.
"Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Dedi kasih", kataku yang langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil disedot-sedot dan dikocok-kocok.

Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.

"Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?" tanyaku.
Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah s*****kangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas s*****kangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan, "Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang.."

Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.
"Tante... Dedi mau keluar nich.." kataku.
"Keluarain di mulut Tante aja", katanya.
S***** beberapa menit, "Crooot.. crooot.. crottt.." air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.

Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan.

Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, "Blesss.. belssss." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di liang kewanitaannya.

Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan akhirnya, "Crooot.. crott.. croottt.." air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas. Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.

sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.

kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa.

Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Meri sedang mengatur posisi mengangkang di s*****kanganku dan mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Blesss.. bleeesss.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Meri, lalu Tante Meri menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Meri.

Beberapa jam kemudian, Tante Meri sudah orgasme dan Tante Meri terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku. Kini giliran Tante Mira yang naik di s*****kanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang senggamanya, "Bleesss.. bleesss.." batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Meri, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.

Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Blesss.. .bleeess.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa. Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar desahan hebat, "Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak.." Aku terus mengocok senjataku, s***** beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. "Akhhh.. akhhh.." terdengar lagi desahan Tante Lisa. Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.

Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, "Blesss.. blessss.. blessss.." batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya. S***** beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante Lisa, "Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?" tanyaku.
"Di dalam aja Sayang.." pintanya.
Kemudian, "Crottt.. crooottt.. croottt.." air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.

Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.

Nasabah Idolaku

"Selamat pagi mbak ini saya mau ngecek saldo rekening PT SAE " begitulah pertanyaan yang sering dilontarkan oleh nasabahku ini, sebut saja namanya yudhi. Karena sering bertemu baik di telepon maupun saat dia ke bank aku menjadi akrab juga dengannya. Dengan penampilannya yang kalem sebagai seorang wiraswastawan muda cukup menggetarkan hati juga bila melihat senyumnya, namun sering timbul keraguan untuk menyapanya lebih jauh melihat wajahnya yang kelihatan kurang suka bercanda dan lebih banyak berbicara serius setiap bertemu.

Sampai suatu hari ketika pulang kerja menunggu taxi sebuah mobil cherokee mendekatiku ternyata isinya adalah pak yudhi, menawarkan apakah aku mau kalau dia antar pulang. Benar-benar kesempatan untuk mendekatinya karena kutahu dia belum ada yang memiliki. Singkat kata dalam perjalanan ternyata pak yudhi ini memiliki selera humor yang tinggi aku sampai terpingkal-pingkal mendengarnya. Di perjalanan yudhi (demikian ia ingin dipanggil) mengajak untuk makan malam dahulu aku iyakan saja tapi karena capai aku mohon diantar pulang dulu untuk mandi.

Sampai dirumah kos kupersilahkan yudhi untuk duduk di ruang depan (rumah kosku mirip apartemen) selagi aku mandi alangkah kagetnya ternyata aku lupa membawa handuk yang ku jemur diteras depan, sedangkan pakaianku sudah kurendam di ember. Dengan terpaksa aku memanggil yudhi untuk minta tolong mengambilkan handuk didepan. Dengan tangan gemetar kusambut handuk yang diberikannya, namun aku tak sanggup untuk menutup pintu kamar mandi demi melihat pandangan matanya yang begitu mempesona, tanpa sadar aku telah berdiri telanjang didepannya. Agaknya yudhi ini tipe lelaki berpengalaman yang tahu cara memanfaatkan situasi, ditariknya tanganku dan dipeluknya tubuh telanjangku yang masih basah, diciumnya bibirku hingga lumat.

"Akkhh..."aku mengelinjang kegelian, karena nikmatnya aku sudah tidak sadar dalam keadaan telanjang. Diremas-remasnya payudaraku walaupun tidak terlalu besar namun menimbulkan kegelian dan kenikmatan tersendiri bagiku. Dengan cepat yudhi membuka pakaiannya dan dengan wajah memerah aku pandang kontolnya yang besar dan panjang itu. terus terang aku bukan pertama ini melihat punyanya lelaki, tapi milik yudhi beda benar dengan milik yayak pacarku di kota lain. Tidak tahan aku remas-remas batang kontol dan bijinya, kulihat yudhi memejamkan mata sambil berdesis "aahhh...teruskan nissa.. terus", desah yudhi sambil tangannya turun mempermainkan memekku yang sudah mulai terasa basah. "

Kita dikamar saja yu biar lebih enak" ajakku. Aku diangkat kedalam kamar tidurku dan dibaringkannya aku di dipan. yudhi mulai menjilati seluruh tubuhku sambil memuji tubuhku yang putih bersih. Betapa menyenangkan dan nikmatnya. Yudhi nasabah idolaku kini sedang sibuk menjilati seluruh tubuh telanjangku "....ohh teruskan yud..teruskan".

Tiba-tiba dia menghentikan jilatannya dan berdiri menyodorkan kontolnya, "ayo nissa kamu isap dong kita 69 sekarang". Mulanya agak kagok juga aku isap kontol yang besar itu, tapi lama-lama enak juga,sementara aku merasakan kegelian yang amat sangat dari bagian memekku yang sibuk dijilati oleh yudhi. Setelah sekian lama yudhi membalikkan tubuhku, dia mulai mengarakan kontolnya ke memekku, sambil berbisik dia meminta ijinku "nis aku masukkan yach", aku yang sudah tak tahan lagi dengan jilatannya hanya bisa menggangguk, bless kontol yang besar itu masuk ke memekku, "akhhh yud pelan.. sakit", karena lama sekali aku tidak pernah berhubungan dengan pacarku rasanya sakit sekali. Namun dengan tanpa belas kasihan si yudhi malah memasukkan seluruh kontolnya hingga amblas, "akhhh...." aku merasakan sakit yang luar biasa namun kenikmatan yang ada mengalahkan rasa sakitku, apalagi aku mulai merasa memekku terasa basah sehingga melicinkan jalan kontolnya yudhi.

"Terusin yud..akhhh..uuhhhhh.." desisku berulang ulang. Dengan bengis si wajah dingin ini mengentot memekku..Tiba-tiba aku merasa ingin kencing rupanya aku sudah hampir mencapai puncak aku cakar punggung si yudhi sambil melenguh keras "yuuuuuudddddddd...akhhhhhh" banjir terasa di memekku... Si yudhi meminta aku menungging dengan gaya doggy style aku dientotnya lagi dari belakang sampai aku mengalami orgasme yang kedua kalinya ternyata si yudhi masih kuat dan belum menampakkan akan berhenti, terus terang aku sudah capek namun karena kenikmatan yang aku rasakan si yudhi ini mencoba dengan berbagai cara, setelah hampir selama satu jam dia mengentot memekku barulah dia berbisik ayo kita keluarkan bersama "akhh..uhhhh", yudhi mulai mempercepat genjotannya akupun dengan tanpa sadar ikut bergoyang dengan cepat mengikuti iramanya..kulihat yudhi memelukku dengan erat dan menciumu lobang telingaku dan mempermainkan lidahnya ohhhh geli dan nikmat rasanya yudhi semakin mempererat pelukannya "ahhhh nissss...."

"yudddhh......" kurasakan di memekku mengalir cairan hangat ternyata yudhi sudah mencapai puncaknya dan saat bersamaan kurasakan sesuatu yang tidak dapat kutahan lagi dari memekku kucoba untuk kutahan namun tak bisa aku ikut muncrat dan mengeluarkan bunyi seperti orang kentut..ehhh si yudhi malah nambah terus goyangannya "akhhhhhhhh..." kami berpelukan dan rebah bersama.

Akhirnya kami sampai lupa makan malam itu sampai pagi kami melakukannya sampai lima kali dan aku mengalami orgasme berkali-kali. Esok paginya dengan wajah lesu aku pergi kekantor dan telepon berdering "hallo bisa tanya saldo rekening mbak ?", "Rekening perusahaan apa ?" kutanyakan, dijawab "rekening saldo semalam" ternyata diseberang sana si yudhi menelepon. demikian akhirnya hampir setiap ada kesempatan pasti kami lalui dengan ngesek di kamar mandi kantor-ku bekerja, di mobil, di pantai, dll.

Sukabumi , kota kenanganku

Sabtu malam minggu, 20:00 WIB, menj***** liburan sekolah.

Dengan kondisi badan yang cukup letih, kucoba konsentrasikan perhatian untuk mengendalikan mobil kecil biruku di keramaian jalan Tol Jagorawi. Masa liburan sekolah menyebabkan jalan bebas hambatan itu menjadi sangat ramai dan padat. Masih terbayang lambaian tangan istri dan ketiga anakku melepas kepergianku, pulang kembali ke kota dimana kami menetap. Aku yang tidak memperoleh cuti, terpaksa tidak dapat menemani mereka yang kusayangi, berlibur di kota tempat mertuaku tinggal.

Lepas gerbang tol, kubelokkan mobil ke kiri, menuju Ciawi. Kondisi lalulintas yang masih cukup lancar walaupun padat beriringan, membuatku lega. 2-3 Jam lagi tentunya aku sudah sampai di rumah dan tidur dengan nyaman.

Keadaan langsung berubah beberapa kilometer menj***** Cipayung. Lalulintas yang semula lancar, mendadak berhenti sama sekali. Jalan menuju Puncak dipenuhi kendaraan sampai 3 jalur, dan belum ada tanda-tanda akan bergerak. Tanpa berpikir dua kali, kuputar kemudi, berbalik arah mengambil jalur Sukabumi. Sambil menggerutu dalam hati, kuperkeras suara radio di mobilku dengan harapan dapat mengusir rasa kantuk.

Di perempatan jalan menuju Sukabumi, mobilku terhalang Angkot yang berhenti seenaknya mencari penumpang. Bahkan supirnyapun tidak berada di belakang kemudi. Kutekan klakson berulang-ulang, sambil berusaha mencari celah untuk melepaskan mobilku dari keruwetan itu. Hampir berhasil ketika aku dikagetkan oleh suara klakson dari sebelah kanan. Kutahu pasti berasal dari Angkot yang berhenti itu. Kurang ajar, sudahlah menghalangi jalan, masih berani pulak membunyikan klakson. Niatku untuk memaki seketika pudar setelah melihat senyum manis dari 2 orang gadis dalam Angkot tersebut. Sambil berulang-ulang menekan tombol klakson, mereka seperti berusaha untuk bertanya melalui gerakan jari dan tangan. Sadar telah berhasil menarik perhatianku, salah seorang dari mereka mengeluarkan kepalanya lewat jendela dan bertanya, "Mau ke Sukabumi ya Om. Boleh ikut?"

Sejenak aku bimbang antara membolehkan atau menolak. Beberapa pertanyaan lain juga berkelebat dalam pikiranku: Apakah mereka baik-baik? Akankah mereka merampokku? Akankah mereka menyusahkanku? selain pikiran-pikiran nakalku setiap melihat wanita.

Akhirnya pikiran nakal dan jiwa petualangku yang menang. Kupinggirkan mobilku sambil menekan tombol Central Lock. Kedua gadis itupun masuk, sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman. Kamipun saling berkenalan dan bertukar nama. Yang seorang bernama Euis dan yang lain bernama Nyai (sebut saja begitu, untuk menggantikan nama-nama sebenarnya yang juga "berbau" Sunda). Mereka berdua tidaklah secantik kesan pertama saat melihatnya, tetapi cukup manis dan menarik. Keduanya masih mengenakan baju seragam SMEA dengan nama salah satu sekolah di Bogor yang tertulis jelas pada Badge di dada. Mereka terlihat masih sangat muda walaupun aku tidak terlalu yakin. Jaman sekarang ini, mudah saja mengubah penampilan dan menyamar untuk menjadi muda. Aku sempat memperhatikan tubuh mereka yang langsing dengan kedua payudara yang baru tumbuh. Pikiran-pikiran nakal langsung menari-nari dalam kepalaku, yang membuat kemaluanku perlahan membesar dan mengeras. Tentunya akan menjadi pengalaman yang menyenangkan bila dapat meniduri mereka berdua. Tapi bagaimana caranya?

Perjalananku menjadi meriah dan ramai. Mereka berdua cerewet sekali, dengan logat asli Jawa Barat yang masih kental. Dari cerita mereka, kutahu bahwa mereka bersekolah di Bogor dan pada saat liburan, mereka pulang ke orang tua mereka di Sukabumi. Dasar pikiran kotor, sesekali kulontarkan kalimat-kalimat yang agak menjurus, yang dibalas dengan cubitan-cubitan. Pembicaraan semakin panas saat aku berhasil membuat mereka bercerita pengalaman masing-masing saat berpacaran. Euis, yang menurutku lebih manis dan seksi, baru saja putus dari pacarnya yang Mahasiswa, sedangkan Nyai masih berhubungan dengan kakak kelasnya. Diluar dugaan, Nyai ternyata sudah sering berhubungan seksual dengan pacarnya, sedangkan Euis baru sampai tahap "Heavy Petting". Tidak adanya pengawasan di tempat mereka Kost menyebabkan mereka bebas berbuat apa saja. Nyai kehilangan kegadisannya saat hubungan dengan pacarnya baru berjalan 2 bulan. Mereka sengaja bolos sekolah saat itu. Di kamar kost dimana Nyai tinggal, mereka berciuman, saling meraba, meremas, sampai telanjang bulat dan hilang kendali. Hilanglah pula selaput daranya. Nyai bercerita dengan enteng dan terkesan tanpa perasaan bersalah atau menyesal. Dari cara duduknya yang gelisah, aku tahu kalau Euis yang kebetulan berada di bangku depan terpengaruh oleh cerita Nyai. Kupegang tangannya sambil kogoda, "Kenapa? Pengen ya?" Sambil tersipu-sipu dan berusaha menyangkal, Euis mencubiti aku di beberapa bagian badanku. Kutangkap tangannya dan berkata, "Awas lho, kalo sampai kena 'itu' bisa bahaya." "Itu apa?" tanyanya sambil terus mencubit. Pikiranku semakin kacau.

Di kota Cibadak, kubelokkan mobilku ke sebuah rumah makan. Turun dari mobil, kugandeng keduanya, tidak bereaksi. Kurangkul mereka berdua, tidak keberatan. Beberapa pasang mata pengunjung yang melihat kami dengan terheran-heran, tidak kami indahkan. Kami sepakat untuk memesan Sate Kambing sebagai makan malam. Sambil menunggu pesanan datang, kugoda mereka, "Awas lho, abis makan Sate Kambing biasanya pengen nanduk." Mereka tertawa sambil kembali mencubit. Pikiranku terus mencari jalan, bagaimana caranya membawa mereka berdua ke tempat tidur. Jalan ke arah sana kelihatannya sudah agak terbuka, tapi bagaimana kalau mereka menolak? Lalu kabur? Lalu melaporkanku pada pihak berwajib? Bisa runyam. Ini adalah satu cara untuk membuktikan cerita teman-temanku tentang gadis-gadis dari kota tempat asal mereka yang katanya "agak nakal". Kuhabiskan makanku dengan cepat, lalu kugoda mereka. Kugelitik pinggang mereka, kuelus leher mereka, seakan tidak sengaja, kusenggol payudara mereka, dan kuletakkan kedua tanganku di kedua paha yang ada di kanan kiri tempatku duduk. Walau mereka berusaha mengelak, tapi tidak terlihat keberatan atau marah. Mereka tertawa sambil tersipu-sipu dan kadang membalas. Membuat pikiranku semakin tidak menentu.

Kembali ke lalu lintas jalan, aku terus berpikir. Kota Sukabumi semakin dekat, tapi belum juga ketemu akal yang jitu, bagaimana ini?

Dikejauhan terlihat Papan Penunjuk Arah. Terus, ke Sukabumi Kota dan Bandung, kiri Selabintana. Tiba-tiba muncul ide di kepalaku. Kutanya mereka, "Selabintana itu apa? Perkebunan? Sebelah mana Pelabuhan Ratu?" Walaupun aku tahu persis bahwa itu adalah daerah tujuan wisata yang berhawa dingin dan tidak ada hubungannya dengan Pelabuhan Ratu. Mereka berlomba menjelaskan bahwa itu adalah daerah wisata, tempat rekreasi, tempat anak muda Sukabumi pacaran, dan lain sebagainya. Dengan nekad aku bertanya, "Gimana kalau kita ke sana sebentar? Aku penasaran ingin tahu." Tanpa kuduga, mereka tidak keberatan, bahkan terkesan senang. Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30. Yess... kelihatannya niatku tercapai.

Segera kubelokkan mobilku ke kiri, lalu kuikuti liku-liku jalan menuju ke tempat itu. Perlahan mulai terlihat beberapa penginapan di kiri kanan jalan. Aku masih khawatir, kalau kubelokkan mobilku masuk ke salah satunya, akankah kedua gadisku ini akan protes?

Saat kulihat penginapan "Se....." yang agak terpisah dari yang lain, nekad kubelokkan mobilku memasuki halamannya. "Kita istirahat dulu ya, capek," kataku sambil keluar dari mobil menuju ruang Receptionis. Setelah membereskan administrasi dan langsung membayar penuh, aku kembali ke mobil sambil membawa kunci kamar. Penginapan ini memungkinkan mobil parkir pas di depan pintu. Kuparkir mobilku, kupastikan semuanya aman, lalu kamipun turun. Kuperhatikan muka mereka, agak kikuk tetapi tetap tidak terlihat menolak. Langkahku tinggal sedikit lagi.

Kamar yang kami masuki cukup besar. Ini adalah kamar termahal di penginapan ini. Terdiri dari 2 tempat tidur berukuran nomor 2, ada TV 21 Inchi, ada kamar mandi dengan air panas, tetapi tanpa AC. Bisa dimaklumi karena udara sekeliling sudah sangat dingin. Kukatakan pada mereka, bahwa mereka berdua tidur di satu tempat tidur, sedang aku di tempat yang lain. "Jangan saling mengganggu ya," kataku pada mereka. Kubuka tasku, kuambil perlengkapan mandi, dan juga piyama. Istriku tidak pernah lupa untuk menyiapkan segalanya. Istriku? Aku adalah pria beristri, lalu, apa yang kukerjakan di kamar ini? Bersama dengan gadis-gadis yang bukan muhrimku? Tapi setan nafsu ternyata lebih kuat. Akupun mandi dengan gejolak dan birahi yang sangat tinggi. Kemaluanku mengacung besar dan keras, ingin diremas, dihisap, lalu masuk ke rongga empuk yang basah dan hangat. Ach, pasti sangat menyenangkan. Kubersihkan dan kusegarkan seluruh tubuhku dengan air hangat. Selesai berhanduk, kusapukan pewangi yang menurutku baunya sangat maskulin ke sekujur tubuhku, termasuk di sekitar kemaluanku. Tanpa mengenakan pakaian atasan, akupun keluar kamar mandi sambil mengeringkan kepalaku yang berambut cepak dengan handuk. Kubiarkan kedua gadisku melihat otot dan dadaku yang lumayan kekar dan bidang, walaupun tidak dilatih. Dengan sudut mata, kulihat bahwa kedua gadisku terpesona melihat pemandangan yang kusodorkan. Sambil pura-pura protes, kutegur mereka, "Heh!! Bengong aja. Udah sana mandi! Pakai bajuku nich, daripada terus-terusan pakai seragam itu. Kotor khan?" Kulemparkan pada mereka 2 buah Sweater, yang berbentuk leher V. Aku membayangkan, dengan baju hangatku yang pasti kebesaran untuk mereka, dada beserta garis payudara pasti akan terlihat menggemaskan. Seperti terkaget, mereka melompat dari tempat tidur menuju kamar mandi. "Hey, masak mandi berdua?" teriakku, yang tidak diindahkan oleh mereka. Kuhidupkan TV, lalu kubaringkan tubuhku di tempat tidur sambil membayangkan 2 tubuh telanjang yang sedang berlumuran sabun di dalam sana. Kemaluankupun semakin besar, keras dan berdenyut-denyut.

Aku hampir tertidur saat mereka keluar dari kamar mandi, sambil menenteng seragam masing-masing di tangan. Sempat kulihat bahwa mereka berdua tidak lagi menggunakan BH, tapi mungkin masih menggunakan celana dalam. Sayang sekali. Pasti baunya akan menempel kembali ke kemaluan mereka masing-masing. Setelah menggantungkan baju seragam di lemari, mereka naik ke tempat tidur, masuk ke bawah selimut. Muka-muka kedua gadis muda yang sudah bersih dan segar semakin merangsang. Aku harus berhasil meniduri mereka malam ini, tekadku dalam hati.

Aku dan mereka sama-sama diam, sambil menatap TV walaupun aku yakin, pikiran mereka sama dengan pikiranku, tidak tertuju ke tayangan Angin Malam. Suasana di luar sangat sepi, membuat suasana semakin sunyi. Detak jantungku semakin keras, pikiranku semakin tidak menentu, sementara kemaluanku semakin mengeras, besar dan berdenyut. Aku masih khawatir. Akankah mereka teriak? Akankah mereka melawan? Ach, kalau tidak dicoba, bagaimana bisa tau? Kulemparkan bantal ke arah mereka, sambil berkata, "Hey, koq pada diem?" "Abisnya harus ngapain?" tanya mereka. Sambil kurentangkan tangan, aku berkata dengan sedikit nekad, "Mending ke sini yuk, biar anget." Tanpa kusangka, mereka berhamburan naik ke tempat tidurku. Euis di samping kiri, Nyai di samping kanan. Keduanya langsung kurangkul, masuk ke dalam pelukanku. Perlahan tanganku mengelus rambut mereka yang basah (rupanya mereka keramas tadi di dalam), turun ke telinga, leher, tangan, dan dengan sangat perlahan, tanganku yang sudah sangat berpengalaman ini mengarah ke payudara. Sentuhan perlahan dan hati-hati, perlahan menuju ke puncak, ke tonjolan yang semakin lama semakin keras. Kujepit dengan kedua jariku sambil kupelintir perlahan.

Desahan mulai terdengar dari mulut kedua gadisku ini. Kulihat mata mereka terpejam, dengan bibir mungil yang terbuka sedikit, membuatku semakin terangsang. Kucium kening Euis, perlahan turun ke mata, hidung, sampai ke bibirnya. Mulutnya yang wangi pasta gigiku itu kemudian kuciumi. Dengan perlahan dan hati-hati, kutelusuri bibir dan giginya dengan lidahku, lalu kumasukkan lidahku ke dalam mulutnya. Dia semakin mendesah dan menggelinjang. Kedua tangannya memelukku erat. Sementara itu, Nyai kutarik dan kusandarkan kepalanya ke dadaku. Kuelus rambutnya, belakang lehernya, dan belakang telinganya. Tangannya yang bebas mengelus dadaku, turun ke kedua putting dadaku, lebih turun lagi, dan dengan berani menyelusup ke bawah karet celana piyamaku. Aku sengaja tidak memakai celana dalam, supaya praktis pikirku. Berani sekali dia. Elusan tangannya yang halus di permukaan batang kemaluanku, membuatku semakin bernafsu. Kepalanya yang menghadap ke bawah perlahan turun. Diturunkannya celana piyamaku, dan perlahan diciumnya kepala batang kemaluanku. Dijilatnya perlahan, kemudian dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Gesekan naik turun membuatku terpaksa mengangkat pinggangku ke atas. Dan itu dipergunakan Nyai untuk melepaskan celanaku sama sekali. Batang kemaluanku yang besar dan keras itu mengacung gagah, bebas lepas. Kuhentikan ciumanku, lalu kubuka Sweater yang dikenakan Euis. Hal yang sama kulakukan juga pada Nyai, sebelum aku sendiri membuka piyama atasku. Aku sudah telanjang bulat sekarang, sedangkan mereka berdua masih bercelana dalam. Tidak salah dugaanku.
Kurebahkan Euis, kemudian dengan rakus kukulum putting payudaranya yang belum terlalu besar. Kugigit perlahan, kutarik dan kuhisap kuat, membuat Euis sedikit berteriak. Sementara Nyai masih saja sibuk mengulum kemaluanku di bawah. Nafsuku sudah tidak tertahankan. Kubuka celana dalam Euis, lalu kujilati klitorisnya. Bulu kemaluannya masih sangat jarang. Kugelitik klitorisnya dengan jari tengahku, dan perlahan kucoba untuk menusukkan jariku itu ke dalam kemaluannya. Euis menghindar, dan berkata pelahan, "Jangan Kang." Dia benar-benar masih perawan karena jariku tidak bisa masuk, terhalang oleh selaput daranya.

Euis mendesah tidak karuan, kemudian mengangkat pinggulnya tinggi-tinggi sebelum terhempas diam. Dia sudah sampai di puncak kenikmatannya.

Kutinggalkan Euis telentang diam, kuserang Nyai. Kutelentangkan dia, kutarik celana dalamnya kemudian kujilati kemaluannya. Kepalanya mendongak karena berada di ujung bawah tempat tidur, sedang tangannya sibuk meremas-remas kepalaku yang cepak. Kumasukkan jari tengahku, bisa masuk. Kubengkokkan dan kutelusuri bagian atas kewanitaannya. Aku mencari daerah yang menurut istriku sangat nikmat bila disentuh. Kulihat gerakan perutnya semakin cepat, tanda bahwa titik itu sudah ditemukan. Kujilati klitorisnya sambil jari tengahku menekan-nekan bagian atas kewanitaannya yang hangat, basah dan lembut. Gerakannya semakin liar, semakin liar, sambil mulutnya mendesah kuat. Kuhentikan kegiatanku, lalu kudaki tubuhnya perlahan-lahan. Nyai membuka matanya, terlihat agak kecewa. Tapi itu tidak lama, karena segera kucium bibirnya, dan kutelusuri mulutnya dengan lidahku. Sementara itu, tanganku membimbing kemaluanku menuju liang kewanitaannya. Kugosok-gosokkan kepala kemaluanku ke klitorisnya, kemudian perlahan dan hati-hati kudorong masuk. Kuku jari Nyai yang agak panjang menancap kuat di punggungku, dan kulihat mukanya meringis seperti menahan sakit. Batang besar dan keras itu sedang berusaha menguak lubang kecil dan sempit, yang sudah sangat basah. Baru masuk tiga perempat, mata Nyai mendelik ke atas, sambil mulutnya mengeluh keras, "Aaaaaaccchhhh..." Rupanya lubang kewanitaannya tidak cukup dalam untuk menerima kemaluanku. Kalau kupaksakan, tentu akan menimbulkan kesakitan yang amat sangat. Jadi kubiarkan sejenak agar otot-otot vaginanya terbiasa, sebelum kegerakkan naik turun. Setiap kali tertancap, Nyai mengeluh keras, "Aaaaccchhh..." Aku tidak tahu pasti, apakah itu karena kesakitan atau menahan kenikmatan. Kemaluanku serasa dipijat dan dicengkeram karena sempitnya. Seluruh permukaan batang menggesek dinding gadis muda itu.

Lima menit kami bertempur, membuat tubuh mungilnya basah oleh keringat. Kepalanya semakin liar menggeleng kekiri dan kekanan, sambil kukunya mencakar kasar punggungku. Aku yakin pasti menimbulkan luka. Mudah-mudahan bisa sembuh sebelum ketahuan oleh istriku nanti. Dalam keadaan seperti itu, masih sempat aku teringat akan istriku. Nyai menggelepar kapayahan setelah melepas puncak kenikmatannya, kemudian telentang pasrah menerima terjangan dan tusukan yang semakin lama semakin cepat. Semakin cepat... semakin cepat... semakin cepat, dan dengan denyutan yang keras berirama, kemaluanku memuntahkan lahar putih kental yang banyak, ke atas perutnya. Pikiran jernihku masih bisa menahan untuk tidak ejakulasi di dalam. Akupun ambruk menimpa tubuh Nyai. Kukecup mulut mungilnya sambil berucap, "Terima kasih Nyai, kamu hebat sekali." Dia tersenyum, menarik kepalaku, menciumku lalu berujar, "Ampun Kang, Nyai nggak kuat. Terima Kasih juga."

Aku bangkit berdiri, masuk ke kamar mandi membersihkan diri. Satu kebiasaan yang selalu kulakukan setiap kali selesai bersetubuh. Kubersihkan kemaluanku yang masih basah oleh lendir. Kepalanya yang merah keunguan, sudah mulai mengecil. Nafsu birahiku sudah lepas seiring dengan lepasnya sperma. Kepalaku serasa enteng, dan mulai bisa berpikir jernih, dan mulai lagi berandai-andai. Pikiran Negatif selalu ada, dan itulah yang mungkin membuatku selalu selamat dalam petualanganku selama ini.

Kembali ke kamar tidur, kulihat keduanya sudah masuk ke bawah selimut. Aku masuk ke antara mereka berdua, kemudian kucium bibir mereka bergantian. Akhirnya berhasil juga aku membawa kalian ke tempat tidur, senyumku dalam hati.

Ternyata ketenanganku hanya bertahan sebentar. Pikiranku langsung tergoda pada Euis yang masih perawan. Aku terbayang nikmatnya pengalaman menembus selaput dara seorang gadis. Sampai saat ini, sudah 4 gadis yang berhasil kuperawani, termasuk istriku. Aku memang keterlaluan. Batang kemaluanku kembalu mengeras, besar dan berdenyut. Perlahan kugeser badanku menyamping mengadap Euis. Gadis manis yang seksi ini tengah tertidur dalam damai, sampai tidak sadar kalau tubuh telanjangnya sudah terbuka dari lindungan selimut. Kuperhatikan, payudaranya yang baru tumbuh. Pinggangnya yang ramping dan seksi, bulu kemaluannya yang baru tumbuh sedikit, dan kewanitaannya yang masih sangat rapat. Aku harus mencobanya, tekadku dalam hati. Perlahan kuelus lembut rambutnya, kemudian kuciumi keningnya, matanya, hidungnya, lalu sampai ke bibirnya. Perlahan kusapu bibir mungilnya yang merekah merah itu dengan lidahku. Terdengar desahan dari mulutnya. Rupanya dia terbangun karena aktifitasku ini. Kulumat mulutnya, yang mendapat perlawanan setimpal darinya. Tangannya yang satu mengelus dadaku, perlahan turun ke bawah. Berani juga anak ini, mungkin belum tau apa akibat yang akan ditimbulkannya. Tangan kiriku mengelus dadanya, kemudian meremas payudaranya. Desahannya semakin kuat. Kipindahkan mulutku perlahan ke dadanya, kemudian kuhisap kuat payudaranya sambil kupelintir putingnya dengan lidahku. Kepalanya mendongak ke atas menahan nikmat. Kutindih tubuh mungilnya, lalu perlahan kutelusuri tubuhnya ke arah bawah. Pusarnya kujilat membuat Euis menggelinjang kegelian. Kuteruskan penelusuranku semakin ke bawah, sampai ke kemaluannya yang sudah kembali basah. Kujilat klitorisnya yang menonjol keras, membuat kepalanya bergerak liar ke kiri ke kanan. Tidak mau rugi, akupun merubah posisi hingga mulutnya bisa bermain di kemaluanku.

Tapi rupanya dia belum terbiasa, hingga diam saja. Kuantar dia sampai ke puncak kenikmatannya yang pertama, yang membuat Euis memelukku dengan kuat dan berbisik, "Nikmat sekali kang." Merasa mendapat "angin", kubisikkan ketelinganya, "Euis sayang, boleh dimasukkan?" Dia menatapku lekat-lekat, membuatku ragu. Tapi dengan tidak ada reaksi lainnya, dalam hati kuyakinkan bahwa dia tidak menolak (walaupun tidak mengiyakan). Akupun kembali bergerilya dengan mulutku, mulai kedua payudara, sampai ke kemaluannya. Kubuat ia hampir sampai puncak selanjutnya, sebelum kuhentikan. Itu adalah satu rahasia kecil untuk membuat seorang wanita ketagihan dan mau menyerahkan segalanya. Saat hampir sampai, hentikan. Seakan dia akan memelas dan mau berbuat apapun agar kita memuaskannya. Kucium bibirnya sambil salah satu tanganku membimbing batang kemaluanku menuju ke liang senggamanya. Euis menatapku lekat-lekat, tetapi tidak berkata apa-apa. Perlahan kudorong, memasukinya. Baru kepalanya, kepala Euis sudah mendongak ke atas, dan mukanya menampakkan kesakitan. Ditembus saja sudah sakit, apalagi dengan batang sebesar itu. Aku tidak menyerah, perlahan tapi pasti kudorong batang kemaluanku memasukinya. Euis menggigit bibirnya keras, mungkin supaya tidak berteriak. Perlahan tapi pasti, selaput itupun terkuak. Kenikmatan tiada tara kurasakan saat penghalang itu tertembus. Butir air mata terlihat di kedua sudut mata gadisku ini, menandakan kesakitan yang amat sangat. Tiga perempat sudah batang besar dan keras itu masuk, hampir jebol pertahananku karena sempit dan nikmatnya kemaluan Euis. Kuhentikan beberapa saat, sebelum kupompa naik turun. Aku yakin, Euis pasti tidak bisa menikmatinya karena belum terbiasa. Dia hanya telentang pasrah menerima genjotanku. Akupun tiba-tiba punya ide yang lebih gila, aku ingin ejakulasi di mulutnya. Ide itu membuatku cepat sampai ke puncak. Dan sebelum sempat memuntahkan lahar, kukeluarkan lalu kumasukkan ke dalam mulut mungilnya yang terbuka. Dia kaget, tetapi tidak dapat berbuat apa-apa. Tidak lama, akupun memuntahkan cairan kental dan putih itu dalam mulutnya, yang segera dimuntahkannya ke lantai. Segera kupeluk Euis yang menangis terisak-isak, sambil kuciumi dan kuusap ubun-ubun kepalanya. Seprai merah jambu yang berantakan bernoda darah yang lumayan banyak. "Terima Kasih Euis," kataku. Dia diam saja, tapi balas memelukku erat. Sementara Nyai tetap tertidur lelap kelelahan. Dari mukanya terlihat kepuasan yang amat sangat. Malam itu, aku menyetubuhi Euis sekali lagi, sebelum kami berdua tidur berpelukan sampai pagi. Dalam pergumulan yang kedua ini, Euis tidak lagi terlihat kesakitan, walau kurasa, dia belum bisa menikmatinya.

Esok harinya, kami baru terbangun saat matahari sudah tinggi. Kupeluk kedua gadisku sambil kutanyakan, "Mau lagi?" Euis menggeleng pelan, sedangkan Nyai menjawab ingin, hanya harus pulang. Ya sudah, setelah masing-masing mandi membersihkan diri, kamipun meninggalkan penginapan itu. Pada saat kedua gadisku mandi, diam-diam kusisipkan lima lembar seratus ribuan ke dalam masing-masing tas sekolahnya. Aku sudah membayangkan bagaimana komentar Room Boy-nya saat melihat tempat tidur berantakan dan bernoda darah. Setelah mengantarkan mereka ke rumah orang tua masing-masing, kupacu mobil biru kecilku menuju ke kota tujuan.

Kos kos an

Aku bekerja sebagai pembantu disebuah rumah tangga. Keluarga itu terdiri dari sepasang suami istri yang sudah berumur. Karena anak2nya sudah menikah dan tidak tinggal bersama mereka, pasangan manula itu menerima kos2an. Yang kos disitu hanya seorang, lelaki, umurnya 40 tahunan lah, Doni namanya. Aku memanggilnya dengan sebutan om Doni, dan dia gak berkeberatan.

Om Doni suka bawa cewek abg ke kamarnya. Memang kamarnya terpisah dari bangunan utama dimana pasangan manula itu tinggal. Dia keluar masuk tidak lewat pintu utama tapi lewat pintu samping disebelah garasi. Garasinya cukup besar sehingga muat 2 mobil berjajar, mobil si bapak dan om Doni. Cewek yang dibawa sering ganti2, tapi semuanya seksi. Toket dan pantatnya besar. Kalo sudah dikamar, aku suka nguping. Terdengar cekikikan, tapi gak lama kemudian terdengar erangan si cewek, pasti sedang dien tot. Napsuku berkobar2 kalo sedang nguping dia ngen tot. Tanpa terasa aku sering meremas2 toketku sendiri yang gak kalah gedenya dengan toket abg nya. Saking napsunya, tanganku kemudian merogoh kedalam CD ku mengilik i tilku sendiri sehingga tanpa sadar aku terengah2 sendiri didepan kamarnya.

Ketika membersihkan kamarnya, aku membuat posisi kordennya sedemikian rupa sehingga aku bisa ngintip kedalam kamar. Dia tidak mengetahui bahwa aku bisa ngintip kedalam kamarnya, dan dari tempat aku ngintip, aktivitas yang dilakukan di ranjang bisa aku lihat dengan jelas. Suatu malem, aku lihat dia bawa abg lagi ke kamarnya. Setelah mereka masuk kamar, segera aku ngintip mereka berdua. Dia sedang menelanjangi ceweknya, lalu ditelentangkan di ranjangnya. Toketnya besar, pentilnya juga besar, berdiri tegak. Jembutnya lebat. Gak lama kemudian dia bergabung dengan ceweknya diranjang, bertelanjang bulat. Aku terkejut melihat kon tolnya yang besar dan panjang, sudah ngaceng dengan kerasnya. Dibandingkan dengan kon tol suamiku di kampung, suamiku punya gak ada apa2nya.

Aku memang sudah menikah, seperti kebiasaan orang kampung, anak cewek masih belasan tahun sudah dinikahkan. Suamiku tetep tinggal didesa mengerjakan sawah milik bapakku. Dengan alasan mencari tambahan, aku bekerja sebagai pembantu di kota. Aku pulang kampung gak menentu, tergantung uang yang aku kumpulkan sudah cukup banyak atau belum. Karena tinggal misah makanya aku belum hamil, aku juga belum mau hamil karena aku merasa masih abg juga.

Melanjutkan intipanku, dia sudah menancapkan kon tol gedenya di no nok ceweknya, si cewek sudah mulai mengerang keenakan karena enjotan kon tol om Doni di no noknya. Aku tidak dapat menahan napsuku, segera aku kembali kekamar. Seluruh pakaian aku buka dan aku mulai meremas toketku dan mengilik i tilku sendiri, makin lama napsuku makin memuncak sampai akhirnya dengan erangan panjang aku nyampe juga. Pengen rasanya aku ngerasain kon tolnya keluar masuk di no nokku. Selanjutnya setiap dia membawa abg ke kamar, aku selalu ngintip aktivitasnya dan berakhir dengan terkaparnya aku diranjangku setelah nyampe akibat ngilik i til sendiri.

Aku mulai pasang aksi untuk memikat dia. Suatu malem minggu, dia tidak kemana2. Aku mengenakan baju terusan dari bahan kaus yang ngepas di badan. Agak mini sehingga pahaku terlihat dengan jelas. Bagian dadanya agak terbuka, aku tidak mengenakan bra sehingga toketku yang montok bergerak2 kalo aku berjalan. Kalo aku membungkuk, toketku seakan mau loncat keluar dari belahan bajuku di dada. Aku make CD yang mini, karena memang semua CDku yang tidak banyak itu mini modelnya, malah ada yang minim sekali.

"Om, kok ngajak ceweknya", tanyaku sambil menyiapkan makan malem. Untuk yang punya rumah, meja makannya terpisah di ruang utama. Mereka sedang dan pergi menginap dirumah salah satu anaknya. "Enggak", jawabnya sambil menyuap makanan yang kuhidangkan. Sengaja aku membungkukkan badanku ketika meletakkan lauknya di meja makan. Dia melirik ke arah toketku yang montok. "Emangnya om gak pengen", pancingku lagi. "Pengen apa", tanyanya. "Kan biasanya sama ceweknya, asik2an", godaku lagi. "Kamu suka nguping ya", katanya sambil tersenyum. "Gak usah nguping juga kedengaran kok om, ceweknya keenakan", jawabku lagi. Dia diam saja dan meneruskan makannya. Aku menambah air minumnya, ketika menambah air posisiku agak membungkuk. Kulihat matanya segera menerobos belahan dadaku dan 'menjilat' toketku. "Kamu montok ya Nes", katanya, kelihatannya usahaku untuk memancing perhatiannya mulai ada follow upnya. "Besar gitu, sering diremes ya Nes", katanya lagi. "Siapa yang ngeremes om, paling Ines remes sendiri", jawabku terus terang. "Kok diremes sendiri", tanyanya. "Abis gak ada yang ngeremesin sih", kataku sambil tersenyum menggoda. "Aku remesin mau enggak", katanya lagi to the point. "Ntar ceweknya marah", kataku. "Aku gak punya cewek kok", jawabnya. "Yang suka om bawa itu siapa", tanyaku. "Cuma temen, dia pengen aku juga pengen, jadilah", jawabnya. "Temennya banyak ya om, ceweknya ganti2 terus", kataku lagi. "Bosen dong kalo sama yang itu2 terus, kan perlu variasi", jawabnya lagi. "Mau gak aku remes". "Kok om mau ngeremes Ines sih, kan Ines cuma pembantu", kataku. "Biar kamu pembantu tapi kamu gak kalah cantik dan sexi sama abg, lagian kamu masih abg juga kan", jawabnya. Aku tau dia sudah terangsang dengan omongan barusan. Aku diam saja, membereskan peralatan makan dan kubawa ke dapur. Demikian juga dengan makanan yang tidak habis dimakan, aku bawa dan simpan di lemari dapur. Aku mencuci peralatan makan.

Dia berdiri dibelakangku, memelukku dan tangannya langsung meremes toketku. "Nes, toket kamu kenceng ya, besar lagi", katanya sambil terus meremes toketku. Napsuku sudah berkobar, aku berhenti memncuci peralatan makan dan bersandar didadanya menikmati remasan tangannya di toketku. Tangan satunya segera mengelus pahaku, sedikit demi sedikit tangannya naik dan terasa
bajuku tertarik sampai atas. Kemudian tangannya ke s*****kangan dan jarinya menggesek-gesek bagian sensitif ku dari atas CD. "Nes, sudah basah sekali”, katanya. "Kamu sudah napsu ya". Mendengar itu aku tambah terangsang dan aku semakin merenggangkan kaki. Kemudian aku merasakan jarinya menyelinap ke balik cd dan terus masuk ke no nok ku. "Jembut kamu lebat ya Nes, panter napsu kamu besar", katanya. Gerakan jarinya enak sekali, dia pintar memainkan jarinya, apalagi setelah dia menambah jarinya untuk masuk ke no nok ku. aku sendiri sudah tidak ingat lagi apakah waktu itu aku sempat mengeluarkan suara atau tidak. tangan yang satu tetep meremas-remas toket ku. Beberapa saat aku biarkan dia begitu karena aku juga merasa enak sekali. Kemudian aku membalikkan diri dan berhadap-hadapan dengan dia. Tangannya seperti tergesa-gesa merauk baju di kedua pundak ku dan ditarik ke bawah hingga terbuka dada ku. Kemudian dia menjilat dan mengisap-isap pentil ku. aku benar benar terangsang dan sudah tidak bisa mengatur diri lagi. aku juga mulai gemes dan menggenggam kon tolnya dari atas celananya, terasa sudah menegang dan terasa ukurannya besar sekali. Begitu penasaran hingga aku menarik kepalanya yang sedang berada di dada ku dan aku cium bertubi-tubi. Dia aku dorong sedikit-sedikit ke belakang sampai menubruk kursi di belakang nya. Kemudian aku paksa duduk dia. Resleting celananya aku buka dan segera bersama dengan cdnya aku turunkan. Dia hanya diam melihat apa yang aku lakukan. kon tolnya besar dan panjang dan tidak sabar lagi aku untuk menciumnya, menjilat sekitar ujungnya. Baru sebentar saja sudah terasa cairannya keluar sedikit dari ujungnya. Selanjutnya mulai kuemut. Terasa kon tolnya penuh di mulut. Tapi baru sebentar dia sudah minta segera dilepas karena gak mau keluar di mulutku.

Setelah aku lepas kon tolnya dari mulut, aku segera naik keatasnya yang sedang duduk di kursi itu. aku juga sudah tidak sabar lagi, kapan cd dilepas juga aku tidak ingat lagi. kon tolnya aku genggam dan sedikit-sedikit aku masukkan ke no nokku, terasa kon tol yang besar masuk. Dia sedikit menarik nafas ketika kon tolnya masuk. “Om, enak banget deh kon tolnya…”, kataku. "Kamu dah napsu banget ya Nes", jawabnya. Ketika aku mulai gerak, dia berkali-kali mendesah dan memanggil-manggil namaku. aku juga tidak bisa menahan perasaan yang enak itu dan berkali kali menyebut-nyebut namanya. Akhirnya dia tidak tahan juga berdiam diri, segera dia memeluk aku dan membenamkan mukanya ke dadaku. aku hanya dapat mengelus-elus rambutnya yang ikal itu. Berkali-kali kon tolnya aku jepit dan setiap di jepit, aku juga merasakan enak di dalam no nokku. Tapi dia tidak bisa lama-lama, dia bilang sudah tidak tahan lagi, tapi aku tidak ingin selesai sekarang, aku sedang benar-benar menikmati kon tol besarnya. Dia takut pejunya keluar di dalam aku, tapi aku sudah bilang biar keluar di dalam. Belum sempat aku puas dia akhirnya ngecret juga
terasa berkali-kali pejunya keluar dari kon tolnya. aku diam sampai dia tenang. "Nes, nikmat banget deh no nokmu. Lebih nikmat dari semua abg yang pernah aku en tot. no nokmu kerasa banget empotannya. Kamu udah pengalaman ngempot ya Nes", katanya terengah. "Enggak kok om, cuma diajari suami di kampung aja", jawabku. "O kamu dah kawin toh, panter napsunya besar banget, dah lama gak ngerasain kon tol masuk no nok kamu ya". katanya sambil tersenyum.

Aku bangkit dari pangkuannya. Terasa pejunya mengalir keluar dari no nokku. Dia segera menarik aku kekamarnya. "Terusin di kamarku ya Nes", katanya. Terasa dia mulai menciumi rambut ku dari
belakang dan terasa bibirnya menyentuh kuduk dan berkali kali mengecupnya, aku menjadi terangsang ketika itu dan terus dia menciumi punggung ku. Terus dia memegang kedua lengan ku dan membalikkan badan ku sehingga berhadapan. Dia memandang muka ku dari dekat dan salah satu tangannya memegang dan meremas remas toket aku. Kemudian dia mencium aku dengan nafsunya dan aku pun menerimanya dengan saling menghisap lidah. aku begitu terangsang hingga terasa no nokku semakin basah. kemudian aku duduk di tempat tidurnya dan terus merebahkan diri. kedua kaki aku dia pegang dan perlahan-lahan dia buka hingga s*****kangan aku terlihat lebar-lebar, kemudian kaki kutekuk. Sambil menciumi paha ku, sedikit demi sedikit kepalanya terus naik ke atas. Ciumannya begitu membuat aku terangsang dan aku sudah sedikit mendesah, apalagi ketika bibirnya sudah dekat benar dengan s*****kangan. Kemudian dia berkata “Nes, sudah basah sekali…keluar banyak sekali. Kamu dah napsu lagi ya”. Mendengar itu aku jadi
bertambah terangsang, “Om…jilat…dong…”, desahku. Mukanya segera dibenamkannya di s*****kangan ku, dan tidak tahan lagi, kepalanya aku pegang dengan agak kuat dan aku tekan ke mulut no nokku. Terasa dia mulai menjilat dan menciumi sekitar i tilku, dan terasa sekali lidahnya bergerak kesana kemari, benar-benar nikmat, beberapa kali i tilku dikulumnya. Tapi dia tidak sampai memasukkan lidahnya ke dalam no nokku. Ini nikmat sekali, tidak seperti kon tol, lidahnya terasa seperti benda hidup yg bergerak berak di dalam no nokku, dia begitu pintar memainkan lidahnya.

Dia naik ke tempat tidur. kemudian aku minta merubah posisi agar aku dapat mendekat ke kon tolnya. segera aku pegang kon tolnya sambil mengelus-elus pangkal kon tolnya. Kepala kon tol
beberapa kali aku kecup dan di jilat, terutama ujungnya yang ada belahan tempat cairannya keluar itu. Dengan ujung lidah sedikit ditekan, belahan ujung kon tolnya aku jilat, terasa asin…sedikit-sedikit terlihat cairan yg agak lengket itu keluar dari ujung kon tolnya. Terdengar suaranya menahan karena napsu. Kemudian kepala kon tolnya aku kulum dan aku mainkan dengan lidah berkali kali didalam mulut, ujungnya aku hisap seperti menyedot minuman, kon tolnya berdenyut dan keluar sedikit cairan dari ujungnya. Sementara itu dia terus menjilati no nokku dengan posisi 69. aku tetap terlentang dan dia berada di atas. Tapi terus dia memberi kesempatan ke aku dengan merubah posisi menjadi terbalik, aku berada di atas dia. aku jadi lebih bebas mengemut kon tolnya yg berukuran besar itu, terus aku masukkan kemulut sampai se maksimal mungkin. air liur sengaja aku keluarkan banyak agar terasa licin dan mudah mengeluarkan dan memasukkan kon tolnya kemulut.

Karena sudah ngecret, dia bisa bertahan lebih lama selama kuemut. Jilatannyaa di seputar i til juga enak sekali terasa, beberapa kali terasa jarinya juga masuk ke no nok, entah berapa jari, tapi
yg jelas bukan satu jari. Karena begitu asyiknya, tidak terasa udara kamar semakin panas karena jendela tidak dibuka. aku merasa keringat dari sekitar leher mengalir ke bawah melewati belahan toketku.
Setelah agak lama dalam posisi 69 kemudian dia mulai bergerak merubah posisi. Dia mundur ke bawah dan badannya keluar melewati s*****kangan kaki. Terus dia berlutut di tempat tidur dan tetap minta aku untuk nungging, dia mulai mendekati mulut no nok dari arah belakang. pelan-pelan kon tol yg besar itu masuk ke dalam no nokku, terasa agak susah masuknya, padahal aku sudah sangat basah dan licin. Ketika dia mulai bergerak memainkan kon tolnya keluar masuk kedalam no nok, dia berkata “Nes….enak sekali ….kecang banget rasanya no nok kamu ngeremes kon tolku….”, berkali kali aku jepit kon tolnya dan setiap di jepit, tangannya menggenggam pinggul ku lebih kencang lagi, sampai akhirnya dia menyudahi sendiri posisi ini.

Terus dia merubah posisi, duduk berhadap-hadapan dan aku seperti di pangkunya. Terasa kon tolnya lebih masuk kedalam aku dan terasa ujungnya menyentuh bagian yg paling dalam. Dia dan aku dengan irama teratur menggerak-gerakkan pinggul masing masing sehingga terasa benar benar nikmat sekali. aku mendesah2 keenakan dengan keras. Badan ku dan om Doni sudah basah dengan keringat.

Kemudian dia mendorong aku sehingga aku terlentang di tempat tidur yang sudah mulai acak-acakan itu. Posisi sudah berubah menjadi posisi normal dan dia terus semakin cepat gerakkannya, dan aku bilang ke dia untuk nyampe sama-sama. Beberapa saat kemudian dia ngecret, terasa cairan panas seperti menyembur ke dalam no nokku berkali kali, dan aku pun menyusul nyampe, berkali-kali. aku jepit kon tol nya sampai terasa badan begitu lemas dan tidak bergerak, hanya nafas yang terputus putus seperti habis lari pagi saja. Kemudian dia menciumi bibir aku, dan sambil berbisik “terima kasih Nes, nikmat banget. kapan2 kita ngen tot lagi ya". Dia rebahan di samping ku dan memandang ke langit langit, kemudian aku merubah posisi miring kesamping menghadap dia, “Kalo om sama Ines, terus cewek2 om mo dikemanain". "Udah ada kamu, ngapain cari lagi yang lain", jawabnya.
Seminggu ini dia menepati janjinya, gak bawa abg ke kamarnya. Malam minggu berikutnya, om Doni mengulangi lagi memberi aku kenikmatan. Tentunya aku tidak menolak ajakannya. Di kamarnya, dia mendekatkan wajahnya perlahan, napas hangatnya menerpa wajahku. Aku memejamkan matanya dan perlahan bibirnya mendarat lembut di bibirku. Aku tak menolak kecupan tersebut, kembali bibirnya mendarat di permukaan bibirku. Dikecupnya lagi perlahan, dan mulai melumati bibirku. Aku terpejam membalas lumatannya. Kecupan dan lumatan nya bergerak menjauhi bibirku menjalar sepanjang rahangku, bergeser turun menjelajahi leherku.
Mengecup dan menjilati dengan lidahnya yang kasap terus keatas menuju wilayah belakang telinga dan mengulum cuping telingaku dengan lembut. Aku memegang erat perg*****an tangannya, ”Om….” desah ku. Kedua tanganku meraih keatas dan merangkul bahu dan lehernya. Ciuman dan lumatan bibirnya makin bergelora. ”Hmhhhh”, desahku perlahan. Dia meraih tubuhku dan merebahkannya di tempat tidurnya. Kembali lidahnya menjalar dari bibir ranum bergerak menyusuri rahang terus mengecup leher dengan bergairah. Terus keatas ke balik cuping telinga, menjilati dan melumati nya. ”Om….” ,rintihku perlahan. Tangan nya tak tinggal diam mulai menjalar meraba -elus permukaan toketku yang masih di balut pakaian itu. Terus turun ke bawah menemukan tepian kaos dan menyelusup kedalam. Meraba- mengelus permukaan kulit ku dengan jemarinya. ”Mmmhhhh……oohhhh” ,kembali aku mengerang. pakaianku mulai tersingkap dan dengan cekatan pula jarinya melepas kait braku dan melepas pakaianku lewat kepala. Dia mengecup pangkal leherku, terus kebawah, menjilati permukaan kedua toket montokku bergantian. Hingga…”Ahhhh…..om….”,erangku seraya menggeliatkan tubuhku saat kedua bibirnya mencucupi pentilku. Bergantian pentil yang kiri dan kanan sehingga membuatnya mengkilap karena basah. Kulumannya pada pentilku yang telah mengeras itu terasa sangat nikmat. Kedua tanganku mengerumasi rambutnya dan terkadang menyelusup ke balik kaosnya. Sembari mencucupi kedua pentilku tangannya bergerak turun mengelus kedua pahaku yang ditumbuhi bulu halus. Dia bangkit dan melepas kaosnya dan celananya. Kita kini dalam keadaan hampir telanjang hanya ditutupi CD. ”Om…..ahhhh……..”, erangku tatkala mulutnya mencucupi no nokku yang masih terbalut CD tipis itu. Kedua tangannya tak tinggal diam mengelus dan merabai kedua toketku. Jarinya juga turun dan mengelus permukaan paha, menyelinap ke balik karet cdku dan mengurut perlahan. ”Oghhhh.” ,aku tersentak saat jemarinya menyelusup ke dalam no nokku yang telah lembab itu. Mataku membeliak dan menggelinjang dengan napasnya seperti tersedak. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku telah basah dan berdenyut-denyut. Gerakan jarinya mengelitik seluruh pemukaan peka didalamnya. Dia kembali menarik jarinya yang telah basah dan mencucupi jarinya sendiri membersihkan cairan yang menempel pada jarinya. Tangannya kembali bergerak meraih karet CDku, menariknya hingga terlepas. Begitu juga CDnya juga telah terlepas. Dia meraih kedua kaki ku, mengecupi betisku dengan lembut, menjilati dengan lidahnya yang kasap, turun terus ke bawah menjilati paha bagian dalam kedua kaki ktu bergantian. ”Om……..”, kembali aku mendesahi saat bibirnya mendarat pada bukit no nokku yang diliputi jembut yang lebat. ”Nikmati aja” , ujarnya. Lidahnya menjilati permukaan no nokku dan mendesak masuk lebih dalam. ”Aahhhhh ...ohhhhhhh” ,erangku lagi. Menemukan i tilku disana langsung dijilat dengan hisapan bertubi-tubi. Pinggulku bergerak-gerak gelisah mengimbangi serbuan lidahnya. Kedua tanganku menggerumasi rambut nya dan menekankan kepalanya. ”Om………..uhhhhhhhh” ,aku melenguh kembali. Seluruh permukaan bagian dalam no nokku itu telah basah dengan aroma khas yang makin membangkitkan napsunya. Jilatan dan hisapan yang dilakukannya membuat aku menggerinjal hebat, menggeliat-geliat di bawah tekanan kedua tangannya pada pinggulku. Gelombang demi gelombang nikmat makin bergelora menyeret dirikua hingga tak tertahankan lagi. ”Om .ooohhhhhh” ,jeritku saat aku nyampe. Tubuhku melenting, kedua tanganku mencengkeram bahunya dengan kuat. Beberapa menit situasi itu berlangsung. Dia membiarkan aku menikmatinya.

Dia merangkak naik perlahan, merebahkan tubuhnya diatas tubuhku. Bergoyang ke kanan dan kekiri menyibakkan kedua paha ku yang secara naluriah membuka memberikan ruang pada pinggulnya untuk merapat. Aku membuka mataku, napasku masih memburu dengan keringat pada kening dan toketku. ”Om, nikmat banget deh, padahal belum dien tot", kataku lirih. ”Nikmati saja Nes…” ujarnya. Sambil tersenyum aku menarik kepalanya kearahku, kulumat dengan ganas bibirnya. Dia kembali bergerak menggosok kon tolnya menelusuri permukaan no nokku. Maju - mundur. ”Ohhh……om…………ya disana…” ,Kembali aku melenguh karena gerakannya. Kedua tanganku yang tadi memeluk lehernya turun ke bawah dan mencengkeram pinggulnya. Kutekan inggulnya kebawah lebih kuat dan kedua kakiku mengunci di belakang pinggangnya .Dia terus bergerak maju mundur menggesekkan kon tolnya ke no nokku. Naluriah aku bergerak seirama gerakannya. Sesekali kepala kon tolnya menusuk… ”Ohh…..” desis ku karenanya.

Dia mengangkat tubuhnya hingga duduk berselonjor. Menarik pinggulku menumpu paha kedua kakinya. Kedua kakiku menekuk di sisi tubuhnya dalam posisi masih berbaring. no nokku semakin terkuak. Seraya menggenggam pinggulku, dengan tangan kirinya dia mengarahkan kon tolnya tepat pada no nokku. Dengan memegang batang kon tolnya dia mendorong kedepan….. ”Om..", desahku lirih. Dia mendorong kembali, tak terlalu dalam, hanya kepalanya yang menyeruak no nokku. Aku memegang lengannya menahankan dorongan yang terlalu jauh. Dia bergerak… Dengan jarinya yang menggenggam kon tolnya untuk membatasi, hanya ujungnya saja yang masuk, dia menggerakkan kon tolnya keluar masuk no nokku. ”Ooooohhhh……..,ohhhh….!!” , desahku keras. Pinggulku ikut menggerinjal mengimbangi gerakan kepala kon tolnya. Dia mengelus lututku dengan perlahan. ”Oooohhh……om…”, aku merintih berulang kali. Aku enggerakkan pinggulku, bergoyang dan berputar- putar. Gerakan itu menyebabkan no nokku yang telah basah itu serasa di aduk – aduk oleh kepala kon tolnya. ”Om...”,panggilku lirih. ”Hmm...”, dia cuma menggumam, "Kenapa?". "Rasanya makin nikmat om", erangku lagi. "om..”, jeritku kecil seraya
memutar pinggulku perlahan. Tubuhku bergetar, pahaku mengejang. Perlahan kon tolnya tenggelam mili demi mili di telan no nokku. aku mencoba duduk, memeluk ketat lehernya, menggigit kecil pundaknya dan mendesakkan tubuhku turun, hingga seluruh kon tolnya terbenam utuh. ”Aah", jeritku. Langsung aku merebah ambruk menyeret tubuhnya. kedua kakiku langsung kursilangkan di belakang mengunci pantatnya. Dengan napas tersengal – sengal kami berbaring melekat erat. Dia mengangkat wajahnya menatap wajahku yang berpeluh. Aku mengecup keningnya, "om, tuntaskan dong", pintaku lirih. no nokku terasa mencengkeram erat kon tolnya. Dia bergerak naik hingga kon tolnya terlepas kembali dari cekalan no nokku. ”Mmmhhh…uhf”, dia mendesis. Kedua tangannya bergerak turun menemukan kedua pahaku, ditariknya kedua kakiku keatas melewati lengannya, mengunci kedua lututku dengan lengan dan sikunya. Sehingga pinggulku mengangkat menguakkan no nokku. Om, .lagi…lagi………terusskan sekarang……!”,pintaku parau. ”Bener ini…? ”, tanyanya kurang yakin. ”Sekaraaanng……..om, ssekaraaang, Ines ga…tahann..ayoo..!” ,rengekku lagi seraya menekan pantatnya kearah tubuhku lebih erat. ”Ayo….om", rintihku tatkala dia menempelkan kepala kon tolnya ke permukaan no nokku dan bersiap mendorong……. Ujung kon tolnya yang tegak dari tadi mendesak masuk. Aku mencoba membantu mempermudah dengan menggerakkan pinggulku. Dia dengan sabar menunggu, menekan pelan, sangat pelan. ”Ohh……….om…….”, aku kembali mengerang. Dia menghentikan tekanan. Diiringi jeritanku dan tancapan kukuku ke punggungnya, kepala kon tolnya kembali membelah no nokku. Kedua bola mataku membeliak. tubuhku menggigil dan cengkeraman kedua tanganku semakin kuat pada pantatnya. ”Ahhhhhh………………!!!” ,rintihku. Tubuhku mengejang, kepalaku mendongak tatkala dia bergerak mendorong perlahan. Matakuu membeliak menikmati mili demi mili masuknya kon tolnya ke no nokku. Dia kembali mendorong pinggulnya dengan perlahan membenamkan seluruh kon tol besarnya ke dalam no nokku. Dia mulai bergerak perlahan naik turun, merasakan jepitan dan denyutan no nokku mengurut dan memijat kon tolnya. ”Om...", erangku semakin keras tak beraturan lagi. Tubuhku yang telah berkeringat di sana sini mengelinjang-gelinjang dengan hebat ditingkahi gerakan naik turun tubuhnya diatasku. Kaki kananku terlepas dari siku Dino dan mengunci ke belakang pinggangnya. Terkadang dia berhenti sejenak, tetapi dengan mengedan mendenyut-denyutkan kon tolnya di dalam no nokku menimbulkan variasi tekanan yang berbeda - beda pada permukaan no nokku. Peluh telah bercucuran membasahi tubuh kami. ”Ohhh,…….ahhhhhh,………….”,jerit ku setiap denyut-denyut kon tolnya dalam tubuhku menyentuh pusat birahiku. ”Lagiii…..teruss……..ahh…..”. Dia terus bergerak naik turun diatas tubuhku, aku merasakan nikmat yang luar biasa setiap kali kon tolnya menghunjam.

Tubuhku mulai menggigil dan dia tahu aku hampir nyampe. Diapun memacu gerakan memompanya, kon tolnya menghunjam keluar no nokku semakin cepat. ”Ya om…………ohhh..Ines ’ga tahan…lagiii…”, jeritku parau ”Ahhhhhhhh……………………….Om………..Ines nyampe om…ohh” ,jeritku. Aku melengkungkan punggungku, kedua pahaku mengejang serta menjepit dengan kencang, seluruhan badanku berkelojotan dan nafasku tersengal-sengal. Aku merasa lemas seakan-akan seluruh tulangku copot. Aku kelojotan di bawah dengan kedua tanganku memeluk ketat dan kakiku terkangkang lebar dengan kon tolnya masih terjepit didalam no nokku. no nokku berdenyut – denyut dengan cepat, berkontraksi mengurut kon tolnya. Mataku membeliak, tubuhku melenting dan kucengkeram pantatnya, menekannya dengan kuat kearah tubuhku. Dia bergerak makin cepat walaupun makin sulit, karena kuncian tanganku. Makin cepat menghunjam dan akhirnya tak tertahankan lagi dengan suatu sentakan menekan keras kon tolnya menyentuh dasar no nokku, "Oughhh………..” ,seraya menggeram dia ngecret, beberapa kali menyemburkan peju kentalnya dalam no nokku. Berkali-kali semburan itu terulang hingga daya semburnya melemah dan mereda, lalu tubuhnya ambruk diatas tubuhku. Setelah mereda dia menggeliat menjatuhkan tubuhnya ke sisiku. Berdua kami terdiam sesaat. Aku bergerak mengecup ringan pipinya. ”Makasih om…………, gile beneerrr…..” pujiku. ”Apanya yang terimakasih” ujarnya sambil merapihkan rambut yang jatuh di wajahku. ”Terus terang om, nikmatnya lebih dari ketika kita ngen tot minggu yang lalu. Wuihhh….bukan main rasanya”,imbuhku lagi. ”Kapan-kapan lagi ya om?.”pintaku memohon. Dia tak menjawab dan hanya menjatuhkan kecupan pada kedua mataku.